You are on page 1of 25

ISLAM dan KESEHATAN

GIGI
MAKALAH AGAMA ISLAM











O L E H
Teguh Sukma
1311419023
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014


KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam
selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan
rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini
guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan
yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran
dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan
bimbingan dari ibuk Dra.Yulifni, sehingga kendala-kendala yang
penulis hadapi teratasi.
Dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan bagaimana
menjaga kesehatan gigi dalam islam serta hubungannya terhadap
kesehatan umat manusia.
Tujuannya utama dibuatnya makalah oleh penulis adalah
bagaimana kita harus menjaga kesehatan gigi kita agar selalu bersih,
bukan hanya mencegah sakit gigi ataupun bau mulut, bukan kah kita
sering mendengar hadist kebersihan adalah sebagian (bukan
setengah) dari iman maka dari itu marilah kita menjaga kebersihan,
bukan hanya membuat kita terhindar dari penyakit tetapi juga
mendapat pahala dari ALLAH SWT.
Seperti kata pepatah Tak ada gading yang tak retak, oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca.
Semoga buku ini bermanfaat

Padang, Maret 2014


Teguh Sukma


DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................. III
BAB I
Pendahuluan ........................................................................................ 1
BAB II
Pembahasan ........................................................................................ 3
BAB III
Penutup ............................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 25











BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan
(habl min Allah), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan
manusia (habl min al-nas) yang mencakup seluruh aspek kehidupan
manusia, seperti sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi,
ketatanegaraan, lingkungan, kesehatan, ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Islam sesungguhnya telah menuntun dan mengatur agar umat
manusia pada jalan untuk mendapatkan kesejahteraan dan
kebahagiaan lahir dan bathin, dunia dan akhirat, serta seluruh nilai-
nilai positif yang ada dalam segenap aspek kehidupan yang
diperlukan manusia, termasuk kesehatan, keselamatan, dan
keamanan.
Masalah kesehatan merupakan salah satu masalah utama dalam
kehidupan manusia sepanjang masa. Sejak manusia menempati muka
bumi ini sudah ada penyakit dan upaya-upaya untuk mengobatinya.
Keadaan sehat dan sakit merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan
dalam kehidupan manusia. Bagi makhluk hidup termasuk manusia
mengobati suatu penyakit atau mengatasi suatu gangguan merupakan
salah satu usaha untuk mempertahankan eksistensinya.






B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang didapat dari latar belakang masalah
tersebut adalah :
1. Apa pengertian kesehatan gigi menurut islam ?
2. Hukum pemakaian SIWAK dalam kesehatan gigi dalam
islam ?
3. Apa saja yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi ?

C. Tujuan Penulisan

Semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak pula ilmu
yang membahas tentang kesehatan gigi atau dalam bidang
kedokteran gigi, dan sekarang dalam kedokteran gigi, tidak
hanya untuk menjaga kesehatan gigi atau mengobati gigi yang
sakit, tetapi sekarang estetika gigi juga penting dalam kehidupan
manusia, seperti pemakaian kawat gigi, pemakaian gigi palsu,
pemakaian permata pada gigi, dan orang orang sekarang juga
meremehkan tentang kesehatan gigi, dan tujuan dari penulisan
makalah ini adalah :
1. Untuk memotivasi orang orang agar selalu menjaga
kesehatan gigi dan fisik
2. Untuk mengetahui lebih dalam tentang kesehatan gigi
menurut islam
3. Untuk menambahkan ingin selalu tampak sehat dan bugar







