You are on page 1of 13

Jurnal Online Psikologi

Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
101

KEMATANGAN EMOSI DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA
AKSELERASI TINGKAT SMP

Endah Susilowati
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
pinkers_20@yahoo.com

Saat ini beberapa sekolah menyelenggarakan dua program belajar yaitu
program reguler dan akselerasi. Program akselerasi dikhususkan bagi siswa
yang berbakat akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial pada siswa
akselerasi di SMPN 1 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini diambil dari seluruh siswa
akselerasi yang ada di SMPN 1 Malang yang berjumlah 46 siswa. Instrumen
yang digunakan untuk mengambil data adalah dengan menggunakan dua
skala, yaitu skala kematangan emosi dan skala penyesuaian sosial. Teknik
analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi product moment.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan positif
yang sangat signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial
(r =0,794, p<0,01). Artinya bahwa apabila kematangan emosi siswa
akselerasi tinggi biasanya akan di ikuti dengan penyesuaian sosial yang
tinggi, begitu juga ]jm’’sebaliknya. Adapun besarnya sumbangan efektif
kematangan emosi dengan penyesuaian sosial sebesar 63%, sedangkan
sisanya 37% disebabkan oleh faktor lain.

Kata kunci: Kematangan emosi, Penyesuaian sosial, Akselerasi
Recently, some school held two learning program, whcih is regular and
acceleration. Acceleration is specifically directed for students with
academic talent. According to previous research, it is said that talentful
students who got in acceleration program received some bad social
adjustment. Bad social adjustment is influenced by some factors, one of
them is emotion maturity. So, this research aimed to find out relations
between emotional maturity with social adjustment in acceleration students
in SMPN 1 Junior High School of Malang. The research is quantitative
correlational research. Research subject is taken from all acceleration
students in SMPN 1 Junior High School of Malang who consisted of 46
students. Instrument used to take data is by using two scale, which is
emotional and social adjustment. Data analysis technique in this research is
supported by correlation product moment test. According to the research, it
is found out there’s significant positive relations between emotional
maturity with social adjustment (r =0,794, p<0,01). It means when
acceleration class student’s emotional maturity is high, it would be followed
with high social adjustment in the contrary. Effective contribution of
emotional maturity with social adjustment is about 63% while rest of 37%
caused by another factors.

Keywords: Emotional maturity, Social adjustment, Acceleration
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
102

Salah satu konteks yang penting dalam proses belajar adalah sekolah. Kita sering
berpendapat bahwa sekolah adalah suatu tempat dimana proses belajar secara akademis
mendominasi. Tetapi sekolah sebenarnya lebih dari sekedar kelas akademis dimana
siswa dapat berpikir, melakukan penalaran, dan mengingat. Sekolah juga merupakan
suatu arena sosial yang penting bagi remaja, dimana teman dan perkumpulan memiliki
makna yang besar. Sekolah memiliki pengaruh yang besar bagi remaja. Pengaruh
sekolah sekarang ini lebih kuat dibandingkan pada generasi sebelumnya karena lebih
banyak individu yang menghabiskan waktunya di sekolah.
Pada tahun 1998/1999 pemerintah telah mengeluarkan undang-undang bagi peserta
didik berhak mendapatkan perlakuan sesuai dengan bakat dan minatnya dan berhak
menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.
Pemerintah telah menyelenggarakan program akselerasi (program percepatan belajar).
Dimana siswa yang di anggap memiliki kemampuan yang lebih (berbakat akademik)
dapat menyelesaikan program pendidikannya lebih cepat di banding teman sebayanya
dalam program reguler.
Balitbang Depdikbud (dalam Widyasari, 2008) mengungkapkan program akselerasi
pada awal tujuannya untuk mewadahi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa dalam program percepatan belajar. Mereka adalah peserta didik
yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, dan memiliki kemampuan intelektual
umum yang berfungsi pada taraf cerdas, kreativitas yang memadai, dan keterikatan
terhadap tugas yang tergolong baik. Dep Dik Nas (dalam Widyasari, 2008) juga
menegaskan bahwa waktu pembelajaran yang digunakan untuk menyelesaikan program
belajar bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa melalui
program akselerasi atau percepatan belajar dibandingkan siswa yang reguler. Pada
satuan pendidikan Sekolah Dasar, dari enam tahun dipercepat menjadi lima tahun.
Sedangkan pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah
Atas masing-masing dari tiga tahun dipercepat menjadi dua tahun. Materi pelajaran
yang disampaikan dilakukan dengan cara pemadatan materi pelajaran.
Mihali Csikszentmihaly dari Universitas Chicago telah menunjukkan bahwa anak-anak
dengan kemampuan tinggi yang luar biasa disembarang domain, tidak hanya secara
akademis, tetapi juga di bidang seni rupa, musik, bahkan atletik sebetulnya secara sosial
tidak padu dengan sebayanya. Anak-anak berbakat cenderung “ngotot”, berpikir bebas
dan introver. Mereka lebih banyak menyendiri dan meskipun memperoleh energi dan
kesenangan dari kehidupan mental yang menyendiri itu, mereka juga mengungkapkan
bahwa mereka merasa kesepian. Anak perempuan yang berbakat akademik lebih banyak
mengalami depresi, memiliki harga diri yang rendah, dan keluhan-keluhan psikosomatik
lain bila dibandingkan dengan sebayanya laki-laki yang berbakat (Hawad, 2004).
Kurikulum pendidikan nasional di Indonesia saat ini lebih banyak bobot pendidikannya
yang diarahkan untuk merangsang perkembangan kognitif siswa dengan kurang
diimbangi oleh stimulasi bagi perkembangan aspek sosial dan emosi. Sehingga, para
siswa sibuk mengejar prestasi di sekolah dan akibatnya akan mengurangi waktu mereka
bersosialisasi dengan masyarakat, sehingga bisa dipastikan waktu sosialisasi remaja
menjadi sangat terbatas (Hawadi, 2004).
Seperti halnya pemadatan materi di kelas Akselerasi menuntut peserta akselerasi harus
tetap stabil dalam mengikuti pelajaran. Hal ini membuat sejumlah peserta kesulitan
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
103

