SUKSES UKDI 2005 Buletin II

1

1. Anak laki-laki 8 bulan dengan batuk 2 hari. RR 50x/mnt, HR 128 x/mnt, T 38,5 C. Kedua hemithorax
simetris, retraksi subkostal (+), perkusi hipersonor, auskultasi vesikular dengan wheezing pada kedua
paru, terdapat ronki halus pada kedua paru. Apakah kemungkinan diagnosisnya?
a. Bronkitis
b. Bronkiolitis
c. Asma bronkiale
d. Bronkopneumonia
e. TB paru

Pembahasan: B
Anak <2 tahun, infeksi lebih sering disebabkan o.k virus bronkiolitis, di mana terjadi inflamasi di
saluran nafas, sehingga dapat terdengar wheezing.
 Bronkhitis sekarang sudah mulai tidak digunakan sebagai diagnosis di IKA. peradangan atau
inflamasi pada mukosa bronkus. Parenkim paru normal atau tidak terinfeksi. Manifestasi klinik yang
tampak berasal dari hipersekresi dan terjadinya eksudat. Dahak yang terbentuk mula-mula kental,
setelah beberapa hari berubah menjadi agak encer. Etiologi bronkitis dapat dibagi menjadi: 1. Fisik:
udara dingin/panas, asap, debu 2. Bahan kimia 3. Alergi 4. Infeksi: paling sering adalah virus,
penyebab yang lain adalah bakteri, jamur, parasit. Melihat etiologi di atas dapat dimengerti bahwa
demam tidaklah selalu menyertai bronkitis. Bronkitis biasanya tidak menimbulkan gejala klinis yang
berat, dan biasanya tidak disertai sesak nafas maupun sianosis. Pada pemeriksaan paru, biasanya
hanya didapatkan ronki basah kasar tanpa perubahan suara dasar nafas vesikuler. Pada perkusi
maupun palpasi tidak didapatkan kelainan.
 Bronkiolitis adalah infeksi akut pada saluran napas kecil atau bronkiolus yang pada umumnya
disebabkan oleh virus, sehingga menyebabkan gejala&ndash;gejala obstruksi bronkiolus.
Bronkiolitis ditandai oleh batuk, pilek, panas, wheezing pada saat ekspirasi, takipnea, retraksi, dan air
trapping/hiperaerasi paru pada foto thorax. Bronkiolitis terutama disebabkan oleh Respiratory
Syncitial Virus (RSV). Bronkiolitis sering mengenai anak usia dibawah 2 tahun dengan insiden
tertinggi pada bayi usia 6 bulan. Diagnosis bronkiolitis berdasarkan gambaran klinis, umur penderita
dan adanya epidemi RSV di masyarakat . Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama kali,
(2) umur 24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus misalnya
batuk, pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan
wheezing.
 Asma bronkhiale; Keadaan yang paling lazim terancu dengan bronkiolitis akut adalah asma,satu atau
lebih dari yang berikut ini mendukung diagnosis asma, riwayat keluarga as ma, epi s ode
ber ul ang kal i pada ba yi yang s ama, mul ai nya mendadak t anpa infeksi yang
mendahului, ekspirasi sangat memanjang, eosinofilia, dan respons pembaikan segera pada
pemberian satu dosis albuterol aerosol.
 Bronkopneumonia; terjadi inflamasi di parenkim paru.
 TB paru; merupakan proses yang tidak spesifik; terdapat ronchi; di apeks paru; focus gohn (diingat
lagi patogenesisnya yaa..); jarang ditemukan wheezing; krepitasi (-). Pada TB milier, inflamasi
terjadi sampai ke parenkim paru (alveoli) sehingga suara dasar melemah.

2. Bayi 11 bulan dengan keluhan sesak napas keadaan umum bayi rewel, TD 90/60 mmHg, nadi 130 x/mnt.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan ronki basah pada semua lapang paru, wheezing (-), ditemukan retraksi
pada intercostal, dan napas cuping hidung. Apa diagnosis yang paling mungkin?
a. Pneumonia lobaris
b. Asma bronkiale
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

2

c. Bronkiolitis
d. Bronkopneumonia
e. TB paru anak

Pembahasan: D
PERBEDAAN BRONKIOLITIS BRONKOPNEUMONIA
Definisi Infeksi virus akut saluran
pernapasan bawah yang
menyebabkan obstruksi
inflamasi bronkiolus
Peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang
biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai
alveolus disekitarnya
Epidemiologi
Musim Dingin, epidemik pada
musim semi awal.
Lebih sering saat dingin, dapat terjadi kapan saja
Usia Bayi Biasanya <5 tahun
Etiologi RSV, parainfluenza, virus
influenza, adenovirus,
rhinovirus, M.pneumoniae
RSV, campak, varisela zooster, parainfluenza,
influenza, adenovirus, Streptococcus pneumoniae,
S.aureus, M.tuberculosis
Faktor risiko - jenis kelamin laki-laki
- status sosial ekonomi
rendah
- jumlah anggota
keluarga yang besar
- perokok pasif
- rendahnya antibodi
maternal terhadap RSV
- bayi yang tidak
mendapatkan air susu
ibu (ASI)
- Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap
penyakit ini karena respon imunitas mereka masih
belum berkembang dengan baik.
- orang tua dan orang yang lemah akibat penyakit
kronik tertentu.
- pasien peminum alkohol, pasca bedah, dan
penderita penyakit pernafasan kronik atau infeksi
virus
Masa inkubasi 2-5 hari 9-21 hari (rata-rata 12 hari)
Patogenesis Bronkiolitis akut ditandai
dengan obstruksi bronkiolus
yang disebabkan oleh edema
dan kumpulan mukus dan
oleh invasi bagian-bagian
bronkus yang lebih kecil oleh
virus. Karena tahanan/
resistensi terhadap aliran
udara didalam saluran
besarnya berbanding terbalik
dengan radius/ jari-jari
pangkat empat, maka
penebalan yang sedikit sekali
pun pada dinding bronkiolus
bayi dapat sangat
mempengaruhi aliran udara.
Tahanan pada saluran udara
kecil bertambah selama fase
inspirasi dan ekspirasi,
namun karena selama
ekspirasi jalan nafas menjadi
lebih kecil, maka hasilnya
adalah obstruksi pernafasan
Pneumokokus umumnya mencapai alveoli lewat
percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru-
paru paling sering terkena karena efek gravitasi.
Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus
menimbulkan respon yang khas terdiri dari empat
tahap yang berurutan:
a. Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium
pertama, eksudat yang kaya protein keluar masuk ke
dalam alveolar melalui pembuluh darah yang
berdilatasi dan bocor, disertai kongesti vena. Paru
menjadi berat, edematosa dan berwarna merah.
b. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : Terjadi pada
stadium kedua, yang berakhir setelah beberapa hari.
Ditemukan akumulasi yang masif dalam ruang
alveolar, bersama-sama dengan limfosit dan
magkrofag. Banyak sel darah merah juga dikeluarkan
dari kapiler yang meregang. Pleura yang menutupi
diselimuti eksudat fibrinosa, paru-paru tampak
berwarna kemerahan, padat tanpa mengandung udara,
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

3

katup yang menimbulkan
udara terperangkap dan
overinflasi. Atelektasis dapat
terjadi ketika obstruksi
menjadi total dan udara yang
terperangkap diabsorbsi.
Proses patologis menggangu
pertukaran gas normal di
dalam paru. Perfusi ventilasi
yang tidak seimbang
mengakibatkan hipoksemia,
yang terjadi pada awal
perjalanannya. Retensi
karbondioksida (hiperkapnia)
biasanya tidak terjadi kecuali
pada pasien yang terkena
berat. Makin tinggi frekuensi
pernapasan melebihi
60/menit; selanjutnya
hiperkapnia berkembang
menjadi takipnea.
disertai konsistensi mirip hati yang masih segar dan
bergranula (hepatisasi = seperti hepar).
c. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : Pada stadium ketiga
menunjukkan akumulasi fibrin yang berlanjut disertai
penghancuran sel darah putih dan sel darah merah.
Paru-paru tampak kelabu coklat dan padat karena
leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam
alveoli yang terserang.
d. Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini,
eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh
makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi, dengan
mempertahankan arsitektur dinding alveolus di
bawahnya, sehingga jaringan kembali pada strukturnya
semula.
Gejala
prodromal
saluran
pernapasan atas
Ada Sering tidak ada
Demam Derajat rendah (subfebris) Tinggi (39°-40°C)
Toksisitas Biasanya ringan Jelas
Retraksi Ada , intercostal dan
suprasternal
Tidak ada
Palpasi thorax Vocal fremitus menurun Vocal fremitus yang meningkat pada sisi yang sakit
Perkusi paru Hipersonor Sonor memendek sampai beda
Mengi Ada Biasanya tidak ada
Auskultasi Mengi difus dengan ronkhi Ronkhi atau konsolidasi lokal
Hitung leukosit Normal atau sedikit
meningkat
Meningkat
Hitung jenis
leukosit
Normal/ limfositik Neutrofilik
Analisa gas
darah
Gambaran analisis gas darah
akan menunjukkan
hiperkapnia, karena
karbondioksida tidak dapat
dikeluarkan, akibat edem dan
hipersekresi bronkiolus.
Gambaran analisis gas darah menunjukkan hipoksemia
dan hiperkarbia. Pada stadium lanjut dapat terjadi
asidosis metabolik.
Rontgen thoraks
Hiperinflasi Ada Tidak ada
Abses atau
efusi pleura
Tidak ada Mungkin ada
Kultur darah Negatif Mungkin positif
Komplikasi Gagal napas, serangan apnea,
pneumonia bakterial
sekunder, mengi rekuren,
bronkiolitis obliterans
Abses, kavitas, pneumatokel, efusi pleura, empiema,
bakteremia, abses metastastik, meningitis.
Pengobatan Oksigen yang dilembabkan, Oksigen yang dilembabkan, sefotaksim IV saja atau
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

4

nutrisi oral, nebulisasi
ribavirin pada pasien yang
mungkin mengalami
penyakit berat (bayi < 2
bulan, prematur)
dengan klaritromisin IV

3. Anak usia 18 bulan, dibawa orang tuanya ke PKM dengan sesak. Saat dilakukan pemeriksaan fisik
didapatkan pasien tampak sesak, tampak sakit sedang, T 39°C, RR 50 x/mnt, N 120 x/mnt, ada ronki
basah halus di basal, retraksi sub costal. Laboratorium Hb 12, leukosit 21.000, trombosit 240.000. Apa
diagnosisnya?
a. Bronkitis
b. Bronkiolitis
c. Asma bronkiale
d. Brpn
e. TB paru

Pembahasan: D
Bronkiolitis disebabkan oleh Respiratory Sintitial Virus.
Bronkopneumoni disebabkan oleh bakteri . Bakteri yang sering menjadi penyebab infeksi pada anak 18
bulan adalah Streptococcus pneumoni (gram +).
Lihat juga pembahasan no.4

4. Anak 4 tahun, datang dengan keluhan panas tinggi, sakit tenggorokan, batuk, pilek. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan wheezing (+) disertai ronki basah kasar. Diagnosis anak tersebut?
a. Asma bronkiale
b. Bronkitis
c. Bronkiolitis
d. Bronkiektasis
e. BRPN

Pembahasan: A
 Clue: Wheezing (+).
Bunyi tambahan kontinyu akibat dari aliran udara yang cepat yang melewati jalan nafas yang
mengalami obstruksi. Aliran udara yang lebih cepat akan menurunkan tekanan dinding lateral jalan
nafas, dan menyebabkan dinding-dinding yang berhadapan terdorong saling merapat dan bersentuhan
untuk waktu singkat. Akibatnya, aliran terganggu untuk waktu singkat dan tekanan jalan nafas
meningkat. Jalan nafas kemudian kembali terbuka memungkinkan aliran udara kembali. Siklus ini
berulang dengan cepat menyebabkan getaran dinding jalan nafas. Tinggi nada pada bunyi tambahan
kontinyu ditentukan oleh hubungan antara kecepatan aliran dan derajat obstruksi. Lebih cepat aliran
atau lebih rapat obstruksi menyebabkan bunyi dengan nada tinggi (disebut wheezing atau mengi).
Bila aliran atau obstruksi kurang, maka terjadi bunyi dengan nada lebih rendah (disebut ronki atau
ronki kering). Wheezing ditemui pada asma, emfisema dan bronkitis kronik, dan kadang ditemui
pada edem paru. Ronki kering dijumpai pada bronkitis akut atau kronik dan bronkiektasis.
Pada asma, demam bisa menjadi pemicu.
RBK: terjadi karena hipersekresi mucus saluran nafas. Crackles kasar atau ronki basah kasar, dihasilkan
oleh
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

5

gerakan udara melalui sekret tipis di bronkus atau bronkiolus. Terjadi pada awal inspirasi dan kadang
waktu ekspirasi, bisa menghilang dengan perubahan posisi atau setelah batuk. Bunyi ini dapat dijumpai
pada kelainan paru dengan sekresi lendir yang banyak.

