You are on page 1of 26

Endometriosis

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Endometriosis merupakan penyakit yang hanya diderita kaum perempuan.
Prevalensi endometriosis cenderung meningkat setiap tahun, walaupun data
pastinya belum dapat diketahui. Angka kejadian di Indonesia belum dapat
diperkirakan karena belum ada studi epidemiologik, tapi dari data temuan di
rumah sakit, angkanya berkisar 13,6 - 69,5% pada kelompok infertilitas.
Bila persentase tersebut dikaitkan dengan jumlah penduduk sekarang, maka di
negeri ini akan ditemukan sekitar 13 juta penderita endometriosis pada wanita
usia produktif.
Penyebab endometriosis dapat disebabkan oleh kelainan genetik,
gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel endometrium melekat dan
berkembang, serta pengaruh – pengaruh dari lingkungan. Sumber lain
menyebutkan bahwa pestisida dalam makanan dapat menyebabkan
ketidakseimbangan hormon. Faktor-faktor lingkungan seperti pemakaian wadah
plastik, micro wave, dan alat memasak dengan jenis tertentu dapat
menjadi penyebab endometriosis.
Penyakit endometriosis umumnya muncul pada usia reproduktif. Angka
kejadian endometriosis mencapai 5-10% pada wanita umumnya dan lebih dari
50% terjadi pada wanita perimenopause. Gejala endometriosis sangat
tergantung pada letak sel endometrium ini berpindah.
Yang paling menonjol adalah adanya nyeri pada panggul, sehingga
hampir 71 - 87 % kasus didiagnosa akibat keluhan nyeri kronis
hebat pada saat haid, dan hanya 38 % yang muncul akibat keluhan infertil
(mandul). Tetapi juga yang melaporkan pernah terjadi pada masa menopause dan
bahkan ada yang melaporkan terjadi pada 40% pasien histerektromi
(pengangkatan rahim). Selain itu juga 10% endometriosis ini dapat muncul pada
mereka yang mempunyai riwayat endometriosis dalam keluarganya.

Endometriosis
2


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ANATOMI UTERUS
Uterus berbentuk seperti buah avocado atau buah peer yang sedikit gepeng
kearah muka belakang, ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga.
Dindingnya terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 7 – 7,5 cm,
lebar di atas 5, 25 cm, tebal 2,5 cm dan tebal dinding uterus adalah 1,25 cm.
Bentuk dan ukuran uterus sangat berbeda-beda, tergantung pada usia dan pernah
melahirkan anak atau belumnya. Terletak di rongga pelvis antara kandung kemih
dan rectum. Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah anteversio fleksio
(serviks ke depan dan membentuk sudut dengan serviks uteri).Bagian – bagian
uterus terdiri atas :
1. Fundus uteri, adalah bagain uterus proksimal di atas muara tuba uterina
yang mirip dengan kubah , di bagian ini tuba Falloppii masuk ke uterus.
Fundus uteri ini biasanya diperlukan untuk mengetahui usia / lamanya
kehamilan
2. Korpus uteri, adalah bagian uterus yang utama dan terbesar. Korpus uteri
menyempit di bgaian inferior dekat ostium internum dan berlanjut sebagai
serviks. Pada kehamilan, bagian ini mempunyai fungsi utama sebagai
tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat di korpus uteri disebut
kavum uteri ( rongga rahim ).
3. Serviks uteri, serviks menonjol ke dalam vagina melalui dinding
anteriornya, dan bermuara ke dalamnya berupa ostium eksternum. Serviks
uteri terdiri dari :
 Pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio
 Pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada
di atas vagina. Saluran yang terdapat pada serviks disebut kanalis

Endometriosis
3
servikal berbentuk sebagai saluran lonjong dengan panjang 2,5 cm.
saluran ini dilapisi oleh kelenjar – kelenjar serviks, berbentuk sel –
sel torak bersilia dan berfungsi sebagai reseptakulum reminis.
Pintu saluran serviks sebelah dalam disebut ostium uteri internum
dan pintu di vagina disebut ostium uteri eksternum.
Secara histologis, dinding uterus terdiri atas :
a. Endometrium (selaput lendir) di korpus uteri
Endometrium terdiri atas epitel pubik, kelenjar – kelenjar dan
jaringan dengan banyak pembuluh darah. Endometrium terdiri atas epitel
selapis silindris, banyak kelenjar tubuler bersekresi lendir. Dua pertiga
bagian atas kanal servikal dilapisi selaput lendir dan sepertiga bawah
dilapisi epitel berlapis gepeng, menyatu dengan epitel vagina.
Endometrium melapisi seluruh kavum uteri dan mempunyai arti
penting dalam siklus haid. Endometrium merupakan bagian dalam dari
korpus uteri yang membatasi cavum uteri. Pada endometrium terdapat
lubang – lubang kecil yang merupakan muara – muar dari saluran –
saluran kelenjar uterus yang dapat menghasilkan secret alkalis yang
membasahi cavum uteri. Epitel endometrium berbentuk seperti silindris.
b. Myometrium / Otot – otot polos
Lapisan otot polos di sebelah dalam berbentuk sirkuler dan di
sebelah luar berbentuk longitudinal. Di antara kedua lapisan itu terdapat
lapisan otot oblik, berbentuk anyaman, lapisan ini paling kuat dan
menjepit pembuluh – pembuluh darah yang berada di sana. Myometrium
merupakan bagian yang paling tebal. Terdiri dari otot polos yang disusun
sedemikian rupa hingga dapat mendorong isinya keluar saat persalinan. Di
antara serabut – serabut otot terdapat pembuluh – pembuluh darah,
pembuluh lympa dan saraf.
Otot uterus terdiri dari 3 bagain :
 Lapisan luar, yaitu lapisan seperti kap melengkung melalui
fundus menuju kearah ligamenta

