You are on page 1of 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sejak lahir manusia telah dilengkapi Allah dengan kecenderungan seks
(libidoseksual), oleh karena itu untuk menghindari terjadinya perbuatan keji
pada diri manusia, maka Allah telah menyediakan wadah yang sudah sesuai
dengan ajaran Islam demi terselenggaranya penyaluran tersebut sesuai dengan
derajat manusia yakni melalui perkawinan. Akan tetapi perkawinan bukanlah
semata-mata untuk menunaikan hasrat biologis saja atau dengan kata lain
untuk sekedar memenuhi kebutuhan reproduksi saja. Melainkan perkawinan
dalam Islam mempunyai multi aspek yang menyiratkan banyak hikmah
didalamnya, salah satunya adalah untuk melahirkan ketentraman dan
kebahagiaan hidup yang penuh dengan mawaddah warahmah.
Kamus besar Indonesia mengartikan kata “Nikah” sebagai :
1. Perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri
(dengan resmi).
2. Perkawinan. Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk makna
tersebut, disamping secara majazi diartikannya dengan”hubungan seks”.
Kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan sebayak 23 kali. Secara
bahasa, pada mulanya kata nikah digunakan dalam arti ”berhimpun” Tujuan
perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Adapun pemenuhan kewajiban
suami terhadap istri ini mulai berlaku sejak terjadi transaksi (akad nikah).
Seorang laki-laki yang menjadi suami memperoleh hak sebagai suami dalam
keluarga. Begitu pula seseorang perempuan yang menjadi istri memperoleh
hak sebagai istri dalam keluarga. Di samping keduanya mempunyai
kewajiban-kewajiban yang harus diperhatikan satu sama lain.1

1
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974, pasal 1
Suami istri harus memahami hak dan kewajibannya sebagai upaya
membangun sebuah keluarga. Kewajiban tersebut harus dimaknai secara
timbal-balik, yang berarti bahwa yang menjadi kewajiban suami merupakan
hak istri dan yang menjadi kewajiban istri adalah menjadi hak suami.2 Suami
istri harus bertanggung jawab untuk saling memenuhi kebutuhan pasangannya
untuk membangun keluarga yang harmonis dan tentram.
Demi keberhasilan dalam mewujudkan membangun sebuah keluarga
yang harmonis dan tentram sangat diperlukan adanya kebersamaan dan sikap
berbagi tanggung jawab antara suami dan istri. Al- Qur’an mengajurkan kerja
sama diantara mereka.
Di dalam nas al- Qur’an menyebutkan, bahwa seorang suami dan istri
itu agar bergaul dengan (secara) yang baik, dalam istilah makruf sebagaimana
ditegaskan oleh Allah SWT. dalam al- Qur’an An-Nisa’ (4): 19.

  
   
   
   
  
  
  
    
   
  
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai
wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan
mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang
Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan
pekerjaan keji yang nyata, dan bergaullah dengan mereka secara
patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S.
An-Nisa’ (4): 19)

Dalam pandangan KH.Ahmad Azhar Basyir, MA, bahwa yang
dikatakan menggauli istri yang ma’ruf adalah:
2
Sugeng Harahab, Majalah Sunnah, Edisi 121, 2005. hal.45-56
1. Sikap menghargai, menghormati, dan perlakuan-perlakuan
yang baik, serta meningkatkan taraf hidupnya dalam bidang-bidang
agama,akhlak, dan ilmu pengetahuan yang diperlukan.
2. Melindungi dan menjaga nama baik istri
3. Memenuhi kebutuhan kodrat (hajat) biologis istri.
Hajat biologis adalah pembawa hidup. Oleh karena itu, suami wajib
memperhatikan hak istri dalam hal ini. Ketentraman dan keserasian hidup
perkawinan antara lain ditentukan oleh faktor hajat biologis ini. Kekecewaan
yang dialami dalam masalah ini dapat menimbulkan keretakan dalam
perkawinan, bahkan tidak jarang terjadi penyelewengan istri disebabkan
perasaan kecewa dalam hal ini.
Hukum positif Indonesia telah menentukan bahwa nafkah atau
pemenuhan hidup keluarga menjadi kewajiban suami. Undang-undang nomor
1 tahun 1974 menjelaskan bahwa suami berkewajiban memberi segala
keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Kemudian
ketentuan tersebut dipertegas oleh Pasal 80 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam
(Inpres Nomor 1 Tahun 1991) yang menyebutkan,”sesuai dengan
penghasilannya suami menanggung:
1. Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri dan anak.
2. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengibatan bagi istri
dan anak.
3. Biaya pendidikan bagi anak”.
Sedangkan perceraian adalah jalan terakhir yang ditempuh antara
suami dan istri, karena dalam berumah tangga sudah tidak ada keharmonisan
lagi. Walaupun demikian sebelum mengambil keputusan antara suami istri
sebelumya harus memikirkan dampak yang akan terjadi dalam perceraian.
Apabila dihubungkan dengan ketentuan Undang-undang Perkawinan, perkara
tersebut dapatmenimbulkan persoalan hukum yang baru, karena ketidakpuasan
seksual segabagai alasan perceraian tidak diatur dalan ketentuan hukum
tersebut.
Demikian terkadang terjadi anomali-anomali dari apa yang ada (das
sain) dengan apa yang semestinya (das sollen) itu berlaku, akan tetapi dalam
realitasnya tidak sama.
Alasan perceraian yang demikian haruslah mendapat perhatian yang
cermat dari Pengadilan Agama, karena perkara tersebut pelik dan
membutuhkan pertimbangan hukum yang komprehensif. Penyusun memilih
judul tersebut karena adanya persolan yang harus di selesaikan persoalannya.
Sedangkan penyusun memilih tahun 2005 karena hannya pada tahun
ini di temukan putusan perkara ketidakpuasan seksual dan penyusun memilih
satu kasus karena hannya terdapat satu putusan.