5. Anak 11 bulan, dibawa ke RS dengan keluhan sesak napas 1 hari yang lalu. Batuk dan pilek 4 hari yang
lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan napas cuping hidung, retraksi intercostal dan epigastrial. RR
56x/mnt, ronki basah halus di seluruh lapang paru. Diagnosis anak tersebut …
a. Asma bronkiale
b. Bronkitis
c. Bronkiolitis
d. Bronkiektasis
e. BRPN

Pembahasan:
Sesak nafas 1 hari, batuk pilek 4 hari. Pada bronkopneumoni terlalu cepat untuk munculnya gejala klinis
tersebut.
 Bising tidak kontinyu Crackles (bunyi gemeretak) halus atau ronki basah halus, disebabkan oleh
terbukanya alveoli yang tertutup waktu ekspirasi sebelumnya secara tiba-tiba, mungkin disebabkan
tekanan antara jalan nafas yang terbuka dengan yang menutup dengan cepat menjadi sama sehingga
jalan nafas perifer mendadak terbuka. Bunyi ini terjadi saat inspirasi, yang dapat terjadi saat jalan
nafas perifer mendadak terbuka pada waktu daerah-daerah kolaps (atelektasis) terinflasi. Bising ini
terjadi pada kelainan paru restriktif dan atau menunjukkan berkurangnya volume paru, seperti pada
pneumonia, bronkitis, atau atelektasis. Bising ini juga dapat terdengar pada bronkiolitis dan asma
bronkiale. Ronki basah halus yang terdengar pada daerah basal paru menunjukkan adanya edema
paru. Pada pneumonia lebih spesifik bila bunyi gemeretak ini didapatkan pada akhir inspirasi (atau
yang disebut krepitasi).
 Bronkiektasis; suatu keadaan dimana terjadi pelebaran pada bronkus akibat kehilangan
keelastisitasan dinding otot bronkus yang bisa disebabkan oleh obstruksi dan peradangan kronis.

6. Perempuan 11 bulan datang ke UGD dengan sesak napas sejak 1 hari. Keluhan didahului panas dan
batuk pilek sejak 4 hari yang lalu. Pemeriksaan ditemukan napas cuping hidung dan retraksi intercostal
dan epigastrium. Auskultasi ronki kasar di seluruh lapang paru. RR 56 x/mnt. Diagnosis yang paling
mungkin …
a. Asma eksaserbasi
b. Bronkitis
c. BRPN
d. Bronkiolitis
e. Pneumonia lobaris

Pembahasan: D
Soal sama. Lihat pembahasan no.7

7. Seorang anak umur 18 bulan dibawa orang tuanya ke UGD dengan keluhan utama sesak nafas. Keluhan
ini disertai dengan batuk dan demam. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari yang lalu. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan keadaan umum sadar, tampak sesak nafas, tanda vital nadi 100x/menit, nafas 50x/menit,
nadi regular, isi dan tegangan cukup serta suhu 39,2oC. pada inspeksi thorax: simeteris, didapatkan
retraksi subcosta, pada auskultasi paru terdengar rhonki basah halus nyaring di basal paru. Pemeriksaan
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

6

lab ditemukan Hb 12,1 gr%, Ht 35%, leukosit 21.000/mmk, trombosit 240.000/mmk. Apakah diagnosis
penderita tersebut?
a. TB paru
b. Bronkhiolitis
c. Asma bronkhiale
d. Bronkhitis
e. Bronkhopneumonia

Pembahasan: E
Pada bronkiolitis, inflamasi terjadi pada bronkiolitis (saluran nafas) sehingga terdengar wheezing. Suara
Dasar: bronchial. Suara Tambahan: tidak ditemukan.
Pada bronkopneumonia, inflamasi terjadi pada parenkim paru akibat infeksi bakteri. Suara Dasar:
vesikuler meningkat. Suara Tambahan: ronchi basah kasar, krepitasi (suara penutupan alveolus saat akhir
inspirasi-awal ekspirasi).
Pada kasus menunjukkan AL yang meningkat infeksi bakteri.

8. Anak 10 bulan, sesak nafas, 4 hari batuk, pilek, demam, nafas cuping, retraksi interkostal. RBH di basal
paru. Foto thoraks : gambaran opak inhomogen di basal paru, corakan bronkovaskular meningkat.
Diagnosis yang tepat?
a. Bronkopneumonia
b. TB
c. Cyistic fibrosis
d. Bronkiolitis
e. Edema pulmo

Pembahasan: A
 TB, Gambaran Radiologisnya :
Tuberkulosis Primer
Pada foto polos PA posisi erek tampak gambaran bercak semiopak terletak disuprahiller (diatas
hilus), perihiller (sepanjang limfangitis) dan pericardial (disamping cor) dengan batas tak tegas.
Tampak pembesaran linfonodi di lnn. Hilus, lnn. Parabronkial, lnn. Paratekal. Pada fase lanjut
tampak garis- garis fibrosis berupa garis- garis berjalan radier dari hilus kearah luar (superior),
kalsifikasi di lnn. Hilus, cairan disinus costofrenikus, pericard effusion serta atelektasis di perihiler.
Tuberkulosis Postprimer
Pada foto polos thoraks erek tampak gambaran bercak semiopak bentuk amorf seperti kapas batas tak
tegas diinfraklavikula (ini menunjukkan infiltrate), tampak densitas inhomogen bentuk amorf di
apeks dan basis paru (menunjukkan fibroeksudatif), tampak garis- garis fibrosis, densitas sama
dengan jantung menarik organ sekitarnyakearah ipsilateral (mediastinum, trakea, dan diafragma),
tampak kaverna (bulatan opak dengan lusen ditengahnya) bentuk bulat atau oval.tampak bulatan
opak, batas tegas, tepi irregular, inhomogen didalamnya terdapat kalsifikasi amorf (merupakan
gambaran tuberkel).
 Fibrosis Kistik; Kelainan yang ditemukan dapat bervariasi dari pasien yang satu ke pasien yang lain,
namun banyak individu yang memiliki gambaran radiografi yang memperlihatkan bronkiektasis
kronis disertai fibrosis kistik yang meliputi: hiperinflasi, penebalan dan dilatasi bronkus, peribronkial
cuffing, mucoid impaction, kistik radiolusen, peningkatan tanda interstisial dan penyebaran nodul-
nodul.
 Gambaran radiologis bronkiolitis: emfisematous lung, jarak SIC melebar, diafragma turun.
 Gambaran radiologis oedem pulmonum: gambaran opak homogen.

SUKSES UKDI 2005 Buletin II

7

9. Seorang BBLR, jenis kelamin laki-laki datang dengan demam tinggi, BB lahir 3200gr (?), lahir spontan
belakang kepala dari ibu dengan riwayat KPD 20 jam dengan air ketuban berbau. Suhu 38,2˚C. Saat ini
gerakan anak aktif dan tidak ada keluhan klinis. Tindakan yang perlu di lakukan?
a. AB profilaksis iv
b. Ampicilin, gentamicin iv
c. Cek leukosit, trombosit, CRP, IT ratio
d. Kultur darah, lalu ampicilin dan gentamicin iv
e. Observasi KU, jika sepsis diberikan ampicilin dan gentamicin iv

Pembahasan: A
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal
ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah
KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12
jam sebelum waktunya melahirkan.
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress
pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD.
Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotic
untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis
bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi.
Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses
kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta sepsis neonatal
(infeksi pada bayi baru lahir).
Faktor resiko sepsis neonatorum adalah prematuritas, berat lahir rendah, ketuban pecah dini, demam
peripartum pada ibu atau infeksi pada ibu, masalah ketuban, resusitasi pada saat lahir, prosedur invasive,
kehamilan ganda, bayi dengan galaktosemia. Factor predisposisi untuk terjadi infeksi pada masa neonatal
adalah prematuritas dengan berat lahir rendah, bayi tersebut mempunyai resiko terinfeksi lebih besar
dibanding dengan bayi cukup bulan dengan berat lahir normal; ini disebabkan karena: (1) infeksi genital
ibu yang berhubungan dengan penyebab kelahiran premature, (2) system imun bayi premature belum
berkembang baik, (3) bayi premature lebih mungkin mengalami HMD dan enterokolitis nekrotikans,
yang sering dengan komplikasi infeksi, (4) bayi premature lebih sering membutuhkan prosedur intravena
dan intubasi dengan ET, yang merusak mekanisme pertahanan dan menjadi port de entry kuman.
KPD 20 jam  antibiotic profilaksis.
Jika BBLC  C

10. Seorang bayi laki-laki lahir spontan di RS dari seorang perempuan berusia 36 tahun dengan usia
kehamilan 31 minggu. Bayi tampak lemah, tidak menangis, denyut jantung 172x/ menit, frekuensi nafas
80x/ menit, retraksi dinding dada, sianosis dan merintih. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling
penting dalam keadaan tersebut?
a. Hitung jenis leukosit
b. Kadar hemoglobin
c. Kultur darah
d. Analisa gas darah
e. Kadar glukosa darah

Pembahasan: D
Asfiksi; kurang bulan  kemungkinan HMD (Hialin Membran Disease).
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

8

Pemeriksaan cek AGD (Analisis Gas Darah): untuk mengetahui oksigenasi baik atau tidak. Setelah itu
baru cek glukosa.
 Perubahan Patofisiologis dan Gambaran Klinis pada asfiksia
Pernafasan spontan BBL tergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila
terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan atau persalinan akan terjadi
asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan
menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai suatu periode apnu disertai dengan penurunan
frekuensi. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam
periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi bradikardi dan penurunan TD. Pada asfiksia terjadi pula
gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama
hanya terjadi asidosis respiratorik. Bila berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an
aerobic yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati
akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh
beberapa keadaan di antaranya :
1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung.
2. Terjadinya asidosis metabolik yang akan menimbulkan kelemahan otot jantung.
3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya resistensi
pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke sistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami
gangguan.
 Pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan AGD, elektrolit darah, gula darah, baby gram, USG
kepala.

