INTERNATIONAL SEMINAR

Reformulating The Paradigm of Technical and Vocational Education


1432

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN TEKNIK KONSTRUKSI
BANGUNAN DENGAN METODE PEMECAHAN MASALAH I DEAL
BERBASIS PAI KEM GUNA MENINGKATKAN HASIL DAN MOTIVASI
BELAJAR SISWA SMK
Sugiyanto, Sonny Wedhanto dan Priyono
Universitas Negeri Malang

Abstract:
This research is conducted and aimed to produce of instructional materials Building
Construction Technique with Ideal problem solving method based on Paikem. This research is
use development methods. Product validation in this year only through one by one test. One by
one test done by involved civil cengineering and instructional technology expert. Beside that
there are 5 (five) teachers and 8 (eigth) students of vocational senior high school and becoming
materials validator. The result of this research shows that this research was product of Building
Construction Technique subject have been validity according to criterion.

Kata Kunci: Bahan Ajar, RPP, Job sheet, Teknik Konstruksi Bangunan, SMK

Survei pendahuluan tim peneliti dalam pembelajaran Teknik Konstruksi di SMK di Kota
Malang menemukan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih sangat rendah. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian pemecahan masalah misalnya (l) Abidin (1989)
menemukan kemampuan rata-rata siswa dalam menyelesaikan soal komputasi sebesar 65% dalam
soal ceritera hanya 14,36%., dan (2) penelitian Dwiyogo (1996) menemukan kemampuan siswa dalam
soal komputasi 56%, sedangkan dalam soal ceritera sebesar 20%.
Padahal saat ini pengetahuan dan ketrampilan pemecahan masalah dianggap sebagai
kebutuhan dasar yang harus dimiliki oleh seorang siswa. Para pendidik yakin tanpa memiliki
kemampuan pemecahan masalah yang memadai siswa akan gagal dalam kehidupannya
dimasyarakat. Kondisi itulah yang memunculkan adanyanya gerakan yang kuat dalam dunia
pendidikan internasional untuk menempatkan pemecahan masalah sebagai komponen kunci dalam
kurikulum
Pada satu sisi muncul tuntutan agar pembelajaran di sekolah bercirikan PAIKEM yaitu
Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Namun kenyataannya yang
terjadi di sekolah adalah sistem pembelajaran yang pasif, tidak mampu menumbuhkan kreativitas
siswa, tidak efektif dan sebagian besar siswa menganggap aktivitas pembelajaran tidak
menyenangkan. Melihat permasalahan proses pembelajaran yang demikian maka dipandang perlu
untuk mencari solusi terhadap rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa dan menciptakan
sistem pembelajaran yang bercirikan PAIKEM. Berdasarkan alternatif-alternatif teknologi
pembelajaran yang ada, maka cara yang dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaran
adalah dengan pengembangan pembelajaran pemecahan masalah yang bercirikan PAIKEM. Salah
satu metode pembelajaran pemecahan masalah yang dianggap sesuai dengan mata pelajaran Produktif
adalah strategi pembelajaran pemecahan masalah IDEAL yang dikembangkan oleh Bransford (1984).
Sedangkan strategi pembelajaran yang bercirikan PAIKEM adalah strategi pengelolaan motivasional
ARCS (Attention, Relevance Confidence, Satisfaction). yang dikembangkan Keller (1995).
Strategi pembelajaran Pemecahan Masalah IDEAL terdiri dari lima tahap pembelajaran yaitu (l)
Identifikasi Masalah (Identify the problem) Identifikasi masalah merupakan tahap awal dari strategi
ini. Dalam tahap ini guru membimbing siswa untuk memahami aspek-aspek permasalahan seperti




membantu untuk mengembangkan /menganalisis permasalahan, mengajukan pertanyaan, mengkaji
hubungan antar data, memetakan masalah, mengembangkan hipotesis-hipotesis, (2) Mendefinisikan
Masalah (Define the problem), (3) Dalam tahap ini kegiatan guru meliputi membantu dan
membimbing siswa, melihat hal/data/variabel yang sudah diketahui dan hal yang belum diketahui,
mencari berbagai informasi, menyaring berbagai informasi yang ada dan akhirnya merumuskan
permasalahan, dan (4) Mencari Solusi (explore solution): Dalam tahap ini kegiatan guru adalah
membantu dan membimbing siswa mencari berbagai alternatif pemecahan masalah, melakukan
brain- strorming, melihat alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang dan akhirnya
memilih satu alternatif pemecahan masalah yang paling tepat, dan (5) Melaksanakan Strategi (Act on
the strategy): Melakukan langkah-langkah pemecahan masalah sesuai dengan alternatif yang telah
dipilih. Dalam tahap ini siswa dibimbing secara tahap demi tahap dalam melakukan pemecahan
masalah, dan (6) Mengkaji Kembali dan Mengevaluasi pengaruh (Look back and evaluate the effect).
Dalam tahap ini kegiatan guru adalah membimbing siswa melihat/mengoreksi kembali cara-cara
pemecahan masalah yang telah dilakukan, apakah sudah benar, sudah sempurna atau sudah lengkap.
Disamping itu siswa juga dibimbing untuk melihat pengaruh strategi yang digunakan dalam
pemecahan masalah.
Sedangkan model pembelajaran yang berbasis PAIKEM adalah strategi pengelolaan
motivasional yang dikembangkan oleh Keller (1983; 1987). Sesuai dengan konsep motivasi yang
diajukannya, Keller (1983; 1987) mengajukan empat jenis strategi pengelolaan motivasional
yang disebut ARCS yaitu (l) strategi pengelolaan motivasional untuk membangkitkan dan
mempertahankan perhatian (Attention), (2) strategi pengelolaan motivasional untuk menciptakan
relevansi terhadap isi pembelajaran (relevancy), (3) strategi pengelolaan motivasional untuk menum-
buhkan kayakinan diri pada siswa (confidence), dan (4) strategi pengelolaan motivasional untuk
menumbuhan rasa puas pada siswa terhadap pembelajaran (satisfaction). Dengan menggunakan
Kombinasi kedua strategi tersebut diyakini mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
siswa dan sekaligus menciptakan pembelajaran yang bercirikan PAIKEM. Berdasarkan permasalah
di atas maka tujuan penelitian ini adalah (l) Mengembangkan bahan ajar mata pelajaran Produktif di
SMK yang berbasis strategi Pemecahan Masalah IDEAL dan pengelolaan motivasional ARCS,
dan (2) Mengeksplorasi tanggapan para akhli bidang studi, dosen dan guru SMK terkait dengan
bahan ajar yang dikembangkan tersebut.

Metode
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, dengan subyek penelitian (l) dosen
Jurusan Teknik Sipil FT UM, (2) Guru SMK Jurusan Teknik Bangunan, Pembina mata pelajaran
Teknik Konstruksi Bangunan, (3) Akhli Bidang Studi/Minimal pendidikan S2 (T. Sipil), (4) Akhli
perancang pembelajaran/teknologi pembelajaran/Minimal S2 TEP. Pada penelitian difokuskan pada
kegiatan: (l) Mengidentifikasi permasalahan pelaksanaan pembelajaran Teknik Konstruksi Bangunan
khususnya kemampuan pemecahan masalah dan motivasi belajar siswa, (2) Mengidentifikasi faktor-
faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah dan motivasi belajar siswa, (3)
Mengidentifikasi praktik pembelajaran matapelajaran Teknik Konstruksi Bangunan yang ada pada
saat ini pada prodi Teknik Bangunan SMK, (4) Mengidentifikasi berbagai masalah yang dialami guru
dalam pembelajaran Teknik Konstruksi Bangunan dan masalah yang diprediksikan akan dihadapi
jika matapelajaran ttersebut diajarkan dengan setrategi Pemecahan Masalah IDEAL dan setrategi
pengelolaan motivasional ARCS, (5) Menyusun/mengembangkan prototype model pembelajaran
matapelajaran Teknik Konstruksi Bangunan dengan setrategi Pemecahan Masalah IDEAL dan
setrategi pengelolaan motivasional ARCS.




Tingkat validitas diperoleh adalah dengan menggunakan rating scale dengan cara jumlah skor
validator dibagi dengan skor kriterium dikalikan 100%, dimana dalam hal ini skor kriterium didapat
dari perkalian antara skor tertinggi, jumlah butir soal, dan jumlah validator (Sugiyono, 2010), atau
jika dirumuskan seperti tertera di bawah ini:
∑ X1
V = --------------- x 100%
∑ X0
Dimana:
V = tingkat validitas
∑ X1 = total skor jawaban dari validator
∑ X0 = total skor kriterium

Pemaknaan dari tingkat validitas disajikan pada tabel 1. berikut ini:

Tabel 1. Pemaknaan Tingkat Validitas Bahan Ajar
No. Tingkat Validitas Kriteria Keterangan
1 80 - 100 Valid Tidak revisi
2 60 – 79 Cukup valid Tidak revisi
3 40 - 59 Kurang Valid Perlu revisi
4 0 - 30 Tidak valid Perlu revisi

Tabel 4.5 di atas digunakan untuk memaknai hasil validasi dari bahan ajar yang dikembangkan.
Adapun adapun bahan ajar yang akan divalidasi adalah bahan ajar: (1) Bahan Ajar Pegangan Guru, (2)
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan (3) Lembar Kerja (JobSheet).

Hasil Pengembangan
Validitas Bahan Ajar
Berdasarakan hasil analisis data terhadap masing-masing validator terhadap butir kriteria skor
bahan ajar, maka diperoleh persentase untuk tiap-tiap butir kriteria skor tersebut. Persentase tersebut
dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Hasil Validasi Bahan Ajar untuk Tiap Butir Kriteria Skor
No.
Komponen yang
Prosentase Nilai
Σx1 Σx0
V
(%)
Dinilai 1 2 3 4
1.

Keterbacaan dan
Kemenarikan Cover

85%

15%

22

28

78.5

2.




Kejelasan Paparan
“Petunjuk Guru tentang
Penerapan Metode
Pemecahan Masalah Ideal
Berbasis PAIKEM

100%





21




28




75.0




3.




Kelengkapan Komponen
Urutan Tiap Bab
(Pendahuluan, Penyajian,
Penutup/Ringkasan,
Daftar Pustaka, Senerai

57%




43%




24




28




85.0








4.

Perumusan Tujuan
Pembelajaran

85%

15%

22

28

78.5

5.


Keruntutan
Pengorganisasian
Materi Tiap Bab

70%


30%


23


28


82.1


6.

Kejelasan dan
Kesesuaian Gambar

45%

55%

25

28

89.2

7.

Rangkuman Materi
Tiap Bab

85%

15%

22

28

78.5

8.



Kesesuaian Test
Hasil Belajar
Dengan Tujuan dan
Materi Pembelajaran

70%



30%



23



28



82.1



9. Kedalaman Isi Pembelajaran

100%

21 28 75.0
10.

Kebenaran Konsep,
Fakta, Prinsip, dan Teori

15%

42.5%

42.5%

23

28

82.1

Tingkat Validasi
80.10
Bahan Ajar

Dari hasil perhitungan didapat persentase 80,1 %, sehingga produk Bahan Ajar yang
dikembangkan ini dinyatakan dengan kriteria valid dan tidak revisi. Selain itu, peneliti melakukan uji
coba dengan cara wawancara kepada akhli Perancang Pembelajaran dan Akhli Bidang Studi untuk
menilai Bahan Ajar. Hasil wawancara terhadap Bahan Ajar disimpulkan pada tabel 3. di bawah ini.

Tabel 3. Data Uji Coba dan Revisi Bahan Ajar
No Komponen yang Dinilai
Hasil Penelitian Uji
Coba
Revisi
1
Keterbacaan dan kemenarikan cover
Jelas Tidak Ada Revisi
2 Kejelasan paparan “Petunjuk guru
tentang penerapan metode
Pemecahan Masalah Ideal
Berbasis PAIKEM
Jelas
C

Tidak Ada Revisi
T
3



Kelengkapan komponen urutan
Tiap bab (Pendahuluan, Penyajian,
Penutup/Ringkasan, Daftar Pustaka,
Senerai
Cukup Jelas
C
Tidak Ada Revisi
C
4
Perumusan tujuan pembelajaran Jelas Tidak Ada Revisi
5 Keruntutan Pengorganisasian
materi tiap bab
Jelas

CTidak Ada Revisi

6 Kejelasan dan kesesuaian gambar Jelas Tidak Ada Revisi
7 Rangkuman materi tiap bab Cukup Jelas Tidak Ada Revisi
8

Kesesuaian test hasil belajar dengan
tujuan dan materi pembelajaran
Jelas Tidak Ada Revisi
9 Kedalaman isi pembelajaran Cukup Jelas Tidak Ada Revisi
10

Kebenaran konsep, fakta, prinsip,
dan teori
Cukup Jelas Tidak Ada Revisi




Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Berdasarkan analisis data terhadap masing-masing validator terhadap butir kriteria skor
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), maka diperoleh persentase untuk tiap-tiap butir kriteria
tersebut. Persentase tersebut dapat dilihat pada tabel 4. di bawah ini.

Tabel 4. Hasil Validasi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk Tiap
Butir Kriteria Skor
No.
Komponen yang Prosentasi Nilai
Σx1 Σx0 V (%)
Dinilai 1 2 3 4
1.

Kejelasan Standar
Kompetensi

70%

30%

23

28

82.14


2.


Kejelasan Kompetensi
Dasar


85%


15%


22


28


78.57


3.


Kejelasan Tujuan
Pembelajaran


85%


15%


22


28


78.57


4.

Kesesuaian dan Kedalaman
Materi

85%

15%

22

28

78.57

5.


Keruntutan
Pengorganisasian
Materi Tiap Bab

70%


30%


23


28


82.14


6.

Ketepatan Metode
Pembelajaran

55%

45%

24

28

85.71

7.

Ketepatan Sumber
Belajar

55%

45%

24

28

85.71

8.


Kejelasan dan Kesesuaian
Ilustrasi Gambar


45%


55%


25


28


89.29


9.


Kesesuaian Test Hasil
Belajar dengan tujuan dan
Materi Pembelajaran

45%


55%


25


28


89.29


Tingkat Validasi

83.33
RPP

Dari hasil perhitungan didapat persentase 83,33 %, sehingga RPP yang dikembangkan ini
dinyatakan dengan kriteria valid dan tidak revisi. Selain itu, peneliti melakukan uji coba dengan cara
wawancara kepada akhli Perancang Pembelajaran dan Akhli Bidang Studi untuk menilai kejelasan
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hasil wawancara terhadap RPP disimpulkan pada tabel
5 di bawah ini.






Tabel 5. Data Uji Coba dan Revisi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
No.
Komponen yang
Hasil Penelitian Uji Coba Revisi
Dinilai
1.

Kejelasan Standar
Kompetensi
Cukup Jelas

Tidak Ada Revisi

2.
Kejelasan Kompetensi
Dasar
Cukup Jelas

Tidak Ada Revisi

3.

Kejelasan Tujuan
Pembelajaran
Cukup Jelas

Tidak Ada Revisi

4.

Kesesuaian dan Kedalaman
Materi
Cukup Jelas

Tidak Ada Revisi

5.


Keruntutan
Pengorganisasian
Materi Tiap Bab
Jelas


Tidak Ada Revisi


6.

Ketepatan Metode
Pembelajaran
Jelas

Tidak Ada Revisi

7.

Ketepatan Sumber
Belajar
Cukup Jelas

Tidak Ada Revisi

8.

Kejelasan dan Kesesuaian
Ilustrasi Gambar
Cukup Jelas

Tidak Ada Revisi

9.


Kesesuaian Test Hasil Belajar
dengan tujuan dan Materi
Pembelajaran
Jelas


Tidak Ada Revisi



Lembar Kerja (J obSheet)
Berdasdarkan analisis data terhadap i masing-masing validator terhadap butir kriteria skor
penilaian Job Sheet, maka diperoleh persentase untuk tiap-tiap butir kriteria tersebut. Persentase
tersebut dapat dilihat pada tabel 6. di bawah ini.

Tabel 6. Hasil Validasi J obSheet untuk Tiap Butir Kriteria Skor
No.
Komponen yang
Prosentasi Nilai
Σx1 Σx0 V (%)
Dinilai 1 2 3 4
1.

Kejelasan Tujuan
Pembelajaran

75.0%

25.0%

49

60

81.67

2.

Kejelasan Instruksi
Umum

75.0%

25.0%

49

60

81.67

3.

Kesesuaian Perlengkapan
Alat dan Bahan

85.0%

15.0%

47

60

78.33

4.

Kesesuaian Tindak
Pencegahan

80.0%

20.0%

48

60

80

5.


Ketepatan
Langkah-langkah
Kerja

5.00%

75.0%

20.0%

47

60

78.33

6.

Kejelasan Gambar
Kerja

75.0%

25.0%

49

60

81.67

7.

Kesesuaian Pertanyaan
Awal dan Pertanyaan Akhir

80.0%

20.0%

48

60

80

8.

Ketepatan Petunjuk
Kepustakaan

65.0%

35.0%

50

60

83.33

9.

Kesesuaian dan Ketepatan
Format Evaluasi

20.0%

80.0%

57

60

95

Tingkat Validasi
J obSheet

82.22





Dari hasil perhitungan didapat persentase 82,22 %, sehingga produk JobSheet yang
dikembangkan ini dinyatakan dengan kriteria valid dan tidak revisi. Selain itu, peneliti melakukan uji
coba dengan cara wawancara kepada Akhli Perancang Pembelajaran dan Akhli Bidang Studi, serta
Guru Mata Pelajaran untuk menilai kejelasan Lembar Kerja (JobSheet). Hasil wawancara terhadap
JobSheet disimpulkan pada tabel 7. di bawah ini.

Tabel 7. Data Uji Coba dan Revisi Lembar Kerja (J obSheet)
No.
Komponen yang Hasil Penelitian Uji
Coba
Revisi
Dinilai
1.

Kejelasan Tujuan
Pembelajaran
Jelas

Tidak Ada Revisi

2.



Kejelasan Instruksi
Umum


Jelas



Tidak Ada Revisi



3.


Kesesuaian Perlengkapan
Alat dan Bahan

Cukup Jelas


Tidak Ada Revisi


4.

Kesesuaian Tindak
Pencegahan
Jelas

Tidak Ada Revisi

5.


Ketepatan
Langkah-langkah
Kerja
Cukup Jelas


Tidak Ada Revisi


6.

Kejelasan Gambar
Kerja
Jelas

Tidak Ada Revisi

7.

Kesesuaian Pertanyaan
Awal dan Pertanyaan Akhir
Jelas

Tidak Ada Revisi

8.


Ketepatan Petunjuk
Kepustakaan

Jelas


Tidak Ada Revisi


9.


