You are on page 1of 2

Intinya

Selama nyeri berlangsung, dilepaskan berbagai mediator inflamasi: serotonin, histamine,
prostaglandin. Kemudian dapat menyebabkan nyeri secara langsung dengan mengaktifkan
sensitifitas reseptor nyeri. Jalur pengiriman sinyal nyeri bermula dari neuron trigeminal
yang menghasilkan sinyal nosiseptor pada akson dari pulpa dan menghantarkan ke SSP
dalam bentuk potensial aksi.

Fast pain atau nyeri cepat memiliki nama lain seperti nyeri tajam (sharp pain) tetapi sering
disebut sebagai nyeri akut. Nyeri ini lebih berhubungan dengan trauma atau penyakit.
Nyeri akut adalah sensasi yang tidak menyenangkan, berkaitan dengan pengalaman emosional
menyusul adanya kerusakan jaringan yang nyata, yang diperparah oleh sensitisasi system saraf
perifer maupun system saraf sentral. Intensitas nyeri berubah sesuai dengan proses peradangan ,
proses penyembuhan, trauma dan gerakan. Nyeri per definisi bersifat subyektif namun pada nyeri
akut terdapat proses faali yang mendasari, yang bersifat nyata, melibatkan system saraf sensorik
maupun saraf otonom, sirkulasi kotekolamin dan hormone maupun respon inflamasi itu sendiri.
Contoh nyeri akut: Proses persalinan, Nyeri kepala akut, Nyeri menstruasi, Nyeri gigi.
Sensasi nyeri yang dirasakan berbeda-beda tergantung jaringan apa yang mengalami kerusakan
dan seberapa luas cedera atau kerusakannya. Nyeri timbul akibat adanya rangsangan pada
reseptor nyeri yang kemudian diubah menjadi potensial aksi yang dihantarkan ke sentral melalui
beberapa saluran saraf. Rangkaian proses yang menyertai antara kerusakan jaringan (sebagai
sumber stimuli nyeri) sampai dirasakannya persepsi nyeri adalah proses elektro-fisiologik, yang
disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang terjadi mengikuti suatu proses
elektrofisiologik nosisepsi, yakni:
1. Transduksi (transduction), merupakan proses stimuli nyeri (noxious stimuli) yang
diterjemahkan atau diubah menjadi aktivitas listrik/potensial aksi pada ujung-ujung saraf.
Deteksi stimulasi nyeri memerlukan aktivasi organ sensorik perifer yang peka nyeri atau
nosiseptor. Nosiseptor tersebar luar di tubuh (kulit, otot, sendi, viscera, meninges) yang
merupakan ujung-ujung bebas serat saraf aferen A-delta dan C. Nosiseptor ini akan
diaktifkan oleh rangsangan dengan intensitas tinggi semisal rangsang termal, mekanik,
elektrik dan kimiawi maupun oleh zat-zat algesik (zat yang bisa merangsang reseptor
nyeri) seperti ion K, H, asam laktat, glutamate,serotonin, bradikinin,ATP, histamine ,
prostasiklin dan prostaglandin.
2. Transmisi (transmission), merupakan proses penyaluran impuls melalui saraf sensoris
menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A-delta dan
serabut C sebagai neuron pertama dari perifer ke medulla spinalis.
3. Modulasi (modulation) adalah proses interaksi antara system analgesic endogen dengan
impuls nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. System analgesic endogen
meliputi enkefalin, endorphin, serotonin dan noradrenalin yang mempunyai efek
menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis.dengan demikian kornu
posterior diibaratkan sebagai pintu gerbang nyeri yang bisa tertutup atau terbuka untuk
menyalurkan impuls nyeri. Dimana proses tertutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut
diperankan oleh system analgesic endogen tersebut.
4. Persepsi (perception) adalah hasil akhir dari proses interaksi kompleks dan unik yang
dimulaidari proses transduksi, transmisi dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan
suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri. Persepsi nyeri sangat
dipengaruhi oleh factor psikologis seperti persepsiorang dalam mengartikan nyeri,
perhatian, status emosional dan factor somatic seperti berat ringannya kerusakan jaringan.
Pasien yang menjalani tindakan operasi, cedera, persalinan dan sakit yang akut mengalami nyeri
yang disebabkan oleh kerusakan berbagai macam jaringan.
Mekanisme nyeri akut memiliki ciri khas dimana pada nyeri akut, berkaitan dengan adanya
kerusakan jaringan yang nyata, yang diperparah oleh sensitisasi system saraf perifer maupun
system saraf sentral. Intensitas nyeri berubah sesuai dengan proses peradangan , proses
penyembuhan, trauma dan gerakan.

Mediator aktivasi nosiseptor dan sensitisasi pada jaringan yang mengalami cedera akut
Prostaglandin dikeluarkan oleh jaringan yang cedera merangsang nosiseptor, demikian pula
mediator lain misalnya nerve growth factor yang meningkat selama insisi jaringan juga
mengaktivasi dan mensensitisasi nosiseptor.
Factor-faktor lain yang berperan dalan nyeri akut adalah keasaman, interleukin, sitokin dan
cedera langsung pada saraf juga mengaktivasi nyeri.

Efek mediator-mediator nyeri dapat lebih jelas terlihat pada jaringan yang mengalami inflamasi;
prostaglandin dihasilkan oleh jaringan yang cedera menimbulkan aktivasi dan sensitisasi
nosiseptor (timbullah nyeri / “dolor”); nosiseptor kemudian mengeluarkan substansi P , yang
menimbulkan dilatasi pembuluh darah dan meningkatkan pengeluaran mediator inflamasi lain
seperti bradikinin (jaringan menjadi kemerahan / “rubor” dan panas / “kalor”); substansi P juga
meningkatkan degradasi sel mast yang kemudian mengeluarkan histamine (terjadilah pemben
gkakan / “oedema”).