11. Anak laki-laki berusia 5 thn datang dengan keluhan sesak nafas sejak 1 hari lalu disertai susah bicara dan
demam tinggi. Riwayat imunisasi tidak lengkap. Pada pemeriksaan fisik, tampak gelisah, berbicara tidak
jelas, suhu : 39
o
C, faring hiperemis, T2-T2, selaput putih keabu-abuan mudah dicabut dan berdarah.
Maka pertolongan pertama yang tepat ?
a. Bebaskan jalan nafas
b. Beri oksigen
c. Konsul dokter THT untuk trakheostomi
d. Antibiotik intravena
e. Antibiotik dosis tinggi

Pembahasan: A
Clue: selaput putih keabu2anDiphteri, dapat beresiko gagal nafas akibat terjadinya sumbatan  oedem
laring.
Penanganan: bebaskan jalan nafas dengan posisi head tilt-chin lift; pasang orofaring tube; intubasi.
Pemasangan ET  dr.Sp.An
Trakeostomidr.Sp.THT

12. Bayi lahir tidak segera menangis, ekstremitas sedikit fleksi, dirangsang batuk (+), warna tubuh memerah
tapi ekstremitas biru, HR 90x. Tindakan yang harus segera dilakukan adalah …
a. Memotong tali pusat
b. Menghisap lendir dari mulut
c. Beri napas buatan
d. Infus bikarbonat
e. Masukkan ke inkubator

SUKSES UKDI 2005 Buletin II

9

Pembahasan: B
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa
saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO
2
di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia
(Pa CO
2
meningkat) dan asidosis.
Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis,
pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.
Skor APGAR
Klinis 0 1 2
Detak jantung Tidak ada < 100 x/menit >100x/menit
Pernafasan Tidak ada Tak teratur Tangis kuat
Refleks saat jalan nafas
dibersihkan
Tidak ada Menyeringai Batuk/bersin
Tonus otot Lunglai Fleksi ekstrimitas
(lemah)
Fleksi kuat
gerak aktif
Warna kulit Biru pucat Tubuh merah
ekstrimitas biru
Merah seluruh
tubuh
Nilai 0-3 : Asfiksia berat
Nilai 4-6 : Asfiksia sedang
Nilai 7-10 : Normal
Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih
kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk
menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai
resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit
seperti penilaian skor Apgar).
13. Pasien bayi 3200 gram, PB= 50 cm, N/A=7/9 dirujuk dengan ARDS, terdapat retraksi interkosta,
sianosis (-), suara napas kiri menurun, apex jantung ICS 3-4 sternalis dextra. Diagnosis yang
memungkinkan adalah…
a. Hernia diafragmatica
b. Pneumothoraks kiri pd premature
c. Dextrocardia
d. TGA ada sianosis

14. Bayi laki-laki 8 bulan dengan riwayat batuk, pilek, dan panas datang ke dokter dengan keluhan
rewel dan sesak napas, pada pemeriksaan fisik dan vital sign ditemukan frekuensi napas 72x/menit,
temperature badan 37,6ºC, napas cuping hidung (+), retraksi dada (+), pemeriksaan lain dalam batas
normal. Pada kasus tersebut kegawatan yang paling mugkin adalah…
a. Potensial respiratory failure
b. Respiratory failure
c. Cardiopulmonary failure
d. Potential cardiopulmonary failure
e. Status astmaticus

15. Seorang anak umur 3 tahun datang ke RS bersama orangtuanya. Orangtuanya mengatakan bahwa
anaknya terbatuk tiba-tiba, sulit bernafas dan berbicara setelah makan popcorn. Dari hasil
pemeriksaan fisik, dokter menemukan adanya audible slap, palpatory thud dan ashmatoid wheeze.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

10

Dokter mendiagnosis anak tersebut mengalami aspirasi benda asing pada saluran nafasnya. Di organ
manakah tempat-tempat yang paling mungkin tersangkutnya benda asing tersebut?
a. Epiglottis
b. Faring
c. Laring
d. Trakea
e. Bronkus
Pembahasan : pada kasus di atas ditemukan astmatoid wheeze lokasi benda asing tersebut sudah
di bronkus.

16. Seorang bayi dilahirkan aterm dengan APGAR score 8/10, BBL normal, mekonium jernih. Denyut
jantung 120x/mnt, RR 72 x/mnt. Bayi kemudian sesak, retraksi sub kostal, sianosis (-). Apa yang
terjadi pada bayi?
a. Membran hyalin disease
b. Pneumonia pada neonatus
c. Sindrom aspirasi mekonium
d. Gejala gagal napas tipe 1
e. Takipnea sementara pada neonatus
Pembahasan : Kata kunci yang tepat yaitu sesak. Jawaban yang lain tidak memungkinkan untuk
dipilih karena mekonium jernih, APGAR skor baik, bayi aterm.

17. Bayi laki-laki berusia 1 hari dibawa keluarganya ke unit gawat darurat RS karena mengalami
kebiruan dan seperti tercekik saat diberikan ASI. Dari anamnesis tidak mempunyai riwayat kelainan
selama kehamilan. Pada pemeriksaan pasien tidak ditemukan adanya kelainan pada paru maupun
jantung. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus di atas?
a. Floppy epiglotis
b. Tetralogi of fallot
c. Divertikulum zentel
d. Fistula tracheaesofageal
e. Respiratory distress syndrome
Pembahasan :
Kata kuncinya Bayi membiru jika minum ASI, terdapat hubungan trakea dengan esofagus.
Pilihan yang tepat fistula tracheaesofageal.

18. Anak 9 tahun datang ke UGD karena sesak napas, batuk (+), nafas cepat 44 x/mnt, wheezing
inspirasi (+), wheezing ekspirasi (+), retraksi suprasternal dan intercostal (+). Anak pernah sesak seperti ini 2
bulan yang lalu. Di UGD anak diberi β agonis 2x dan sesak berhenti. Apa diagnosisnya?
a. Asma persisten
b. Asma episode sering serangan berat
c. Asma episode sering serangan sedang
d. Asma episode jarang serangan berat
e. Asma episode jarang serangan sedang
Jawaban : E. Asma episode jarang serangan sedang
Klasifikasi asma :
1. Asma episode jarang : serangan 1x dalam 4-6 minggu
2. Asma episode sering : serangan 1x seminggu atau kurang
3. Asma persisten : serangan sering, > 3x per minggu.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

11

Pada penatalaksanaan asma :
1. Serangan ringan : dengan sekali nebulisasi respon pasien baik (complete response)
2. Serangan sedang : dengan nebulisasi 2x/3x, respon parsial
3. Serangan berat : bila 3x nebulisasi berturut-turut, tidak menunjukkan response (poor response)
1. Seorang anak perempuan berusia 9 tahun diantar ibunya ke unit gawat darurat UGD RS dengan keluhan
sesak napas sejak 1 jam yang lalu. Keluhan disertai batuk, tidak ada demam, pasien masih bisa
menceritakan keluhannya dalam kalimat yang terputus-putus. Keluhan yang sama sudah dialami pasien
2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan anak gelisah, sianosis (-), denyut nadi 120x/menit,
frekuensi napas 44x/menit, retraksi suprasternal dan interkostal (+), wheezing ekspresi dan inspirasi.
Pasiesn duah mendapat inhalasi β2 agonis 2x dan responsnya parsial. Apakah diagnosis yang paling
mungkin?
a. Asma persisten
b. Asma episodic sering serangan berat
c. Asma episodic sering serangan sedang
d. Asma episodic jarang serangan berat
e. Asma episodic jarang serangan sedang

Pembahasan:
Asma persisten : frekuensi sering, hamper sepanjang tahun, tidak ada remisi, gejala siang dan
malam, sangat mengganggu, intensitas serangan berat
Asma episodic sering serangan berat : frekuensi > 1 kali/ bulan, lama serangan > 1 minggu, sering
mengganggu, bicara kata-kata, agitasi, nebu 3 kali respon buruk
Asma episodic sering serangan sedang : frekuensi > 1 kali/ bulan, lama serangan > 1 minggu,
sering mengganggu, bicara penggal kalimat, nebu 2-3 kali respon parsial
Asma episodic jarang serangan berat : frekuensi < 1 kali/ bulan, lama serangan < 1 minggu,
sangatmengganggu, bicara kata-kata, nebu 3 kali respon buruk
Asma episodic jarang serangan sedang : frekuensi < 1 kali/ bulan, lama serangan < 1 minggu,
sering mengganggu, bicara penggal kalimat, nebu 2-3 kali respon parsial
2. Seorang bayi laki-laki umur 14 bulan dibawa ke UGD RS karena sesak nafas. Keluhan disertai batuk
pilek tanpa disertai sianosis dan edema. Pada cattan medis didapstkan bayi pernah dirawat di ruang
intensif bayi resiko tinggi karena lahir tidak menangis, kulit agak biru, tapi biru menghilang, menetek
tidak kuat, sering batuk pilek, panas. Selama perawatan kondisi membaik kemudian dipulangkan. Pada
px fisik saat ini didapatkan frekuensi nafas 60x/menit, denyut nadi 170x/menit, suhu 38°, bising
pansistolik tingkat III, punctum maximum di ICS III-IV , LPS kiri. Diagnosis apa yang paling tepat…
a. Tetralogi fallot
b. Anomaly Ebsten
c. Defek septum ventrikel
d. Defek persisten aneurism
e. Defek septum atrium

Pembahasan
 Tetralogi fallot: sianotik sejak lahir, nafas cepat, jari tabuh, bising sistolik
 Anomaly ebsten: sianosis, letargi, dispneu, palpitasi, malar rash atau flushing, bising sistolik, split
S1-S2
 Defek septum ventrikel: takipneu, takikardi, kesulitan makan atau netek, sering mengalami
infeksi saluran nafas atas, retraksi interkostal, didapatkan bisisng pansistolik intensitas keras.
 Defek persisten aneurism: nadi normal, bising continue di sub klavia kiri, kesulitan makan, infesi
saluran nafas berulang
 Defek septum atrium: sebagian besar asimptomatik, sesak nafas, infeksi paru berulang, bising
diastolic
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

12

3. Bayi usia 12 bulan menegaluh sesak napas disertai batuk dan pilek. Bayi riwayat saat lahir tidak
menangis dan dirawat di NICU. Setelah dirasa kondisi baik bayi diperbolehkan pulang. Setelah
pulang bayi sering batuk pilek disertai demam. Pada pemeriksaan fisik sianosis perioral(-), Nadi
170x/menit, RR=60x/menit, t=38 C, bisisng pansistolik (+), punctum maksimum LPS III-IV sinistra.
Kemungkinan terjadi?
a. Aliran turbulensi di septum ventrikel
b. Aliran turbulensi d septum atrial
c. Aliran turbulensi di katup aorta
d. Aliran turbulensi di semua katup
e. Persamaan tekanan di katup

Pembahasan :
Kata kunci pada soal ini adalah sianosis perioral(-), Nadi 170x/menit, RR=60x/menit, t=38 C, bisisng
pansistolik (+), punctum maksimum LPS III-IV sinistra yang mengarah ke diagnosis PDA. Pada
PDA terjadi aliran turbulensi di katup aorta. Aliran turbulensi di septum ventrikel khas untuk
Ventrikel septal defect (VSD), aliran turbulensi di septal atrial khas untuk atrial septal defect (ASD),
sedangkan aliran turbulensi di semua katup khas untuk tetralogi of fallot. (dr BES SpA MKes)
1. Seorang laki-laki umur 30 tahun dengan gejala TB dan ditemukannya juga peningkatan enzim
transaminase 5x normal. Regimen pengobatan yang tepat untuk pasien ini adalah?
a. Tunda OAT sampai enzim transaminase turun 2x normal
b. Tunda RHE 8 bulan sebelum melakukan pemeriksaan BTA
c. Tidak memberikan pirazinamide diganti dengan RHE selama 12 bulan
d. Tidak memberikan rifampicin diganti dengan HE selama 9 bulan
e. Tidak memberikan INH dengan diganti RE selama 9 bulan
Pembahsanan:
Berdasarkan Pedoman Nasional Pengobatan Tuberkulosis 2007:
EFEK SAMPING RINGAN OAT
EFEK SAMPING PENYEBAB PENATALAKSANAAN
Tidak nafsu makan, mual,
akit perut
Rifampisin Semua OAT diminum
malam menjelang tidur
Nyeri sendi Pirazinamide Beri aspirin
Kesemutan, rasa terbakar
di kaki
Isoniazide Beri vit B6 (piridoxin)
100mg/ hari
Urine kemerahan Rifampisin Edukasi pasien

EFEK SAMPING BERAT OAT
EFEK SAMPING PENYEBAB PENATALAKSANAAN
Gatal dan kemerahan pada
kulit
Semua OAT Beri antihistamin dulu
dengan pengawasan. Jika
gatal menjadi kemerahan,
hentikan OAT. Tunggu
sampai kemerahan hilang.
Jika bertambah berat,
rujuk.
Tuli Streptomisin Streptomisin stop. Ganti
Etambuthol
Gangguan keseimbangan Streptomisin Streptomisin stop, ganti
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

13

etambuthol.
Ikterus tanpa penyebab
lain
Hampir semua OAT Hentikan semua OAT.
Segera lakukan tes fungsi
hati.
Bingung dan muntah
(permulaan ikterus karena
OAT)
Hampir semua OAT Hentikan semua OAT.
Segera lakukan tes fungsi
hati.
Gangguan penglihatan Etambuthol Etambuthol stop.
Purpura dan renjatan
(syok)
Rifampisin Rifampisin stop.