untuk mengikuti kegiatan di luar kelas, seperti ekstrakurikuler. Padahal kegiatan di luar
pembelajaran akademis itu dapat menjadi wadah bagi siswa untuk melakukan
pengembangan kompetensi sosialnya (Widyasari, 2008).
Hasil temuan dari Aswan Hadis (dalam Widyasari, 2008) banyak penelitian mutakhir
yang menemukan bahwa anak yang berbakat akademik dalam satu kelas homogen,
sekitar 25-30% siswanya mengalami masalah-masalah emosi dan sosial. Masalah yang
sering dialami adalah kurangnya pengetahuan tentang interaksi teman sebaya, isolasi
sosial, kepercayaan diri, penurunan prestasi belajar, dan kebosanan yang dialami oleh
siswa-siswa berbakat akademik dalam kelas homogen.
Kelas akselerasi pada awalnya dianggap sebagai solusi terbaik untuk memenuhi
kebutuhan belajar bagi siswa dengan IQ tinggi, karena sesuai dengan pendapat Terman
(dalam Hawadi, 2004) yang menyatakan bahwa siswa dengan IQ diatas normal akan
superior dalam kesehatan, penyesuaian sosial, dan sikap moral. Iswinarti (dalam Ari, tt)
mengungkapkan pada kenyataanya dilapangan tidak sebaik yang di harapkan, karena
sebagian anak dengan IQ tinggi akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial,
karena anak dengan IQ tinggi mempunyai pemahaman yang lebih cepat dan cara
berpikir yang lebih maju sehingga sering tidak sepadan dengan teman-temannya.
Kondisi tersebut semakin tidak diuntungkan dengan adanya labellingdari lingkungan
sekitar terhadap siswa akselerasi.
Hawadi (2004) mengungkapkan bahwa masalah utama dalam program akselerasi adalah
bila dilakukan dengan tergesa-gesa, anak dapat saja belum “siap” atau “matang”, baik
secara fisik maupun emosi untuk masuk atau dapat diterima dengan teman-temannya
yang lebih tua. Hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan akselerasi bagi anak
berbakat akademik adalah memenuhi kebutuhan akan tugas-tugas yang penuh tantangan
dalam bidang keberbakatan dan adanya persahabatan di antara teman sejawat yang
memiliki kemampuan yang sama. Persahabatan ini sangat penting mengingat mereka
cenderung mengisolasi diri.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu menjadi bagian dari
lingkungan tertentu. Dimana di setiap lingkungan yang berbeda individu selalu
dihadapkan pada harapan-harapan dan tuntutan yang berbeda. Seperti halnya siswa yang
mengikuti program akselerasi, siswa tersebut di tuntut untuk dapat mengikuti setiap
materi pelajaran yang di berikan lebih cepat di banding program reguler. Selain itu
siswa diharapkan dapat melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan sekitarnya
baik dengan siswa sekelasnya di akselerasi maupun dengan siswa reguler yang satu
sekolah dengannya. Demikian juga mereka dituntut untuk bisa melakukan penyesuaian
dengan guru maupun dengan masyarakat lingkungan sekitarnya.
Ketika seorang anak menjadi remaja dan kemudian remaja berkembang menuju ke
tingkat dewasa, ia mengalami banyak perubahan dalam dunia sekolahnya.
Perkembangan sosial dan emosional secara instrinsik dinilai sangat penting bagi diri
remaja dalam masa sekolahnya. Pola akademis dan sosial memiliki keterkaitan yang
cukup rumit. Sekolah yang menghasilkan siswa yang berprestasi tinggi dikaitkan tidak
hanya dengan kurikulum dan jumlah waktu mengajar tetapi juga faktor iklim dari
sekolah seperti harapan guru terhadap siswanya dan juga pola interaksi guru dengan
murid. Dengan kata lain, aspek dari sekolah sebagai suatu sistem sosial berperan
terhadap pencapaian prestasi siswa di sekolah (Santrock, 2003).
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
104

