INTERNATIONAL SEMINAR

Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

705

GAYA DEMOKRATIS GURU DALAM PENGELOLAAN KELAS UNTUK
MENCIPTAKAN AKTIVITAS KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
YANG EFEKTIF

Agus Sunandar
Agus Heri Supadmi
Universitas Negeri Malang

Abstract:
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran
yang dilaksanakannya. Keterampilan pengelolaan kelas merupakan hal yang penting dalam
pengajaran yang baik. Praktik pengelolaan kelas yang baik oleh guru akan menghasilkan
perkembangan keterampilan pengelolaan diri siswa yang baik pula, kemampuan guru memilih
strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis
masalah kelas yang dihadapinya, jika ia tepat meletakkan strategi tersebut maka prosesbelajar
mengajar akan efektif. Dalam menjalankan tugasnya guru mempunyai style atau gaya yang
berbeda-beda. Gaya seorang guru dipengaruhi oleh karakter guru yang terbentuk dari
pengalamn hidup yang ia alami. Banyak karakter dan gaya yang dimiliki guru akan
berpengaruh pada siswa, baik pengaruh negative maupun positif. Ada 4 tipe karakter guru
yaitu, otoriter,pseudo-demokrasi, laizzes-faire dan demokratis.Namun dari banyaknya tipe,
karakter kepemimpinan/gaya guru maka gaya Demokratislah yang paling relevan untuk
menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif. Karena gaya ini memberikan ruang yang
optimal bagi peserta didik untuk mengembangkan semua potensi positif yang dimilikinya.
Kata kunci: Gaya Demokratis, efektif

PENDAHULUAN
Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa, dan proses kegiatan belajar mengajar kebanyakan
berlangsung di dalam kelas. Di dalam kelas itulah interaksi antara guru dan siswa terjadi. Di
kelaslah segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses Lebi, sehingga hasil pembelajaran
ditentukan pula oleh apa yang terjadi di kelas.
Tugas guru sebagian besar terjadi dalam kelas yaitu membelajarkan siswa. Banyak aspek
terkait dengan pengelolaan kelas, salah satunya adalah gaya kepemimpinan guru. Guru memiliki
peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang
dilaksanakannya. Keterampilan pengelolaan kelas merupakan hal yang penting dalam pengajaran
yang baik.Praktik pengelolaan kelas yang baik yang dilaksanakan oleh guru akan menghasilkan
perkembangan keterampilan pengelolaan diri siswa yang baik pula. Teknik pengelolaan kelas harus
diupayakan agar tidak mengganggu aspek pembelajaran di kelas.
Secara garis besar kondisi fisik kelas dan sosio-emosional siswa akan mempengaruhi
jalannya kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru. Untuk itu diperlukan pemahaman dan
keterampilan guru dalam mengelola kelas. Pemahaman yang dimaksudkan adalah guru harus
mempelajari dan mendalami teori-teori dari kegiatan manajemen kelas yang dimaksudkan.
Sedangkan keterampilan adalah kemampuan yang dapat dipraktekan oleh guru, untuk dapat
memiliki keterampilan tersebut maka guru harus terus menerus mencoba dan mempraktekan serta
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dirasakannya serta mencari bentuk-bentuk baru sebagai
bentuk inovasi dalam kegiatan pengelolaan kelas.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang ada dalam pembahasan pengelolaan
kelas adalah:
1. Mengapa kelas perlu dikelola dengan efektif?
2. Strategi apa yang dilakukan untuk menciptakan aktivitas kelas yang efektif?
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

706

PEMBAHASAN
Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas memiliki banyak definisi, ada lima definisi tentang pengelolaan kelas, yaitu (1) pengelolaan
kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana
kelas, (2) pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan
siswa, (3) pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku
siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, (4)
pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal
yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif, dan (5) pengelolaan kelas ialah
seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif
( Depdikbub, 1982). Definisi yang pluralistic, pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk
mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah
laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional
yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan
produktif.
Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, istilah pengelolaan diartikan dengan
penyelenggaraan, pengurusan (Poerwadarminta, 2002:470). Sedangkan yang dimaksud dengan
kelas adalah tingkat , ruang, tempat belajar di sekolah(Purwadarminta, 2002:446). Menurut
(Usman, 2002), pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. Senada dengan pendapat tersebut adalah Wina yang mengatakan bahwa, Pengelolaan
kelas adalah merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar optimal
dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana
belajar(2005:174)
Namun pengelolaan kelas dalam bahasa inggris sering disebut dengan istilah Classroom
Management. Pengelolaan Kelas (classroom management) berdasarkan pendekatan menurut
Nuhung Ruis (2009 : 3) diklasifikasikan keadaan dua pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan
otoriter dan pendekatan permisif. Berdasarkan pendekatan otoriter pengelolaan kelas adalah
kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa,guru berperan menciptakan dan memelihara
aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat. Kedua pendekatan permisif mengartikan
pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan untuk siswa
melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan yang mereka inginkan.
Manajemen atau pengelolaan diartikan proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk
mencapai sasaran. Sedangkan kelas diartikan secara umum sebagai sekelompok siswa yang ada
pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dalam arti luas
kelas dapat pula diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada murid-
murid dalam sutau ruangan untuk sutau tingkat tertentu pada jam tertentu.
Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan
suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk
belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas
merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis.
Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga,
pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan
waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan dapat tercapai. Pengelolaan dan
Pembelajaran dapat dibedakan tapi memiliki fungsi yang sama. Pengelolaan tekannya lebih kuat
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

707

pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran,sementara pembelajaran
(intruction) lebih kuat berkenaan dengan aspek mengelola atau memproses materi pembelajaran.
Manajemen Kelas adalah kegiatan pengelolaan perilaku murid-murid, sehingga murid-murid dapat
belajar. Manajemen kelas adalah :
(1) Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas
melalaui penggunaan disiplin (pendekatan otoriter), (2) Seperangkat kegiatan guru untuk
menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi (pendekatan
intimidasi), (3) Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (pendekatan
permisif), (4) Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti
petunjuk/resep yang telah disajikan (pendekatan buku masak), (5) Seperangkat kegiatan guru untuk
menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan
dilaksanakan dengan baik (pendekatan instruksional)\, (6) Seperangkat kegiatan guru untuk
mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang
tidak diinginkan (pendekatan perubahan perilaku), (7) Seperangkat kegiatan guru untuk
mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif
(pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional), (8) Seperangkat kegiatan guru untuk
menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (pendekatan sistem sosial).
Secara umum pengelolaan kelas memiliki karakteristik yang sama, yaitu merupakan upaya yang
nyata untuk mewujudkan suatu kondisi proses atau kegiatan belajar mengajar yang efektif.

Tujuan Pengelolaan Kelas
Menurut Dirjen Dikdasmen(1982) yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah:
(1)Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin, (2) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya
interaksi pembelajaran, (3) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang
mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan
intelektual siswa dalam kelas, (4) Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang
sosial, ekonomi, budayaserta sifat-sifat individunya. Menurut (Raka Joni : 1) Pengelolaan kelas
adalah berbagai jenis kegiatan yang senagaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Tujuan
pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan dan secara umum
tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa
sehingga subjek didik terhindar dari permasalahan yang dapat mengganggu seperti: enggan
mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaaan aneh dan lain sebagainya
(Sutopo, 2005:200)
Pendapat lain menyatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah:(1)Tujuan umum
pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakanfasilitas belajar untuk bermacam-macam
kegiatan belajar mengajar agarmencapai hasil yang baik.(2) Tujuan khususnya adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalammenggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-
kondisi yangmemungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untukmemperoleh
hasil yang diharapkan ( Usman, 2002)

Ciri-Ciri Pengelolaan Kelas Yang Berhasil
Ciri pengelolaan kelas yang berhasil dapat ditandai dengan beberapa indikator sebagai
berikut, yaitu: (1) Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas, (2)
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

708

Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah, (3) Guru
mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk
kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa
yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain).
Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas, (4) Guru melakukan pengelolaan kelas dengan
mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung
jawab, (5) Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi (stiker,
penghilangan hak siswa dan lain-lain) dan(6) Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas
disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari (Teacher net,4 Desember 2011).

Peran Guru dalam Mengelola Kelas
Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar
mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan
sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru
dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar
mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya (Sutopo, 2005:200).
Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan siswa perlu diperhatikan hal.hal
sebagai berikut :
1. Aksesbilitas : siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.
2. Mobilitas : siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian
yang lain.
3. Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri siswa maupun antar
siswa
4. Variasi kerja siswa : memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,
berpasangan atau berkelompok.(Boediono, 2002:8)
Pada intinya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat
tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah kelas yang dihadapinya, jika ia tepat
meletakkan strategi tersebut maka prosesbelajar mengajar akan efektif. Untuk mencapai tujuan
tersebut, guru memiliki peranan yang sangat penting. Guru dengan karakter dan perilakunya pasti
akan memberikan pengaruh dalam kagiatan mengelola kelas tersebut. Kata kata yang diucapkan
oleh guru kepada siswa atau anak didik dalam pergaulan mereka di sekolah sangat menentukan
masa depan mereka.
Kata kata yang diucapkan oleh guru pada anak didik ibarat panah yang lepas dari busur. Kata
yang keluar dari mulut guru akan menancap pada hati anak didik. Bila kata- kata tadi melukai hati
mereka, maka goresannya akan membekas sampai tua. Sering kata kata yang tidak simpatik dari
seorang guru telah menghancurkan semangat hidup mereka. Sebaliknya kata kata yang mampu
memberi dorongan semangat juga sangat berarti dalam menumbuh dan mengembangkan semangat
hidup- semangat belajar dan bekerja mereka.
Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau
bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat
ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu
cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Guru yang cerdas atau pintar namun
memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak
memberi pengaruh kepada anak didik. Maka gaya guru pada akhirnya akan mempengaruhi anak
didik.

INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

709

Bagaimana Strategi Guru dalam menciptakan aktivitas Kelas yang Efektif
Dalam menjalankan tugasnya guru mempunyai style atau gaya yang berbeda-beda. Gaya
seorang guru dipengaruhi oleh karakter guru yang terbentuk dari pengalamn hidup yang ia alami.
Tidak jarang guru dalam mengajar terpengaruh oleh gaya mengajar guru saat yang bersangkutan
duduk di bangku sekolah. Bahkan tak jarang dari ungkapan, hardikan atau gaya berpakainpun
sering terpengaruh oleh guru idolanya. Hal ini tidak menjadi masalah jika guru yang ditiru adalah
guru dengan karakter mengajar positif namun jika guru yan dijadikan model peniruan adalah guru
dengan karakter negatif tentunya sangat merugikan peserta didik. Oleh sebab itu perlu pendekatan
khusus dalam proses belajar mengajar.
Menurut (James Cooper, 1995) mengemukakan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas,
yaitu pendekatan modifikasi perilaku, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan
proseskelompok.
Banyak karakter dan gaya yang dimiliki guru akan berpengaruh pada siswa, baik pengaruh
negative maupun positif. Ada 4 tipe karakter guru yaitu, otoriter,pseudo-demokrasi, laizzes-faire
dan demokratis. Meskipun demikian pembagian tipe guru ini tidak mutlak. Tentunya ada guru
dengan tipe kombinasi kempat tipe tersebut.
Tipe guru yang pertama adalah otoriter, guru dengan karakter ini mengendalikan semua
aktifitas yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar, mengesampingkan segala saran dan
masukan dari siswa. Tingkat keberhasilan diukur berdasarkan seberapa besar aturan dan disiplin
dapat diikuti sepenuhnya oleh siswa.
Guru yang menerapkan pseudo-demokrasi. Guru dengan karakter ini berusaha mengesankan
sebagai guru demokratis. Guru tipe ini seolah-olah mengakomodir saran-saran dan penddapat
siswa, namun kenyataannya saran atau pendapat siswa Hanya sebagai pemanis belaka sebab pada
akhirnya pendapat sang gurulah yang akan digunakan. Guru tipe ini cenderung memonopoli
kekuasaan. Awalnya sikap guru mengesankan peserta didik namun selanjutnya peserta didik
menjadi kurang simpatik setelah mengetahui karakter sang guru sesungguhnya.
Guru dengan karakter lizzes–faire (masa bodoh) cenderung menurunkan kualitas sekolah.
Dengan prinsip mengajar bentuk menggugurkan kewajiban, guru tipe ini cenderung tidak peduli
terhadap lingkungan sekolah. Bagi guru dengan tipe ini, setelah selesai mengajar maka selesai
sudah tugas ia sebagai guru, untuk selanjutnya ia akan segera pulang ke rumah. Guru tipe ini
menganggap sekolah bak terminal persinggahan semata, dengan sikap masa bodohnya sering
kurang peduli akan tugas-tugasnya sebagai pendidik yang tidak hanya mengajar semata.
Tipe guru yang selanjutnya adalah tipe guru yang demokratis.Tipe guru semacam ini
memiliki hati nurani yang tajam.Ia berusah mengajar dengan hati. Dengan wawasan yang ia miliki,
berusaha dengan penuh ketenangan hati dan tanpa lelah memotivasi peserta didik. Guru tipe ini
memberikan ruang kepada peserta didik untuk memaksimalkan berkembangnya potensi positif
pada dirinya.Figur guru semacam ini akan selalu dikenang oleh peserta didik sepanjang hayatnya.
Sebagai orang tua kedua di sekolah, guru tentunya mempunyai andil yang tidak sedikit
terhadap perkembangan kepribadian peserta didik. Untuk itu sudah selayaknya guru selalu
melakukan instropeksi guna meningkatkan komptensi dan karakter positif. Dan tidak ada salahnya
untuk terbuka terhadap kritik baik dari sesame guru atau bahkan dari peserta didik. Tentunya untuk
menjadi guru dengan karakter positif bukanlah sesuatu yang mudah, perlu membuka diri untuk
selalu meningkatkan potensi . Usaha terus menerus dengan selalu meningkatkan komptensi baik
melalui berbagi bacaan, pelatihan ,ataupun sharing dengan teman sejawat tentunya sangat
dibutuhkan.
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

