MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI

Oleh : A-01
Ketua : Mainurtika (1102011151)
Sekretaris : Ana Amalina (1102011024)
A.Deza Farista (1102011001)
Amanda Ricki (1102011023)
Aria Kapriyati (1102011041)
Citra Nurul Aviandari (1102011067)
Dinieska Indiastri (1102011081)
Farizky Baskoro (1102011100)
Galih Arief Harimurti (1102011110)






UNIVERSITAS YARSI
FAKULTAS KEDOKTERAN
TAHUN PELAJARAN 2011-2012
Skenario 1 :
Mencegah Penyakit Dengan Vaksinasi

Seorang bayi berumur 2 bulan mendapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk
mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian, bayi tersebut dibawa
kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah dokter melakukan pemeriksaan,
didapatkan pembesaran nodus limfatikus di regio aksila dekstra. Hal ini disebabkan adanya
reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan menimbulkan respon imun
tubuh.
SASARAN BELAJAR
L.I. 1. Memahami dan Mempelajari Anatomi Organ Limfoid
L.O. 1.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Organ Limfoid
L.O. 1.2. Memahami dan Menjelaskan Organ Limfoid Secara Makroskopik
L.O. 1.3. Memahami dan Menjelaskan Organ Limfoid Secara Mikroskopik
L.I. 2. Memahami dan Mempelajari Fisiologi Sistem Limfatik
L.O. 2.1. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Respon Imunologi
L.O. 2.2. Memahami dan Menjelaskan Imunitas Spesifik dan Imunitas Non-Spesifik
L.O. 2.3. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Humoral dan Seluler
L.O. 2.4. Memahami dan Menjelaskan Imunisasi Aktif dan Imunisasi Pasif
L.I. 3. Memahami dan Mempelajari Antigen
L.O. 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Antigen
L.O. 3.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antigen
L.I. 4. Memahami dan Mempelajari Antibodi
L.O. 4.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Antibodi
L.O. 4.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antibodi
L.I. 5. Memahami dan Mempelajari Vaksinasi
L.O. 5.1. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Vaksin
L.O. 5.2. Memahami dan Menjelaskan Efek Samping Vaksin
L.O. 5.3. Memahami dan Menjelaskan Cara dan Waktu Pemberian Vaksin
L.I. 6. Memahami dan Mempelajari Pandangan Islam terhadap Vaksinasi
L.O. 6.1. Memahami dan Menjelaskan Hukum Islam terhadap Vaksinasi

L.I. 1. Memahami dan Mempelajari Anatomi Organ Limfoid

L.O. 1.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Organ Limfoid
Organ limfoid adalah jaringan limfoid yang penyusunnya terutama sel-sel limfosit. Organ
ini berfungsi untuk melindungi organisme terhadap efek invasi yang berpotensi merusak dari
makromolekul eksogen, apakah mereka memasuki tubuh dalam bentuk itu atau sebagai unsur
dari bakteri, virus, atau protozoa. Hal ini tercapai melalui mekanisme pertahanan seluler dan
humoral yang bersama-sama merupakan respons imun.

L.O. 1.2. Memahami dan Menjelaskan Organ Limfoid Secara Makroskopik
 Organ limfoid primer :
Organ limfoid primer terdiri dari sumsum tulang dan timus. Sumsum tulang merupakan jaringan
yang kompleks tempat hematopoiesis dan depot lemak. Lemak merupakan 50 % atau lebih dari
kompartemen rongga sumsum tulang. Organ limfoid diperlukan untuk pematangan, diferensiasi
dan poliferasi sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang dapat mengenal antigen. Sel
hematopoietik yang diproduksi di sumsum tulang menembus dinding pembuluh darah dan masuk
ke sirkulasi dan di distribusikan ke bagian tubuh.
 Thymus
Timus tumbuh terus hingga pubertas. Setelah mulai pubertas, timus akan mengalami
involusi dan mengecil seiring umur kadang sampai tidak ditemukan. akan tetapi masih
berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru dan darah. Mempunyai 2 buah lobus,
mempunyai bagian cortex dan medulla, berbentuk segitiga, gepeng dan kemerahan. Thymus
mempunyai 2 batasan, yaitu :
 Batasan anterior : manubrium sterni dan rawan costae IV
 Batasan atas : Regio colli inferior (trachea)
Letak :
Terdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap sternum. Dasar timus bersandar pada
perikardium, ventral dari arteri pulmonalis, aorta, dan trakea. Batas anterior yaitu
manubrium sterni, dan rawan costae IV. Batas Atas yaitu regio colli inferior (trachea).
Perdarahan :
Berasal dari arteri thymica cabang dari arteri thyroidea inferior dan mammaria interna.
Kembali melalui vena thyroidea inferior dan vena mammaria interna.















 Sumsum Tulang
Terdapat pada sternum, vertebra, tulang iliaka, dan tulang iga. Sel stem hematopoetik akan
membentuk sel-sel darah. Proliferasi dan diferensiasi dirangsang sitokin. Terdapat juga sel
lemak, fibroblas dan sel plasma. Sel stem hematopoetik akan menjadi progenitor limfoid yang
kemudian mejadi prolimfosit B dan menjadi prelimfosit B yang selanjutnya menjadi limfosit B
dengan imunoglobulin D dan imunoglobulin M (B Cell Receptor ) yang kemudian mengalami
seleksi negatif sehingga menjadi sel B naive yang kemudiankeluar dan mengikuti aliran darah
menuju ke organ limfoid sekunder. Sel stem hematopoetik menjadi progenitor limfoid juga
berubah menjadi prolimfosit T dan selanjutnya menjadi prelimfosit T yang akhirnya menuju
timus.




 Organ limfoid sekunder :
Organ limfoid sekunder merupakan tempat sel dendritik mempersentasikan antigen yang yang
ditangkapnya di bagian lain tunuh ke sel T yang memacunya untuk poliferasi dan diferensiasi
limfosit.
 Limfonodus

Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk memproduksi limfosit dan
anti bodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan, menyaring aliran limfatik sekurang-
kurangnya oleh satu nodus sebelum dikembalikan kedalam aliran darah melalui duktus
torasikus, sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapat permukaan
cembung dan bagian hillus (cekung) yang merupakan tempat masuknya pembuluh darah dan
saluran limfe eferen yang membawa aliran limfe keluar dari limfonodus. Saluran afferen
memasuki limfonodus pada daerah sepanjang permukaan cembung.
 Bentuk :
Oval seperti kacang tanah atau kacang merah dengan pinggiran cekung (hillus)
 Ukuran :
Sebesar kepala peniti atau buah kenari, dapat diraba pada daerah leher, axilla, dan inguinal
dalam keadaan infeksi.

