You are on page 1of 11

trauma pada mata dan telinga

PENDAHULUAN
Berdasarkan data CDC tahun 2000 sekitar 1 juta orang di Amerika Serikat
mengalami gangguan penglihatan akibat trauma. 75% dari kelompok tersebut buta
pada satu mata, dan sekitar 50.000 menderita cedera serius yang mengancam
penglihatan setiap tahunnya. Setiap hari lebih dari 2000 pekerja di amerika Serikat
menerima pengobatan medis karena trauma mata pada saat bekerja. Lebih dari
800.000 kasus trauma mata yang berhubungan dengan pekerjaan terjadi setiap
tahunnya.
1,2

Dibandingkan dengan wanita, laki-laki memiliki rasio terkena trauma mata 4 kali
lebih besar. Dari data WHO tahun 1998 trauma okular berakibat kebutaan unilateral
sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6 juta
mengalami kebutaan bilateral akibat cedera mata. Sebagian besar (84%) merupakan
trauma kimia. Rasio frekuensi bervariasi trauma asam:basa antara 1:1 sampai 1:4.
Secara international, 80% dari trauma kimiawi dikarenakan oleh pajanan karena
pekerjaan. Menurut United States Eye Injury Registry (USEIR), frekuensi di
Amerika Serikat mencapai 16 % dan meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan
di rumah. Lebih banyak pada laki-laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun

Banyak hal yang bisa menyebabkan perforasi membran timpani. Misalnya infeksi
dan trauma.
Pada anak-anak perforasi ini sangat berkaitan dengan infeksi yang terjadi, seperti
infeksi yang diawali dari saluran nafas, seperti batuk dan pilek. Kuman yang ada di
hidung bisa sampai ke telinga kita melalui saluran eustachius. Jadilah ketika anak
pilek dan batuk yanglama atau pengobatan yang inadekuat, maka akan timbul pula
infeksi pada telinga, yang kita sebut sebagai otitis media, yang berlanjut menjadi
otitis media supuratif kronik, istilah awamnya congekan. Lama kelamaan, bakteri
yang menginfeksi akan menyebabkan robeknya membran timpani selain juga karena
adanya perbedaan tekanan karena udara tidak mampu keluar dari saluran eustachius
yang meradang. Penderita biasanya akan demam pada kondisi infeksi ini, nyeri
telinga yang hebat.
Selain infeksi, trauma juga pada telinga tengah juga menyebabkan pecahnya
gendang telinga. Yang paling sering akibat cutton bud alias pembersih telinga.
Sering kita terlalu asik membersihkan telinga hingga kedalaman yang akhirnya akan
merobek gendang telinga. Atau juga pada korban bom. Telinga kita punta batasan
desibel untuk suara. Kita hanya mampu menerima suara di bawah 80 desibel, di atas
80 itu sudah termasuk kebisingan. Dan gendang telinga bisa pecah pada desibel di
atas 120. Hati-hati ya bagi kalian yang sering ke diskotik. Kebisingan diskotik itu
mencapai 100-110 desibel. Lama kelamaan akan mempengaruhi pendengaran anda.