710

Gaya kepemimpinan (Bahasa Inggris : Leadership Style) diartikan sebagai pola tindak
seseorang dari seorang pemimpin sebagai diri kepemimpinannya. Definisi kepemimpinan hampir
sama banyaknya dengan jumlah orang yang mencoba mendefinisikan konsep tersebut. (Stodgill,
1974:259; Gary A. Yukl, 1994:2), antara lain : Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang
individu yang memimpin aktivitas-aktivitasnya suatu kelompok ke tujuan yang ingin dicapainya
bersama (Hemphill & Coons,1957 : 7); Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-
aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan (Rauch & Behling, 1984 :
46). Gaya kepemimpinan akan menentukan sejauhmana efektivitas kepemimpinan, karena seorang
pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan yang tepat, akan dapat mengoptimalkan dan
memaksimalkan kepemimpinannya. Para pakar manajemen mendekati konsep efektivitas
kepemimpinan dari segi sikap perilaku pemimpin, dengan anggapan bahwa kemampuan untuk
membangkitkan, menggerakkan, dan mengarahkan orang-orang yang dipimpin, agar mengikuti
kemauan pemimpinnya tergantung pada gaya kepemimpinan dari pemimpin tersebut (Didi B.
Djajamihardja dkk. 1994 : 32). Lebih lanjut dikemukakan bahwa gaya kepemimpian yang
berdasarkan pada kewenangan yang dimiliki seorang pemimpin dikelompokkan menjadi tiga
macam yaitu : 1) Gaya kepemimpinan autokratik (otoriter), 2) Gaya kepemimpinan demokratik
atau partisipatif, dan 3) Gaya kepemimpinan bebas (laissez faire atau free rein) (Didi B.
Djajamihardja dkk. 1994 : 32; Winkel, 1987 : 117; Owens, 1981 : 149).
Dari pembahasa karakter dan gaya kepemimpinan tersebut, maka GURU DENGAN GAYA
DEMOKRATIS yang dapat menciptakan aktivitas kegiatan pengelolaan kelas berjalan dengan
efektif.

KESIMPULAN
Kegiatan belajar mengajar tak dapat dipisahkan dari pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas
akan memberikan pengaruh pada hasil belajar. Peran guru sangat memberikan pengaruh yang kuat
dalam menciptakan aktivitas kegiatan yang efektif.Karakter dan tipe/gaya kepemimpinan juga
memberikan pengaruh. Namun dari banyaknya tipe kepemimpinan/gaya guru maka gaya
Demokratislah yang paling relevan untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif. Karena
gaya ini memberikan ruang yang optimal bagi peserta didik untuk mengembangkan semua potensi
positif yang dimilikinya.....

Referensi.
Agus Warseno, (2011)Super Learning, Yogjakarta, Diva Press
Boediono, Kegiatan Belajar Mengajar, Jakarta: Puskur, Balitbang Depdiknas : dalamMakalah
Kurikulum Berbasis Kompetensi, httpwww.or.id/data/BukuKBM.Pdf, 2002.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Buku II: Modul Pengelolaan Kelas. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek
Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi.
Djadja mihardja, Didi R., etal. (1994). Kepemimpinan dan gaga kepemimpinan serta ef ektivitas
kepemimpinan. Jakarta : Institut Bankir Indonesia.
Hersey & Blanchard.(1993). Management of organizational behavior — utilizing human
resources.Sixth Edition. New Jersey : Prentice Hall International. Inc.
Poerwadarmita, W.J.S, Tim Penyusun Kamus Pusat Kamus Besar Bahasa
Indonesia,Jakarta : Balai Pustaka, 2002.
Sanjaya, Wina, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta :
Kencana Prenada Media Grup, 2005.
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

711

Sharan Shlomon, P.Hd. (2012), Handbook of Cooperative Learning, (terjemahan), Wesport,
Connection London.
Soetopo, Hendayat, Pendidikan dan Pembelajaran, Teori, Permasalahan, danPraktek, Malang :
UMM Press, 2005
Usman, Moh. Uzer.(1996). Menjadi guru profesional.Bandung : Remaja Rosda Karya.
Winkel, W.S. (1987). Psikologi pengajaran.Jakarta : P.T. Gramedia.
Yukl, Gary A. (1998). Leadership in organizations .Edisi Bahasa Indonesia.Jakarta :

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.