PENGARUH EKSTRAK DAUN KROKOT (Portulaca olesacea L.

)
TERHADAP BAKTERI Campylobacter sp., PENYEBAB DISENTRI

LAPORAN PENELITIAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Metode Penelitian
Yang dibina oleh Dra. Betty S.Pd, M.Si dan Dr. Fatchur, M.Si

Oleh:
Alfiani Rachmawati 110342422037






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Desember 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat obat.
Penggunaan tanaman sebagai obat telah dikenal sejak zaman nenek moyang dan
telah diwariskan secara turun-temurun. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya
tumbuhan berkhasiat di Indonesia yang berjumlah kuranglebih dari 1 juta spesies
tumbuhan (Soesilo, 1996). Pengobatan dengan obat tradisional diharapkan dapat
dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Banyaknya tanaman
yang secara tradisional dapat berkhasiat perlu dilakukan penelitian ilmiah
sehingga dapat di pertanggungjawabkan (Tjitrosoepomo, 1994).
Sebaliknya obat-obatan modern mempunyai resiko yang kadang
berbahaya bagi kesehatan dan harganya relatif mahal. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern ternyata tidak menggeser atau
mengesampingkan begitu saja peranan obat-obatan tradisional tetapi justru saling
melengkapi. Hal ini terbukti dari banyaknya peminat pengobatan tradisional
(Soesilo, 1996), salah satunya adalah tanaman krokot(Portulaca oleracea).
Tanaman krokot juga memiliki banyak fungsi sebagai obat tradisional
(Rahardjo, 2007). Tanaman ini biasanya dipotong kecil-kecil dan dimakan atau
digunakan secara topikal (Kumar et al., 2008). Masyarakat Brazil
menggunakannya sebagai obat hemoroid (Agra et al., 2008). Masyarakat Cina
mengenal krokot sebagai obat antihipertensi dan antidiabetik (Gong et al.,2009).
Tanaman ini juga biasa digunakan sebagai obat luka dan relaksan otot (Rashed et
al., 2004). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Karimi et al. (2008),
dilaporkan bahwa ekstrak krokot mempunyai efek penurunan ketergantungan
morfin pada tikus. Tanaman krokot selain dianggap sebagai tanaman obat,
terkadang dianggap juga sebagai gulma dan tumbuh liar pada tanaman lain,
sehingga tanaman ini jarang diperhatikan.
Diare merupakan penyebab kematian pada anak di dunia terutama di
negara berkembang. Prediksi WHO pada tahun 2007, terjadi 7.1 juta kematian di
dunia karena diare, tingginya angka kematian ini mendorong banyak negara dan
organisasi internasional untuk menurunkannya (Mabeku et al, 2006). Di
Indonesia, diare juga merupakan masalah kesehatan, infeksi bakteri merupakan
penyebab kesakitan dan kematian diare yang penting. Dulu, disentri dianggap
hanya terdiri dari dua jenis yang didasarkan pada penyebabnya, yakni disentri
basiler yang disebabkan oleh basil Shigella spp. dan disentri amuba yang
disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica. Tapi sekarang telah diketahui
banyak penyebab lain berupa mikroba, bakteri dan parasit, yakni: Shigella spp.,
Salmonella spp., Campylobacter spp., Vibrio parahaemolyticus, Pleisomonas
shigelloides, EIEC (Enteriinnasive E. coil), Aeromonus spp., Entamoeba
histolytica atau Giardia lambha. Shigella spp. terdapat di mana-mana dan
merupakan penyebab terbanyak disentri.
Pada akhir-akhir ini Campylobacter jejuni (dulu disebut "vibrio lainnya"
(related vibrio) mulai muncul sebagai penyebab penting penyakit diare. Penyakit
ini umumnya adalah zoonosis walaupun penularan dari orang melalui air yang
terkontaminasi. Infeksi Campylobacter terutama terdapat pada masa kanak-kanak
dan, diare yang ditimbulkannya biasanya lebih dari 7 hari walaupun dengan gejala
yang tidak terlalu berat.
Masalah ini menjadi lebih buruk sebab Campylobacter menunjukkan
resistensi terhadap antibiotika yang digunakan sebagai obat pilihan utama (first
line therapy) untuk mengatasi infeksi diare seperti ampisilin, tetrasiklin, dan
trimetoprimsulfametotoksazol. (Rachman M, 1997).
Berdasarkan uraian tersebut maka tanaman krokot (Portulaca oleracea)
terutama ekstrak daun dan batang, diduga mempunyai efek penghambat terhadap
pertumbuhan bakteri. Oleh karena itu perlu pembuktian dengan melakukan
penelitian apakah tanaman krokot (Portulaca oleracea) mempunyai aktifitas
sebagai anti bakteri terhadap pertumbuhan bakteri Campylobacter jejuni.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah terdapat pengaruh dari ekstrak daun krokot terhadap bakteri
Campylobacter?
2. Berapakah konsentrasi ektrak daun krokot yang paling efektif untuk
mematikan bakteri Campylobacter sebagai bakteri penyebab disentri?

1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh ekstrak daun krokot terhadap bakteri
Campylobacter.
2. Menemukan konsentrasi ekstrak daun krokot yang paling efektif untuk
mematikan bakteri Campylobacter sebagai bakteri penyebab disentri

1.4 Hipotesis
Terdapat pengaruh dari ekstrak daun krokot terhadap bakteri
Campylobacter

1.5 Kegunaan Penelitian
a) Bagi masyarakat : Penelitian ini bertujuan untuk memberikan
informasi kepada masyarakat tentang kandungan daun krokot. Selain
itu, daun krokot juga ternyata bermanfaat untuk menyembuhkan
penyakit disentri karena dapat membunuh bakteri penyebab disentri
pada konsentrasi tertentu.
b) Bagi peneliti : Penelitian ini berguna untuk memotivasi peneliti
lainnya untuk bekerja sama dengan bidang farmasi dalam pembuatan
obat alternatif untuk penyakit disentri

1.6 Variabel
a) Variabel bebas : Ekstrak daun Krokot (Portulaca olesacea L.)
b) Variabel terikat : Kepadatan bakteri Campylobacter
c) Variabel kontrol : Suhu untuk pembiakan bakteri, spesies dari bakteri,
jumlah awal bakteri (50%)

1.7 Definisi Operasional
Tanaman Krokot : Seluruh bagian tanaman krokot dianggap sebagai
antiflogistik, bakterisida, anafrodisiak, emolien, dan diuretik. Herbanya
digunakan sebagai sedatif lambung, dan mengurangi peradangan.
Kecuali akarnya, seluruh bagian tanaman digunakan sebagai
antibakteri, antiinflamasi, dan antihelmintik. Tanaman ini juga
digunakan untuk mengobati desentri basiler dan disuria.(Sanja et al.,
2009)
Ekstrak : Sediaan yang diperoleh dari jaringan hewan atau tumbuhan
dengan menarik sari aktifnya dengan pelarut yang sesuai kemudian
memekatkannya hingga tahap tertentu. (KBBI)
Campylobacter sp. : Campylobacter jejuni merupakan kuman batang ram-
negative, berbentuk koma, spiral, gastroenteritis atau “sayap burung
camar”. Campylobacter jejuni tumbuh baik pada suhu 36-37
0
C,
pengeraman pada suhu 42
0
C akan menghambat pertumbuhan banyak
bakteri lainnya yang ada difeses. Campylobacter jejuni dapat
berkembang biak di usus kecil, menginvasi epitel, menyebabkan radang
yang mengakibatkan munculnya sel darah merah dan darah putih pada
tinja. Dengan mengkonsumsi makanan yang telah diproses
dekontaminasi yang terkontrol dengan higiene seperti pasteurisasi,
sterilisasi dan direbus serta dengan menjaga kebersihan diri, kebersihan
lingkungan dan sanitasi yang baik merupakan pencegahan untuk
penularan diare infeksi bakteri. Campylobacter jejuni dapat diobati
dengan diberikan terapi antibiotik,yakni eritromisin secara oral serta
didukung dengan diberikan penggantian cairan dan elektrolit, dan dapat
juga diberikan Ciproflxacin yang mampu mencegah infeksi dari bakteri
Campylobacter jejuni dan membunuhnya.











BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Daun Krokot
Portulaca (nama daerah: Krokot) adalah genus dari tanaman dari suku
Portulacaceae. Terdapat sekitar 40-100 spesies yang ditemukan di daerah tropis
dan daerah bermusim empat. Salah satu spesies yaitu Portulaca oleracea dikenal
sebagai tanaman yang dapat dimakan dan dikenal di beberapa daerah sebagai
tanaman hama.
Beberapa spesies Portulaca juga menjadi makanan bagi ulat ngengat dan
kupu-kupu. Berdasarkan penelitian, berikut kandungan yang dimiliki oleh mereka,
yaitu : Hasil penelitian menunjukkan nilai total flavonoid sayur-sayuran
indigenous sangat bervariasi. “Seluruh sampel sayuran indegenous mengandung
komponen quercetin,” kata Peneliti Sout East Asian Food and Agriculture Science
Technology (SEAFAST) IPB, Dr. Nuri Andarwulan Sayuran indegenous yang
mempunyai flavonoid tertinggi berturut-turut ialah katuk (831,70 miligram per
100 gram), kenikir (420,85 miligram per 100 gram) dan kedondong cina (358,17
miligram per 100 gram). Sedangkan krokot mempunyai total flavonoid terkecil
yaitu 4,05 miligram per 100 gram. Flavonoid pada daun katuk yang paling
dominan adalah kaempferol sebesar 805,48 miligram per 100 gram. Meskipun
daun katuk merupakan sayuran dengan nilai total flavonoid tertinggi
dibandingkan sayuran indigenous lainnya, kandungan total fenol tertingi justru
dimiliki kenikir (1225,88 miligram per 100 gram), diikuti beluntas 1030,03
miligram per 100 gram dan mangkokan 669,30 miligram per 100 gram. “Nilai
total fenol sayur-sayuran indigenous rata-rata jauh lebih besar dibandingkan
dengan nilai total flavonoid-nya.
Hal ini menunjukkan di dalam sayur-sayuran tersebut terkandung senyawa
fenol lain yang bukan berasal dari flavonol maupun flavone,” kata Dr. Nuri
Peneliti Tufts University Boston Amerika Serikat, Bradley Bolling, PD
mengatakan antoksidan mengurangi akumulasi produk radikal bebas, menetralisir
racun, mencegah inflamasi dan melindungi penyakit genetik.

2.2 Campylobacter jejuni
Campylobacter jejuni merupakan pantogen manusia yang terutama
menyebabkan enteritis dan kadang-kadang invasi sistemik, terutama pada bayi.
Bakteri ini merupakan penyebab diare yang disertai lendir dan darah (disebut juga
Bloody diarrhea) yang sama seringnya seperti Salmonella dan Shigella.

Taksonomi dari Campylobacter :
Kingdom = Bacteria
Phylum = Proteobacteria
Class = Epsilonproteobacteria
Order = Campylobacterales
Family = Campylobacteraceae
Genus = Campylobacter
Species = Campylobacter jejuni
2.2.1 Ciri-ciri Organisme
Campylobacter jejuni adalah kuman batang Gram- negative,
berbentuk koma, Spiral, gastroenteritis atau “sayap burung camar”.
Kuman ini dapat bergerak dengan sebuah flagel kutub, dan tidak
membentuk spora. Pada pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukan
adanya sejumlah kuman yang meluncur kesana-kemari disertai darah
dan netrofil. Tumbuh pada perbenihan selektif di dalam sungkup lilin.
Campylobacter jejuni dieramkan pada suhu 42
0
C kuman akan tumbuh
baik sementara kuman tinja pencernaan lainnya tunbuh kurang baik
pada suhu ini. Bakteri Campylobacter jejuni juga menyebabkan infeksi
aliran darah (bakteremia), terutama pada penderita kencing manis atau
kanker.
2.2.2 Biakan
Sifat biakan merupakan hal terpenting dalam isolasi dan
identifikasi Campylobacter jejuni . Diperlukan perbenihan selektif ,dan
pengeraman harus dilakukan dalam atmosfer dengan O 2 yang lebih
rendah ( 5% O2) dan lebih banyak CO2 (10% CO2). Suatu cara mudah
untuk mendapatkan lingkungan pengeraman ini adalah dengan
menempatakan lempeng pada tabung pengeraman anaerob tanpa
katalis , dan memberi gas dengan pembangkit gas atau penukaran gas.
Pengeraman lempeng pertama harus dilakukan pada suhu 42-43
0
C.
Meskipun Campylobacter jejuni tumbuh baik pada suhu 36-37
0
C,
pengeraman pada suhu 42
0
C akan menghambat pertumbuhan banyak
bakteri lainnya yang ada difeses, sehingga akan memudahkan
identifikasi Campylobacter jejuni.Beberapa perbenihan selektif yang
banyak digunakan adalah: perbenihan Skirrow, yang memakai
gabungan vankomisin, polimiksin B, dan trimetoprin; perbenihan
Campy BAP juga menyertakan sefalotin. Kedua perbenihan tersebut
digunakan untuk isolasi Campylobacter jejuni pada suhu 42
0
C; jika
dieramkan pada suhu 36-37
0
C, perbenihan Skirrow dapat membantu
isolasi kampilobakter lainnya,tetapi perbenihan Campy BAP tidak ,
karena banyak kampilobakter peka terhadap sefalotin. Koloni yang
terbentuk cenderung tidak berwarna atau abu-abu. Koloni ini
berair,meluas atau bulat dan konveks; kedua tipe koloni dapat muncul
pada sebuah pelat agar.























BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Bahan-bahan penelitian meliputi bahan untuk ekstraksi dan bahan
untuk uji antibakteri. Ekstraksi daun dengan mengacu pada Anonim
(1985) dan Harborn (1987) serta modifikasi Anonim (1995). Pembuatan
suspensi kuman menggunakan perbandingan standar McFarland 0,5
(Vandepitte et al., 1991).
Media adalah suatu substansi yang terdiri dari campuran zat-zat
makanan (nutrisi) yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembang
biakan bakteri . Untuk menaikan tekanan osmose dan menjaga
keseimbangan fisikokhemis sel-sel bakteri yang tumbuh, kedalam media
harus ditambahkan NaCL. Wadah yang digunakan pada pembuatan media
dipakai alat-alat gelas dan stainless, sedangkan pH (derajat keasaman)
media bisa diukur dengan kertas penunjuk, pH meter dan zat penunjuk .
Untuk sterilisasi media dapat dilakukan dengan uap air panas bertekanan
(autoclave), uap air panas yang mengalir (steam) atau dengan saringan
Seitz EK, sedangkan alat-alat gelas disterilisasi dengan udara panas kering
(oven). Setiap batch media yang sudah dikontrol sterilitas dan mutunya
harus disimpan pada suhu 5°C-8°C, selama belum/tidak dipakai . (Yusuf,
1999)
Pengujian kepekaan kuman terhadap daun Krokot dengan
teknik pengenceran tabung (Tube Dilution Method) (Vandepitte et al.,
1991; Masduki, 1996). Lima mililiter medium MH-broth dimasukkan ke
dalam 7 buah tabung reaksi. Selanjutnya dilakukan pengenceran serial
yang diawali dengan tabung 1 yang diberi 200 mg/ml ekstrak, sehingga
diperoleh setengah konsentrasi sebelumnya. Suspensi bakteri dimasukkan
ke dalam semua tabung.
Inkubasi dilakukan 24 jam pada temperatur 37 ° C. Data
dikumpulkan secara visual dilihat dari tingkat kekeruhan media MH-broth,
sehingga diketahui konsentrasi hambat minimal. Secara kuantitatif
dilakukan pengukuran kerapatan optik bakteri (optical density) dengan
spektrofotometer. Selanjutnya dilakukan penghitungan jumlah bakteri
hidup (Viable count) dengan teknik cawan tuang.

3.2 Populasi dan Sampel
Masing-masing bakteri diambil dari feses orang yang terjangkit disentri, atau
dapat juga diperoleh dari laboratorium mikrobiologi yang terdapat pada gedung
Biologi FMIPA UM. Kemudian bakteri-bakteri tersebut dikembangbiakkan pada
medium-medium yang berbeda.
3.3 Instrumen Penelitian
Alat : Cawan petri, mikroskop elektron, pipet, spektrofotometer,
inkubator, tabung reaksi, erlenmeyer, gelas ukur, jarum ose, pembakar
bunsen, rak tabung reaksi, pipet tetes, autoklave, mikroskop, lemari
pendingin, timbangan analitik, inkubator, pipet ukur, oven, blender dan
vortex
Bahan : Agar-agar untuk medium, biakan bakteri Campylobacter sp., bakteri
Salmonella sp., bakteri Shigella sp., etanol,

3.4 Pengumpulan Data
Rancangan penelitian yang digunakan, yaitu Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan sepuluh perlakuan dan tiga kali ulangan (Kusriningrum, 1989).
Penelitian ini menguji daya antibakteri ekstrak daun krokot (Portulaca oleracea)
terhadap bakteri Campylobacter sp., Shigella sp., dan Salmonella sp. secara in
vitro. Uji yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode pengenceran
untuk mengetahui Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum
Bacterial Concentration (MBC).

3.5 Analisis Data

Related Interests