Endometriosis
4
 Lapisan dalam, merupakan serabut – serabut otot yang
berfungsi sebagai sfingter dan terletak pada ostium
internum tubae dan orificium uteri internum
 Lapisan tengah, terletak antara ke dua lapisan di atas,
merupakan anyaman serabut otot yang tebal ditembus oleh
pembuluh – pembuluh darah. Jadi, dinding uterus terutama
dibentuk oleh lapisan tengah ini.
c. Perimetrium, yakni lapisan serosa
Terdiri atas peritoneum viserale yang meliputi dinding uterus
bagian luar. Ke anterior peritoneum menutupi fundus dan korpus,
kemudian membalik ke atas permukaan kandung kemih. Lipatan
peritoneum ini membentuk kantung vesiko uterina. Ke posterior,
peritoneum menutupi menutupi fundus, korpus dan serviks, kemudian
melipat pada rektum dan membentuk kantung rekto – uterina. Ke lateral,
hanya fundus yang ditutupi karena peritoneum membentuk lipatan ganda
dengan tuba uterina pada batas atas yang bebas. Lipatan ganda ini adalah
ligamentum latum yang melekatkan uterus pada sisi pelvis.
2.2 Siklus endometrium
 Fase proliferasi
Segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam
stadium istirahat. Stadium ini berlangsung kira – kira 5 hari. Kadar
estrogen yang meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang
stroma endometrium untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar – kelenjar
menjadi hipertrofi dan berproloferasi, dan pembuluh darah menjadi
banyak sekali. Kelenjar – kelenjar dan stroma berkembang sama cepatnya.
Kelenjar semakin bertambah panjang tetapi tetap lurus dan berbentuk
tubulus. Epitel kelenjar berbentuk toraks dengan sitoplasma eosinofilik
yang seragam dengan inti di tengah. Stroma cukup padat pada lapisan
basal tetapi makin ke permukaan semakin longgar. Pembuluh darah akan
berbentuk spiral dan lebih kecil. Lamanya fase proliferasi sangat berbeda –
beda pada setiap orang, dan berakhir pada saat terjadinya ovulasi.

Endometriosis
5
 Fase sekresi
Setelah ovulasi, di bawah pengaruh progesteron yang meningkat dan terus
diproduksinya estrogen oleh korpus luteum, endometrium menebal dan
menjadi seperti berundu. Kelenjar menjadi lebih besar dan berkelok –
kelok, dan epitel kelenjar menjadi berlipat – lipat, sehingga memberikan
gambaran seperti “gigi gergaji”. Inti sel bergerak ke bawah, dan
permukaan epitel tampak kusut. Stroma menjadi adematosa. Terjadi pula
infiltrasi leukosit yang banyak, dan pembuluh darah menjadi semakin
berbentuk spiral dan melebar. Lamanya fase sekresi sama pada setiap
perempuan, yaitu 14±2 hari.
 Fase mentrusai
Korpus luteum brefungsi sampai kira – kira hari ke 23 atau 24 pada siklus
28 hari, kemudian mulai beregresi. Akibatnya terjadi penurunan
progesteron dan estrogen yang tajam sehingga menghilangkan perangsang
pada endometrium. Perubahan iskemik terjadi pada ateriola dan diikuti
dengan menstruasi.
2.3 DEFINISI
Endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang
masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas
kelenjar – kelenjar dan stroma, terdapat di dalam miometrium atau pun di luar
uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut
adenomiosis, dan bila di luar uterus disebut endometriosis. Pada endometriosis
jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium.
Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan mirip dengan
dinding rahim (endometrium) ditemukan di tempat lain dalam tubuh.
Endometriosis juga dapat berupa suatu keadaan dimana jaringan endometrium
yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri dan diluar miometrium.
Definisi lain tentang endometriosis yaitu terdapatnya kelenjar – kelenjar
dan stroma endometrium pada tempat – tempat diluar rongga rahim. Implantasi
endometriosis bisa terdapat pada ovarium, ligamen latum, Cavum Douglas, tuba
falopii, vagina, serviks, paru-paru, dan kelenjar – kelenjar limfa.


Endometriosis
6
Daerah yang paling sering terkena adalah organ pelvis dan peritoneum,
walaupun organ lain seperti paru – paru juga ikut terkena meskipun jarang.
Penyakit ini berkembang dari lesi yang kecil dan sedikit pada organ pelvis yang
normal kemudian menjadi massa keras infiltrat dan kista endometriosis ovarium
(endometrioma). Perlangsungan endometriosis sering disertai pembentukan
fibrosis dan perlekatan luas menyebabkan gangguan anatomi pelvis.
2.4 EPIDEMIOLOGI

Gambar 1. Lokasi anatomis implantasi endometriosis yang ditemukan melalui laparaskopi

Endometriosis merupakan salah satu masalah kesehatan pada wanita yang
cukup penting. Endometriosis diperkirakan terjadi sebanyak 3-10% pada wanita
usia reproduktif (usia15-44 tahun), 25-35% pada wanita infertil, 1-2% pada
wanita yang menjalani sterilisasi, 10% pada operasi histerektomi, 16-31% pada
laparoskopi, dan 53% terjadi pada wanita dengan nyeri pelvis berat yang
memerlukan evaluasi pembedahan.

Endometriosis
7
Evaluasi lengkap penilaian endometriosis dilakukan searah jarum jam atau
berlawanan arah jarum jam. Saat melakukan pemeriksaan panggul, perhatikan
penomoran, ukuran, lokasi implantasi endometriosis, plak, endometrioma,
dan/atau perlekatan. Misalnya, terdapat 5 implantasi superfisial peritoneum
berukuran 0,5 cm (total 2,5 cm) maka penilaiannya adalah 2.