B. Rumusan Masalah
Bagi orang yang hendak mengadakan suatu penelitian ilmiah, hal
pertama yang harus dilakukan bagaimana ia mampu mengumpulkan masalah
masalah yang berkaitan dengan suatu hal yang hendak diteliti, apa yang
menjadi permasalahan harus dirumuskan sejelas-jelasnya dan sebaik mungkin
serta disusun dalam bentuk pertanyaan. Merumuskan suatu permasalahan
bukanlah suatu persoalan yang mudah, karena tidak dapat dirumuskan dalam
waktu sekali jadi, melaikan melalui suatu proses yang dilakukan secara
intensif, misalnya dalam bentuk diskusi-diskusi ilmiah, seminar atau melalui
lokakarya (Dr. Suharsimi Arikuto 1993 : 40)
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam dan yang akan di
kaji dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian gugatan cerai menurut bahasa dan istilah?
2. Bagaimana hukumnya jika istri menggugat cerai suami?
3. Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara
perceraian karena ketidakpuasan seksual sebagai alasan perceraian?
4. Bagaimanakah tinjauan hukum Islam terhadap perkara
ketidakpuasan seksual sebagai alasan perceraian?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan merupakan factor yang sangat vital yang berfungsi
sebagai arah yang hendak dicapai oleh penulis itu sendiri. Pada umumnya kita
mengenal adanya rumusan-rumusan formal tentang tujuan penulisan dimana
tujuan yang lebih umum di jabarkan menjadi tujuan yang lebih khusus namun
tetap mengarah pada pencapain tujuan yang lebih khusus namun tetap
mengarah pada pencapaian tujuan umum tersebut. (DR. Suharsimi Arikunto,
1993 : 63)
1. Tujuan
a. Makalah ini bertujuan untuk menggambarkan
putusan perkara ketidakpuasan seksual sebagai alasan perceraian
dengan melihat pertimbangan hukum yang diberikan hakim di
Pengadilan Agama.
b. Untuk mengetahui masalah tersebut dilihat dari
hukum Islam.
2. Adapun kegunaan penulisan ini
a. Terapan
Makalah ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran
bagi para hakim di lingkungan Pengadilan Agama dalam
menyelesaikan perkara perceraian karena ketidakpuasan seksual
sebagai alasan perceraian
b. Ilmiah
Makalah ini diharapkan mampu manambah pengembangan pemikiran
hukum Islam bagi setiap pribadi muslim dan masyarakat luas terutama
terkait perkara perceraian karena ketidakpuasan seksual sebagai alasan
perceraian.

D. Metode Penulisan
1. Jenis Penulisan
Penulisan ini menggunakan library research (penelitian
kepustakaan) yaitu menggunakan data, dan informasi dari berbagai materi
yang di peroleh dari perpustakaan. Penekanan penulisan ini pada kajian
teori-teori, kazanah ilmu, konsep, paradikma, prinsip hokum, postulat dan
asumsi keilmuan yang relevan dengan masalah yang dibahas. (IKIP
Malang, 1992 : 29)
2. Pendekatan Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan pendekatan referensi
(kepustakaan) yang menggunakan paradikma penelitian kualitatif.
Kemudian dipertegas oleh Koendjaraningrat bahwa: “penelitian kualitatif
adalah penelitian dalam bidang social dan kemanusiaan dengan aktifitas
berdasarkan disiplin ilmu untuk mengumpulkan, mengklasifikasikan,
menganalisis dan menafsirkan fakta-fakta alam, masyarakat, kelakuan dan
rohani manusia guna menemukan prinsip-prinsip pengetahuan dalam
usaha mencapai hal-hal tersebut.” (kendjaraningrat, 1991 : 44)
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan makalah ini
sebagaimana diungkap Sanapiah Faisol (1992:59) adalah data prime, yaitu
data dari pengamatan yang menyaksikan secara langsung peristiwa, seperti
teks ilmiah, majalah, surat kabar, bulletin dan telivisi. Data sekunder, yairu
pengamatan yang menyaksikan secara tidak langsung tetapi melaporkan
apa yang diuraikan dari peristiwa. Adapun sumber data yang digunakan
Dalam penulisan makalah ini adalah buku yang berkaitan dengan
pembahasan yang dimaksud dan beberapa karya lain, sebagai referensi
penunjang.
4. Teknik Penulisan
a. Teknik pemikiran deduktif
Teknik pemikiran deduktif adalah suatu analisa yang berangkat
dari pengetahuan yang sifatnya umum, dan bertitik tolak pada
pengetahuan yang umum itu kita hendak menilai kejadian yang
khusus.
b. Teknik pemikiran induktif
Teknik pemikiran induktif adalah suatu analisa yang berangkat
dari fakta-fakta yang khusus kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa
khusus kongkrit itu generilisasi yang mempunyai sifat umum. (Hadi,
1993 : 42)
Library research : Penelitian pada buku-buku yang ada hubunganya
dengan penulisan makalah ini.
Deduktif : Mengumpulkan data-data yang bersifat umum,
kemudian menyimpulkan dari data tersebut.

