You are on page 1of 16

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Denguedan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur terutama pada anak-anak.
25
2.2 Proses Timbulnya Penyakit DBD
2.2.1 Demam Dengue
Demam dengue adalah penyakit demam akut selama 2-7 hari dengan dua atau
lebih manifestasi gejala, seperti : nyeri kepala, nyeri retro-orbital, mialgia, ruam pada
kulit, manifestasi perdarahan, dan leukopenia serta di tunjang dengan pemeriksaan
laboratorium serologis IgM dan IgG.
2.2.2. Demam Berdarah Dengue
Gejala yang di timbulkan antara lain demam yang tinggi (38
0
C – 40
o
C),
manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai
timbulnya renjatan ( sindrom renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma
yang dapat menyebabkan kematian. Trombositopenia dengan hemokonsetrasi secara
bersamaan adalah temuan laboratorium klinis khusus dari DBD.
27

2.2.3. Dengue Shock Syndrome
Dengue shock syndrom merupakan suatu keadaan yang sangat buruk,
penderita DBD dalam keadaan apapun perlu mendapatkan perawatan dan pemantauan
yang serius, terutama jika demam mendadak turun. Selain menjadi indikasi
Universitas Sumatera Utara


kesembuhan, penurunan suhu tubuh sering menjadi gejala awal penderita memasuki
tahap dengue shock syndrome.
26
Tanda khas dari dengue shock syndrome antara lain kulit menjadi dingin,
kongesti, sianosis, nadi cepat, letargi kemudian menjadi gelisah dan dengan cepat
memasuki tahap kritis dari shock. Gejala yang sering sebelum shock adalah nyeri
perut akut. Pasien yang shock dalam bahaya kematian bila pengobatan yang tepat
tidak segera diberikan. Penderita akan sembuh dengan cepat setelah terapi
penggantian volume yang tepat.
27
2.3. Agent Infeksius dan Vektor Penularan DBD
2.3.1. Agent Infeksius DBD
Agent Infeksius DBD adalah virus Dengue yang merupakan bagian dari
famili flaviviridae. Keempat serotipe virus Dengue (DEN-1, DEN-2,DEN-3, DEN-4)
dapat dibedakan dengan metode serologi. Infeksi pada manusia oleh salah satu
serotipe menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang oleh serotipe
yang sama, tetapi hanya menjadi perlindungan sementara terhadap serotipe yang
lain.
3
Seseorang akan kebal seumur hidup terhadap serotip yang menyerang pertama
kali, namun hanya akan kebal dalam waktu 6 bulan - 5 tahun terhadap serotipe virus
Dengue lain.
26
Virus Dengue tipe 3 merupakan serotipe yang terbanyak berhasil
diisolasi, disusul berturut-turut virus dengue tipe 1, virus dengue tipe 2 dan virus
dengue tipe 4. Virus dengue tipe 2 dan tipe 3 secara bergantian merupakan serotipe
yang dominan, namun virus dengue tipe 3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat
(DBD derajat IV, DBD disertai ensefalopati, DBD disertai hematemesis dan
melena,dan DBD yang meninggal).
25
Universitas Sumatera Utara


2.3.2. Vektor Penularan DBD
Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan vektor penularan virus
Dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitan. Nyamuk Aedes aegypti
merupakan vektor penting di daerah perkotaan (daerah urban) sedangkan di pedesaan
(daerah rural) kedua jenis spesies nyamuk Aedes tersebut berperan dalam penularan.
Namun Aedes Aegypti berkembang biak di tempat lembab dan genangan air bersih.
Sedangkan Aedes albopictus berkembang biak di lubang-lubang pohon, dalam
potongan bambu dan genangan air lainnya.
28
Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti.

Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti
Telur→ Jentik→ Kepompong→Nyamuk dewasa

Gambar 2.1. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
41
Pertumbuhan dan perkembangan telur sampai nyamuk dewasa memerlukan
waktu kurang lebih 7-14 hari.
29


Universitas Sumatera Utara


2.4. Cara Penularan DBD

Gambar 2.2. Cara Penularan DBD
41
Virus Dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti, nyamuk Aedes aegypti tersebut dapat mengandung virus Dengue pada saat
menggigit manusia yang sedang mengalami Viremi. Kemudian virus yang berada di
kelenjer liur akan berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation
period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada gigitan berikutnya.
Di tubuh manusia, virus membutuhkan waktu masa tunas 4-6 hari (intrinsic
incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada
nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami
viremi.
30