BAB II
PEMBAHASAN

A. Kesehatan gigi menurut islam
Kesehatan Gigi
Kata orang, kesehatan itu mahal. Tetapi, peringatan itu belum
banyak berguna, sebab kenyataannya tidak sedikit orang yang
mengabaikan kesehatan. Mereka baru menyadari betapa
berharga kesehatan ketika jatuh sakit. Penyesalan selalu datang
terlambat.
Kesehatan sering dikaitkan dengan kebersihan. Maka menjaga
kesehatan sedikit banyaknya dapat dilakukan dengan menjaga
kebersihan itu sendiri. Lingkungan yang sehat diraih dengan
bersihnya lingkungan. Makanan yang sehat salah satu tandanya
adalah bersihnya makanan tersebut. Begitu juga halnya gigi
yang sehat, ia hanya dapat diraih dengan membersihkannya
secara rutin.
Kita sering mengabaikan persoalan kecil. Kita lupa bahwa
persoalan besar berawal dari hal yang kecil. Kebakaran
misalnya, sering disebabkan oleh api kecil dari lilin. Efeknya bisa
menghanguskan ratusan rumah. Menggosok gigi menjelang
tidur di malam hari adalah hal sepele yang sering diabaikan.
Tetapi, ketika gigi rusak, makanan paling enak sekalipun bisa
kehilangan kenikmatannya. Apapun yang kita makan masuk ke
dalam lubang gigi yang rusak, dan itu hanya menghadirkan rasa
nyeri di dalamnya.
Ketika sakit gigi menyerang, makan tidak enak, tidur tidak
nyenyak, bahkan emosi susah dikontrol. Dalam keadaan sakit
gigi, sebagian orang marah kalau diajak bicara. Sebagian yang
lain bahkan tidak sanggup mendengar kokok ayam. Ia akan

mengejar ayam itu sebagai pelampiasan kemarahannya.
Padahal itu tidak menyembuhkan rasa nyeri di gigi.
Sekalipun zaman sekarang menawarkan ragam merek obat
sakit gigi, namun itu bukanlah pilihan yang ideal. Obat memang
dapat menyembuhkan sakit untuk jangka pendek, tetapi jika
dikonsumsi terus-menerus juga tidak sehat. Obat bisa
mengurangi kekebalan tubuh terhadap penyakit itu. Lama-
kelamaan, minum obat sakit gigi tidak akan mampu
menyembuhkannya lagi. Jadi, obat bukanlah segalanya.
Oleh sebab itu, mencegah sakit gigi dengan menjaga
kebersihan gigi secara teratur tentu lebih baik daripada
mengobatinya. Walaupun terasa berat, ia harus dibudayakan
sebisa mungkin. Pekerjaan merawat memang berat, tetapi
selalu saja mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Ini
yang kurang kita sadari.
Pandangan Islam
Menjaga kebersihan gigi merupakan keniscayaan yang tidak
dapat ditawa-tawar lagi. Bukan cuma untuk mencegah sakit gigi
ataupun bau nafas yang kurang sedap, melainkan lebih dari itu,
kebersihan merupakan anjuran agama Islam. Bukankah kita
sering mendengar hadis nabi, kebersihan itu sebagian (bukan
setengah) dari iman? Menjaga kebersihan mendatangkan
pahala bagi yang melakukannya.
Terkait kesehatan gigi, Islam jauh-jauh hari sudah menegaskan
pentingnya menjaga kebersihan gigi (mulut) yang tertuang
dalam hadits dan kitab-kitab karya ulama terdahulu.
Membersihkan gigi atau yang dikenal dengan siwak hukumnya
sunnah. Para ulama menegaskan siwak sangat disunnahkan
pada tiga situasi. Pertama, ketika mulut terasa bau, ketika
bangun tidur, dan ketika hendak melaksanakan shalat.

Pentingnya kesehatan gigi ditegaskan Rasulullah dalam sebuah
hadits, Sekiranya aku tidak memberatkan umat, niscaya akan
kuwajibkan kepada mereka menggosok gigi setiap kali ia
berwudhu. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad). Ini menunjukkan
bahwa Islam tidak menyepelekan kesehatan gigi. Berapa orang
yang menyadari hal ini?
Islam menyadari bahwa mulut merupakan pintu masuk
berbagai penyakit yang bersumber dari makanan yang kita
makan setiap hari. Gigi dan mulut adalah awal mula segala
pencernaan, karena itulah gigi sangat berhubungan dengan
organ tubuh lainnya. Tidak banyak orang menyadari sakit gigi
bisa memicu timbulnya penyakit lain yang berbahaya.
Dari beberapa studi dilaporkan adanya hubungan antara
penyakit gigi dengan penyakit jantung koroner, aterosklerosis,
pneumonia, diabetes dan kelahiran prematur. Bahkan
berdasarkan informasi statistik salah satu Rumah Sakit di
Indonesia(2005), penyakit gigi dapat menyebabkan kematian.
Banyak orang tidak menyangka bahwa penyakit lain yang
mereka derita berasal dari gigi dan mulut yang tidak sehat.
Seseorang belum dikatakan sehat selama rongga mulut dan gigi
tidak sehat, sekalipun tubuh orang itu segar bugar.

Anjuran Islam menyuruh gosok gigi merupakan awal yang baik
bagi upaya pencegahan sakit gigi. Apalagi resiko berat yang
ditimbulkan oleh sakit gigi. Dari segi ekonomi, mengobati
penyakit memakan biaya yang besar. Sedang pencegahannya
hanya membutuhkan kedisiplinan dan konsisten untuk berbuat.
Mari kita meninggalkan pola hidup kotor dan menggantinya
dengan pola hidup bersih. Bersih hati, makanan, pakaian,
maupun gigi. Beginilah pola hidup sehat yang dianjurkan Islam.


Gosok gigi (siwak) sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad
sholallahu alaihis salam. Adalah Nabi Muhammad sholallahu alaihi
was salam menganjurkan kepada para sahabat untuk gosok gigi
sebelum berwudlu. Bisa kita bayangkan dalam sehari kita berwudlu
minimal 5 kali dan setiap kali hendak berwudlu kita lakukan gosok
gigi, betapa segarnya pernafasan kita dan tidak hanya itu saja maka
sisa-sisa makanan yang ada di sela-sela gigi akan hilang.
Nabi Muhammad sholallahu alaihis salam bersabda :


Siwak itu merupakan penyuci mulut dan penyebab keridhoan bagi
Alloh
(HR. An Nasai dan Ahmad)

Jika dalam kesehatan gigi kita dianjurkan menggosok gigi
sebelum tidur, maka islampun sudah menganjurkan kepada umatnya
untuk melakukannya. Islam menganjurkan kepada umatnya untuk
berwudlu dulu sebelum tidur malam, dan jika kita teliti maka
sebelum berwudlupun dianjurkan untuk siwak (gosok gigi).
Coba kita lihat dan perhatikan betapa indahnya islam, sebuah
agama yang tidak hanya menganjurkan kepada umatnya beribadah
hanya di dalam masjid saja. Jika kita belajar tentang islam maka
semua lini kehidupan yang kita jalani tidaklah lepas dari syariat islam
termasuk juga menjaga kesehatan.
Dari kita bangun dari tidur sampai kita hendak tidur lagi, islam telah
mengatur kepada umatnya.

B. Hukum pemakaian SIWAK dalam kesehatan gigi islam
SIWAK ( Si kayu ajaib pelindung gigi )
Siwak adalah nama untuk dahan atau akar pohon yang
digunakan untuk bersiwak. Oleh karena itu semua dahan atau
akar pohon apa saja boleh kita gunakan untuk bersiwak jika
memenuhi persyaratannya, yaitu :

Harus lembut, sehingga batang atau akar kayu yang keras tidak
boleh digunakan untuk bersiwak karena bisa merusak gusi dan
email gigi.

Bisa membersihkan dan berserat serta bersifat basah, sehingga
akar atau batang yang tidak ada seratnya tidak bisa digunakan
untuk bersiwak

Seratnya tersebut tidak berjatuhan ketika digunakan untuk
bersiwak sehingga bisa mengotori mulut. (syarhul mumti
1/118)
Subhanallah, Maha suci Allah sungguh indah dan sempurna
agama yang diturunkan-Nya, sungguh mulia hukum-hukum
yang disyariatkan-Nya, karena tak ada satupun dari apa-apa
yang diturunkan-Nya dan apa-apa yang diciptakan-Nya kecuali
pasti ada manfaat dan hikmahnya. Kesempurnaan islam ini
benar-benar tiada bandingannya oleh agama-agama selainnya.
Diantara kesempurnaan Islam adalah syariat bagi ummatnya
untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, seperti kewajiban
istinja setelah buang air, mandi janabat setelah junub, bahkan
banyak sekali hikmah-hikmah syariat yang tersingkap dalam
ajaran islam yang telah dibuktikan oleh sains modern, seperti
khasiat madu, habbatus sawda (jinten hitam), minyak zaitun
hingga si kayu ajaib siwak yang bermanfaat bagi kesehatan gigi
dan gusi. Mari kita kupas apa manfaat kayu siwak ini bagi
kesehatan gigi.


Sejak zaman dahulu, manusia telah mengenal beberapa variasi
teknik dalam membersihkan gigi. Mulai dari bulu ayam, duri
landak, tulang hingga kayu dan ranting-ranting digunakan
sebagai alat pembersih gigi. Masyarakat arab sebelum
kedatangan islam, menggunakan akar dan ranting kayu dari
pohon arak (Salvadora persica) yang hanya dapat tumbuh di
daerah asia tengah dan afrika, yang belakangan diketahui
sebagai alat pembersih gigi terbaik hingga saat ini. Setelah
kedatangan islam, RasuluLlah menetapkan penggunaan siwak
sebagai sunnah beliau yang sangat dianjurkan, bahkan beliau
bersabda : Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka aku
perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan
wudhu(Muttafaq alaihi). Hal ini menunjukkan bahwa
RasuluLlah adalah orang pertama yang mendidik manusia
dalam memelihara kesehatan gigi.

Siwak berbentuk batang, diambil dari akar dan ranting segar
tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari
0,1 cm sampai 5 cm. Pohon Arak adalah pohon yang kecil,
seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang,
diameternya lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas warnanya
agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya
berwarna coklat dan bagian dalamnya berwarna putih, aromanya
seperti seledri dan rasanya agak sedikit pedas.

Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam
mulut. Kata siwak diambil dari kata arab yudlik yang artinya
adalah memijat (yakni memijat bagian dalam mulut). Jadi siwak
lebih dari hanya sekedar sikat gigi biasa. Selain itu, batang
siwak memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi
walau dibawah tekanan yang keras, bahkan batang siwak yang
berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi

untuk menekuk ke daerah mulut secara pas untuk mengeluarkan
sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dan menghilangkan plaque.
Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.

Perlu diketahui, bahwa sisa-sisa makanan yang ada pada sela-
sela gigi, menjadikan lingkungan mulut sangat baik untuk
aktivitas pembusukan yang dilakukan oleh berjuta-juta bakteri
yang dapat menyebabkan gigi berlubang, gusi berdarah dan
munculnya kista. Selain itu, bakteri juga menghasilkan enzim
perusak yang memakan kalsium gigi sehingga menyebabkan
gigi menjadi keropos dan berlubang. Bahkan, pada beberapa
keadaan bakteri juga menghasilkan gas sisa aktivitas
pembusukan yang menyebabkan bau mulut menjadi tak sedap.

Penelitian terbaru terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa
siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat
membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi
berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan
kimiawi yang bermanfaat, seperti :
- Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive dan detergents
yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan
menghentikan pendarahan pada gusi. Pada penggunaan siwak
pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar,
karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang
merupakan substansi antibacterial acids tersebut.
- Kandungan kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium
Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl
amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang
berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan
menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak
sebagai bahan penyusun pasta gigi.

- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang
segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau
tak sedap.
- Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang
menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab
utama tanggalnya gigi secara premature.
- Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan
jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan.
Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur)
lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi
dan membersihkan mulut.

Sebuah penelitian terbaru tentang Periodontal Treatment
(Perawatan gigi secara periodik/berkala) dengan mengambil
sample terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota
Makkah dan Jeddah oleh para ilmuwan dari King Abdul Aziz
University, Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal treatement
untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah
daripada studi yang dilakukan terhadap negara-negara lain, hal
ini mengindikasikan bahwa penggunaan siwak berhubungan
sangat erat terhadap rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah
dan Jeddah terhadap Periodontal Treatment.

Penelitian lain dengan menjadikan bubuk siwak sebagai bahan
tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan
pasta gigi tanpa campuran bubuk siwak menunjukkan bahwa
prosentase hasil terbaik bagi kebersihan gigi secara sempurna
adalah pasta gigi dengan butiran-butiran bubuk siwak, karena
butiran-butioran tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi
secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang
masih bersarang pada sela-sela gigi. Sehingga banyak
perusahaan-perusahaan di dunia menyertakan bubuk siwak ke
dalam produk pasta gigi mereka. WHO pun turut menjadikan

