You are on page 1of 42

LAPORAN

PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)


DI APOTIK INDAH FARMA BANGKALAN
TANGGAL 20 JANUARI SAMPAI DENGAN 15 FEBRUARI 2014

Disusun oleh:
Alvira kusuma wardani
NIS : 074 / 074 . 079

SMK KESEHATAN YANNAS HUSADA BANGKALAN


Jl Letnan Singosastro No. 3, Kode Pos 6911
Telp.031- 3096111; Fax. 031- 3097230
e-mail : smkf_yannashusada@yahoo.com
BANGKALAN

Halaman Pengesahan
L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

LAPORAN
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
DI APOTIK INDAH FARMA BANGKALAN

TANGGAL 20 JANUARI SAMPAI DENGAN 15 FEBRUARI 2014

Pembimbing Apotek

Titik Kurniawati,S.Farm,.Apt

Pembimbing Sekolah,

Abdur Rahman, SSi., Apt.

MENGETAHUI,

Kepala SMK Kesehatan

Wakasek Kurikulum

Yannas Husada Bangkalan

Moh. Ilham Purnawansyah, M.Pd.


NIP. 19690927 199101 1001

April Nuraini, S.Farm., Apt

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulisan Laporan
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Di Apotek Indah Farma Bangkalan dapat
terselesaikan dengan baik.
Laporan ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Untuk
itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam
penyelesaian laporan ini, terutama kepada:
1. Bpk. RH. Nasir Zaini, SE, selaku Ketua Yayasan An Nashiriyah Bangkalan
2. Bpk Moh. Ilham Purnawansyah, M.Pd selaku Kepala SMK Kesehatan Yannas Husada
3.
4.
5.
6.
7.

Bangkalan
Bpk. Abdur Rahman, SSi., Apt, selaku pembimbing sekolah
April Nuraini, S.Farm., Apt, selaku wakasek Kurikulum .
Guru-guru SMK Kesehatan Yannas Husada Bangkalan.
Karyawan/Pegawai Apotek Indah Farma Bangkalan
Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam proses penyusunan laporan ini.
Penyusunan laporan ini sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir

Nasional (UAN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) Tahun Diklat 2013/2014 serta sebagai
bukti bahwa telah melaksanakan praktek kerja Lapangan (PKL).
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk
itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini sangat penulis
harapkan. Mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya.

Bangkalan, 15 Februari 2014


Penyusun,

ALVIRA KUSUMA WARDANI


DAFTAR ISI

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Halaman
Halaman Judul ..

Lembar Pengesahan

ii

Kata Pengantar..

iii

Daftar Isi

iv

BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..
B. Tujuan Praktek Kerja Lapangan (PKL)..
C. Manfaat Praktek kerja Lapangan (PKL).

BAB II

: TINJAUAN UMUM TENTANG APOTIK


A. Ketentuan Umum Tentang Apotik
B. Tugas Dan Fungsi Apotik..
C. Pendirian Apotik.
D. Pencabutan Izin Apotik..
E. Pengelolaan Sumber Daya Apotik.
1. Pengelolaan Sumber Daya Manusia.
2. Pengelolaan Sediaan Farmasi Dan Perbekalan
Kesehatan Lainnya
a.

Perencanaan.

b.

Pengadaan.

c.

Penyimpanan.

d.

Administrasi

e.

Keuangan

F. Pelayanan Di Apotik.
1. Pelayanan Resep/Pesanan.
2. Promosi dan Edukasi.
3. Pelayanan Residensial (Home Care).
4. Pelayanan Obat Tanpa Resep..
5. Pelayanan Narkotika dan Psikotropika.
BAB III

: PEMBAHASAN .

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

A.

Waktu, Tempat dan Teknis


Pelaksanaan

B.

Sejarah Apotik Indah farma


Bangkalan..

C.

Tujuan Pendirian Apotik Indah Farma


Bangkalan..

D.

Struktur organisasi Apotek Indah Farma


Bangkalan...................

E.

Pengelolaan
..
1.

Sumber Daya Manusia (SDM)


..

2.

Sarana dan Prasarana

3.

Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan


Kesehatan Lainnya
a. Perencanaan..
b. Pengadaan .
c. Penyimpanan..
d. Administrasi
e. Keuangan

F.

1)

Pemasukan

2)

Pengeluaran...
Pelayanan

G.

Evaluasi Mutu
Pelayanan..

BAB IV

: KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

LAMPIRAN-LAMPIRAN.
1. Lampiran 1

: Denah lokasi apotek indah Farma bangkalan

2. Lampiran 2

: Denah Bangunan (Lay out) apotek indah farma bangkalan

3. Lampiran 3

:Contoh Etiket yang digunakan di apotek indahfarma bangkalan

4. Lampiran 4

: Contoh Surat Pesanan Obat

5. Lampiran 5

: Contoh Surat Pesanan Psikotropika

6. Lampiran 6

: Contoh Surat Pesanan Narkotika

7. Lampiran 7

: Contoh Apograph

8. Lampiran 8

: Contoh Kwitansi

9. Lampiran 9

: Contoh Surat Pengantar Laporan Narkotika dan Psikotropika

10. Lampiran 10

: Contoh Laporan Penggunaan Narkotika

11. Lampiran 11

: Contoh Laporan Penggunaan Psikotropika

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tujuan Pendidikan Menengah Farmasi yang merupakan bagian dari tujuan
pendidikan nasional adalah mendidik tenaga-tenaga farmasi yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila dan UUD 1945, memiliki
integritas dan kepribadian, terbuka dan tanggap terhadap masalah yang dihadapi
masyarakat khususnya yang berhubungan dengan bidang kefarmasian. Menurut UU
no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona bahwa Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat
Berdasarkan tujuan di atas, maka lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Kesehatan mampu:
1. Melakukan profesinya dalam pelayanan kesehatan pada umumnya, khususnya
pelayanan kefarmasian .
2. Berperan aktif dalam mengelola pelayanan kefarmasian dengan menerapkan
prinsip administrasi, organisasi, supervisi dan evaluasi.
3. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, bersifat terbuka,
dapat menyesuaikan diri dengan perubahan iptek dan berorientasi ke masa depan
serta mampu memberikan penyuluhan kefarmasian kepada masyarakat dengan
menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
4. Membantu dalam kegiatan penelitian di bidang farmasi atau di bidang kesehatan
lainnya yang terkait.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan Yannas Husada Bangkalan sebagai


bagian tak terpisahkan dari Sistem Pendidikan Nasional juga wajib menterjemahkan
tujuan pendidikan kejuruan secara nasional menjadi tujuan pendidikan pada tingkat
kelembagaan dan/ atau sekolah.
Dalam pelaksanaan pendidikan, proses pembelajaran yang terjadi tidak terbatas di
dalam kelas saja. Pengajaran yang berlangsung pada pendidikan ini lebih ditekankan
pada pengajaran yang menerobos di luar kelas, bahkan di luar institusi pendidikan
seperti lingkungan kerja atau kehidupan masyarakat. Dalam hal ini praktek kerja
lapangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem program pengajaran
serta merupakan wadah yang tepat untuk mengaplikasikan pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang diperoleh pada Proses Belajar Mengajar (PBM). Menurut Undang
Undang RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 51
Tahun 2009 tentang Praktek kefarmasian, maka pekerjaan apoteker dan atau teknisi
kefarmasian/Asisten Apoteker meliputi, industri farmasi, (industri obat, obat
tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat kesehatan); Pedagang Besar
Farmasi, Apotek, Toko Obat, Rumah Sakit, Puskesmas, dan Instalasi Farmasi
Kabupaten.
B. TUJUAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Praktek Kerja Lapangan (PKL) bertujuan agar siswa dapat
mengaplikasikan yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan pada dunia
kerja sesuai dengan kondisi sebenarnya di tempat kerja.
Di samping itu melalui pendekatan pembelajaran ini peserta PKL diharapkan:
a. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dunia kerja yang sesungguhnya.
b. Memiliki tingkat kompetensi standart sesuai yang dipersyaratkan oleh dunia kerja.
c. Menjadi tenaga kerja yang berwawasan mutu, ekonomi, bisnis, kewirausahaan dan
produktif.
d. Dapat menyerap perkembangan teknologi dan budaya kerja untuk kepentingan
pengembangan diri.

C. MANFAAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Kerjasama antara SMK dengan Apotek dilaksanakan dalam prinsip saling


membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi untuk keuntungan bersama.
Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) akan memberi
nilai tambah atau manfaat bagi pihak-pihak yang bekerjasama, sebagai berikut:
a.

Manfaat Bagi Apotek


Penyelenggaraan PKL memberi keuntungan nyata bagi Apotek antara lain:
1. Apotek dapat mengenal kualitas peserta PKL yang belajar dan bekerja di
tempat PKL.
2. Umumnya peserta PKL telah ikut dalam proses pelayanan secara aktif
sehingga pada pengertian tertentu peserta PKL adalah tenaga kerja yang
memberi keuntungan
3. Apotek dapat memberi tugas kepada peserta PKL untuk kepentingan
pelayanan sesuai kompetensi dan kemampuan yang dimiliki.
4. Selama proses pendidikan melalui kerja lapangan, peserta PKL lebih mudah
diatur dalam hal disiplin berupa kepatuhan terhadap peraturan Apotek.
Karena itu, sikap peserta PKL dapat dibentuk sesuai dengan ciri khas kerja
di Apotek.
5. Memberi kepuasan bagi Apotek karena diakui ikut serta menentukan masa
depan anak bangsa melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL).

b.

Manfaat Bagi Sekolah


Tujuan pendidikan untuk memberi keahlian professional bagi peserta
didik lebih terjamin pencapaiannya. Terdapat kesesuaian yang lebih pas antara
program pendiddikan dengan kebutuhan lapangan kerja (sesuai dengan prinsip
Link and Match). Memberi kepuasan bagi penyelenggaraan pendidikan
sekolah karena tamatannya lebih terjamin memperoleh bekal yang bermanfaat,
baik untuk kepentingan tamatan, kepentingan dunia kerja, dan kepentingan
bangsa.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

c.

Manfaat Bagi Praktikan / Peserta PKL


Hasil belajar peserta PKL akan lebih bermakna, karena setelah tamat
akan betul-betul memiliki keahlian profesional sebagai bekal untuk
meningkatkan taraf hidupnya dan sebagai bekal untuk pengembangan dirinya
secara berkelanjutan.
Keahlian profesional yang diperoleh dapat mengangkat harga diri dan
rasa percaya diri tamatan, yang selanjutnya akan mendorong mereka untuk
meningkatkan keahlian profesionalnya pada tingkat yang lebih tinggi. Peserta
PKL akan dapat menambah wawasan yang diperoleh dari dunia kerja di
Apotek.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

BAB II
TINJAUAN UMUM APOTEK
A. KETENTUAN UMUM TENTANG APOTEK
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan
Kefarmasian Pasal 1 Ayat 13 disebutkan bahwa yang dimaksud Apotik adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Dalam
peraturan yang sama Pasal 1 Ayat 1 dijelaskan bahwa Pekerjaan Kefarmasian adalah
pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan
obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan
obat dan obat tradisional. Pada Pasal yang sama Ayat 3 dijelaskan Bahwa Tenaga
Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian dan pada ayat 6 disebutkan pula
bahwaTenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam
menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya
Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 922 Tahun 1993 Tentang Ketentuan
dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek yang diperbaharui menurut Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1332 Tahun 2002 dijelaskan tentang beberapa ketentuan umum
sebagai berikut:
Apotek : Suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
Apoteker : adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia
sebagai apoteker.
Apoteker Pengelola Apotek (APA) : yaitu Apoteker yang telah memiliki Surat
Izin Apotek (SIA).
Apoteker Pendamping: adalah Apoteker yang bekerja di Apotek disamping
APA dan atau menggantikan pada jam-jam tertentu padahari buka Apotek.
Apoteker Pengganti : adalah Apoteker yang menggantikan APAselama APA
tersebut tidak berada ditempat lebih dari 3 bulan secara terus-menerus, telah

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dan tidak bertindak sebagai APA di Apotek
lain.
Asisten Apoteker : Mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten
apoteker.
Sedangkan tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek
terdiri dari :
Juru resep : adalah petugas yang membantu pekerjaan Asisten Apoteker.
Kasir : adalah orang yang bertugas menerima uang, mencatat penerimaan dan
pengeluaran uang.
Pegawai tata usaha : adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek
dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan dan keuangan apotek
A. TUGAS DAN FUNGSI APOTIK
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian dijelaskan bahwa tugas dan fungsi apotek adalah:
1. Sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan.
2. Apotek berfungsi sebagai sarana pelayanan yang dapat dilakukan pekerjaan
kefarmasian berupa peracikan, pengubahan benuk, pencampuran dan
penyerahan obat.
3. Apotek berfungsi sebagai sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus
menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata
4. Apotek berfungsi sebagai tempat pelayanan informasi meliputi:
a. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang
diberikan baik kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun
kepada masyarakat.
b. Pelayanan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan mutu
obat serta perbekalan farmasi lainnya.
B. PERSYARATAN PENDIRIAN APOTEK
Suatu apotek baru dapat beroperasi setelah mendapat Surat Izin Apotek (SIA).
SIA adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri KesehatanRepublik Indonesia
kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerjasamadengan pemilik sarana apotek untuk
menyelenggarakan pelayanan apotek pada suatu tempat tertentu.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Menurut Kepmenkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa


persyaratan-persyaratan apotek adalah sebagai berikut:
1) Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama
dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan
tempat.
2) Perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang
merupakan milik sendiri atau milik pihak lain
3) Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan
komoditi yang lain di luar sediaan farmasi.
4) Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar
sediaan farmasi.
Persyaratan lain yang harus diperhatikan untuk mendirikan suatu apotek antara lain :
1. Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA).
Untuk memperoleh SIPA sesuai dengan PP RI No. 51 tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian, seorang Apoteker harus memiliki Surat Tanda
Registrasi Apoteker (STRA). STRA ini dapat di peroleh jika seorang apoteker
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Memiliki Ijazah Apoteker


Memiliki sertifikat kompentensi apoteker
Surat Pernyataan telah mengucapkan sumpah atau janji apoteker
Surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yangmempunyai
surat izin praktek

e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan

etika profesi. Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan


pekerjaankefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga
kefarmasian bekerja.
Setiap Tenaga Kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib
memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasianbekerja. Surat izin yang
dimaksud adalah berupa :
1. SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan
kefarmasian;
2. SIPA bagi Apoteker pendamping di fasilitas
pelayanankefarmasian
3. SIK bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian
difasilitas produksi atau fasilitas distribusi/penyaluran; atau

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

4. SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan


pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian
2. Lokasi dan Tempat,
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
922/Menkes/Per/X/1993 lokasi apotek tidak lagi ditentukan harus memiliki
jarak minimal dari apotek lain dan sarana apotek dapat didirikan pada lokasi
yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan
farmasi, namun sebaiknya harus mempertimbangkan segi penyebaran dan
pemerataan pelayanan, jumlahpenduduk, jumlah dokter, sarana pelayanan
kesehatan, lingkungan yang higienis dan faktor-faktor lainnya. Apotek berlokasi
pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh masyarakat.
Pada halaman apotek terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata
APOTEK. Apotek harus dapat dengan mudah dijangkau masyarakat dengan
kendaraan.
3. Bangunan dan Kelengkapan, Bangunan apotek harus mempunyai luas dan
memenuhi persyaratan yang cukup, serta memenuhi persyaratan teknis
sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek
serta memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi. Yang perlu
diperhatikan adalah:
a. Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari : ruang tunggu,
ruang administrasi dan ruang kerja apoteker, ruang penyimpanan
obat, ruang peracikan dan penyerahan obat, tempat pencucian obat,
kamar mandi dan toilet.
b. Bangunan apotek juga harus dilengkapi dengan : Sumber air yang
memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang baik, Alat pemadam
kebakaran yang befungsi baik, ventilasi dan sistem sanitasi yang baik
dan memenuhi syarat higienis, Papan nama yang memuat nama
apotek, nama APA, nomor SIA, alamat apotek, nomor telepon
apotek.
a.

Apotek harus memiliki perlengkapan, antara lain:


Alat pembuangan, pengolahan dan peracikan seperti
timbangan,

mortir, gelas ukur dll. Perlengkapan dan alat

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

penyimpanan,danperbekalan farmasi, seperti lemari obat dan


lemari pendingin. Wadah pengemas dan pembungkus, etiket
dan plastik pengemas. Tempat penyimpanan khusus
narkotika, psikotropika dan bahan beracun.
c. Apotek harus memiliki buku-buku standar farmasi antara lain:
Farmakope Indonesia, ISO, MIMS, DPHO, serta kumpulan peraturan
perundang-undangan yang berhubungan dengan apotek.
d. Apotek harus memiliki perlengkapan administrasi, seperti blanko
pesanan obat, faktur, kwitansi, salinan resep dan lain-lain.
4. Apoteker Pengelola Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.922/Menkes/Per/X/1993 tentang
ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek pada pasal 1 dijelaskan bahwa
APA adalah seorang apoteker yang telah diberikan Surat Izin Apotek (SIA).
Apoteker Pengelola Apotek (APA) berkewajiban menyediakan dan
memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu
berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam
situasi multidisipliner, kemampuan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM)
secara efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi
pendidikan serta memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.
Selain harus memiliki Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA), persyaratan lain
yang harus dipenuhi untuk menjadi apoteker pengelola apotek adalah:
a. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan
tugasnya sebagai Apoteker
b. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi APA
diapotek lain.Seorang APA bertanggung jawab terhadap kelangsungan
hidup apotek yang dipimpinnya, juga bertanggung jawab kepada
pemilik modal jika bekerja sama dengan pemilik sarana apotek. Fungsi
dan tugas apoteker di Apotek adalah sebagai berikut:
Membuat visi dan misi apotek
Membuat tujuan, strategi dan program kerja
Membuat dan menetapkan peraturan atau SOP pada setiap
fungsi kegiatan apotek

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Membuat dan menentukan indikator form record pada setiap


fungsi kegiatan apotek

Membuat sistem pengawasan dan pengendalian SOP dan


program kerja pada setiap fungsi di apotek.

Sedangkan wewenang dan tanggung jawab apoteker di apotek adalah:

Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan


Menentukan sistem atau peraturan yang akan digunakan
Mengawasi pelaksanaan SOP dan program kerja
Bertanggung jawab terhadap kinerja yang diperoleh.

Sedangkan Pengelolaan apotek oleh APA ada dua bentuk, yaitu


pengelolaan bisnis (non teknis kefarmasian) dan pengelolaan di bidang
pelayanan (teknis kefarmasian), maka untuk dapat melaksanakan
tugasnya dengan sukses seorang APA harus melakukan kegiatan sebagai
berikut :

Memastikan bahwa jumlah dan jenis produk yang dibutuhkan

senantiasa tersedia dan diserahkan kepada yang membutuhkan.


Menata apotek sedemikian rupa sehingga berkesan bahwa
apotek menyediakan berbagai obat dan perbekalan kesehatan

lain secara lengkap.


Menetapkan harga jual produknya dengan harga bersaing.
Mempromosikan usaha apoteknya melalui berbagai upaya.
Mengelola apotek sedemikian rupa sehingga memberikan

keuntungan.
Mengupayakan agar pelayanan di apotek dapat
berkembangdengancepat, nyaman dan ekonomis.

C. PROSEDUR PERIZINAN APOTEK


Untuk mendapatkan izin apotek, APA atau apoteker pengelola apotek
yang bekerjasama dengan pemilik sarana harus siap dengan tempat, perlengkapan,
termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya. Surat izin apotek (SIA) adalah surat
yang diberikan Menteri Kesehatan RI kepada apoteker atau apoteker bekerjasama
dengan pemilik sarana untuk membuka apotek di suatu tempat tertentu. Wewenang
pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan
pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin
L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

apotek sekali setahun kepada Menteri Kesehatan dan tembusan disampaikan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.
Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yaitu:
1) Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
2) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari setelah
menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM
untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan
kegiatan.
3) Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6
hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan.
4) Dalam hal pemerikasaan dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan, apoteker
pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala
Kantor Dinas Kesehatan setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.
5) Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana ayat
(3) atau persyaratan ayat (4), Kepala Dinas Kesehatan setempat mengeluarkan surat
izin apotek.
6) Dalam hasil pemerikasaan tim Dinas Kesehatan setempat atau Kepala Balai POM
dimaksud (3) masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan setempat dalam
waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat penundaan.
7) Terhadap surat penundaan sesuai dengan ayat (6), apoteker diberikan kesempatan
untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu
satu bulan sejak tanggal surat penundaan.
8) Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan sesuai pasal (5)
dan atau pasal (6), atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala
Dinas Kesehatan setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja
wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasan-alasannya.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

D. PENCABUTAN IZIN APOTEK


Setiap apotek harus berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku Sesuai dengan Keputusan Menteri KesehatanRI
No.1332/Menkes/SK/X/2002, Kepala Dinas Kesehatan dapat mencabut surat izin
apotek apabila (5) :
a. Apoteker yang sudah tidak memenuhi ketentuan atau persyaratan sebagai
apoteker pengelola apotek .
b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dalam menyediakan, menyimpan dan
menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin
keabsahannya serta tidak memenuhi kewajiban dalam memusnahkan
perbekalan farmasi yang tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan dan
mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten.
c. Apoteker pengelola apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari2 tahun
secara terus-menerus.
d. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan
mengenai narkotika, obat keras, psikotropika serta ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
e. Surat izin kerja apoteker pengelola apotek dicabut.
f. Pemilik sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan
di bidang obat
g. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai apotek.
Pelaksanaan pencabutan izin apotek dapat dilaksanakan setelah dikeluarkannya:
a. Peringatan tertulis kepada apoteker pengelola apotek sebanyak 3 kali berturutturut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan.
b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulansejak
dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan di apotek. Pembekuan izin
apotek dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal ini
dilakukan setelah Kepala Balai POM setempat melakukan pemeriksaan.
Keputusan pencabutan surat izin apotek dilakukan oleh KepalaDinas
Kesehatan atau Kota disampaikan langsung kepada apoteker pengelola apotek
dengan menggunakan contoh formulir model APT-15, tembusan kepada
Menteri dan kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat serta Kepala Balai
Pemeriksaan Obat dan makanan setempat. Apabila surat izin apotek dicabut,
apoteker pengelola apotek atau apoteker pengganti wajib mengamankan

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

perbekalan farmasinya. Pengamanan tersebut dilakukan dengan tata cara


sebagai berikut:
1) Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, oba tkeras
tertentu dan obat lainnya dan seluruh resep yang tersisa di apotek
2) Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang
tertutup dan terkunci
3) Apoteker pengelola apotek wajib melaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten atau Kota atau petugas yang diberi wewenang tentang penghentian
kegiatan disertai laporan inventaris yang dimaksud di atas.
E. PENGELOLAAN SUMBER DAYA APOTEK
1. Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola
oleh seorang apoteker yang profesional.
Dalam pengelolaan apotek, apoteker senantiasa harus memiliki kemampuan
menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan
yang tepat, mampu berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai
pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara
efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi pendidikan dan
memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.
Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh Apotek setdak-tidaknya adalah
Pemilik Sarana Apotek (PSA), Apoteker Pengelola Apotek (APA), Asisten
Apoteker, Juru Resep, Tenaga Tata Usaha.
Pengelolaan sumber daya manusia dalam system pengelolaan apotek
dikategorikan sebagai pengelolaan non teknis. Pengelolaan non teknis lainnya
yang juga penting adalah meliputi semua kegiatan administrasi, keuangan,
personalia dan upaya upaya peningkatan kompetensinya.
2. Pengelolaan Sedian Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Lainnya.
Pengelolaan jenis ini dalam system pengelolaan apotek dikategorikan
sebagai pengelolaan teknis. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
No.1332/Menkes /SK/2002,Bab VI pasal 10, di bidang kefarmasian
pengelolaan apotek meliputi:
a. Pembuatan, pengelolaan, peracikan, perubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi


lainnya.
c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi yang meliputi:
Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi
lainnya yang diberikan baik kepada dokter atau tenaga kesehatan

lain maupun kepada masyarakat


Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat
,keamanan, bahaya, mutu obat dan perbekalan farmasi lainnya

Secara Umum Pengelolaan Sedian Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Lainnya


ini meliputi pekerjaan sebagai berikut:
a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi
perludiperhatikan pola penyakit dan kemampuan dan budaya
masyarakat
b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasiaan maka pengadaan
sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
c. Penyimpanan
Obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan
pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan
harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru, wadah sekurangkurangnya memuat nomor bets dan tanggal kadaluarsa. Semua bahan
obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin
kestabilan bahan.
d. Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu
dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi:
1. Administrasi Umum meliputi: pencatatan, pengarsipan, pelaporan
narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

2. Administrasi Pelayanan meliputi: pengarsipan resep, pengarsipan


catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring
penggunaan obat
e. Keuangan
Dalam keuangan di Apotek ada beberapa hal yang mempengaruhi
keuangan, yakni seperti:
Penerimaan: berupa pekerjaan yang dilakukan diapotek
sehingga menghasilkan pendapatan di Apotek, kegiatan
tersebur berupa: pelayan resep dan pelayanan non
resep.Sumber pendapatan secara umum diperoleh dari
hasil penjualan, dan modal dari apotek.
Pengeluaran: dalam apotek terdapat beberapa pengeluaran
seperti biaya rutin dari apotek. Biaya rutin yakni seperti: gaji
karyawan, listrik, telepon dan air.
F. PELAYANAN DI APOTEK
Pelayanan dapat diartikan sebagai kegiatan atau keuntungan yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat tidak
kasat mata dan tidak berujung pada kepemilikan. Dengan semakin meningkatnya
persaingan pasar banyak perusahaan mengembangkan strategi jitu dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan, salah satunya adalah dengan memberikan
pelayanan prima yaitu jika perlakuan yang diterima oleh pelanggan lebih baik daripada
yang diharapkan, maka hal tersebut dianggap merupakan pelayanan yang bermutu
tinggi. Supaya pelayanan prima dapat selalu diwujudkan suatu perusahaan dalam
hal ini adalah apotek, maka perlu ditetapkan standar pelayanan farmasi di
apotek.Tujuan dari standar pelayanan ini adalah:
1. Melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak professional
2. Melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar
3. Pedoman dalam pengawasan praktek apoteker
4. Pembinaan serta meningkatkan mutu pelayanan farmasi di apotek .
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNo.1027/Menkes/SK /
2004 pelayanan kesehatan di apotek meliputi :
1.Pelayanan Resep/Pesanan dokter
1. Skrining resep, Apoteker dibantu oleh asisten apoteker melakukan skrining
resep meliputi:

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

a) Persyaratan administratif, seperti : nama, SIK, dan alamat dokter; tanggal


penulisan resep, nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan
pasien; nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian
serta informasi lainnya.
b) Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi,stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
c) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian
(dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). Jika ada keraguan terhadap resep
hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan
memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu
menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
2.Penyiapan obat
a) Peracikan. Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang,
mencampurmengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam
melaksanakanperacikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan
memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang
benar.
b) Etiket. Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
c) Kemasan Obat yang Diserahkan.Obat hendaknya dikemas dengan
rapidalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.
d) Penyerahan Obat. Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan
pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep .
Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat
dan konseling kepada pasien.
e) Apoteker harus memenuhi informasi yang benar, jelas danmudah
dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana danterkini. Informasi obat
pada pasien sekurang-kurangnyameliputi : cara pemakaian obat, cara
penyimpanan obat, jangkawaktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan
minuman yangharus dihindari selama terapi.
f) Apoteker harus memberikan konseling kepada pasien sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien. Konseling terutama ditujukan untuk
pasien penyakit kronis (hipertensi, diabetes melitus, TBC, asma dan lainlain)
g) Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan
pemantauan penggunaan obat.
i. Informasi Obat. Apoteker harus memberikan informasi yang benar,
jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi:


cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu
pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus
ii.

dihindari selama terapi.


Konseling Apoteker harus memberikan konseling, mengenai
sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan
lainnya,sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang
bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau
penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit tertentu
seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis

iii.

lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.


Monitoring Penggunaan Obat. Setelah penyerahan obat kepada
pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat,
terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes,
TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.

2.Promosi dan Edukasi

Dalam rangka pemberdayaan masyarakat,apoteker harus memberikan


edukasi apabilamasyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk
penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus
berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut
membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet / brosur
, poster, penyuluhan, dan lain lainnya.
3.Pelayanan Residensial (Home Care)
Salah satu bentuk pengawalan proses pengobatan pada pasien dari awal sampai
sembuh dengan cara:
1)

2)

Melakukan kontak kepada pasien tentang:


Bagaimana keadaan penyakit yang diderita selama pengobatan.
Melakukan pemantauan terhadap tingkat kepatuhan pasien dalam
mengkonsumsi obat.
Dalam memberikan motivasi-motivasi untuk menumbuhkan kesadaran
hidup sehat (Healthy Habit).
Kunjungan rumah, meliputi:
Bagaimana keadaan penyakit yang diderita selama pengobatan.
Melakukan pemantauan terhadap tingkat kepatuhan pasien dalam
mengkonsumsi obat.
Dalam memberikan motivasi-motivasi untuk menumbuhkan kesadaran

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

hidup sehat (Healthy Habit).


4.Pelayanan Obat Tanpa resep
Pelayanan ini seperti pelayanan obat bebas, obat bebas terbatas Pelayanan
terhadap ini lebih sederhana dibandingkan dengan pelayanan terhadap resep
dokter.Petugas dapat langsung mengambilkan obat yangdiminta oleh konsumen
setelah harga disetujui, kemudian langsung dibayar padakasir dan dicatat pada
buku penjualan bebas oleh kasir. Pada saat pergantian shift, kasir akan
menghitung jumlah uang yang masuk dan diserahterimakan dengan petugas
berikutnya.
5.Pelayanan Narkotika dan psikoropika
Sesuai dengan Undang - Undang kesehatan No. 36 tahun 2009, pada pasal Pasal
102(1) yang menyebutkan bahwa Penggunaan sediaan farmasi yang berupa
narkotika dan psikotropika hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dokter atau
dokter gigi dan dilarang untuk di salahgunakan. Maka dari itu, pada peraturan
perundang-undangan No.35 tahun 2009 tentang narkotika, pengelolaan obat
narkotika memerlukan penanganankhusus,dimana narkotika hanya dapat
digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatandan/atau pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi karena obatnarkotika ini dapat menimbulkan
ketergantungan apabila digunakan tanpa pembatasandan pengawasan yang
seksama. Dalam menghindari penyalahgunaan obat - obatan ini, maka Pemerintah
melakukan pengawasan yang ketat terhadap obat golongan narkotika mulai dari
pemesanan sampai dengan pemakaiannya dan Apoteker Pengelola Apotek di
haruskan membuat laporan pemakaian dan pemusnahan narkotika ini.
a.Pemesanan Narkotika
Pemesanan obat golongan narkotika dilakukan dengan Surat Pesanan Khusus
dan harus di tanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek dengan
mencantumkan nama jelas,nomor SIK, serta stempel apotek. Surat pesanan ini
di buat rangkap 4 (3 lembar untuk panyalur dan 1 lembar untuk arsip apotek).
Narkotika hanya dapatdisalurkan oleh Industri Farmasi dan pedagang besar
farmasi yang telah memiliki izin khusus penyaluran Narkotika dari Menteri
b.Penerimaan Narkotika:
Dalam penerimaannya, obat narkotika harus dilakukan oleh APA. Bila
berhalangandapat dilakukan oleh asisten apoteker melalui surat kuasa untuk
penerimaan obatnarkotika. Bukti penerimaan narkotika dan OKT harus juga
ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIK dan stempel
apotek.
c. Penyimpanan Narkotika

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Menurut Pernenkes no.28/Menkes/Per/I/1978 diatur bahwa apotek harus


mempunyai lemari khusus untuk penyimpanan obat-obat golongan narkotika
dengan persyaratan sebagai berikut:
i. Tempat tersebut seluruhnya terbuat dari kayu atau bahan lain serta
mempunyai kunci yang kuat.
ii. Tempat penyimpanan tersebut dibagi dua, dan diberi kunci yang
berlainan pula. Bagian pertama untuk menyimpan morphine, pethidine
dan garam-garamnya serta sediaan lainnya.Sementara itu bagian kedua
digunakan untuk menyimpan persediaan narkotika sehari-hari.
iii. Lemari tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpan bahan-bahan
lain dan harus diletakkan di tempat aman serta tidak terlihat oleh umum.
Kunci dari tempat tersebut harus dipegang oleh satu orang.Apabila
tempat tersebut berupa lemari yang berukuran kurang dari 40 x 100 cm,
maka harus dibuat pada tembok atau lantai.
d. Penjualan Narkotika
Obat narkotika hanya boleh diserahkan dengan resep dokter dan tidak boleh
diulang hanya berdasarkan salinan resep saja. Apabila resep itu hanya di tebus
sebagian, maka sebagian lagi juga harus ditebus pada apotek yang sama.
Dalam resep pada peracikannya, obat narkotika digaris bawahi dengan tinta
merah. Dicatat dalam pemakaian narkotika dengan mencantumkan tanggal
penyerahan, nomor resep, nama dan alamat pasien, nama dan alamat dokter,
serta jumlah obat narkotika yang diminta.

BAB III
PEMBAHASAN
A. WAKTU, TEMPAT DAN TEKNIS PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada tanggal 20 Januari

sampai dengan tanggal 15 Februari 2014.


Praktek Kerja Lapangan (PKL) bertempat di Apotek Indah Farma Bangkalan
yang beralamat di Jl.. Panglima sudirman No 64 Bangkalan. Nomor telepon 031-

3095296.
Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek Indah Farma ini dilakukan secara
kelompok sebanyak 6 orang yang terdiri dari: Amilda Oktaviani,Asniyah,Alvira
Kusuma Wardani,Duwi Agustini,Ravieqatul Majidah dan Siti Aisyah.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Kelompok ini dibagi menjadi dua sif yaitu, sif 1 terdiri Alvira Kusuma Wardani,

Duwi Agustini dan Ravieqatul Majidah. Sif 2 terdiri dari Amilda


Oktaviani,Asniyah dan Siti Aisyah.Pembagian sif adalah sif pagi yang waktu
prakteknya dilaksanakan mulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 14.00 dan sif
siang yang waktu prakteknya dilaksanakan mulai pukul 16.30 sampai dengan
pukul 21.00.
Kedua kelompok sif ini pernah mengalami sif pagi dan sif siang. Masing-masing
selama 1 minggu. Sementara tanggal 15 Februari sebagai akhir dari pelaksanaan
PKL di Apotek Indah Farma semua kelompok sif masuk pagi untuk melakukan
koordinasi dan evaluasi pelaksanaan PKL selama 1 bulan.
B. SEJARAH APOTEK INDAH FARMA
Apotek Indah Farma Bangkalan di Jl. Panglima Sudirman No 64 Bangkalan
didirikan pada tahun 1995 oleh Ibu Taty Surjani, beliau mendirikan apotek tersebut
karena beliu berprofesi sebagai Asisten apoteker dan sebagai pemilik saham Apotek.
indah farma bekerja sama dengan seorang Apoteker sebagai Apoteker pengelola
apotek, dimana izin apotek diberikan oleh mentri kesehatan kedapa apoteker yang
bekerja dengan pemilik sarana apotek. Apotek Indah Farma melaksanakan tugas
sebagai sarana farmasi yang melaksanakan penjualan obat, peracikan, pencampuran,
dan penyerahan obat kepada pasien

Nama APA

: Titik Kurniawati S.Farm.,Apt

SIPA

: 19870708/SIPA-35.26/2012/2020

SIA

: 445 / 17.SIA / REGDIT / II / 2013

Nama PSA

: Taty Surjani

Alamat Apotek

: Jl. Panglima sudirman 64 Bangkalan

C. TUJUAN PENDIRIAN APOTEK INDAH FARMA


Apotek Indah Farma Bangkalan didirikan dengan tujuan:
1. Menciptakan citra yang positif dimata pasien sehingga menimbulkan rasa
percaya terhadap apotek yakni menebus resep atau membeli obat di apotek.
2. Dalam rangka ikut mendukung program pemerintah di bidang kesehatan,
khususnya menjamin ketersediaan obat yang baik dan bermutu.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

3. Dalam rangka mendekatkan pelayanan sediaan farmasi dan perbekalan


kesehatan lainnya pada masyarakat.
4. Memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat pengguna layanan dalam
menjamin kepuasan layanan.
5. Memenuhi kebutuhan masyarakat dan memberikan informasi sejelas-jelasnya.
D. STRUKTUR ORGANISASI APOTEK INDAH FARMA
Apotek Indah Farma Bangkalan sebagai institusi pelayanan kesehatan bidang
kefarmasian berada dibawah bimbingan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten. Sebagai
institusi pelayanan farmasi, Apotek Indah Farma dipimpin dan dikelola oleh seorang
apoteker dan dibantu oleh satu orang tenaga teknis kefarmasian atau asisten apoteker. Di
bawah bimbingan langsung apoteker adalah asisiten apoteker, juru resep, kasir, tenaga
administrasi dan bagian gudang. Kewajiban apotek kepada Dinas Kesehatan Kabupaten
adalah memberikan laporan secara berkala semua kegiatan yang berlangsung di apotek
khususnya laporan penggunaan obat golongan narkotika dan psikotropika yang harus
dilaporkan setiap bulan.
Secara skematis struktur organisasi Apotek Indah Farma Bangkalan dapat digambarkan
sebagai berikut:

STRUKTUR ORGANISASI APOTEK INDAH FARMA

PEMILIK SAHAM
APOTEK

APOTEKER
PENGELOLA
APOTEK

ASISTEN
APOTEKER

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

BAGIAN
PENJUALAN

BAGIAN
JURU RACIK

BAGIAN
ADMINISTRASI

BAGIAN
GUDANG

E. PENGELOLAAN
1. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola oleh
seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, apoteker
senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan
yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu berkomunikasi antar profesi,
menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan
mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu
memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.
pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.
Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh Apotek setdak-tidaknya adalah
Pemilik Sarana Apotek (PSA), Apoteker Pengelola Apotek (APA), Asisten
Apoteker, Juru Resep, Tenaga Tata Usaha.
Di apotek Indah Farma terdapat beberapa personalia yang mempunyai tugas
dan wewenang yang berbeda sesuai dengan posisi dalam struktur organisasi
apotek seperti:
Pemilik Sarana Apotek (PSA)

: Taty Surjani.

Apoteker Pengelola Apotek

: Titik Kurniawati S.Farm.,Apt

Asisten Apoteker

: Taty Surjani.

Juru Resep

: Siti Juhairiyah dan Ida Rusmiati

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Kasir

: Lusiana

Bagian Administrasi

: Lisa Lidiana dan Nindy Yunita Saleh

Bagian Gudang Obat

: Trisna Wardani dan Sri Wulandari

2. Sarana dan Prasarana


Sarana : Gedung dengan ukuran kira-kira 7m9m terdiri dari beberapa
ruangan dan komponen-komponennya, seperti :
Tempat parkir, yang terletak dibagian depan pada Apotek Indah Farma.
Tempatnya cukup luas untuk menampung beberapa kendaraan dari
pengunjung yang datang ke Apotek.
Ruang tunggu, berada pada sisi samping dari tempat pengambilan obat
yang terletak dibagian depan pada Apotek Indah Farma. Terdapat
beberapa tempat duduk yang disediakan dari Apotek untuk
Pengunujung/konsumen agar dapat menunggu obat yang dibeli/resep
yang akan ditebus.
Etalase, Bagian depan pada Apotek Indah Farma terdapat dua etalase.
Etalase depan dan etalase belakang. Etalase depan yang berisi obat-obat
bebas seperti obat batuk, obat sakit kepala, dan obat demam.Etalase
kedua bagian belakang terdapat susu, madu, obat kumur, dan obat
herbal. Dan dibawah masing-masing etalase tersebut terdapat beberapa
laci, yang dimana etalase bagian depan ada 4 laci. Satu laci sebagai
gudang kecil untuk menyimpan sediaan obat bebas yang dipajang pada
etalase, dan dua laci untuk menyimpan plastik dan tempat bungkus obat
yang dibeli oleh pasien, sedangkan satu laci lagi untuk menyimpan
uang.Dan dibagian bawah laci tempat untuk menyimpan Alat Kesehatan
dan minyak-minyak. Etalase bagian belakang ada empat laci juga, yang
dimana digunakan untuk obat-obat golongan salep dan obat mata.
Dibawah laci tempat untuk menyimapan Perbekalan Kesehatan Rumah
Tangga (PKRT) seperti perban, kassa, alkohol, plester, dan bedak.
Bagian tengah terdapat kursi dan meja yang berfungsi untuk menyimpan
buku-buku dan stok-stok, seperti stok obat pada etalase, buku laporan
Narkotika dan Psikotropika, dan buku jurnal. Pada etalase bagian
belakang meja tempat untuk menyimpan syrup yang diamana terdapat
sisi kanan dan kiri. Sisi kanan untuk syrup golongan antibiotik seperti
obat kering (dry syrup). Sedangkan disisi kiri syrup golongan bebas
seperti syrup batuk, demam dan suplemen makanan.
L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Ruang peracikan, terdapat dibagian belakang yang digunakan sebagai


tempat untuk melakasanakan prosedur pelayanan resep seperti meracik,
menyiapkan sediaan, serta mengemas sediaan dari resep. Dibagian atas
dan bawah dari meja racik terdapat tempat yang digunakan sebagai
gudang kecil untuk menyimpan obat golongan obat keras. Disana juga
terdapat kulkas juga untuk menyimpan sediaan yang tidak tahan oleh
pengaruh cahaya matahari seperti suppositoria.
Toilet, ruangan ini berada di belakang Apotek. Bersebelahan dengan
musholla juga.

Prasarana
Bahan : Semua macam obat-obatan, bahan baku obat, bahan tambahan
(Sacchorite), bahan pelarut (Air, alkohol, sirupus), Cangkang kapsul.
Alat : Peralatan peracikan (seperti: Mortir dan stamper, timbangan,

Gelas ukur), gunting, steples, kalkulator.


3. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Lainnya
a. Perencanaan :
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu
diperhatikan pola penyakit dan kemampuan dan budaya masyarakat. Terkait
dengan pertimbangan tersebut maka obat-obat yang sering masuk dalam
perencanaan adalah yang terkait dengan penyakit tertentu (misalnya
diabetes, infeksi saluran pernafasan), dan contoh obat yang diagendakan
dalam perencanaan adalah Amoxicillin, cerini, Amadiab, dll.
Perencanaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan biasanya
dilakukan oleh Apoteker.Salah satu dokumen perencanaan yang ada di
Apotek adalah buku catatan obat yang sudah habis/ mau habis yang disebut
buku defekta.
Contoh pekerjaan perencanaan, berupa pencatatan obat habis yang
dilakukan :
1) Tanggal 22 Januari 2014; Isprinol syrup,Lameson 16.
2) Tanggal 28 Januari 2014;, Apialys syirup, Librax.
3) Tanggal 29 Januari 2014; Sanmag , Diabex, Tremenza.
4) Tanggal 11 Februari 2014; Imunos, Lasal 4,Batugin .
5) Tanggal 13 Februari 2014; Apialys drop, Cerini, codipront.
b. Pengadaan :
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasiaan maka pengadaan
sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Manjemen Pengadaan diapotek indah farma didahului oleh Pemesanan


obat dengan Surat Pesanan Resmi sesuai dengan golongannya. Ada 3 model
Surat Pesanan yang ada di Apotek Indah farma, yaitu:
1) SP untuk pemesanan Obat Bebas, Bebas Terbatas dan Obat Keras.
2) SP untuk Pemesanan Obat golongan Psikotropika.
3) SP Khusus untuk Pemesanan Obat golongan Narkotika.
Untuk memenuhi jaminan kualitas Pelayanan kefarmasian, maka apotik
Indah Farma melakukan pengadaan melalui distributor resmi seperti: PT.
Bina San Prima, PT. Kimia Farma, PT. Kallista Alba, dan lain-lain.
Contoh Pekerjaan Pengadaan yang dilakukan selama praktek adalah pada:
1) Tanggal 29 Januari 2014;Dalfarol 400, Comtusi syrup, Tiriz drop.
2) Tanggal 30 Januari 2014; paramex, lasal 4, Asam mefenamat.
3) Tanggal 30 Januari 2014; Cataflam, OBH Herbal,Proris syrup
4) Tanggal 30 Januari 2014; Scott emulsion, Cefilla 100, Lasal.
5)Tanggal 05 Februari 2014; Clanexi , pimtrakol syrup.
c. Penyimpanan :
Obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah
lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi
yang jelas pada wadah baru, wadah sekurang-kurangnya memuat nomor
batch dan tanggal kadaluarsa. Semua bahan obat harus di simpan pada
kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan bahan.
Penyimpanan sediaan farmasi yang dilakukan di apotek Indah Farma, di sesuaikan
golongan dan bentuk sediaan. Seperti:
1) Antibiotika oral disimpan dalam rak obat khusus golongan antibiotika
berdasarkan alfabetis pada suhu kamar.
2) Syrup disimpan pada rak syrup sesuai dengan suhu kamar.
3) Suppositoria disimpan pada suhu sejuk yaitu pada lemari es.
4) Vaksin dan serum disimpan pada suhu dingin.
5) Sediaan injeksi disimpan pada suhu dingin.
6) Alkes disimpan pada suhu kamar.
d. Administrasi :
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, Apotek Indah
Farma perlu melaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi:
1. Administrasi Umum meliputi: pencatatan, pengarsipan, pelaporan
narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Berikut beberapa kegiatan yang telah dilakukan di Apotek Indah


Farma mengenai pencatatan dan pelaporan:
Pada tanggal 30 Januari 2014 sempat melakukan pencatatan
mengenai pelaporan yakni laporan Narkotika dan Psikotropika.
Pada tanggal 05 Februari 2014 melakukan pencatatan pada kartu
stok mengenai obat yang diterima dari PBF sesuai dengan faktur
2. Administrasi Pelayanan meliputi: pengarsipan resep, pengarsipan
catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan
obat.
Pelaksanaan administrasi pada sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
seperti melakukan administrasi dokumen. Dalam melaksanakan
administrasi dokumen terhadap sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
perlu dilakukan pengelompokan faktur pembelian dan resep dan
menyiapkan, mengisi dan menyimpan kartu stok pada obat. Contoh
kegiatan dalam menstok obat:
Pada tanggal 28 Januari 2014 melakukan penyetokan obat pada

buku stok obat yang ada di stok etalase.


e. Keuangan :
Dalam keuangan di Apotek Indah Farma dilakukan noleh bagian
Administrasi keuangan, beberapa tugas yang dilakukan seperti menghitung/
kalkulasi biaya obat dan resep. Ada dua komponen dalam keuangan yakni :
1) Pemasukan,
biaya keuangan dari beberapa obat dan resep yang diterima dari
pasien/konsumen dapat dikatakan pemasukan dalam keuangan di
Apotek, pemasukan setiap hari bertambah dan menjadi kas bagi
Apotek.
Pendapatan di Apotek Indah Farma per hari selama 2 shift, yakni shift
Pagi dan shift Siang berbeda.
Jika shift Pagi pendapatan bisa didapat sejumlah Rp. 3.500.000,hingga Rp. 4.000.000,-. Sedangkan pada shift Siang pendapatan
diperoleh sebanyak Rp. 6.500.000,-.
Pendapatan pada shift pagi dan shift siang berbeda dikarenakan pada
pagi hari konsumen sedikit karena masih banyak yang beraktifitas.
sehingga banyak pelanggan datang pada sore hari dan malam hari
karena itulah pendapatan diperoleh lebih banyak daripada shift pagi.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Dapat dikatakan pendapatan perbulan yang didapat oleh Apotek Indah


Farma sebanyak Rp. 350.000.000,Sehingga laba dapat diperoleh dari pemasukan keuangan dari
pasien/konsumen di apotek.
2) Pengeluaran
Pengeluaran dapat terjadi dari beberapa transaksi di Apotek
seperti Gaji karyawan, Listrik, Telepon, Air, Pajak, dan pembayaran
terhadap

distributor. Rata-rata pengeluaran setiap bulan yang

dilakukan oleh Apotek Indah Farma dari beberapa kegiatan yang


diuraikan diatas yakni sejumlah Rp. 9.000.000,F. Pelayanan
Berbagai kegiatan bidang pelayanan dilakukan di Apotek Indah Farma, seperti :
Pelayanan obat bebas, bebas terbatas dan perbekalan kesehatan (Non resep).
Melaksanakan pelayanan sediaan farmasi sesuai permintaan dari dokter/resep.
Beberapa pekerjaan yang termasuk dalam aspek pelayanan dilakukan sebagaimana
uraian dibawah ini :
1) Hari Kamis, 17 Januari 2014 yakni melaksanakan peracikan sediaan farmasi sesuai
permintaan dokter.
Salah satu resep yang saya lakukan pada hari itu adalah:

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

Sesuai dengan prosedur tetap dalam


pelayanan melaksanakan peracikan
adalah sebagai berikut:
1) Menerima resep dari
pasien
2) Melakukan skrining resep,
meliputi:
Skrining
Administratif
Skrining Farmasetik
Skrining Kesesuaian
Klinis
Dalam hal skrining
administratif resep yang
diterima sudah lengkap,
sebagaiamana pada tabel I,
yakni:
Tabel I : Skrining Kesesuaian
Adinistratif
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Keterangan:

Komponen Administratif
Nama dokter
Tanggal penulisan resep
Paraf/tanda tangan dokter
Nama pasien
Umur pasien
Berat badan pasien
Alamat pasien
Nomor telepon pasien
() Berarti ada/ lengkap

Keterangan

(-) Berarti tidak ada


Dalam hal skrining farmasetis resep diatas, setelah dilakukan pengamatan/ pemeriksaan
ternyata lengkap sebagaimana tertuang dalam tabel II, yakni:
Tabel II : Skrining Kesesuaian Farmasetis
No.
1.
2.

Komponen Farmasetis
Bentuk sediaan
Dosis sediaan

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

Keterangan
sesuai
sesuai
10

3.
4.
5.
6.

Potensi obat
Stabilitas
Cara dan lama pemberian
Waktu pemberian

sesuai
sesuai
sesuai
sesuai

Keterangan: - Romilar
o Bentuk sediaan: bentuk sediaan dari romilar adalah bentuk tablet.
o Dosis sediaan: dosis romilar 15 mg merupakan dosis maksimum untuk anak-anak
diatas 12 tahun .
o Potensi obat: romilar adalah obat antitusif non-opiat sintetik yang bekerja pada
saraf pusat batuk dengan jalan meningkatkan ambang reflex batuk.
o Stabilitas: Romilar stabil dalam penyimpanan suhu kamar (25-30)C, kering dan
tertutup rapat.
o Cara dan lama pemberian: diberikan dengan cara pemakaian oral atau diminum
3x sehari selama 7 hari.
o Waktu dan pemberian: Sesudah makan
- Codein 20
o Bentuk sediaan: bentuk sediaan dari Codein 20 mg adalah bentuk tablet.
o Dosis sediaan: dosis Codein 20 mg merupakan dosis untuk orang dewasa dan
anak.
o Potensi obat: Codein adalah salah satu obat jenis narkotika yang berkhasiat/
berpotensi untuk batuk.
o Stabilitas: Codein 20 mg stabil dalam penyimpanan suhu kamar (25-30)C, kering
dan tertutup rapat.
o Cara dan lama pemberian: diberikan dengan cara pemakaian oral atau diminum
3x sehari.
o Waktu dan pemberian: sesudah makan.
- Interhistin
o Bentuk sediaan: bentuk sediaan dari interhistin adalah bentuk tablet.
o Dosis sediaan: dosis interhistin 50mg merupakan dosis untuk orang dewasa dan
anak.
o Potensi obat: interhistin adalah obat golongan antialergi dan antihistamin.
o Stabilitas: Interhistin stabil dalam penyimpanan suhu kamar (25-30)C, kering
dan tertutup rapat.
o Cara dan lama pemberian: diberikan dengan cara pemakaian oral atau diminum
3x sehari.
o Waktu dan pemberian: sesudah makan.
o Cara dan lama pemberian: diberikan dengan cara pemakaian oral atau diminum

3x sehari hingga habis.


- Cefila 50
Bentuk sediaan : bentuk sediaan cefila adalah kapsul .

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

o Dosis sediaan : dosis sediaan cefila 50mg


o Potensi obat :
o Waktu dan pemberian: sesudah makan
Dalam hal skrining kesesuaian klinis maka perlu dilakukan tinjauan terhadap beberapa
hal dibawah ini:
Tabel III. Skrining kesesuaian klinis
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kesesuaian klinis
Adanya alergi
Efek samping obat
Interaksi obat
Inkompatibilitas
Kesesuian dosis
Kesesuaian jumlah obat
Kesesuaian lama pengobatan

Keterangan
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak Sesuai
Sesuai
Sesuai

Keterangan:
Dari semua bahan obat pada resep diatas menunjukkan bahwa pasien ada riwayat
alergi. Di samping itu masing-masing obat yang tertulis dalam resep tidak
menimbulkan interaksi satu sama lain. Namun perlu dijelaskan beberapa efek
samping yang mungkin dapat ditimbulkan dari masing-masing obat seperti:
o Romilar mempunyai efek samping berupa jarang menyebabkan kantuk,
pusing, mual , konstipasi..
o Interhistin mempunyai efek samping mual , muntah , mulut terasa kering ,
penglihatan kabur.
o Codein mempunyai efek samping penggunaan jangka lama mengakibatkan
toleransi ketergantungan, depresi pernafasan terutama pada penderita asma,
depresi jantung dan syok, lemah, insomnia, mual, muntah, reaksi
hipersensitivitas, dan pada dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati.
o Cefila 50 : mempunyai efek samping hipersensitivitas , GI , dan pernafasan.
3) Menghitung harga dan minta persetujuan terhadap nominal harga hasil
perhitungan kepada pasien. Pada R/ diatas dapat dihitung sebagai berikut:
romilar sebanyak 20 tablet
@ Rp.896 = Rp. 18.000
interhistin sebanyak 20 taplet @ Rp.1750 = Rp. 35.000
codein 20mg sebanyak 20tablet @ Rp.2500= Rp. 50.000
Cefila 100 sebanyak 10 kapsul @ Rp.3000 = Rp. 30.000
Jasa
Rp.5.000
Kertas + botol
@Rp.1000+4000= Rp.5000.
Jumlah
Rp.143.000
Pasien diberi nomor antrian.
Pasien pemilik resep diberi nomor antrian yang sesuai dengan nomor yang ada
pada struk dari apotek.
L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

4) Menulis nomor struk pada resep dan satukan resep dengan Di apotik Indah Farma
bahwa struk resep dikelompokkan sesuai dengan golongan obat. Untuk resep
yang hanya mengandung obat daftar G diberi struk warna merah muda. Untuk
resep yang mengandung obat golongan Psikotropika dan Narkotika diberi struk
warna kuning.
5) Mencocokkan nama, jumlah, kekuatan obat dalam resep.
6) Menyiapkan obat sesuai dengan Resep. Menyiapkannya dengan mengambil obat
yang akan diracik dan diracik sesuai dengan obat yang telah ditentukan
jumlahnya dari etalase dan dibawa ke meja racik, yakni seperti mengambil obat
yang diracik: romilar diambil 20 dari kemasan (setelah romilar diambil sebanyak
20 maka stok ditulis pengeluarannya sebanyak 20 dan ditulis sisa stok terakhir),
dan codein diambil dari kemasan (setelah codein diambil sebanyak 20 maka stok
ditulis pengeluarannya sebanyak 20 dan ditulis sisa stok terakhir). interhistin
diambil 20 dari kemasan (setelah interhistin diambil sebanyak 20 maka stok
ditulis pengeluaran sebanyak 20 dan di tulis sisa stok terakhir). Cefila 100
diambil 10 dari kemasan (setelah cefila diambil sebanyak 20 maka stok ditulis
pengeluaran sebanyak 20 dan di tulis sisa stok terakhir).
Kemudian racik dan masukkan dalam cangkang kapsul besar lalu masukkan
dalam botol.
8).Menyiapkan etiket dan wadah obat. Etiket yang dipakai adalah etikat berwarna
putih untuk pemakaian dalam.

Untuk resep diberi etiket putih dengan signa 3xsehari 1 kapsul. Sesudah makan.

9).selesai obat diperiksa kepada petugas yang ada kemudian obat diserahkan kepada
pasien, dengan melalaui proses seperti berikut:
a)

Obat diserahkan kepada pasien sekaligus dicocokkan dengan data pasien.

b)

Memberitahukan kepada pasien tentang obat yang diberikan dan tujuan


penggunaan obat tersebut.

c)

Memberikan informasi kepada pasien tentang penggunaan obat (dosis,


frekuensi, durasi, dan cara penggunaan).

d)

Menanyakan kembali tentang semua informasi yang telah disampaikan untuk


memastikan bahwa pasien telah paham dan mengerti tentang penggunaan obat.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

e)

Memberitahukan kepada pasien efek samping dari obat yang nungkin terjadi
dan cara penanganan yang mungkin bisa dilakukan oleh pasien terhadap efek
samping yang terjadi.

f)

Menginformasikan pada pasien tentang hal apasaja yang perlu dihindari atau
yang perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan terapi.

G. Evaluasi Mutu Pelayanan di Apotek Indah Farma Bangkalan


Evaluasi Mutu pelayanan (tingkat kepuasan konsumen) untuk mengukur kinerja
pelayanan kefarmasian tersebut harus ada indikator yang digunakan.
Indikator yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat keberhasilan pelayanan
kefarmasian di apotek indah Farma antara lain :
1. Tingkat kepuasan konsumen : dilakukan dengan survei berupa angket melalui kotak
saran atau wawancara langsung.
2. Dimensi waktu : lama pelayanan diukur dengan waktu (yang telah ditetapkan).
3. Prosedur tetap (Protap) Pelayanan Kefarmasian : untuk menjamin mutu pelayanan
sesuai standar yang telah ditetapkan
Menurut saya pelayanan di apotek indah farma Bangkalan ini cukup baik, karena disini
para pegawai langsung sigap terhadap pasien atas penyakit yang dideritanya dan memberikan
pelayanan yang tulus, karena pelayanan di apotek indah farma bangkalan adalah melayani
dengan hati. Saya merasa senang mendapatkan kesempatan pratek kerja lapangan ditempat
ini serta kamipun mendapatkan banyak sekali pengalaman dan ilmu pengetahuaan yang
sangat mendukung disini, saya juga belajar lebih mengenai kefarmasian kini, Di apotek indah
farma saya dapat memiliki banyak teman dan saudara yang selalu memberi saya ilmu dan
pembelajaran yang saya butuhkan.
Insyaallah saya dapat menjadi seorang asisten apoteker yang handal, berkat ajaran dan
didikan, serta pengalaman PKL yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya.
Sebagai acuan bagi saya sebagai asisten apoteker untuk melaksanakan pelayanan, agar
terlaksananya pelayanan kefarmasian yang bermutu di apotek indah farma, ataupun di tempat
yang melakukan pekerjaan kefarmaian yang lain.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Pembelajaran di dunia kerja, yaitu di Apotek Indah Farma Bangkalan
merupakan suatu strategi yang memberi peluang kepada kami mengalami proses
belajar, dan mencari wawasan melalui bekerja langsung pada pekerjaan
3

sesungguhnya. Dengan adanya praktek kerja lapangan di Apotek Indah Farma


Bangkalan, dapat merasakan bagaimana pelaksanaan praktek langsung di
lingkungan dunia kerja yang langsung dibimbing oleh pembimbing kami di Apotek
Indah Farma Bangkalan. Bahkan kami dapat mengukur sejauh mana penguasaan
ilmu yang didapatkan di sekolah.
B. SARAN-SARAN
Pada kesempatan ini, ijinkanlah penulis untuk memberikan beberapa saran kepada
pihak sekolah yang sekiranya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan guna
kemajuan dimasa mendatang. Saran-saran itu adalah:
1. Sekolah hendaknya lebih menyiapkan lagi kemampuan siswa sebelum praktek
di dunia kerja.
2. Adanya kerjasama yang baik antara sekolah dengan dunia kerja sehingga
terjadi sinkronisasi materi yang diajarkan di sekolah dan proses pembimbingan
di tempat praktek
3. Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini akan lebih terarah apabila disusun
suatu jadwal yang harus dikerjakan siswa / siswi selama melaksanakan Praktek
Kerja Lapangan (PKL).
4. Pihak sekolah agar dapat memantau kegiatan siswa yang sedang melaksanakan
PKL secara intensif sehingga segala kesulitan yang timbul dapat dipecahkan
bersama.

DAFTAR PUSTAKA

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10

1. ISO Indonesia Volume 45, tahun 2010-2011.


2. Manajemen Farmasi, Sekolah Menengah Farmasi kelas XI, edisi 2004.
3. Undang-Undang Kesehatan, Sekolah Menengah Farmasi kelas X, edisi 2004.
4. Undang-Undang Kesehatan, Sekolah Menengah Farmasi kelas XI, edisi 2004.
5. Farmakologi, Sekolah Menengah Farmasi kelas X, edisi 2004.
6. Farmakologi, Sekolah Menengah Farmasi kelas XI, edisi 2004.
7. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
8. Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
9. Permenkes Nomor 922 Tahun 1993 tentang pekerjaan kefarmasian.
10. PP RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.

L A P O R A N P K L D I A P O T E K I N D A H FA R M A
BANGKALAN

10