OLEH: EFRIS KARTIKA SARI

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA
KLIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY
DISEASE
 Epidemiologi
 Definisi
 Etiologi
 Patofisiologi
 Manifestasi klinis
 Pemeriksaan diagnostik
 Penatalaksanaan
 Asuhan keperawatan

Epidemiologi
 Jumlah penderita Chronic Kidney Disease (CKD) tiap
tahun semakin meningkat
 Pada tahun 2001, lebih dari 27.000 pasien
mendapatkan renal replacement therapy di Inggris.
 Pada tahun 2009 diperkirakan terdapat 116.395
orang penderita CKD baru. Lebih dari 380000
penderita CKD tersebut menjalani hemodialisis (HD)
reguler di USA.
 Pada tahun 2011, terdapat 15.353 pasien yang baru
menjalani HD dan pada tahun 2012 terjadi
peningkatan pasien yang menjalani HD sebanyak
4.268 orang di Indonesia.
 Mortalitas penderita CKD meningkat 10-20 kali
dibandingkan populasi umum.
Anatomi
Fungsi ginjal dapat dibedakan menjadi dua bagian
 Sebagai fungsi ekskresi ginjal berperan:
a. Mengatur keseimbangan asam dan basa.
b. Mengatur keseimbangan volume tubuh.
c. Mengatur keseimbangan elektrolit tubuh.
d. Mengekskresikan sisa-sisa metabolisme antara lain
ureum, kreatinin, asam urat, zat toksik dan hasil
metabolisme lainnya.
 Sebagai organ endokrin ginjal berperan:
a. Tempat aktivitas vitamin D yang selanjutnya berperan
dalam metabolisme kalsium dan phosphat.
b. Organ penghasil eritropoietin yang berperan sebagai
hormon pematang eritrosit.
c. Tempat metabolisme dan ekskresi steroid, katekolamin.

DEFINISI
 Pasien menderita CKD apabila terdapat salah satu kriteria
dibawah ini:
1) Kerusakan ginjal ≥ 3 bulan, yang didefinisikan sebagai
abnormalitas struktur atau fungsi ginjal dengan atau
tanpa penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR)/ Laju
filtrasi glomerolus (LFG), yang bermanifestasi sebagai
satu atau lebih gejala:
- Abnormalitas komposisi urin
- Abnormalitas pemeriksaan pencitraan
- Abnormalitas biopsi ginjal
2) GFR < 60 mL/menit/1,73 m2 selama ≥ 3 bulan dengan
atau tanpa gejala kerusakan ginjal lain yang telah
disebutkan.
(The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI)
of the National Kidney Foundation (NKF), 2002)
 CKD adalah abnormalitas fungsi atau struktur
ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan dengan
implikasi pada kesehatan yang ditandai dengan
adanya satu atau lebih tanda kerusakan ginjal
seperti yang terdapat pada tabel berikut.
(Kidney Disease Improving Global Outcomes
(KDIGO), 2013)

ETIOLOGI
Faktor resiko terjadinya CKD adalah:
 Diabetes mellitus
 Hipertensi
 Usia ≥60 tahun
 Ras/ etnis tertentu
 Terpapar nefrotoksin
 Tingkat ekonomi dan pendidikan rendah
 Penyakit autoimun
 Infeksi sistemik
 Urinary tract infections
 Nephrolithiasis
 Neoplasia
 Riwayat keluarga menderita CKD
 Fase penyembuhan acute kidney injury
 Penurunan massa ginjal
 Bayi berat lahir rendah

 Most CKD is stages 1-3 (97.6% of those with CKD are
in stages 1-3, with 2.3% in stages 4-5)
 Prevalence rises with age: 20 – 39 yrs. = 8.5%, 40-59
yrs. = 12.6%, ≥60 yrs. = 39.4%
 No significant gender difference
 Modest racial differences: White = 16.1%, Black =
19.9%, Mexican-American = 18.7%
 Prevalence strongly correlated with diabetes, CVD,
and hypertension: Diabetes: 40.2%, CVD: 28.2%,
Hypertension: 24.6%
 Modest correlation with obesity: 19.8%
(Saydah S, et al., 2007)

Penyebab CKD adalah:
 Infeksi seperti pielonefritis kronik.
 Penyakit peradangan seperti glomerulonefritis.
 Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis
dan stenosis arteri renalis.
 Gangguan kongenital dan herediter seperti penyakit
polikistik ginjal, dan asidosis tubulus.
 Penyakit metabolik seperti diabetes melitus, gout,
hiperparatiroidisme.
 Penyakit ginjal obstruktif seperti pembesaran prostat,
batu saluran kemih, dan refluks ureter.
(Price & Wilson, 1995)

