INTERNATIONAL SEMINAR

Reformulating The Paradigm of Technical and Vocational Education
360

APLIKASI 12 PILAR KEUTAMAAN PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENDIDIKAN TATA BUSANA

Endang Prahastuti
Universitas Negeri Malang

Abstrak
Tata Busana adalah salah satu bidang ilmu yang sangat pesat perkembangannya, bahkan
hampir pasti setiap tahun berganti kecenderungan berbusana (trend). Kurikulum Pendidikan
Tata Busana hendaknya disusun agar menghasilkan guru bidang Tata Busana yang tanggap
terhadap tantangan pasar yang selalu berkembang cepat. Aplikasi 12 Pilar Keutamaan
Pendidikan Karakter pada pengembangan kurikulum Pendidikan Tata Busana merupakan
salah satu solusi pemecahan masalah tersebut.

Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Rancangan Pembelajaran, Kurikulum Pendidikan Tata
Busana

Pendahuluan
Busana adalah salah satu kebutuhan pokok manusia di segala penjuru dunia, dengan
demikian menyebabkan busana menjadi komoditi yang sifatnya tidak berbatas. Di Indonesia ,
busana adalah salah satu dari 14 jenis sub sektor industri yang menjadi perhatian Departemen
Perdagangan Indonesia(http://www.depdag.go.id). Bidang busana dipandang sebagai salah satu
sub sektor yang sangat berpotensi untuk diolah menjadi sub sektor industri kreatif yang dapat
meningkatkan laju sektor ekonomi negara. Hal tersebut menjadikan posisi Lembaga Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan (LPTK) sebagai pencetak sarjana Pendidikan Tata Busana menjadi salah
satu unsur penentu keberhasilan laju sektor ekonomi melalui kiprah guru Tata Busana dan pelaku
wirausaha busana.
Kurikulum Pendidikan Tata Busana seyogyanya menyajikan mata kuliah mata kuliah
kependidikan dan kejuruan dengan susunan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dengan
demikian, lulusan yang dihasilkan mempunyai keahlian untuk menjadi guru Tata Busana yang
profesional dan atau yang secara otomatis juga memiliki kompetensi untuk mengembangkan
usaha kreatif di Bidang Busana berskala global. Tentu saja itu bukan merupakan pekerjaan mudah,
salah satunya diperlukan pribadi dosen yang tidak sekedar menyampaikan materi perkuliahan
namun merupakan pribadi yang juga mau selalu belajar sepanjang hayatnya.
Pada sisi lain, berbagai pemberitaan media tentang menurunnya kualitas kepribadian
bangsa rasanya juga merupakan keprihatian yang secara tidak langsung juga akan menginfeksi
dunia pendidikan. Hal ini sepertinya salah satu alasan yang membuat Doni Koesoema A (Direktur
Pendidikan Karakter) mengembangkan 12 pilar Keutamaan Pendidikan Karakter di Indonesia
(http:// www.pendidikan karakter.org/12pilar).
Sebagai dosen LPTK mampukah kita turut serta dalam pergulatan untuk menghasilkan
lulusan Pendidikan Tata Busana yang profesional dan mampu menjadi wirausaha kreatif di
bidangnya? Dengan kompetensi yang utuh prosentase lulusannya akan terserap secara maksimal
pada dunia kerja.
Pendidikan karakter menyediakan suatu alternatif pemecahan masalah tersebut adalah
dengan menyisipkan 12 pilar keutamaan pendidikan karakter dalam kurikulum Pendidikan Tata
Busana.

INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating The Paradigm of Technical and Vocational Education
361