BAB 2
PEMBAHASAN
TRAUMA PADA MATA
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan
mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai
kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau
menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata. Alat rumah tangga sering
menimbulkan perlukaan atau trauma mata.
Macam-macam bentuk trauma:
 Fisik atau Mekanik
1. Trauma Tumpul, misalnya terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock,
membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel.
2. Trauma Tajam, misalnya pisau dapur, gunting, garpu, bahkan
peralatan pertukangan.
3. Trauma Peluru, merupakan kombinasi antara trauma tumpul dan
trauma tajam, terkadang peluru masih tertinggal didalam bola mata.
Misalnya peluru senapan angin, dan peluru karet.
 Khemis
1. Trauma Khemis basa, misalnya sabun cuci, sampo, bahan pembersih
lantai, kapur, lem (perekat).
2. cuka, bahan asam-asam dilaboratorium, gas airmata.
 Fisis
1. Trauma termal, misalnya panas api, listrik, sinar las, sinar matahari.
2. Trauma bahan radioaktif, misalnya sinar radiasi bagi pekerja
radiologi.
Gejala
Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis trauma serta berat dan ringannya trauma.
 Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai
tertinggalnya benda asing didalam mata. Benda asing yang tertinggal dapat bersifat
tidak beracun dan beracun. Benda beracun contohnya logam besi, tembaga serta
bahan dari tumbuhan misalnya potongan kayu. Bahan tidak beracun seperti pasir,
kaca. Bahan tidak beracun dapat pula menimbulkan infeksi jika tercemar oleh
kuman.
 Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan
penglihatan sementara sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata,
terlepasnya selaput jala (retina) atau sampai terputusnya saraf penglihatan sehingga
menimbulkan kebutaan menetap.
 Trauma Khemis asam umumnya memperlihatkan gejala lebih berat daripada
trauma khemis basa. Mata nampak merah, bengkak, keluar airmata berlebihan dan
penderita nampak sangat kesakitan, tetapi trauma basa akan berakibat fatal karena
dapat menghancurkan jaringan mata/ kornea secara perlahan-lahan.

Penanganan
Penderita secepatnya harus dikirim ke RS yang ada dokter spesialis mata. Sebaiknya
jangan lebih dari 6 jam setelah terjadi trauma untuk menghindari terjadinya infeksi.
 Trauma tumpul cukup dibebat dengan plester, jika ada beri salep mata
antibiotik
 Trauma tajam dengan perlukaan dimata jangan memberi pengobatan dalam
bentuk apapun. Sebaiknya mata dibebat dengan plester. Pada umumnya perlu
dilakukan operasi segera dengan pembiusan umum maka penderita langsung
dipuasakan.
 Trauma Khemis baik asam maupun basa sebaiknya secepatnya diguyur
dengan air mengalir sebanyak-banyaknya kemudian diberi salep mata dan dibebat
dengan plester secepatnya dikirm ke RS yang ada dokter spesialis mata.
Pemeriksaan PenunjanG
1. Tes ketajaman penglihatan
2. Pemeriksaan tekanan intra okuler
3. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan CT Scan dan USG















TRAUMA PADA TELI NGA

a. PengertianTrauma
merupakan cedera pada telinga luar misalnya akibat pukulant umpul ,
at au aki bat s uat u kecel akaan, bi s a menyebabkan memar
di ant ar akartilago dan perikondrium.

A. Macam-Macam Trauma

TRAUMA TELINGA BAGIAN LUAR
1) Laserasia

Merupakan luka pendarahan yang disebabkan oleh mengorek-ngorek telinga.
Gambaran klinisLaserasi pada dinding kanalis dapat menyebabkan perdarahan
sementara.
PengobatanTidak memerlukan pengobatan selain hentikan perdarahan, bila
perlu per gi ke dokt er unt uk memas t i kan t i dak ada per f or as i
membr an t i mpani .Laserasi hebat pada aurikula harus diexplorasi untuk
mengetahui apakah adakerusakan tulang rawan.

2) Frostbitea
Sengatan pada suhu yang dingin pada aurikula timbul dengan cepat padalingkungan
bersuhu rendah dengan angin dingin yang kuat. Gambaran klinisSengatan pada suhu
yang dingin pada aurikula timbul dengan cepat padal i n g k u n g a n b e r s u h u
r e n d a h d e n g a n a n g i n d i n g i n y a n g k u a t . S e h i n g g a mengalami
Vasokontriksi hebat pembuluh darah telinga bagian luar yang di ikuti
priode dilatasi yang berlangsung lebih lama.
Pengobatan/penatalaksanaan
• Pemanasan yang cepat 100-108 F/ tidak > 37 C
.• Berikan analgesik
• Jika menimbulkan infeksi yang nyata secara klinis, berikan antibiotic.

3) Hematomaa
Gumpalan darah yang diakibatkan oleh luka dalam yang sering terjadi pada petinju
dan pegulat. Gambaran klinisJika terjadi penimbunan darah di daerah yang cedera
tersebut, maka akanterjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massa
berwarna ungukemerahan.Darah yang tertimbun ini (hematoma) bisa
menyebabkan terputusnyaal i r an dar ah ke kar t i l ago s ehi ngga t er j adi
per ubahan bent uk t el i nga. Kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol,
yang sering ditemukan pada pegulat dan petinju. PenatalaksanaanUntuk
membuang hematoma, biasanya digunakan alat penghisap dan penghisapan
dilakukan sampai hematoma betul-betul sudah tidak ada lagi(biasanya selama 3-7
hari). Dengan pengobatan, kul it dan perikondrium
a ka n ke mb a l i ke po s i s i no r ma l s e h i n g g a d a r a h b i s a ke mb a l i
me nc a p a i kartilago. Jika terjadi robekan pada telinga, maka dilakukan penjahitan
dan pe mb i da i a n pa da ka r t i l a go n ya . Pu k u l a n ya n g k u a t p a d a r a ha n g
b i s a menyebabkan patah tulang di sekitar saluran telinga dan merubah bentuk saluran
telinga dan seringkali terjadi penyempitan. Perbaikan bentuk bisadilakukan melalui pembedahan



TRAUMA TELINGA BAGIAN TENGAH
Trauma pada telinga tengah biasanya disertai dengans a k i t t e l i n g a d a n
k a d a n g - k a d a n g j u g a d i s e r t a i d e n g a n pendarahan dari telinga,
gangguan pendengaran, dankelemahan wajah ipsilateral. Bentuk lengkung EAC,
denganisthmus sempit, membantu untuk melindungi TM dari cederalangsung.Fungsi
laindari tuba eustachius juga membantu untuk mencegah pecahnya TM dari perubahan tekanan
berlebih. Ketika mekanisme pelindung gagal, ataukekuatan ekstrem terjadi pada
telinga atau kepala, perforasi traumatis dari TM dapat terjadi, biasanya
terjadi di bagian tengah. Sebuah perforasi traumatik TM dapat disebabkan oleh
traumalangsung ke TM oleh FB, ledakan, tekanan perubahan dari udara atau air,
atau akibat dari traumakepala dengan atau tanpa fraktur tulang temporal.
Mayoritas perforasi TM traumatis akan dapat sembuh secara spontan. Jika tidak ada
bukt iinfeksi, penggunaan topikal antibiotik tidak diperlukan. Resep obat
tetes telinga mengandunggentamisin selama lebih dari lima sampai tujuh hari
dapat mengakibatkan ototoxicity dan harusdi hi ndar i . Ter api kons er vat i f
unt uk mencegah i nf eks i s ekunder bi as anya
di per l ukan. Tympanoplasty jarang diperlukan, kecuali bila perforasi
terus-menerus terjadi. Ketika lukamisalnya terjadi perforasi TM sangat sulit untuk
disembuhkan.
Trauma membran tympani adalah kelainan pada mebran timpani yang disebabkan olehtrauma
langsung maupun tidak langsung. Biasanya muncul gejala tinius, gangguan pendengaran,vertigo, dan
dapat terjadi infeksi. Penangannya yaitu Pada keadaan akut, dilakukan pencegahanterjadinya infeksi
sekunder dengan menutup liang telinga yang trauma dengan kasa steril. Biasanya perforasi akan sembuh secara
spontan.Operasi emergensi dilakukan pada trauma tembus dengangangguan pendengaran
sensorineural dan vertigo, dengan kecurigaan fraktur dan impaksi kakistapes ke vertbuler atau fistua
perilimpa. Jika perforasi menetap setelah 4 bulan, dan terdapatg a n g g u a n p e nd e n g a r a n
ko n d ukt i f >20 dB, me r upa ka n i nd i k a s i t i mp a n o p l a s t . Lakukan pemeriksaan
Audiometri atau CT scan bila diduga ada benda asing atau rusaknya rangkaian tulang pendengaran


TRAUMA TELINGA BAGIAN DALAM
Organ yang sangat sensitif di dalam telinga adalah organ pendengaran (koklea)
dankeseimbangan (Reseptor otolithic dan kanal berbentuk setengah lingkaran) yang terletak
dalam bagian dari tulang temporal, dikelilingi oleh tulang padat dikenal sebagai kapsul otic.
Meskipun perlindungan yang baik dari tulang dalam tubuh manusia, unsur-unsur telinga dalam yang
rapuh,rentan terhadap trauma kepala baik longitudinal atau transversal yang
menyebabkan fraktur. Seorang pasien dengan riwayat trauma kepala, menunjukkan pendarahan
dari telinga, mengalamigangguan pendengaran konduktif, dan kelainan bentuk membran timpani
yang diperiksa denganmenggunakan otoscopy (Gambar 8), merupakan gejala dari fraktur
longitudinal. Cedera kepala berat, biasanya setelah pukulan ke tengkuk, dapat mengakibatkan fraktur
melintang di labirint ul a ng. Ga mb a r a n k l i n i s d a r i f r a k t ur me l i n t a n g me l i p u t i
ke r u s a ka n s a r a f s e ns or i k ya n g mengakibatkan gangguan pendengaran dan vertigo yang
parah. Computed tomography (CT) scantulang temporal adalah alat yang bermanfaat untuk mendiagnosis.








Penatalaksanaan Kedaruratan trauma telinga
1.Pasien diistirahatkan duduk atau berbaring
2.Atasi keadaan kritis ( tranfusi, oksigen, dan sebagainya )
3.Bersihkan luka dari kotoran dan dilakukan debridement,lalu hentikan perdarahan
4.Pasang tampon steril yang dibasahi antiseptik atau salep antibiotic
5.Periksa tanda-tanda vital,
6.Pemeriksaan otoskopi secara steril dan dengan penerangan yang baik,
bila mungkin dengan bantuan mikroskop bedah atau loup untuk mengetahui
lokasi lesi.
7.Pemeriksaan radiology bila ada tanda fraktur tulang temporal. Bila mungkin
langsung dengan pemeriksaan CT scan



































ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA MATA
1. PENGKAJIAN
Aktivitas dan istirahat
Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/ hobi di karenakan adanya penurunan
daya/ kemampuan penglihatan.
Makan dan minum
Mungkin juga terjadi mual dan muntah kibat dari peningkatan tekanan intraokuler.
Neurosensori
Adanya distorsi penglihatan, silau bila terkena cahaya, kesulitan dalam melakukan
adaptasi (dari terang ke gelap/ memfokuskan penglihatan).
Pandangan kabur, halo, penggunaan kacamata tidak membantu penglihatan.
Peningkatan pengeluaran air mata.
Nyeri dan kenyamanan
Rasa tidak nyaman pada mata, kelelahan mata.
Tiba-toba dan nyeri yang menetap di sekitar mata, nyeri kepala.
Keamanan
Penyakit mata, trauma, diabetes, tumor, kesulitan/ penglihatan menurun.
Pemeriksaan penunjang
Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami
penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai
untuk retina.
Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma,
arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh
darah akibat trauma.

2. DIAGNOSA, INTERVENSI, RASIONALISASI
No DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONALISAS
. I
1. Nyeri akut
berhubungan
dengan
imflamasi
pada kornea
atau
peningkatan
tekanan
intraokular.
Nyeri berkurang
atau hilang.
Kriteria hasil :
Klien akan :
 Melaporkan
penurunan nyeri
progresif dan
penghilangan nyeri
setelah intervensi.
 Klien tidak
gelisah.
 Lakukan tindakan
penghilangan nyeri yang
non invasif dan non
farmakologi, seperti
berikut
1. Posisi :
Tinggikan bagian
kepala tempat
tidur, berubah-
ubah antara
berbaring pada
punggung dan
pada sisi yang
tidak sakit.
2. Distraksi
3. Latihan
relaksasi
 Bantu klien dalam
mengidentifikasi tindakan
penghilangan nyeri yang
efektif.
 Berikan dukungan
tindakan penghilangan
nyeri dengan analgesik
yang diresepkan.
 Beritahu dokter
jika nyeri tidak hilang
setelah 1/2 jam
pemberian obat, jika
nyeri bertambah.
 Tindakan
penghilangan
nyeri yang non
invasif dan
nonfarmakologi
memungkinkan
klien untuk
memperoleh rasa
kontrol terhadap
nyeri.
 Klien
kebanyakan
mempunyai
pengetahuan yang
mendalam tentang
nyerinya dan
tindakan
penghilangan
nyeri yang efektif.
 Untuk
beberapa klien
terapi farmakologi
diperlukan untuk
memberikan
penghilangan
nyeri yang efektif.
 Tanda ini
menunjukkan
peningkatan
tekanan
intraokular atau
komplikasi lain.
2. Risiko tinggi
infeksi
berhubungan
dengan
peningkatan
kerentanan
sekunder
terhadap
interupsi
permukaan
tubuh.
Tidak terjadi
infeksi.
Kriteria hasil :
Klien akan :
 Menunjukka
n penyembuhan
tanpa gejala infeksi.
 Nilai
Labotratorium :
SDP normal, kultur
negatif.
 Tingkatkan
penyembuhan luka :
1. Berikan
dorongan untuk
mengikuti diet
yang seimbang
dan asupan cairan
yang adekuat.
2. Instruksika
n klien untuk tetap
menutup mata
sampai
diberitahukan
 Nutrisi dan
hidrasi yang
optimal
meningkatkan
kesehatan secara
keseluruhan, yang
meningkatkan
penyembuhan
luka pembedahan.
Memakai
pelindung mata
meningkatkan
penyembuhan
dengan
untuk dilepas.
 Gunakan tehnik
aseptik untuk meneteskan
tetes mata :
Cuci tangan sebelum
memulai.
1. Pegang
alat penetes agak
jauh dari mata.
2. Ketika
meneteskan,
hindari kontak
antara mata,
tetesan dan alat
penetes.
3. Ajarkan
tehnik ini kepada
klien dan anggota
keluarganya.
 Beritahu dokter
tentang semua drainase
yang terlihat
mencurigakan.
 Kolaborasi
dengan dokter dengan
pemberian antibiotika dan
steroid..
menurunkan
kekuatan iritasi.
 Tehnik
aseptik
meminimalkan
masuknya
mikroorganisme
dan mengurangi
risiko infeksi.
 Drainase
abnormal
memerlukan
evaluasi medis
dan kemungkinan
memulai
penanganan
farmakologi.
 Menguran
gi reaksi radang,
dengan
steroid dan
menghalangi
hidupnya bakteri,
dengan
antibiotika.
3. Gangguan
Sensori
Perseptual :
Penglihatanb/
d gangguan
penerimaan
sensori /
status organ
indera.
Lingkungan
secara
terapetik
dibatasi.
Hasil yang
diharapkan
/ kriteria
evaluasi –
pasien akan
:
Meningkatkan
ketajaman
penglihatan dalam
batas situasi
individu.
Mengenal gangguan
sensori dan
berkompensasi
terhadap perubahan.
Mengidentifikasi /
 Tentukan
ketajaman penglihatan,
catat apakah satu atau
kedua mata terlibat.
 Orientasikan
pasien terhadap
lingkungan, staf, orang
lain di areanya.
 Observasi tanda –
tanda dan gejala-gejala
disorientasi: pertahankan
pagar tempat tidur sampai
benar-benar sembuh dari
anestasia.
 Pendekatan dari
sisi yang tak dioperasi,
bicara dan menyentuh
sering, dorong orang

memperbaiki
potensial bahaya
dalam lingkungan.
tedekat tinggal dengan
pasien.
 Perhatikan tentang
suram atau penglihatan
kabur dan iritasi mata
dimanan dapat terjadi bila
menggunakan tetes mata.
4. Kurangnya
pengetahuan
(perawatan)
berhubungan
dengan
keterbatasab
informasi.
Tujuan:
Pasien dan keluarga
memiliki
pengetahuan yang
memadai tentang
perawatan.
 Jelaskan kembali
tentang keadaan pasien,
rencana perawatan dan
prosedur tindakan yang
akan di lakukan.
 Jelaskan pada
pasien agar tidak
menggunakan obat tets
mata secara senbarangan.
 Anjurkan pada
pasien gara tidak
membaca terlebih dahulu,
“mengedan”, “buang
ingus”, bersin atau
merokok.
 Anjurkan pada
pasien untuk tidur dengan
meunggunakan
punggung, mengtur
cahaya lampu tidur.
 Observasi
kemampuan pasien dalam
melakukan tindakan
sesuai dengan anjuran
petugas.






















ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA TELINGA
A. Anatomi dan Fisiologi Telinga
1. Anatomi Telinga
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut.
1. Telinga Luar, terdiri dari :
a. Pinna/Aurikel/Daun Telinga
Pinna merupakan gabungan tulang rawan yang diliputi kulit, melekat pada Sisi kepala. Pinna
membantu mengumpulkan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius
eksternus.
b. Liang Telinga/Kanalis Autikus Externus (KAE)
Memiliki tulang rawan pada bagian lateral dan bertulang pada bagian medial, seringkali ada
penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang rawan ini. Terdapat di KAE adalah sendi
temporoman-dibular, yang dapat kita rasakan dengan ujung jari pada KAE ketika membuka dan
menutup mulut.
c. Kanalis Auditorius Exsternus
Panjangnya sekitar 2,5 cm, kulit pada kanalis mengandung kelenjar glandula seruminosa yang
mensekresi substansi seperti lilin yang disebut juga serumen. Serumen mempunyai sifat antibakteri
dan memberikan perlindungan kulit. Kanalis Auditorius Eksternus akan berakhir pada membran
timpani.
2. Telinga Tengah, terdiri dari :
a. Membran Timpani/Gendang Telinga membatasi telinga luar dan tengah.
Merupakan suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncak-nya umbo mengarah ke medial.
Membrane timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis, lapisan fibrosa, tempat melekatnya tangkai
malleus dan lapisan mukosa di bagian dalamnya.
b. Kavum Timpani
Dimana terdapat rongga di dalam tulang temporal dan ditemu-kan 3 buah tulang pendengaran yang
meliputi :
1) Malleus, bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga.
2) Inkus, menghubungkan maleus dan stapes.
3) Stapes, melekat pda jendela oval di pintu masuk telinga dalam.
c. Antrum Timpani
Merupakan rongga tidak teratur yang agak luas terletak dibagian bawah samping kavum timpani,
antrum dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum timpani, rongga ini
berhubungan dengan beberapa rongga kecil yang disebut sellula mastoid yang terdapat dibelakang
bawah antrum di dalam tulang temporalis.
d. Tuba Auditiva Eustakhius
Dimana terdapat saluran tulang rawan yang panjangnya ± 3,7 cm berjalan miring kebawah agak ke
depan dilapisi oleh lapisan mukosa. Tuba Eustakhius adalah saluran kecil yang memungkinkan
masuknya udara luar ke dalam telinga.
3. Telinga Dalam, terdiri dari :
telinga dalam terdapat jauh didalam bagian petrous tulang temporal, didalamnya terdapat organ untuk
pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis) dan saraf cranial VII (nervus
fasialis) dan nervus VIII (nervus kokleovestibularis).
2. Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh pinna dalam bentuk
gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang koklea. Getaran tersebut menggetarkan
membrane timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan
mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan lurus
membran timpani dan tingkap lonjong.
Energi getaran tersebut akan diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap lonjong
sehingga perilimfe pada skala vestibula bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfe sehingga akan menimbulkan gerakan relative antara membran basalis dan
membrantektoria.
Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia
sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel.
Keadaan ini meimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmitter ke
dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus
auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis.