You are on page 1of 5

Contoh Jurnal Perkuliahan

March 1, 2013 | Tulisan Hukum | 0


Mata Kuliah : Hukum Perlindungan Konsumen
Dosen : Dr. Shidarta, S.H., M.Hum.
Tanggal : 21 Februari 2013 (Kuliah Minggu I)


Topik : Pengantar Hukum Perlindungan Konsumen
Subtopik : Definisi Konsumen
Metode : Tatap muka (F2F) dengan presentasi dan diskusi.

Substansi:
Konsumen adalah terminologi penting sebagai pintu masuk untuk mempelajari hukum
perlindungan konsumen. Dengan memahami arti konsumen dapat ditetapkan apakah suatu
peristiwa hukum dapat dimasukkan ke dalam area perlindungan konsumen menurut Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (disingkat UUPK).

Menurut Pasal 1 butir 2 UUPK, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau
jasa;ang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain,
maupun mahluk lain dan tidak untuk diperdagangkan. Definisi ini menunjukkan bahwa
konsumen yang dilindungi dalam UUPK adalah konsumen akhir (end user/ultimate
consumer). Apa yang disebut konsumen antara (intermediate consumer), yaitu para agen,
penyalur (distributor), dan pedagang lain di bawahnya, pada hakikatnya bukan konsumen
sebagaimana dimaksud oleh UUPK. Mereka adalah pelaku usaha juga.

UUPK tidak memberi pernyataan tegas tentang siapa yang dimaksud dengan unsur orang
ini. Di banyak negara, unsur orang dibatasi hanya pada orang perseorangan (orang natural),
sementara badan usaha tidak termasuk di dalamnya. Lain halnya dengan unsur pelaku
usaha. Ada pengertian yang tegas tentang siapa pelaku usaha menurut Pasal 1 butir 3 UUPK,
yaitu setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun
bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui
perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. Dengan
demikin, istilah pelaku usaha mencakup baik orang perserorangan maupun badan usaha.
Sementara istilah konsumen tidak diberikan pembedaan demikian. Artinya, jika
diinterpretasikan secara luas, konsumen dapat mencakup pula badan usaha.

Kata pemakai dalam definisi konsumen memberi penegasan kembali bahwa orang yang
dilindungi sebagai konsumen dalam UUPK ini adalah konsumen akhir. Namun, hubungan
hukum yang menjadi sebab dari posisi seseorang sebagai pemakai tidaklah harus berupa
perjanjian jual-beli. Konsumen tidak sama dengan pembeli. Sebagai contoh, seseorang yang
menerima hadiah (parsel) dari rekan bisnisnya, akan tetap memenuhi syarat sebagai
konsumen selama ia menjadi pemakai.

Objek yang dipakai adalah barang dan/atau jasa. Menurut UUPK, barang adalah setiap benda
baik berwujud rnaupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat
dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai,
dipergunakan atau dimanfaatkan oleh konsumen. Sementara jasa adalah setiap layanan yang
berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh
konsumen.

Satu unsur yang ditambahkan adalah yang tersedia dalam masyarakat. Unsur ketersediaan
ini kembali mengaburkan makna konsumen karena barang/jasa yang dinikmati oleh
konsumen dapat saja belum ada saat transaksi dilakukan. Sebagai contoh, seseorang yang
hendak membeli apartemen untuk dihuni oleh keluarganya sendiri, sangat mungkin belum
mendapati bangunan apartemennya. Ia harus membayar lebih dulu dan dijanjikan bangunan
akan selesai beberapa bulan kemudian. Jadi, ketersediaan barang belum ada. Rasanya tidak
adil apabila pembeli seperti ini tidak ikut dilindungi.

Unsur berikutnya adalah peruntukan dari barang/jasa yang dikonsumsi. Pemakai barang/jasa
itu bisa diri si konsumen itu sendiri, namun bisa juga pihak lain, bahkan mahluk hidup lain.
Hanya saja, UUPK ternyata memakai kata kepentingan yang bermakna abstrak. Misalnya,
seseorang yang membeli makanan untuk kucing kesayangannya pada hakikatnya adalah
konsumen menurut UUP, mengingat ia membeli makanan itu bagi kepentingan mahluk hidup
lain (kucing). Sekalipun kucingnya yang menikmati makanan itu, orang ini tetap saja
mempunyai kepentingan pribadi, yaitu ia berkepentingan memiliki kucing yang sehat.
Artinya, ada sekian banyak kata yang mubazir ditambahkan di dalam definisi konsumen
tersebut.

Kata-kata tidak untuk diperdagangkan sekali lagi mengkonfirmasi pengertian konsumen
akhir. Orang yang membeli barang/jasa dan kemudian menjualnya lagi, harus dipersepsikan
bukan konsumen akhir. Ia adalah konsumen antara. Namun, dalam praktik tetap terbuka celah
penafsiran berbeda. Dosen memberikan contoh di kelas seorang yang membeli kompor
dengan teknologi remote control. Beberapa waktu kemudian, seorang tetangganya tetarik
dengan kompor ini. Karena didesak, pemilik kompor ini lalu menjual lagi ke tetangganya.
Sayangnya, ketika dipakai beberapa waktu, kompor ini rusak. Apakah pembeli pertama
kompor tadi tetap dapat mengklaim sebagai konsumen akhir menurut UUPK? Dalam konteks
ini, sebenarnya sangat perlu diperhatikan apakah pembeli pertama kompor ini memang benar-
benar secara rutin menjual benda tersebut (dan mendapat keuntungan dari kegiatan penjualan
itu) atau hanya sekali itu saja secara insidentil.











Sebagai perbandingan, dalam Trade Practice Act di Australia (pertama kali diberlakukan
tahun 1974), konsumen adalah

1. For the purpose of this Act, unless the contrary intention appears
(a) A person shall be taken to have acquired particular goods as a consumer if, and only if:
(i) the price of goods did not exceed the prescribed amount; or
(ii) where that price exceeded the prescribed amountthe goods were of a kind ordinarily
acquired for personal, domestic or household use or consumption or the goods consisted of
a commercial road vehicle, and the person did not acquire the goods, or hold himself out as
acquiring the goods, for the purpose of re-supply or etc.
2. For the purpose of sub-section (1)
(a) the prescribed amount is $40,000 or, if a greater amount is prescribed for the purpose of
this paragraph, that greater amount;

Jadi, nilai transaksi konsumen (consumer protection) yang ditetapkan adalah sebesar
Aus$40,000. Jika lebih dari nilai itu, posisi sebagai konsumen tetap dimungkinkan sepanjang
barang yang dibeli masih tetap berada dalam lingkup barang kebutuhan domestik.

Refleksi:
Secara substantif, setelah mengikuti perkuliahan Minggu I ini, dapat disampaikan pandangan
pribadi saya bahwa pengertian konsumen menurut UUPK ini ternyata tidak cukup
komprehensif melindungi masyarakat konsumen. Sebaiknya ada revisi terhadap definisi ini,
yakni dengan:
1. mempertegas apakah subjek hukum yang dimaksud dengan konsumen itu adalah
orang perseorangan ataukah juga dapat mencakup badan usaha;
2. menghilangkan unsur yang tersedia dalam masyarakat;
3. menghilangkan kata-kata yang berlebihan terkait kepentingan siapa yang ditujukan
atas tindakan konsumsi itu.

Jika diperhatikan lebih cermat, saya berpendapat bahwa motif konsumsi atas suatu
barang/jasa ternyata sangat menentukan. Orang yang semula membeli sebuah apartemen
untuk dihuni sendiri, tetapi kemudian berubah pikiran dengan menyewakannya kepada pihak
lain, dapat saja diasumsikan sudah kehilangan statusnya sebagai konsumen akhir. Jika hal
seperti ini menjadi permasalahan hukum, akan sulit dicarikan alat buktinya, mengingat motif
seseorang sangat mudah berubah-ubah.

Secara metodis, saya berpendapat dosen masih belum lengkap menjelaskan dengan
memberikan contoh-contoh konkret. Akan lebih baik pula jika ada kasus yang didiskusikan di
antara mahasiswa, sehingga pemahaman mahasiswa menjadi lebih mendalam.

Referensi:
1. M. Sadar, Moh. Taufik Makarao, Habloel Mawadi. (2012). Hukum Perlindungan
Konsumen di I ndonesia. Edition 1. Akademia, Jakarta, bab I.
2. Shidarta. (2006). Hukum Perlindungan Konsumen I ndonesia. Revised edition 2.
Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta, bab I.

Diskusi:
1. Jika motif konsumsi dijadikan sebagai tolok ukur penentuan status seseorang sebagai
konsumen akhir atau bukan konsumen akhir, bagaimana indikator pembuktiannya?
2. Apakah masyarakat yang menikmati layanan publik dapat juga dianggap sebagai
konsumen akhir dan dilindungi dengan UUPK?