You are on page 1of 7

Biografi Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu, lahir pada tahun 1800, di suatu desa bernama Abubu di Pulau
Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah. Martha kecil terkenal berkemauan keras dan
pemberani. Ia selalu mengikuti ayahnya, Paulus Tiahahu, termasuk ikut menghadiri rapat
perencanaan perang. Paulus Tiahahu merupakan salah seorang pemimpin perjuangan rakyat
Maluku melawan Belanda. Setelah dewasa, Martha Christina Tiahahu pun ikut bertempur.
Martha Christina Tiahahu dan ayahnya bersama Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura
berhasil menggempur pasukan Belanda yang bercokol di Pulau Saparua, Kabupaten
Maluku Tengah. Namun, dalam pertempuran sengit di Desa Ouw-Ullath, sebelah Tenggara
Pulau Saparua, para pejuang Maluku kalah akibat kekuatan yang tidak seimbang. Banyak
pejuang yang tertangkap, termasuk Paulus Tiahahu yang dihukum mati.
Meski demikian, Martha Christina Tiahahu terus bergerilya bersama para pejuang hingga
akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa. Menjadi tawanan tidak membuatnya
melunak terhadap Belanda. Ia tetap bersikap keras dengan melakukan aksi mogok makan dan
jatuh sakit. Martha Christina meninggal dunia di atas kapal perang Eversten milik Belanda
dalam perjalanan ke tempat pengasingan di Jawa. Jasad beliau dimakamkan di Laut Banda
dengan penghormatan militer pada 2 Januari 1818.
 Tempat/Tgl. Lahir : Maluku, 1801
 Tempat/Tgl. Wafat : Maluku, 1 Januari 1818
 SK Presiden : Keppres No. 012/TK/1969, Tgl. 20 Mei 1969
 Gelar : Pahlawan Nasional
Martha Christina Tiahahu tak kenal lelah memberikan dorongan semangat kepada rakyat
Maluku yang tengah berjuang melawan Belanda dengan meneriakkan kalimat “Tanah ini
adalah tempat kita dilahirkan, jangan biarkan penjajah itu merebutnya”.
Martha Christina Tiahahu

Biografi Dewi Sartika

Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11
September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum
perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.
Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah
dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di
sana. Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden Rajapermas dan
Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan
Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula.

Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang
berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan
mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat
didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah
menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di
belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-
tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang
kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Seko lah Dasar di Cicalengka, sejak kecil
memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena
sejak anak-anak ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh,
sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain
sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia sangat
senang berperan sebagai guru. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun,
ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam
bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di
waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti
itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut
ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu,
ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan
R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran
ketika itu, maka pada tahun 1904 dia berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya
“Sekolah Isteri”. Sekolah tersebut hanya dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung
semua aktivitas sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan
Kepatihan Bandung. Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya
wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran
agama.
Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid
bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga
tidak cukup lagi menampung murid-murid. Untuk mengatasinya, Sekolah Isteri pun
kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak
didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Istri sedikit diperbarui menjadi Sekolah
Keutamaan Isteri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga
bertambah.

Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang
baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan
dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional
sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya
jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya.
Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari
Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya
mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola
Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang
sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota
kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh,
tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan
Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola
Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana
Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.
Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota
kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan
September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah
berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas
jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-
Belanda.

Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang
yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada
waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di
Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman
Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di
kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.
Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan
pada negaramu. Kata bijak tersebut sangat tepat menjadi panduan semua bangsa yang hendak
menobatkan seseorang sebagai penerima gelar kehormatan „pahlawan‟ di negaranya.



Biografi R.A Kartini

Biografi R.A Kartini - Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara,
Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat.
Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang
lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini
kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut
dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku
pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah
dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku,
termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat
kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini
tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah
Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya
didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman
wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah
kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya
yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia
memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh
orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke
daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan
didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor
kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung
Pramuka. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun,
menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13
September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia
25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.. Berkat
kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang
pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah
lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh
keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon
memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada
para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT”
yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau
berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20,
wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum
diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang
tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain
sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan
sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan
saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-
wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah
kebiasan kurang baik itu. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik
Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai
Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April,
untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan.
Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing.
Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini
namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia
lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih
hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di
Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah.
Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak
hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja
melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia
telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.
Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas
pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir
nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda
1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama
pahlawan wanita kita seperti Cut Nya‟ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika,
Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.
Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di
Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan
Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang
dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi
maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan
bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita
dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu
menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari
pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah
kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini
kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut.
Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan
penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Biografi Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang taat beragama.
Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang. Beliau mendapatkan pendidikan
agama dan rumah tangga yang baik dari kedua orang tua dan para guru agama. Semua ini
membentuk kepribadian beliau yang memiliki sifat tabah, teguh pendirian, dan tawakal.
Seperti umumnya di masa itu, beliau menikah di usia sangat muda dengan Teuku Ibrahim
Lamnga. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika Perang Aceh meletus tahun 1873,
Teuku Ibrahim turut aktif di garis depan. Cut Nyak Dien selalu memberikan dukungan dan
dorongan semangat.
Semangat juang dan perlawanan Cut Nyak Dien bertambah kuat saat Belanda membakar
Masjid Besar Aceh. Dengan semangat menyala, beliau mengajak seluruh rakyat Aceh untuk
terus berjuang. Saat Teuku Ibrahim gugur, di tengah kesedihan, beliau bertekad meneruskan
perjuangan. Dua tahun setelah kematian suami pertamanya tepatnya pada tahun 1880, Cut
Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar. Seperti Teuku Ibrahim, Teuku Umar adalah
pejuang kemerdekaan yang hebat.
Bersama Cut Nyak Dien, perlawananyang dipimpin Teuku Umar bertambah hebat. Sebagai
pemimpin yang cerdik, Teuku Umar pernah mengecoh Belanda dengan pura-pura bekerja
sama pada tahun 1893, sebelum kemudian kembali memeranginya dengan membawa Iari
senjata dan perlengkapan peranglain. Namun, dalam pertempuran di Meulaboh tanggal 11
Februari 1899 ,Teuku Umar gugur. Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut
Nyak Dien mengatur serangan besar- besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Seluruh
barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk biaya perang. Meski tanpa
dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut. Perlawanan yang dilakukan
secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu, bahkan membahayakan
pendudukan mereka di tanah Aceh sehingga pasukan Belanda selalu berusaha
menangkapnya.
Namun, kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan
pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang akibat
serangan Belanda. Meski demikian,ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus
panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau sangat marah. Akhirnya, Pang Laot Ali
yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dien terpaksa berkhianat. la melaporkan
persembunyian Cut Nyak Dien dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan
kekerasan dan harus menghormatinya.
Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien, bahkan ketika sudah terkepung dan hendak
ditangkap dalam kondisi rabun pun masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan
pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap
tangannya. Beliau marah luar biasa kepada Pang LaotAli. Namun,walau pun di dalam
tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum
tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga beliau akhirnya
dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906.
Cut Nyak Dien yang tiba dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang tasbih ini
tidak dikenal sebagian besar penduduk Sumedang. Beliau dititipkan kepada Bupati
Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, bersama dua tawanan lain, salah seorang bekas
panglima perangnya yang berusia sekitar 50 tahun dan kemenakan beliau yang baru berusia
15 tahun. Belanda sama sekali tidak memberitahu siapa para tawanan itu. Melihat perempuan
yang amat taat beragama itu, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, tetapi di
rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Masjid Besar Sumedang. Perilaku beliau
yang taat beragama dan menolak semua pemberian Belanda menimbulkan rasa hormat dan
simpati banyak orang yang kemudian datang mengunjungi membawakan pakaian atau
makanan. Cut Nyak Dien, perempuan pejuang pemberani ini meninggal pada 6 November
1908.
Beliau dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para
bangsawan Sumedang, tak jauh dan pusat kota. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang
belum tahu siapa beliau, bahkan hingga Indonesia merdeka. Makam beliau dapat dikenali
setelah dilakukan penelitian berdasarkan data dari pemerintah Belanda.
 Tempat/Tgl. Lahir : Aceh, 1848 (tanggal dan bulan tidak diketahui)
Tempat/Tgl. Wafat : Sumedang, 6 November 1908
SK Presiden : Keppres No.106 Tahun 1964, Tgl. 2 Mei 1964
Gelar : Pahlawan Nasional
Rakyat Sumedang memanggil Cut Nyak Dien dengan nama Ibu Perbu karena kesalehannya
dan sebagai tanda penghormatan. Hingga akhir hayatnya, beliau mengisi waktu dengan
mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat sekitar pengasinganya