You are on page 1of 10

KEBERADAAN PURA BEDUGUL DI SUBAK GEBANG

GADI NG ATAS DESA PAKRAMAN TEGALMENGKEB


KECAMATAN SELEMADEG TIMUR
KABUPATEN TABANAN
(Perspektif Teologi Hindu)

Oleh
NI MADE ERI PARMITA SARI
NIM. 09.1.6.8.1.0145
E-mail: dex_marmut@yahoo.com
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Pembimbing I
Dr. Dra. Ida Ayu Tary Puspa, S.Ag., M.Par.
Pembimbing II
I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H.

ABSTRAK
Pura bedugul adalah tempat suci untuk para krama subak mempersembahkan
banten yang berfungsi untuk memuja prawaba Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan pura
bedugul dalam wilayah subak selalu berpedoman pada konsep Tri Kerangka Dasar
Agama Hindu. Adanya pura bedugul di tengah-tengah masyarakat petani (krama subak)
karena adanya kepercayaan/sraddha akan manifestasi Tuhan saktinya Dewa Wisnu
(Dewi Danu/Dewi Sri) sebagai penguasa lahan pertanian, pemberi kemakmuran dan
kesejahteraan petani yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pura bedugul adalah
spirit dari penguasa urip (jiwa) segala makhluk persawahan. Lima tahun terakhir ini
lahan subak Gebang Gading Atas Desa Tegalmengkeb, Kecamatan Selemadeng Timur,
Kabupaten Tabanan mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan menjadi
pembangunan villa. Pada tahun 2008 tercatat luas subak Gebang Gading Atas adalah
135 hektar dan sampai pada tahun 2012 tercatat masih 120 hektar. Alih fungsi lahan
sawah pada subak menyebabkan pengurangan pengempon pura bedugul dari 174
menjadi 163 pengempon. Ketika hal ini akan terus berlangsung, pura bedugul akan
terancam lenyap.
Melihat penjelasan di atas, akibat konversi lahan sawah menjadi sarana
akomodasi pariwisata (villa) khususnya melihat sistem perangkat subak dengan konsep
Tri Hita Karana, tentu yang sangat relevan adalah persoalan keberadaan pura bedugul
sebagai salah satu unsur ketuhanan dalam sistem subak Gebang Gading Atas yang sulit
untuk diubah karena menyangkut masalah niskala. Untuk itu diangkat tiga rumusan
masalah (1) bagaimana struktur pura bedugul yang dibedah dengan menggunakan teori
religi, (2) apa fungsi pura bedugul yang dibedah dengan menggunakan teori fungsional
struktural, dan (3) apa makna teologi pura bedugul yang dibedah dan dianalisis
menggunakan teori simbol.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni data primer yang
bersumber dari informan dan data skunder bersumber dari literatur/pustaka.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, kepustakaan, dan
dokumentasi. Untuk menganalisis data yang didapat menggunakan metode deskriptif
kualitatif.
Struktur pura bedugul menggunakan konsep dwi mandala di mana Dewa utama
yang dipuja adalah Dewi Danu yang diwujudkan berupa palinggih padmasana. Pura
bedugul mempunyai fungsi yaitu sebagai fungsi religi, fungsi sosial, fungsi ekonomi,
fungsi kesuburan dan fungsi estetika. Makna teologi Hindu yang terkandung di dalam
Pura Bedugul yaitu makna widhi sraddha, makna simbolis bhuana agung, makna sosial,
makna ekonomi, dan makna kesuburan. Dengan adanya pengembangan pariwisata di
subak Gebang Gading Atas mampu memberi perubahan fungsi pada pura bedugul,
namun makna pura bedugul tetap seperti dulu yaitu sebelum ada pengembangan
pariwisata di subak Gebang Gading Atas.

Kata kunci: Keberadaan, Pura Bedugul, Subak Gebang Gading Atas


I. PENDAHULUAN
Pura bedugul adalah tempat suci untuk para krama subak mempersembahkan
sesajen/banten/upakara yang berfungsi untuk memuja prawaba Tuhan Yang Maha Esa.
Keberadaan pura bedugul dalam wilayah subak selalu berpedoman pada konsep Tri
Kerangka Dasar Agama Hindu. Adanya pura bedugul di tengah-tengah masyarakat
petani (krama subak) karena adanya kepercayaan/sraddha akan manifestasi Tuhan
saktinya Dewa Wisnu (Dewi Danu/Dewi Sri) sebagai penguasa lahan pertanian, pemberi
kemakmuran dan kesejahteraan petani yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pura
bedugul adalah spirit dari penguasa urip (jiwa) segala makhluk persawahan. Lima tahun
terakhir ini lahan subak Gebang Gading Atas Desa Tegalmengkeb, Kecamatan
Selemadeng Timur, Kabupaten Tabanan mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan
menjadi pembangunan villa. Pada tahun 2008 tercatat luas subak Gebang Gading Atas
adalah 135 hektar dan sampai pada tahun 2012 tercatat masih 120 hektar. Alih fungsi
lahan sawah pada subak menyebabkan pengurangan pengempon pura bedugul dari 174
menjadi 163 pengempon. Ketika hal ini akan terus berlangsung, pura bedugul akan
terancam lenyap.
Apakah dengan kehadiran pariwisata dapat mempengaruhi struktur, fungsi, dan
makna teologi yang terdapat pada pura bedugul. Mempertahankan keberadaan pura
bedugul di tengah pengembangan pariwisata, krama subak harus meningkatkan sraddha
dan bhaktinya untuk memahami teologi Hindu yang terdapat di Pura Bedugul Subak
Gebang Gading Atas. Dengan demikian, akan tumbuh kesadaran krama subak bahwa
keberadaan pura bedugul memiliki peranan penting dan nyata dalam komunitas
pertanian. Pura bedugul tersebut selalu diaktifkan, selalu dirasakan ada dan digunakan
dalam tatanan kehidupan petani. Melalui peningkatan kesadaran akan keberadaan pura
bedugul, kemungkinan lahan sawah pada subak tidak akan terus menyempit.

II. METODE
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni data primer yang
bersumber dari informan dan data skunder bersumber dari literatur/pustaka.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, kepustakaan, dan
studi dokumen. Teknik penentuan informan dilakukan dengan metode purposive
sampling. Dalam penelitian ini digunakan instrumen berupa pedoman wawancara yang
dilengkapi dengan tape recorder, camera digital, dan pencatatan. Untuk menganalisis
data yang didapat menggunakan metode deskriptif kualitatif.

III. HASIL PENELITIAN
3.1 Struktur Pura Bedugul di Subak Gebang Gading Atas
Lokasi pura bedugul adalah berada di tengah-tengah areal persawahan Subak
Gebang Gading Atas. Tepatnya berada di samping timur jalan raya yang
menghubungkan dusun Kelecung dengan dusun Alas. Letak geografis pura bedugul
berada pada ketinggian 7 meter di atas permukaan laut, berdiri pada permukaan datar
sawah, iklim curah hujan sedang dan dengan luas wilayah pura 3,5 are. Pura bedugul
berdampingan dengan Villa Sahaja yang berjarak 350 M. Sejarah tentang adanya
bangunan pura bedugul dilandasai adanya sraddha yang kuat dari krama subak itu
sendiri. Mempercayai bahwa pura bedugul harus dibangun pada tempat yang baik
untuk para dewa bercengkrama. Menurut Titib (2004:293) bahwa dalam Veda Tantra
Sarascamucaya I.1.28 dinyatakan:
Para Dewa tidak hanya berkenaan untuk turun dan tinggal di tirtha
(patirthan), tetapi di sungai, dan danau, tetapi juga di tepi pantai,
pertemuan dua atau lebih sungai-sungai, dan kuala (muara sungai), di
puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pengunungan, di
hutan, di semak belukar dan kebun atau taman-taman, dekat tempat-
tempat di rahkmati atau pertapaan, di desa-desa,kota-kota dan tempat-
tempat lain yang membahagiakan.
Berdasarkan kutipan di atas, bahwa tidak sembarangan umat Hindu dalam
membangun tempat suci. Krama subak dalam menentukan tempat untuk membangun
pura bedugul di subak Gebang Gading Atas dilandasi akan sraddha yang kuat.
Bahwa membangun tempat suci di areal semak-belukar yang berada di tengah-tengah
subak sudah pilihan yang tetap sesuai petunjuk ajaran veda. Dalam semak belukar
hanya ada satu tumbuhan tinggi yaitu pohon gebang gading. Sarana upakara dalam
upacara piodalan (ngusaba) di pura bedugul adalah banten.

Banten adalah persembahan suci yang dibuat dari sarana tertentu, antara lain:
bunga, buah-buahan, daun tertentu seperti sirih dan dari makanan seperti nasi dan lauk
pauk, jajan, dan sebagainya, disamping sarana yang sangat penting adalah air dan api.
Surayin (2002:8) menyatakan banten merupakan perwujudan simbol-simbol dari Sang
Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya, karena keterbatasan manusia membutuhkan
sarana sebagai alat konsentrasi untuk memuja Tuhan. Jenis banten yang dipergunakan
dalam upacara ngusaba di pura bedugul adalah nasi geblog manca warna maulam
ayam manca warna mapanggang, banten sorohan genep, peras sesantun, penyeneng,
abu tepung tawar, sesarik,segehan cacahan limang tanding.

Pura Bedugul di Subak Gebang Gading Atas adalah pura fungsional. Pura
bedugul ini menggunakan konsep dwi mandala yaitu; Jeroan dan Jaba pisan Ada pun
nama-nama palinggih yang ada di pura ini antara lain; palinggih dewi danuh, palinggih
siwa guru, palinggih pasimpangan pura taman sari, palinggih bhatari sri dan bhatara
rambut sedana, taksu agung. Pura Bedugul Subak Gebang Gading Atas di bangun
oleh krama subak berdasarkan drsta. Adanya drsta itulah yang mempengaruhi adanya
perbedaan struktur pura satu dengan struktur pura yang lainnya. Kearifan lokal dapat
dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (lokal)
yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh
anggota masyarakatnya (krama subak Gebang Gading Atas).


3.2 Fungsi Pura Bedugul di Subak Gebang Gading Atas
Setiap segala sesuatu tentu memiliki fungsi dan tujuan tersendiri. Fungsi
merupakan kegunaan suatu hal bagi hidup suatu mayarakat. Adapun fungsinya pura
bedugul adalah sebagai berikut;

3.2.1 Fungsi Religi
Religi adalah kepercayaan, sikap yang serius dan sosial dari individu-individu
atau komunitas-komunitas kepada satu atau lebih kekuatan yang mereka anggap
memiliki kekuasaan tertinggi terhadap kepentingan dan nasib mereka (Permata , 2000:
15). Pelaksanaan upacara yadnya (ngusaba) di lingkungan pura bedugul adalah fungsi
religi melalui kegiatan persembahan yang tulus ikhlas dengan harapan agar padi
dipelihara oleh Tuhan ataupun Dewa penguasa sawah. Ngusaba di pura bedugul
karena percaya akan ada kekuatan dari manifstasi Tuhan untuk menjaga padi yang
sudah kuning dari segala hama.

3.2.2 Fungsi Sosial
Pura bedugul adalah pura subak yang masih berstatus pura swagina. Fokus
kegiatannya adalah di bidang pertanian yang meliputi kegiatan ekonomi dan juga
kegiatan yang bersifat keagamaan yaitu mengkonsepsikan dan mengaktifkan upacara-
upacara yadnya pada pura subak (Geriya dkk,1981:55). Kehadiran bangunan suci pura
bedugul mampu mewujudkan fungsi sosial yaitu mengerjakan sarana dan prasarana
upacara ngusaba secara bergotong-royong (ngayah) bahkan digunakan sebagai tempat
rapat memecahkan masalah secara bersama yang menyangkut dengan kemajuan
subak. Namun untuk sekarang, fungsi sosial telah mengalami penurunan karena
hanya dalam memasang wastra dan penjor (menjelang ngusaba) saja ngayah itu pun
dikerjakan oleh prajuru saja akibat pengempon pura berkurang dan berasal dari
berbagai daerah akibat alih fungsi lahan sawah subak. Fungsi sosial di pura bedugul
sudah mengalami perubahan.


3.2.3 Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi pura bedugul artinya keuangan pura bedugul dalam
memberikan kehidupan dan kemakmuran bagi krama subak. Seperti di ketahui bahwa
setiap krama subak dikenakan dana urunan sebesar Rp. 20.000,00 per ha tiap panen.
Biasanya setiap ada upacara ngusaba atau perbaikan fisik pura bedugul mendapatkan
dana punia sebesar Rp. 500.000,00 ataupun Rp. 200.000,00 dari pihak villa yang ada di
kawasan subak ini. Pemerintah pusat dan daerah juga memberikan bantuan berupa
dana hibah. Sehingga dengan adanya wajib iuran krama subak, dana hibah dari
pemerintah, dan dana punia dari pemilik villa di subak Gebang Gading Atas,
membuat pura bedugul ini memiliki fungsi ekonomi.
Kehadiran pariwisata di subak Gebang Gading Atas ternyata menciptakan
fungsi ekonomi baru di pura bedugul yaitu adanya sumber dana penunjang upacara
ngusaba dari pihak pemilik villa. Pihak subak harus membuat aturan-aturan tertentu
agar sawah tidak mudah beralih fungsi yang menyebabkan adanya perubahan akan
fungsi dari pura bedugul.

3.2.4 Fungsi Kesuburan
Pura bedugul dalam kaitannya dengan hakikat kehiduapan masyarakat Bali
sesungguhnya merupakan pemeliharaan dan pemanfaatan bumi (ibu pertiwi) dan air.
Dalam cerita lahirnya Sang Boma yang lahir dari Dewa Wisnu (air) dengan Pertiwi
(tanah), maka Sang Boma dapat diartikan sebagai hutan atau tumbuhan.Tumbuhan-
tumbuhan lahir dari tanah dan air sehingga dapat tumbuh di atas tanah atau ibu pertiwi
(Surpa, 2004:111). Pura bedugul sebagai bagian dari sistem pemujaan dalam konteks
Tri Hita Karana merupakan sebuah kesatuan hubungan yakni hubungan krama subak
dengan Tuhan (aspek teologis) dan hubungan krama subak dengan lingkungan
subaknya. Pura bedugul ini berorientasi pada nilai kesuburan. Dewa Wisnu (air)
adalah lambang kesuburan umat manusia, Dewi Danu (air) juga melambangkan
kesuburan, kemudian Dewi Sri juga melambangkan kesuburan. Sekarang walaupun
adanya pengembangan pariwisata di subak Gebang Gading Atas, masih tetap memiliki
fungsi sebagai fungsi kesuburan.

3.2.5 Fungsi Estetika
Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan
yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran suci veda.
Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dari estetika Hindu. Konsep yang
dimaksud antara lain; kebenaran (satyam), kesucian (sivam), dan keseimbangan
(sundaram) (Dibia, 2003:96). Satyam, sivam, dan sundaram adalah nilai estetik yang
terkandung di dalam pura bedugul.

3.3 Makna Teologi Hindu Pura Bedugul di Subak Gebang Gading Atas
Makna adalah suatu nilai yang lebih bersifat trancendent karena ia lebih berada
pada ranah konsep dalam pikiran dari pada berwujud konkrit seperti halnya materi
(Brahman, 2010: 152). Dalam suatu makna yang sifatnya transcendent yang terkandung
dalam pura bedugul, maka makna tersebut dapat digali dengan atau ditelusuri dengan
menggunakan teori simbol. Simbol-simbol tersebut merupakan media bagi umat Hindu
untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.
3.3.1 Makna Widhi Sradha
Susastra Hindu mengungkapkan tentang khayangan atau pura. Adapun kutipan
naivagurudevapaddhati, III.12.16 adalah sebagai berikut:
Prsdam yacchiva aktytmakam
Tacchaktyantaisydvisuddhdyaistu tatvai
aiv mrti khalu devlaykhyetyasmd
Dhyey prathamam cbhipjy

Terjemahannya:
Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan
kekuatan/prinsip dasar segala manifestasi atau wujud-Nya, dari element hakikat
yang pokok, prthivi sampai kepada sakti-Nya.Wujud Konkrit (materi) Sang
Hyang Siva merupakan sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang
melakukan perenungan dan memuja-Nya (Titib, 2003: 90).

Pura bedugul adalah kepercayaan akan kehadiran Tuhan dalam manifestasi-Nya
sebagai Dewa air (Dewa Wisnu) dan Dewi padi (Dewi Sri) sebagai penguasa sawah
serta Dewi Danu sebagai Dewi kemakmuran adalah perwujudan dari widhi sraddha.

3.3.2 Makna Simbolis Bhuana Agung
Tuhan (Sadasiwa) pada saat menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya atau
sakti dan swabhawa-Nya untuk mengatur keharmonisan alam semesta beserta isinya,
secara simbolik Beliau dianggap seolah-olah bersinggasana ditengah-tengah kembang
teratai yang disebut Padmasana. Padmasana diartikan singgasana kembang teratai
(Sumawa dan Krisnu, 1993: 310). Sehubungan dengan hal itu perhatikan sloka berikut
ini:
Swyapayah Bhaara adasiwa sira, hana padmsana pinaka
palungguhan ira,
apran ikang padmasana ngaranya; saktinira;
saktingaranya,wibusakti,prabusakti,janasakti,kryasakti;
nahan yang adusakti ngaranya.

Terjemahan:
Tuhan (Sadasiwa) ialah sawyaparah (bersenyawa dengan hukum
kemahakuasaan-Nya). Ada padmasana sebagai singgasana-Nya. Apakah
yang dimaksud dengan padmasana. Yaitu saktinya, yakni; wibhusakti,
prabhusakti, jnanasakti, dan kriyasakti. Itulah yang disebut cadhusakti (
Sumawa dan Krisnu, 1993: 311).

Padmasana pada hakekatnya adalah merupakan simbol dari bumi ini atau
Bhuwana Agung (alam semesta) karena alam semestalah merupakan sthana Tuhan di
dunia ini. Pura bedugul yang di dalamnya terdapat palinggih padmasana mempunyai
makna teologi yaitu simbolis bhuana agung (makrokosmos).



3.3.3 Makna Sosial
Antar sesama krama subak harus bertingkah laku seperti dengan saudara
sendiri, bersatu demi tercapainya sebuah kemakmuran. Dalam Yajurveda XXXVI.18
dijelaskan sebagai berikut:
Mitraysa ma aksusa sarwani bhutani smiksantam
Mitrasyham aksusa sarvani bhutani smikse
Mitrasy aksusa samiksamah.
Terjemahan:
Semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata
seorang sahabat, semoga saya memandang semua mkhluk sebagai seorang
sahabat, semoga kami saling berpandangan penuh persahabatan.

Upacara ngusaba sebagai wahana interaksi sosial masyarakat mempunyai
implikasi yang tinggi untuk memperkuat persahabatan antar saudara atau antar krama
subak dalam sistem sosial.

3.3.4 Makna Ekonomi
Di dalam veda ada dijelaskan kita sebagai umat manusia diwajibkan untuk
mengatur keuangan (ekonomi) dengan sebaik mungkin. Dalam veda Sarasamuccaya
sloka 262 dijelaskan sebagai beriku:
Ekenmena dharmrtha kartavyo bhtimicchat,
Ekenmene kmrtha ekamamam vivirddhayet.

Terjemahan:
Demikianlah duduknya maka dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu
bagian, guna biaya mencapai dharma, bagian yang kedua, adalah biaya
untuk memenuhi kama, bagian yang ketiga diuntukkan bagi melakukan
kegiatan usaha dalam bidang artha, ekonomi, agar berkembang kembali
demikian duduknya, maka dibagi tiga. Oleh orang yang ingin beroleh
kebahagiaan (Kadjeng, 1997: 180).

Dari sloka di atas bahwa ketika ingin mencapai kebahagiaan, kita harus
membagi harta menjadi tiga bagian. Fungsi ekonomi pura bedugul sudah tentu
mempunyai makna ekonomi yang tercermin dalam dana iuran (paturunan) krama subak
dan dana punia dari pihak pemilik villa. Terkumpulnya uang ini adalah bentuk bagian
pertama untuk mencapai dharma. Sumbangan dana yang berdasarkan dharma adalah
perwujudan dari sebuah yadnya yang disebut dengan dana punia.

3.3.5 Makna Kesuburan
Palinggih Dewi Sri lan Rambut Sedana dan palinggih Bhatari Dewi Danuh
yang diyakini sebagai Dewa dan Dewi yang memberkahi perlindungan dan memberi
keberuntungan. Karena itu, Dewa Wisnu dan Dewi Sri di pura bedugul memiliki makna
keberlimpahan/kesuburan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Dharam Vir Sing, dalam
bukunya berjudul, Hinduisme Sebuah Pengantar (2006:71-72) mengatakan bahwa
Laksmi atau Dewi Sri atau Dewi Danu adalah pasangan Dewa Wisnu. Dewi Sri/Dewi
Danu adalah Dewi kemakmuran dan keberuntungan. Di dalam kitab Atharvaveda
VII.89.1 disebutkan:
po divy acayisam
Rsena sampraksmai
Tm ma sam sja vrcasa
Terjemahan:
Kami mengumpulkan air hujan dan berhasil mencampurnya dengan minuman
segar soma (minuman Sang Hyang Soma), semoga ia memberikan kemuliaan
kepada kami (Suamba, 2011: 226).
Secara mitologi tentang kesuburan dapat diceritakan tentang mitos bahwa
pertemuan Dewa Wisnu dengan Dewi Wasundari yang mampu menciptakan Sang Boma
sebagai simbol kesuburan (Astina, 2008:113).

IV. SIMPULAN
1. Struktur pura bedugul Subak Gebang Gading Atas menggunakan konsep dwi
mandala yaitu Jeroan dan Jaba pisan. Sturktur bangunan pura bedugul Subak
Gebang Gading Atas menggunakan konsep loka dsrta desa Tegalmengkeb yang
menunjukkan kearifan lokal subak setempat. Kehadiran pengembangan pariwisata
di subak ini menyebabkan pengempon pura bedugul berkurang dan berasal dari
berbagai daerah akibat lahan sawah yang banyak menjadi sarana akomodasi
pariwisata (villa).
2. Fungsi pura bedugul Subak Gebang Gading Atas adalah sebagai tempat pemujaan
kepada Tuhan dan segala manifestasi-Nya (fungsi religi), tempat perekat sosial-
religius antar sesama krama subak (fungsi sosial), sumber penghasil dana khas
subak (fungsi ekonomi), dan elemen utama sawah adalah tanah (pertivi) dan air
yang berperan penting untuk memberi kehidupan (padi bisa tumbuh dengan subur)
yang mempercayai Dewa Wisnu dan Dewi Pertivi sebagai lambang kesuburan
(fungsi kesuburan), dan adanya ekspresi keindahan yang terkandung baik dari
palinggih ataupun sarana upakara (fungsi estetika) . Fungsi pura bedugul ini telah
mengalami perubahan. Perubahan fungsi pura bedugul disebabkan karena ada
pengembangan pariwisata di subak Gebang Gading Atas.
3. Makna teologi pura bedugul Subak Gebang Gading Atas adalah makna (1) Widdhi
sraddha yaitu percaya akan adanya Tuhan yang menguasai persawahan, (2)
simbolis bhuana agung yaitu adanya palinggih padmasana sebagai simbol alam
semesta, (3) makna sosial yaitu bangunan pura adalah tempat krama subak
melakukan persembahyangan bersama dengan tujuan mendapat kemakmuran, (4)
makna ekonomi yaitu tindakan dana punia dari sang pemberi dan sang penerima
dana punia sebagai simbol dharma, dan (5) makna kesuburan yaitu bangunan
pura bedugul adalah simbolis dari sthana atau lingga Tuhan yang diperuntukkan
untuk tempat memuja Tuhan pemilik sifat Pemberi Kemakmuran. Adanya lima
makna yang terkandung di pura bedugul tidak ada mengalami perubahan walaupun
adanya pengembangan pariwisata di subak Gebang Gading Atas.



V. SARAN
1. Kepada seluruh prajuru subak Gebang Gading Atas untuk membuat prasasti
dan papan peringatan. Membuat sertifikat tanah untuk menghindari terjadinya
pengurangan areal pura.
2. Diharapkan kepada desa pakraman menjalankan kewajiban yaitu menerapkan
ajaran agama Hindu. Drsta yang diterapkan di desa pakraman harus drsta yang
berdasarkan kebenaran suci atau dharma.
3. Kepada pengempon pura bedugul diharapkan agar memikirkan dan merehab
struktur pura bedugul sesuai dengan konsep struktur pura yang benar seperti
yang tertulis dalam lontar jajar kemiri.
4. Kepada pemerintah daerah atau instansi terkait berupaya untuk mengadakan
pembinaan kepada umat Hindu baik melalui dialog interaktif, dharma wacana,
dharmatula, seminar, diskusi, dan loka karya.