Endometriosis paling sering terjadi pada usia reproduksi. Insidensi yang
pasti belum diketahui, namun prevalensinya pada kelompok tertentu cukup tinggi.
Misalnya, pada wanita yang dilakukan laparaskopi diagnostik, ditemukan
endometriosis sebanyak 0-53%; pada kelompok wanita dengan infertilitas yang
belum diketahui penyebabnya ditemukan endometriosis sebanyak 70-80%;
sedangkan pada wanita dengan infertilitas sekunder ditemukan endometriosis
sebanyak 25%. Diperkirakan prevalensi endometriosis akan terus meningkat dari
tahun ketahun. Meskipun endometriosis dikatakan penyakit wanita usia
reproduksi, namun telah ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan
pasca menopause. Oleh karena itu, untuk setiap nyeri haid baik pada usia remaja,
maupun pada usia menopause perlu dipikirkan adanya endometriosis.
Endometriosis selama kurang lebih 30 tahun terakhir ini menunjukkan
angka kejadian yang meningkat. Angka kejadian antara 5-15% dapat ditemukan di
semua operasi pelvik. Endometriosis jarang didapatkan pada orang-orang negro,
dan lebih sering didapatkan pada wanita-wanita yang berasal dari golongan sosio-
ekonomi yang kuat. Yang menarik perhatian adalah bahwa endometriosis lebih
sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak
mempunyai banyak anak. Ternyata fungsi ovarium secara siklis yang terus
menerus tanpa diselingi kehamilan, memegang peranan penting di dalam
terjadinya endometriosis.
 Lokasi anatomis
Endometriosis dapat tumbuh dimana saja di dalam pelvis dan pada
permukaan peritoneum ekstrapelvis lainnya. Ovarium, peritoneum pelvis, cul-de-
sac anterior dan posterior, dan ligamen uterosakral merupakan area yang paling
sering terlibat pada kasus endometriosis . Selain beberapa area tersebut, septum
retktovaginal, ureter, kandung kemih, perikardium, bekas luka bedah, dan pleura

Endometriosis
8
juga dapat menjadi lokasi endometriosis. Sebuah studi mengungkapkan bahwa
endometriosis telah ditemukan pada seluruh organ, kecuali pada limpa (Markham,
1998). Beberapa lokasi anatomis endometriosis adalah:
a) Endometriosis uteri interna ( Adenomiosis uteri)
Adenomiosis dikarakteristik dengan ditemukannya jaringan endometriosis
tumbuh ke lapisan otot yang lebih dalam di uterus (miometrium). Adenomiosis
terdiri dari adeno ( kelenjar), mio (otot) dan osis (suatu kondisi) yang secara jelas
didefinisikan sebagai adanya atau tumbuhnya kelenjar (endometrium) di lapisan
otot (miometrium). Pada keadaan normal, terdapat lapisan pembatas antara antara
endometrium dan miometrium yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap invasi
dari jaringan endometrium.
Sekalipun belum ada patogenesis pasti dari adenomiosis, namun para
peneliti berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh lemahnya lapisan otot
pembatas pada wanita yang menderita adenomiosis dan juga dipicu oleh
meningkatnya tekanan intra uterin antara kedua sisi. Ditemukannya konsentrasi
estrogen yang cukup tinggi dan adanya sistem imun yang terganggu pada
penderita adenomiosis juga dianggap menjadi mekanisme penting dalam
terjadinya adenomiosis. Rahim yang membesar dan lunak merupakan gejala
klasik dari adenomiosis.
Tidak seperti endometriosis, beberapa peneliti percaya bahwa adenomiosis
dapat terjadi setelah kehamilan dan melahirkan, wanita berusia empat puluhan dan
lima puluhan yang telah melahirkan paling tidak satu anak lebih mungkin untuk
mengembangkan adenomiosis. Faktor genetik dan hormon dipercaya menjadi
beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya adenomiosis. Adenomiosis
merupakan kelainan patologis yang sering ditemukan pada wanita multipara usia
40 – 50 tahun.

Endometriosis
9

Gambar 2 Adenomiosis
b) Endometriosis ovarium
Diduga terbentuk akibat invaginasi dari korteks ovarium setelah
penimbunan debris menstruasi dari perdarahan jaringan endometriosis. Pada
endometriosis yang terjadi di ovarium dapat terbentuk kista, namun kista yang
terbentuk disini bukan merupakkan kista sesungguhnya. Kista yang normal berisi
cairan dari lapisan sebuah struktur, sedangkan dinding dari kista endometriosis
terdiri dari jaringan fibrosa, jaringan inflamasi, dan endometrium tidak
menghasilkan cairan.
c) Endometriosis tuba
Saluran yang paling banyak mengalami endometriosis adalah saluran tuba
tertutup. Gejala yang paling sering didapatkan dari kasus ini adalah infertilitas.
Pada wanita yang mengalami endometriosis di tuba akan lebih rentan mengalami
kehamilan ektopik.
d) Endometriosis retroservikalis
Pada rechtal toucher sering ditemukan adanya benjolan yang nyeri pada
cavum douglas, benjolan – benjolan ini melekat dengan uterus dan rektum,
akibatnya terjadi dismenore, dispareuni, nyeri saat defekasi, serta nyeri pelvis.
e) Endometriosis ekstragenital

Endometriosis
10
Setiap anggota tubuh yang dikeluhkan mengalami nyeri setiap kali haid
perlu dicurigai mengalami endometriosis.