E. Keterbatasan Penulisan
Dalam hal ini kami ingin mengungkapkan bahwa keterbatasan ysng
paling dominan terletak pada ruang lingkup kami yang berada di lingkungan
pesantren, dimana ruang gerak yang ada disibukkan dalam kegiatan
kepesantrenan. Tentunya dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan
dan kesalahan. Penyusunan semata selaku manusia biasa yang tak lepas dari
khilaf dan lupa. Karena keterbatasan penyusun dalam mengumpulkan
literatur-literatur, sehingga informasi yang diperoleh sangat jauh dari yang
diharapkan dan juga karena keterbatasan dana serta waktu dalam penyusunan
makalah. Akan tetapi kami tetap berusaha semaksimal mungkin untuk tetap
mendapatkan informasi atau literatur-literatur yang berkaitan dengan
pembahasan makalah kami, baik buku-buku tentang metode-metode
pendidikan.

F. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mencantumkan sistematikan
penulisan guna mempermudah bagi si pembaca sebagaimana berikut :
1. Pada Bab I Pendahuluan berisi;
a.Latar Belakang Masalah
b.Rumusan Masalah
c.Tujuan Masalah
d.Keterbatasan Penulisan
e.Metode Penulisan
f. Sistematika penulisan
2. Pada Bab II Pembahasan berisi Tentang :
a. Kajian Dalil
1) Pengertian Gugatan Cerai (Khulu’)
2) Syarat Sah Khulu’
3) Hukum Al-Khulu’
4) Sebab-sebab Diperbolehkannya Khulu’
5) Peringatan Keras Bagi Para Suami Agar Tidak Mempersulit
Isterinya
b. Fenomena
c. Analisa Masalah
3. Bab III Penutup
a. Kesimpulan
b. Saran-saran
4. Daftar Pustaka
BAB II
PEMBAHASAN

A. KAJIAN DALIL
1. Pengertian Gugatan Cerai (Khulu’)
Gugatan cerai, dalam bahasa Arab disebut Al-Khulu. Kata Al-
Khulu dengan didhommahkan hurup kha’-nya dan disukunkan huruf Lam-
nya, berasal dari kata ‘khul’u ats-tsauwbi. Maknanya melepas pakaian.
Lalu digunakan untuk istilah wanita yang meminta kepada suaminya untuk
melepas dirinya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai
pakaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
    
 
Artinya : “Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka” [Al-Baqarah : 187]

Sedangkan menurut pengertian syari’at, para Ulama mengatakan
dalam banyak defenisi, yang semuanya kembali kepada pengertian,
bahwasanya Al-Khulu ialah terjadinya perpisahan (perceraian) antara
sepasang suami-isteri dengan keridhaan dari keduanya dan dengan
pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya.3 Adapaun Syaikh Al-
Bassam berpendapat, Al-Khulu ialah “Perceraian suami-isteri dengan
pembayaran yang diambil suami dari isterinya, atau selainnya dengan
lafazh yang khusus”
1. Secara Bahasa; Melepaskan
2. Secara Istilah; Tuntutan cerai
yang diajukan oleh istri dengan mengembalikan mahar yang diberikan
kepadanya .

3
Kitab Fathul Bari
2. Syarat Sah Khulu’
Jika persengketaan antara suami isteri kian parah dan tidak
mungkin lagi diambil langkah-langkah kompromistis supaya mereka
bersatu kembali atau pihak isteri sudah menggebu-gebu untuk bercerai
dengan suaminya, maka ia boleh menebus dirinya dari kekuasaan
suaminya dengan menyerahkan sejumlah harta kepadanya sebagai ganti
dari buruknya keadaan yang menimpa suaminya karena bercerai
dengannya, Allah SWT berfirman :

   
 
  
    
 
 
   
    
  
    
   
   
  
  
  
 


Artinya : ”Dan tidak halal bagi kamu mengambil dari sesautu yang telah
kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya (suami
isteri) khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum
Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran
yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (Al-
Baqarah:229).

Hadits nabi :
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas datang
kepada Nabi saw. lalu bertutur, ”Ya Rasulullah, aku tidak membenci
Tsabit karena, imannya dan bukan (pula) karena perangainya, melainkan
sesungguhnya aku khawatir kufur.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda,
”Maka mau engkau mengembalikan kebunnya kepadanya?” Jawabnya,
”Ya (mau)” kemudian ia mengembalikannya kepadanya dan selanjutnya
beliau menjawab suaminya (Tsabit) agar mencerainya.” (Shahih: Irwa-ul
Ghalil no:2036 dan Fathul Bari IX:395 no:5276).

Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :
a. Hendaknya masing-masing pasangan merasa rela .
b. Hendaknya istri merupakan objek yang sah untuk menjatuhkan
thalaq kepadanya .
c. Hendaknya khulu’ dijatuhkan oleh suami sah yang berhak
menjatuhkan thalaq dan dia adalah suami yang memenuhi syarat
kelayakan .
d. Hendaknya lafal yang diucapkan menggunakan kata khulu’/
sesuatu yang memiliki pengertian yang sama, seperti lafal Pembebasan
dan Tebusan .
e. Hendaknya khulu’ terjadi dengan tebusan yang diberikan oleh
pihak istri .