 Lien


Merupakan organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh, vaskular berwarna kemerahan karena
banyak mengandung darah dan berbentuk oval. Pembesaran limpa disebut dengan
splenomegali. Pembesaran ini terdapat pada keaadan leukimia, cirrosis hepatis, dan anemia
berat.
Letak :
Regio hipochondrium sinistra intra peritoneal. Pada proyeksi costae 9, 10, dan 11. Setinggi
vertebrae thoracalis 11-12. Batas anterior yaitu gaster, ren sinistra, dan flexura colli sinistra.
Batas posterior yaitu diafragma, dan costae 9-12.
Ukuran :
Sebesar kepalan tangan masing-masing individu.
Aliran darah :
Aliran darah akan masuk kedaerah hillus lienalis yaitu arteri lienalis dan keluar melalui vena
lienalis ke vena porta menuju hati.

 Tonsil


Tonsil termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila yaitu
Tonsila Palatina, Tonsila Lingualis, Tonsila Pharyngealis. Ketiga tonsil tersebut membentuk
cincin pada saluran limf yang dikenal dengan “Ring of Waldeyer” hal ini yang
menyebabkan jika salah satu dari ketiga tonsila ini terinfeksi dua tonsila yang lain juga ikut
meradang.
Organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila, yaitu :
 Tonsila palatina
Terletak pada dinding lateralis (kiri-kanan uvula) oropharynx dextra dan sinistra.
Terletak dalam 1 lekukan yang dikenal sebagai fossa tonsilaris dengan dasar yang biasa
disebut tonsil bed. Fossa tonsilaris dibatasi oleh dua otot melengkung membentuk arcus
yaitu arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus.
 Tonsila lingualis
 Tonsila pharyngealis
Perdarahan :
Aliran darah berasal dari arteri tonsillaris yang merupakan cabang dari arteri maxillaris externa
(fascialis) dan arteri pharyngica ascendens lingualis.

L.O. 1.3. Memahami dan Menjelaskan Organ Limfoid Secara Mikroskopik
 Limfonodus



Limfonodus berfungsi menyaring aliran limfe sebelum dicurahkan kedalam aliran
darah melalui duktus torasikus. Limfonodus dibagi atas daerah korteks dan sinusoid.
Daerah korteks dapat dibagi atas 2 bagian. Pada nodulus limfatikus terdapat germinal
centers. Limfonodus dibungkus oleh kapsula fibrosa yang terdiri dari serat kolagen,
yang menjulur kedalam disebut trabeculae. Dibawah kapsula fibrosa terdapat sinus sub
kapsularis atau sinus marginalis dimana cairan limfe ditapis dan kemudian mengalir
melalui sinus kortikalis atau sinus trabekularis mengikuti trabekula. Stroma limfonodus
dibentuk oleh cabang-cabang trabekula dan jaringan retikular (sel retikular merupakan
sel fagosit) yang juga membentuk dinding dari sinusoid. Limfonodus dibagi menjadi
dua daerah yaitu :
 Korteks
Dibagi menjadi dua bagian yaitu :
o Korteks luar
Dibentuk dari jaringan limfoid yang terdapat satu jaringan sel retikular dan serat
retikular yang dipenuhi oleh limfosit B. Terdapat struktur berbentuk sferis yang
disebut nodulus limfatikus, dalam satu nodulus limfatikus terdapat corona (dibentuk
dengan susunan sel yang padat) dan sentrum germinativum (dibentuk dari susunan
sel yang longgar, dan merupakan tempat diferensiasi limfosti B menjadi sel plasma) .
Terdapat sinus subkapsularis atau sinus marginalis yang dibentuk oleh jaringan ikat
longgar dari makrofag, sel retikular dan serat retikular.
o Korteks dalam
Merupakan kelanjutan dari korteks luar, terdapat juga nodulus limfatikus, dan
mengandung limfosit T.
 Medula
Terdapat korda medularis (genjel-genjel medula) yang merupakan perluasan korteks
dalam yang berisi sel plasma hasil diferensiasi pada sentrum germinativum. Korda
medularis dipisahkan oleh struktur seperti kapiler yang berdilatasi yang disebut sebagai
sinus limfoid medularis yang mengandung cairan limfe.





 Lien

Lien berwarna merah tua karena banyak mengandung darah. Lien dibungkus oleh kapsula
fibrosa tebal, bercabang cabang ke dalam lien sebagai trabekula, keduanya merupakan
jaringan ikat padat. Suplai darah kedalam parenkim melalui arteri trabekularis yang masuk
bersama trabekula. Lien dibentuk oleh jaringan retikular yang mengandung sel limfoid,
makrofag dan Antigen Presenting cell. Dibungkus oleh simpai jaringan ikat padat yang
menjulur (trabekula) yang membagi parenkim atau pulpa lien menjadi kompartemen yang
tidak sempurna, tidak terdapat pembuluh limfe, terdapat arteri dan vena trabekularis.
Pulpa lien terbagi menjadi dua bagian yaitu :
 Pulpa alba/putih
Terdapat nodulus limfatikus (terdapat banyak limfosit B) dan arteri sentralis/folikularis
yang dikelilingi oleh sel-sel limfoid terutama sel limfosit T dan membentuk selubung
periarteri. Pulpa alba dan pula rubra dibatasi oleh zona marginalis
o Zona marginalis
Terdapat sinus dan jaringan ikat longgar dalam jumlah yang banyak. Sel limfosit
(jumlah yang sedikit) dan makrofag aktif (jumlah yang banyak). Banyak terdapat
antigen darah yang berperan dalam aktivitas imunologis limpa.
 Pulpa rubra/merah
Merupakan jaringan retikular dengan korda limpa (diantara sinusoid) yang terdiri dari
sel dan serat retikular (makrofag, limfosit, sel plasma, eritrosit, trombosit, dan
granulaosit)
Fungsi limpa :
1. Pembentukan limfosit
Dibentuk dalam pulpa alba, menuju ke pulpa rubra dan masuk dalam aliran darah
2. Destruksi eritrosit
Oleh makrofag dalam korda pula merah
3. Pertahanan organisme
Oleh karena kandungan limfost T, limfosit B, dan Antigen Presenting cell