Gambar 3 Lokasi tersering terjadinya endometriosis
2.5 KLASIFIKASI
Penentuan klasifikasi dan stadium endometriosis sangat penting dilakukan
untuk menerapkan cara pengobatan yang tepat dan untuk evaluasi hasil
pengobatan. Stadium endometriosis tidak memiliki korelasi dengan derajat nyeri
keluhan pasien maupun prediksi respon terapi terhadap nyeri atau infertilitas
(Winkel, 2010). Hal ini dikarenakan endometriosis dapat dijumpai pada pasien
yang asimptomatik. Klasifikasi Endometriosis yang digunakan saat ini adalah
menurut American Society For Reproductive Medicine yang telah di revisi pada
tahun 1996 yang berbasis pada tipe, lokasi, tampilan, kedalaman invasi lesi,
penyebaran penyakit dan perlengketan.
Berdasarkan visualisasi rongga pelvis pada endometriosis, dilakukan
penilaian terhadap ukuran, lokasi dan kedalaman invasi, keterlibatan ovarium dan
densitas dari perlekatan. Dengan perhitungan ini didapatkan nilai – nilai dari
skoring yang kemudian jumlahnya berkaitan dengan derajat klasifikasi
endometriosis. Nilai 1-4 adalah minimal (stadium I), 5-15 adalah ringan (stadium

Endometriosis
11
II), 16-40 adalah sedang (stadium III) dan lebih dari 40 adalah berat (stadium IV).
Endometriosis dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan lokasi dan
tipe lesi,yaitu:
1) Peritoneal endometriosis
Lesi di peritoneum memiliki banyak vaskularisasi, sehingga menimbulkan
perdarahan saat menstruasi. Lesi yang aktif akan menyebabkan timbulnya
perdarahan kronik rekuren dan reaksi inflamasi sehinggga tumbuh jaringan
fibrosis dan sembuh. Lesi berwarna merah dapat berubah menjadi lesi berwarna
hitam tipikal dan setelah itu lesi akan berubah menjadi lesi putih yang memiliki
sedikit vaskularisasi dan akan ditemukan debris glandular.
2) Ovarian Endometrial Cysts (Endometrioma)
Pada endoemtriosis yang terjadi di ovarium, dapat timbul kista yang
berwarna coklat dan sering terjadi perlengketan dengan organ – organ lain,
kemudian membentuk konglomerasi. Kista endometrium dapat berukuran >3cm
dan multilokus, juga dapat tampak seperti kista coklat karena penimbunan darah
dandebris ke dalam rongga kista.
3) Deep Nodular Endometriosis
Pada endometriosis jenis ini, jaringan ektopik menginfiltrasi septum
rektovaginal atau struktur fibromuskuler pelvis seperti uterosakral dan
ligamentum utero-ovarium. Nodul-nodul dibentuk oleh hiperplasia otot polos dan
jaringan fibrosis di sekitar jaringan yang menginfiltrasi. Jaringan
endometriosisakan tertutup sebagai nodul, dan tidak ada perdarahan secara klinis
yang berhubungan dengan endometriosis nodular dalam. Ada banyak klasifikasi
stadium yang digunakan untuk mengelompokkan endometriosisdari ringan hingga
berat, dan yang paling sering digunakan adalah sistem American Fertility Society
(AFS) yang telah direvisi (Tabel 2.1). Klasifikasi ini menjelaskan tentang lokasi
dan kedalaman penyakit berikut jenis dan perluasan adhesi yang dibuat dalam
sistem skor. Berikut adalah skor yang digunakan untuk mengklasifikasikan
stadium:
 Skor 1-5: Stadium I (penyakit minimal)
 Skor 6-15: Stadium II (penyakit sedang)

Endometriosis
12
 Skor 16-40: Stadium III (penyakit berat)
 Skor >40: Stadium IV (penyakit sangat berat)

Tabel 1 American Society for Reproductive Medicine revised classification of endometriosis.
(Property of the American Society for Reproductive Medicine, 1996.)



Endometriosis
13


Gambar 4. American Society for Reproductive Medicine Revised Classification of Endometriosis



Endometriosis
14


2.6 ETIOLOGI
Penyebab endometriosis masih belum diketahui. Beberapa teori muncul
menyangkut faktor anatomis, imunologis, hormonal, dan genetik.
1. Menstruasi retrogad.
Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi)
melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Sudah dibuktikan bahwa dalam
darah haid didapati sel – sel endometrium yang masih hidup. Sel – sel
endometrium yang masih hidup ini kemudian dapat mengadakan
implantasi di pelvis.
Dapat berasal dari aliran menstruasi mundur dan implantasi, metaplasia,
predisposisi genetik, dan pengaruh lingkungan.
Orgasme saat menstruasi dapat menimbulkan aliranmenstruasi mundur
dan endometriosis dapat menurun ke wanita yang ibu atau saudara
perempuan menderita endometriosis karena terjadi penurunan imunitas
pada penderita endometriosis. Jaringan endometriosis dapat berada di
abdomen melewati tuba Falopii saat menstruasi. Transplantasi jaringan ini
tumbuh diluar uterus.
2. Faktor imunologis
Faktor imunologis spesifik yang berperan dalam implantasi endometriosis
seperti VEGF (vascular endothelial growth factor), MIF (migration
inhibitory factor), dan mediator radang (interleukin, TNF) diduga
mengalami peningkatan pada situs endometriosis. Endometriosis dapat
disebabkan adanya ganguan pada sistem imunitas,endometriosis juga
dapat menjadi kanker ovarium.
Menurut penelitian J.A. Hill tahun 1988 mendapatkan adanya kegagalan
dalam sistem peluruhan darah haid oleh makrofag dan fungsi sel NK yang
menurun pada endometriosis. Penurunan sistem imun ini yang kemudian

Endometriosis
15
diturunkan ke generasi berikutnya. Sehingga keturunan selanjutnya
memiliki resiko terkena endometriosis lebih besar.

3. Metaplasia selomik
Teori mengemukakan sel potensial pada ovarium dan peritoneum
bertransformasi menjadi lesi endometriosis akibat stimulasi hormon dan
paparan hormonal berulang. Robert Meyer mengemukakan bahwa
endometriosis terjadi karena ransangan pada sel-sel epitel berasal dari
selom yang dapat mempertahankan hidupnya di daerah pelvis. Ransangan
ini menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk
jaringan endometrium
4. Penyebaran limfatis
Sebuah studi menunjukkan dari otopsi bahwa sel endometriosis ditemukan
dalam kelenjar limfa pelvis pada 29% wanita. Hal ini dapat menjelaskan
mengapa endometriosis pernah ditemukan di daerah paru-paru.
Tumbuhnya jaringan endometrium dibagian tubuh yang lain selain uterus
melalui sistem peredaran darah atau sistem limfa.
5. Faktor genetik
Wanita yang memiliki riwayat keluarga menderita endometriosis berisiko
tujuh kali lipat menderita endometriosis. Belum ditemukan defek genetik
pada endometriosis.
6. Adanya hubungan antara beberapa senyawa dan endometriosis.
Senyawa Terkandung Sumber Zat
Dioksin Insinerator, pembakaran bahan plastik.dan
pembuatan produk kertas
Klorin Proses pemutih kertas
Kolesterol Makanan cepat saji dan daging ham
Kafein Teh, kopi dan coklat

Endometriosis
16
Tabel 2. Senyawa yang berpengaruh pada endometriosis
Dioksin adalah senyawa yang bersifat toksik yang berasal dari
pembuatan pestisida dan pembakaran sampah plastik. Dioksin yang
terbentuk selama pembakaran sampah, masuk ke udara bersama abu,
kemudian mengendap pada tanaman pangan, kemudian dikonsumsi oleh
ternak dan terakumulasi pada sel lemak dan muncul pada daging dan susu
yang akhirnya dikonsumsi manusia.
Sumber klorin dapat berasal dari proses industri yang
menggunakan klorin sebagai pemutihan kertas dari hasil daur ulang kertas.
Dampak klorin terhadap tubuh manusia sama dengan dioksin karena klorin
merupakan hasil samping dari pembentukan dioksin.
Daging ham dan makanan cepat saji mengandung kolesterol.
Mengkonsumsi daging ham dan makanan cepat saji dapat berdampak
pada jaringan endometrium di uterus dan di luar uterus dan dapat
menimbulkan nyeri saat menstruasi. Hal ini dikarenakan sel stroma pada
uterus menghasilkan estradiol yang diperoleh dari kolesterol yang
selanjutnya menghasilkan estrogen yang berpengaruh terhadap jaringan
endometrium.
Kafein dan kolesterol tidak dapat dijadikan sebagai penyebab
endometriosis karena kafein dan kolesterol mempengaruhi peningkatan
kadar estrogen, hal ini hanya memperparah kista endometriosis karena
jaringan endometrium yang ada diuterus maupun yang di luar uterus
mengalami penebalan sehingga menekan ke tempat perlekatannya. Saat
kadar estrogen menurun sel – sel ini tidak dapat keluar sehingga
menyebabkan nyeri dan perlekatan di tempat yang sama sehingga
menimbulkan lesi atau kista keriput dan berwarna cokelat atau biru
kehitaman yang menandakan pendarahan yang tidak dapat keluar.
Pembentukan ini disebut pseudokist.
2.7 FAKTOR RISIKO
Faktor risiko termasuk usia, peningkatan jumlah lemak tubuh perifer, dan
gangguan haid (polimenore, menoragi, dan berkurangnya paritas). Kebiasaan

Endometriosis
17
merokok, olahraga, dan penggunaan kontrasepsi oral dapat bersifat protektif.
Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa mengendalikan faktor risiko dapat
mencegah munculnya endometriosis. Faktor genetik berperan 6-9 kali lebih
banyak dengan riwayat keluarga terdekat menderita endometriosi.
Organ yang biasa terkena endometriosis adalah ovarium, organ tuba dan
salah satu atau kedua ligamentum sakrouterinum, Cavum Douglasi,
dan permukaan uterus bagian belakang dapat ditemukan satu atau beberapa
bintik sampai benjolan kecil yang berwarna kebiru-biruan.
2.8 GEJALA KLINIK
Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah.
1. Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan
selama haid(dismenore).
Dismenore pada endometriosis biasanya merupakan rasa nyeri waktu haid
yang semakin lama semakin menghebat. Sebab dari dismenore ini tidak diketahui,
tetapi mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam
sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. Nyeri tidak selalu
didapatkan pada endometriosis walaupun kelaina nsudah luas, sebaiknya kelainan
ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang keras.
2. Disparenunia.
Dispareunia yang merupakan gejala yang sering dijumpai, disebabkan oleh
karena adanya endometriosis dikavum Douglasi.
3. Nyeri waktu defekasi, khususnya pada waktu defekasi
Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid, disebabkan oleh
karena adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid. Kadang-kadang bisa
terjadi stenosis dari lumen usus besar tersebut. Endometriosis kandung kencing
jarang terdapat, gejala – gejalanya ialah gangguan miksi dan hematuria pada
waktu haid
4. Poli- dan hipermenore.
Siklus lebih pendek dari normal < 21 hari, darah lebih banyak atau lama
dari normal lebih dari 7 hari.
5. Infertilitas.

Endometriosis
18
Gangguan haid dan siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila
kelainan pada ovariumnya luas sehingga fungsi ovarium terganggu. Ada korelasi
yang nyata antara endometriosis dan infertilitas. 30-40 persen wanita dengan
endometriosis menderita infertilitas. Kemungkinan untuk hamil pada wanita
dengan endometriosis ialah kurang lebih setengah dari wanita biasa.
Faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis ialah
apabila mobilitas tubaterganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan di
sekitarnya. Pada pemeriksaan ginekologik,khususnya pada pemeriksaan vagino-
rekto-abdominal, ditemukan pada endometriosis ringan benda-benda padat
sebesar butir beras sampai butir jagung di kavum Douglasi dan padaligamentum
sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. Ovarium mula-
muladapat diraba sebagai tumor kecil, akan tetapi bisa membesar sampai sebesar
tinju. Tumor ovarium seringkali terdapat bilateral dan sukar digerakkan.
2.9 DIAGNOSIS
Diagnosis biasanya dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisis,
dipastikan dengan pemeriksaan laparoskopi. Kuldoskopi kurang bermanfaat
terutama jika kavum Douglasi ikut serta dalam endometriosis. Pada endometriosis
yang ditemukan pada lokasi seperti forniks vagina posterior, perineum, parut
laparotomi, dan sebagainya, biopsi dapat memberi kepastian mengenai diagnosis.
Pemeriksaan laboratorium pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas,
hanya apabila ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu haid yang
menjadi petunjuk tentang adanya endometriosis pada rektosigmoid atau kandung
kencing. Sigmoidoskopi dan sistoskopi dapat memperlihatkan tempat perdarahan
pada waktu haid. Pembuatan foto polos dengan memasukkan barium dalam kolon
dapat memberi gambaran filling defect pada rektosigmoid dengan batas-batas
yang jelas dan mukosa yang utuh. Laparoskopi merupakan pemeriksaan yang
sangat berguna untuk membedakan endometriosis dari kelainan – kelainan di
pelvis.

Visualisasi endometriosis diperlukan untuk memastikan diagnosis. Cara –
cara yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis adalah dengan melakukan

Endometriosis
19
pemeriksaan laparoskopi untuk melihat lesi. Diagnosa laparoskopi dilakukan
setiap hari dari siklus menstruasi dengan pasien dibawah pengaruh anestesia (obat
bius). Diagnostik endometriosis dibutuhkan untuk melihat keberadaan dari satu
atau lebih lesi kebiru – biruan atau hitam. Stadium endometriosis menurut revisi
klasifikasi dari American Fertility Society (R-AFS). Implantasi endometriosis
pada peritoneum atau ovarium nilainya ditentukan dari diameter dan kedalaman,
yang mana nilai perlekatan digunakan dalam lampiran catatan kepadatan dan
derajat. Total R-AFS nilai (implan dan perlekatan) berurutan dari 1-5, 6-15, 16-
40, dan 41-150 dapat disamakan dari minimal (stadium I), ringan (stadium
II),sedang (stadium III), dan berat (stadium IV) endometriosis.
2.10 PENGOBATAN
Bila diagnosis endometriosis sudah ditegakkan, pilihan terapi diambil
berdasarkan luasnya endometriosis dan kebutuhan pasien. Regimen pengobatan
oral dan pembedahan ditentukan berdasarkan usia, status fertilitas, beratnya
penyakit, pengobatan sebelumnya, biaya, risiko pengobatan, dan lama
pengobatan. Tujuan dari pengobatan ini adalah:
 Apa yang diobati (penyakit, gejala, atau keduanya)?
 Mengapa diberikan terapi?
 Alasan memberikan terapi: mengembalikan fertilitas, meredakan nyeri
sebagai alternatif pembedahan, meredakan nyeri sambil menunggu
pembedahan, profilaksis mencegah rekurensi penyakit.
1. Obeservasi dan Tindakan Paliatif
Observasi dapat di lakukan pada sebagian pasien (misalnya pada penyakit
yang minimal atau mendekati menopause) tetapi harus di ketahui pada
pemeriksaan fisik saja tidak mungkin mengenali adanya penyakit yang sangat
nyata sekalipun. Tetapi analgetik murni bersifat paliatif, tanpa memandang zat
yang digunakan, tetapi mungkin berguna bila dikombinasi dengan terapi lain.
Kehamilan semula dinyatakan merupakan terapi kuratif untuk
endometriosis, tetapi hal ini tidak benar. Sebaliknya ukuran endometrioma dapat
dengan cepat bertambah besar selama trimester pertama kehamilan tetapi biasanya

Endometriosis
20
berkurang selama trimester ketiga. Ruptur endometrioma pernah di laporkan dapat
terjadi setiap saat selama kehamilan. Begitu menstruasi terjadi setelah masa nifas,
endometriosis akan melanjutkan perkembangannya.
2. Terapi Endokrin
a) Danazol
Penatalaksanaan medis endometriosis yang paling lazim adalah
danazol (17-alfa-etiniltestosteron). Namun obat ini dapat berubah dengan
adanya GnRH. Danazol adalah androgenik dan anabolik ringan tetapi juga
berikatan dengan reserptor androgen, reseptor progesteron dan globulin
peningkat hormon seks. Hal ini menyebabkan peningkatan testosteron
bebas tiga kali lipat. Akibatnya adalah atrofi endometrium yang terlihat
jelas (baik dalam uterus maupun dalam lesi). Amenore dan inhibisi ovulasi
terjadi dalam waktu 4-6 minggu pengobatan. Sayangnya, karena
perubahan klinis ini, efek keseluruhan yang timbul secara keliru disebut
pseudomenopause. Keadaan klinis yang dipicu oleh danazol, meski
hipoestrogenik dan hipoprogestasional, lebih menyerupai keadaan klinis
yang dipicu oleh androgen. Menghilangkan sebagian besar perubahan
fisiologis pada menopause.
Dosis danazol untuk menekan endometriosis adalah 400-800
mg/hari selama 6-9 bulan. Untuk terapi >6bulan, kadar enzim hati dalam
serum harus diperiksa. Danazol dapat dimulai dari hari kelima setelah
menstrusi. Selama bulan pertama, kontrasepsi penghalang harus
digunakan, karena danazol dapat menyebabkan maskulinisasi pada janin
perempuan jika terjadi kehamilan. Keberhasilan pengobatan paling jelas
jika diameter endometrium <2cm. Setelah satu rangkaian terapi lengkap,
90% pasien membaik secara obyektif dan 75% melaporkan perbaikan
gejala. Namun 15%-30% mengalami kekambuhan gejala dalam waktu <2
tahun. Angka fertilisasi membaik sampai 40% (belum dikoreksi).
Danazol mahal harganya, dan 80% pasien mengalami efek
samping (10%-20% cukup berat sehingga harus menghentikan
pengobatan). Efek samping yang paling umum adalah jerawat (>15%),