3. Hukum Al-Khulu’
a. Makruh
b. Wajib
c. Haram
d. Sunah
Al-Khulu disyariatkan dalam syari’at Islam berdasarkan firman Allah
SWT.

  
  
   
   
 
   
    
   
   
 
   
  
   
  
 
Artinya : “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang
telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya
khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.
Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat
menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas
keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk
menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah
kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-
hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim’” [Al-
Baqarah : 229]

Sabda Rasulullah Saw., dalam hadits Ibnu Abbas r.a.
Artinya : “Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai
Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan
akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu
mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”,
maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit
pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari]

Demikian juga kaum muslimin telah berijma’ pada masalah
tersebut, sebagaimana dinukilkan Ibnu Qudamah4, Ibnu Taimiyyah5, Al-
Hafizh Ibnu Hajar6, Asy-Syaukani7, dan Syaikh Abdullah Al-Basam8,

4
Majmu Fatawa, hal. 282.
5
Nailul Authar Min Ahadits Sayyid Al-Akhyar Syarh Muntaqa Al-Akhbar, Muhammad bin Ali
Asy-Syaukani, Tahqiq Muhammad Salim Hasyim. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Cetakan
Pertama, Tahun 1415H
6
Fathul Bari, hal. 9/315
7
Nailul Authar Min Ahadits Sayyid Al-Akhyar Syarh Muntaqa Al-Akhbar, hal. 6/260
8
Taudhihul Ahkam Min Bulughul Maram, hal. 5/468
Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menyatakan, para ulama berijma
tentang syari’at Al-Khulu, kecuali seorang tabi’in bernama Bakr bin
Abdillah Al-Muzani… dan telah terjadi ijma’ setelah beliau tentang
pensyariatannya.

4. Sebab-sebab Diperbolehkannya Khulu’
Khulu’ diperbolehkan apabila pihak istri memintanya, ataupun
pihak suami sudah menjatuhkan thalaq,dan keduanya memandang bahwa
pernikahannya sudah tidak dapat lagi menjalankan Hukun Allah SWT
dalam QS.Al-Baqarah : 228 .

 
   
  
   
   
 
  
 
    
  
   
 
   
   

Jamhur ulama berpendapat bahwa Khulu’ termasuk thalaq ba’in .
Artinya; suami istri tidak boleh rujuk kecuali keduanya memutuskan untuk
menikah dengan orang lain lalu keduanya bercerai tanpa ada faktor
kesengajaan dan diadakan pernikahan ulang . Lafal Khulu’ dibagi menjadi
dua : secara sharih dan Secara kinayah. Tebusan Khulu’ besarnya tidak
ditentukan oleh pengadilan agama melainkan keputusan dari kedua belah
pihak baik suami ataupun istri.
Apabila seorang wanita mengkhulu’ suaminya maka ia wajib
mengembalikan maskawin yang telah diberikan oleh suaminya . Seorang
istri dapat menjatuhkan Khulu’ apabila suaminya tidak melaksanakan
kewajibannya sebagai suami . Apabila seorang suami meninggalkan
istrinya selama satu bulan atau lebih dan tidak meminta izin terlebih
dahulu kepada istriya maka istri boleh menjatuhkan Khulu’ kepada
suaminya .
Khulu’ seorang wanita bisu dapat dilaikukan dengan isyarat
ataupun dengan tulisan . Apabila seorang istri baru mengetahui bahwa
suaminya mempunyai penyakit kelamin atau sejenisnya maka istri dapat
menjatuhkan Khulu’ dan suami pun harus mengerti apa yang istri
inginkan.9

5. Peringatan Keras Bagi Para Suami Agar Tidak Mempersulit Isterinya
Manakala seorang suami tidak senang kepada isterinya dan benci
kepadanya karena suatu hal, maka hendaklah mentalaknya dengan cara
yang ma’ruf sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Ia tidak boleh
manahannya dan mempersulitnya untuk menebus dirinya sendiri. Allah
SWT berfirman :
 
 
 
 
  
  
  
  
   
  
  
  
  
9
Abi Abdullah Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Juz III, Dar Al-Ma'rifah,
Beirut, Libanon, t.t. h. 238
 
 
   
  
    

Artinya : ”Dan apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka
mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan
cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang
ma’ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi
kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya
mereka. Barangsiapa berbuat demikian maka sungguh ia telah
berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu
jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah
ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu yaitu al-Kitab dan al-Hikmah. Allah memberi
pengajaran kepada engkau dengan apa yang diturunkan-Nya
itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah
bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-
Baqarah:231).

Dan, Allah SWT berfirman :

 
   
  
  

  
  
 
 

  
 
  
  
 
Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu
mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu
menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali
sebagai dari apa yang telah kamu berikan kepadanya
terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata.
Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika
kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena
mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisaa’:19).

Dari Tsauban r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
Artinya : “Setiap wanita yang mau talak kepada suaminya tanpa alasan
yang dibenarkan agama, maka haram baginya mencium
seberbak surga.” (Shahih: Shahihul Ibnu Majah no:1682,
“Aunul Ma’bud VI:308, no:2209, Ibnu Majah I:662 no:20555
dan Tirmidzi II:329 no:1199).

Darinya (Tsauban) r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda:
Artinya : “Wanita-wanita yang melakukan khulu’ adalah wanita-wanita
munafik.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:6681 dan
Tirmidzi II:329 no:1198).

B. FENOMENA

Akhir-akhir ini sering terlihat di televisi, seorang isteri mengajukan
gugat cerai terhadap suaminya. Berita tersebut semakin hangat, karena si
penggugat yang sering diekspos di media televisi adalah figure atau artis-artis
terkenal. Gugat cerai tersebut ada yang berhasil, yaitu jatuhnya talak, atau
karena keahlian hakim dan pengacara, gugat cerai urung dilanjutkan, sehingga
rumah tangga mereka terselamatkan.
Padahal mereka mengikatkan diri dalam lembaga perkawinan adalah
dalam rangka melaksanakan perintah Allah s.w.t. sebagaimana banyak dikutip
dalam setiap undangan walimahan (resepsi pernikahan), yaitu termaktub
dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi: “Dan di antara tanda-tandaNya
bahwa Dia menciptakan jodoh untuknya dari dirimu (bangsamu) supaya kamu
bersenang-senang kepadanya, dan Dia mengadakan sesama kamu kasih
sayang dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda
bagi orang yang berfikir”. Berdasarkan ayat ini pula, maka tujuan perkawinan
dalam Islam adalah untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa-
rahmah.
Bisa jadi, karena mereka sudah tidak dapat mempertahankan keluarga
yang sakinah, mawaddah wa-rahmah, maka salah satu pihak menggunakan
haknya, baik suami atau isteri untuk mengajukan gugatan cerai, padahal dalam
Islam, cerai memang dihalalkan Allah, namun sangat dibenci olehNya
(“Sesungguhnya perbuatan yang boleh, tetapi sangat dibenci Allah adalah
talak”, hadits riwayat Abu Daud dan Ibn Majah).
Sedangkan fenomena yang pernah aku lihat di lapangan ada sebuah
putusan perkara ketidakpuasan seksual sebagai alasan perceraian No.
451/Pdt.G/2005/PA.Smn di Pengadilan Agama Sleman yang dilihat dalam
undang-undang tidak termasuk dalam alasan yang sah untuk melakukan
perceraian, maka bagaimanakah pertimbangan hakim dalam mengambil
putusan dan bagaimanakah tinjauan hukum Islam terhadap ketidakpuasan
seksual sebagai alasan perceraian.10
Dalam penyusunan makalah ini, penggunaan metode yang penyusun
gunakan adalah metode-induktif. Maka pendekatan yang penyusun gunakan
adalah pendekatan normatif-yuridis dan pengkajian buku yang berkaitan erat
dengan masalah tersebut, pendekatan dengan melihat persoalan yang dikaji
apakah sesuai dengan norma dan kebutuhan masyarakat yang didasarkan
hukum Islam dan perundang-undangan di Indonesia. Adapun hasil dari
penelitin ini adalah bahwa hakim dalam menyelesaikan perkara perceraian
yang alasannya tidak atau kurang jelas dalam peraturan hokum di Indonesia,
hakim dalam pertimbangan putusan perkara ketidakpuasan seksual sebagai
alasan perceraian mengembalikan perkara tersebut ke akibat dari
ketidakpuasan seksual dan dalam tinjauan hukum Islam pertimbangan hakim
dalam menjatuhkan putusan tersebut telah sesuai dalam aturan hukum Islam.

C. ANALISA MASALAH

10
Nailul Authar Min Ahadits Sayyid Al-Akhyar Syarh Muntaqa Al-Akhbar, 6/260
Jika seorang isteri telah menebus dirinya dan dicerai oleh suaminya.
Maka ia berkuasa penuh atas dirinya sendiri, sehingga suaminya tidak berhak
untuk rujuk kepadanya, kecuali dengan ridhanya dan perpecahan tidak
dianggap sebagai talak meskipun dijatuhkan dengan redaksi talak. Namun ia
adalah perusakan akad nikah demi kemaslahatan sang isteri dengan balasan
menebus dirinya kepada suaminya.
Ibnul Qayyim r.a. menulis sebagai berikut; ”Dan yang menunjukkan khulu’
bukan talak adalah bahwa Allah SWT telah menetapkan tiga ketentuan yang
berlaku pada talak terhadap (isteri) yang telah dikumpuli jika talak tersebut
telah mencapai talak tiga. Ketetapan-ketetapan itu, tidak pada khulu’.11
1. Suamilah yang lebih berhak rujuk kepada isterinya dalam masa iddah.
2. Talak maksimal tiga kali, sehingga setelah terjadi talak ketiga, isteri
tidak halal bagi suaminya, terkecuali ia kawin lagi dengan suami kedua
dan pernah bercampur dengannya.
3. Iddah yang berlaku dalam talak terdiri atas tiga kali quru’ (bersih dari
iddah).
Sementara itu, telah sah berdasarkan nash (ayat Qur-an ataua hadits)
dan ijma’ (kesepatakan) bahwasanya tidak sah istilah rujuk dalam khulu’.
Dan, sudah sah berdasar sunnah Nabi saw dan pendapat para shahabat
bahwa iddah untuk khulu’ hanya satu kali haidh.
Demikian pula telah sah juga berdasar nash syar’i bahwa boleh
melakukan khulu’ setelah talak kedua dan talak ketiga.12
Ini jelas sekali menunjukkan bahwa khulu’ bukanlah talak. Oleh sebab
itu Allah SWT menegaskan, ”Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu
boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang
baik dan tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang pernah
kami berikan pada mereka kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat
melaksanakan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya
(suami istri) tidak dapat mejalangkan hukum-hukum Allah, maka tidak ada
11
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, Juz II, Semarang, t.t
h. 30
12
Ibid, hal. 40
dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus
dirinya.” (Al-Baqarah:229).
Dan ini tidak dikhususkan bagi wanita yang telah ditalak dua kali,
karena hal ini ia mencakup isteri yang dicerai dua kali. Tidak boleh dhamir
(kata ganti). Itu kembali kepada oknum, yang tidak disebutkan dalam ayat di
atas dan meninggalkan oknum yang disebutkan dengan jelas akan tetapi
mungkin dikhususkan bagi oknum yang pernah disebutkan sebelumnya atau
meliputi juga selain yang sudah disebutkan sebelumnya. Kemudian Allah
SWT berfirman :

   
   
   
   
 
   
   
  
 


Artinya : ”Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua)
maka perempuan itu tidak halal lagi baginya.” (Al-Baqarah:230).

Ayat al-Qur’an ini meliputi perempuan yang dicerai setelah khulu’ dan
setelah dicerai, dua kali secara qath’i (pasti) karena dialah yang disebutkan
dalam ayat di atas. Maka ia (wanita yang di khulu’) harus masuk ke dalam
kandungan lafazh ayat tersebut. Demikianlah yang difahami Imam Ahli tafsir
Ibnu Abbas r.a. yang pernah dido’akan oleh Rasulullah saw. agar Allah
mengajarinya tafsir Qur’an. Dan pasti doa itu terkabul, tanpa keraguan.
Manakala hukum-hukum yang berlaku dalam khulu’ berlainan dengan hukum-
hukum talak maka hal itu menunjukkan bahwa keduanya berlainan. Jadi inilah
yang sesuai dengan ketentuan na’ah, qiyas, dan dengan pendapat para
shahabat Nabi saw. (Zaadul Ma’ad V:199).13
Langgengnya kehidupan perkawinan merupakan suatu tujuan yang
sangat diinginkan oleh Islam, maka dikatakan bahwa”Ikatan antara suami istri
adalah ikatan yang paling suci dan paling kokoh. ”Selaras dengan tujuan
perkawinan yaitu membentuk keutuhan ketuhanan Yang Maha sa. Sehingga
setiap usaha yang menyepelekan hubungan perkawinan dan melemahkannya
dibenci oleh Islam karena kehancuran keluarga yang disebabkan oleh pecah
belah perkawinan akan dirasakan bukan saja oleh individu-individu dalam
keluarga itu melainkan akan tercemin keguncangan di dalam masyarakat.
Rasullulah SAW bersabda: Abghodu al-halal ila Allahi ta'ala at-thalaq
Walaupun pada mulanya para pihak dalam suatu perkawinan bersepakat untuk
mencari kebahagiaan dan melanjutkan keturunan dan ingin hidup bersama
sampai akhir hayat, seringkali hasrat serupa itu kandas di tengah jalan.
Kadang-kadang pasangan suami istri karena kesibukannya masing-masing
lupa menerapkan petunjuk Allah SWT. dan tergelincir kelembah pertengkaran
yang hebat diantara mereka. keadaan tersebut tidak dapat diselesaikan atau
didamaikan bahkan menimbulkan kebencian, kebengisan dan pertengkaran
terus-menerus. Seperti ini maka Allah SWT menganjurkan, hendaklah
ditunjuk seorang penengah. Allah SWT. Berfirman dalam surat an-Nisa
(4):35.

  
 
  
  
  
   
   

Terjemah :
Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka
13
Al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah, Dar Al-Fikr Al-'Araby, 1957, h.
23
kirimlah seorang hakam[293] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari
keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan
perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Berangkat dari suatu pemikiran bahwa perkawinan yang sah
menimbulkan akibat hukum, mempunyai implikasai bahwa suami istri
mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Di antara
kewajiban suami adalah memenuhi nafkah keluarga. Adapun nas al-Qur’an
yang berbicara tentang kewajiban suami memberi nafkah dalam keluarga.
Perundang-undangan Indinesia juga telah mengatur kewajiban pemenuhan
hidup keluarga atau nafkah. Pasal 34 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974 menyebutkan, ”Suami wajib melindungi Istrinya dan memberikan
segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuami dengan
kemampuannya.” kemudian dipertegas oleh ketentuan Kompilasi Hukum
Islam, “sesuai dengan penghasilannya suami menanggung:
1. Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri
2. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi
istri dan anak
3. Biaya pendidikan anak Undng-undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan menerangkan, bahwa perkawinan dapat putus karena
kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan.
Kemudian dalam pasal yang lain disebutkan bahwa perceraian hannya
dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak,
dan untuk melakukan perceraian harus cukup alasan, bahwa antara suami istri
itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri
Adapun alasan-alasan perceraian yang cukup alasan (sah) disebutkan
dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Penjelasan
pasal 39 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 yaitu: 1. Salah satu pihak
berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya
yang sukar disembuhkan. 2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama
2 Tahun (2) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang
sah atau karena hal lain diluar kemampuannya. 3. Salah satu pihak mendapat
hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukumyang lebih berat setelah
perkawinan berlangsung. 4. Salah satu pihak mengalami kekejaman atau
penganiayaan yang sangat berat yang membahayakan pihak yang lain. 5.
Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak
dapat menjalankan kewajibannya sebagi suami atau istri. 6. Antar suami dan
istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan
akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Adapun alasan perceraian yang cukup alasan (sah) dalam Kompilasi
Hukum Islam diatur dalam Pasal 116 yaitu: 1. Salah satu pihak berbuat zina
atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar
disembuhkan. 2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua)
tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena
hal lain diluar kemampuannya. 3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara
5 (lima) tahun atau hokum yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
4. Salah satu pihak mengalami kekejaman atau penganiayaan yang sangat
berat yang membahayakan pihak yang lain. 5. Salah satu pihak mendapat
cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan
kewajibannya sebagai suami atau istri. 6. Antar suami dan istri terus-menerus
terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun
lagi dalam rumah tangga. 7. karena melanggar takliq- talaq 8. Peralihan agama
atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah
tangga. Berdasarkan alasan perceraian dalam hukum positif di Indonesia,
terlihat bahwa ketidakpuasan seksual tidak termasuk alasan perceraian dalam
ketentuan hukum. Untuk itu, bangunan pemikiran penyusunan Makalah ini
adalah menggunakan teori pemenuan hukum (rechtsvinding) dan metode
tematik Jika ditarik ke pokok masalah makalah, maka teori penemuan hokum
digunakan untuk mencari jawaban atas sikap yang diberikan hakim terhadap
permasalahan yang tidak diatur dalam ketentuan hukum. Metode tematik
digunakan untuk melakukan pemahaman terhadap nas yang menekankan pada
pembahasan berdasarkan tema yaitu ketidakpuasan seksual sebagai alas an
perceraian. Teori dan metode tersebut dapat digunakan untuk melakukan
pemahaman secara menyatu dan terpadu terhadap ketentuan-ketentuan
normatif dan yuridis yang berkaitan dengan putusan Pengadilan Agama
Sleman terhadap putusan perkara No.451/Pdtr.G/2005/PA.Smn Selanjutnya,
dalam memeriksa dan mengadili perkara maka hakim wajib untuk melakukan
3 (tiga) tindakan secara bertahap yaitu: 1. Mengkonstatiring, artinya mengecek
kebenaran fakta-fakta yang dikemukakan oleh para pihak. Fakta ialah keadaan
atau peristiwa yang pernah terjadi atau perbuatan yang dilakukan dalam
dimensi ruang dan waktu. Suatu fakta dapat dinyatakan terbukti apabila telah
diketahui kapan, di mana dan bagaimana terjadinya berdasarkan alat-alat bukti
yang sah menurut cara-cara dalam hukum permbuktian. Bertujuan untuk
memperoleh kepastian bahwa suatu fakta yang diajukan oleh pihak-pihak
memang benar-benar terjadi. 2. Mengkualifisir pada umumnya berarti
menemukan hukumnya dengan jalan menerapkan hukum terhadap peristiwa
suatu kegiatan yang umumnya bersifat logis. 14
Tetapi dalam kenyataannya, menemukan hukum tidak sekedar
menerapkan peraturan hukum terhadap peristiwanya saja. Terlebih lagi jika
peraturan hukumnya tidak tegas dan tidak jelas pula. 3. Mengkontituir, yaitu
menetapkan hukumnya yang kemudian dituangkan dalam amar putusan. Hal
yang harus di pertimbangkan oleh hakim dalam putusan adalah demi
kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, jangan sampai terdapat salah satu
pihak yang merasa tertekan dan dirugikan, seperti disebutkan dalam kaidah
fiqh berikut ini:
dar u al-mafasid muqaddamun 'ala al-jalbi al-mashalih.

14
H. Abdurrahman, S.H, Kompilasi Hukum Islam, Jakarta:
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hadits Rasululllah Saw, “Sesungguhnya perbuatan mubah tapi dibenci
Allah adalah talak (cerai)”. Namun, bila kondisinya darurat (terpaksa), maka
jalan tersebut (cerai) diperbolehkan.
Ada beberapa kemungkinan dalam kehidupan rumah tangga yang
dapat memicu terjadinya perceraian. Salah satunya adalah adanya nusyuz yang
bermakna kedurhakaan. Kemungkinan nusyuz tidak hanya datang dari istri,
tetapi dapat juga datang dari suami. Selama ini sering dipahami, nusyuz hanya
datang dari pihak istri. Kemungkinan suami nusyuz dapat terjadi dalam bentuk
kelalaian dari pihak suami untuk memenuhi kewajibannya pada istri, baik
nafkah lahir maupun nafkah batin.
  
