You are on page 1of 16

Laporan Kerja Praktek

PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Maintenance Excellence (Maintenance Planning Standard Team PT Freeport
Indonesia, 2009)
Dalam suatu operasi penambangan seperti di PT. Freeport Indonesia,
mutlak diperlukan equipment pendukung operasi. Equipment tersebut harus
dirawat dan dipelihara agar kinerja, ketangguhan dan pembiayaannya
mencapai target yang telah ditentukan secara efektif dan efisien. Departemen
atau bagian yang bertugas untuk melaksanakan kewajiban ini adalah
departemen Maintenance Alat tambang atau biasa disebut Mines
Maintenance Department.
Dalam melaksanakan tugas perawatan alat tambang, departemen ini
bekerja sama dan dibantu oleh beberapa kontraktor seperti Trakindo, Sandvik,
United Tractor Indonesia dan kontraktor lainnya. Terdapat dua tipe alat
tambang berdasarkan pengoperasiannya, yaitu alat tak berpindah (fixed
equipment) seperti conveyor system, crusher, dan SAG mill. Serta alat yang
berpindah (mobile equipment seperti trucks, shovels, loaders dan graders).
Secara garis besar departemen ini dibagi menjadi tiga seksi berdasarkan
fungsi, jenis pekerjaan dan tanggung jawabnya, yaitu Perencana
(Maintenance Planning Team), Pelaksana (Action Team) dan Rekayasa
(Maintenance Engineering). Perencana bertugas mencatat, mengidentifikasi,
merencanakan dan menjadwalkan semua pekerjaan. Pelaksana bertugas
melaksanakan pekerjaan dengan kualitas yang tinggi, aman, dan tepat waktu.
Sedangkan rekayasa bertugas menganalisis dan mengevaluasi sistem dan
hasil kerja, serta memberikan rekomendasi perbaikan sehingga diwaktu yang
akan datang suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lebih aman, efektif
dan efisisen.
Karena dalam melaksanakan tugasnya ketiga seksi di atas harus bekerja
sama dengan baik dan mempunyai ketergantungan yang tinggi antara satu
dengan yang lain, maka proses kerjanya harus mengikuti alur yang sudah
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
4
ditentukan yang dinamakan pipelines process, seperti yang tertera di Gambar
2.1 Pipelines Model Perwatan Alat Tambang
Untuk mengukur kinerja dari proses maintenance, diperlukan Key
Performance Indicator (KPI) sebagai suatu ukuran performa. Berikut adalah
“Best Practices” yang digunakan dalam pengukuran kinerja:
 Work Quality atau kualitas hasil pekerjaan yang ditunjukkan
dengan tingkat efektifitas (kemampuan mencapai tujuan organisasi)
dan efisiensi (kemampuan utilisasi sumberdaya dengan tepat).
 Productiviy atau produktivitas merupakan perbandingan sumber
daya yang dipakai dan keluaran yang dihasilkan.
 Budget Compliance merupakan perbandingan biaya yang
dikeluarkan dan budget yang tersedia untuk mencapai tujuan
organisasi.
Capture
History
PLANNING TEAM ACTION TEAM
MAINTENANCE ENGINEERING
Key Measures of Organizational Performance
Kunci Pengukuran Performa dari Organisasi
Reliability Improvement
Data Analysis
Root Cause Analysis
Technical Investigation
Predictive Maintenance
Condition Monitoring
Oil Sampling
Vibration Analysis
NDT-Cracks
Thermography
Material
Management
Mine Plan
Dispatch
Ellipse
VIMS
Dispatch
Raise
W/O
Breakdown
Inspections
Preventive
Maintenance
Corrective
Works
Reduced
Breakdowns
Execute
Job
Schedule
Job
Plan Job
Identify
Work
Gambar 2. 1 Pipelines Model Perawatan Alat Tambang
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
5
Secara garis besar tipe pekerjaan dalam pemeliharaan alat tambang
dibagi menjadi dua tipe yaitu Perawatan Terencana (Planned
Maintenance) dan Perawatan Tidak Terencana (Unplanned
Maintenance). Planned Maintenance adalah semua pekerjaan
perawatan, perbaikan unit/equipment yang sifatnya terencana atau
harus dilakukan pada periode mingguan/bulanan/ tahunan yang
akan datang. Unplanned Maintenance adalah semua pekerjaan
perawatan, perbaikan unit/equipment rusak (down) yang sifatnya
tidak terencana dan harus dilakukan dengan segera. Tipe
maintenance seperti tertera pada tabel 2.1 dibawah.