Sejalan dengan pendidikan individu menuju sekolah menengah atau sekolah lanjutan
tingkat pertama, lingkungan sekolah meningkat dalam hal ruang lingkup dan tingkat
kompleksitasnya. Remaja berinteraksi secara sosial dengan bermacam-macam guru dan
teman sebaya yang berasal dari beragam latar belakang sosial dan etnis (Santrock,
2003). Transisi menuju sekolah menengah atau sekolah lanjutan tingkat pertama dari
sekolah dasar merupakan suatu pengalaman yang normatif bagi anak-anak. Proses
transisi tersebut menimbulkan stres karena terjadi secara bersamaan dengan transisi-
transisi lainnya dalam diri individu, dalam keluarga, dan di sekolah (Eccles, dkk., dalam
Santrock, 2003).
Ketika siswa mengalami transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah atau
sekolah lanjutan tingkat pertama, siswa menghadapi fenomena yang teratas ke bawah
(top-dog phenomenon), yaitu keadaan dimana siswa bergerak dari posisi yang paling
atas menuju posisi yang paling rendah (Santrock, 2003). Dengan demikian penyesuaian
sosial dibutuhkan bagi remaja saat remaja mengalami masa transisi seperti yang telah
dipaparkan di atas. Disamping siswa dituntut untuk dapat menyesuaikan diri pada masa
transisi dari sekolah dasar ke sekolah lanjutan tingkat pertama, siswa yang masuk dalam
kelas akselerasi juga dituntut untuk dapat bergabung dengan lingkungan kelasnya yang
cenderung lebih tua darinya. Penyesuaian sosial sangat penting bagi remaja, khususnya
bagi siswa akselerasi. Karena dengan remaja dapat melakukan penyesuaian sosial yang
baik, siswa akselerasi tidak lagi bersifat introvert dan merasa kesepian, karena mereka
sudah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Para peneliti yang memperhatikan proses transisi dari sekolah dasar menuju sekolah
menengah atau sekolah lanjutan tingkat pertama menemukan bahwa tahun pertama di
sekolah menengah atau sekolah lanjutan tingkat pertama dapat menjadi tahun yang
sangat sulit bagi banyak siswa (Eccles & Midgely, dalam Santrock, 2003). Dalam hal
ini karena siswa dituntut untuk dapat meyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru
yaitu, teman baru, guru baru dan lingkungan sekolah yang baru. Apabila siswa yang
memiliki penyesuaian sosial yang baik maka siswa tersebut dapat dengan mudah
menyesuaikan dengan lingkungan yang baru dan dapat bergabung dengan teman-teman
barunya.
Hawadi (2004) mengatakan siswa berbakat yang ditempatkan di kelas atas yang lebih
sesuai dengan kemampuan berpikir mereka, memang beruntung karena anak akan
dihadapkan dengan soal-soal yang lebih rumit daripada dikelas asal sehingga
mengurangi kebosanan. Masalahnya, mereka bergaul dengan anak yang jauh lebih tua.
Kondisi ini akan mengisolasi si anak dan menimbulkan self esteem yang rendah.
Keadaan ini juga akan menimbulkan gangguan pada konsep diri anak. Disatu pihak ia
merasa memiliki pengetahuan yang lebih dari kawan-kawannya, dipihak lain ia merasa
kurang karena pengalaman dan pengetahuan yang minim di luar mata pelajaran yang
diberikan sehingga pengetahuannya tidak seimbang dengan teman-teman sekelas.
Monks (dalam Ari, tt) mengungkapkan bahwa usia siswa-siswi SMP dapat
dikategorikan dalam masa remaja awal, yaitu 12-15 tahun. Memasuki masa remaja,
anak mulai melepaskan diri dari ikatan emosi orang tua dan menjalin hubungan yang
akrab dengan teman-teman sebayanya. Havighurst (dalam Ari, tt) menjelaskan beberapa
tugas perkembangan remaja yang berhubungan dengan perkembangan sosial emosional,
yaitu menjalin hubungan dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, mencapai
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
105

suatu peran sosial baik bagi pria maupun wanita sesuai dengan jenis kelaminnya,
melakukan perilaku sosial yang diharapkan, dan mencapai suatu kemandirian sosial dari
orang tua dan dewasa disekitarnya.
Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan
dengan penyesuaian sosial (Hurlock,1980). Yang terpenting dan tersulit adalah
penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam
perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi
persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru
dalam seleksi pemimpin (Nurdin, 2009).
Menurut Schneiders (dalam Ari, tt) penyesuaian sosial dapat diartikan sebagai
kemampuan individu untuk bereaksi secara sehat dan efektif terhadap hubungan, situasi,
dan kenyataan sosial yang ada sehingga dapat mencapai kehidupan sosial yang
menyenangkan dan memuaskan. Dengan demikian penyesuaian sosial sebagai salah
satu aspek dari penyesuaian diri individu yang menuju kepada kesesuaian antara
kebutuhan dirinya dengan keadaan lingkungan tempat ia berada dan berinteraksi secara
efektif dan efisien. Penyesuaian sosial akan terasa menjadi penting, apabila individu
dihadapkan pada kesenjangan yang timbul dalam hubungannya dengan orang lain.
Betapapun kesenjangan itu dirasakan sebagai hal yang menghambat, akan tetapi sebagai
makhluk sosial, kebutuhan individu akan pergaulan, penerimaan, dan pengakuan orang
lain atas dirinya tidak dapat dielakkan sehingga dalam situasi tersebut, penyesuaian
sosial akan menjadi wujud kemampuan yang dapat mengurangi atau mengatasi
kesenjangan tersebut.
Widyasari (2008) mengemukakan bahwa untuk dapat melakukan penyesuaian sosial
yang baik, maka kematangan emosi mempunyai peranan yang sangat penting. Siswa
yang matang secara emosional lebih dapat diterima dalam lingkungan sosialnya.
Mengajarkan keterampilan emosional dan sosial pada siswa dapat membentuk
kematangan emosional yang selanjutnya memudahkan siswa dalam melakukan
penyesuaian sosial. Hurlock (1980) juga menjelaskan bahwa tidak semua remaja
mengalami masa badai dan tekanan, namun sebagian besar remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri
pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru.
Yusuf (2011) mengungkapkan kematangan emosi merupakan kemampuan individu
untuk dapat bersikap toleran, merasa nyaman, mempunyai kontrol diri sendiri, perasaan
mau menerima dirinya dan orang lain, selain itu mampu menyatakan emosinya secara
konstruktif dan kreatif.
Sejalan dengan bertambahnya kematangan emosi seseorang maka akan berkuranglah
emosi negatif. Bentuk-bentuk emosi positif seperti rasa sayang, suka, dan cinta akan
berkembang jadi lebih baik. Perkembangan bentuk emosi yang positif tersebut
memungkinkan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan menerima
dan membagikan kasih sayang untuk diri sendiri maupun orang lain. Untuk mencapai
kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi
yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah membicarakan
berbagai masalah pribadinya dengan orang lain ataupun teman sebayanya (Hurlock,
1980).
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
106

Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada
masa akhir remaja tidak “meledakkan” emosinya dihadapan orang lain melainkan
menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan
cara-cara yang lebih dapat diterima (Hurlock, 1980).
Berangkat dari masalah dan sumber informasi yang telah dipaparkan diatas, Maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam tentang hubungan
antara kematangan emosi dan penyesuaian sosial pada siswa akselerasi tingkat SMP.
Berdasarkan latar belakang dapat diidentifikasikan permasalahan, yaitu apakah terdapat
hubungan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial pada siswa akselerasi ?
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan
emosi dan penyesuaian sosial pada siswa akselerasi.penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan di bidang psikologi pendidikan dan
perkembangan dan Untuk menambah informasi serta memberikan masukan kepada para
pendidik khususnya yang menangani program akselerasi.
Penyesuaian sosial
Pengertian penyesuaian sosial menurut Chaplin (dalam Kartini Kartono, 1981)
menyebutkan bahwa sosial adjustment (penyesuaian sosial) adalah : (1) penjalinan
secara harmonis suatu relasi dengan lingkungan sosial; (2) mempelajari tingkah laku
yang diperlukan atau mengubah kebiasaan yang ada sedemikian rupa sehingga cocok
bagi suatu masyarakat sosial. Menurut Hurlock (1980) penyesuaian sosial merupakan
keberhasilan individu untuk mengadakan hubungan dengan orang lain secara umum
atau kelompok dan memperlihatkan sikap dan tingkah laku yang menyenangkan.
Sofyan dan Willis (dalam Nurdin, 2009) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai
kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya,
sehingga ia merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. Yusuf (2011)
mengungkapkan penyesuaian sosial sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat
terhadap realitas sosial, situasi dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan
baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penyesuaian sosial merupakan
keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri dan dapat berinteraksi dengan beragam
orang, sehingga ia merasa puas terhadap dirinya dan orang lain.
Kematangan emosi
Chaplin (dalam Kartini Kartono, 1981) mendefinisikan kematangan emosi sebagai suatu
keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional
karena itu pribadi tidak lagi menampilkan pola emosional yang pantas bagi anak-anak.
Hurlock (1980) mengungkapkan bahwa kematangan emosi sebagai suatu keadaan
dimana individu tidak lagi meledakkan emosinya dihadapan orang lain melainkan
menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan
cara-cara yang lebih dapat diterima.
Yusuf (2011) mengungkapkan kematangan emosi merupakan kemampuan individu
untuk dapat bersikap toleran, merasa nyaman, mempunyai kontrol diri sendiri, perasaan
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
107

