You are on page 1of 13

LAPORAN NEKROPSI UNGGAS

Kamis, 04 September 2014






Oleh :


Muhammad Viqih, SKH B94134232



Dosen Pembimbing :

Dr.Drh. Wiwin Winarsih, MSi, APVet























BAGIAN PATOLOGI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014


No. Protokol : U/138/14
Hari/Tanggal : Kamis, 21 Agustus 2014
Dosen PJ : Dr.Drh. Wiwin Winarsih, MSi, APVet
Anamnesa :
Signalement
Nama : A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N,O,P,Q
Jenis hewan/ Ras : Ayam Broiler
Jenis kelamin : Jantan
Umur : ±7 hari
Warna : Putih
Jumlah : 17 Ekor
Pemilik : drh. Shahid dari Cianjur
LAPORAN PEMERIKSAAN HASIL NEKROPSI
Organ Epikrese Diagnosa PA
Keadaan Luar
Kulit dan bulu
Mata
Lain-lain

Bulu kusam
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan

Bulu kusam
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Subkutis


Perlemakan
Otot
Ada cairan bening, basah
dibawah kulit dada

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Selulitis (1/17)


Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Rongga Tubuh
Situs Viserum
Peritoneum



Yolk Sacc

Tidak ada kelainan
Keruh dan menebal,
ruang peritoneal berisi
cairan bening

Pembesaran Yolk sac dan
bewarna hijau-kecoklatan
serta berbintik merah

Tidak ada kelainan
Peritonitis (8/17),
Ascites (2/17)


Infeksi Yolk Sac (2/17)
Traktus Respiratorius
Kantung hawa
Sinus hidung
Choane
Laring
Bronchus
Paru-paru


Keruh dan menebal
Terdapat eksudat
Terdapat eksudat
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Terdapat nodul-nodul
putih

Air sacculitis (5/17)
Sinusitis (5/17)
Rhinitis (8/17)
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Pneumonia
Gralumatousa (7/17)
Pleura

Keruh keputihan dan
menebal
Pleuritis (7/17)
Traktus Digestivus
Rongga mulut
Esofagus
Tembolok
Proventrikulus
Gizzard
Usus halus

Usus besar

Sekum
Seka tonsil
Hati

Pangkreas



Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Terdapat Eksudat Kataral

Terdapat Eksudat kataral

Akumulasi gas
Tidak ada kelainan
Kapsul hati terdapat titik-
titik putih
Deudenum melipat-lipat,
terdapat celah antar
pangkreas dengan
dudenum


Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Enteritis kataralis
(5/17)
Enteritis kataralis
(5/17)
Akumulasi gas
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Perihepatitis (3/17)
Atropi Pangkreas
(8/17)


Sistem Sirkulasi
Jantung
Perikardium


Pembuluh darah


Tidak ada kelainan
Pericardium keruh,
terdapat eksudat fibrinous
Tidak ada kelainan


Tidak ada kelainan
Pericarditis fibrinous
(1/17)

Tidak ada kelainan

Sistem Limforetikuler
Thymus
Bursa Fabricius
Limpa

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
curvatura major dan
curvatura minor dari
limpa tidak begitu jelas
cenderung bulat,
dibandingkan dengan
limpa ayam lain lebih
kecil (terjadi pengecilan)

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Atropi limpa (1/17)
Sistem Urogenital
Ginjal
Ureter
Ovarium
Oviduct

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Sistem Syaraf
Otak

Korda spinalis
Saraf perifer
N. Brachialis
N. Ischiadicus

Pembuluh darah terlihat
jelas merah
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan

Vasa Konjungtio (7/17)

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Sistem Lokomosi
Otot
Tulang
Sumsum tulang
Persendian

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Terdapat cairan keruh

Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Arthritis (1/17)

Diagnosa kausalis : CRD Kompleks dengan infeksi ikutan E.coli dan
Aspergilus
Diferensial diagnosa : Coryza dan Candidiasis




















Pembahasan
Keadaan umum luar
Ayam yang didatangkan berjumlah tujuh belas ekor. Ayam yang
didatangkan merupakan jenis ayam Broiler. Gejala klinis pada ayam yang masih
hidup terlihat lemas, bulu kusam dan malas berdiri. Ayam yang masih hidup
dilakukan penyembelihan sebelum dilakukan nekropsi.
Sub Kutis
Pada hasil nekropsi didapatkan ayam mengalami selulitis pada bagian otot
dada bagian bawah (1 dari 17 ekor). Selulitis merupakan radang dermatitis
nekrotika pada jaringan subkutan (Mella et al. 2003). Pada selulitis, subkutan
akan berisi eksudat heterophillik sebagai respon ada infeksi bakteri. (Barnes dan
Gross 1997). Selulitis yang meyerang ayam broiler disebut juga dengan avian
selulitis (Barnes dan Gross 1997). Penyebab utama dari avian selulitis pada
umunya adalah E. coli. Karena infeksi E. coli yang menyebabkan kerusakan pada
karkas ayam, maka infeksi E.coli sangat merugikan peternak ayam.
Rongga Tubuh
Hasil nekropsi bagian rongga tubuh ditemukan adanya infeksi Yolk sac ( 1
dari 17 ekor), Peritonitis (8 dari 17 ekor) dan Ascites ( 2 dari 17 ekor). Infeksi
Yolk sac merupakan kondisi penyakit yang sering ditemukan pada anak ayam
akibat adanya infeksi dari berbagai jenis bakteri. Pada kondisi infeksi Yolk sac
cukup hebat maka dapat memicu peritonitis dan omphalitis pada anak ayam.
Berbagai genus bakteri yang dapat menyebabkan infeksi Yolk sac antara lain
adalah Escheriachia coli, Salmonella, Staphylococcus,Pseudomonas, Clostridium
dll, namun yang sering ditemukan dalam infeksi Yolk sac adalah Escherichia coli,
Salmonella dan Staphyloccus (Barnes dan Gross 1997). Peritonitis sering terjadi
akibat infeksi bakteri coliform di ruang peritonel, biasanya ikutan dari infeksi yolk
sac (Barnes dan Gross 1997). Penularan bakteri pada infeksi yolk sac maupun
peritonitis dapat terjadi melalui 2 (dua) cara, yakni horizontal dan vertikal. Pada
kasus vertikal, umumnya induk yang telah mengalami infeksi oophoritis dan
salphingitis dapat mencemarkan telurnya. Sedangkan pada harizontal, umumnya
disebabkan cemaran pada lingkungan seperti kontaminasi feses ke kerabang telur,
penetasan dan lantai (Barnes dan Gross 1997). Pada perkembangan embrio,
kuning telur merupakan sumber energi, dimana mengandung 20-40% lipid dan
20-25% protein serta 7% mengandung maternal antibodi (dalam bentuk protein).
Setelah menetas, maka kuning telur akan dimanfaatkan sebagai sumber energi
awal untuk 3-4 hari. Sehingga apabila terdapat gangguan penyerapan kantung
kuning telur, maka ayam akan mengalami pertumbuhan melambat akibat nutrisi
yang kurang. Disisi lain, maternal antibodi sebagai kekebalan pasif akan tidak
berfungsi maksimal dalam tubuh anak ayam yang penyerapan kuning telurnya
terhambat, sehingga akan mudah agen dari penyakit lain seperti, Chronic
Respiratorius Dieseas (CRD), Infectius Bronchitis (IB) Infectious Bursal Disease
(IBD), Newcastle Disease (ND), Aspergillus menyerang tubuh anak ayam (Barnes
dan Gross 1997).
Pada pemeriksaan rongga perut anak ayam ditemukan Ascites (2 dari 17
ekor ) dengan jumlah cairan sekitar 7-14 ml. Ascites merupakan suatu timbunan
cairan yang tergolong transudat (tidak berhubungan dengan proses radang) di
dalam rongga perut (Tabbu 2002). Menurut Julian (1993), Ascites merupakan
gangguan metabolisme yang berhubungan dengan ketidak mampuan tubuh untuk
menyediakan oksigen yang cukup akibat kebutuhan oksigen yang meningkat.
Sedangkan menurut Diaz et al.(2001), Ascites adalah semacam penyakit akibat
komplikasi banyak faktor yang saling berkaitan satu sama lain antara
produktivitas, penyakit dan lingkungan. Menurut Tabbu (2002) penyebab kejadian
ascites dihubungkan dengan tiga faktor yang saling berhubungan yaitu faktor
fisiologik, manajemen dan lingkungan. Faktor utama adalah kebutuhan oksigen
yang meningkat guna memenuhi percepatan pertumbuhan. Perkembangan ascites
biasanya diawali dari stres yang melampaui toleransi jantung atau paru-paru untuk
mendapatkan oksigen yang cukup tinggi, sebagai kompensasinya, frekuensi
denyut jantung akan merubah cepat untuk meningkatkan aliran darah ke paru-paru
dan jaringan tubuhnya, guna memenuhi kebutuhan oksigen tersebut. Akibatnya
