BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Medis
1. Definisi
Hepatoma adalah tumor ganas hati primer yang sering ditemukan (Soeparman, 1996 ;
310). Hepatoma adalah tumor hati biasa bersifat maligna atau benigna (Brunner & Suddarth,
2002 ; 197).
Hepatoma adalah penyakit kanker hati primer banyak ditemukan dibandingkan dengan
kanker primer banyak ditemukan dibandingkan dengan kanker primer lainnya.
(www.yakita.co.id / karsinoma.hati.htm).
Hepatoma adalah kanker yang berasal dari sel-sel hati (www.medicastore.com / cybernet
/ detail pyk.php ? idktg.821 ddti-603).
Hepatoma adalah tumor ganas pada hati yang paling sering dijumpai dan merupakan
salah satu tumor ganas yang banyak dijumpai dan merupakan salah satu tumor ganas yang
banyak dijumpai didunia (www.kusaeni.com / blog / hepatoma, what.is.it).
hepatoma adalah tumor ganas hati primer dan paling sering ditemukan daripada tumor
ganas hati primer lainnya. Misal limfoma, maligna,
fibrosarkoma(www.kalbefarma.com/files/dck/files.08.105.hepatoma. htm) . Hepatoma adalah
sejenis kanker yang jarang berlaku di dunia barat tetapi merupakan antara beberapa jenis kanker
yang biasanya menyerang penduduk Asia dan Afrika (www.infosehat.qoumy/penyakit.k.kanker
hati.htm).
2. Klasifikasi
Karsinoma hati primer dibedakan atas adalah :
a. Karsinoma yang berasal dari :
1) Sel-sel hati disebut karsinoma hepatoseluler
2) Sel-saluran empedu disebut karsinoma kolangiaseluler
3) Campuran kedua sel tersebut, kolangiohepatoma
b. Karsinoma yang berasal dari jaringan kulit
1) Fibrosarkoma
2) Limfotoma maligna
3) Leiomiosarkoma
4) Hemangioma endotelioma maligna.
Secara makroskopis dibedakan atas :
1) Tipe mosif
Biasanya dilobus kanan, batas tegas dapat disertai nodul kecil disekitar massa tumor, bisa dengan
atau tanpa sirosis.
2) Tipe nodular
Terdapat nodul-nodul tumor dengan ukuran bervariasi tersebar diseluruh hati.
3) Tipe Difus
Secara makroskopis sukar ditentukan daerah massa tumor.
(Soeparman, 1996 ; 310)
3. Etiologi
Penyebab hepatoma belum diketahui secara pasti, beberapa faktor yang diduga
penyebabnya adalah :
- Infeksi / penyakit kronik akibat virus hepatitis sirosis.
- Beberapa hepatotoksik terutama aflatoksin yang berasal dari makanan yang tercemar aspergillus
flavus dan obat-obatan.
(Soeparman, 1996 ; 310)
- Sirosis, hepatitis B serta C
- Kontak dengan racun kimia misal vinil klorida, arsen
- Merokok
- Alkohol
- Aflatoksin atau karsinogen dalam preparat herbal.
(Brunner & Suddarth, 2002 ; 1197)
4. Patofisiologi
Tumor ganas primer ini berasal dari sel parenkim atau epitel saluran empedu dan
mengalami sirosis hati khususnya jenis alkoholik dan postnekrotik. Pedoman dignostik yang
paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya dan penderita
sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak. Tumor hati sering adalah metastasis tumor
ganas dari tempat lain. (Sylvia Price, 1996).
Kanker hati biasanya dengan riwayat infeksi hepatitis B dan C atau penyakit hati kronik
misalnya sirosis dan terpajan ke karsinogen-karsinogen jenis tinggi, termasuk aflatoksin yang
ditemukan pada kacang atau jagung berjamur. Kanker hati primer dapat berasal dari hepatosit
(karsinoma hepatoseluler) atau dari duktus ampedu. Kanker hati sekunder timbul akibat
metastasis kanker di bagian tubuh lain misalnya usus dan pankreas yang mengalirkan darahnya
ke hati melalui vena porta. Kanker hati primer dan sekunder sering bermetastasis keluar hati
terutama jantung dan paru. Karena aliran darah dari hati mula-mula menyerang kedua organ
tersebut. (Corwin, 2001 ; 587).
5. Komplikasi
a. Perdarahan varises esofagus
b. Koma hepatik
c. Koma hipoglikemia
d. Ruptur tumor
e. Metastase ke organ lain, tersering ke paru.
(Mubin, 2001 ; 326)
6. Penatalaksanaan
a. Non Pembedahan
1) Terapi Radiasi
a) Suntikan antibodi intravena secara khusus menyerang antigen yang berkaitan dengan adanya
tumor.
b) Penempatan perkutan sumber berintensitas tinggi untuk terapi radiasi.
2) Kemoterapi
a) Kemoterapi sistemik dan infus regional yang digunakan untuk pemberian preparat
antineoplastik.
b) Suatu pompa yang dapat ditanam, digunakan untuk pemberian kemoterapi dengan konsentrasi
tinggi ke hepar melalui arteri hepatika.
3) Drainase Bilier Perkutan
Digunakan untuk membupase duktus yang tersumbat melalui hepar.
4) Modalitas pengobatan yang lainnya
a) Hipertermia
b) Bedah beku (cyrosurgery) dan terapi laser
c) Embolisasi darah arteri ke tumor.
d) Immunoterapi ; limfosit dengan reaktivitas antitumor diberikan pada pasien.
b. Pembedahan
Lobektomi hepatik dapat dilakukan jika tumor hepatik primer adalah setempat atau jika tempat
primer dapat dieksisi secara keseluruhan dan metastasis dapat dibatasi. Dengan kemampuan pada
kapasitas regenerasi sel hepar, 90 % hepar telah dapat diangkat dengan berhasil. Adanya sirosis
menyebabkan keterbatasan kemampuan dari hepar untuk regenerasi. (Boghman, 2000 ; 261).

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian data dasar
Data dasar adalah dasar untuk mengindividualisasikan rencana asuhan keperawatan
mengembangkan dan memperbaiki sepanjang waktu asuhan perawat untuk klien. Pengumpulan
data harus berhubungan dengan masalah kesehatan tertentu dengan kata lain data pengkajian
harus relevan ( Potter, 2005 ; 144). Pengkajian meliputi :
a. Biodata yang terdiri dari identitas pasien dan penanggung jawab.
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang meliputi beberapa informasi seperti tanggal dan cara (tiba-
tiba, bertahap) dimana terjadi masalah, manifestasi masalah, gejala yang timbul seperti nyeri,
perubahan biasa buang air besar, perubahan nutrisi, sejalan dengan lokasi dan penyebaran (jika
nyeri), kualitas, keparahan dan durasi. Pada kasus penyakit hati, pengkajian keperawatan awitan
gejala dan riwayat faktor khususnya penggunaan alkohol dalam jangka waktu lama dan
jumlahnya, riwayat kontak dengan zat-zat toksik ditempat kerja atau selama melakukan aktivitas,
rekreasi pejanan dengan obat-obat potensial bersifat hepatotoksik atau distensi abdomen,
metaorismus, perdarahan gastrointestinal, memar.
Riwayat kesehatan dahulu diperoleh dari pengkajian apakah pasien pernah opname
dirumah sakit dan saat usia berapa pasien menderita penyakit tersebut. Apakah pasien juga
riwayat kontak dengan zat-zat toksik dan pejanan dengan obat-obat bersifat hepatotoksik atau
obat anestesi.
Riwayat kesehatan keluarga dikaji status kesehatan dan usia dan penyebab kematian
keluarga dan juga ditanyakan untuk mengidentifikasi penyakit yang mungkin diturunkan dan
menular atau berhubungan dengan lingkungan hidup.
(Brunner & Suddarth, 2002 ; 1100)
c. Pengkajian Pola Fungsional
Dalam hal ini penulis menggunakan konsep fungsional menurut Virginia Henderson
(Harmer dan Henderson, 1955) mencakup seluruh kebutuhan dasar seorang manusia, Handerson
(1964), mendefinisikan keperawatan sebagai membantu individu yang sakit dan sehat dalam
melaksanakan aktivitas yang memiliki konstribusi terhadap kesehatan dan penyembuhannya
dimana individu tersebut mampu mengerjakannya tanpa bantuan. Bila ia memiliki kekuatan dan
pengetahuan yang dibutuhkan dan hal ini dilakukan dengan cara membantu mendapatkan
kembali kemandirian secepat mungkin.
14 kebutuhan dasar Henderson memberikan kerangka kerja dalam melakukan Asuhan
Keperawatan.
1) Bernafas dengan Normal.
2) Kebutuhan akan nutrisi.
3) Kebutuhan eliminasi.
4) Gerak dan keseimbangan tubuh.
5) Kebutuhan istirahat dan tidur.
6) Kebutuhan berpakaian : berpakaian dan melepas pakaian.
7) Mempertahankan temperatur tubuh dalam rentang normal
8) Kebutuhan akan personal hygiene (menjaga tubuh agar tetap bersih dan rapi).
9) Kebutuhan rasa aman dan nyaman (menghindari bahaya dari lingkungan).
10) Berkomunikasi dengan orang lain dan mengekspresikan emosi, keinginan rasa takut dan
pendapat.
11) Kebutuhan spiritual.
12) Kebutuhan bekerja.
13) Kebutuhan bermain dan rekreasi.
14) Kebutuhan belajar, menggali / memuaskan rasa keingintahuan yang mengacu pada
perkembangan penyakitnya.
(Potter , 2005)
d. Pengkajian Fisik
Pada pengkajian fisik didapatkan pada abdomen terjadi distensi abdomen, serta
meteorismus (kembung), pendarahan gastrointestinal, memar. Pada fokus pengkajian makanan
dan cairan terjadi gejala anoreksia, mual atau muntah sehingga terjadi penurunan berat badan
yang ditandai berat badan turun, perubahan kelembapan turgor kulit, oedema, berkurangnya
masa otot. Mata pada sklera terjadi ikterus.
(Brunner & Suddarth, 2002;1100)

2. Clinical Pathways dan Fokus Intervensi
a. Clinical Pathways























b. Fokus Intervensi
1) Nyeri (Akut) berhubungan dengan proses penyakit (kompresi / destruksi jaringan syaraf,
infiltrasi saraf atau suplai vaskularnya, obstruksi jenis saraf, inflamasi) efek samping berbagai
agen terapi saraf.
Tanda :
a) Keluhan Nyeri.
b) Distraksi atau perilaku berhati-hati.
c) Respons autonomik, gelisah.
Kriteria Hasil :
a) Melaporkan penghilangan nyeri maksimal.
b) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan.
Intervensi :
a) Tentukan riwayat nyeri.
b) Evaluasi atau sadari terapu tertentu misal : pembedahan radiasi, kemoterapy.
c) Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktivitas hiburan.
d) Dorong penggunaan manajemen nyeri (misal teknik relaksasi, virudisasi).
e) Evaluasi penghilangan nyeri / kontrol.
f) Berikan analgetik sesuai indikasi.
2) Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan permetabolik berkenaan
dengan kanker, konsekuensi kemoteapi radiasi. Pembedahan misalnya anoreksia, iritasi lambung,
mual.
Tanda :
a) Keluhan masukan tidak adequat, kehilangan minat pada makanan.
b) Berat badan 20 % lebih di bawah berat badan ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh.
c) Diare / konstipasi.
Kriteria Hasil :
a) Mendemonstrasikan berat badan stabil penambahan berat badan.
b) Pengungkapan pemahaman pengaruh individu antara lain pada masukan adekuat.
Intervensi :
a) Pantau masukan makanan setiap hari
b) Ukur tinggi, berat badank dan ketebalan lipatan kulit trisep, timbang berat badan setiap hari atau
sesuai indikasi.
c) Dorong pasien untuk makan diet tinggi kaya nutrien dengan masukan cairan adequat.
d) Dorong penggunaan suplemen dan makan sering /lebih sedikit yang dibagi-bagi selama hari.
e) Nilai diet sebelumnya dan segera setelah pengobatan.
f) Berikan cairan 1 jam sebelum atau 1 jam setelah makan.
g) Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indiaksi.
h) Berikan obat sesuai indikasi.
3) Resiko tinggi terhadap konstipasi berhubungan dengan iritasi mukosa G1 dari kemoterapi atau
terapi rdiasi. Malabsorbsi lemah, Masukan cairan buruk, diet rendah bulk, kurang latihan,
penggunaan opiat / narkotik.
Kriteria hasil :
a) Mempertahankan konsistensi / pola defekasi umum.
b) Mengungkapkan pemahaman tentang faktor dan intervensi yang tepat berkenaan dengan situasi
individu.
Intervensi :
a) Pastikan kebiasaan eliminasi umum.
b) Kaji bising usus dan pantau / catat gerakan usus.
c) Pantau masukan dan haluaran serta berat badan.
d) Dorong masukan cairan adekuat (Mis, 2000 ml/24 jam) peningkatan serat diet.
e) Berikan makan sedikit dan sering dengan makanan rendahnya mempertahankan kebutuhan
karbohidrat dan protein.
f) Pastikan diet yang tepat.
4) Keletihan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, peningkatan kebutuhan
energi, kebutuhan psikologis / emosional. berlebihan, perusahaan kimia, tubuh, efek samping
obat-obatan kemoterapi.
Tanda, Gejala :
a) Kekurangan energi yang tidak terpenuhi berulang / berlebihan.
b) Penurunan kinerja.
Kriteria Hasil :
a) Melaporkan perbaikan rasa berenergi.
b) Melakukan AKS dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan pada tingkat kemampuan.
Intervensi :
a) Rencanakan perawatan untuk memungkinkan periode istirahat.
b) Libatkan pasien / orang terdekat dalam jadwal perencanaan.
c) Dorong pasien melakukan apa saja bila mungkin.
d) Pantau repons fisiologis terhadap aktivitas misal : (Perubahan TD atau frekuensi jantung.
e) Berikan O2 suplemen sesuai indikasi.
(Doenges, 2000 ; 1000-1010)




DAFTAR PUSTAKA


Brunner & suddarth (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 3. Volume 2. Jakarta : EGC
Price, Sylvia (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC
Smelter, S.C., & Bare, B.G. (2006), Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Corwin, Elizabeth. (2001). Buku saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Boughman C.D. (2000) Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC