You are on page 1of 3

FILLER

“KONTRIBUSI MEKANISASI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN”

Scene 1 : Opening (Pertanian Konvensional)
Narasi 1 :
Sejak dahulu, Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk
Indonesia memiliki mata pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Pada masa
tersebut,kegiatan pertanian dilatarbelakangi oleh tuntutan kehidupan dasar semata tanpa
berorientasi untuk kepentingan ekonomi. Teknologi yang digunakan untuk meningkatkan
produktivitas pangan dalam bertani masih sangat minim saat itu. Sebagai contoh, saat panen
pun petani masih menggunakan peralatan konvensional seperti gebotan. Bila cara
pengolahan komoditas pertanian masih menggunakan cara konvensional, maka petani
membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk mengejar produktivitas yang
dibutuhkan. Sebagai contoh pada komoditas padi, apabila masih menggunakan cara
konvensional, proses tanam harus menunggu terlebih dahulu proses pengolahan tanah
sehingga banyak waktu terbuang. Selain itu, cara panen dengan sistem konvensional pun
dapat mengakibatkan kehilangan hasil panen yang tinggi. Salah satu contohnya yaitu
perontokan padi dengan cara dibanting atau digebot dapat menyebabkan banyak gabah yang
tercecer dan juga banyak gabah yang tidak rontok.
Dr. Ir. Astu Unadi, M.Eng
Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Membahas tentang :
1. Cara bertani konvensional
2. Kendala penggunaan peralatan konvensional

Scene 2 (Tantangan Pertanian Masa Kini)
Narasi 2 :
Di sisi lain tantangan dunia pertanian semakin meningkat. Pertumbuhan jumlah penduduk
adalah salah satu diantaranya. Berdasarkan sensus tahun 2010 diperkirakan pada tahun 2012
jumlah penduduk di Indonesia tercatat sebesar 259 juta orang dengan laju pertumbuhan
penduduk sebesar 1,49% per tahun. Dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia maka
meningkat pula kebutuhan akan produk pertanian. Diantaranya adalah makanan pokok
penduduk Indonesia yaitu beras.
Dr. Ir. Astu Unadi, M.Eng
Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
1. Menyikapi tantangan dunia pertanian saat ini dari segi pertumbuhan jumlah penduduk

Narasi 4 :
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, perluasan lahan pertanian adalah modal yang sangat
penting dalam menggenjot produksi pangan. Namun pada kenyataannya, setiap tahun tidak
kurang dari 100 ribu hektare lahan pertanian yang mengalami alih fungsi. Sebagian besar
untuk membangun pemukiman atau pabrik. Padahal, kemampuan mencetak sawah saat ini
baru 30 ribu hektare setiap tahun.
Dr. Ir. Astu Unadi, M.Eng
Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
1. Penyusutan lahan pertanian Indonesia menjadi tantangan yang nyata untuk dihadapi

Narasi 5 :
Sementara itu, petani Indonesia yang menjadi pemeran penting dalam pergerakan roda
pertanian Indonesia, jumlahnya semakin menyusut. BPS mencatat, pada tahun 2004 terdapat
40 juta keluarga petani di Indonesia, sedangkan pada tahun 2013 merosot tajam, hanya 26,1
juta keluarga saja. Dengan demikian muncul tantangan baru yaitu semakin berkurangnya
jumlah tenaga kerja di sektor pertanian.
Dr. Ir. Astu Unadi, M.Eng
Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
1. Penyebab penurunan jumlah pekerja tani

Scene 3 (Salah satu solusi tantangan masa kini)
Narasi 7 :
Kondisi tersebut ditangkap oleh pemerintah, yakni Kementerian Pertanian Republik Indonesia
untuk memfasilitasi para petani dalam menjalankan usaha taninya. Salah satunya adalah
dengan dikembangkannya mekanisasi pertanian untuk mendukung swasembada pangan dan
swasembada berkelanjutan. Untuk mendukung mekanisasi pertanian, badan litbang memiliki
unit kerja yang mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan penelitian, perekayasaan, dan
pengembangan mekanisasi pertanian yaitu Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian
atau disingkat BBP-MEKTAN yang terletak di Tromol Pos 2 Serpong, Tangerang, Banten.
Dr. Ir. Agung Prabowo, M.Eng
Kepala Bidang Kerjasama dan Pedayagunaan Hasil Perekayasaan, BPP Mekanisasi Pertanian:
1. Penjelasan tentang mekanisasi pertanian secara umum : pengertian mekanisasi dan
fungsinya.
2. Penjelasan mengapa perlu ada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi
Pertanian

Scene 4 (Peran BBP-Mektan dalam pengembangan mekanisasi pertanian Indonesia)
Narasi 8 :
Teknologi alat dan mesin pertanian atau dikenal dengan singkatan Alsintan sudah banyak
dihasilkan oleh BBP Mektan untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan
efisiensi kegiatan produksi komoditas pertanian Indonesia yang berujung pada kesejahteraan
para petaninya. BBP Mektan yang memiliki peranan sangat penting dalam pengembangan
teknologi mekanisasi pertanian tersebut tentunya harus didukung oleh fasilitas yang
memenuhi kebutuhan sehingga BBP Mektan dapat menjalankan Tugas dan Fungsinya dengan
baik.
Dr. Ir. Agung Prabowo, M.Eng
Kepala Bidang Kerjasama dan Pedayagunaan Hasil Perekayasaan, BPP Mekanisasi Pertanian:
1. Penjelasan tentang produk-produk alsintan untuk mendukung peningkatan efisiensi kerja
dan peningkatan produksi pertanian
2. Fasilitas pengujian Alsintan

Narasi 9 :
Salah satu alsintan unggulan BBP-Mektan saat ini adalah Indo Combine Harvester. Alsintan
tersebut dirancang untuk mendukung pencapaian program swasembada beras nasional
melalui usaha penurunan susut hasil panen. Kemampuan kerja mesin tersebut mampu
menggabungkan kegiatan potong-angkut-rontok-pembersihan-sortasi-pengantongan dalam
satu proses kegiatan yang terkontrol. Adanya proses kegiatan panen yang tergabung dan
terkontrol menyebabkan susut hasil yang terjadi hanya sebesar 1,87 % atau berada di bawah
rata-rata susut hasil metode “gropyokan” yang memiliki susut hasil sekitar 10%. Sedangkan
tingkat kebersihan gabah panen yang dihasilkan oleh mesin tersebut mencapai 99,5%.

Narasi 10: (Closing)
Sejak penggunaan alat dan mesin pertanian, terjadi peningkatan produksi yang cukup
signifikan. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami keterbatasan dalam produksi, kini
sudah mampu meningkatkan hasil produksi pertaniannya. Ini adalah bukti nyata bahwa
mekanisasi di sektor pertanian telah membawa dampak positif terhadap peningkatan
produktivitas pertanian.



--------------------------------------