You are on page 1of 9

ASKEP KONJUNGTIVITIS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak
mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan permukaan depan dari bola mata,
kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh
darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi.

Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:
1. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra).
2. Konjungtiva bulbaris (menutupi bagian permukaan anterior bola mata).
3. Forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan bola
mata).

Meskipun konjungtiva agak tebal, konjungtiva bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga
bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan
mudah dapat dilihat dibawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang
mensekresi musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre kornea yang memproteksi dan
memberi nutrisi bagi kornea.

Konjungtivitis terdiri dari:
1. Konjungtivitis alergi (keratokonjungtivitis atopic simple alergik konjungtivitis, konjungtivitis
seasonal, kanjungtivitis vernal, giant papillary conjunctivitis)
2. Konjungtivitis bacterial (hiperakut, akut, kronik)
3. Konjungtivitis virus (adenovirus, herpetik)
4. Konjungtivitis klamedia
5. Bentuk konjungtivitis lain (Contact lens-related, mekanik, trauma, toksik, neonatal, parinauds
okuloglandular syndrome, phlyctenular, sekunder).


1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat kami tarik suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Apa pengertian dari konjungtivitis?
1.2.2 Bagaimana epidemiologi penyakit konjungtivitis?
1.2.3 Apa etiologi dari konjungtivitis?
1.2.4 Apa penyebab dan factor predispasisinya?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi dari penyakit konjungtivitis?
1.2.6 Bagaimana klasifikasinya?
1.2.7 Apa saja gejala klinisnya?
1.2.8 Apa saja pemeriksaan fisik yang dilakukan?
1.2.9 Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan yang dilakukan?
1.2.10 Bagaimana prognosis dari penyakit konjungtivitis?
1.2.11 Terapi apa yang diberikan pada penderita konjungtivitis?
1.2.12 Bagaimana asuhan keperawatannya?

1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui dan memehami:
1.3.1 Pengertian dari konjungtivitis.
1.3.2 Epidemiologi dari penyakit konjungtivitis.
1.3.3 Etiologi dari konjungtivitis.
1.3.4 Penyebab dan factor predispasisinya
1.3.5 Patofisiologi dari penyakit konjungtivitis
1.3.6 Bagaimana klasifikasinya?
1.3.7 Gejala klinis dari konjungtivitis
1.3.8 Pemeriksaan fisik yang dilakukan
1.3.9 Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yang dilakukan
1.3.10 Prognosis dari penyakit konjungtivitis
1.3.11 Terapi yang diberikan pada penderita konjungtivitis
1.3.12 Asuhan keperawatannya yang terdiri dari : pengkajian, diagnosa, intervensi, dan
evaluasinya.

1.4 Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan yaitu metode kepustakaan yang mengambil materi
dari beberapa buku dan literature.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR PENYAKIT

2.1.1 Pengertian

Konjungtivitis adalah infeksi atau inflamasi pada konjungtiva mata dan biasa dikenal sebagai
pink eye (.)
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat.
Kesimpulan :
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva mata yang ditandai dengan pengbengkakan
dan eksudat.

2.1.2 Epidemiologi
Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering dihubungkan dengan penyakit
tuberkulosis paru. Penderita lebih banyak pada anak-anak dengan gizi kurang atau sering
mendapat radang saluran nafas, serta dengan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Meskipun
sering dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis paru, tapi tidak jarang penyakit paru tersebut
tidak dijumpai pada penderita dengan konjungtivitis flikten. Penyakit lain yang dihubungkan
dengan konjungtivitis flikten adalah helmintiasis. Di Indonesia umumnya, terutama anak-anak
menderita helmintiasis, sehingga hubungannya dengan konjungtivitis flikten menjadi tidak jelas.

2.1.3 Etiologi
Pembagian konjungtiva berdasarkan penyebabnya:
1. Konjungtivitis alergik
2. Konjungtiva akut bacterial, misal: konjungtivitis blenore, konjungtivitis gonore, konjungtivitis
difteri, konjungtivitis folikuler, konjungtivitis kataral.
3. Konjungtivitis akut viral, missal: keratokonjungtivitis epidemic, demam faringokonjungtiva,
keratokonjungtivitis herpetic.
4. Konjungtivitis akut jamur
5. Konjungtivitis kronis, misalnya: trakoma.
6. Personal hygiene dan kesehatan lingkungan yang kurang, alergi, nutrisi, kurang vitamin A,
iritatif (bahan kimia, suhu, listrik, radiasi ultraviolet).