tekanan darah meningkat dan cairan akan lolos ke dalam rongga perut (ascites)
atau sekitar jantung (hidroperikardium) (Tabbu 2002). Peningkatan tekanan dalam
paru-paru dan pembuluh darah paru-paru menyebabkan peningkatan tekanan pada
dinding ventrikel kanan, sehingga terjadi pembesaran (hipertrofi) ventrikel
tersebut. Hipertropi ventrikel kanan akan menimbulkan peningkatan retensi aliran
darah ke paru-paru, yang mengakibatkan tekanan intra vaskuler paru-paru
bertambah, sehingga terjadi edema paru-paru yang dapat pula menimbulkan
kematian pada unggas. Disamping itu, hipertropi ventrikel kanan juga dapat
menyebabkan ketidakmampuan katup jantung, karena terjadi kebocoran katup
tersebut, terutama akibat katup yang kurang efektif dan akibat tekanan ruang
ventrikel bagian kanan. Akibat katup jantung bagian kanan yang bocor akan
menambah volume darah yang berlebih pada ventrikel kanan yang mempunyai
tekanan yang berlebihan pula, sehingga menimbulkan dilatasi pada ventrikel
kanan. Sleanjutnya akan terjadi penurunan darah yang melewati paru-paru dan
meningkatkan tekanan balik di dalam vena. Tekanan balik vena ini (menyebabkan
pembendungan dan edema hati) dapat mengakibatkan kebocoran plasma dari hati
ke dalam ruang hepato-pertitoneal. Cairan plasma akan terkumpul dalam ruang
abdomen menjadi ascites (Julian 1993 dan Tabbu 2002).
Kejadian ascites juga dipicu oleh rendahnya suplai oksigen untuk
merespon kebutuhan metabolisme. Kemudian menggertak terjadinya peningkatan
aliran darah atau kekentalaln darah dan selanjutnya dapat mengakibatkan
peningkatan takanan darah di dalam paru-paru dan pembuluh darah paru. Pada
ayam broler yang sedang mengalami laju pertumbuhan yang cepat dengan Basal
Metabolisme Rate (BMR) yang tinggi, merupakan faktor predisposisi kejadian
ascites. Hal ini terkait erat dengan hipertensi pulmonum yang menimbulkan
hipertropi ventrikel kanan. Selain itu, manajemen optimal dengan pemberian
pakan berprotein tinggi merupakan faktor utama pendukung kejadian ascites,
sehubungan dengan pertumbuhan yang tinggi. Protein membutuhkan oksigen
dalam jumlah besar untuk metabolismenya, sehingga oksigen diperlukan untuk
mengubah kelebihan protein menjadi energi dan mengeluarkan sisa metabolisme
protein. Oleh sebab itu, kelebihan protein dapat menyebabkan jaringan tubuh
kekurangan oksigen (hipoksia). Pada kasus nekropsi ayam yang diperiksa
diketahui bahwa sistem pernafasan mengalami sejumlah abnormalitas fungsi
akibat infeksi CRD kompleks dengan infeksi ikutan Aspergilus. Sehingga
kapasitas paru-paru terbatas dan selanjutnya akan diikuti gagal jantung dan
akhirnya akan mudah terjadi ascites. Tidak hanya itu, kadar NaCl yang tinggi
pada pakan atau minum juga dapat mempengaruhi kejadian ascites (Tabbu 2002).
Traktus Respiratorius
Pemeriksaan pada sistem respirasi ditemukan beberapa peradangan seperti
Rhinitis (8 dari 17 ekor), Sinusitis (5 dari 17 ekor), Air sacculitis (5 dari 17 ekor),
Pleuritis (7 dari 17 ekor), dan Pneumonia gralumatous (7 dari 17 ekor). Infeksi
mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan seperti
diatas anatara lain disebabkan oleh penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD),
Infectious Laryngotracheitis (ILT), Coryza, Infectious Bronchitis (IB),
Aspergillosis, dan Swollen Head Syndrome (SHS) (Shane 2005). Pada
pemeriksaan traktus respiratorius bagian atas (Rhinitis dan Sinusitis) ditemukan
peradangan dengan adanya eksudat kataral. Adanya eksudat kataral pada unggas
biasanya disebabkan oleh CRD. Menurut Tabbu (2000), penyakit CRD jika
dilakukan pengamatan secara PA maka akan ditemukan eksudat mukus sampai
kaseus pada saluran pernafasannya. Eksudat kattharal yang terdapat pada sinus
hidung merupakan suatu proses tubuh dalam melawan antigen infeksius. Pada
umumnya apabila suatu agen infeksius masuk ke dalam tubuh, maka pertama-
tama tubuh akan meresponnya dengan mengeluarkan eksudat mukus yang
dihasilkan oleh sel goblet, kemudian antigen yang berhasil melalui eksudat
mukous akan dihalangi oleh vili-vili. Jika antigen dapat menerobos vili maka
tubuh akan mulai merespon dengan cara mengeluarkan sel-sel radang yang
disebut dengan eksudat kattharal. Apabila sel-sel radang yang dikeluarkan sudah