VI. UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa di dalam penulisan skripsi ini tidak
semata-mata usaha sendiri, melainkan juga atas bimbingan dan motivasi dari berbagai
pihak. Oleh karena itu,dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih
kepada;
1. Prof. Dr. I Made Titib, Ph. D., Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar yang
telah menyetujui serta memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian.
2. Drs. I Made Suweta, M. Si., Dekan Fakultas Brahma Widya, Institut Hindu Dharma
Negeri Denpasar yang telah menyetujui serta memberikan ijin untuk melaksanakan
penelitian.
3. I Made Dwitayasa, S. Ag., M. Ag., Ketua Jurusan Teologi Hindu, Fakultas Brahma
Widya, Intitut Hindu Dharma Negeri Denpasar Denpasar yang telah menyetujui
sertamemberikan ijinuntuk melaksanakan penelitian.
4. Dr. Dra. Ida Ayu Tary Puspa, S.Ag., M.Par., Pembimbing I, yang banyak
memberikan bimbingan, saran, dan masukan dalam penulisan skripsi.
5. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H., Pembimbing II, yang banyak
memberikan bimbingan, saran, dan masukan dalam penulisan skripsi.
6. Para Dewan Penguji yang telah memberikan kritikan, saran, dan masukan dalam
penyempurnaan skripsi.
7. Para Dosen yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan
ilmunya dengan kesungguhan hati.
8. Kepala Perpustakaan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar atas bantuannya dalam
peminjaman buku-buku perpustakaan.
9. Kepala Desa Tegalmengkeb, yang telah memberikan izin untuk melaksanakan
penelitian di DesaTegalmengkeb.
10. Para informan yang telah banyak membantu dalam memberikan informasi yang
diperlukan dalam penyusunan proposal skripsi.




VII. DAFTAR PUSTAKA
Astina, I Made Andi. 2008. Upacara Mulang Pakelem di Danau Batur Kecamatan
Kintamani Kabupaten Bangli (Analisis, Bentuk, Fungsi, dan Makna). Skripsi
Brahma Widya. Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Brhman, Adi I Made. 2010. Persepsi dan Pelaksanaan Ajaran Catur Yoga dalam
Memuja Tuhan pada Masyarakat Hindu: Studi Kasus di Kecamatan Sukawati,
Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali. Program Pasca Sarjana Institut Hindu
Dharma Negeri Denpasar.
Dharma Vir Singh, alih bahasa: I.G.A Dewi Paramitha, S.S. 2006. Hinduisme Sebuah
Pengantar. Surabaya: Paramita.
Dibia, I Wayan. 2003. Nilai-Nilai Estetika Hindu dalam Kesenian Bali, dalam
Estetika Hindu dan Pengembangan Bali. Denpasar: Kerja Sama Magister
Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI dan Widya Dharma.
Donder, I Ketut. 2006. Brahma Widya; Teologi Kasih Semesta. Surabaya: Paramita.
Geriya, I Wayan dkk. 1981. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Bali. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kadjeng, Nyoman dkk. 1997. Sarasamuccaya. Surbaya: Paramita.
Permata, Ahmad Norma. 2000. Metodelogi Studi Agama. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Suamba, I Nyoman. 2011. Pemujaan Arca Ratu Agung dan Dewi Sri di Pura Camara
Desa Pakraman Serangan Kota Denpasar. Tesis. Brahma Widya. IHDN
Denpasar.
Sumawa dan Raka Krisnu. 1993. Materi Pokok DARSANA. Jakarta: Ditjen Bimas
Hindu dan Buddha.
Surayin, Ida Ayu Putu. 2002: Melangkah Kearah Persiapan Upakara-Upakara
Yadnya. Surabaya: paramita.
Surpa, I Wayan. 2004. Pura Subak di Masyarakat Perkotaan dalam Perspektif
Perubahan Budaya: Kasus di Kota Denpasar. Tesis. Denpasar: Universitas
Udayana.
Titib, I Made. 2003. Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya:
Paramita.
Titib, I Made. 2004. Purana Sumber Ajaran Hindu Komprehensip. Surabaya:
Paramita.