   
   
  
  
  
 
   
   
  

Terjemah :
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap
tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya
mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan
perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia
itu menurut tabiatnya kikir dan jika kamu bergaul dengan
isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan
sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Firman Allah SWT. di atas menganjurkan perdamaian. Istri diminta
untuk lebih sabar menghadapi suaminya dan merelakan hak-haknya dikurangi
untuk sementara waktu agar perceraian tidak terjadi. Akan tetapi, sebagian
ulama berpendapat, jika suami melalaikan kewajiban dan istrinya berulangkali
mengingatkannya, namun tetap tidak ada perubahan baik, maka taklik talak
adalah jalan terbaik untuk melindungi kaum wanita.
Jadi, gugat cerai atau khulu’ adalah perceraian yang terjadi atas
permintaan istri, dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas
persetujuan suami.
Secara tekstual dalam Al-Qur’an, istilah gugat-cerai tidak ditemukan.
Namun, QS. An-Nisa’/4: 128 di atas dipahami oleh sebagian ulama
dibolehkan untuk melakukan gugat-cerai terhadap suami jikaa berorientasikan
pada kebaikan (mashlahat). Wallahu a’lam bissawab.
Berdasarkan alasan perceraian dalam hukum positif di Indonesia,
terlihat bahwa ketidakpuasan seksual tidak termasuk alasan perceraian dalam
ketentuan hukum. Untuk itu hal demikian inilah yang perlu dipertimbangkan
dalam upaya lebih mengkaji lagi serta perlunya enterpretasi masa kini.
Menurut pendapat penulis, khulu’ maupun fasakh adalah dua bentuk
talak yang dikategorikan atas inisiatif isteri, dan tak ada perbedaan yang jelas.
Ini sebagai bukti bahwa Islam tetap mengakomodasi hak-hak wanita (isteri),
walaupun hak dasar talak ada pada suami, namun dalam keadaan tertentu,
isteri juga mempunyai hak yang sama, yaitu dapat melakukan gugatan cerai
terhadap suaminya melalui khulu’ maupun fasakh.

B. SARAN-SARAN
Dalam penulisan makalah ini, masih banyak koreksi yang perlu adanya
pembenahan dikemudian hari. Antara lain adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana nantinya teman-teman mahasiswa dapat mengkonstruk
kajian hukum secara universal dan individual terhadap kompilasi hukum-
hukum Negara Indonesia dalam bidang, hukum nikah.
2. Berdasarkan alasan penceraian dalam hukum positif di Indonesia
terlihat ketidakpuasan seksual menjadikan suatu pijakan dalam problem
khulu', untuk itu diperlukan hukum yang menangani studi kasus tersebut.
Karna pada dasarnya alasan penceraian dalam kaitannya ketidak puasan
seksual belum tersedia dalam hukum yang ada diindonesia.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN......................................................................................1
A........................................................................Latar Belakang Masalah
................................................................................................................1
B.................................................................................Rumusan Masalah
................................................................................................................4
C...................................................................................Tujuan Penulisan
................................................................................................................5
D..................................................................................Metode Penulisan
................................................................................................................5
E..........................................................................Keterbatasan Penulisan
................................................................................................................7
F............................................................................Sistematika Penulisan
................................................................................................................7
BAB II : PEMBAHASAN.......................................................................................9
A...........................................................................................Kajian Dalil
................................................................................................................9
1. Pengertian Gugatan Cerai (Khulu’).................................................9
2. Syarat Sah Khulu’..........................................................................10
3. Hukum Al-Khulu’ .........................................................................11
4. Sebab-sebab Diperbolehkannya Khulu’ ........................................12
5. Peringatan Keras Bagi Para Suami Agar Tidak Mempersulit
Isterinya..........................................................................................13
B..............................................................................................Fenomena
..............................................................................................................15
C....................................................................................Analisa Masalah
..............................................................................................................17
BAB III : PENUTUP.................................................................................................................23
A............................................................................................Kesimpulan
..............................................................................................................23
B............................................................................................Saran-saran
..............................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA

 Abdurrahman, H, S.H, 2004, Kompilasi Hukum Islam, Jakarta:
Akademika Pressindo.

 Al-Bukhari, Abi Abdullah Muhammad bin Isma'il, Shahih Al-
Bukhari, Juz III, Dar Al-Ma'rifah, Beirut, Libanon, t.t.

 Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, Juz
II, Semarang, t.t

 Sabiq, Sayyid, 1404 H, Fiqih Al-Sunnah, Jilid II Nidham Al-
Usrah al-Hudud wa Al-Jinayat, Dar Al-Fikry, Cet.IV.

 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974

 Yusuf Al-Qardhawi, 1978, Al-Halal wa Al-haram fi Al-Islam,
Maktabah Al-Islami, Beirut.

 Zahrah, Al-Imam Muhammad Abu, 1957, Al-Ahwal Al-
Syakhshiyyah, Dar Al-Fikr Al-'Araby.

 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974,
pasal 1

 Abi Abdullah Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari, Shahih Al-
Bukhari, Juz III, Dar Al-Ma'rifah, Beirut, Libanon, t.t. h. 238

 Al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Al-Ahwal Al-
Syakhshiyyah, Dar Al-Fikr Al-'Araby, 1957, h. 23

 Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, Juz
II, Semarang, t.t h.
 Sayyid Sabiq, Fiqih Al-Sunnah, Jilid II Nidham Al-Usrah al-
Hudud wa Al-Jinayat, Dar Al-Fikry, Cet.IV, 1404 H, h 85

 Yusuf Al-Qardhawi, Al-Halal wa Al-haram fi Al-Islam,
Maktabah Al-Islami, Beirut, 1978, h. 181