 Thymus

Timus diliputi oleh jaringan ikat tipis (kapsula fibrosa) yang terdiri dari serat kolagen
dan elastin. Memiliki suatu simpai jaringan ikat yang masuk ke dalam parenkim dan
membagi timus menjadi lobulus. Thymus terdiri dari 2 lobulus, tiap lobulus terdiri dari
korteks dan medula, tidak terdapat nodulus limfatikus. Korteks merupakan bagian
perifir lobulus, dipenuhi oleh limfosit timus. Medula sendiri terisi oleh limfosit. Di
daerah medula terdapat badan hassal, suatu bangunan dengan bagian tengahnya berupa
daerah hialinisasi berwarna merah muda, dikelilingi oleh sel sel epitoloid. Thymus
tidak memliki sinusoid ataupun pembuluh limfe afferen.
 Korteks
Banyak terdapat limfosit T dan beberapa sel makrofag, dengan sel retikular yang
tersebar.
 Medula
Mengandung sel retikular dan limfosit (jumlah sedikit), terdapat badan hasal tersusun
dari sel retikular epitel gepeng konsentris yang mengalami degenerasi hialin dan
mengandung granula keratohialin dengn fungsi yang belum diketahui.

 Tonsil

 Tonsil lingualis
Terdapat pada 1/3 bagian posterior lidah, tepat dibelakang papila sirkumvalata,
bercampur dengan muskular skelet. Limfonodulus umumnya mempunyai germinal
center yang umumnya terisi limfosit dan sel plasma.
 Tonsil palatina
Tonsila palatina tidak terdapat muskular dan pada kriptus banyak terdapat debris
yang disebut benda liur.
 Tonsila faringea atau adenoid
Terdapat pada permukaan medial dari dinding dorsal nasofaring. Epitel yang meliputi jaringan
limfoid ini adalah epitel bertingkat torak bersilia.

L.I. 2. Memahami dan Mempelajari Fisiologi Sistem Limfatik

L.O. 2.1. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Respon Imunologi
Tubuh kita mempunyai banyak sekali mekanisme pertahanan yang terdiri dari berbagai
macam sistem imun yaitu organ limfoid (thymus, lien, sumsum tulang) beserta sistem
limfatiknya. Organ tubuh kita yang juga termasuk dalam mekanisme pertahanan tubuh yaitu
jantung, hati, ginjal dan paru-paru.
Sistem limfatik baru akan dikatakan mengalami gangguan jika muncul tonjolan kelenjar
yang membesar dibandingkan pada umumnya. Hal ini dikarenakan kelenjar limfe sedang
berperang melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh.
Organ limfoid seperti thymus sendiri mempunyai tanggung jawab dalam pembentukan
sel T dan penting bagi para bayi baru lahir, karena tanpa thymus, bayi yang baru lahir akan
mempunyai sistem imun yang buruk. Leukosit (sel darah putih) dihasilkan oleh Thymus, lien dan
sumsum tulang. Leukosit bersirkulasi di dalam badan antara organ tubuh melalui pembuluh limfe
dan pembuluh darah. Dengan begitu, sistem imun bekerja terkoordinasi baik memonitor tubuh
dari kuman ataupun substansi lain yang bisa menyebabkan problem bagi tubuh.
Ada dua tipe leukosit pada umumnya, yaitu fagosit yang bertugas memakan organisme
yang masuk ke dalam tubuh dan limfosit yang bertugas mengingat dan mengenali yang masuk ke
dalam tubuh serta membantu tubuh menghancurkan mereka. Sedangkan sel lainnya adalah
netrofil, yang bertugas melawan bakteri. Jika kadar netrofil meningkat, maka bisa jadi ada suatu
infeksi bakteri di dalamnya.
Limfosit sendiri terdiri dari dua tipe yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit dihasilkan
oleh sumsum tulang, tinggal di dalamnya dan jika matang menjadi limfosit sel B, atau
meninggalkan sumsum tulang ke kelenjar thymus dan menjadi limfosit sel T. Limfosit B dan T
mempunyai fungsi yang berbeda dimana limfost B berfungsi untuk mencari target dan
mengirimkan tentara untuk mengunci keberadaan mereka. Sedangkan sel T merupakan tentara
yang bisa menghancurkan ketika sel B sudah mengidentifikasi keberadaan mereka.
Jika terdapat antigen (benda asing yang masuk ke dalam tubuh) terdeteksi, maka
beberapa tipe sel bekerjasama untuk mencari tahu siapa mereka dan memberikan respons. Sel-sel
ini memicu limfosit B untuk memproduksi antibodi, suatu protein khusus yang mengarahkan
kepada suatu antigen spesifik. Antibodi sendiri bisa menetralisir toksin yang diproduksi dari
berbagai macam organisme, dan juga antibodi bisa mengaktivasi kelompok protein yang disebut
komplemen yang merupakan bagian dari sistem imun dan membantu menghancurkan bakteri,
virus, ataupun sel yang terinfeksi.

Dilihat dari berapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam respons imun, yaitu
respons imun primer dan respons imun sekunder.
 Respons imun primer adalah respons imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya
dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respons imun primer kebanyakan adalah
IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons imun sekunder, demikian
pula daya afinitasnya. Waktu antara antigen masuk sampai dengan timbul antibodi (lag
phase) lebih lama bila dibanding dengan respons imun sekunder.
 Pada respons imun sekunder, antibodi yang dibentuk kebanyakan adalah IgG, dengan
titer dan afinitas yang lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek dibanding respons imun
primer. Hal ini disebabkan sel memori yang terbentuk pada respons imun primer akan
cepat mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang
menghasilkan antibodi. Demikian pula dengan imunitas selular, sel limfosit T akan lebih
cepat mengalami transformasi blast dan berdiferensiasi menjadi sel T aktif sehingga lebih
banyak terbentuk sel efektor dan sel memori. Pada imunisasi, respons imun sekunder
inilah yang diharapkan akan memberi respons adekuat bila terpajan pada antigen yang
serupa kelak. Untuk mendapatkan titer antibodi yang cukup tinggi dan mencapai nilai
protektif, sifat respons imun sekunder ini diterapkan dengan memberikan vaksinasi
berulang beberapa kali.