PATOGENESIS
MANIFESTASI KLINIS
 Penderita CKD stadium 1-3 (GFR > 30 mL/min) biasanya
asimtomatik dan gejala klinis biasanya baru muncul pada
CKD stadium 4 dan 5. Kerusakan ginjal yang progresif
dapat menyebabkan:
 Peningkatan tekanan darah aibat overload cairan dan
produksi hormon vasoaktif (hipertensi, edem paru dan
gagal jantung kongestif)
 Gejala uremia (letargis, perikarditis hingga ensefalopati)
 Akumulasi kalium dengan gejala malaise hingga keadaan
fatal yaitu aritmia
 Gejala anemia akibat sintesis eritropoietin yang menurun
 Hiperfosfatemia dan hipokalsemia (akibat defisiensi
vitamin D3)
 Asidosis metabolik akibat penumpuan sulfat, fosfat, dan
asam urat
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Laboratorium:
 Analisis urin dan kultur
 Ureum, kreatinin serum
 Hemopoesis (Hb, Ht, faktor pembekuan)
 Elektrolit
 BGA


Radiologi
 Foto polos: untuk melihat batu yang bersifat
radioopak atau nefrokalsinosis.
 Ultrasonografi: modalitas terpilih untuk kemungkinan
penyakit ginjal obstruktif.
 CT Scan: pemeriksaan paling sensitif untuk
mengidentifikasi batu ginjal.
 MRI: alternatif CT scan dg kontras, mendeteksi
adanya trombosis vena renalis.
 Radionukleotida: deteksi awal parut ginjal dapat
dilakukan dengan menggunakan radioisotope
scanning 99m-technetium dimercaptosuccinicacid
(DMSA).


 Voiding cystourethrography: dapat dilakukan
bersamaan dengan pemeriksaan radionukleotida
untuk mendeteksi refluks vesikoureter.
 Retrogade atau anterogade pyelography: dapat
digunakan lebih baik untuk mendiagnosis dan
menghilangkan obstruksi traktus urinarius.

PENATALAKSANAAN
 Bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa perjalanan
penyakit CKD tersebut dapat diperbaiki dengan
melakukan deteksi dini dan memberikan penanganan
yang lebih awal.
 Terapi spesifik berdasarkan diagnosis:
 Evaluasi dan penanganan kondisi komorbid
 Memperlambat kerusakan fungsi ginal
 Pencegahan dan terapi penyakit kardiovaskular
 Pencegahan dan terapi penyakit komplikasi
(hipertensi, anemia,gagal tumbuh)
 Penggantian fungsi ginjal dengan dialisis atau bahkan
transplantasi ginjal
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
 Riwayat kesehatan: pengkajian faktor resiko dan
riwayat penyakit dulu dan sekarang.
 Sirkulasi: hipertensi, disritmia, edema, respon
hemodinamik.
 Eliminasi: perubahan pola eliminasi, perubahan
warna dan jumlah urine.
 Makanan/cairan: pola diet, penambahan berat
badan (edema), mual, muntah.

 Nyeri: area costovertebrae
 Pernapasan: dispnea, takipnea
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan diagnostik
Masalah Keperawatan
 Kelebihan volume cairan
 Resiko ketidakseimbangan elektrolit
 Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh
 Intoleran aktivitas
 Ketidakefektifan pertukaran gas
 Nyeri akut/kronis
 Distres spiritual
 Perlu dipertimbangkan palliative care pada
pasien dengan CKD.
 Palliative care is an approach that improves the
quality of life of patients and their families facing
the problem associated with life threatening
illness, through the prevention and relief of
suffering by means of early identification and
impeccable assessment and treatment of pain
and other problems, physical, psychosocial and
spiritual (WHO, 2002).
Referensi
 Davies, E., & Higginson, I. J. (Eds.). (2004). The Solid Facts Palliative Care: World Health
Organization
 Herdman, T. H. (Ed.). (2014). Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.
Jakarta: EGC.
 Indonesian Renal Registry (IRR). 2013. 5th Report of Indonesian Renal Registry 2011.
 K/DOQI. 2006. Clinical Practice Guidelines on Hypertension and Antihypertensive Agent
in Chronic Kidney Disease. In Guideline 2 In:Evaluation of Patient with CKD or
Hypertension. CKD 2006: 1-18.
 KDIGO. 2013. Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic
Kidney Disease. Kid Int Supplements(3); 18-27.
 Murray, S. A., & Osman, H. (2012). Primary palliative care: the potential of primary care
physicians as providers of palliative care in the community in the Eastern Mediterranean
Region. Eastern Mediterran Health Journal, 18(2).
 Price, S., Wilson, L. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
EGC.
 Saydah S, et al. Prevalence of Chronic Kidney Disease and Associated Risk Factors ---
United States, 1999—2004. MMWR March 2, 2007;56(08):161-165.
 United States Renal Data System (USRDS). 2011. Annual Data Report: Atlas of Chronic
Kidney Disease and End-Stage Renal Disease in the United States.