sangat banyak jumlahnya dan semakin mengental maka eksudat akan berlanjut
menjadi eksudat purulent.
Pada pemeriksaan traktus respiratorius bagian bawah menunjukkan
terdapat kelainan pada pleura ,paru-paru. dan kantung udara. Kantung udara (Air
sac) yang keruh dan menebal mnunjukkan adanya peradangan pada kantung hawa
tersebut (Air sacculitis). Hal yang sama juga terjadi Pleura, apabila mengalami
kekeruhan dan penebalasan, maka menunjukan adanya Pleuritis. Pleuritis terjadi
akibat agen virus atau bakteri yang mengiritasi pleura sehingga terjadi
peradangan. Pada paru-paru terlihat bernodul-nodul warna putih yang menebal
(Pneumonia gralumatous) (7 dari 17 ekor). Dari gambaran Patologi Anatomi
(PA), paru-paru tersebut kemungkinan adalah investasi dari Aspergillosis.
Aspergillosis bisa muncul akibat penurunan sistem pertahanan yang diakibatkan
Mycoplasma gallisepticum (CRD) pada traktus respiratorius atas. Pneumonia
gralumatous merupakan reaksi peradangan kronis yang ditandai adanya
akumulasi makrofag teraktivasi, yang sering mengembang seperti epitel
(epiteloid) membentuk granuloma (Tabbu 2002). Radang granuloma sendiri dapat
juga disebabkan oleh bakteri seperti E.coli (Barnes dan Gross 1997).
Traktus Digestivus
Pemeriksaan sistem pencernaan dimulai dari rongga mulut, esophagus,
tembolok, lambung, usus, sekum hingga anus. Mukosa mulut dan anus tidak
ditemukan kelainan. Esofagus kosong (tidak berisi makanan) dan tidak ada lesio
yang ditemukan. Pada salah satu proventrikulus ditemukan adanya eksudat yang
tebal dengan warna sedikit putih-kekuningan. Kemungkinan kejadian ini
diakibatkan karena adanya peningkatan aktivitas kelenjar proventrikulus.
Eksudasinya tebal, jernih, kadang disertai dengan leukosit dan sel debris (Lopez
1995). Menurut litaratur Proventrikulitis dapat disebabkan oleh marek, reovirus,
infectious bursal disease (IBD), Newcastle disease (ND), avian influenza (AI),
avian encephalomyelitis/AE, dan asam siklopiazonik (CPA) (Lopez 1995). Pada
pemeriksaan usus baik usus halus maupun usus besar secara inspeksi dan palpasi
ditemukan adanya eksudat yang bersifat kataral. Sedangkan pada sukum dan seka
tonsil tidak menunjukkan adanya perubahan. Adanya eksudat kataral pada usus
mengindikasikan terjadinya enteritis kataralis. Gejala enteritis seringkali
ditemukan pada beberapa infeksi penyakit seperti Pullorum, Coccidia, dan
Reovirus (Swayne et al. 2013). Eksudat kataralis yang terdapat pada saluran
pencernaan menunjukkan terjadinya peradangan saluran cerna akut. Eksudat
kataralis pada usus merupakan suatu pertahanan tubuh dalam melawan agen
infeksius. Adanya agen infeksius akan direspon oleh sel goblet dengan
mengeluarkan eksudat mukous dan jika agen mampu melewati eksudat mukous,
maka vili-vili usus akan merespon dengan mengeluarkan sel-sel radang sehingga
menyebabkan adanya eksudat kataral yang dicirikan dengan kemerahan pada
mukosa. Enteritis kataralis (5 dari 17 ekor) dapat disebabkan oleh berbagai
macam infeksi bakteri seperti kolibasillosis dan berbagai macam infeksi virus
seperti reovirus dan rotavirus (Tabbu 2002). Perihepatitis (3 dari 17 ekor) sering
terjadi karena proses sekunder akibat penyebaran infeksi dari organ disekitarnya
seperti air sacculitis yang terjadi pada kantung hawa dan enteritis pada usus.
Perihepatitis (3 dari 17 ekor) merupakan kelainan khas yang terjadi pada CRD
kompleks. Pada pengamatan terlihat titik-titik putih. CRD kompleks merupakan
penyakit komplikasi antara infeksi M. gallisepticum (Ley dan Yoder 1997) dan E.
coli (Barnes dan Gross 1997). Perihepatitis dapat menyebabkan rasa nyeri pada
hati.
Pada pemeriksaan pankreas ditemukan adanya perubahan patologi anatomi
berupa adanya celah pada lengkung duodenum sehingga pankreas tidak mengisi
penuh celah tersebut dan saat diangkat duodenum tampak sedikit melengkung.
Hal ini dapat diindikasikan bahwa pankreas mengalami atrofi (8 dari 17 ekor).
Atrofi merupakan suatu pengecilan ukuran sel bagian tubuh yang pernah
berkembang sempurna dengan ukuran normal, dapat bersifat fisiologik maupun
patologik, dan umum atau lokal (Pringgoutomo 2002). Atrofi pankreas dapat
menyebabkan penurunan produksi enzim pencernaan seperti lipase, fosfolipase,
tripsin, dan amilase. Hal ini juga berdampak pada penurunan laju absorbsi nutrisi.
Atrofi pankreas terjadi karena adanya konsekuensi dari penyakit lokal maupun
sistemik. Penyebab lainnya termasuk kekurangan kalori-protein (atrofi bisa juga
terlihat pada organ lain/jaringan, missal di massa otot, hati) dan obstruksi saluran
pankreas (peradangan parenkim dan fibrosis) (Aburto 2010). Pada kejadian
pankreatitis kronis yaitu inflamasi progresif pankreas yang ditandai dengan
perubahan morfologi dan fibrosis kelenjar dapat menyebabkam atropi. Fibrosis
dan kerusakan parenkim akibat pankreatitis kronis menyebabkan hilangnya fungsi
eksokrin dan endokrin. Pankreatitis kronis dapat menimbulkan abdomen sakit dan
maldigesti (Stevens 2011). Pada hasil nekropsi juga ditemukan beberapa
akumulasi gas pada usus dan sekum di beberapa anak ayam, menurut Barnes dan
Gross 1997), akumulasi gas merupakan kejadian yang normal hasil metabolisme
bakteri normal usus seperti E.coli, namun bakteri Clostrium perfringens yang
dapat menyebabkan nekrotik enteritis juga dapat menghasilkan gas sebagai hasil
metabolismenya juga (Barnes dan Gross 1997).
Traktus sirkulatorius
Pada pemeriksaan traktus sirkulatorius ditemukan adanya kelainan pada
pembungkus jantung atau pericardium (1 dari 17 ekor). Peradangan pada
pericardium disebut dengan pericarditis. Gejala pericarditis dapat ditunjukkan
oleh adanya kekeruhan dan penebalan serta perubahan warna menjadi putih
kekuningan pada pericardium. Pericarditis dapat terjadi dalam beberapa tahap
antara lain kekeruhan pada pericardium, perlekatan dengan epicardium hingga
terbentuk fibrinus komplit dan purulent. Kondisi pericarditis dapat disebabkan
oleh beberapa hal seperti adanya infeksi bakteri. Infeksi Mycoplasma yang
bersifat komplikasi akan menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri lain berupa
pembesaran pada jantung yang tertutup oleh fibrinopurulent pada pericardium
(Islam et al. 2011).
Sistem Limforetikuler
Pada unggas unggas yang dinekropsi, ditemukan salah satu limpa yang
mengalami Atropi (1 dari 17 ekor). Organ limpa yang normal terlihat berwarna
merah dan mempunyai sudut antara curvatura major dan curvatura minor.
Namun pada limpa yang mengalami atropi, maka sudut antara curvatura major
dan curvatura minor tidak begitu jelas cenderung bulat. Fungsi dari limpa pada
unggas adalah memfagositosis sel darah merah oleh makrofag di pulpa merah,
limfositpoiesis di pulpa putih, dan melawan antigen serta memproduksi antibodi
oleh sel limfoid di pulpa merah dan putih (Schmidt et al. 2003). Oleh karena itu
hewan yang mengaalmi atropi limpa cenderung mengalami kelemahan karena
sering terinfeksi penyakit lain.
Sistem Syaraf
Pemeriksaan syaraf pusat dilakukan dengan memeriksa organ otak.
Berdasarkan inspeksi, 7 dari 17 ekor ayam yang diperiksa tidak menunjukkan ada
vasa injectio. Vasa Injectio merupakan indikasi bahwa adanya hiperemi yang
terjadi di selaput otak, bisa adanya infeksi radang pada selapat otak (meningitis)
atau akibat post mortis. Dengan melihat patalogi anatomi nya, maka penulis
memperkirakan vasa injectio pada otak yang terjadi akibat post mortis, bukan
karena adanya infeksi agen penyakit. Hal ini karena vasa injectio yang terlihat
cenderung tidak begitu jelas batas-batasnya.
Sistem lokomosi
Pada pemeriksaan sistem lokomosi, dilakukan pemeriksaan rongga-rongga
persendian untuk melihat ada tidaknya cairan sendi yang berlebih. Cairan sendi
berlebih mengindikasikan terjadinya arthritis atau peradangan pada sendi. Hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa ditemukan adanya cairan sendi yang berlebihan
yakni 1 dari 17 ekor ayam. Kondisi arthritis pada unggas dapat disebabkan oleh
penyakit-penyakit infeksius maupun non-infeksius. Agen infeksius yang dapat
menyebabkan gejala klinis arthritis pada unggas antara lain Mycoplasma
synoviae, Pasteurella multocida, reovirus, Staphylocuccus, dan Eschericia coli
(Intervet 2009) . Selain terkait dengan agen infeksius, kejadian arthritis juga
berhubungan dengan ketidakseimbangan nutrisi seperti defisiensi mineral
mangan, kolin, dan piridoksin.