2.1.4 Faktor Predisposisi
1. Agen infeksi

Bakteri
Klamedia
K. Trachomatis
K. Inklusi
K. Klamedia lain


2. Virus

Demam faringokonjungtivitis
Keratokonjungtivitis epidemika
K. virus herpes simplek
K. New Castel
K. haemoragik akut
Blefarokonjungtivitis molluscum contagiosum
Blefarokonjungtivitis varr. Zoster
Blefarokonjungtivitis morbilli (kronis)


3. Konjungtivitis jamur

Kandida
Sporothix schenchii
Rhinosporodium serebri
Coccidiodes immitis


4. Konjungtivitis parasit

Onchocerclasis Thelazeacalifornensis
Loa-loa
Ascaris Lumbricoides
Thricinella spiralis
Schistosoma haemobium
Taenia solium
Pthirus pubis
Oftalmomiliasi

5. Konjungtivitis imunologik

Konjungtivitis Hay fever
Konjungtivitis vernalis
Konjungtivitis atopic
Konjungtivitis giant pappilaris
Phlictenularis
Konjungtivitis akibat sekunder blepbaritis



6. Konjungtivitis karena penyakit autoimun
Keratokonjungtivitis sicca
Phempigoid sikatrikal

7. Konjungtivitis irritatif/paparan kimia

8. Konjungtivitis yang berhubungan dengan penyakit sistemik
Thyroid
Gout
Karsinoid
























2.1.5 Patofisiologi
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan allergen, iritasi menyebabkan kelopak mata
terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka sempurna. Karena mata
menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah
disebabkan karena adanya peradangan ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah,
edema, rasa nyeri, dan adanya secret mukopurulent

Konjungtiva, karena posisinya terpapar pada banyak organism dan factor lingkungan lain yang
mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar.pada film
air mata, unsure berairnya mengencerkan bakteri infeksi, mucus menangkap debris dan kerja
memompa dari palpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata. Dan air mata
mengandung substansi anti mikroba termasuk liozim. Adanya agen perusak, menybabkan
cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertropi
epitel atau granoloma. Mungkin pula terdapat edema pada sroma konjungtiva (kemosis) dan
hipertrofi lapis limpoid stroma atau pembentukan folikel. Sel-sel radang bermigrasi dari stoma
konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan pus
dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian
palpebra pada saat bangun tidur.
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh mata
konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan
mengurang kearah limbus. Pada hyperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan
dan hipertrofi papilla yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas atau
gatal. Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh
darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau
badan silier berarti kornea terkena.

2.1.6 Klasifikasi
1. Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis bakteri sebabkan oleh bakteri (staphylococcus aureus, streptococcus pneumoniac,
haemophilus influenza, Escherichia coli, neisseria gonorrhea, corynebacterium diphtheria).
Konjungtivitis jenis ini mudah menular.
Konjungtivitis ini berupa konjungtivitis mukopurulen dan konjungtivitis porulen, dengan tanda
hiperemi konjungtiva, edema kelopak, pupil dan dengan kornea yang jernih. Kadang disertai
keratis dan blefaritis. Biasanya dari satu mata menjalar ke mata yang lain dan dapat menjadi
kronik.
2. Konjungtivitis Viral
Konjungtivitis viral adalah radang konjungtiva yang disebabkan oleh infeksi virus (adenovirus,
herpes simpleks, herpes zoster, klamidia, new castel, pikorna, entercvirus dan sebagainya).
Pada konjungtivitis ini terdapat sedikit kotoran pada mata, lakrimasi, sedikit gatal, infeksi, nodul
preaurikular bisa nyeri atau tidak, serta kadang disertai sakit tenggorokan dan deman.
3. Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis alergi adalah radang konjungtiva akibat reaksi terhadap non infeksi, dapat berupa
reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada
reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi antibody humoral terhadap allergen.
Biasanya dengan riwayat atopi.
Konjungtivitis ini ditandai dengan mata merah, sakit, bengkak, panas, berair, gatal dan silau.
Sering berulang dan menahun, bersamaan dengan rhinitis alergi. Biasanya terdapat riwayat
atopi sendiri atau dalam keluarga. Pada pemeriksaan ditemuka infeksi ringan pada konjungtiva
palpebra dan bulbi serta papil besar pada konjungtiva tarsal yang dapat menimbulkan konflikasi
pada konjungtiva. Pada keadaan akut dapat terjadi kemosis berat.


4. Konjungtivitis Sika
Konjungtivitis sika atau konjungtivitis dry eye adalah suatu keadaan keringnya permukaan
konjungtiva akibat berkurangnya sekresi kelenjar lakrimal. Konjungtivitis ini terjadi pada penyakit-
penyakit yang menyebabkan defisiensi komponen lemak air mata, kelenjar air mata, akibat
penguapan berlebihan atau karena parut kornea atau hilangnya mikrovili kornea. Bila terjadi
bersama atritis rheumatoid dan penyakit autoimun lain, disebut sebagai sindron sjogren.
Konjungtivitis sika ditandai dengan gatal, mata seperti berpasir, silau dan kadang-kadang
penglihatan kabur. Terdapat gejala sekresi mucus yang berlebihan, sukar menggerakan kelopak
mata, mata tampak kering dan terdapat erosi kornea.
2.1.7 Gejala Klinis
Tanda dan gejala:
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi, pseudoptosis, hipertropi
fapiler, kemosis, folikel, psedomrmbran dan membran, granuloma dan adenopati pre-aurikuler.
Hiperimia adalah tanda klinik yang paling mencolok dari konjungtivitis akuta kemerahan paling
nyata pada formix dan mengurangi kearah limus ke arah dilatasi pembuluh pembuluh posterior.
Berair mata (epipora) sering mencolok pada konjungtiviotis sekresi pada air mata disebabkan
adanya sensasi benda asing, sensasi terbakar, gatal.
Eksudasi adalah ciri semua ciri dari konjungtivitis akut eksudfat itu berlapis lapis dan amof pada
konjungtivitis bakterior dan berserabut pada konjungtivitis alergi
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke muskulus muller
Hipertropi palpira adalah reaksi konjungtiva non-spesifik yang terjadi karena konjungtiva terikat
pada tartus atau limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus.
Kemosis konjungtiva sangat mengesankan konjungtivitis alergika namun dapat terjadi pada
kon\jungtivitis gonokok atau meningokok akut dan terutama pada konjungtivitis adenovirus.
Folikel tampak pada kebanyakan kasus kontivitis virus, pada semua kasus kongtivitis klamidia
kecuali inklusi neonatal, pada beberapa kasus konjungtivitis parasitik dan beberapa kasus
konjungtivitis toksik yang diinduksi pengobatan topikal seperti dengan idoxuridine, dipivefrin dan
miotika.
Pseudomembran dan membran adalah hasil proses eksudatif dan hanya berbeda derajatnya.
Granuloma konjungtiva selalu mengenai stroma dan paling sering berupa khalazia.
Limphadenopati preaurikuler adalah tanda penting konjungtivitis. Sebuah nodus preaurikuler
jelas tampak pada sidrom okulogular parinaud dan jarang pada keratokonjungtivitis epidemika.

2.1.8 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik (inspeksi) untuk mencari karakter atau tanda konjungtivitis yang meliputi:
1. Hiperemi konjungtiva yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang kea rah limbus.
2. Kemungkinan adanya sekret:
a. Mukopurulen dan berlimpah pada infeksi bakteri yang menyebabkan kelopak mata lengket
saat bangun tidur.
b. Berair/encer pada inveksi virus.
3. Edema konjungtiva
4. Blefarospasme
5. Lakrimasi
6. Konjungtiva palpebra ( merah, kasar seperti beludru karena ada edema dan infiltrasi)
7. Konjungtiva bulbi, injeksi konjungtival banyak, kemosis, dapat ditemukan pseudo membrane
pada infeksi pneumakok. Kadang-kadang disertai perdarahan subkonjungtiva kecil-kecil baik di
konjungtiva palpebra maupun bulbi yang biasanya disebabkan pneumokok atau virus.
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang
Test komposisi air mata :
Schimer test
BUT
Ferning test
Uji Anel
Pemeriksaan swab sekret (gram , Giemsa )
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan visus, kaji visus klien dan catat derajat pandangan perifer klien karena jika terdapat
sekret yang menempel pada kornea dapat menimbulkan kemunduran visus atau melihat halo.