Tabel 2. 1 Work Order Category
Work Order
Type
Maintenance Type Job Description
PL Planned
PM
Preventive
Maintenance
MF Fixed Interval
MI Inspection
MP Revisit-Performance Test
PD
Predictive
Maintenance
DO Oil Analysis
DN Non-Destructive Test
DS Customer Track Services
DV Vibration, Shock Pulse
Analysis
DT Thermograph
PO
Corrective
Maintenance
OG General Corrective
Maintenance
PI
Routine
Maintenance/
Inspection
IR Routine Maintenance/
Inspection
PC
Component
Replacement
CM Replacement W/
Remanufactured Item
CN Replacement W/ New Item
CC Replacement W/
Reconditioned Item
PU Rebuild
UG General Equipment
Rebuild
UP Partial Equipment Rebuild
UR Equipment Reengineering
UC Component Repair
UP Unplanned UB
Breakdown/
Failure
BU Unscheduled
Repair/Replace
BW Warranty Job
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
6
UA Accident AR Accident Repair
UE
Extended
Preventive
Maintenance
EF Fixed Interval
EI Inspection
EP Revisit-Performance Test
SW
Standing Work Order
Contoh: Pemesanan Alat pelindung diri
Planned Maintenance umumnya terdiri daripekerjaan-pekerjaan
berikut:
 PM - Preventive Maintenance, untuk semua pekerjaan perwatan yang
terencana berkala dengan standar pekerjaan yang sudah dibakukan.
 PD - Predictive Maintenance, untuk semua pekerjaan terencana atau
berkala yang berhubungan dengan pengetesan, pengujian, inspeksi,
pengamatan kondisi unit/equipment untuk memastikan kelayakan unit
tersebut.
 PO - Corrective Maintenance, untuk semua pekerjaan perawatan atau
perbaikan atau pun yang lainnya yang merupakan rekomendasi atau
hasil dari PM ataupun bentuk-bentuk inspeksi yang lain, terhadap
suatu unit/equipment.
 PI - Routine Maintenance/ Inspection, untuk semua pekerjaan rutin
yang dilakukan terhadap suatu unit/equipment – jangka panjang.
 PC - Component Replacement, untuk semua pekerjaan pergantian
berkala suatu component dari unit/
 PU – Rebuild, untuk semua pekerjaan perawatan, perbaikan,
pergantian secara menyeluruh atau sebagian terhadap sebuah
unit/equipment atau component.
o UG-General Equipment Rebuild\
Pekerjaan perawatan secara menyeluruh terhadap sebuah
unit/equipment yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi alat
tersebut seperti baru lagi.
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
7
o UP-Partial Equipment Rebuild
Pekerjaan perawatan secara menyeluruh terhadap sebuah
unit/equipment yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi alat
tersebut seperti sedia kala.
o UR-Equipment Reengineering
Pekerjaan perbaikan, modifikasi, perancangan ulang sebuah
unit/equipment atau component-nya yang bertujuan untuk
mengembalikan fungsi alat tersebut seperti yang diharapkan
(seharusnya).
o UC-Component Repair
Pekerjaan perawatan, perbaikan secara menyeluruh terhadap
sebuah component yang bertujuan untuk mengembalikan
fungsinya seperti baru lagi
Unplanned Maintenance umumnya terdiri dari pekerjaan-pekerjaan
berikut:
 UB - Breakdown/ Failure, untuk semua pekerjaan perawatan,
perbaikan ataupun pergantian terhadap suatu unit/equipment yang
rusak (tidak bisa beroperasi) secara fungsi (teknis) dan tiba-tiba.
 UA – Accident, untuk semua pekerjaan perawatan, perbaikan ataupun
pergantian terhadap suatu unit/equipment yang rusak (tidak bisa
beroperasi) secara tiba-tiba yang diakibatkan oleh adanya
insiden(kecelakaan).
 UE - Extended Preventive Maintenance, untuk semua jenis tambahan
pekerjaan perawatan dari unit/equipment, baik yang menyebabkan
pekerjaan perawatan terencanasebelumnya harus diperpanjang
waktunya dari waktu perawatan yang sudah ditentukan maupun tidak.
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
8
Sekarang ini, belum banyak perusahaan yang memfokuskan dirinya
untuk meningkatkan proses maintenance yang dimiliki. Berdasarkan gambar
2.2, seluruh lini sangat berpengaruh pada proses maintenance, dari perawatan
alat sampai dengan menganalisis sumber kerusakan. Proses maintenance
memegang andil yang vital dalam menjaga reliabilitas equipment sehingga
kegiatan produksi mencapai titik optimal dengan biaya yang efektif. Oleh
Masalah/
Kerusakan di Alat
Pemeliharaan
Reaktif
Pemeliharaan
Prediktif
Pemeliharaan
Preventif/
Terencana
Pemeliharaan
Proaktif
Kerusakan
Eliminasi
Masalah
Inspeksi
Kualitas material
Kualitas
pemeliharaan
Masalah disain
Masalah
operasional
Kualitas
pembangunan
ulang
3 Cara Mencapai Pemeliharaan
Secara Proaktif
Operator peduli terhadap alat
yang dioperasikan
Pencegahan langsung di
sumber kerusakan
Reaksi pemeliharaan yang
cepat dan berkualitas
Manajemen Permasalahan Alat
Gambar 2. 2 Pipelines Model Perawatan Alat Tambang
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
9
karena itu, penerapan maintenance excellence dalam suatu perusahaan perlu
dilakukan dengan cermat. Maintenance excellence atau perawatan yang
sempurna merupakan suatu keseimbangan dari kinerja, resiko (isu
keselamatan kerja) dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai solusi
perawatan equipment yang optimal.
Tabel 2.2 menunjukkan empat tahapan yang perlu dilakukan untuk
mencapai Maintenance Excellence kelas dunia.
Tabel 2. 2 Tahapan Maintenance Excellence
Tahapan Input Output Ciri-ciri
Reaktif
(Reactive)
Perbaikan
dilakukan jika
terjadi kerusakan
pada equipment
 Kerja lembur
untuk
memperbaiki
equipment
karena
pekerjaan
tersebut tidak
terencana
 Kemungkinan
backlog untuk
pekerjaan yang
terencana
 Sistem
dikendalikan
oleh masalah
yang muncul
 Perilaku dari
sistem adalah
merespon
kerusakan
yang terjadi
Terencana/
Terprediksi
(Planned/
Predictive)
 Perbaikan
dilakukan
sebelum terjadi
kerusakan pada
equipment
 Tujuannya untuk
menghindari
kerusakan pada
saat equipment
beroperasi
 Tidak ada
kejutan dari
kerusakan yang
terjadi
 Reliabilitas
equipment
belum maksimal
karena akar
permasalahan
belum
diperbaiki
 Sistem mulai
dapat
mengendalika
n masalah
yang muncul
 Perilaku dari
system adalah
merencanakan
kegiatan
maintenance
Proaktif
(Proactive)
Perbaikan
berkelanjutan
dilakukan secara
proaktif terhadap
akar permaslahan,
sebelum terjadi
kerusakan pada
equipment
 Memiliki
kemampuan
bersaing dengan
industri serupa
 Tingkat
reliabilitas
meningkat yang
mendukung
peningkatan
 Sistem
memperbaiki
akar
permasalahan
yang muncul
 Sistem telah
memiliki
perilaku
organisasi
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
10
kapasitas
produksi
yang disiplin
Kelas
Dunia
(World
Class)
Perbaikan
berkelanjutan kelas
dunia dilakukan
dengan
mengadaptasi
praktek-praktek
terbaik, baik dari
dalam maupun luar
organisasi
 Sistem memiliki
keunggulan
bersaing jika
dibandingkan
dengan industry
serupa
 Nol kerusakan
yang terjadi
 Nol masalah
kualitas yang
terjadi
 Nol kecelakaan
Sistem memiliki
perilaku
organisasi yang
ingin
berkembang
2.1.1 Equipment Strategy
Seorang Chief Planner bertanggung jawab melakukan strategi
equipment guna memudahkan proses kontrol dan forecasting equipment yang
harus di-maintain oleh Maintenance Group. Pada bagian ini akan dijabarkan
secara terperinci hal-hal yang berhubungan dengan proses strategi equipment.