Universitas Sumatera Utara


2.5. Gejala Klinis DBD
30

Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2-7 hari.
31
Gejala DBD sangat bervariasi, WHO 1997 membagi 4 derajat:
Derajat I : Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi
perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif.
Derajat II : Gejala –gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan
atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.
Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, hipotensi,
sianosis disekitar mulut, kulitdingin dan lembab, gelisah,
Derajat IV: Shock berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
2.6. Tata Laksana DBD
32
Tata laksana DBD sebaiknya berdasarkan berat ringanya penyakit yang
ditemukan antara lain:
2.6.1. Kasus DBD yang diperbolehkan berobat jalan.
Penderita diperbolehkan berobat jalan jika hanya mengeluh panas, tetapi
keinginan makan dan minum masih baik. untuk mengatasi panas diperbolehkan
memberikan obat panas paracetamol. Sebagian besar kasus DBD yang berobat jalan
ini adalah kasus DBD yang menunjukkan manifestasi panas hari pertama dan hari
kedua.
2.6.2. Kasus DBD derajat I dan II
Pada hari ke-3, 4, dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini
mempunyai resiko terjadinya shock.

Universitas Sumatera Utara


2.6.3. Kasus DBD derajat III dan IV
Dengue shock syndrome termasuk kasus kegawatan yang membutuhkan
penanganan secara cepat dan perlu memperoleh cairan pengganti secara cepat.
Biasanya di jumpai kelainan asam basa dan elektrolit.
2.7. Epidemiologi DBD
Epidemi dengue dilaporkan sepanjang abad kesembilan belas dan awal abad
keduapuluh di Amerika, Eropa selatan, Afrika utara, Mediterania timur, Asia,
Australia, dan pada beberapa pulau di Samudra India, Pasifik selatan dan tengah serta
Karibia.
27
Kejadian luar biasa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dicatat
pertama kali terjadi di Australia pada tahun 1897. Penyakit perdarahan serupa juga
berhasil dicatat pada tahun 1928 saat terjadi epidemik di Yunani.
33
Kejadian luar biasa pertama penyakit Demam Berdarah Dengue di Asia
ditemukan di Manila pada tahun 1954. Pada tahun 1958 terjadi Kejadian Luar Biasa
penyakit Demam Berdarah Dengue “Thai” yang ditemukan di Bangkok-Thonburi dan
sekitarnya. Tahun 1960 di Singapura ditemukan kasus Demam Berdarah Dengue
dalam jumlah yang lebih banyak lagi dengan hasil isolasi virus dengue menunjukkan
tipe 1dan 2.
29
Kejadian Luar Biasa penyakit Demam Berdarah Dengue terjadi juga di
wilayah Asia lainnya. Virus dengue tipe 1 dan 4 telah diisolasi dari penderita di
kamboja pada tahun1961. Di Penang, Malaysia Barat, penyakit Demam Berdarah
Dengue ini pertama kali ditemukan pada tahun 1962.
31
Universitas Sumatera Utara


Tahun 1968, empat belas tahun sesudah kejadian Luar Biasa pertama di
Manila, Demam Berdarah Dengue dilaporkan untuk pertama kalinya di Indonesia
yaitu berupa Kejadian Luar Biasa penyakit Demam Berdarah Dengue di J akarta dan
Surabaya mencatat 58 kasus DBD dengan 24 kematian (CFR=41,5%). Pada tahun
beriktnya kasus DBD menyebar ke lain kota yang ada di Indonesia dan di laporkan
meningkat setiap tahunnya.
29
Sejak tahun 1994, seluruh propinsi di Indonesia telah melaporkan terjadinya
kasus DBD dan daerah tingkat II yang melaporkan terjadinya kasus DBD juga
meningkat. Namun angka kematian menurun tajam dari 41,3% tahun 1968 menjadi
3% tahun 1984 dan sejak tahun 1991 CFR stabil dibawah 3% .
25
Selama tahun 2003 di Indonesia tercatat 51.516 kasus (IR=23,87; CFR=
1,5%); tahun 2004 tercatat 79.462 kasus (IR= 37,11; CFR= 1,2%); tahun 2005
tercatat 95.279 kasus (IR=43,42; CFR=1,36%); tahun 2006 tercatat 114.656 kasus
(IR=52,48; CFR=1,04%); dan tahun 2007 tercatat 158.115 kasus (IR=71,78; CFR=
1,01%);tahun 2008 tercatat 137.469 kasus (CFR 0,86%);tahun 2009 tercatat 158.912
kasus (IR=35,7;CFR=0,89%).
34
Tahun 2008 propinsi J ambi melaporkan CFR Demam Berdrah Dengue
sebesar 3,67% dengan isiden rate 8,64 per 100.000 penduduk, mengalami penurunan
pada tahun 2009 dengan CFR 2,12%, Insiden Rate 7,96 per 100.000 penduduk.
Propinsi lampung tahun 2008 melaporkan CFR Demam Berdarah Dengue sebesar
0,83% dengan Insiden Rate 68,83 per 100.000 penduduk, mengalami penurunan pada
tahun 2009 ( IR= 24,85; CFR= 1,07%). Propinsi DKI J akarta tahun 2008 (IR=
Universitas Sumatera Utara


317,09; CFR=0,09%) mengalami penurunan pada tahun 2009 (IR= 312,65; CFR=
0,11%).
35

Di Propinsi Sumatera Utara Kasus DBD selalu terjadi setiap tahun. Pada
tahun 2005 tercatat sebanyak 3.723 kasus dengan CFR 1,80%. Pada tahun 2006
sebanyak 2.165 kasus dengan CFR 1,60%, dan pada tahun 2007 sebanyak 4.231
kasus dengan CFR 0,86%.
22

Tahun 2007 Kabupaten Langkat melaporkan kasus Demam Berdarah Dengue
dengan CFR 0,10%; Insiden Rate 98,00 per 1000 penduduk, mengalami peningkatan
jika dibandingkan dengan tahun 2008 (CFR=0,19%; IR=197,00).
24
2.7.1. Distribusi Frekuensi
a. Orang
Selama awal tahun epidemi pada setiap negara penyakit DBD ini kebanyakan
menyerang anak-anak dan 95 % kasus yang di laporkan berumur <15 tahun.
Walaupun demikian, berbagai negara melaporkan bahwa kasus-kasus dewasa
meningkat selama terjadi kejadian luar biasa. Kelompok risiko tinggi meliputi anak
berumur 5-9 tahun, Filipina danMalaysia melaporkan banyak kasus berumur <15
tahun walaupun Thailand, Myanmar, Indonesia dan Vietnam tetap melaporkan
banyak kasus di bawah 14 Tahun. Kasus DBD >15 tahun banyak di jumpai di
Amerika dari pada Asia, dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2000 proporsi kasus
DBD terbanyak pada kelompok umur 4-5 tahun tetapi pada tahun 1998 dan tahun
2000 proporsi kasus pada kelompok umur 15-44 tahun meningkat.
31
Hasil penelitian
J onson (2004)proporsi penderita DBD rawat inap di RS St. Elisabeth Medan, umur ≥
15 tahun(67,5%) dan <15 tahun (32,5%).Laki-laki (53,3%) dan perempuan (46,7%).
36
Universitas Sumatera Utara


Hasil penelitian Essy (2009) proporsi penderita DBD rawat inap di RSU. DR.
Pirngadi Medan, umur penderita tertinggi pada kelompok umur 10-14 tahun (26%)
dan proporsi umur penderita terendah pada kelompok umur 30-34 tahun (0,9%).
Laki-laki (48,1%) dan perempuan (51,9%).
23
b. Tempat
DBD dapat terjadi di daerah perkotaan maupun pedesaan. Di Daerah
perkotaan bertindak sebagai vektor utama adalah Aedes aegypti sedang di daerah
pedesaan nyamuk Aedes albopictus. Namun tidak jarang kedua spesies nyamuk
tersebut di jumpai baik daerah pedesaan maupun perkotaan.
37

Sejak pertama kali dilaporkan di J akarta dan Surabaya pada tahun 1968,
penyakit DBD makin menyebar, jika pada mulannya hanya dilaporkan dari kota-kota
besar di J awa, sekarang hampir seluruh kota besar di Indonesia pernah melaporkan
adanya penyakit DBD, bahkan kota-kota kecil dan tempat terpencilpun pernah
terserang.
37

Sampai akhir tahun 2005, DBD telah ditemukan di seluruh provinsi di
Indonesia dan 35 Kab/Kota telah melaporkan adanya kejadian Luar Biasa ( KLB). IR
meningkat dari per 100.000 penduduk adanya tahun 1968 menjadi 43,42 per 100.000
penduduk akhir tahun 2005.
38

c. Waktu
Di daerah yang sangat endemik di Negara Filipina, Thailand, Myanmar,
Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Vietnam musim epidemik terjadi di saat musim
Universitas Sumatera Utara


hujan yang hampir setiap tahun terjadi. Banyaknya penderita sesuai dengan keadaan
curah hujan yang hampir setiap tahun terjadi.
31
Pola berjangkitnya infeksi virus Dengue dipengaruhi oleh iklim dan
kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32°C) dengan kelembaban yang tinggi,
nyamuk Aedes aegypti akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama. Di
Indonesia karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat maka pola
terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di pulau J awa pada umumnya
infeksi virus Dengue terjadi mulai awal J anuari, meningkat terus sehingga kasus
terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.
39
Hasil penelitian Essy (2009) penderita DBD rawat inap di RSU. DR. Pirngadi
Medan, paling banyak pada bulan J anuari (22,1%) dan terendah pada bulan Februari
dan Mei (2,9%).
23
2.7.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian DBD
28
Menurut J hon Gordon terjadinya suatu penyakit disebabkan oleh lebih dari
satu faktor (Multiple Causal). Faktor-faktor tersebut adalah agent, pejamu (host), dan
lingkungan ( environment).
a. Faktor Agent
Faktor agent adalah penyebab terjadinya suatu penyakit, dalam hal ini yang
menjadi agent adalah virus Dengue. Virus Dengue termasuk kelompok Arbovirus
tergolong dalam genus Flaviviridae dan dikenal 4 serotipe. Dengue 1 dan 2
ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II., sedangkan Dengue 3
dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus Dengue
berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitive terhadap inaktivasi oleh dietil eter
Universitas Sumatera Utara


dan natrium dioksisiklat, stabil pada suhu 70
0
C. Keempat serotipe telah ditemukan
pada pasien di Indonesia dengan Dengue 3 merupakan serotipe yang paling banyak
beredar.
b. Faktor Pejamu (host)
Pejamu yang dimaksud adalah manusia yang kemungkinan menderita DBD.
Faktor manusia erat kaitannya dengan perilaku serta peran dalam kegiatan
pemberantasan vektor dimasyarakat. Mobilitas penduduk yang tinggi akan
memudahkan penularan virus dengue dari satu tempat ke tempat lain. Faktor lainnya
adalah umur dan kondisi individu masing-masing dalam mempertahankan daya
tahan tubuh dari serangan penyakit. Selain itu faktor pendidikan juga
mempengarguhi cara berfikir dalam penerimaan penyuluhan yang diberikan dan
cara mengatasi DBD.
c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah termasuk segala sesuatu yang berada diluar agent
dan pejamu, antara lain :
1. Kualitas pemukiman dan sanitasi lingkungan yang kurang baik merupaka kondisi
ideal untuk perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit dan penularan penyakit.
2. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti. Pada daerah ketinggian di atas 1000 meter dari permukaan laut tidak
ditemukan vektor penular penyakit.
3. Curah hujan akan menambah genangan air sebagai tempat perindukan dan
menambah kelembapan udara. Temperatur dan kelembapan selama musim hujan
sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk.
Universitas Sumatera Utara


4. Iklim dan temperatur, virus dengue hanya endemis diwilayah tropis dimana iklim
dan temperatur memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk.
5. Kepadatan penduduk akan memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan
jarak terbang nyamuk aedes aegypti.
2.8. Pencegahan DBD
Hingga saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan cara utama
yang dilakukan untuk memberantas DBD, karena vaksin untuk mencegah dan obat
untuk membasmi virusnya belum ada.
40

2.8.1. Pencegahan Primer
Uapaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum mulai (pada
periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses penyakit.
a. Host (Manusia)
Dapat dilakukan dengan cara membangun tubuh agar memiliki daya tahan
yang kuat, sekalipun terajangkit virus Dengue penyakitnya tidak terlalu berat. Tidak
ada diet atau makanan khusus yang bisa mencegah tubuh terhadap ancaman virus
Dengue, makanan bergizi khususnya yang berpotensi tinggi baik untuk meningkatkan
daya tahan tubuh , istirahat, olahraga dan mencegah gigitan nyamuk juga penting
untuk dilakukan.
41
b. Agent (Virus Dengue)
Belum ada obat yang dapat membunuh virus Dengue, virus Dengue belum
dapat dibasmi. Maka satu-satunya cara dengan memotong rantai penularan penyakit
DBD, dengan membasmi vektornya. Virus Dengue berada dalam tubuh nyamuk
sepanjang hidup nyamuk, jika nyamuk mati dengan sendirinya virus Dengue akan
Universitas Sumatera Utara