Endometriosis
21
rasa panas kemerahan (15%), perdarahan bercak uterus (10%), gangguan
saluran cerna (8%), hirsutisme (6%), edema (6%), penuruna ukuran
payudara (5%), penambahan beratt badan (8-10 pon pada 5% kasus) dan
perubahan libido (3%-5%). Efek samping yang lebih jarang adalah kram
otot (4%), perubahan suara (3%), vaginitis atrofi (3%) dan sakit kepala
migren (2%). Meskipun lebih sulit di ukur, emosi yang labir dan depresi
dapat juga terjadi.
b) Agonis Hormon Pelepas Gonadotropin (GnRH)
Melalui ikatan dengan reseptor LHRH dalam waktu yang relatif
lama, analog GnRH akan menekan aksis hipofisis-ovarium, meyebabkan
kadar FSH dan LH yang rendah halnya dengan kadar estrogen dan
progesteron pada rentang menopause. Keadaan ini emnyebabkan atrofi
endometrium. Pemberian agonis GnRh biasanya secara subcutan ata
intranasal. Secara obyektif, pengobatan ini efektif (85%) mengurangi
endometriosis. Ovulasi terjadi cukup cepat (45 hari) setelah penghentian
pengobatan. Meskipun penggunaannya secara umum baru saja dimulai,
tampaknya efek samping yang timbul lebih sedikit dan dapat ditoleransi
dengan lebih baik dibanding danazol.
c) Terapi Estrogen-Progestrogen dan Progesteron
Sementara hormon siklik dapat memicu pertumbuhan
endometrium, pemberian estrogen-progestogen atau progestogen saja
secara terus menerus akan menekan pola pertumbuhan. Karena itu
pemeberian regimen estrogen dan progestin, kontrasepsi oral atay
progesteron, secra konstan (setiap hari), semuanya akn menyebabkan
atrofin endometrio. Kontrasepsi oral kombinasi estrogen rendah dengan
aktivitas progestin tinggi yang paling sering digunakan dalam pengobatan
endometriosis adalah 1 tablet setiap hari, di mulai pada hari ketiga
menstruasi. Ji8ka terjadi keadaan ini, menaikkan dosis dua kali lipat
umunya akan meringankan pendarahan menstruasi dan setelah 5 hari
penambahan dosis , dapat kembali menjadi 1-2 pil setiap hari. Dapat
dilanjutkan selam 6-9 bulan.

Endometriosis
22
Pada awalnya (6bulan pertama) dapat terjadi eksaserbasi ringan
gejala klinis dan bahkan terdapat resiko terjadi ruptur endometrioma. Efek
samping berupa mual, nyeri tekan payudara, penambahan berat badan,
kloasma, defresi, edema dan kadang – kadang hipertensi. Selain itu, dapat
digunakan medroksiprogesteron (100mg IM setiap 2 minggu sebanyak 4
dosis, kemudian 200mg setiap bulan sebanyak 4 dosis).
Medroksiprogesteron dapat digunakan pada wanita lebih tua yang sudah
punya cukup anak, tetapi program ini harus dihindari untuk wanita yang
masih ingin hamil karena adanya waktu interval yang lama dan sangat
bervariasi sebelum dapat terjadi ovulasi lagi (jarang dalam waktu 1 tahun).
Breakthrough bleeding merupakan efek samping yang paling sering
terjadi, tetapi ada perubahan mood yang tidak menyenangkan dapat
menyebabkan pasien menghentikan pengobatan. Dewasa ini terapi – terapi
tersebut ditujukan untuk pasien endometriosis ringan yang tidak
menginginkan fertilisasi dalam waktu dekat dan tidak cocok dengan jenis
pengobatan lain. Regimen ini kurang efektif (secara obyektif maupun
subyektif) dibanding danazol dan menyebabkan pengehentian pengobatan
yang lebih besar pada pasien (sepertiga) karena efek samping yang terjadi.
Angka kehamilan yang belum dioreksi (30%).
Dewasa ini androgen (metiltestosteron), estradiol dan gatrinon
jarang di gunakan untuk mengobati endometriosis.
3. Terapi konservatif
Implantasi endometriosis memiliki sifat dan reaksi yang sama dengan
endometrium terutama dalam produksi estrogen. Terapi konservatif bertujuan
menekan stimulasi estrogen ovarium dengan memotong jalur hipotalamus-
hipofisis – ovarium. Inhibisi ovulasi dengan gonadotropin melalui siklus seks
steroid dapat menghalangi pembentukan endometriosis.
a. Inhibisi aromatase
Anastrozole 1 mg atau Letrozole 2,5 md setiap hari merupakan
generasi ketiga inhibitor aromatase yang berperan menghambat
perubahan androgen menjadi estrogen sebanyak 50%. Efek samping

Endometriosis
23
obat ini adalah penurunan densitas tulang, namun hal ini dapat
dicegah dengan konsumsi vitamin D dan kalsium.
b. Kontrol nyeri.
Obat anti inflamasi non steroid (NSAID) menghambat prostaglandin
yang dikeluarkanoleh endometriosis. NSAID merupakan obat lini
pertama yang digunakan ketika diagnosa endometriosis belum
ditegakkan.
2. Terapi bedah
Terapi konservatif merupakan modalitas untuk pasien yang hanya ingin
meredakan nyeriatau meredakan nyeri dengan kondisi fertil. Bagi pasien yang
infertil, atau pasien yang tidak berespon dengan terapi konservatif, terapi bedah
merupakan pilihan. Pembedahan terbagiatas terapi bedah definitif dan koservatif.
a. Terapi bedah definitif meliputi histerektomi total dengan salfingo-
ooferektomi bilateral. Setelah pembedahan definitive dilakukan,
pasien diberikan terapi sulih hormone (Hormone Replacement
Theraphy).
b. Terapi bedah konservatif bertujuan untuk mengembalikan posisi
anatomi panggul dan mengangkat semua lesi endometriosis yang
terlihat.
2.11 KOMPLIKASI
Bila implantasi terjadi di usus atau ureter dapat mengakibatkan obstruksi
dan gangguan fungsi ginjal. Distorsi pelvis mengakibatkan gangguan fertilitas,
penggunaan kontrasepsi oral berakibat troboembolisme dan efek hipoetrogen
GnRH analog jangka panjang mengakibatkan osteoporosis.

Komplikasi dari endometriosis sering berhubungan dengan adanya fibrosis
dan jaringan parut yang tidak hanya berefek pada organ yang terkena, namun juga
dapat menyebabkan obstruksi kolon dan ureteri. Ruptur dari endemetrioma dan
juga dihasilkannya zat berwarna coklat yang sangat iritan juga dapat
menyebabkan peritonitis. Meskipun jarang, lesi endometrium dapat berubah

Endometriosis
24
menjadi malignan dan paling sering terjadi pada kasus endometriosis yang
berlokasi di ovarium.

2.12 PENCEGAHAN
Meigs berpendapat bahwa kehamilan adalah cara pencegahan paling baik
untuk endometriosis. Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang
pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-
sarang endometriosis. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda
terlalu lama, dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan supaya mendapat
anak-anak yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.Sikap demikian
itu tidak hanya merupakan profilaksis yang baik terhadap endometriosis,
melainkan menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul.
Selain itu jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan
sewaktu haid, oleh karena hal itudapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari
uterus ke tuba dan ke rongga panggul.

Pada kasus endometriosis, salah satu yang terpenting adalah penderita
harus diberikan konseling dan pengertian tentang penyakit yang dideritanya
secara tepat. Pasien harus diberi pengertian bahwa pengobatan yang diberikan
belum tentu dapat menyembuhkan. Operasi definitif tidak dapat memberikan
kesembuhan total, sekalipun resiko kambuh sangat rendah resikonya ( 3 %).
Resiko kekambuhan lebih rendah dengan diberikannya terapi sulih hormon
estrogen. Setelah dilakukan operasi konservatif, tingkat kekambuhan yang
dilaporkan sangat bervariasi. Jumlah kasus yang terjadi rata - rata melebihi 10%
dalam tiga tahun dan 35 % dalam lima tahun.







Endometriosis
25





BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan mirip dengan
dinding rahim (endometrium) ditemukan di tempat lain dalam tubuh. Penyebab
utama endometriosis belum dapat dipastikan, akan tetapi kemungkinan dapat
disebabkan oleh aliran menstruasi mundur, predisposisi genetik, maupun
pengaruh dari pencemaran lingkungan.
Gejala endometriosis yang dapat dirasakan oleh penderita yaitu antara
lain berupa nyeri haid (dysmenorrhea) dan nyeri saat berhubungan(dyspareunia).
Penanganan endometriosis dapat dilakukan dengan terapi medik
seperti pemberian progestin, danazol, GnRH agonis, dan microguinon. Sedangkan
terapi pembedahan dilakukan dengan laparoskopi melalui pelepasan perlekatan,
merusak jaringan endometriotik, rekonstruksi anatomis sebaik mungkin,
mengangkat kista, dan melenyapkan implantasi dengan sinar laser atau
elektrokauter (untuk menghilangkan jaringan abnormal secara signifikan
mengurangi kemungkinan perkembangan kanker).




Endometriosis
26





DAFTAR PUSTAKA
American Fertility Society. 2007. Booklet Endometriosis A Guide for
Patients. American Society For Reproductive Medicine. Alabama.
(http://www.asrm.org/Patients/Booklet/Endometriosis.pdf diakses pada tanggal 17
Maret 2014).
American Fertility Society. 2007. Booklet Laparoscopy And
Hysteroscopy A Guide for Patients. American Society For Reproductive
Medicine. Alabama. (http://www.asrm.org/Patients/Booklet/Laparos
copy.pdf diakses pada tanggal 19 Maret 2014)
Badziad Ali., 2003. Endokrinologi Ginekologi, edisi kedua. Jakarta:
Media Aesculapius, FK UI
Benson. Raph C & Pernoll. Martin L. 2009. Buku Saku Obstetri &
Ginekologi. Jakarta: EGC
Cunningham, Gary et.all, 2005. Obstetri Williams Edisi 21. EGC. Jakarta.
Price, S.A. dan Lorraine M.W. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. EGC Medical Publisher. Jakarta.
Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Jakarta Bina Pustaka