(Maintenance Planning Standard Team PT Freeport Indonesia, 2009)
A. Equipment Rebuild
Equipment rebuild merupakan suatu proses perbaikan equipment guna
memperbaharui kondisi equipment dengan harapan kondisi dan kinerja
equipment mampu mendekati kondisi dan kinerja dari equipment yang
baru. Alur proses rebuild PT. Freeport Indonesia seperti pada gambar
2.3. Berikut faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum
mengambil keputusan untuk melakukan rebuild:
 Umur Equipment
Umur equipment menjadi pertimbangan utama dalam melakukan
rebuild, dimana umur equipment sebelum di-rebuild akan
disesuaikan dengan kebijakan di area masing-masing.
Keterangan: Umur equipment biasanya mengacu kepada parameter
yang tercantum di Operating Statistic.
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
11
 Umur Components pada Equipment
Umur components pada equipment juga mempengaruhi keputusan
rebuild, dimana rebuild akan diprioritaskan untuk equipment yang
memiliki beberapa components yang sudah tua(mendekati target
life).
Keterangan: Umur components biasanya mengacu kepada parameter
yang tercantum di Operating Statistic.
 Biaya Rebuild
Rebuild menjadi alternatif pilihan dibandingkan pembelian
equipment baru karena biaya rebuild lebih rendah dibandingkan
dengan harga pembelian equipment baru. Diharapkan biaya rebuild
tidak melebihi 60% dari harga pembelian equipment baru.
Proses Rebuild
Dalam kondisi tertentu, dimana equipment yang akan di-rebuild
memiliki spesifikasi khusus yang diperlukan namun equipment baru
Pengiriman
equipment yang
akan di-rebuild
Pemeriksaan equipment
oleh vendor
Analisa biaya
rebuild oleh
vendor
Keputusan untuk
melakukan
rebuild atau tidak
Dalam proses rebuild,
equipment akan
dibongkar component-nya
lalu diperiksa oleh
vendor.
Keterangan:
o Component yang bisa
dipakai kembali akan
dipakai kembali
o Component yang bisa
diperbaiki akan
diperbaiki
o Component yang tidak
bisa dipakai kembali
dan tidak bisa
diperbaiki akan diganti
Vendor akan
menganalisa
biaya rebuild dan
mengkomunikasi
kan kembali
kepada
Representative
Maintenance
PTFI
Representative
Maintenance PTFI
akan memutuskan,
apakah rencana
rebuild jadi
dilaksakan atau tidak,
berdasarkan
pertimbangan biaya
dan kebutuhan
Unit yang akan
di-rebuild akan
dikirimkan ke
LIP(KKMRC,
Sandvik, United
Tractor, dll.),
Mile 39 Shop
atau
Underground
Elektrik.
Gambar 2. 3 Bagan Alir Proses Rebuild Equipment
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
12
yang disediakan vendor tidak memiliki spesifikasi tersebut, maka
rebuild akan tetap dilaksanakan walaupun biayanya lebih besar dari
60% harga equipment baru.
B. Equipment Scrap
Scrap merupakan sebuah tindakan yang dilakukan ketika equipment
tidak digunakan lagi dan akan dimusnahkan, dengan pertimbangan
sebagai berikut:
 Cost per Operating hour
 Kondisi equipment, termasuk availability equipment
 Ketersediaan atau availability dari spare parts yang dipergunakan
oleh equipment
 Biaya rebuild
 Equipment standardization
 Umur equipment
 Nilai buku dari equipment atau Net Book Value(NBV)
 Populasi equipment
 Ketidakekonomisan biaya perbaikan akibat kecelakaan atau
Uneconomica-lrepair accident
 Biaya equiment sampai saat ini atau Life to Date Cost
Untuk equipment yang di-scrap, akan dipertimbangkan apakah perlu
dilakukan proses penggantian(replacement) dengan equipment baru
atau tidak. Untuk proses penggantian equipment, dijelaskan pada sub
bagian C. Equipment Replacement
C. Equipment Replacement
Untuk proses replacement, Chief Planner perlu bekerja sama dengan
user dari equipment tersebut. Tujuannya untuk mengetahui justifikasi
penggantian equipment dan spesifikasi equipment baru yang diperlukan.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan equipment
replacement antara lain:
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
13
 Faktor maintenance untuk equipment baru tersebut. Maintenance
akan lebih mudah dilakukan apabila equipment baru memiliki
spesifikasi yang sama dengan equipment lama yang diganti.
 Peningkatan kapasitas produksi (production capacity)
 Budget yang dimiliki oleh departemen terkait.
Setiap equipment yang akan diganti perlu dibuat Authorization For
Expenditure (AFE). Untuk selanjutnya dilakukan pengorderan AFE
untuk penggantian equipment tersebut sudah disetujui.
Keterangan:
Pembuatan AFE untuk area Grasberg Maintenance akan ditangani oleh
Grasberg Business Support Department(GBSD)
D. Equipment Lifetime Cycle
Equipment Lifetime Cycle menunjukkan lama waktu equipment
dioperasikan sebelum equipment tersebut di-scrap atau di-rebuild.
Ukuran yang biasa digunakan adalah satuan operating hour atau jarak
tempuh (dalam kilometer). Untuk menentukan equipment lifetime cycle,
digunakan referensi sebagai berikut:
 Referensi dari vendor
 Riwayat equipment
E. Equipment Standardization
Equipment Standardization merupakan strategi untuk sedapat mungkin
mengurangi jenis equipment yang di-maintain oleh Maintenance
Group. Tujuan dari equipment standardization adalah:
 Meminimalkan spare parts yang harus di-stock di warehouse
 Meminimalkan jenis service dan part manual yang diperlukan
 Meminimalkan kebutuhan special tools
 Meminimalkan kebutuhan special skill untuk me-maintain
equipment
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
14
Untuk memperlancar equipment standardization, Chief Planner harus
berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Departemen Fleet
Management, karena departemen ini yang bertanggung jawab dalam
proses pembelian equipment baru.
F. Equipment Strategi Master File
Equipment strategi master file merupakan rangkuman mengenai strategi
equipment yang telah dilakukan oleh masing-masing seksi. Didalam file
tersebut terdapat list dari setiap equipment yang di-maintain, equipment
maintenance schedule berdasarkan lifetime cycle-nya, dan keputusan
yang diambil terhadap equipment yang sudah mencapai masa lifetime-
nya. File ini akan menjadi acuan dalam melakukan eksekusi strategi
equipment.