Kurikulum Pendidikan Tinggi
Kurikulum Pendidikan Tinggi yang menjadi dasar penyelenggaraan program studi terdiri
dari kurikulum inti dan kurikulum institusional . Kurikulum inti merupakanbahan kajian dan
pelajaran yang harus dicakup oleh suatu program studi yang dirumuskan dalam kurikulum yang
berlaku secara nasional. Kurikulum institusional adalah sejumlah bahan kajian dan pelajaran yang
merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi , terdiri atas tambahan dan kelompok ilmu
dalam kurikulum inti yang disusun dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan lingkungan
serta ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan ( Kepmendiknas 232/U/200 bab IV psl 7).
Mengacu pada bab IV pasal 11 Kepmendiknas tersebut, Perguruan tinggi memiliki
kewenangan untuk menetapkan kurikulum institusi pada program studi masing masing. Dengan
demikian hal hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum perguruan tinggi dapat diwadahi
pada porsi kurikulum institusi.
Konsep kurikulum secara hirarhis dikelompokkan menjadi 5, yakni : 1) kurikulum ideal, 2)
kurikulum formal, 3) kurikulum formal, 4) kurikulum operasional, dan 5) kurikulum eksperiensial.
Kurikulum ideal bersifat filosofis sehingga dijadikan acuan dalam proses penyusunan kurikulum
formal pada suatu bidang studi. Pelaksanaan pembelajaran di tingkat program studi suatu lembaga
pendidikan menggunakan kurikulum formal sebagai dasar pengembangannya. Kurikulum formal
umumnya dikembangkan berdasarkan konsep model CBC (Curriculum-Based Competency) .
(Sudjimat, D.A. 2011).
Dalam konsep model CBC pengembangan diawali dengan analisis pekerjaan dengan
memperhatikan 1) kebutuhan industri, 2) kebutuhan masyarakat, 3) kemajuan teknologi dan 4)
kebutuhan pertumbuhan personal. Pekerjaan tersebut akan menghasilkan rumusan kompetensi
yang selanjutnya dipetakan menjadi sub-sub kompetensi. Analisis sub kompetensi tersebut akan
menurunkan rumusan materi pokok pembelajaran (cognitive skills, technical skills, social skills).
Sampai dengan tahap ini suatu program studi sudah dapat menghasilkan kurikulum formal
sekaligus kurikulum instruksional yang siap diterapkan dalam bentuk perangkat pembelajaran.

Pendidikan Karakter
Karakter adalah sifat kepribadian manusia yang merupakan bawaan dari lahir , yang terbagi
menjadi 4 kelompok yakni: 1)Tipe sanguinis: tipe individu yang mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungan dimana dia berada, 2) Tipe melankolis: tipe individu yang menuntut kesempurnaan
dalam segala bidang, 3)Tipe koleris : tipe individu yang kuat, ekstrovert dan optimis, 4)Tipe
plegmatis: tipe individu yang introvert, pengamat dan pesimis (Littauer, 1996).
Sehubungan dengan bawaan tersebut, dikemudian hari sebagai individu akan mengalami
banyak pengalaman belajar yang akan berpengaruh juga terhadap sifat bawaannya. Oleh karena
itu diperlukan latihan pendidikan karakter agar sesorang individu dapat menjadi individu yang
bahagia dan berguna bagi diri dan masyarakat sekitarnya.
Pendidikan karakter merupakan suatu cara melatih individu untuk belajar peka terhadap
segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia sehingga segala sesuatu yang
dipelajari akan menghasilkan suatu kompetensi yang utuh dan menyeluruh. Direktur Pendidikan
Karakter, Donni Koesoema A mengemukakan bahwa untuk membentuk karakter individu yang
utuh dan menyeluruh dikembangkan 12 Pilar Pendidikan karakter sebagai berikut: 1) Penghargaan
terhadap tubuh, 2) Transendental, 3) Keunggulan akademik, 4) Penguasaan diri, 5) Keberanian, 6)
Cinta kebenaran, 7) Terampil, 8) Demokratis, 9) Menghargai perbedaan, 10) Tanggung jawab, 11)
Keadilan, 12) Integritas moral. (http:// www.pendidikan karakter.org/12pilar).
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating The Paradigm of Technical and Vocational Education
362