KESIMPULAN
Dari hasil nekropsi yang telah ditemukan dan dibandingkan dengan
literatur, maka diagnosa kausalis dari meningkatkanya kematian pada anak ayam
adalah adalah CRD kompleks yang menyerang pada traktus respiartorius dengan
infeksi ikutan E.coli dan Aspergilus.




DAFTAR PUSTAKA
Aburto E. 2010. Pathology of the exocrine pancreas: Lecture 6. Systemic
pathology II VPM 222.
Barnes HJ and Gross WB. 1997. Disease of Poultry. 10
th
ed. Iowa (US): Iowa
State University
Diaz, G.J., R.J. Julian dan E.J Squires.1994. Coblat induced poycytaemia causing
right ventricular hypertrophy and ascites in meat-type chickens.Avian
Pathol. 23:91-104
Islam A, Aslam A, Chaudrhry ZI, Ahmed MUD, Rehmant HU, Saeed K, Ahmed
I. 2011. Pathology of Mycoplasma gallisepticum in naturally infected
broiler and its diagnosis through PCR. J Agric Biol. 13(4): 835-837Intervet
International. 2009. Important Poultry Disease. Boxmeer (NL): Intervet
International BV.
Julian, R.J. 1993. Ascites in Poultry. Avian Pathol.22: 410-454
Ley DH and Yoder HW. 1997. Disease of Poultry: Mycoplasma Gallisepticum
Infection. 10
th
ed. Iowa (US): Iowa State University
Lopez A. 1995. Respiratory System. Di dalam Thomson’s Special Veterinary
Pathology Ed ke-2. Missouri (US): Mosby-Year Book, Inc.
Mellata M, Dho-Moulin M, Dozois CM, Curtiss M, Brown PK, Arne P, Bree A,
Dasautels C, Fairbrother J M, 2003. Role of Virulence Factors in
Resistance of Avian Pathogenic Escherichia coli to serum and in
Pathogenicity. J Infect Immun. 71: 536-540
Pringgoutomo S, Himawan S, Tjarta A. 2002. Patologi umum. Ed ke-1. Jakarta
(ID) : Sagung Seto.
Schmidt RE, Reavill DR, Phalen DN. 2003. Pathology of Pet and Aviary Birds.
Iowa (US): Blackwell Publishing Professional.

Stevens T. 2011. Chronic Pancreatitis[Internet]. Tersedia pada:
http:///www.clevelandclinicmeded.com. [27 Agustus 2014].
Swayne DE. 2013. Disease of Poultry, 13 th ed. Iowa (US): John Wiley & Sons,
Inc.
Tabbu, R.C.2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 2. Penerbit
Kanisius : Yogyakarta