L.O. 2.2. Memahami dan Menjelaskan Imunitas Spesifik dan Imunitas Non-Spesifik
 Sistem imun spesifik
Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing bagi dirinya. Bila sel sistem
terpajan ulang dengan benda asing yang sama, sel akan mengenal lebih cepat dan akan
merespon dengan baik, oleh karena itu sistem tersebut disebut spesifik. Sistem ini dapat
bekerja sendiri tetapi umunya terjalin kerja sama baik dengan sistem imun non spesifik.
 Sistem imun non spesifik
Merupakan pertahanan tubuh utama dalam menghadapi serangan benda asing, karena
sistem imun spesifik memerlukan waktu untuk memberikan respon, sistem imun non
spesifik tidak mempunyai memori terhadap antigen. Disebut non spesifik dikarenakan
tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah tersedia dan berfungsi langsung dan
terdapat sejak lahir.
o Pertahanan fisik/mekanik
Melalui kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk, dan bersin. Luka bakar pada
kulit dan selaput lendir yang rusak karena asap rokok dapat meningkatkan resiko
infeksi dan infeksi oportunistik.
o Pertahanan larut
 Biokimia
Mikroba dapat masuk melalui kelenjar sebaseus dan folikel rambut. Bahan-bahan
yang disekresi mukosa saluran napas, kelenjar sebaseus kulit, kelenjar kulit,
telinga, spermin dalam semen berfungsi sebagai pertahanan tubuh.
 Humoral
Molekul larut tertentu yang diproduksi di tempat infeksi/cedera dan berfungsi
lokal, contohnya peptida antimikroba (defensin, katelisidin, IFN dengan efek
antiviral). Pertahanan humoral ini juga dapat dikerahkan ke jaringan sasaran
yang berbeda tempat melalui sirkulasi seperti komplemen dan PFA (protein fase
akut)/APP (acute phase protein)
 Komplemen
Bersama dengan antibodi untuk menghancurkan membran lapisan LPS
dinding sel beberapa bakteri Gram negatif yang ditemukan dalam serum
normal. Komplemen berfungsi sebagai opsonin yang meningkatkan
fagositosis, faktor kemotaktik, dan menimbulkan destruksi bakteri dan
parasit.
 Protein fase akut
Selama fase ini, terjadi perubahan kadar protein serum yang disebut APP
(acute phase protein).
 Interferon
Suatu glikoprotein yang dihasilkan sel manusia yang mengandung nukleus
dan dilepas sebagai respon terhadap infeksi virus/sifat antivirus dengan
menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus. Interferon juga
dapat mengaktifkan natural killer cell (sel NK) untuk membunuh virus dan
sel neoplasma, sehingga dapat menyingkirkan reservoir infeksi.
 CRP (C-reactive protein)
Dibentuk pada infeksi, yang berperan sebagai opsonin dan dapat
mengaktifkan komplemen.
o Pertahanan selular
 Fagosit
Berbagai sel dapat melakukan fagositosis, sel utama yang berperan dalam hal
tersebut adalah sel mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel
polimononuklear (neutrofil) yang keduanya berasal dari sel hemopoietik yang
sama. Fagositosis dini efektif pada invasi kuman, dapat mencegah timbulnya
penyakit. Proses fagositosis terjadi dalam beberapa tingkat : kemotaksis,
menangkap, membunuh, dan mencerna.
 Sel NK
Merupakan sel limfosit tanpa ciri-ciri sel limfoid sistem imun spesifik yang
ditemukan dalam sirkulasi. Disebut juga sel non B non T atau sel populasi ketiga
atau null cell. Sel NK menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel
neoplasma.
 Sel mast
Berperan dalam reaksi alergi dan pertahanan pada pejamu imunokompromais,
sebagai imunitas terhadap parasit usus dan invasi bakteri.
L.O. 2.3. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Humoral dan Seluler
o Mekanisme Humoral
Yang berperan dalam sistem ini adalah sel B yang berasal dari sel multipoten dalam
sumsum tulang. Bila sel B dirangsang benda asing, sel tersebut akan berproliferasi
dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi
dapat ditemukan dalam serum. Fungsi utama antobodi ialah mempertahankan tubuh
terhadap infeksi bakteri, virus dan menetralisasi toksin.
o Mekanisme Selular
Yang berperan dalam sistem ini adalah limfosit T atau sel T. Fungsi sel T umumnya
ialah :
 Membantu sel B dalam memproduksi antibodi
 Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
 Mengaktifkan makrofag untuk fagositosis
 Mengontrol ambang dan kualitas imun.
Sel T dibentuk dalam sumsum tulang, tetapi diferensiasi dan proliferasinya terjadi
dalam kelenjar timus atas pengaruh faktor asal timus. Hanya sekitar 5-10% sel timus
yang matang dan masuk kedalam sirkulasi dan KGB. Sel T terdiri dari :
 Sel T naif
Sel limfosit yang meninggalkan timus namun belum berdiferensiasi, belum
terpajan dengan antigen dan menunjukkan molekul permukaan CD
45
RA. Sel ini
ditemukan dalam organ limfoid perifer. Sel T naif yang terpajan antigen akan
berkembang menjadi sel Th0 dan dapat berkembang menjadi Th1 dan Th2, sel
Th0 memproduksi sitokin dari ke 2 jenis sel tersebut seperti IL-2, IFN, dan IL-4.
 Sel T CD
4
+
(Th1 dan Th2)
Sel T naif CD
4
+
memasuki sirkulasi dan menetap dalam organ limfoid bertahun-
tahun sebelum terpajan antigen atau mati. Sel tersebut mengenal antigen yang
dipresentasikan bersama molekul MHC-II oleh APC dan berkembang menjadi
subset sel Th1 atau sel Tdth (delayed type Hypersensitivity) atau Th2 yang
tergantung sitokin lingkungan. IFN-γ dan IL-12 yang diproduksi APC seperti
makrofag dan sel dendritik diaktifkan mikroba merangsang diferensiasi sel CD
4
+

menjadi Th1/Tdth yang berperan dalam reaksi hipersensitivitas lambat (tipe IV).
Sel Tdth berperan mengarahkan makrofag san sel inflamasi ke tempat terjadinya
reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Atas pengaruh IL-4, IL-5, IL-10, IL-13 yang
dilepas sel mast yang terpajan antigen atau cacing, Th0 berkembang menjadi sel
Th2 yang merangsang sel B untuk memproduksi antibodi.
 Sel T CD
8
+
(Cytotoxic T Lymphocyte/CTL/Tcytotoxic/Tcytolytic/Tc)
Fungsi utama sel ini ialah
 menyingkirkan sel yang terinfeksi virus dengan menghancurkan sel tersebut.
 Sel CTL juga menghancurkan sel ganas dan sel histoimkompatibel yang
menimbulkan penolakan pada transplantasi.
 Dalam keadaan tertentu, sel CTL dapat menghancurkan sel terinfeksi bakteri
intrasel.
 Sebagai T inducer karena dapat menginduksi sel subset T lainnya.
 Sel Ts (T supresor) atau sel Tr (T regulator) atau Th3
Berperan menekan aktivitas sel efektor T yang lain dan sel B. Kerja sel Tr dengan mencegah
respon sel Th1. APC mempresentasikan antigen ke sel T naif yang akan melepaskan sitokin IL-
12 yang merangsang diferensiasi sel T naif menjadi sel efektor Th1. Sel Th1 menghasilkan IFN-
γ yang mengaktifkan makrofag dalam fase efektor. Sel Tr mencegah aktivasi sel T melalui
mekanisme yang belum jelas. Beberapa sel Tr melepas sitokin imunosupresif seperti IL-10 yang
mencegah fungsi APC dan aktivasi makrofag dan TGF-β yang mencegah proliferasi sel T dan
aktivasi makrofag.
L.O. 2.4. Memahami dan Menjelaskan Imunisasi Aktif dan Imunisasi Pasif
 Imunisasi aktif
Imunisasi aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen
seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah. Kekebalan aktif biasanya berlangsung lebih
lama karena adanya memori imunologik.
Imunisasi aktif :
- Imunisasi aktif alamiah
Adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis diperoleh setelah sembuh dari suatu
penyakit.
- Imunisasi aktif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan
perlindungan dari suatu penyakit.

Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu
proses infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan
menghasilkan respons seluler dan humoral, serta dihasilkannya cell memory. Jika benar-benar
terjadi infeksi, maka tubuh secara cepat dapat merespon. Dalam imunisasi aktif terdapat 4
macam kandungan dalam setiap vaksinnya, yang dijelaskan sebagai berikut :
- Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna
terjadinya semacam infeksi buatan (berupa polisakarida, toksoid, virus yang dilemahkan,
atau bakteri yang dimatikan).
- Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.
- Preservative, stabilizer, dan antibiotic yang berguna untuk mencegah tumbuhnya mikroba
sekaligus untuk stabilisasi antigen.
- Adjuvans (bahan yang berbeda dari antigen yang ditambahkan ke vaksin untuk
meningkatkan respon imun, aktivasi sel T melalui peningkatan akumulasi APC di tempat
pajanan antigen dan ekspresi kostimulator dan sitokin oleh APC) yang terdiri atas garam
aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen.
 Imunisasi pasif
Imunisasi pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu
itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu, atau kekebalan yang
diperoleh setelah pemberian suntikan imunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama
karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG adalah 28 hari, sedangkan waktu paruh
imunoglobulin lainnya lebih pendek.
Imunisasi pasif :
- Imunisasi pasif alamiah
Adalah antibodi yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu yang merupakan
orangtua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
- Imunisasi pasif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang diperoleh karena suntikan serum untuk mencegah
penyakit tertentu.
Contoh : pemberian ATS

Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (imunoglobulin), yaitu suatu zat yang dihasilkan
melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang
digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
Imunisasi pasif terjadi bila seseorang menerima antibody atau produk sel dari orang lain yang
telah mendapat imunisasi aktif. Transfer sel yang kompeten imun kepada pejamu yang
sebelumnya imun inkompeten, disebut transfer adoptif.

L.I. 3. Memahami dan Mempelajari Antigen

L.O. 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Antigen
Berdasarkan kamus kedokteran Dorland, antigen adalah setiap zat yang mampu, dalam
kondisi yang sesuai, menginduksi suatu respons imun spesifik dan bereaksi dengan produk
respons tersebut, yakni dengan antibodi spesifik atau limfosit T yang disensitisasi secara khusus,
atau keduanya. Antigen dapat berupa zat yang terlarut, seperti toksin dan protein asing, atau
partikel, seperti bakteri dan sel jaringan; akan tetapi, hanya sebagian molekul protein atau
polisakaridanya saja, yang diketahui sebagai antigenic determinant, yang bergabung dengan
antibodi atau suatu reseptor spesifik pada suatu limfosit.
Secara singkat, antigen adalah bahan yang berinteraksi dengan produk respons imun yang
dirangsang oleh imunogen spesifik seperti antibodi.

L.O. 3.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antigen
1. Pembagian Antigen Menurut Epitop
Menurut epitop, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. Unideterminan, univalen
Yaitu hanya satu jenis determinan atau epitop pada satu molekul.
b. Unideterminan, multivalen
Yaitu hanya satu determinan tetapi dua atau lebih determian tersebut ditemukan pada satu
molekul.
c. Multideterminan, univalen
Yaitu banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya
(kebanyakan protein).
d. Multideterminan, multivalen
Yaitu banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul (antigen
dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi).

2. Pembagian Antigen Menurut Spesifisitas
Menurut spesifisitas, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. Heteroantigen, yaitu antigen yang terdapat pada jaringan dari spesies yang berbeda.
b. Xenoantigen yaitu antigen yang hanya dimiliki spesies tertentu.
c. Alloantigen (isoantigen) yaitu antigen yang spesifik untuk individu dalam satu spesies.
d. Antigen organ spesifik, yaitu antigen yang dimilki oleh organ yang sama dari spesies yang
berbeda.
e. Autoantigen, yaitu antigen yang dimiliki oleh alat tubuh sendiri

3. Pembagian Antigen Menurut Ketergantungan Terhadap Sel T
Menurut ketergantungan terhadap sel T, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. T dependent yaitu antigen yang memerlukan pengenalan oleh sel T dan sel B untuk dapat
menimbulkan respons antibodi. Sebagai contoh adalah antigen protein.
b. T independent yaitu antigen yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel Tuntuk
membentuk antibodi. Antigen tersebut berupa molekul besar polimerik yang dipecah di
dalam badan secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan, dan
flagelin polimerik bakteri.

4. Pembagian Antigen Menurut Sifat Kimiawi
Menurut sifat kimiawi, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein dapat menimbulkan respon imun
terutama pembentukan antibodi. Respon imun yang ditimbulkan golongan darah
ABOmempunyai sifat antigen dan spesifisitas imun yang berasal dari polisakarida pada
permukaan sel darah merah.
b. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein
carrier. Lipid dianggap sebagai hapten, sebagai contoh adalah sphingolipid.
c. Asam nukleat
Asam nukleat tdak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein
carrier. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respon imun terhadap
DNA terjadi pada penderita dengan SLE.
d. Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya multideterminan univalent.

 Epitop / determinan antigen
Bagian dari antigen yang membuat kontak fisik dengan reseptor antibodi, dan menginduksi
pembentukan antibodi. Makromolekul dapat memiliki berbagai epitop yang masing-masing
menginduksi produksi antibodi spesifik yang berbeda.
 Paratop
Bagian dari antibodi yang mengikat epitop atau TCR pada antigen.

 Agretop
Regio antigen yang berikatan dengan MHC II
 Superantigen
Merupakan molekul pemacu respon imun poten, dan lebih tepat disebut sebagai supermitogen
karena dapat memacu mitosis sel CD
4
+
tanpa bantuan APC. Efeknya terlihat setelah diikat oleh
TCR, respon sel T lebih cepat dan besar serta menyebabkan pelepasan sitokin dalam jumlah
besar (IL-2, IL-6, IL-8, TNF- α, IFN-γ) yang berperan dalam proses :
 Inflamasi
Menimbulkan ekspansi masif sel T reaktif spesifik
 Sindrom klinis
o DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)
o Kolaps vaskular/syok endotoksin/syok septik (terutama melalui TNF- α)
Superantigen dapat merangsang 10% sel CD
4
+
melalui ikatan dengan TCR dan timus dependen
sehingga tidak diperlukan proses fagositosis. Superantigen memiliki tempat pengikatan reseptor
dari dua sistem imun berbeda yaitu :
 Rantai β dari TCR
 Rantai α atau β dari molekul MHC II
Sekitar 20% dari semua sel T darah diaktifkan oleh satu molekul superantigen. Melalui MCH I
dan TCR, superantigen mengarahkan Th untuk memberikan sinyal ke sel B, makrofag, sel
dendritik, dan sel sasaran lain. Superantigen juga sebagai ajuvan (bahan yang diperlukan sebagai
tambahan pelarut antigen/perangsang produksi antibodi). untuk meningkatkan respons imun
terhadap antigen dalam imunisasi.
Superantigen diproduksi oleh kuman patogen bagi manusia, misalnya :
 Staphylococcus aureus (enterotoksin dan toksin eksofoliatif)
 Staphylococcus pyogenes (eksotoksin)
 Patogen Gram negatif (toksin Yersinia enterokolitika, Yersinia pseudotuberkulosis)
 Virus (EBV, CMV, HIV, rabies)
 Parasit (Toxoplasma gondii)
 Aloantigen
Ditemukan pada bahan golongan darah (eritrosit dan antigen histokompatibel) dalam jaringan
tandur yang merangsang respon imun resipien yang tidak memiliki aloantigen.
 Toksin
Merupakan racun, biasanya berupa imunogen yang merangsang pembentukan antibodi
(antitoksin) dengan kemampuan untuk menetralkan efek merugikan dari toksin. Toksin dibagi
menjadi :
 Toksin bakteri
Diproduksi mikroorganisme, penyebab tetanus, difteri, botulism, gas gangren, toksin
staphylococcus
 Fitotoksin
Toksin yang berasal dari tumbuhan. Risin dari minyak jarak, korotein dan abrin
merupakan turunan biji likoris indian, Gerukia
 Zootoksin
Berasal dari ular, laba-laba, kalajengking, lebah, tawon.

L.I. 4. Memahami dan Mempelajari Antibodi

L.O. 4.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Antibodi
Berdasarkan kamus kedokteran Dorland, antibodi adalah molekul imunoglobulin yang
mempunyai suatu rantai asam amino spesifik, yang hanya berinteraksi dengan antigen yang
menginduksi sintesis molekul ini di dalam sel seri limfoid (khususnya sel plasma), atau dengan
antigen yang sangat erat hubungannya dengan antigen tersebut. Antibodi digolongkan menurut
cara kerjanya, seperti aglutinin, bakteriolisin, hemolisin, opsonin, presipitin, dll.

L.O. 4.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antibodi







 Immunoglobin G (IgG)
Adalah immunoglobin utama pada serum manusia yang meliputi sekitar 70–80% dari
seluruh immunoglobin. Setiap molekul IgG terdiri dari 2 rantai, yaitu rantai L dan 2
rantai H yang dihubungkan oleh ikatan sulfida (formula molekul H
2
L
2
). Karena
mempunyai 2 tempat pengikatan yang identik, immunoglobulin bersifat divalen.
Berdasarkan pada perbedaan anigenik rantai H dan pada jumlah dan lokasi ikatan
disulfida, ada 4 sub kelas IgG, yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4. Sebagian besar IgG
adalah IgG1 (65%). Antibodi IgG2 ditunjukkan pada antigen polisakarida yang
merupakan bagian sistem pertahanan penting terhadap bakteri berkapsul.
IgG merupakan antibodi terpenting pada respons imun sekunder dan juga merupakan
antibodi penting untuk pertahanan terhadap bakteri dan virus. IgG adalah satu-satunya
antibodi yang dapat melewati plasenta. Antibodi ini memberikan imunitas pasif yang
tinggi pada bayi baru lahir.
IgG yang tersebar merata di intravaskular dan ekstravaskular merupakan satu-satunya
kelas antibodi yang bersifat antitoksin.
 Immunoglobin A (IgA)
Merupakan immunoglobin utama pada sekret, seperti kolostrum, saliva, air mata, dan
sekret saluran perrnapasan, gastrointestinal, dan genitalia. IgA melindungi membran
mukosa dari bakteri dan virus. Komponen sekretonik adalah suatu polipeptida yang
disintesis oleh sel-sel epitel yang dilewati perjalanan IgA ke permukaan mukosa.
 Immunoglobin M (IgM)
Adalah immunoglobin utama yang diproduksi pada awal respons primer. IgM dapat
ditemukan sebagai monomer pada permukaan hampir semua sel B dan tempatnya
berfungsi sebagai reseptor pengikatan antigen. IgM merupakan immunoglobin paling
penting untuk aglutinasi, fiksasi komplemen, dan reaksi antibodi lain. IgM merupakan
antibodi penting untuk pertahanan terhadap virus dan bakteri. IgM dapat diproduksi oleh
janin pada beberapa infeksi tertentu. IgM mempunyai aviditas tertinggi karena
interaksinya dengan antigen dapat melibatkan ke tempat terikatnya sekaligus.



 Immunoglobin D (IgD)
Sejauh ini belum diketahui fungsi antibodi immunoglobulin ini. Yang diketahui hanyalah
fungsinya sebagai reseptor antigen karena dapat ditemukan pada permukaan beberapa
limfosi B. Jumlahnya dalam serum sangat terbatas.
 Immunoglobulin E (IgE)
Regio Fc IgE berikatan dengan permukaan sel mast dan basofil. IgE yang terikat
berfungsi sebagai reseptor antigen (alergen) dan kompleks antigen-antibodinya memicu
terjadinya respons alergi melalui pelepasan mediator. Jumlah IgE pada serum normal
sangat sedikit (sekitar 0,004%), tetapi penderita reaksi alergi dapat mempunyai IgE dalam
jumlah yang sangat meningkat. IgE tidak dapat memfiksasi komplemen maupun
melewati plasenta.


Komplemen
Istilah gabungan dari sistem yang terdiri dari kira-kira 20 protein, yang kebanyakan
merupakan prekursor enzim. Komplemen diaktifkan melalui 3 cara :
 Jalur klasik
Diaktifkan oleh antibodi-antigen, antibodi yang berikan dengan antigen akan
membiarkan bagian “tetap”nya untuk berikatan dengan C1 komplemen, dan melakukan
rangkaian reaksi-reaksi yang diawali dengan pengaktifkan proenzim C1 itu sendiri.
 Jalur alternatif
Sistem ini diaktifkan tanpa diperantarai antigen-antibodi, hal ini terutama terjadi dalam
respon molekul-molekul polisakarida yang besar dalam membran sel mikroorganisme.
Bahan beraksi dengan komplemen B dan D, menghasilkan bahan pengaktif yang
mengaktifkan faktor C3 untuk memulai rangkaian selanjutnya. Jalur ini merupakan garis
pertahanan pertama terhadap mikroorganisme, bahkan berfungsi sebelum orang tersebut
terimunisasi.
 Jalur lektin
Sistem ini diaktifkan oleh ikatan manosa pada mikroba dengan manosa binding lectin
yang selanjutnya akan mengaktifkan sistem komplemen.



L.I. 5. Memahami dan Mempelajari Vaksinasi

L.O. 5.1. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Vaksin
Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau diinaktivasikan
(bakteri, virus, atau riketsia), atau protein antigenik dari berbagai organisme tersebut, yang
diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit.
Klasifikasi vaksin :
Jenis vaksin Penyakit Keuntungan Kerugian
Vaksin hidup Campak, parotitis, Respon imun kuat, Memerlukan alat
(attenuated vaccine) polio(sabin), virus
rota, rubella, yellow
fever, tuberkolosis
sering seumur hidup
dengan bebrapa dosis
pendingin untuk
menyimpan dan
dapat berubah
menjadi bentuk
virulen
Vaksin mati
(inactivated vaccine)
Kolera, influenza,
hepatitis A, pes,
polio, (salk), rabies
Stabil, aman
dibanding vaksin
hidup, tidak
memerlukan alat
pendingin.
Respons imun lebih
lemah dibanding
vaksin hidup,
biasanya diperlukan
suntikan booster.
Toksoid Difteri, tetanus Respons imun dipacu
untuk mengenal
toksin bakteri

Subunit (eksotoksin
yang diinaktifkan)
Hepatitis B, pertusis,
S. pneumoni
Antigen spesifik
menurunkan
kemungkinan efek
samping
Sulit untuk
dikembangkan
Konjugat H. influenza B, S.
Pneumoni
Memacu sistem imun
bayi untuk mengenak
sistem teetentu

DNA Dalam uji klinis Respons imun
humoral dan selular
kuat, relatif tidak
mahal untuk
manufaktur
Belum diperoleh
Vektor rekombinan Dalam uji klinis Menyerupai infeksi
alamiah,menghasilkan
respon imun kuat.
Belum diperoleh

Vaksin hidup (attenuated vaccine) dibuat dari virus atau bakteri yang dilemahkan melalui
proses laboratorium. Karena vaksin berasal dari virus atau bakteri hidup yang dilemahkan, maka
kuman tersebut masih dapat menimbulkan penyakit, namun gejala yang muncul relative jauh
lebih ringan dibandingkan dengan penyakit yang diperoleh secara alami. Contoh vaksin yang
dilemahkan yang berasal dari virus adalah vaksin campak, gondongan, rubella, polio, rotavirus,
dan demam kuning. Sedangkan vaksin yang berasal dari bakteri adalah vaksin BCG dan demam
tifoid.
Vaksin mati atau inactived vaccine merupakan kuman, virus, atau komponen yang dibuat
tidak aktif, dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media pembiakan,
kemudian mikroorganisme tersebut dibuat tidak aktif dengan pemberian bahan kimia (misalnya
formalin). Inactivated vaccine dapat terdiri atas seluruh tubuh virus atau bakteri, atau hanya
diambil komponen dari kedua mikroorganisme tersebut. Beberapa inactivated vaccine dalam
bentuk utuh seperti : vaksin influenza, rabies, hepatitis A (berasal dari virus), dan vaksin pertusis,
tifoid, kolera, dan lepra (berasal dari bakteri). Dalam bentuk komponen, seperti : vaksin
pneumokokus, meningokokus, dan Haemophillus influenzae tipe B.
Virus rekombinan diperoleh melalui proses rekayasa genetic, misalnya vaksin hepatitis B,
vaksin tifoid, dan rotavirus. Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu
segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi. Sel ragi yang telah diubah kemudian
menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni.

L.O. 5.2. Memahami dan Menjelaskan Efek Samping Vaksin
 Vaksin yang dilemahkan (campak, rubella, polio oral, BCG) dapat menimbulkan
penyakit progresif pada penderita imunokompromais atau pada penderita yang mendapat
pengobatan steroid. Vaksin dapat menimbulkan penyakit dan kematian oleh karena
orang tersebut tidak dapat mengontrol virus meskipun dilemahkan. Dalam hal-hal
tertentu virus yang dilemahkan dapat berubah menjadi virus yang virulen dan
menimbulkan paralise (polio).
 Virus yang dilemahkan sebaiknya jangan diberikan kepada wanita yang mengandung
karena akan membahayakan janin.
 Diantara vaksin yang dimatikan, B. Pertusis kadang-kadang menimbulkan efek samping
yaitu ensefalopati pada bayi. Vaksin pertusis tidak dianjurkan untuk bayi dengan riwayat
kejang-kejang.
 Vaksin BCG dapat menimbulkan bintik-bintik merah pada kulit, demam, pembengkakan
local, dan pembesaran nodus limfatikus. Besar lokasi sekitar tempat suntikan yang
menjadi merah berbeda dari satu orang ke orang lain. Kadang-kadang reaksi mungkin
keras dan ditemani rasa sakit, dan pembengkakan. Tetapi reaksi ini biasanya hilang
sendiri tanpa pengobatan. Terkadang reaksi ini menimbulkan pembengkakan kelenjar di
regio aksila.
 Toksoid tetanus dan difteri dapat menimbulkan hipersensitifitas lokal.
 Sindrom Guillain-Barré dapat terjadi sebagai efek samping pemberian vaksin virus
influenza babi.
 Vaksin influenza lengkap tidak memberikan efek samping pada orang dewasa, tetapi
pada usia dibawah 13 tahun dianjurkan untuk memberikan komponennya terpisah-pisah
(split vaccin).
 Vaksin plasmid DNA dapat menimbulkan toleransi atau autoimun.

L.O. 5.3. Memahami dan Menjelaskan Cara dan Waktu Pemberian Vaksin
 Cara pemberian vaksinasi :
Cara
pemberian
Nama vaksin
Suntikan IM
Tetanus, kolera, hemofilus (influenza tipe B), pneumokokus, tifoid, HepB,
HepA, influenza, rabies
Suntikan SK
Kolera, pneumokokus, meningokokus, BCG, campak, mumps (parotitis),
polio inactivated, rubela, yellow fever, japanese B encephalitis
Suntikan IK BCG, rabies
Oral Polio oral

Penyuntikan IM dianjurkan pada kasus dimana bila dilakukan penyuntikkan subkutan
atau intrakutan dapat menimbulkan iritasi, indurasi, perubahan warna kulit, peradangan,
pembentukkan granuloma.



 Waktu pemberian vaksin :


L.I. 6. Memahami dan Mempelajari Pandangan Islam terhadap Vaksinasi

L.O. 6.1. Memahami dan Menjelaskan Hukum Islam terhadap Vaksinasi

Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat :

1. Boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Ibnu Hazm.
Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali
apa yang terpaksa kamu memakannya.... (QS. Al- An’am [6]:119)
Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit, Nabi
membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya, dan bolehnya orang yang
sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya.
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari
penyakit sebelum terjadi.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memakan tujuh
butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir”(HR. Bukhari :
5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk
membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi
wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena
penyakit.

2. Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah.
Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :
“Sesungguhnya allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat
dengan benda haram” (ash-Shohihah:4/174)’
Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena sembuh
dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.

Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan masalah ini
mereka menetapkan :
1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari – atau
mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
2). Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini,
dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.

Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV)
Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada permasalahan
inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu imunisasi dengan menggunakan vaksin
polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari
babi. Bagaimanakah gambaran permasalahan yang sebenarnya ? Dan bagaimanakah status
hukumnya?
1. Dhorurat dalam Obat
Dhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu
ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut
niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badannya, hartanya atau
kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan :

“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”

Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang boleh
(mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.

Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang terdesak untuk
makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih
besar daripada kerusakan makan barang najis.”

2. Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang
mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi
umat ini telah mencapai derajat yang pasti”.
Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan
kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :
“Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit maka
menjadi luas.”

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen Garna dan Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar. Edisi 10. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI
Bloom dan Fawcett. 1994. Buku Ajar Histologi. Jakarta : EGC
Cahyono, J.B. 2010. Vaksinasi, Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta: Kanisius
Dorland W.A.N. 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC
Eroschenko, Victor P. 2010. Atlas Histologi diFiore. Edisi 11. Jakarta : EGC
Guyton, Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Edisi IX. Jakarta : EGC
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta : Salemba Medika
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/antigenic+determinant ; diambil pada Selasa, 8
Mei 2012
http://medicastore.com/penyakit/81/Imunisasi.html ; diambil pada Selasa, 8 Mei 2012
http://www.scribd.com/doc/27161748/Hukum-Imunisasi-dalam-Islam ; diambil pada Rabu, 9
Mei 2012
Paparo, Leeson. 1996. Histologi. Jakarta : EGC
Raden, Inmar. 2011. Anatomi Sistem Limfatikus. Jakarta : Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi
www.imunisasi halal.com ; diambil pada Jum’at, 4 Mei 2012
Zuhroni. 2010. Profesionalisme Dokter dalam, Pandangan Islam Terhadap Masalah Kedokteran
dan Kesehatan. Jakarta : Bagian Agama Universitas Yarsi