Keterangan: Format equipment strategi master file akan disesuaikan
dengan kebutuhan di masing-masing seksi, seperti terlihat pada gambar
2.4 menjelaskan tentang alur proses analisa tindakan terhadap
equipment
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
15
2.2 Availability of Equipment
2.2.1 UA(Use of Availability / Utilization Availability)
 
 
 
Operating Hours
Formula UA= ×100%
Total Hours - Down Hours
Keterangan
 Total Hours = Op. Hours + Op. Delay Hours + Standby Hours + Down Hours
 Non-Scheduled Time is included in Total Hours
 Total repairs only count the Unscheduled/Unplanned Down Time
 Total down hours count both Planned Down Hours and
Unplanned/Unscheduled down hours
Analisa
Equipment
Life Time
Lakukan Rebuild
Ya
Lanjutkan penggunaan equipment
hingga mencapai kondisi Run To
Destruction(RTD)
Keputusan untuk
Scrap Equipment
Apakah perlu
Rebuild
Lakukan Replace
Equipment
Apakah perlu
Replace
Lakukan proses
Scrap
Ya
Tidak
Tidak
Keterangan
 Untuk replace
equipment, Chief
Planner harus
berkoordinasi
dengan User (dari
equipment) untuk
menetukan
spesifikasi
equipment
pengganti.
Gambar 2. 4 Bagan Alir Proses Analisa Tindakan Terhadap Equipment
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
16
2.2.2 PA(Physical Availability)
 
 
 
Total Hours - Down Hours
Formula PA= ×100%
Total Hours
Keterangan
 Total Hours = Op. Hours + Op. Delay Hours + Standby Hours + Down Hours
 Non-Scheduled Time is included in Total Hours
 Total repairs only count the Unscheduled/Unplanned Down Time
 Total down hours count both Planned Down Hours and Unplanned/
Unscheduled down hours
2.2.3 Down Time Category (Maintenance Planning Standard Team PT
Freeport Indonesia, 2009)
Dalam sistem penjadwalan maintenance, perlu diamati kategori-
kategori kerusakan berdasarkan waktu. Untuk menentukan kategori waktu
kerusakan digunakan down time category, seperti gambar 2.5.
Underground area dan Grasberg Surface
Calendar Time(CT)
Scheduled Time(ST)
Extended
Loss(EL)
Available Time(AT)
Unplanned
Down(UD)
Planned
Down(PD)
Utilized Time(UT)
*Standby
(SB)
Productive Time
(PT)
Operating Delay(OD)
Delay-In Cycle
(DC)
*Delay-Non
Cycle (DN)
Spot/Load/
Haul/Dump
Queue Truck
Spot/Dig/Swing Hang Idle
Shovel
MARC
Down(CL)
Owner
Down(OL)
Contractor
/Owner
Responsibil
ities
*Ready Time(RT)
(PT+DC)
*Denotes: Status event table
Gambar 2. 5 Down Time Category
KPI Metrics
Productivity = TONNES/PT(t/hr)
Availibility = AT/ST(%)
MARC Availability = (AT+OL)/ST(%)
MARC Hours = (AT+OL)
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
17
Utilization = UT/ST(%)
Operating Efficiency = PT/UT(%)
Use of Availability = UT/AT(%)
Capacity = RT ×Productivity(t)
Use of Capacity = PT/RT(%)
Idle Time = OD
For Trucks: (Dumps Table) Ready time should=Spot+Load+Haul+Dump+Queue
Calendar Time : Total hours in time period under consideration (8769
hrs/yr, excluding leap year)
Extended Loss : Typically extraordinary events whos effect must be
removed from KPI metrics (eg.,stranded equipment, long
duration refurbishments programs). Events charged to this
category must be authorized by the manager of mine
technical support.
Planned Loss : Scheduled maintenance DOWN events that are planned at
least 24 hrs in advance.
Unplanned Loss : DOWN events during which equiment does not operate
because it requires reactive maintenance.
Standby : Equipment is fit for duty(available) but is not utilized due
to either external or internal issues. These are typically
longer duration disruptions (>20 min) and represent
resource scheduling opportunities.
Operating Delay : Operator influenced UP events when is equipment is being
utilized but is not producing. These are typically short-
duration (<10 min) disruptions and represent efficiency
opportunities.
Productive Time : Time when equipment id in productive mining operation
under operator control.
Ready Time : Total time available for productive mining. This time
Laporan Kerja Praktek
PT. Freeport Indonesia
Rahim Isnan Al Hilman
BP. 0910912024
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas
18
category is equal to productive time plus in cycle
delays(queue or hang)