Penghargaan terhadap tubuh, setiap individu diharapkan mempunyai sikap penghargaan
terhadap tubuh yang baik. Perilaku tersebut dapat diajarkan tidak hanya di dalam lingkungan
keluarga namun juga dalam ranah pendidikan formal . Penghargaan terhadap tubuh termasuk di
dalamnya kesediaan dan kemampuan individu menjaga dan merawat kesehatan jasmani melalui
olah raga, makan minum yang cukup, menjaga tubuh dari paparan zat-zat berbahaya seperti
narkoba dan obat-obatan terlarang.
Pada dasarnya dimanapun tempatnya setiap individu membutuhkan hubungan yang
sifatnya transendental, baik itu yang sifatnya religius, keagamaan, maupun yang sublim, seperti
kepekaan seni, apresiasi karya-karya manusia yang membangkitkan refleksi serta kemampuan
untuk memahami kebesaran yang Illahi merupakan dasar bagi pengembangan pembentukan
karakter.
Tujuan utama lembaga pendidikan tinggi pada dasarnya adalah mentransfer ilmu agar para
mahasiswa memiliki keunggulan akademik . Keunggulan akademik berbeda dengan sekedar lulus
ujian dengan nilai bagus. Keunggulan akademik mencakup di dalamnya, cinta akan ilmu,
kemampuan berpikir kritis, teguh pada pendirian, serta mau mengubah pendirian itu setelah
memiliki pertimbangan dan argumentasi yang matang, memiliki keterbukaan akan pemikiran
orang lain, berani terus menerus melakukan evaluasi dan kritik diri, terampil mengkomunikasikan
gagasan, pemikiran, melalui bahasa yang berlaku dalam ruang lingkup dunia akademik,
mengembangkan rasa kepenasaranan intelektual yang menjadi kunci serta pintu pembuka bagi
hadirnya ilmu pengetahuan.
Penguasaan diri, kemampuan individu untuk menguasai emosi dan perasaannya, serta mau
menundukkan seluruh dorongan emosi itu pada tujuan yang benar selaras dengan panduan akal
budi harus senantiasa dilatih terus menerus. Secara jasmaniah emosi juga berhubungan dengan
keadaan hormonal di dalam tubuh sehingga pada beberapa keadaan misalnya tahap pre menstruasi
pada wanita, kadangkala wanita akan mengalami perasaan emosi yang berlebihan.
Keberanian merupakan keutamaan yang memungkinkan individu mampu melakukan
sesuatu dan merelisasikan apa yang dicita-citakannya. Sikap berani menunjukan kebenaran, berani
mengakui kesalahan, berani mencoba, berani mengambil resiko tidak akan sama kadarnya pada
setiap individu . Dengan demikian individu perlu mendapat latihan untuk memupuk keberanian.
Cinta akan kebenaran merupakan dasar pembentukan karakter yang baik, bukan sekedar sebagai
seorang pembelajar, melainkan juga sebagai manusia
Memiliki berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan, bagi
perkembangan individu maupun dalam kerangka pengembangan profesional menjadi syarat utama
pengembangan pendidikan karakter yang utuh. Memiliki kemampuan dasar berkomunikasi, baik
secara lisan maupun tulisan, kompeten dalam bidang yang digeluti merupakan dasar bagi
keberhasilan hidup di dalam masyarakat. Melalui kompetensinya ini seorang individu mampu
mengubah dunia.
Masyarakat global hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Ada kebutuhan untuk
saling membutuhkan, bahu membahu satu sama lain dengan demikian diperlukan latihan untuk
dapat bersikap demokratis.
Perbedaan adalah kodrat manusia. Menghargai perbedaan merupakan sikap fundamental
yang mesti ditumbuhkan dalam diri individu. Tanggungjawab merupakan unsur penting bagi
pengembangan pendidikan karakter karena terkait dengan ekspresi kebebasan manusia terhadap
dirinya sendiri dan orang lain. Tanggung jawab ini memiliki tiga dimensi, yaitu tanggungjawab
kepada (relasi antara individu dengan orang lain), tanggungjawab bagi (hubungan individu dengan
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating The Paradigm of Technical and Vocational Education
363

dirinya sendiri), serta tanggungjawab terhadap (hubungan individu terkait dengan tugas dan
tanggungjawabnya di dalam masyarakat).
Bersikap adil, serta mau memperjuangkan keadilan adalah sikap dasar pribadi yang
memiliki karakter. Keadilan penting untuk diperjuangkan karena manusia memiliki kecenderungan
untuk antisosial. Untuk itulah diperlukan komitmen bersama agar masing-masing individu dihargai
Integritas moral merupakan sasaran utama pembentukan individu dalam pendidikan karakter.
Integritas moral inilah yang menjadikan masing-masing individu dalam masyarakat yang plural
mampu bekerjasama memperjuangkan dan merealisasikan apa yang baik, yang luhur, adil dan
bermartabat bagi manusia, apapun perbedaan keyakinan yang mereka miliki.
Dengan memahami 12 pilar pendidikan karakter diharapkan pengembangan kurikulum
pendidikan tata busana di perguruan tinggi dengan cara menyisipkan pesan tersebut pada
kurikulum instruksional untuk menuju suatu kompetensi yang utuh dan menyeluruh . Dengan
karakter kompetensi yang demikian akan meningkatkan prosentase individu yang terserap pada
dunia kerja baik yang bersifat formal sebagai guru Tata Busana, maupun pada industri kreatif
bidang busana.

Pengembangan Kurilulum Pendidikan Tata Busana
Pengembangan kurikulum instruksional biasanya dikemas dalam bentuk perangkat
pembelajaran berupa silabus dan rancangan pembelajaran. Silabus mata kuliah disusun untuk
memberikan gambaran tentang kompetensi apa yang harus dikuasahi oleh mahasiswa, cara
mencapai kompetensi tersebut, dan bagaimana dosen mengetahui tahap pencapaian kompetensi
tersebut. Dalam rangkaian silabus suatu mata kuliah dapat terdiri dari beberapa kompetensi dasar
(KD) .Rancangan Pembelajaran adalah bagian dari silabus yang dirancang untuk suatu mata kuliah
dalam satu semester. Rancangan pembelajaran dibuat per KD sehingga untuk satu mata kuliah
dosen harus menyiapkan beberapa KD rancangan pembelajaran.
Pendidikan Tata Busana adalah bidang studi yang membekali mahasiswa ilmu tentang
menjadi guru tata busana, terdiri dari ilmu kependidikan dan ilmu tentang kejuruan . Dalam rangka
optimalisasi pembelajaran , 12 pilar pendidikan karakter dapat diaplikasikan pada penyusunan
silabus dan rancangan pembelajaran dengan tetap berpegang pada kurikulum formal yang disusun
dengan mengacu pada kebutuhan pasar.
Agar terjadi proses belajar yang optimal perumusan tujuan pembelajaran hendaknya secara
eksplisit menyebutkan indikator pendidikan karakter yang sesuai dengan bidang tata busana.
Susunan bahan ajar juga dapat disisipi item item pendidikan karakter sehingga dapat memberikan
illustrasi yang lebih baik sekaligus menanamkan karakter karakter yang diperlukan untuk menjadi
pribadi yang utuh. Di akhir rumusan tujuan pembelajaran diakhiri dengan kisi-kisi evaluasi
pembelajaran yang mengikutsertakan nilai pendidikan karakter yang ditampilkan oleh mahasiswa.
Dengan demikian disamping penguasaan hard skills secara bersama sama mahasiswa akan
memiliki soft skills yang dapat menunjang performace kompetensi dasar.
Beberapa analis mengemukakan bahwa standar sukses pekerja di dunia kerja tidak hanya
ditentukan oleh penguasaan hard skills saja namun justru sebagian besar ditentukan oleh
penguasaan soft skills yang terkait dengan bidang kerjanya (Sudjimat, D.A. 2011).

Simpulan
12 Pilar Pendidikan Karakter menawarkan alternatif pengembangan kurikulum agar
mahasiswa dapat menikmati suatu proses pembelajaran yang lebih optimal sehingga pada saat
mereka lulus disamping memiliki kompetensi sebagai pendidik yang profesional juga pada satu
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating The Paradigm of Technical and Vocational Education
364

sisi lain juga melekat karakter-karakter pendamping yang menjadikan mereka lebih bermakna di
dunia kerja.

Daftar Pustaka
http:// www.pendidikan karakter.org/12pilar diakses 5 April 2012.
http://www.depdag.go.id diakses 2 Desember 2011
Kepmendiknas 232/U/2000. Tentang Pedoman Penyususnan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan
Penilaiann Hasil Belajar mahasiswa
Littauer, Florence. 1996. Personality Plus. Jakarta: Bina aksara
Sudjimat, D.A. 2011. Revitalisasi Kurikulum Program Studi,Upaya Membangun SDM Unggul
Abad XXI, Seminbar dan Workshop Revitalisasi Kurikulum Jurusan Teknologi Industri
Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang 02-03 April 2011. Malang: Jurusan Teknologi
Industri Universitas Negeri Malang
Waras. 2006. Pemantapan Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi, Workshop Peningkatan Mutu
Pembelajaran di Fakultas Tenik Universitas Negeri Malang 22-23 Agustus 2006. Malang:
LP3-UM

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.