BAB I

SUKU MANDAILING

Suku Mandailing adalah suku bangsa yang mendiami Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang
Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhanbatu,
Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten
Batubara di Provinsi Sumatera Utara beserta Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat di
Provinsi Sumatera Barat, dan Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau. Mandailing merupakan kelompok
masyarakat yang berbeda dengan suku, Hal ini terlihat dari perbedaan sistem sosial, asal usul, dan
kepercayaan.
Pada masyarakat Minangkabau, Mandailing atau Mandahiliang menjadi salah satu nama suku yang ada
pada masyarakat tersebut.
A. Sejarah
Mandailing atau Mandahiling diperkirakan berasal dari kata Mandala dan Holing, yang berarti sebuah
wilayah Kerajaan Kalinga. Kerajaan Kalingga adalah kerajaan Nusantara yang berdiri sebelum Kerajaan
Sriwijaya, dengan raja terakhir Sri Paduka Maharaja Indrawarman yang mendirikan Kesultanan
Dharmasraya setelah di-Islamkan oleh utusan Khalifah Utsman bin Affan pada abad ke-7 M. Sri Paduka
Maharaja Indrawarman adalah putra dari Ratu Shima. Sri Paduka Maharaja Indrawarman kemudian
dibunuh oleh Syailendra, pendiri Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 itu juga. Pada abad ke-10, Kerajaan
Chola dari wilayah Tamil, India Selatan, dengan rajanya Rajendra telah menyerang Kerajaan Sriwijaya
dan menduduki wilayah Mandailing, yang kemudian dikenal dengan nama Ang Chola (baca: Angkola).
Ang adalah gelar kehormatan untuk Rajendra. Kerajaan India tersebut diperkirakan telah membentuk
koloni mereka, yang terbentang dari Portibi hingga Pidoli. Dalam Bahasa Minangkabau, Mandailing
diartikan sebagai mande hilang yang bermaksud "ibu yang hilang". Oleh karenanya ada pula anggapan
yang mengatakan bahwa masyarakat Mandailing berasal dari Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.
B. Bahasa
Bahasa Mandailing merupakan bahasa yang terdapat di provinsi Sumatera Utara bagian selatan,
Sumatera Barat dan Riau bagian utara, yang merupakan varian dari bahasa Sanskerta yang banyak
dipengaruhi bahasa Arab.
Bahasa Mandailing Julu dan Mandailing Godang dengan pengucapan yang lebih lembut lagi dari bahasa
Angkola, bahkan dari bahasa Batak Toba. Mayoritas penggunaannya di daerah Kabupaten Mandailing
Natal, tapi tidak termasuk bahasa Natal (bahasa Minang), walau pun pengguna bahasa Natal berkerabat
(seketurunan) dengan orang-orang Kabupaten Mandailing Natal pada umumnya.
Sementara itu, bahasa Mandailing Padang Lawas (Padang Bolak) dipakai di wilayah Kabupaten Padang
Lawas Utara dan Padang Lawas.
Di Pasaman, Sumatera Barat dan Kampar, Riau, bahasa Mandailing mempunyai variasi tersendiri.
Di wilayah Asahan, Batubara, dan Labuhan Batu, orang-orang Mandailing umumnya memakai bahasa
Melayu Pesisir Timur.
Bahasa Mandailing Angkola, terutama di Angkola Dolok (Sipirok) adalah bahasa yang paling mirip
dengan bahasa Batak Toba, karena letak geografisnya yang berdekatan, namun bahasa Angkola sedikit
lebih lembut intonasinya daripada bahasa Toba. Bahasa Angkola meliputi daerah Padangsidempuan,
Batang Toru, Sipirok, seluruh bagian kabupaten Tapanuli Selatan.
Secara umum, orang Mandailing akan menggunakan bahasa Melayu bila bertemu, apabila ada kata-kata
yang tidak dimengerti dalam dialek lokalnya masing-masing.
C. Pakaian Adat

Pengantin Mandailing menggunakan pakaian adat yang didominasi warna merah, keemasan dan hitam.
Pengantin pria menggunakan penutup kepala yang disebut ampu-mahkota yang dipakai raja-raja
Mandailing di masa lalu, baju godang yang berbentuk jas, ikat pinggang warna keemasan dengan selipan
dua pisau kecil disebut bobat, gelang polos di lengan atas warna keemasan, serta kain sesamping dari
songket Tapanuli. Sedangkan, pengantin wanita memakai penutup kepala disebut bulang berwarna
keemaasan dengan beberapa tingkat, penutup daerah dada yaitu kalung warna hitam dengan ornamen
keemasan dan dua lembar selendang dari kain songket, gelang polos di lengan atas berwarna keemasan,
ikat pinggang warna keemasan dengan selipan dua pisau kecil, dan baju kurung dengan bawahannya
songket.
D. Kesenian Tradisional
1. Tari Tor Tor




Tari tor-tor adalah tarian khas suku Batak, Sumatera Utara. Tepatnya Mandailing. Gerakan tarian ini
seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional
seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain. Tari tor-tor dulunya digunakan dalam acara ritual
yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan
simbol leluhur). Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan
gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu di bersihkan tempat dan lokasi
pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut. Tor-tor
menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang batak. Tarian tor-tor juga di pakai pada
pesta pernikahan, bagi suku mandailing tarin tor-tor merupakan tarian yang sangat di jaga sampai
sekarang. Banyak orang yang mengenal tarian tor-tor karena tarian tor-tor selalu di gunakan oleh
beberapa sanggar tari untuk menjadi salah satu tarian yang di kembangkan dan di jaga.

2. Alat Musik Gordang Sembilan



Gordang Sambilan adalah alat kesenian terdiri atas sembilan gendang besar (beduk) yang ditabuh
bersamaan, dalam rangka tertentu, misalnya pada hari raya. Salah satu beduk ditabuh oleh seorang
raja/pemimpin wilayah, yang biasanya memulai irama penabuhan.
E. Adat Istiadat
1. Adat Pertunangan
Mangarisika.
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu
terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda
holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain,
cincin emas, dan lain-lain.
2. Horja Siriaon (Upacara Adat Perkawinan).
Sebelum acara adat dimulai, biasanya diperlukan perlengkapan upacara adat, seperti sirih
(napuran/burangir) terdiri dari sirih, sentang (gambir), tembakau, soda, pinang, yang semuanya
dimasukkan ke dalam sebuah tepak. Lalu, sebagai simbol kebesaran (paragat) disiapkan payung
rarangan, pedang dan tombak, bendera adat (tonggol) dan langit-langit dengan tabir.
Adat pada suku Mandailing melibatkan banyak orang dari dalian na tolu, seperti mora, kahanggi dan
anak boru. Prosesi upacara pernikahan dimulai dari musyawarah adat yang disebut makkobar/makkatai,
yaitu berbicara dalam tutur sapa yang sangat khusus dan unik. Setiap anggota berbalas tutur, seperti
berbalas pantun secara bergiliran. Orang pertama yang membuka pembicaraan adalah juru bicara yang
punya hajat (suhut), dilanjutkan dengan menantu yang punya hajat (anak boru suhut), ipar dari anak
boru (pisang raut), peserta musyawarah yang turut hadir (paralok-alok), raja adat di kampung tersebut
(hatobangan), raja adat dari kambpung sebelah (raja torbing balok) dan raja diraja adat/pimpinan sidang
(raja panusunan bulang).
Setelah itu, dilaksanakan acara tradisi yang dikenal dengan nama mangupa atau mangupa tondi dohot
badan. Acara ini dilaksanakan sejak agama Islam masuk dan dianut oleh etnis Mandailing dengan
mengacu kepada ajaran Islam dan adat. Biasanya ada kata-kata nasihat yang disampaikan saat acara ini.
Tujuannya untuk memulihkan dan atau menguatkan semangat serta badan. Pangupa atau bahan untuk
mangupa, berupa hidangan yang diletakkan ke dalam tampah besar dan diisi dengan nasi, telur dan
ayam kampung dan garam Masing-masing hidangan memiliki makna secara simbolik. Contohnya, telur
bulat yang terdiri dari kuning dan putih telur mencerminkan kebulatan (keutuhan) badan (tondi).
Pangupa tersebut harus dimakan oleh pengantin sebagai tanda bahwa dalam menjalin rumah tangga
nantinya akan ada tantangan berupa manis, pahit, asam dan asin kehidupan. Untuk itu, pengantin harus
siap dan dapat menjalani dengan baik hubungan tersebut.
3. Mengharoani
sesudah lahir anak-anak yang dinanti-nantikan itu, ada kalanya diadakan lagi makan bersama ala
kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu yang dikenal dengan istilah mengharoani (menyambut
tibanya sang anak). Ada juga yang menyebutnya dengan istilah mamboan aek si unte karena pihak hula-
hula membawa makanan yang akan memperlancar air susu sang ibu. Makna spiritualitas yang
terkandung adalah yaitu menunjukkan kedekatan dari hula-hula terhadap si anak yang baru lahir dan
juga terhadap si ibu maupun ayah dari si anak itu.
4. Pelestarian Horja Mambulungi/ Horja Siluluton (Upacara Adat Kematian).
Didalam adat istiadat Mandailing, seorang yang pada waktu perkawinannya dilaksanakan dengan
upacara adat perkawinan, maka pada saat meninggalnya juga harus dilakukan dengan upacara adat
kematian terutama dari garis keturunan Raja-Raja Mandailing. Seorang anak keturunan Raja, apabila
ayahnya meninggal dunia wajib mengadati (Horja Mambulungi). Jika belum mengadati seorang anak
atau keluarganya tetap menjadi kewajiban /utang adat bagi keluarga yang disebut mandali di paradaton
dan jika ada yang akan menikah, tidak dibenarkan mengadakan pesta adat perkawinanan (horja
siriaon).
Pelaksanaan Upacara Adat Kematian dilaksanakan:
1. Pada saat penguburan.
2. Pada hari lain yang akan ditentukanm kemudian sesuai dengan kesempatan dan kemampuan
keluarganya.
F. Agama, Kepercayaan dan Mata Pencarian
Suku Mandailing secara mayoritas memeluk agama Islam, yang dibawa oleh pasukan Paderi dari
Minangkabau yang mengislamkan Tanah Batak di bagian Selatan. Wilayah Mandailing pada masa lalu
diserang pasukan Paderi yang menginvasi wilayah Mandailing yang hidup sebagai petani. Akibat dari
serangan pasukan Paderi Minangkabau ini, sebagian masyarakat Mandailing melarikan diri
menyeberang ke wilayah Malaysia untuk menyelamatkan diri, dan yang bertahan harus tunduk di bawah
kekuasaan pasukan Paderi yang demi mempertahankan hidup, mereka memeluk agama Islam. Hanya
sebagian kecil yang bertahan di wilayah tersebut yang tetap mempertahankan agama asli mereka
seperti pelbegu dan malim, yang pada akhirnya, para misionaris Belanda datang dan menyebarkan
agama Kristen di kalangan mereka.
Dalam sistem kekerabatan suku Mandailing, menganut paham partrilineal, yaitu anak mewarisi marga
sang ayah, tetapi belakangan ini beberapa mulai ada yang menjalankan pahan matrilineal, yaitu sang
anak mewarisi marga sang ibu. Apa yang terjadi pada suku Mandailing ini sungguh unik, karena dalam
kehidupan keseharian mereka, sang anak diberi kebebasan ingin memilih marga sang ayah atau sang
ibu. Tetapi suatu adat lama yang masih dipegang teguh oleh mereka adalah adat Dalihan Na Tolu yang
mengatur berbagai tata cara adat istiadat suku Mandailing.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing, hidup sebagai petani di ladang, dan bercocok
tanam berbagai tanaman seperti sayuran, serta tanaman keras, seperti kopi arabica, karet dan lain-lain.
G. Rumah Adat
Rumah Adat Mandailing disebut sebagai Bagas Godang sebagai kediaman para raja, terletak disebuah
kompleks yang sangat luas dan selalu didampingi dengan Sopo Godang sebagai balai sidang adat.
Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagaimana juga jumlah anak
tangganya. Bangunan arsitektur tradisional Mandailing adalah bukti budaya fisik yang memiliki
peradaban yang tinggi. Sisa-sisa peninggalan arsitektur tradisional Mandailing masih dapat kita lihat
sampai sekarang ini dan merupakan salah satu dari beberapa peninggalan hasil karya arsitektur
tradisional bangsa Indonesia yang patut mendapat perhatian dan dipertahankan oleh Pemerintah dan
masyarakat baik secara langsung baik tidak langsung. Bagas Godang biasanya juga dibangun
berpasangan dengan sebuah balai sidang adat yang terletak dihadapan atau persisnya bersebelahan
dengan rumah Raja. Balai sidang adat tersebut dinamakan Sopo Godang. Bangunan pada Bagas Godang
mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil dan anak tangganya juga berjumlah ganjil.
BAB II
SUKU ANGKOLA

Angkola adalah salah satu sub Suku Bangsa Batak yang berasal dari Sumatera Utara yang tinggal di
wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Nama Angkola berasal dari nama sungai, yakni batang Angkola (batang : sungai) yag diberi nama
seorang penguasa yang bernama Rajendra Kola (angkola /yang dipertuan kola), melalui Padang Lawas,
dan kemudian berkuasa di saat itu. Di sebelah selatan batang angkola diberi nama Angkola Jae (hilir) dan
di sebelah utara sungai batang angkola diberi nama Angkola julu (hulu).
Suku Batak Angkola sendiri mengenal paham kekerabatan patrilineal. Dalam sistem patrilineal, orang
Angkola mengenal marga. Di Angkola hanya dikenal beberapa marga saja, antara lain Siregar, Harahap,
Hasibuan, Rambe, Daulay, Tanjung, Ritonga, dan Hutasuhut. Orang Batak Angkola mengenal pelarangan
kawin semarga.
SEJARAH
Nama Angkola berasal dari nama sungai di Angkola yaitu (sungai) batang Angkola. Menurut cerita,
sungai ini diberi nama oleh Rajendra Kola (Chola) I, penguasa kerajaan Chola (1014 - 1044 M) di India
Selatan ketika itu yang masuk melalui Padang Lawas. Daerah Angkola sendiri terbagi dua wilayah yang
sebelah Selatan Batang Angkola diberi nama Angkola Jae (Hilir) dan sebelah Utara diberi nama Angkola
Julu (Hulu).
Sepeninggal kekuasaan Radjendra Chola I, muncul seorang tokok dari Tano Angkola, yang bernama
Oppu Jolak Maribu yang bermarga Dalimunthe. Oppu Jolak Maribu ini mendirikan huta (kampung)
pertama di daerah Angkola yang bernama Sitamiang. Berikutnya seperti Pargarutan yang artinya
tempatnya mengasah pedang. Tanggal yaitu tempatnya menaggalkan hari/tempat kalender batak dan
lain-lain. Kemudian masuklah suku-suku lain dari segala penjuru ke wilayah Angkola. Suku-suku
pendatang ini ada yang berbaur dengan suku Angkola dan ikut dalam adat-istiadat suku Angkola, tetapi
ada juga yang tetap mempertahankan adat nya sendiri. Marga-marga pada masyarakat Angkola pada
umumnya adalah Dalimunthe, Harahap, Siregar, Nasution, Ritonga, Batubara, Daulay dan lainnya.
Beberapa marga-marga yang ada pada suku Angkola ini terdapat juga pada suku Batak Toba dan Batak
Mandailing. Secara sejarah, sepertinya suku Batak Angkola ini masih berkerabat dengan suku Batak Toba
dan Batak Mandailing. Walaupun saat ini mereka menyatakan berbeda satu sama lain. Kadang bagi
masyarakat lain, di luar suku Batak, agak membingungkan untuk membedakan antara suku Batak
Angkola dengan suku Batak Mandailing. Karena dari segi budaya dan bahasa, bisa dikatakan nyaris mirip,
hanya dibedakan dari dialek yang berbeda. Intonasi bahasa Batak Angkola sendiri lebih lembut
dibanding dengan intonasi bahasa Batak Toba, tetapi masih lebih keras dibanding intonasi bahasa Batak
Mandailing.
Sebagian masyarakat suku Batak Angkola memeluk agama Islam setelah mendapat pengaruh Islam dari
Tuanku Lelo (bermarga Nasution), yang menyebarkan Islam dengan pedangnya, dalam misi Padri (1821)
dari Minangkabau. Tetapi sebagian lain tetap mempertahankan agama adat yang telah mereka amalkan
sejak dari zaman leluhurnya, seperti pelbegu dan malim. Tetapi tak lama kemudian masuknya pasukan
Belanda ke wilayah ini mengusir pasukan Padri yang berusaha mengislamkan wilayah Angkola ini, dan
sebagian masyarakat Angkola yang tadinya bertahan dari pengaruh Islam Padri, akhirnya menerima
ajaran Kristen yang diperkenalkan oleh para misionaris Belanda di wilayah Angkola ini. Masyarakat
Batak Angkola pada umumnya hidup sebagai petani, seperti membuka lahan padi sawah maupun
ladang. Selain itu mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran sampai ke tanaman keras seperti
kopi arabica dan lain-lain. Kegiatan lain adalah memelihara ternak seperti ayam, bebek, angsa dan juga
kerbau atau sapi.
PAKAIAN ADAT SUKU ANGKOLA RUMAH ADAT SUKU ANGKOLA

TARIAN ADAT SUKU ANGKOLA




Related Interests