siwak termasuk komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan
dibudidayakan
Bersiwak (membersihkan mulut dengan kayu dari pohon araak)
merupakan perbuatan yang sangat disukai oleh Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam. Ada beberapa waktu yang sangat
dianjurkan oleh syariat untuk kita bersiwak. Bila kita mampu
menjalankan ajaran Rasulullah ini Shallallahu alaihi wa sallam,
tidak hanya mulut kita yang menjadi bersih, namun pahala dan
keridhaan Allah pun insya Allah bisa kita raih.
Kata siwak bukan lagi sesuatu yang asing di tengah sebagian
kaum muslimin, meskipun sebagian orang awam tidak
mengetahuinya disebabkan ketidaktahuan mereka tentang
agama. Wallahul mustaan.
Pengertian siwak sendiri bisa kembali pada dua perkara:
Pertama, bermakna alat yaitu kayu/ranting yang digunakan
untuk menggosok mulut guna membersihkannya dari kotoran.
Asalnya adalah kayu dari pohon araak.
Kedua, bermakna fiil atau perbuatan yaitu menggosok gigi
dengan kayu siwak atau semisalnya untuk menghilangkan warna
kuning yang menempel pada gigi dan menghilangkan kotoran,
sehingga mulut menjadi bersih dan diperoleh pahala dengannya
(Fathul Bari 1/462, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 3/135,
Subulus Salam 1/63, Taisirul Allam Syarhu Umdatil Ahkam,
1/62).
Dengan demikian, disenangi bersiwak dengan kayu siwak dari
araak atau dengan apa saja yang bisa menghilangkan perubahan
bau mulut, seperti membersihkan gigi dengan kain perca atau
sikat gigi. (Nailul Authar, 1/154)
Namun tentunya bersiwak dengan menggunakan kayu siwak
lebih utama. Karena, hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam dan ditunjukkan dalam hadits-
hadits yang berbicara tentang siwak.

Hukum bersiwak ini sunnah tidak wajib dalam seluruh
keadaan, baik sebelum shalat ataupun selainnya. Dan ini
merupakan pendapat yang rajih yang dipegangi oleh penulis. Ini
juga merupakan pendapat jumhur ulama, menyelisihi sebagian
ulama yang memandang wajibnya perkara ini. Ibnu Qudamah
Al-Maqdisi rahimahullahu mengatakan: Kami tidak
mengetahui ada seorang pun yang berpendapat bersiwak itu
wajib kecuali Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri. (Al-Mughni,
kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak wa Sunnatul Wudhu).
Dalil tidak wajibnya bersiwak ini diisyaratkan dalam hadits:



Seandainya aku tidak memberati umatku, niscaya aku
perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.
Al-Imam Asy-Syafii rahimahullahu mengatakan: Dalam
hadits ini ada dalil bahwa siwak tidaklah wajib. Seseorang diberi
pilihan (untuk melakukan atau meninggalkannya, pent.).
Karena, jika hukumnya wajib niscaya Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam akan memerintahkan mereka, baik mereka
merasa berat ataupun tidak. (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab
As-Siwak).
Termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang
dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa Salam adalah
bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun
memiliki faedah yang banyak baik bersifat keduniaan yaitu
berupa kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi,
menghilangkan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah
yang bersifat akhirat, yaitu ittiba kepada Nabi Shallallahu
alaihi wa Salam dan mendapatkan keridhoan dari Allah
Subhanahu wa Taala. Sebagaimana sabda Rosulullah
Shallallahu alaihi wa Salam:



( )

Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhoan bagi
Rob. (Hadits shohih riwayat Ahmad, irwaul golil no 66).
(Syarhul mumti 1/120 dan taisir alam 1/62)

Oleh karena itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa Salam begitu
bersemangat melakukannya dan sangat ingin agar umatnya pun
melakukan sebagaimana yang dia lakukan, hingga beliau
bersabda :



Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan
kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu.
(Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)



Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan
kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat.
(Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)

Ibnu Daqiqil Ied menjelaskan sebab sangat dianjurkannya
bersiwak ketika akan sholat, beliau berkata: Rahasianya yaitu
bahwasanya kita diperintahkan agar dalam setiap keadaan ketika
bertaqorrub kepada Allah, kita senantiasa dalam keadaan yang
sempurna dan dalam keadaan bersih untuk menampakkan
mulianya ibadah. Dikatakan bahwa perkara ini (bersiwak
ketika akan sholat) berhubungan dengan malaikat karena

mereka terganggu dengan bau yang tidak enak. Berkata Imam
As-Shonani : Dan tidaklah jauh (jika dikatakan) bahwasanya
rahasianya adalah digabungkannya dua perkara yang telah
disebutkan (di atas) sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dari hadits Jabir Radhiyallahu anhu:



Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah
atau bawang bakung maka janganlah dia mendekati mesjid
kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa-apa yang
bani Adam tergaanggu dengannya (Taisir alam 1/63)

Dan ternyata Rosulullah Shallallahu alaihi wa Salam tidak
hanya bersiwak ketika akan sholat saja, bahkan beliau juga
bersiwak dalam berbagai keadaan. Diantaranya ketika dia masuk
kedalam rumah

( )

Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata :Aku
bertanya kepada Aisyah : Apa yang dilakukan pertama kali
oleh Rosulullah jika dia memasuki rumahnya ? Beliau
menjawab :Bersiwak. (Hadits riwayat Muslim, irwaul golil no
72)

Atau ketika bangun malam




Dari Hudzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu anhu, dia berkata :
Adalah Rosulullah jika bangun dari malam dia mencuci dan
menggosok mulutnya dengan siwak. (Hadits riwayat Bukhori)

Bahkan dalam setiap keadaan pun boleh bagi kita untuk
bersiwak. Sesuai dengan hadits di atas (

). Dalam hadits ini Rosulullah Shallallahu alaihi wa Salam


memutlakkannya dan tidak mengkhususkannya pada waktu-
waktu tertentu. Oleh karena itu siwak boleh dilakukan setiap
waktu (Syarhul mumti 1/120, fiqhul islami wa adillatuhu
1/300), sehingga tidak disyaratkan hanya bersiwak ketika mulut
dalam keadaan kotor (Syarhul mumti 1/125).

Rosulullah Shallallahu alaihi wa Salam sangat bersemangat
ketika bersiwak, sehingga sampai keluar bunyi dari mulut beliau
seakan-akan beliau muntah



Dari Abu Musa Al-Asyari Radhiyallahu anhu berkata : Aku
mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa Salam dan dia sedang
bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada
lidahnya dan dia sambil berkata Uh- uh. Dan siwak berada
pada mulutnya seakan-akan beliau muntah. (Hadits riwayat
Bukhori dan Muslim)

Dan yang lebih menunjukan akan besarnya perhatian beliau
dengan siwak yaitu bahwasanya diakhir hayat beliau, beliau
masih menyempatkan diri untuk bersiwak sebagaimana dalam
hadits Aisyah :


: (



Dari Aisyah berkata : Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik
Radhiyallahu anhu menemui Nabi Shallallahu alaihi wa Salam
dan Nabi Shallallahu alaihi wa Salam bersandar di dadaku.
Abdurrohman Radhiyallahu anhu membawa siwak yang basah
yang dia gunakan untuk bersiwak. Dan Rosulullah Shallallahu
alaihi wa Salam memandang siwak tersebut (dengan pandangan
yang lama). Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan
menggigitnya (untuk dibersihkan-pent) lalu aku
membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada
Rosulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah
pernah aku melihat Rosulullah bersiwak yang lebih baik dari itu.
Dan setelah Rosulullah selesai dari bersiwak dia pun
mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata :



Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.

Dalam riwayat lain Aisyah berkata :Aku melihat Rosulullah
memandang siwak tersebut, maka akupun tahu bahwa beliau
menyukainya, lalu aku berkata : Aku ambilkan siwak tersebut
untuk engkau? Maka Rosulullah mengisyaratkan dengan
kepalanya (mengangguk-pent) yaitu tanda setuju. (Diriwayatkan
oleh Bukhori dan Muslim)


Oleh karena itu berkata sebagian ulama : Telah sepakat para
ulama bahwasanya bersiwak adalah sunnah muakkadah karena
anjuran Rosulullah Shallallahu alaihi wa Salam dan
kesenantiasaan beliau melakukannya dan kecintaan beliau serta
ajakan beliau kepada siwak tersebut. (fiqhul islami wa
adillatuhu 1/300)
Waktu-waktu yang Disunnahkan untuk Bersiwak

1. Setiap akan shalat dan wudhu

Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku
perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali berwudhu.

2. Ketika masuk rumah

Syuraih bin Hani` pernah berta kepada Aisyah radhiyallahu
anha:



Apa yg mulai Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lakukan
apabila beliau masuk rumah? Aisyah menjawab: Beliau mulai
dgn bersiwak.