ikut mati. Sekalipun mungkin virusnya masih bisa hidup, diluar tubuh nyamuk
bukanlah habitat virus Dengue sehingga virus dapat bertahan hidup.
41
c. Environment (Lingkungan)
38
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
pemberantasan nyamuk dewasa dan jentik nyamuk.
1. Pemberantasan Nyamuk Dewasa
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara
penyemprotan ( pengasapan) dengan insektisida. Penyemprotan tidak di lakukan di
dinding seperti pada pemberantasan nyamuk penular malaria, tetapi pada benda-
benda yang bergantungan karna nyamuk mempunyai kebiasaan hinggap pada benda-
benda bergantungan.
2. Pemberantasan J entik
Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah
pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dilakukan
dengan cara:
a. Fisik
Cara ini dikenal dengan kegitan 3M yaitu: Menguras bak mandi, bak WC, dan
lain-lain; Menutup tempat penampungan air rumah tangga; serta Mengubur barang-
barang bekas yang menampung air.
b. Kimia
Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida
pembasmi jentik ini antara lain dikenal dengan istilah larvasidasi.

Universitas Sumatera Utara


c. Biologi
Misalnya memelihara ikan pemakan jentik, seprti ikan kepala timah, ikan
gupi, ikan cupang/tempalo dan lain-lain.
2.8.2. Pencegahan Sekunder
42
Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belangsung (awal
periode potogenesis) dengan tujuan proses penyakit yang tidak berlanjut, pencegahan
sekunder meliputi :
Diagnosis dini dan pengobatan segera
a. Diagnosis Dini
Diagnosa demam berdarah dengue ditegakkan dari gejala klinis dan hasil
pemeriksaan darah (laboratorium).
Gejala Klinis :
1. Demam tinggi mendadak bersifat akut 2-7 hari
2. Manifestasi hemoragi (sedikitnya tes tourniket positif)
3. Hepatomegali
4. Shock
Temuan laboratorium :
a. Trombositopenia (100.000/µl atau kurang), nilai trombosit normal 150.000/µl
– 450.000/µl.
b. Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit sedikitnya 20% diatas rata-rata),
persentase hematokrit normal 37% - 47%.
Dua dari observasi klinis, ditambah satu temuan laboratorium atau sedikitnya
peningkatan hematokrit, cukup untuk menentukan diagnosa DBD.
Universitas Sumatera Utara


Bila patokan hemokonsentrasi dan trombositopeni menurut kriteria WHO
dipakai secara murni maka banyak penderita DBD yang tidak terjaring dan luput dari
pengawasan. Dalam kenyataan di klinik tidak mungkin mengukur kenaikan
hemokosentrasi pada saat penderita pertama kali datang sehingga nilai hematokritlah
yang dapat dipakai sebagai pegangan. Penelitian pada penderita DBD berkesimpulan
nilai hematokrit ≥ 40% dapat dipakai sebagai pet unjuk adanya hemokosentrasi dan
selanjutnya diperhatikan kenaikannya selama pengawasan.
b. Pengobatan Segera
Terhadap virus Dengue tidak ada obat yang spesifik untuk memberantasnya
pengobatan ditujukan untuk mengatasi akibat perdarahan atau shock dan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh penderita serta terapi simtomatik untuk mengurangi
gejala dan keluhan penderita.
Keberhasilan tatalaksana DBD terletak pada bagian mendeteksi secara dini
fase kritis yaitu saat suhu turun yang merupakan fase awal terjadinya kegagalan
sirkulasi, dengan melakukan observasi klinis disertai pemantauan perembesan plasma
dan gangguan hemostasis. Fase kritis umumnya terjadi pada hari ketiga sakit.
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat simtomatik dan suportif. Tujuan
pengobatan itu sendiri adalah untuk mengganti cairan intravaskuler (volume plasma)
yang hilang dalam memperbaiki keadaan umum penderita, jenis tindakan pengobatan
yang harus segera dilakukan adalah penggatian cairan tubuh, dengan cara :
Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter sampai 2 liter air dalam 24 jam. Air yang
dapat diberikan antara lain teh manis, sirup, air gula, air buah dan oralit.

Universitas Sumatera Utara


2.8.3. Pencegahan Tersier
42
Upaya yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut (akhir periode
patogenesisi) dengan tujuan untuk mengurangi ketidakmampuan dan mengadakan
rehabilitasi. Pencegahan tersier dapat dilakuka dengan cara :
Pemberian cairan intravena diberikan pada kondisi penderita tidak
memungkinkan untuk diberikan cairan melalui oral, antipiretik seperti parasetamol
diberikan jika diperlukan. Oksigen tambahan dapat diberikan pada penderita dengan
renjatan disertai sianosis, dan pemberian antibiotik jika diduga ada infeksi sekunder.
Transfusi darah diberikan pada keadaan manifestasi perdarahan yang nyata.














Universitas Sumatera Utara