mau menerima dirinya dan orang lain, selain itu mampu menyatakan emosinya secara
konstruktif dan kreatif.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi adalah
kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan dan situasi
perasaan-perasaan diri sendiri serta mampu mengontrol emosi dan mengendalikan
emosinya ketika berada disituasi sosial tertentu sehingga dapat diterima oleh lingkungan
masyarakat.
Akselerasi
Tokoh yang pertama kali merumuskan akselerasi adalah Pressy (dalam Hawadi, 2004)
mengemukakan bahwa program akselerasi sebagai kemajuan dalam program pendidikan
dengan laju yang lebih cepat daripada yang berlaku pada umumnya atau memulai suatu
tingkat pendidikan pada usia yang lebih muda daripada yang berlaku pada umumnya.
Pengertian Nulhakim (2008) menyatakan bahwa akselerasi atau program percepatan
belajar merupakan bagian kebijakan pendidikan jalur formal pada program layanan
khusus peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan keberbakatan akademik
istimewa.
Pengertian dari NAGC (dalam Calvert, 2010) menyatakan bahwa akselerasi adalah
melaju lebih cepat dalam isi akademis, yang umumnya mencakup penawaran standar
kepada siswa yang berusia lebih muda dan berbakat sehingga proses pembelajaran lebih
sesuai dengan bakat dan potensi siswa.
Colangelo (dalam Hawadi, 2004) menyebutkan bahwa istilah akselerasi menunjuk pada
pelayanan yang diberikan (service delivery) dan kurikulum yang disampaikan
(curriculum delivery). Sebagai model pelayanan, akselerasi dapat diartikan sebagai
model layanan pembelajaran dengan cara lompat kelas, misalnya bagi siswa yang
memiliki kemampuan tinggi diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran pada kelas
yang lebih tinggi. Sementara itu, model kurikulum, akselerasi berarti mempercepat
bahan ajar dari yang seharusnya dikuasai oleh siswa saat itu sehingga siswa dapat
menyelesaikan program studinya lebih awal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
menganalisis materi pelajaran dengan materi yang esensial dan kurang esensial.
Hipotesa
Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan positif antara kematangan emosi dengan
penyesuaian sosial pada siswa Akselerasi, yang berarti bahwa apabila kematangan
emosinya tinggi maka penyesuaian sosialnya tinggi, begitu juga sebaliknya apabila
kematangan emosinya rendah maka penyesuaian sosialnya juga rendah.
METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah seluruh siswa akselerasi yang ada di SMPN 1 Malang yang
berjumlah 49 siswa.

Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
108

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah dengan menggunakan skala. Skala merupakan teknik
pengumpulan data yang bersifat mengukur, karena diperoleh hasil ukur yang berbentuk
angka-angka (Sukmadinata, 2007). Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah
model skala Likert. Metode Likert merupakan metode penskalaan pernyataan sikap
yang memungkinkan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya dan tidak
dibutuhkan kelompok panel penilai atau judging group, dikarenakan nilai skala setiap
pernyataan tidak ditentukan oleh derajat favorablenya masing -masing akan tetapi
ditentukan oleh distribusi responnya (Azwar, 1997). Prosedur penskalaan dengan
metode ini didasari oleh dua asumsi, yaitu: 1) setiap pernyataan sikap yang telah ditulis
dapat disepakati sebagai termasuk pernyataan yang favourable atau pernyataan yang tak
favourable; 2) Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai sikap positif
harus diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi daripada jawaban yang diberikan oleh
responden yang mempunyai sikap negatif.
Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, responden akan diminta untuk
menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuannya terhadap isi pernyataan yang
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-
kata antara lain: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju
(STS) (Azwar, 1997).
Analisis Data
Setelah semua data terkumpul dilanjutkan analisis data dengan menggunakan program
SPSS versi 12, yaitu korelasi product moment.
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Subjek
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 46 siswa akselerasi di SMPN 1 Malang
yang terdiri dari kelas VII dan kelas IX, maka dapat diketahui beberapa gambaran
subjek penelitian pada tabel berikut:
Tabel 1. Rincian jenis kelamin dan usia siswa akselerasi
Usia
Jenis kelamin
Laki - laki Perempuan
12 - 2
13 4 8
14 13 12
15 5 2

Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa jumlah subjek yang berjenis kelamin
perempuan berjumlah 24 siswa dengan prosentase sebesar 52% dan laki-laki berjumlah
22 siswa dengan prosentase 48%. Diperoleh pula bahwa usia subjek sangat beragam,
dengan usia minimal yaitu 12 tahun dan usia maksimal yaitu 15 tahun, dimana subjek
dengan usia 12 tahun berjumlah 2 orang yang semuanya berjenis kelamin perempuan
dengan prosentase sebesar 4,3%, usia 13 tahun berjumlah 12 orang yang terdiri dari 4
laki-laki dan 8 perempuan dengan prosentase sebesar 26,1%, usia 14 tahun berjumlah
25 orang yang terdiri dari 13 laki-laki dan 12 perempuan dengan prosentase sebesar
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
109

54,4% dan untuk usia 15 tahun berjumlah 7 orang yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan
2 siswa perempuan dengan prosentase sebesar 15,2%.
Deskripsi Data
Untuk mengetahui deskripsi tentang data variabel kematangan emosi dan penyesuaian
sosial, peneliti mengelompokkan subjek berdasarkan banyaknya item dalam kategori
yang ditentukan. Untuk variabel kematangan emosi dan penyesuaian sosial, peneliti
mengelompokkan subjek dalam dua kategori, yaitu: tinggi dan rendah.
Untuk memudahkan perhitungan, maka digunakan program SPSS versi 12. Interpretasi
dilakukan dengan pedoman bahwa apabila nilai T>50 maka dapat dikatakan bahwa
subjek memiliki kecenderungan yang tinggi terhadap kematangan emosi dan
penyesuaian sosial, apabila sebaliknya nilai T<50 maka subjek memiliki kecenderungan
yang rendah terhadap kematangan emosi dan penyesuaian sosial.Hasil perhitungan
kedua skala yang sudah dikategorikan adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Kategori kematangan emosi
No. Kategori Interval Frekuensi Persen (%)
1. Tinggi T>50 25 54,3%
2. Rendah T<50 21 45,7%

Berdasarkan hasil pengkategorian di atas diketahui bahwa, persentase dan frekuensi
kematangan emosi siswa akselerasi dari jumlah total keseluruhan 46 siswa akselerasi,
yaitu; 25 siswa tergolong dalam kategori tingkat kematangan emosi tinggi dengan
prosentase 54,3 % dan 21 siswa berada pada tingkat kategori rendah dengan persentase
45,7%.
Tabel 3. Kategori Penyesuaian Sosial
No. Kategori Interval Frekuensi Persen (%)
1. Tinggi T>50 24 52,2%
2. Rendah T<50 22 47,8%

Berdasarkan hasil pengkategorian di atas diketahui bahwa, persentase dan frekuensi
penyesuaian sosial siswa akselerasi dari jumlah total keseluruhan 46 siswa akselerasi,
yaitu; 24 siswa tergolong dalam kategori tingkat penyesuaian sosial tinggi dengan
prosentase 52,2 % dan 22 siswa berada pada tingkat kategori rendah 14 dengan
persentase 47,8%.
Hasil Analisis Data
Berdasarkan pengolahan SPSS versi 12 pada hasil perhitungan korelasi antara
kematangan emosi dengan penyesuaian sosial dengan nilai probabilitas (p)=0,000
sedangkan nilai koefisien korelasi (r)=0,794. hasil ini berarti ada hubungan positif yang
sangat signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial. Makna
hubungan korelasi positif yang sangat signifikan dari kedua variabel tersebut adalah
semakin tinggi kematangan emosi seseorang maka semakin tinggi pula penyesuaian
sosialnya.
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
110

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa akselerasi yang memiliki
tingkat kematangan emosi yang tinggi maka mereka juga akan dapat melakukan
penyesuaian sosial yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya siswa
akselerasi yang memiliki tingkat kematangan emosi yang rendah maka siswa tersebut
juga akan mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan
sekitarnya.
DISKUSI
Dari penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil bahwa ada hubungan
positif yang sangat signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial (r =
0,794, p =0,000) ini berarti bahwa siswa akselerasi yang memiliki kematangan emosi
rendah biasanya akan diikuti dengan penyesuaian sosial yang rendah, dan sebaliknya
jika siswa akselerasi yang memiliki kematangan emosi yang tinggi biasanya diikuti
dengan penyesuaian sosial yang tinggi pula. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
hipotesis yang telah di ajukan dapat di terima.
Sharma (2011) mengungkapkan bahwa kematangan emosi tercermin melalui berbagai
ciri-ciri seperti kestabilan emosi, perkembangan emosi, penyesuaian sosial dan
integritas kepribadian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila kematangan
emosinya tinggi maka penyesuaian sosialnya baik. Sebaliknya apabila tingkat
kematangan emosi pada siswa akselerasi rendah, maka penyesuaian sosialnya rendah
pula.
Karl Garison (dalam Soesilowindradini, tt) mengungkapkan bahwa Bagi individu yang
memiliki kematangan emosi yang tinggi maka siswa tersebut memiliki sikap
bertanggung jawab, dapat bekerja sama dengan orang lain, bekerja secara jujur, percaya
kepada orang lain dan memikirkan hak-hak orang lain. Setiap individu memiliki
kematangan emosi yang berbeda-beda dan tidak semua dapat mencapai kematangan
emosinya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang ada pada dirinya
sendiri maupun dari lingkungan sekitar. J ika seorang siswa matang secara emosi maka
mereka akan dapat menahan dan mengendalikan emosinya secara tepat dan tidak
meledakkan emosinya di depan orang banyak. Perilaku tersebut dapat lebih mudah
untuk masuk pada lingkungan sosial dan dapat berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya dengan baik pula. Sehingga siswa yang matang emosinya dapat diterima oleh
lingkungan karena mampu mengendalikan dan menahan emosinya secara tepat,bersikap
kritis dan lebih stabil.
Soesilowindradini (tt) mengungkapkan untuk mencapai kematangan emosi, seorang
anak harus mempunyai pandangan yang luas ke dalam situasi-situasi yang mungkin
menimbulkan reaksi-reaksi emosional yang hebat. Hal ini dapat didapatkan, bilamana
dia bersedia untuk membicarakan problem-problem dengan orang lain. Dengan individu
dapat bersikap terbuka dengan orang lain, mampu menjalin hubungan sosial dengan
berbagai kelompok maka remaja tersebut memiliki penyesuaian sosial yang baik. Hal
ini didasarkan atas ciri-ciri seseorang memiliki penyesuaian sosial yang baik adalah
penampilan nyata, penyesuaian diri terhadap berbagai kelompok, sikap sosial dan
kepuasan pribadi.
Sedangkan menurut Hawadi (2004) bagi individu yang kurang matang emosinya akan
merasa tertekan dengan tuntutan yang ada dan bisa menjadi siswa underachiver atau
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
111

drop out, individu tersebut akan merasa terisolasi atau bersifat agresif terhadap orang
lain, dan juga individu tersebut mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri serta
tidak dapat mengembangkan kreativitas dan potensi yang dimiliki.
Di dalam penelitian ini kontribusi variabel kematangan emosi adalah sebesar 63%
terhadap penyesuaian sosial. Kontribusi kematangan emosi terhadap penyesuaian sosial
dapat dikatakan cukup besar karena lebih dari 50%, sedangkan 37% merupakan faktor
lain yang tidak diteliti yang turut mempengaruhi terjadinya penyesuaian sosial, di
antaranya faktor kondisi fisik, yang meliputi faktor keturunan, kesehatan, bentuk tubuh
dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fisik. Faktor pekembangan dan kematangan,
yang meliputi perkembangan intelektual, sosial, moral. Faktor psikologis, yaitu faktor-
faktor pengalaman individu, frustasi dan konflik yang dialami, dan kondisi-kondisi
psikologis seseorang dalam penyesuaian diri. Faktor lingkungan, yaitu kondisi yang ada
pada lingkungan, seperti kondisi keluarga, kondisi rumah, dan sebagainya. Faktor
budaya, termasuk adat istiadat dan agama yang turut mempengaruhi penyesuaian diri
seseorang (Agustiani, 2006).
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa siswa Akselerasi yang memiliki penyesuaian
sosial yang tinggi jumlahnya lebih banyak 52,2% dibandingkan yang memiliki
penyesuaian sosial yang rendah dengan presentase 47,8%. Sedangkan tingkat
kematangan emosi yang tinggi berjumlah 54,3% dan kematangan emosi yang rendah
berjumlah 45,7%. Hal ini disebabkan karena di SMPN 1 Malang siswa akselerasi
diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lain
yang diselenggarakan oleh sekolah. Siswa akselerasi dapat mengikuti semua kegiatan
yang ada di sekolah sesuai keinginan mereka asalkan tidak menggangu dalam proses
belajar. siswa akselerasi di SMPN 1 Malang penyesuaian sosialnya cukup tinggi karena
siswa akselerasi diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman yang
bukan merupakan siswa akselerasi sehingga hal tersebut memperlancar interaksi siswa
dengan lingkungan sekitar.
Hal yang membedakan antara siswa akselerasi dan siswa program reguler adalah pihak
sekolah mengadakan out bond rutin yang dilakukan setiap tahunnya khusus untuk siswa
akselerasi, hal ini dilakukan karena pihak sekolah menganggap bahwa siswa akselerasi
waktu luangnya untuk bermain bersama teman-temannya lebih sedikit dibanding siswa
program reguler karena siswa akselerasi disibukkan dengan program belajar yang lebih
padat. Dalam kegiatan out bond yang diberikan pada siswa akselerasi berguna untuk
membangun motivasi dan keterampilan sosial siswa, sehingga siswa akselerasi dapat
melatih berinteraksi dengan orang lain dan belajar mengendalikan emosinya.
SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang sangat
signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial (r =0,794, p<0,01).
Artinya bahwa apabila kematangan emosi siswa akselerasi tinggi biasanya akan di ikuti
dengan penyesuaian sosial yang tinggi, begitu juga sebaliknya apabila kematangan
emosi rendah biasanya akan diikuti dengan penyesuaian sosial yang rendah. Adapun
besarnya sumbangan efektif kematangan emosi dengan penyesuaian sosial sebesar 63%,
sedangkan sisanya 37% disebabkan faktor lain.
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
112

Implikasi
Merujuk dari hasil penelitian implikasi untuk pihak sekolah disarankan memberikan
pelatihan atau training pada siswa akselerasi yang berhubungan untuk mengembangkan
kematangan emosi dan penyesuaian sosial siswa akselerasi seperti melakukan pelatihan
kecerdasan emosi dan pelatihan social skill. Bagi siswa akselerasi diharapkan untuk
belajar mengendalikan emosinya serta memperluas interaksinya dengan lingkungan
sekitarnya, dan juga siswa diharapkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti
ekstrakurikuler, yaitu basket, voli, PMR, dll. Sehingga siswa akselerasi memiliki
kematangan emosi yang tinggi dan dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik.
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih memperluas kajian tentang
kematangan emosi dan penyesuaian sosial untuk mendapatkan hasil penelitian yang
lebih sempurna dan lengkap, maka diharapkan peneliti selanjutnya untuk meneliti pada
objek penelitian yang berbeda seperti di SMA. Selanjutnya disarankan untuk meneliti
variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi penyesuaian sosial yang belum diteliti
seperti faktor kondisi fisik, yang meliputi faktor keturunan, kesehatan, bentuk tubuh
dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fisik, faktor psikologis, yaitu faktor-faktor
pengalaman individu, frustasi dan konflik yang dialami, dan kondisi-kondisi psikologis
seseorang dalam penyesuaian diri, faktor lingkungan yang meliputi kondisi keluarga
serta kondisi rumah dan faktor budaya meliputi adat istiadat dan agama yang turut
mempengaruhi penyesuaian diri seseorang.
REFERENSI
Agustiani, H., (2006). Psikologi perkembangan pendekatan ekologi kaitannya dengan
konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja. Bandung: PT Refika aditama.
Ari, B. W., Andayani, T. R., & Sawitri, D. R. (tt). Hubungan konsep diri dengan
penyesuaian sosial siswa kelas akselerasi di SMP Negri 2 dan SMP PL
Domenico Savio Semarang. 1-12. Di akses pada tanggal 5 januari 2012 dari
http//www.eprints.undip.ac.id..Skripsi.pdf.
Arikunto, S. (1992). Prosedur penelitian (Suatu pendekatan praktik). Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Azwar, S. (2010). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Azwar, S. (1995). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset.
Chaplin, J . P. (2008). Kamus lengkap psikologi. J akarta : Raja Grafindo Persada.
Chair, N. C., Assouline, S. G., Marron, M. A., Castellano, J. A., Clinkenbeard, P. R.,
Rogers, K., Calvert, E., Malek, R., & Smith, D., (2010). Guidelines for
developing an academic acceleration policy. Journal of advanced academics,
21, 2, 180-203. Di akses pada tanggal 15 januari 2012 dari
http//www.krepublishers.com/02-jurnalis.pdf.
Jurnal Online Psikologi
Vol. 01 No. 01, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id
113

Hawadi, R. A. (2004). Akselerasi (A-Z informasi program percepatan dan anak
berbakat intelektual). Jakarta: Gramedia.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Mappiare, A. (1982). Psikologi remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Martin, A. D. (2003). Emotional quality management. Jakarta : Arga.
Nulhakim, T. R. (2008). Program akselerasi bagi siswa berbakat akademik. pendidikan
dan kebudayaan, 14, 073. Di akses pada tanggal 10 januari 2012 dari
http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/pengertian-dan-tujuan-
program.html.
Nurdin. (2009). Pengaruh kecerdasan emosional terhadap penyesuaian sosial siswa di
sekolah. Administrasi pendidikan,IX , 1, 86-108. Di akses pada tanggal 15
januari 2012 dari http//www.file.upi.edu/Direktori/FIP/J UR.../Karya_Ilmiah_8.pdf.
Poerwanti, E. (1998). Dimendi-dimensi riset ilmiah. Malang: UMM Press.
Sharma, D. (2011). Emotional maturity of ICDS and Non-ICDS children: a comparative
study. Journal of research in peace, gender and development, 11, 1, 320-323,.
Di akses pada tanggal 5 april 2012 dari http://www.interesjournal.org/JRPGD.
Santrock, J . W. (2003). Adolescence (Perkembangan remaja). Jakarta : Erlangga.
Sanusi, A. (2003). Metode penelitian. Malang: Buntara Media.
Setyosari, P. (2010). Metode penelitian pendidikan dan pengembangan. Jakarta: Prenada Media
Group.
Soesilowindradini. (tt). Psikologi perkembangan masa remaja. Surabaya : Usaha Nasional.
Sukmadinata, N. S. (2007). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Susanti, F. R. (2008). Hubungan antara kepercayaan diri dengan penyesuaian sosial siswa
akselerasi kelas VIII SMP Santa Maria Fatima. Psiko-edukasi,VI, 21-33. di akses
pada tanggal 20 desember 2012 dari http//www.file.upi.edu/Direktori/FIP/...pdf.
Winarsunu, T. (2002). Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. Malang: UMM
Press.
Widyasari, C. (2008). Program pengembangan kompetensi sosial untuk remaja siswa SMA
kelas akselerasi. Disertasi magister profesi, Program Pascasarjana Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Di akses pada tanggal 20 desember 2011 dari
http//www.file.upi.edu/Direktori/FIP/J UR.../Karya_Ilmiah_8.pdf
Yusuf, S. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.