2.1.10 Prognosis
Konjungtivitis bakteri yang disebabkan oleh mikroorganisme tertentu, seperti Haemophilus
influenzae, adalah penyakit swasirna. Bila tidak diobati akan sembuh sendiri dalam waktu 2
minggu. Dengan pengobatan akan sembuh sendiri dalam 1-3 hari.
Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam beberapa hari.

2.1.11 Therapy
Konjungtivitis biasanya hilang sendiri. Tapi tergantung pada penyebabnya, terapi dapat meliputi
antibiotika sistemik atau topical, bahan anti inflamasi, irigasi mata, pembersihan kelopak mata
atau kompres hangat.
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara
menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan
intruksi kepada klien untuk tidak menggosok mata yang sakit kemudian menyentuh mata yang
sehat, untuk mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan
kain lap, handuk dan sapu tangan baru yang terpisah.





2.2 Asuhan Keperawatan Pasien dengan Konjungtivitis
2.2.1 Pengkajian

1. Identitas pasien
2. Status kesehatan
a. Keluhan Utama
b. Lama keluhan
c. Timbulnya keluhan
d. Faktor yang memperberat
e. -Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya

3. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit yang pernah dialami
- Belum pernah dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang serupa
b. Riwayat Alergi
- Pasien tidak ada riwayat alergi obat-obatan maupun makanan
c. Riwayat kesehatan keluarga
- Tidak ada riwayat penyakit keturunan

4. Kebutuhan dasar manusia (virginia Henderson )
5. Pemeriksaan fisik
- keadaan umum
Kesadaran
GCS
- tanda-tanda vital
- keadaan fisik
6. Anamnesa
Kaji gejala yang dialami klien sesuai jenis konjungtivitis yang dialami meliputi gatal dan rasa
terbakar pada alergi, sensasi benda asing pada infeksi bakteri akut dan infeksi virus, nyeri dan
foto pobia jika kornea terkena, keluhan peningkatan produksi air mata, pada anak-anak dapat
disertai dengan demam dan keluhan pada mulout dan tenggorokan. Kaji riwayat detail tentang
masalah sekarang dan catat riwayat cedera atau terpajan lingkungan yang tidak bersih.




2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman yang berhubungan dengan edema dan iritasi konjungtiva ditandai
dengan peningkatan eksudasi, fotofobia, lakrimasi dan rasa nyeri.
2. Risiko tinggi penularan penyakit pada mata yang lain atau pada orang lain yang berhubungan
dengan keterbatasan pengetahuan klien tentang penyakit
3. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan lapang pandang.
4. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan actual dalam penampilan ditandai dengan
mata merah dan edema kelopak mata.
2.2.3 Rencana Tindakan Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan Dan Criteria Hasil Intervensi Rasional
1 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan edema dan iritasi konjungtiva ditandai dengan
peningkatan eksudasi, fotofobia, lakrimasi dan rasa nyeri.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien dapat melakukan tindakan untuk
mengurangi nyeri/fotofobia/eksudasi. Dan menunjukkan perbaikan keluhan dengan criteria hasil:
- penurunan skala nyeri

- Pasien tidak tampak gelisah
- TTV normal 1. Kompres tepi palpebra atau mata dalam keadaan tertutup dengan larutan salin
selama kurang lebih 3 menit.
2. Usap eksudat secara perlahan dengan kapas yang sudah dibasahi salin dan setiap mengusap
hanya dipakai satu kali.

3. Beritahu klien agar tidak menutup mata yang sakit

4. Anjurkan pada klien wanita dengan konjungtivitis alergi agar menghindari atau mengurangi
penggunaan taarias hingga semua gejala konjungtivitis hilang. Bantu klien mengidentifikasi
sumber allergen yang lain. Tekankan pentingnya kacamata pelindung bagi klien yang bekerja
dengan bahan kimia iritan. 1. Melepaskan eksudat yang lengket pada tepi palpebra.




2. Membersihkan palpebra dari eksudat tanpa menimbulkan nyeri dan meminimalkan
penyebaran mikroorganisme.


3. Mata yang tertutup merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.

4. Mengurangi ekspose allergen atau iritan.

2 Risiko tinggi penularan penyakit pada mata yang lain atau pada orang lain yang berhubungan
dengan keterbatasan pengetahuan klien tentang penyakit
Setelah diberikan asuhan keperawatan pengetahuan klien adekuat tentang tindakan
pencegahan penularan. Dengan criteria hasil: tidak terjadi penularan penyakit pada mata yang
lain atau orang lain. 1. Beritahu klien untuk mencegah pertukaran sapu tangan, handuk dan
bantal dengan anggota keluarga yang lain.
2. Ingatkan klien untuk tidak menggosok mata yang sakit atau kontak sembarang dengan mata.
3. Beritahu klien teknik cuci tangan yang tepat. 1. Meminimalkan resiko penyebaran infeksi.




2. Menghindari penyebaran infeksi pada mata yang lain dan pada orang lain.


3. Prinsip higienis perlu ditekankan pada klien untuk mencegah replikasi kuman sehingga
penyebaran infeksi dapat dicegah.
3 Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan lapang pandang.

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi gangguan penglihatan pada
pasien. 1. Bersihkan sekret mata dengan cara yang benar.

2. Perhatikan keluhan penglihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan
salep mata

3. Gunakan kaca mata gelap 1. Sekret mata akan membuat pandangan kabur.

2. Memberikan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya sesaat setelah
penggunaan obat mata.


3. Mengurangi fotofobia yang dapat mengganggu penglihatan klien.
4 Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan actual dalam penampilan ditandai dengan
mata merah dan edema kelopak mata.
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan klien tidak merasa malu
dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan fisiknya dengan criteria hasil:
- pasien menyatakan gambaran diri lebih nyata.
1. Buat hubungan terapiutik perawat pasien.



2. Tingkatkan konsep diri tanpa penilain moral


3. Dorong pasien untuk menghargai hidup sendiri dengan cara lebih sehat dengan membuat
sendiri dan menerima diri sebagai diri sendiri saat ini. 1. Dalam hubungan membantu pasien
dapat mulai untuk mempercayai dan mencoba pemikiran dan prilaku baru.

2. Pasien melihat diri sebagai lemah harapan, meskipun bagian pribadi merasa kuat dan dapat
mengontrol.
3. Pasien sering tidak tahu apakah yang diinginkan untuk dirinya sendiri.


2.2.3 Evaluasi
Dx 1: Kenyamanan pasien dapat terpenuhi
Dx 2 : Resiko penularan penyakit pada mata dapat teratasi.
Dx 3: Gangguan penglihatan pasien dapat teratasi
Dx 4: Pasien dapat menyatakan gambaran diri lebih nyata

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konjungtivitis adalah Radang konjungtiva akut dan hebat yang disertai dengan sekret purulen.
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat.
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva, biasanya terdiri dari hyperemia konjungtiva
disertai dengan pengeluaran secret (id.wikipedia.org).
Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian
dalam kelopak mata.
Konjungtivitis dapat diketahui melalui tanda dan gejala sebagai berikut:
o Hiperemi konjungtiva
o Edema kelopak, pupil, dan dengan kornea kornea yang jernih.
o Kadang disertai keratis dan blefaritis.
o Menjalar dari mata satu ke mata yang lain dan dapat menjadi kronik
Mata akan terasa gatal, mengeluarkan sekret, tidak ada penurunan tajam penglihatan.
Konjungtivitis biasanya hilang sendiri. Tapi tergantung pada penyebabnya, terapi dapat meliputi
antibiotika sistemik atau topical, bahan anti inflamasi, irigasi mata, pembersihan kelopak mata
atau kompres hangat.
3.2 Saran
Dengan pembuatan makalah ini, diharapkan para pembaca akan lebih memahami mengenai
penyakit pada mata khususnya penyakit konjungtivitis. Sehingga diharapkan kita lebih menjaga
kebersihan mata agar terhindar dari penyakit mata.