3. Saat bangun tidur di waktu malam


Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu anhu berkata:



Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila
bangun di waktu malam beliau menggosok mulut dgn siwak.

4. Ketika hendak membaca Al-Qur`an

Dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:



Siwak itu membersihkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb.

5. Saat bau mulut berubah

Perubahan bau mulut bisa terjadi krn beberapa hal. Di
antaranya: krn tdk makan dan minum krn memakan makanan yg
memiliki aroma menusuk/tak sedap diam yg lama/tak membuka
mulut utk berbicara banyak berbicara dan bisa juga krn lapar yg
sangat demikian pula bangun dari tidur.

C. Hal hal yang mempengaruhi kesehatan gigi
Tanpa disadari, kadang kita punya beberapa kebiasaan
buruk yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan gigi
dan mulut secara umum, maupun spesifik.
Menghilangkan kebiasaan buruk ini bukan hal yang
mudah, tapi dapat dilakukan bila diniatkan dan punya
kemauan ke arah yang lebih baik. Ini dia kebiasaan buruk
yang dimaksud:


Merokok
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang paling
buruk dan bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang,
baik terhadap kesehatan gigi maupun rongga mulut.
Merokok juga dapat menyebabkan noda pada gigi dan bau
mulut. Efek jangka panjangnya, merokok dapat
meningkatkan penyakit gusi serta memperlambat proses
penyembuhan.

Bruxism
Kebiasaan menggesek-gesekkan gigi antara gigi-geligi
rahang atas dan rahang bawah, atau bruxism, biasanya
terjadi secara tidak sadar ketika stres. Beberapa orang
juga mengalaminya di saat tidur. Kebiasaan ini dapat
membuat enamel permukaan gigi menjadi tipis, bahkan
menimbulkan keretakan pada struktur gigi, serta merusak
tambalan.

Mengunyah makanan pada satu sisi
Beberapa orang mempunyai kebiasaan mengunyah
makanan pada salah satu sisi saja. Kebiasaan ini
umumnya disebabkan nyeri atau sakit pada salah satu gigi
di sisi tertentu. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya
masalah serius atau kelainan pada sendi rahang.

Menggigit benda keras
Kebiasaan ini biasanya merupakan penyaluran dari stres
atau banyak pikiran. Korban gigitan biasanya pensil,
pulpen, kuku, remote TV, atau benda-benda keras lainnya.
hal ini dapat membuat permukaan gigi menjadi terkikis,
bahkan keretakan pada struktur gigi.

Menjadikan gigi sebagai gunting atau pembuka

botol
Pernah lihat iklan pasta gigi di layar TV yang
memperlihatkan orang-orang menggunakan gigi untuk
membuka tutup botol, menyobek kemasan makanan,
memotong label baju baru? Tugas berat semacam ini tidak
pantas ditanggung oleh gigi-geligi, sebab akan merusak
struktur.
D. Nah, demikian beberapa kebiasaan buruk yang dapat
mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut kita bila tidak
diperhatikan. Mari mulai belajar menghilangkan
kebiasaan-kebiasaan tersebut bila ingin gigi kita sehat dan
kuat hingga tua.















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Untuk menjaga kesehatan gigi ataupun jasmani dan rohani itu
semua sudah dalam Alquran, jadi kita hanya menjalani dengan benar,
dan dalam hadist juga di katakan bahwa kebersihan itu adalah
sebagian dari iman maka dari itu marilah menjaga kesehatan selain
terhindar dari penyakit kita juga mendapatkan pahala.

SARAN

Marilah kita bersama sama menjaga kesehatan gigi agar selalu
tampil percaya diri dan terhindar dari sakit gigi, serta juga
mendapatkan pahala karna menjaga kebersihan.















DAFTAR PUSTAKA

http://triharyantod4.blogspot.com/2012/09/kesehatan-gigi-dalam-
tinjauan-islam.html
http://oshiennisa.blogspot.com/2010/09/artikel-islam-dan-
kesehatan-gigi-kata.html
http://thibbunnabawi.wordpress.com/category/siwak/
http://ummusalma.wordpress.com/2007/07/02/siwak-hukum-dan-
fadhilah/
http://ummuhanik.wordpress.com/about/pengobatan-
nabi/manfaat-kayu-siwak-untuk-kesehatan-gigi/