Kesesuaian dan Ketepatan
Format Evaluasi

Jelas


Tidak Ada Revisi



Validasi Bahan Ajar oleh Siswa
Berdasarkan analisis data terhadap masing-masing validator terhadap butir kriteria skor
penilaian bahan ajar oleh Siswa, maka diperoleh persentase untuk tiap-tiap butir kriteria tersebut.
Persentase tersebut dapat dilihat pada tabel 8. di bawah ini.










Tabel 8. Hasil Validasi Bahan Ajar oleh Siswa untuk Tiap Butir Kriteria Skor
No.
Komponen yang
Prosentasi Nilai
Σx1 Σx0 V (%)
Dinilai 1 2 3 4
1.

Kejelasan Tujuan
Pembelajaran

75.0%

25.0%

26

32

81.25


2.


Kejelasan/ Ketepatan
Penggunaan Bahasa


75.0%


25.0%


26


32


81.25


3.


Kejelasan Isi/
Materi


100%



24


32


75.0


4.

Kemudahan Memahami
Materi Bahan Ajar

62.5%

37.5%

27

32

84.375

5.


Tingkat Kemenarikan
Gambar/ Ilustrasi
Text

12.5%


62.5%


25%


25


32


78.125


6.

Tingkat Kesulitan
Soal-soal

50.0%

50.0%

28

32

87.5

Tingkat Validasi Bahan
81.25
Ajar oleh Siswa

Dari hasil perhitungan didapat persentase 81,25%, sehingga produk Bahan Ajar oleh Siswa
yang dikembangkan ini dinyatakan dengan kriteria valid dan tidak revisi. Selain itu, peneliti
melakukan uji coba dengan cara wawancara kepada akhli Perancang Pembelajaran dan Akhli Bidang
Studi untuk menilai kejelasan Bahan Ajar oleh Siswa. Hasil wawancara terhadap Bahan Ajar oleh
Siswa disimpulkan pada tabel 9. di bawah ini.

Tabel 9. Data Uji Coba dan Revisi Bahan Ajar oleh Mahasiswa
No.
Komponen yang Hasil Penelitian Uji
Coba
Revisi
Dinilai
1.

Kejelasan Tujuan
Pembelajaran
Jelas

Tidak Ada Revisi


2.


Kejelasan/ Ketepatan
Penggunaan Bahasa

Jelas


Tidak Ada Revisi


3.


Kejelasan Isi/
Materi

Cukup Jelas


Tidak Ada Revisi


4.

Kemudahan Memahami
Materi Bahan Ajar
Jelas

Tidak Ada Revisi

6.

Tingkat Kemenarikan
Gambar/Ilustrasi Text
Jelas

Tidak Ada Revisi

7.

Tingkat Kesulitan
Soal-soal
Jelas

Tidak Ada Revisi





Revisi Produk
Berdasarkan uji coba validasi kedua komponen bahan ajar yang dikembangkan (Bahan Ajar,
RPP, dan JobSheet) dapat diuraikan berdasarkan klasifikasi di bawah ini.

Bahan Ajar
Mengacu pada hasil uji coba yang telah dilakukan pada validator, revisi pengembangan Bahan
Ajar dapat diuraikan pada tabel 10. sebagai berikut.
Tabel 10. Validasi dan Revisi Bahan Ajar
No. Komponen yang Dinilai
Validasi Keterangan
(%) Revisi
1. Keterbacaan dan Kemenarikan Cover 78.5 Tidak Ada Revisi
2.

Kejelasan paparan “Petunjuk Dosen
tentang penerapan metode pembelajaran
75.0

Tidak Ada Revisi

3.3.

Kelengkapan komponen urutan tiap bab
(Pendahuluan, penyajian, penutup/ringkasan,
daftar pustaka, senerai)
85.0


Tidak Ada Revisi


4. Perumusan tujuan pembelajaran 78.5 Tidak Ada Revisi
5. Keruntutan pengorganisasian materi tiap bab 82.1 Tidak Ada Revisi
6. Kejelasan dan kesesuaian gambar 89.2 Tidak Ada Revisi
7. Rangkuman materi tiap bab 78.5 Tidak Ada Revisi
8.

Kesuaian test hasil belajar dengan tujuan dan
materi pembelajaran
82.1

Tidak Ada Revisi

9. Kedalaman isi pembelajaran 75.0 Tidak Ada Revisi
10. Kebenaran konsep, fakta, prinsip dan teori 82.1 Tidak Ada Revisi

Dari kesepuluh butir kriteria skor pada tabel 5.18 diperoleh validasi lebih dari 65%, menurut
kriteria t nilai validasi lebih dari 65% dinyatakan valid dengan keterangan tanpa revisi.

Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Mengacu pada hasil uji coba yang telah dilakukan pada validator, revisi pengembangan Rancangan
Pelaksanaan Pembelajaran dapat diuraikan pada tabel 11. sebagai berikut.

Tabel 11. Validasi dan Revisi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
No. Komponen yang Dinilai
Validasi Keterangan
(%) Revisi
1. Kejelasan standar kompotensi 82.14 Tidak Ada Revisi
2. Kejelasan Kompetensi dasar 78.57 Tidak Ada Revisi
3. Kejelasan Tujuan Pembelajaran 78.57 Tidak Ada Revisi
4. Kesesuaian dan kedalaman materi 78.57 Tidak Ada Revisi
5. Kesesuaian waktu dengan materi 82.14 Tidak Ada Revisi
6. Ketepatan Metode Pembelajaran 85.71 Tidak Ada Revisi
7. Ketepatan Sumber Belajar 85.71 Tidak Ada Revisi
8. Kejelasan dan Kesesuain Ilustrasi gambar 89.29 Tidak Ada Revisi
9.

Kesesuaian test hasil belajar dengan tujuan
dan meteri pembelajaran
89.29

Tidak Ada Revisi





Dari kesembilan butir kriteria skor pada tabel diatas diperoleh validasi lebih dari 65%, menurut
kriteria nilai validasi lebih dari 65% dinyatakan valid dengan keterangan tanpa revisi.

Lembar Kerja (J obSheet)
Mengacu pada hasil uji coba yang telah dilakukan pada validator, revisi pengembangan
JobSheet dapat diuraikan pada tabel 12 sebagai berikut.

Tabel 12. Validasi dan Revisi J obSheet
No. Komponen yang Dinilai
Validasi Keterangan
(%) Revisi
1. Kejelasan tujuan pembelajaran 81.67 Tidak Ada Revisi
2. Kejelasan instruksi umum 81.67 Tidak Ada Revisi
3. Kesesuaian perlengkapan alat dan bahan 78.33 Tidak Ada Revisi
4. Kesesuaian tindak pencegahan 80.00 Tidak Ada Revisi
5. Ketepatan langkah-langkah kerja 78.33 Tidak Ada Revisi
6. Kejelasan gambar kerja 81.67 Tidak Ada Revisi
7.

Kesesuaian pertanyaan awal dan pertanyaan
akhir
80.00

Tidak Ada Revisi

8. Ketepan petunjuk kepustakaan 83.33 Tidak Ada Revisi
9. Kesesuaian dan ketepatan format evaluasi 95.00 Tidak Ada Revisi

Dari kesepuluh butir kriteria skor pada tabel 5.20 diperoleh validasi lebih dari 65%, menurut
kriteria nilai validasi lebih dari 65% dinyatakan valid dengan keterangan tanpa revisi.
Validasi Bahan Ajar oleh Siswa
Mengacu pada hasil uji coba yang telah dilakukan pada validator, revisi pengembangan Job
Sheet dapat diuraikan pada tabel 13 sebagai berikut.
Tabel 13. Validasi dan Revisi Bahan Ajar oleh Siswa
No. Komponen yang Dinilai
Validasi Keterangan
(%) Revisi
1. Kejelasan tujuan pembelajaran 81.25 Tidak Ada Revisi
2. Kejelasan/ Ketepatan Penggunaan Bahasa 81.25 Tidak Ada Revisi
3. Kejelasan isi/materi 75.00 Tidak Ada Revisi
4. Kemudahah memahami materi bahan ajar 84.375 Tidak Ada Revisi
5. Tingkat kemenarikan gambar/ilustrasi text 78.125 Tidak Ada Revisi
6. Tingkat kesulitan soal-soal 87.5 Tidak Ada Revisi

Pembahasan
Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk perangkat pembelajaran berupa Bahan Ajar,
RPP, dan Job Sheet matapelajaran Teknik Konstruksi Bangunan. Berdasarkan analisis dan hasil




validasi pengembangan bahan ajar pada uraian bab V, diperoleh tingkat validasi sebagai berikut: (l)
Analisis Bahan ajar dengan tingkat nilai validasi 80,10%. Nilai tingkat validitas tersebut masuk
didalam kriteria 1 yaitu 80% – 100% dengan keterangan valid tidak ada revisi, (2) Analisis
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran dengan tingkat nilai validasi 83,33%. Nilai tingkat validitas
tersebut masuk didalam kriteria 1 yaitu 80% – 100% dengan keterangan valid tidak ada revisi, (3)
Analisis JobSheet dengan tingkat nilai validasi 82,22%. Nilai tingkat validitas tersebut masuk didalam
kriteria 1 yaitu 80% – 100% dengan keterangan valid tidak ada revisi, (4) Analisis Bahan ajar oleh
Siswa dengan tingkat nilai validasi 81,25%. Nilai tingkat validitas tersebut masuk didalam kriteria 1
yaitu 80% – 100% dengan keterangan valid tidak ada revisi. Sehingga keseluruhan bahan ajar berupa
Bahan Ajar, Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja (Job Sheet) yang
dikembangkan valid sehingga tidak memerlukan revisi.
Pada pengembangan produk Bahan Ajar, Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
Lembar Kerja (Job Sheet) yang telah dilakukan oleh peneliti, kelebihan pada produk Bahan Ajar,
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja (Job Sheet) yang telah dikembangkan
ini adalah penjabaran dari masing-masing butir skor yang telah dilakukan penilaian. Salah satunya
adalah kejelasan materi, instruksi kerja, kejelasan gambar kerja, dan ketepatan langkah keselamatan
kerja yang terdapat pada bahan ajar serta model pembelajaran yang diterapkan. Berdasarkan penilaian
dan analisis yang telah dilakukan, pengembangan produk Bahan Ajar, Rancangan Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja (Job Sheet) ini hasil yang didapat adalah bahwa Bahan Ajar,
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja (Job Sheet) cukup valid dan tidak
mengalami revisi. Kelemahan pada produk ini adalah bahwa uji coba penelitian dan pengembangan
produk bahan ajar yang berupa RPP dan Job Sheet ini dilakukan hanya sampai pada tahap uji
perseorangan saja, oleh karena itu perlu segera dilakukan uji coba kelompok kecil maupun uji di
lapangan dengan penerapan bahan ajar yang dikembangkan tersebut.
Pembelajaran Teknik Konstruksi Bangunan (TKB) tidak semata-mata hanya berupa alih
pengetahuan saja, tetapi diharapkan siswa mampu menerapkan pengetahuan yang diperolehnya
sehingga dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi, khususnya pada dunia kerja. Oleh karena
itu dalam pengembangan bahan ajar TKB berbasis pemecahan masalah IDEAL, materi bahan ajar
harus mampu mendorong siswa tidak hanya belajar konsep-konsep, hukum-hukum atau rumus-rumus
belaka, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan konsep-konsep /rumus-rumus tersebut untuk
membahas masalah-masalah TKB yang dapat berupa soal-soal baik soal latihan maupun soal ujian.
Hal ini sangat penting karena salah satu metode yang efektif dalam belajar bidang keteknikan
(termasuk TKB) adalah melalui pengerjaan soal-soal, baik soal latihan maupun soal ujian
(Bhattacharya & Mandke. l997).
Dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan harus mampu mendorong dan
mengembangkan aktivitas pembelajaran di SMK, yang tidak hanya difokuskan pada upaya
mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan juga bagaimana menggunakan segenap
pengetahuan yang didapat untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan masalah-masalah khusus
yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari. Hakekat pemecahan masalah adalah
melakukan operasi prosedural urutan tindakan, tahap demi tahap secara sistematis, sebagai seorang
pemula (novice) dalam memecahkan suatu masalah. Menurut Travers (dalam Suharsono, 1991)
kemampuan yang berstruktur prosedural itu harus dapat diuji transfer pada situasi permasalahan
baru yang relevan, karena yang dipelajari adalah prosedur-prosedur pemecahan masalah yang
berorientasi pada proses. Pada pihak lain Raka Joni (dalam Suharsono, 1991) mengatakan bahwa
proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang terjadi secara satu arah dari




luar kedalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya
melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahiran struktur kognitifnya.
Prosedur pemecahan masalah adalah petunjuk untuk melakukan suatu tindakan yang berfungsi
untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan suatu pemasalahan. Heuristik biasa dilakukan oleh
guru saat siswa menyelesaikan soal-soal, yaitu terdiri langkah-langkah (1) memahami masalahnya, (2)
membuat rencana penyelesaian, (3) melaksanakan rencana penyelesaian, (4) memeriksa kembali,
mengecek hasilnya (Kramers, dkk,, 1988: 514).
Berdasarkan atas hasil analisis bahan ajar dalam matapelajaran TKB, Prosedur pemecahan
masalah ternyata dapat meningkatkan hasil pembelajaran secara signifikan. Hal ini diakibatkan
karena metode pemecahan masalah menggunakan prosedur sistematis yang bertahap dalam
membimbing siswa untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Hal ini sejalan dengan pendapat
Travers (dalam Suharsono, 1991) bahwa hakekat pemecahan masalah adalah merupakan operasi
prosedural urutan tindakan, tahap demi tahap secara sistematis, yang dilaklukan oleh seorang pemula
(novice) dalam memecahkan suatu masalah.
Dengan penerapan metode pemecahan masalah dalam pengembangan bahan ajar, siswa
dibimbing secara bertahap dalam penyelesaian soal-soal secara sistematis, sehingga mampu
menyelesaikan soal-soal yang dihadapi. Jika siswa secara rutin berlatih menggunakan menggunakan
metode pemecahan masalah dalam penyelesaian soal-soal, maka pada akhirnya siswa akan memiliki
keterampilan pemecahan masalah yang baik. Seperti diungkapkan para ahli pembelajaran bahwa
kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan
disiplin ilmu yang diajarkan (Suharsono, 1991). Agar bahan ajar TKB yang dikembangkan dengan
metode pemecahan masalah dapat diaplikasikan dengan benar dalam pembelajaran, maka dalam
penelitian pengembangan ini juga dikembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP
berguna bagi guru sebagai acuan operasional dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengembangan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: (1) Penelitian
ini telah menghasilkan bahan ajar matapelajaran Teknik Kontruksi Bangunan, untuk siswa SMK kelas
XI. Bahan ajar ini terdiri dari bahan ajar untuk guru dan siswa. Rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran guna
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus, dan
Lembar Kerja Siswa (job Sheet), merupakan bahan ajar pegangan siswa memuat tugas-tugas yang
harus dikerjakan siswa, dan (2) Berdasarkan uji perorangan yang dilakukan oleh validator sesuai
bidang keahlian dan siswa, maka bahan ajar yang dikembangkan dapat dipertimbangkan telah valid.

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas diajukan i sebagai berikut: (l) Keperluan pemanfaatan produk:
Bahan Ajar, RPP dan Job Sheet dapat k diuji cobakan pada pelaksanaan pemebelajaran di kelas
pada matapelajaran Teknik Konstruksi Bangunan di Sekolah Menengah Kejuruan, agar dapat
memperkuat validitas emperisnya dari kelayakan bahan ajar, dan (2) Pengembangan lebih lanjut:
mengingat uji coba penelitian dan pengembangan Bahan Ajar,ini dilakukan hanya sampai pada tahap
uji perseorangan sebagai validator, maka perlu segera dilakukan uji coba pada kelompok kecil di
sekolah. Hasil uji kelas dapat digunakan sebagai masukan dan acuan revisi bahan ajar melalui
tahapan penyempurnaan, dengan demikian bahan ajar yang telah dihasilkan dan dikembangkan akan
memiliki kelayakan sesuai kompetensi.





Daftar Rujukan
Ardhana, W. 1992. Atribusi terhadap sebab-sebab keberhasilan dan kegagalan serta
kaitannua untuk motivasi berprestasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar IKIP MALANG:
Tidak diterbitkan
Bransford, J & Setin, B. (1984). The IDEAL Problem Solver: A guide for improving thinking,
learning and creativity. New York: W.H. Freeman.
Clegg, B. (2001). Instance Motivation. Jakarta: Penerbit Erlangga
Degeng, N.S. 1989. Ilmu Pembelajaran: Taksonomi Variabel. Jakarta: Dirjen Dikti.
Dwiyogo, W. (2003). Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah Melalui
Computer Based Instruction Siswa Kelas Unggulan Sekolah Dasar. Malang: Laporan
Penelitan Hibah Bersaing X/2 tahun 2003 Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang
Dryden, G. & Vos, J. (2004). The Learning Revolution. Jalmars Press: Torrannce CA
Gagne, R,M. (1977). The Condition of Learning. Holt Rinehart & Winston: New York.
Gage, N.L. & Berliner, D.C. 1975. Educational Psychology. Chicago: Rand Mcnally Collage
Publshing Company.
Gagne ,R.M. 1985. The Condition of Learning and Theory of Instruction. New York: Holt
Rineehart and Winston.
Good, T.L & Brophy, J.E.1991. Looking in classroom. New York: Harper Collin Publisher.
Gick, M.L & Holyoak, K.J. (1980). Analogical problem solving. Cognitive Psychology. 12306-355
Garofalo, J & Lester, F. (1985). Metacognition, cognitive monitoring, and mathematical performance.
Journal for Research in Mathematics Education. 16 (3), 163-176.
Jonassen, D & Tessmer, M. (1996). An outcomes-based taxonomy for the design , evaluation and
research in instructional systems. Training Research Journal.
Keller, J.M. 1979. Motivation and instructional design: A Theoritical perspective. Journal of
Instructional Development. Vol.2, No.5, pp: 26-33.
Keller, J.M. & Kopp, T.W. 1987. An aplication of the ARCS model of motivation. In C.M.
Reigeluth (Ed). Instruc tional theories in action: Lesson llustrating selected theories and
models. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associated Publsher.
Keller, J.M. 1983. The systematic process of motivational design. Performance & Insruction.
Nov/Des. 1983
Keller, J.M. & Suzuki, K. 1988. Use of motivational model in courseware design: In D.H. Jonassen
(Ed). Instructional design for microcomputer. New Jersey: Lawrence Erlbaum associated
Publsher.
Kirkley, J. (2003). Principle for Teaching Problem Solving. Indiana University: PLATO Learning
Wankat & Oreonovicz. (1993). Teaching Engineering. McGraw-Hill, Inc: New York

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.