2. Seorang laki-laki berusia 18 tahun mengeluh batuk sejak 3 minggu disertai demam, tidak tinggi serta
sering berkeringat kalau malam. Pemeriksaan sputum BTA +/-/+. Sembilan tahun yang lalu pasien
pernah mendapatkan terapi OAT selama 2 bulan, berhenti sendiri karena merasa sembuh. Apakah tipe
kasus yang paling tepat?
A. Kasus gagal terapi
B. Kasus relaps
C. Kasus drop out
D. Kasus MDR TB
E. Kasus baru

Pembahasan:
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu:
1) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu
bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau
kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
4) Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan
kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer I n)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan
pengobatannya.
6) Kasus lain:
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik,
yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan
3. Pasien laki2, 21 tahun datang dengan keluhan sakit kepala. Mempunyai riwayat asma. TD 190/120mmhg.
Obat apa yang tepat untuk diberikan?
a. Propanolol
b. Kaptopril
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

14

c. Klonidin
d. Betanolol
e. Linosipril
Pembahasan:
Salah satu pilihan pada pasien hipertensi adalah beta blocker. Selama ini yang paling banyak dipakai
adalah propanolol. Namun propanolol dapat menimbulkan efek samping serius dan kematian potensial
jika diberikan pada pasien asmatik. Karena propanolol menyekat menyekat beta-1 dan beta-2, sehingga
memperburuk gejala asma (efek bronkokonstriksi). Oleh karena itu, untuk pasien asmatik digunakan beta
blocker selektif beta-1 yag bekerja kardioselektif (asebutolol, atenolol, bisoprolol, betanolol, metoprolol,
esmolol).
 Captopril bukan pilihan karena salah satu efek sampingnya adalah batuk. Batuk dapat mencetuskan
serangan pada pasien asma.
 Klonidin merupakan alfa-2 bloker yang bekerja sentral. Biasanya tidak digunakan tunggal
melainkan bersama diuretika (pada pasien-pasien yang tidak responsif terhadap diuretika tunggal).
Selain itu efek samping nyeri kepala, membuat klonidin tidak cocok diberikan pada pasien ini.

4. Pasien laki-laki, usia 30 tahun bekerja di pabrik. 1 minggu ini ia mengeluh sesak nafas yang semakin
memberat sehingga tidak dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa. Keluhan sesak nafas diawali batuk
sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan penurunan berat badan disangkal, tidak ada keluarga yang menderita
batuk lama. Apakah diagnosis yang mungkin dari pasien ini?
a. Silikosis
b. Hipersensitivitas pneumonitis
c. Asma bronkial
d. Bronkitis
e. Pneumonia
Pembahasan:
Silikosis adalah penyakit okupasional, yang disebabkan terhirupnya debu silika ke dalam saluran
pernapasan. Debu silika melekat pada saluran napas hingga kantong alveoli, dan tidak dapat dibersihkan
oleh bersin maupun batuk. Melekatnya silika pada alveoli membuat pertukaran O2 tidak dapat terjadi.
Gejala yang ada antara lain, batuk yang semakin memberat dan berkembang menjadi sesak napas yang
dipicu oleh aktivitas, mudah lelah, nyeri dada, pucat, dan jika telah terjadi pemecahan serat-serat protein
pada tubuh, didapatkan kehitaman pada batas kuku.
 Pneumonitis Hipersensitivitas (Alveolitis Alergika Ekstrinsik, Pneumonitis Interstisial Alergika,
Pneumokoniosis Debu Organik) adalah suatu peradangan paru yang terjadi akibat reaksi alergi terhadap
alergen (bahan asing) yang terhirup. Alergen bisa berupa debu organik atau bahan kimia (lebih jarang).
Debu organik bisa berasal dari hewan, jamur atau tumbuhan
Gejala akut:
 Batuk
 Demam
 Menggigil
 Sesak napas
 Malaise
Gejala kronis:
 Sesak napas saat beraktivitas.
 Batuk kering.
 Nafsu makan berkurang
 Penurunan berat badan.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

15

 Asma Bronkial
Asma bisa kita eliminasi dari soal di atas, karena pola sesak pada asma yang hilang timbul
dipengaruhi cuaca atau allergen lain. Selain itu tidak disebutkan riwayat atopi pada pasien.
 Bronkitis
Bronkitis bisa kita eliminasi dari soal di atas, karena pasien bronchitis dewasa disertai factor
resiko merokok atau pekerjaan yang terpapar polusi.
 Pneumonia
Pneumonia bisa kita eliminasi dari soal di atas, karena gejala klinis tidak disertai demam
1. Wanita 50 tahun datang dengan keluhan nyeri dada yang menjalar ke bahu kiri, dagu,
leher kiri, dan rahang kiri. Riwayat hipertensi (+), perokok (-). TD 90/60 mmHg, N
100x/menit, T= 36
o
C CKMB turun, SGOT, LDH, LDL,HDL, kolesterol dbn. EKG ST
elevasi>0,2. Apakah diagnosis yang mungkin?
a. Infark miocard akut
b. Prinzmetal angina
c. Endokarditis
d. Unstable angina
e. Perikarditis
Jawaban : A. infark miokard akut
Pembahasan :
Kata kuncinya ada pada nyeri dada yang menjalar ke bahu kiri, dagu, leher kiri, dan rahang
kiri. Riwayat hipertensi (+). EKG ST elevasi > 0,2. Ini adalah STEMI (ST Elevation
Myocard Infarction).
STEMI termasuk bagian dari ACS (Acute Corornary Syndrome).
ACS ada 2 :
a. ST Elevasi  Segmen ST meningkat ≥ 2 mm, minimal pada 2 sandapan
prekordial yang berdampingan atau ≥ 1 mm pada 2 sandapan ekstremitas
b. Non ST Elevasi, DD : UAP (Unstable Angina Pectoris)
Terdapat 3 kriteria untuk menentukan diagnosis STEMI :
 Klinis : nyeri dada khas seperti ditindih, tidak dapat ditunjuk, ada penyebaran ke dagu,
bahu dan rahang.
 Laboratorium :peningkatan enzim jantung : troponin I, CKMB
 EKG : ST Elevasi
Pada pasien ini infark yang terjadi mungkin infark inferior, karena pasien penderita
hipertensi tapi saat ini TD turun sampai 90/60 mmHg  karena itu pada pasien ini tidak
boleh diberikan ISDN, karena TD bisa drop  syok kardiogenik.
2. Laki2 35 tahun, datang ke UGD tidak sadar. Sebelumnya kejang. PF: aritmia. EKG
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

16


Diagnosis pada pasien ini adalah...
a. Blok SA
b. Blok AV derajat 1
c. Blok AV derajat 2 tipe 1
d. Blok AV derajat 2 tipe 2
e. Blok AV derajat 3
Jawaban : D. Blok AV derajat 2 tipe 2
Pembahasan :

SUKSES UKDI 2005 Buletin II

17



SUKSES UKDI 2005 Buletin II

18



3. Pria 65 tahun, datang dengan keluhan sesak di dada dan batuk2 berdahak kuning kehijauan,
punya kebiasaan merokok sejak 50 tahun yang lalu. Baru berhenti 6 bulan terakhir pd PF: TD
130/80, nadi 80x/m tidak demam, ronchi basah kasar disemua lapang paru, kemungkinan
diagnosis:
a. Bronkhitis kronis
b. Asthma bronchiale
c. Bronkiektasis
d. COPD
e. Emfisema
Jawaban : D. COPD
Pembahasan :
Kata kunci : sesak di dada, batuk berdahak warna kuning kehijauan, merokok sejak 50 tahun
yang lalu, ronkhi basah kasar di semua lapang paru. Tanda lain yang bisa dijumpai pada COPD
adalah Barrel Chest (dada seperti tong) dan pada rontgen thorax ditemukan gambaran
emfisematous lung (SIC melebar, diafragma mendatar, diameter antero-posterior rongga dada
meningkat dan hiperlusen). Kedua tanda ini disebabkan karena pada COPD udara yang masuk
dalam paru sebagian terperangkap dan sulit keluar karena adanya sumbatan.
4. Laki, 75 tahun, datang dengan sesak napas sejak 1 minggu yang lalu. Kedua tungkai bengkak
sejak 3 hari yll. Riwayat tidur berbaring dengan bantal 3. TD: 150/80, N: 88x/1‘, RR: 28x/1‘,
t: 36,9 C, tes undulasi +, hepatomegali +, JVP meningkat:
a. ACE I+ loop diuretic
b. ACE I+ diuretic thiazid
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

19

c. alfa blocker+thiazid
d. B blocker+ loop diuretic
e. Digitalis+loop diuretic
Jawaban : A. ACEI + loop diuretic
Pembahasan :
Dari skenario kasus di atas dapat disimpulkan pasien ini menderita CHF (congestive heart
failure). ACEI dianjurkan sebagai obat lini pertama baik dengan atau tanpa keluhan
dengan fraksi ejeksi 40-45% untuk meningkatkan survival, memperbaiki simtom,
mengurangi kekerapan rawat inap di RS. Harus diberikan sebagai terapi awal bila tidak
ditemui retensi caian. Bila ditemui retensi cairan harus diberikan bersama diuretik (loop
diuretic, tiazid, metolazon). ACEI juga berfungsi untuk memperbaiki remodelling jantung
yang terjadi pada CHF.

5. Wanita 33 th datang dengan keluhan sesak setelah aktivitas. Sering terbangun malam hari
karena batuk dan sesak, tidur dengan 2-3 bantal. PF: T: 180/120, N: 100, RR: 28. Auskultasi:
gallop & RBH di basal kedua paru, kedua kaki oedem. Pengobatan pilihan pertama yang
tepat:
a. Spironolakton
b. Digoxin
c. Captopril
d. Furosemide
e. Verapamil
Jawaban : C. Captopril
1. Seorang laki2 56 tahun datang dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas memberat saat
aktifitas. Pasien mempunyai riwayat hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik.
Pemeriksaan didapatkan tensi 170/110 dan kardiomegali. Pernyataan berikut yang tepat
adalah
a. Dilatasi ventrikel kiri
b. Hipertrofi ventrikel kiri
c. Hipertrofi atrioseptal ventrikel kiri
d. Dilatasi dan hipertrofi ventrikel kiri
e. Hipertrofi atrium dan ventrikel kiri

2. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dibawa oleh orangtuanya ke dokter praktik umum
dengan keluhan batuk sejak 2 bulan. Keluhan disertai panas lebih 3 minggu. Berat badan
pasien 20 kg dan dari hasil perhitungan skor diagnosa TB hasilnya 7. Pasien belum pernah
mendapatkan obat TB sebelumnya. Apakah pengobatan yang tepat?
a. 2 RHE 4 RH
b. 2 RHZ 4 RH
c. 2 RH 4 RHZ
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

20

d. 2 RH 4 RHE
e. 6RH
Pembahasan :
Pada kasus ini termasuk Kategori I, karena pasien adalah anak usia 9 tahun, maka d berikan
obat kategori I tanpa ethambutol.
3. Laki-laki 40 tahun mengalami nyeri dada menjalar ke rahang dan lengan kiri. Nyeridirasakan
20 menit, keluhan muncul saat aktivitas dan berkurang saat istirahat.Pada EKG ditemukan Q
patologis dan elevasi ST di I, aVL, V4-V6. Dimanakah lokasi MCI:
A. Inferior
B. Anteroseptal
C. Anterolateral
D. Anteroposterior
E. Lateral
4. Kondisi yang terjadi pada jantung penderita hipertensi sudah 10 tahun, minum obat tidak
teratur...
a. hipertrofi vent kiri
b. dilatasi vent kiri
c. dilatasi & hipertrofi vent kiri
1. Seorang anak perempuan usia 1 tahun 3 bulan dibawa ke unit gawat darurat RS karena
sesak napas sejak kemarin. Keluhan didahului batuk selama 1 minggu. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan pasien kesadaran menurun, frekuensi jantung 148x/menit, laju
pernapasan 42x/menit, suhu aksila 38.8° C dengan saturasi oksigen terukur 46%, tekanan
darah 110/80 mmHg. Pemeriksaan paru didapatkan suara krepitasi di kedua lapang paru.
Apakah diagnosis kasus diatas? (TO UKDI 14/1/12)
a. Laringitis akut
b. Bronkitis kronis
c. Asma bronkiale
d. Syok septik
e. Pneumonia
Pembahasan:
Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang berupa infiltrat atau konsolidasi yang
meliputi alveolus dan jaringan interstitial, yang dapat terjadi lobular, sub segmental,
maupun segmental. Gejala yang sering terlihat adalah takipnea, retraksi, sianosis, batuk,
demam, dan iritabel
 Laringitis: proses inflamasi yang melibatkan laring dan dapat disebabkan oleh
berbagai proses baik infeksi maupun non-infeksi. Laringitis sering juga disebut juga
dengan ‗croup‘. Dalam proses peradangannya laringitis sering melibatkan saluran
pernafasan dibawahnya yaitu trakea dan bronkus. Laringitis ditandai dengan suara
yang serak, yang disertai dengan puncak suara (vocal pitch) yang berkurang atau
tidak ada suara (aphonia), batuk menggonggong, dan stridor inspirasi. Dapat terjadi
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

21

juga demam sampai 39-40, walaupun pada beberapa anak dapat tidak terjadi. Gejala
tersebut ditandai khas dengan perburukan pada malam hari, dan sering berulang
dengan intensitas yang menurun untuk beberapa hari dan sembuh sepenuhnya dalam
seminggu. Gelisah dan menangis sangat memperburuk gejala-gejalanya.
 Bronkitis kronis: dapat dieliminasi karena jarang terjadi pada anak-anak. Faktor-
fakor penyebab tersering pada Bronkitis kronis adalah: asap rokok (tembakau), debu
dan asap industri, polusi udara. Batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam
jumlah yang banyak. Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada
serangan akut (eksaserbasi). Kadang dapat dijumpai batuk darah. Sesak napas. Sesak
bersifat progresif (makin berat) saat beraktifitas.
 Asma bronkiale: tidak ada keterangan bahwa sesak napas yang terjadi dipicu oleh
cuaca (atau paparan lain). Tidak disebutkan juga riwayat atopi pada keluarga. Demam
yang terjadi pada asma bronkiale hanya subfebril saja.
 Septic syok adalah sepsis yang tidak terkontrol ditandai dengan rendahnya tekanan
darah, takikardia, perubahan status mental, dan ketidakmampuan bernapas sendiri
(membutuhkan ventilator).
2. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dibawa oleh orangtuanya ke dokter praktik umum
dengan keluhan batuk sejak 2 bulan. Keluhan disertai panas lebih 3 minggu. Berat badan
pasien 20 kg dan dari hasil perhitungan skor diagnosa TB hasilnya 7. Pasien belum
pernah mendapatkan obat TB sebelumnya. Apakah pengobatan yang tepat? (TO UKDI
14/1/12)
f. 2 RHE 4 RH
g. 2 RHZ 4 RH
h. 2 RH 4 RHZ
i. 2 RH 4 RHE
j. 6RH
Pembahasan:
Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)
Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu
6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap
lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.
(Tambahan) Dosis obat kombipak TB pada anak:
Jenis Obat BB <10 kg BB 10-19kg BB 20-32 kg
Isoniazid 50mg 100mg 200mg
Rifampisin 75mg 150mg 300mg
Pirazinamid 100mg 300mg 600mg
3. Seorang bayi 1 bulan di bawa ke RS karena bibir biru sejak lahir, makin biru bila menangis.
Lahir aterm, pervaginam, ditolong bidan langsung menangis tapi kemudian seluruh badan
jadi biru. Radiologi overriding aorta. Kemungkinan Diagnosisnya? (TO UKDI 14/1/12)
a. Tetralogi of fallot
b. Atrial septal deffect
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

22

c. Ventricle septal deffect
d. Patent ductus arteriosus
e. Transposision of great arteri
Pembahasan:
Penyakit jantung bawaan dibagi menjadi:
SIANOTIK ASIANOTIK
Transposisi arteri besar Defek Septum ventrikel
Atresia Pulmonal Defek septum atrium
Anomali total drainase vena pulmonalis Patent Ductus Arteriosus
Tetralogi Of Fallot:
 Defek septum ventrikel
 Stenosis Pulmonal
 Overriding aorta
 Hipertrofi ventrikel kanan
Koarktasio aorta
Stenosis Aorta
Stenosis Pulmonal

1. seorang anak usia 1 tahun, datang dengan batuk, wajah tidak biru jika batuk. Riwayat
demam sering (+), dari pemeriksaan didapatkan murmur ditepi kiri bawah sternum. Pada
foto thorak ditemukan jantung melebar kekiri dan kekanan, apeks berada dibawah
diafragma, corakan paru bertambah serta ruang retro strernal meluas sampai ke
manubrium sterni. Diagnosa adalah?
a. ASD
b. VSD
c. ASD dan VSD
d. MR
e. PDA
Pembahasan : C

Gejala Klinis ASD
ASD kecil umumnya tidak terlihat menderita kelainan jantung
ASD besar, pada stress cepat mengeluh dispneu
Infeksi saluran nafas atas
Bunyi split jantung II tanpa bising
Aktifitas ventrikel kanan jelas (hiperdinamik) di parasternal kanan.
Pemeriksaan penunjang
EKG deviasi sumbu QRS ke kanan (+90-180 derajat), hipertropi ventrikel kanan,
blok cabang berkas kanan (RBBB) dengan pola rsR pada VI
Foto thorax kardiomegali dangan pembesaran atrium kanan dan ventrikel kanan.
Konus pulmonalis menonjol disertai tanda peningkatan vascular paru.
EKG dapat menentukan lokasi dan besarnya defek, dimensi atrium kanan, ventrikel
kanan dan dilatasi arteri pulmonalis. Dengan dopler dapat dilihat pula aliran pirau.

SUKSES UKDI 2005 Buletin II

23

VSD
VSD kecil
Diameter defek kecil yaitu 1-5 mm, sedang 5-10 mm. Pertumbuhan badan normal
walaupun terdapat kecenderungan timbulnya infeksi saluran nafas, pertumbuhan
normal latihan lama -à cepat lelah.
Palpasi
Impuls ventrikel kiri jelas pada apeks kordis. Biasanya teraba getaran bising pada sela
iga III dan IV kiri.
Auskultasi
Bunyi jantung biasanya normal. Defek sedang : bunyi jantung II dapat agak keras,
―split‖ sempit pada sela iga II kiri dekat sternum. Bunyi jantung I biasanya sulit
dipisahkan dari bising holosistolik yang kemudian segera terdengar; bising bersifat
kasar, digolongkan dalam bising kebocoran.

VSD besar dan sangat besar
Secara klinis sudah menunjukkan gejala sesak, nafas cepat dan dangkal, lekas
lelah pada umur sangat muda, sehingga muncul masalah makanan. Pertambahan berat
badan minimal akibat seringnya infeksi saluran nafas. Serangan dispneu paroksismal
sering timbul.
Inspeksi
Pertumbuhan badan jelas terhambat, pucat dan banyak keringat bercucuran.
Ujung-ujung jari hiperemik. Diameter dada bertambah, sering terlihat Vouusure
cardiaque ke kiri. Gejala-gejala yang menonjol ialah nafas pendek dan retraksi pada
jugulum, sela interkostal dan region epigastrium. Pada anak kurus terlihat impuls
jantung yang hiperdinamik.
Palpasi
Impuls jatung hiperdinamik kuat, karena timbul dari ventrikel kiri. Karena
defek besarmaka tekanan arteri pulmonalis tinggi, akibatnya penutupan katup
pulmonal jelas teraba pada sela iga III kiri dekat sternum. Teraba getaran bising pada
dinding dada. Pada defek sangat besar, sering teraba getaran bising karena tekanna di
ventrikel kiri sama dangan tekanna di ventrikel kanan. Anak dengan VSD besar
disertai gejala gagal jantung mempunyai tanda terabanya tepi hati tumpul di bawah
lengkung iga kanan.

Auskultasi
Bunyi jantung pertama mengeras terutama pada apeks dan sering diikuti
―click‖ sebagai akibat terbukanya katup pulmonal dangan kekuatan pada pangkal
arteria pulmonalis yang melebar. Bunyi jantung kedua mengeras, terutama pada sela
iga II kiri, umumnya closed split. Terdengar bising holosistik kasar derajat III-VI
sepanjang tepi sternum kiri dengan pungtum maksimum disela iga IV, menjalar
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

24

keseluruh prekordium sampai ke punggung. Intensitas bising mengurang jika tkanan
systole ventrikel kanan meninggi.

2. Bayi perempuan usia 4 bulan dibawa ke puskesmas karena sesak napas. Bayi lahir prematur,
BL 1800 gr, sejak lahir sering berhenti dan terengah- engah saat menetek. Berat badan
bertambah 500 gr selama 4 bulan. Napas 74 x/menit, nadi 160 x/menit, T 36,7 C. Pada
auskultasi jantung terdengar bising kontinyu pada sela iga II linea stematis sinistra, pada
auskultasi paru terdengar ronki basah halus, mengi, dan krepitasi basal paru. Tekanan
vena jugularis sulit dinilai, hepar dan lien membesar edema pada region sacral (+).
Diagnosis?
A. Edema paru
B. Paten Duktus arteriosus
C. hipertensi pulmonal
D. Defek septum atrium
E. Defek septum ventrikal
Pembahasan : B
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka.
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin yang
menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi normal duktus
tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah lahir dan secara anatomis
menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3 minggu. Bila tidak menutup disebut
Duktus Arteriosus Persisten (Persistent Ductus Arteriosus : PDA).
Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalah-
masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom gawat nafas).
Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 – 6 jam sesudah lahir. Bayi
dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan PDA lebih besar dapat
menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif (CHF)
• Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung
• Machinery mur-mur persisten dan kontinyu (sistolik, kemudian menetap, paling
nyata terdengar di tepi sternum kiri atas)
• Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-
loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mm Hg)
• Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik
• Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
• Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah
• Apnea
• Tachypnea
• Nasal flaring
• Retraksi dada
• Hipoksemia
1. Pasien 2 bulan dengan keluhan sering tersedak, nafas bersuara, berubah sesuai posisi, ibunya
bilang keluhan ini sudah di alami sejak lahir.
A. Laringomalasia
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

25

B. Spasme laring
C. Laringotrakheobronkitis
D. Laringitis akut
E.pneumonia
LARINGOMALASIA
Laringomalasia atau laring flaksid kongenital merupakan penyebab tersering dari
kelainan laring kongenital, berupa stridor inspiratoris kronik pada anak. Keadaan ini
merupakan akibat dari flaksiditas dan inkoordinasi kartilago supraglotik dan mukosa
aritenoid, plika ariepiglotik dan epiglotis. Biasanya, pasien dengan keadaan ini
menunjukkan gejala pada saat baru dilahirkan, dan setelah beberapa minggu pertama
kehidupan secara bertahap berkembang stridor inspiratoris dengan nada tinggi dan
kadang kesulitan dalam pemberian makanan.
GAMBARAN KLINIS
Tiga gejala yang terjadi pada berbagai tingkat dan kombinasi pada anak dengan kelainan
laring kongenital adalah obstruksi jalan napas, tangis abnormal yang dapat berupa tangis
tanpa suara (muffle) atau disertai stridor inspiratoris serta kesulitan menelan yang
merupakan akibat dari anomali laring yang dapat menekan esofagus.
Bayi dengan laringomalasia biasanya tidak memiliki kelainan pernapasan pada saat baru
dilahirkan. Stridor inspiratoris biasanya baru tampak beberapa hari atau minggu dan
awalnya ringan, tapi semakin lama menjadi lebih jelas dan mencapai puncaknya pada
usia 6 – 9 bulan. Perbaikan spontan kemudian terjadi dan gejala-gejala biasanya hilang
sepenuhnya pada usia 18 bulan atau dua tahun, walaupun dilaporkan adanya kasus yang
persisten di atas lima tahun. Stridor tidak terus-menerus ada; namun lebih bersifat
intermiten dan memiliki intensitas yang bervariasi.
Umumnya, gejala menjadi lebih berat pada saat tidur dan beberapa variasi posisi dapat
terjadi; stridor lebih keras pada saat pasien dalam posisi supinasi dan berkurang pada saat
dalam posisi pronasi. Baik proses menelan maupun aktivitas fisik dapat memperkeras
stridor.
2. Seorang anak laki-laki berumur 3 tahun dibawa ke RS karena sulit bernapas. Pada
pemeriksaan foto thorax didapatkan pembesaran jantung ke kiri dengan apeks membulat
pada sisi atas diafragma, batas kanan jantung melewati parasternal, lengkung aorta
mengecil, hilus melebar, dengan corakan vaskuler meningkat. Apa diagnosis kasus ini?
a. VSD
b. ASD
c. PDA
d. Stenosis pulmonal
e. TOF
Pembahasan :
a. ASD (Atrium septal defek)
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

26

Merupakan penyakit jantung congenital non sianotik. Tanda khasnya adalah right sided
enlargement. Bentuk paling sering disebabkan karena tidak menutupnya foramen ovale.
Bila ada defek pada fossa ovalis (normalnya foramen ovale menutup, menjadi fossa
ovalis), namanya Osteum secundum Defect.
Persistent osteum primum merupakan defek pada basis septum atrial yang merupakan
bagian dari anomaly endocardial cushion. Tekanan dalam atrium kiri lebih besar, darah
dari atrium kiri sebagian masuk ke atrium kanan (left to the right shunt)
Gambaran Radiologis:
- Tergantung dari ukuran defeknya, bila ukurannya kecil biasanya tidak menunjukkan
kelainan.Bila defek besar bias terlihat :
- Corakan vaskuler paru bertambah
- Aortic knob kecil
- Ukuran jantung normal atau membesar ringan
- Batas kanan jantung menonjol (atrium kanan membesar)
- Apeks jantung membulat dan bergeser ke kiri (karena ventrikel kanan membesar)
- Bila terjadi hipertensi pulmonal, arteri pulmonalis sentralis sangat melebar kemudian
tiba-tiba mengecil membentuk inverted coma.
Pada foto lateral dapat terlihat retrosternal space terisi dengan bayangan ventrikel kanan

Jantung membesar, corakan paru bertambah ASD dengan hipertensi portal
b. VSD (Ventrikel Septal Defek)
Gambaran klinis yang ditemukan secara garis besar dapat dibedakan berdasarkan
apakah sudah terjadi hipertensi pulmonal atau belum. Pada kasus VSD tanpa hipertensi
pulmonal, gejala klinis yang dominan adalah gejala yang timbul akibat kurangnya perfusi
ke perifer, sering bermanifestasi sebagai keterlambatan pertumbuhan. Sedangkan jika
sudah terjadi hipertensi pulmonal, gejala klinis umumnya berkaitan dengan keadaan
cyanotic yang timbul karena adanya R-L Shunt.
Gambaran radiologis dan klinis dari VSD dapat bervariasi berdasarkan:
1) Besarnya kebocoran
2) Ada atau tidaknya hipertensi pulmonal
Makin kecil kebocoran, semakin sedikit kelainan yang terlihat pada radiografi
polos. Defek yang kecil umumnya menghasilkan murmur yang keras. Pada defek
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

27

berukuran < 1 cm, tekanan ventrikel kiri umumnya lebih besar pada keadaan ini dan
terjadi kebocoran dari kiri ke kanan (L-R Shunt). Sejumlah besar darah dari kebocoran
dan atrium kanan akan dipompakan menuju arteri pulmonalis, vena pulmonalis dan
akhirnya atrium kiri. Atrium kiri yang mengalami peningkatan jumlah pre load sehingga
berdilatasi. Ventrikel kiri selain menerima jumlah darah yang meningkat juga mengalami
hipertrofi karena harus bekerja lebih keras memenuhi kebutuhan sistemik.
Secara singkat gambaran radiologis dari VSD dapat dibagi menjadi:
1) Kebocoran yang sangat kecil.
(Maladi de Roger—biasanya bagian muskular septum)
Jantung tidak membesar. Pembuluh darah paru normal
2) Kebocoran yang ringan
Jantung membesar ke kiri oleh hipertrofi dan ventrikel kiri. Apeks menuju ke
bawah diafragma. Ventrikel kanan belum jelas membesar. Atrium kiri
berdilatasi.
3) Kebocoran yang sedang-berat
Ventrikel kanan dilatasi dan hipertrofi. Atrium kiri berdilatasi. A. Pulmonalis
dengan cabang-cabangnya melebar. Atrium kanan tidak tampak kelainan.
Ventrikel kiri hipertrofi. Aorta kecil.
4) Kebocoran dengan hipertensi pulmonal
Ventrikel kanan tampak makin besar. A. Pulmonalis dan cabang-cabangnya di
bagian sentral melebar. Segmen pulmonal menonjol. Atrium kiri normal. Aorta
mengecil. Pembuluh darah paru bagian perifer sangat berkurang. Thoraks
menjadi emfisematous. Pada tahap ini secara klinis ditemukan Sindrom
Eisenmenger.
Pada stadium ini kadang secara radiografi sukar dibedakan dengan Atrial
Septal Defect (ASD) dengan hipertensi pulmonal.)


PA: pembesaran jantung, konus pulmonalis
menonjol dan corakan bronkhovaskuler bertambah
RAO: esofagus terdorong ke posterior
karena dilatasi atrium kiri. Pada
fluoroskopi tampak hilar dance
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

28







c. PDA
PDA adalah terdapatnya pembuluh darah fetal yang menghubungkan percabangan arteri
pulmonalis sebelah kiri (left pulmonary artery) ke aorta desendens tepat di sebelah distal
arteri subklavikula kiri.
Gambaranfoto toraks PDA tergantung besar kecilnya PDA yang terjadi.
1) Bila PDA kecil sekali, gambaran jantung dan pembuluh darah paru normal
2) Bila PDA cukup besar, maka gambaran radiologinya:
 Aorta descedens dan arkus tampak normal atau membesar sedikit dan nampak
menonjol pada proyeksi PA
 A. pulmonalis tampak menonjol lebar di samping aorta
 Pembuluh darah paru dan hilus nampak melebar, karena volume darah yang
bertambah
 Pembesaran atrium kiri
 Pembesaran ventrikel kanan dan kiri.
Pada orang dewasa, gambaran radiologi ini tampak jelas, tetapi pada anak-anak
tidak khas
dan sulit dinilai, karena biasanya jantung anak-anak masih berbentuk bulat. Pelebaran
pembuluh darah paru untuk sebagian radiografi PA tidak nampak karena tertutup oleh
jantung, terutama di bagian sentral.
Pembesaran jantung dengan apek
meluas ke dinding thorak kiri.
Corakan bronkhovaskuler meningkat
pembesaran jantung dengan corakan
bronkhovaskuler bertambah. Tampak air
trapping di lobus media kanan.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

29


d. Tetralogi Fallot
Tetralogi Fallot merupakan penyakit jantung kongenital sianotik yang paling sering
ditemukan, yaitu merupakan + 10% dari seluruh penyakit jantung kongenital. Pada Tetralogi
Fallot ada 4 jenis kelainan, yaitu:
- Pulmonal Stenosis
- Bersifat infundibular dan/atau valvular.
- VSD (defek septum ventrikel) dengan R-L shunt
- Semitransposisi aorta
- Aorta berpangkal sebagian di ventrikel kanan dan sebagian lainnya di ventrikel kiri.
- Hipertrofi ventrikel kanan
Gambaran foto toraks
Pembesaran ventrikel kanan menyebabkan bayangan jantung melebar ke kiri dengan apex
di atas diafragma. Pembesaran ini tidak seberapa, karena ventrikel kanan umumnya hanya
hipertrofi saja bukan dilatasi. Pinggang jantung menjadi lebih konkaf karena tidak ada
pembesaran dari jalur keluar ventrikel kanan. Pada stenosis berat, pinggang jantung lebih
dalam lagi sehingga menimbulkan gambaran jantung seperti sepatu kayu (coeur en sabot).


1. Seorang anak berumur 2 tahun dikeluhkan oleh ibunya mengalami kebiruan pada seluruh
tubuhnya setiap saat menangis. Pada auskultasi didapatkan adanya bising jantung. Untuk
selanjutnya pemeriksaan apa yang diperlukan?
a. Koronografi
Jantung sedikit membesar, a.
pulmonalis menonjol,
dan arkus aorta menonjol .
Corakan paru bertambah
PA: ukuran jantung normal dengan bentuk
seperti sepatu boot (coeur en sabot). Corakan
paru berkurang dengan left sided aortic arch
(indentasi pada kiri trakhea)

SUKSES UKDI 2005 Buletin II

30

b. Angiografi
c. Ekokardiografi
d. Foto thorak
e. Elektrokardiografi
Pembahasan:
Dengan ekokardiografi maka kita dapat melihat struktur jantung, pembuluh darah dan
fungsi jantung.
2. Seorang anak usia 7 bulan diantar ibunya dengan keluhan adanya suara nafas tambahan,
sering tersedak waktu minum susu, tanpa adanya pilek dan demam, riwayat yang sama 1,5
bulan yang lalu dan sembuh sendiri. Dari pemeriksaan radiologi ditemukan penyempitan
jaringan soft tissue pada daerah laring. Apakah diagnosis pasien ini?
a. Epiglotis akut
b. Laringomalasia
c. Papiloma laring
d. Trakeobronkitis
e. Benda asing di laring
Pembahasan
Pada bayi, stridor inspirasi tanpa keluhan lainnya 50-75% disebabkan oleh
laringomalasia, yaitu kelainan congenital karena kurang berkembangnya kartilago yang
menyokong struktur supraglotis. Tiga gejala utama adalah stridor inspirasi, tangis tanpa
suara dan kesulitan menelan. Pengobatan yang dibutuhkan adalah waktu, yaitu sekitar
umur 2 tahun keluhan akan menghilang.

3. Seorang anak perempuan, usia 8 bulan, diperiksakan ibunya ke dokter dengan keluhan
batuk dan sesak nafas sejak 5 bulan yang lalu. Sesak nafas bertambah bila menangis.
Diagnosis pasien ini adalah ?
a. epiglositis
b. laringitis akut
c. laringitis kronis
d. laringomalasia
e. laringotrakeitis
Pembahasan
Pada kasus diatas, karena keluhan anak batuk dan sudah 5 bulan, maka jawaban yang
paling mungkin adalah Laringitis kronis. Pada laryngitis, terjadi oedem laring yang
menyebabkan anak menjadi sesak nafas disertai batuk.

4. Seorang anak umur 2 bulan dikeluhkan nafas berbunyi sejak lahir. Dari pemeriksaan ada
stridor inspirasi. Diagnosis?
a. Spasme laring
b. Spasme pliaka pita suara
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

31

c. Obstruksi laring
d. Papiloma laring
e. Laringomalasia
Pembahasan
Pada kasus diatas, adanya stridor ispirasi pada bayi sejak lahir yang terbanyak adalah
Laringomalasia

5. Seorang anak perempuan, 2 tahun, mengalami sesak nafas dan batuk, bila tidur ngorok,
pada pemeriksaan laringoskop direk dan indirek diketahui diagnosis laringomalasia.
Bagaimanakah penatalaksanaan yang tepat pada pasien ini?
a. edukasi ibu pasien
b. hindari faktor pencetus
c. pasang endotrakheal tube
d. pemberian O2 dengan nasal kanul
e. nebulizer
Pembahasan
Laringomalasia adalah keadaan kelainan congenital karena kurang berkembangnya
kartilago yang menyokong struktur supraglotis. Tiga gejala utama adalah stridor inspirasi,
tangis tanpa suara dan kesulitan menelan. Pengobatan yang dibutuhkan adalah waktu,
yaitu sekitar umur 2 tahun keluhan akan menghilang. Jadi yang terpenting adalah edukasi
ibu untuk menenangkan ibu bahwa keadaan ini akan sembuh sendiri. Bila anak sesak,
dengan perubahan posisi akan membaik.

6. Seorang anak laki-laki usia 10 tahun dibawa oleh orangtuanya ke RS karena nyeri
tenggorokan hebat. Pada pemeriksaan fisik tampak tonsil membesar hiperemis dengan
eksudat berwarna keabuan. Apakah organisme penyebabnya?
a. batang gram positif
b. kelompok cocus gram positif
c. kelompok cocus gram negative
d. batang gram negative
e. basil tahan asam
Pembahasan:
Nyeri tenggorokan, tonsil hiperemis, tonsil membesar ditutupi membrane putih yang
makin lama meluas dan menyatu membentuk membrane semu, eksudat keabuan,
adalah gejala tonsillitis difteri yang disebabkan oleh Corinebacterium diphteriae.
Bakteri ini berbentuk batang gram positif, tidak berspora, tidak tahan asam berbentuk
susunan huruf cina atau palisade. Pengecatan dengan Neisser atau Loeffler metilen
biru.
1. Seorang laki-laki 60 th datang ketempat praktek dokter dengan keluhan umum berdebar-
debar. Pesien merasa berat badannya turun dan menjadi lebih kurus, padahal nafsu makan
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

32

meningkat. Keluhan berdebar disertai sulut tidur, sering emosi, sering berkeringat saat
cuaca panas ataupun dingin. Pemeriksaan td 130/80, n 110/min, rr 20/min, suhu 36,8 c.
Pemeriksaan lien tidak ditemukan. Ery? Sign tidak ada. Pemeriksaan apa yang di usul
kan
a. Ekg
b. Urin
c. Ro thorax
d. Kadar tsh dan t4 bebas
e. Ct scan tiroid
Jawab : d
Gejala ini khas terjadi pada hipertiroid karena tiroid merupakan hormon metabolisme
sehingga efeknya adalah peningkatan dari seluruh kerja organ seperti jantung (taki kardi)
dll. Tanda badan yang makin kurus juga menunjukan karena banyak energi yang
digunakan untuk metabolisme tubuh sehingga makin kurus walau makan banyak.
Pemeriksaan yang paling mungkin dilakukan adalah kadar tsh dan free t4. Dalam hal ini
tsh akan turun dan t4 bebas akan naik dari normal.

2. Seorang laki-laki berusaha 43 th mengeluh sesak nafas setelah menaiki tangga. Keluhan
ini sudah dialami sejak 1 bulan yll. Sesak akan berkurang bila istirahat. Pemeriksaan fisik
didapatkan td 150/80 mmhg, denyut nadi 123/min, pernafasan 28x/min, suhu 36,8 c. Pada
pemeriksaan paru didapatkan vasikuler (+) normal, ditemukan ronkhi basah dan weezing
tidak ada. Retraksi dada ditemukan ada dan pemeriksaan jvp meningkat, ditemukan
bising murmur jantung. Lalu hepatomegali ada dan edema pada kedua ekstimitas.
Diagnosis nya adalah
a. Kompensasi jantung
b. Dekompensasi ventrikel kiri
c. Dekompensasi ventrikel kanan
d. Atrial fibrilasi
e. Ventrikel fibrilasi
Jawab : c
Pada pasien ini merupakan gejala chf.
Gejala yang menudukung kearah jawaban dekompensasi ventrikel kanan adalah adanya
jvp mingkat, hepatosplenomegali dan udem tungkai. Karena pada pasien gagal jantung
kanan darah tidak dapat di pompakan keluar dari ventrikel kanan sehingga tertahan dan
menyebabkan jvp melebar dan gejala-gejala udem.
1. Laki laki 20 tahun dibawa ke ugd rs setelah dada kanan terbentur akibat kecelakaan. Pada
pemeriksaan didapatkan td 80/60 mmhg, nadi 110x/menit, respirasi 40x/menit. Pada
pemeriksaan dada ditemukan hemithorax kanan tertinggal saat bernafas, fremitus taktil
melemah, perkusi hipersonor, suara nafas menghilang. Diagnosis yang mungkin?
a. Efusi pleura
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

33

b. Atelektasis paru
c. Pneumothorax
d. Pneumonia
e. Hemothorax
Jawab : c
Kunci pada kasus ini adalah riwayat trauma dan semua gejala di atas yang menunjukan
diagnosis kearah pneumothorax. Hati-hati dalam melihat soal karena jika perkusi bukan
hipersonor (pekak misalnya) makan diagnosis nya bukan pnemothorax tetapi hemothorax.
Hemothorax adalah terisinya kavum pleura dengan darah, gejala nya mirip dengan
pneumothorax karena terjadi penenkanan parenkim paru.
Atelektasis adalah keadaan diamana kolapnya paru karena sumbatan dari saluran pernafasan
(bronkus atau bronkiolus)

2. Laki-laki 75 th diantar ke igd dengan keluhan nyeri dada sejak 2 jam yang lalu. Riwayat dm
dan ht yang tidak terkontrol. Pemeriksaan td 170/100, nadi: 126x/ m, rr: 24x/m, gds: 240,
troponin t (+), ekg: st elevasi dan inverted di v1-v4, kemungkinan diagnosis?
a. Unstable angina pectoris
b. Stable angina pectoris
c. Stemi
d. Imature miocard infark
e. Omi
Jawab : c
Sudah jelas ada st elevasi jadi diagnosisnya stemi.
Unstable dapat menunjukan gambaran st depresi atau t inverted.
Omi dapat menunjukan adanya q patologis
3. Perempuan 45 tahun datang ke puskesmas karena keluhan batuk sejak 3 bulan terakhir.
Setahun yang lalu ia pernah didiagnosis tb, dan menjalani pengobatan tb sampai dinyatakan
sembuh. Pemeriksaan saat ini bta (+). Apa pengobatan yang tepat pada pasien ini?
a. Kategori i
b. Kategori ii
c. Kategori ii tanpa streptomycin
d. Fase sisipian kategori ii
e. Fase intermitteb kategori ii
Jawab : b
Indikasi di berikan anti tb kategori 2 adalah : relaps (sudah dinyatakan sembuh dan timbul
lagi), drop out ( pengobatan tidak selesai), gagal (tidak sembuh).
Pada pasien ini adalah kasus relaps.

4. Pasien laki-laki perokok berat datang dengan keluhan sesak nafas dan batuk berdahak. Pada
pemeriksaan fisik terdapat barrel chest, whhezing dan sianosis pada kedua lapangan paru.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

34

Pemeriksaan rontgen terdapat hiperinflasi pada paru kanan dan kiri, tapi tidak terdapat
fibrosis. Diagnosis yang tepat?
a. Asma
b. Emfisema
c. Bronkhitis kronis
d. Bronchiektasis
e. Bronchopneumonia
Jawab : b
Pada kasus ini diagnosis yang paling tepat adalah ppok karena terdapat barrel chest dan
weezing pada auskultasi. Serta riwayat yang merupakan perokok aktif.
Asma memiliki gejal weezing tetapi pada asma harus ditandai dengan riwayat sejak muda
dan sesak berulang jika terkena faktor pencetusnya
5. Seorang wanita 29 tahun mengeluh batuk darah sebanyak 1 sendok semenjak 2 minggu yang
lalu. Keluhan disertai penurunan berat badan, sesak nafas, keringat malam dan kadang-
kadang demam. Langkah apa yang selanjutnya kita lakukan?
a. Pemeriksaan ro thorax
b. Pemeriksaan darah rutin dan led
c. Pemeriksaan sputum dahak (bta)
d. Pemberian anti biotic
e. Pemberian oat
Jawab : c
Pada kasus ini kita curiga adanya infeksi tbc. Sesuai dengan algoritme nya yang pertama
dilakukan pada pasien adalah pemeriksaan bta.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

35


6. Pasien 26 tahun datang dengan keluhan batuk berdahak disertai darah 3 minggu yang lalu. Os
juga mengeluh bb turun 5 kg sejak 2 bulan. Demam tidak terlalu tinggi, keringat malam (+).
Belum pernah konsumsi obat rutin 6 bulan. Bta (+++). Ro infiltrat di kedua lapang paru.
Terapinya adalah?
a. RHZE
b.RHZES
c. RHZ
d.RHE
e. RHES
Jawab : a
Kuncinya adalah pasien dengan tbc baru dari kata-kata belum pernah meminum obat selama
6 bulan maka oat yang diberikan adalah oat kategori 1
 Kategori1 : 2hrze/4h3r3 selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan
rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan). diberikan kepada:
penderita baru tbc paru bta positif.
penderita tbc ekstraparu (tbc diluar paru-paru) berat.
 Kategori2 : hrze/5h3r3e3 diberikan kepada:
penderita kambuh.
penderita gagal terapi.
Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.
Dosisobatantituberkulosis (oat)
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

36

Obat Dosisharian
(mg/kgbb/hari)
Dosis 2x/minggu
(mg/kgbb/hari)
Dosis 3x/minggu
(mg/kgbb/hari)
Inh 5-15 (maks 300 mg) 15-40 (maks. 900 mg) 15-40 (maks. 900 mg)
Rifampisin 10-20 (maks. 600 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-20 (maks. 600 mg)
Pirazinamid 15-40 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g) 15-30 (maks. 3 g)
Etambutol 15-25 (maks. 2,5 g) 50 (maks. 2,5 g) 15-25 (maks. 2,5 g)
Streptomisin 15-40 (maks. 1 g) 25-40 (maks. 1,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)

7. Seorang laki-laki berusia 32 tahun datang ke unit gawat darurat rs dengan keluhan sesak
nafas sejak 1 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh batuk-batuk sejak 1 bulan yang
lalu, batuk berdahak warna putih kental. Nafsu makan menurun dan sering berkeringat pada
malam hari. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sesak, tekanan darah
90/60 mmhg, denyut nadi 110 x/menit, frekuensi nafas 32 x/menit. Pemeriksaan paru
menunjukkan trakea deviasi ke kanan, gerak paru kiri tertinggal dari paru kanan, perkusi
paru kiri redup dengan suara nafas menurun. Apakah diagnosis yang paling tepat?
a. Tumor paru sinistra
b. Efusi pleura sinistra
c. Pneumotoraks sinistra
d. Atelektasis paru sinistra
e. Pleuritis sinistra
Jawab : b
Kata kunci dalam hal ini adalah perkusi redup yang menunjukan dirongga thorax berisi
cairan atau masa. Pada anamnesis juga ditemukan gejala khas tb yaitu keringat malam.
Maka diagnosis pada kasus ini adalah efusi pleura et causa tbc, selain tbc efusi sering
disebabkan oleh tomor paru.
Tidak dipilih penumothorax karena pada perkusi ditemukan redup, sedangkan pada
pneumothorax yang ditemukan adalah hipersonor.
8. Seorang perempuan 25 th datang dengan keluhan pegal dan kebas diseluruh jari2
tangannya.pasien juga mengeluh mudah lemas dan sering cepat letih.pasien mengaku selama
ini sedang pengobatan tb bulan ke 2,pasien juga mengaku hanya meminum obat tb saja dan
tidak ada obat yang lain. Obat apakah yang memungkinkan terjadi pada pasien ini?
a. Inh
b. Rimfamisin
c. Etambutol
d. Parasinamid
e. Etambutol
Jawab : a
Efek samping oat
Inh : neuropathi
Rifamficin : nefrotoxic
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

37

Ethambutol : (etam- buto) jadi buta
Pyrasinamid : atritis gout
Streptomicin : ototoxic (tuli)

9. Seorang laki-laki 40 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan bengkak kedua tungkai
bawah sampai kedua kaki sejak 2 minggu yang lalu. Pasien juga mudah seseg nafas bila
berjalan agak jauh. Pemeriksaan fisik td: 170 /95. Pitting edem (+). Dokter akan memberikan
terapi diuretik. Pilihan obat diuretik yang tepat:
a. Thiazid (kyny,, aq rada lupa option a. Maaf yak...)
b. Isosorbid
c. Manitol
d. Furosemid
e. Acetazolamid
Jawab : d
Pada pasien ini diemukan tanda-tanda udem paru (sesak) dan pitting udem (+) maka
diperlukan obat-obata diuretic yang kerja nya cepat dan banyak maka pilihannya adalalah
furosemid.
Isosrbid = vasodilatasi
Manitol = hipertonik sehigga memasukan cairan ke intravaskular cont kasus udem serebri
Tiazid = diuretic tapi kerja nya tidak sekuat furosemid
1. Seorang laki-laki 30 tahun datang ke IGD dengan penurunan kesadaran, keluhan disertai
demam tinggi dan kejang, pemeriksaan fisik didapatkan pasien soporous, suhu 38C, TD
120/60mmHg. Pada pemeriksaan pungsi lumbal didapatkan jumlah sel 3, protein 40 mg/dl,
glukosa 85 mg/dl. Pada pemeriksaan CT scan tidak didapatkan kelainan. Apa yang
mungkin didapatkan pada foto thorax?
a. Adanya lesi spesifik pada paru kanan atas
b. Tidak ditemukannya kelainan
c. Adanya bronchopneumonia
Adanya TB milier
2. Anak 4 tahun 5 hari yang lalu tersedak kacang goreng, KU: baik, VS: normal tidak sesak
nafas, kadang2 batuk, pada pemeriksaan fisik tidak di dapatkan kelainan, pada
pemeriksaan radiologi di dapatkan perselubungan pada:
a. Bronkus
b. Bronkiolus
c. Alveolus
d. Trachea
Note:
- Dokternya juga agak bingung kasus ini pasalnya tersedak kacang goreng tetapi tidak
sesak nafas dan pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

38

- Cuma kalau dipaksa harus jawab, saluran pernafasan yang besar diaman apabila ada
kacang goreng ―kecil‖ tidak menyebabkan sesak ya kemungkinan bronkus.

3. Seorang anak perempuan, 6 bulan, BB 6,5 kg, dibawa ke UGD dengan keluhan sesak nafas.
Tiga hari sebelumnya pasien mengalami demam tidak tinggi, batuk berdahak, pilek diikuti
sesak yang semakin hebat. Tidak ada riwayat sesak nafas sebelumnya. Pada pemeriksaan
fisik paru didapatkan hipersonor, eksperium memanjang, mengi dan ronki basah nyaring.
Foto polos dada menunjukkan gambaran hiperaerasi, diameter anteroposterior memanjang
pada foto lateral, infiltrat peribronchial, dan patchy infiltrat. Diagnosis yang tepat untuk
pasien ini adalah :
A. Bronkopneumonia
B. Bronkiolitis
C. Asma bronkiale
D. Pertusis
E. Pneumothorax

4. Laki-laki 60 tahun keluhan sesak nafas disertai batuk berdahak. Pemeriksaan fisik ditemukan
barrel chest, sianosis, wheezing pada kedua lapangan paru. Pada rontgen didapatkan
hiperinflasi paru kanan dan kiri dan tidak ditemukan fibrosis. Dx?
a. Asma
b. Emfisema
c. Bronkhiektasis
d. Bronkhitiskronis
e. Bronchopneumonia
Note:
- Gambaran rontgen hiperinflasi pada paru kanan dan kiti, tapi tidak terdapat fibrosis
ditambah juga pasien merupakan perokok berat maka diagnosis pasien ini adalah PPOK.
- PPOK ada 2 jenis yaitu bronkitis kronis dan emfisema, dengan ciri adanya barrel chest
merupakan khas dari bronkitis kronis.

5. Anak laki-laki 5 bulan mengeluh sesak nafas sejak…hari sebelum masuk rumah sakit.
Terdapat retraksi sternal +, cuping hidung +, frekuensi nadi 56x/menit dan terdapat gambaran
cobblestone di kedua lapangan paru. Diagnosis pasien ini?
a. Bronkiolitis
b. Pneumonia lobaris
c. Bronchopneumonia
d. Asma
e. Pertusis
Note:
Cobblestone = hiperaerasi  ditemukan pada bronkiolitis
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

39


6. Seorang laki-laki usia 45 tahun mengeluh batuk dan sesak nafas selama 2 minggu. Batuk
berdahak seperti karat. Tanda vital dalam batas normal. Kemudian dilakukan pemeriksaan
radiologis dan diperoleh gambaran honeycomb appearance.
Apa diagnosisnya?
a. Bronkopneumonia
b. Bronkiektasis
c. Pneumonia lobaris
d. (lupaaa…)
e. TBC

7. Pasien post KLL terdapat discontinuitas costae V-VII Dextra Belakang, sekarang terasa
sesak. Gambar Ro ditemukan cairan pada sinus dextra dan hiperlusen tanpa vaskularisasi
dextra, kemungkinan diagnosa adalah...
A. Hemothorax Dx
B. Pneumothorax Dx
C. Hidropneumothorax Dx
Note: dokternya milih ―hematopneumothorax‖ dan tidak ada pilihan jawabannya.

8. Laki-laki datang dengan keluhan sesak nafas sejak 1 minggu lalu. Usia 65 tahun. Batuk
produktif, dahak kental warna putih, demam, sering keringat dingin malam hari. Pasien
menderita batuk kambuhan ini sejak 5 tahun yang lalu. Rontgen adanya pendataran sudut
recesus diafragmaticus. Kelainan paru apakah yang paling mungkin terjadi?
A. Pnemothorax
B. Hemithorax
C. Efusi pleura  komplikasi dari TB
D. Atelektasis
E. Emfisema

9. Laki-laki berusia 30 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak nafas dan batuk yang
berlangsing lama. Tidak hilang dengan istirahat atau perubahan posisi. Keluhan di sertai
demam hilang timbul. Pada radiologi di temukan diaghfragma dan sinus kiri menghilang.
Diagnosis yang mungkin adalah?
a. Pneumotorak
b. Efusi pleura
c. Pneumonia tepatnya pneumonia lobaris
d. Bronkitis
e. Bronkiektasis
Note:
- Sesak nafas yang jika perubahan posisi tambah enak  efusi pleura.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

40


10. Seorang laki laki usia 45 tahun, dengan keluhan sesak nafas, demam, kadang-kadang batuk,
pada foto thorax PA didapatkan gambaran cavitas dilapangan tengah kanan, berdinding
agak tebal, dinding dalam rata, berdiameter 6 cm disertai adanya air fluid level di
dalamnya. Diagnosa radiologis yang mungkin ialah :
a. abcsess paru
b. bronchogenic carsinoma
c. koch pulmonum
d. fungus ball
e. kista pulmonum

11. Seorang laki-laki berusia 55 tahun dibawa ke bagian emergensi RS dengan keluhan sesak
nafas dengan sedikit batuk-batuk sejak 1 minggu yang lalu. Panas badan tidak jelas, tidur
biasa dengan 2 bantal, hasil laboratorium pemeriksaan leukosit berjumlah 8000. Pada foto
thorax didapatkan penebalan garis selta di lapang bawah paru, peribronchial menebal,
terlihat apex jantung melebihi garis midclavicular sinistra, sudut costophrenicus tumpul,
berselubung. Apakah diagnosis radiologik yang paling tepat untuk pasien ini?
a. TBC paru
b. Pneumonia danefusi pleura
c. Efusi pleura
d. Edema intertisialdanefusi pleura
e. Edema alveolar danefusi pleura
Note :
penebalan garis selta di lapang bawah paru, peribronchial menebal  kerley line B 
tanda edema intersititial pada edam pulmo (derajat 3).

12. Seorang laki-laki 60 tahun dirawat inap di RS dengan batuk dan sesak nafas memberat,
disertai riwayat HT. suhu normal, nadi 100x/menit, nafas 21x/menit, TD 160/100 mmHg,
ketinggalan gerak sinistra, redup pada hemithorax sinistra, suara nafas sinistra menurun,
batas jantung melebar, dan edema kaki. Tidak didapatkan kelainan ada darah rutin. Hasil
rontgen dada posisi tegak menunjukkan adanya perselubungan opak dengan sinus
costrofrenikus menumpul, gambaran opasitas mengikuti perubahan posisi. Apa dx yang
sesuai dengan gambaran radiologis tsb?
A. Keganasan paru
B. Pneumonia
C. Pneumothorax
D. Efusi pleural sinistra
E. Hernia diafragmatika
Note: Gambaran opasitas mengikuti perubahan posisi  efusi pleura. Kemungkinan pada
pasien ini adalah komplikasi dari decompensatio cordis yang dideritanya.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

41

13. Pasien laki-laki 64 tahun. Riwayat merokok (-), anemis, tampak kurus. Gambaran radiologis
thorax: sinus dan diafragma tampak perselubungan. Kemungkinan diagnosis?
a. TBC
b. tumor paru
c. bronchitis
d. ...

14. Nyeri dada kiri setelah batuk untuk beberapa saat lamanya. Kurus, anemis, suhu 38
o
C. Suara
paru kiri (-). Rontgen thorax terdapat gambaran sinus dan tidak ada gambaran diafragma
kiri. Diagnosis…
a. asma
b. bronchitis
c. pneumonia
d. tumor paru
e. TBC
15. Anak umur 5 tahun, kejang demam, batuk kering, tidak biru-biru. Pemeriksaan lainnya dalam
batas normal kecuali LED I&II = 15 & 20. X foto terdapat kardiomegali, apex di atas
diafragma, corakan pulmo meningkat, hilus melebar. Diagnosis:
a. VSD
b. ASD
c. VSD+ASD
d. PDA
e. Mitral regurgitasi
Note:
- Penyakit jantung bawaan yang asianosis contohnya ASD dan VSD sedangkan PDA
sianosis  bisa dieliminasi.
- Prinsipnya apabila ada pembesaran jantung ke kanan  ASD, sedangkan jika ada
pembesaran jantung ke kiri  VSD.
Apex diatas diafragma  apex terangkat  hipertrofi ventrikel kanan  ASD
5. Perempuan 25 tahun ke dokter umum dengan sesak napas hilang timbul yang dipengaruhi
cuaca. Pada pemeriksaan fisik ditemukan wheezing (+), rontgen paru-paru normal.
Pemeriksaan penunjang yang tepat untuk diagnosis adalah …
a. Peak flow meter
b. Uji reversibilitas
c. Sputum BTA
d. Pungsi pluera percobaan
e. Kultur sputum dan sensitivitas
Pembahasan :
Gejala di atas khas untuk asma bronkiale dimana sesak napas hilang timbul disertai dengan
wheezing. Pemeriksaan penunjang pada asma meliputi :
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

42

a. Spirometri / peak flow meter  merupakan cara yang paling cepat dan
sederhana untuk menegakkan diagnosis asma dengan melihat respon pengobatan
dengan bronkodilator, Pemeriksaan spirometri ini dilakukan sebelum dan sesudah
pemberian bronkodilator hirup gol. Beta adrenergik. Diagnosis asma ditegakan
bila nilai VEP < 80%, serta terdapat Peningkatan VEP dan KVP 20% setelah
pemberian bronkodilator. Pemeriksaan spirometri selain untuk menegakkan
diagnosis juga penting untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan.
b. Uji provokasi bronkus  untuk menunjukkan adanya hiperaktivitas bronkus yaitu
dengan pemberian histamin, udara dingin, kegiatan jasmani,dsb. Penurunan VEP
> 20% dianggap bermakna untuk diagnosis asma.
c. Pemeriksaan sputum  ditemukan sputum eosinofil, kristal Charcot Leyden dan
spiral Curschmann
d. Uji Kulit  untuk menunjukkan adanya IgE spesifik dalam tubuh
e. Px kadar IgE total dan spesifik dalam sputum
f. Foto Thorax  lebih untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis obstruksi lain.
Pada asma biasanya gambarannya normal bila tidak dalam serangan, tetapi bila
saat serangan bisa ditemukan gambaran hiperlusensi, sela iga melebar (gambaran
emfisematous)
g. Analisis gas darah  dilakukan pada asma berat, pada fase awal sering timbul
hipoksemia dan hiperkapnia. Dan pada fase berat bisa disertai dengan asidosis
respiratorik
Sumber IPD
UI Jilid I

SOAL TRY OUT DI UGM
6. Seorang pria 48 tahun, mengeluh nyeri dada kiri yang menjalar ke rahang kiri dan lengan kiri
secara tiba-tiba saat pasien sedang main tenis. Nyeri dirasakan sekitar 15 menit, setelah itu
menghilang. Pasien seorang perokok dan punya riwayat hipertensi. Apa pemeriksaan
penunjang yang tepat untuk menegakkan diagnosis?
a. EKG saat latihan
b. EKG saat istirahat
c. Ekokardiografi
d. USG
e. Foto thorax
Pembahasan :
Nyeri dada kiri yang menjalar ke lengan dan rahang menunjukkan Angina Pectoris, dan
karena serangan terjadi setelah aktivitas dan durasi 15 menit lebih menunjukkan diagnosis
angina pectoris stabil. Angina pectoris adalah rasa nyeri yang disebabkan karena iskemia
miokardium, biasanya mempunyai karakteristik :
- Lokasinya biasanya di dada, substernal atau sedikit di kirinya yang menjalar ke leher,
rahang, bahu kiri sampai lengan dan jari-jari bagian ulnar, punggung/pundak kiri.
- Kualitas nyeri merupakan nyeri tumpul seperti tertindih, rasa desakan yang kuat dari
dalam atau bawah diafragma, dan biasanya keadaan berat disertai keringat dingin dan
sesak napas serta perasaan takut mati. Nyeri biasanya berhubungan dengan aktivitas,
hilang dengan istirahat. Nyeri juga dipicu oleh stres fisik maupun emosional.
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

43

- Kuantitas : nyeri yang pertama kali timbul biasanya agak nyata, dari beberapa menit
sampai < 20 menit. Bila > 20 menit dan berat maka harus dipertimbangkan angina
unstable (termasuk ACS/ acute coronary syndrome). Nyeri dapat hilang dengan
nitrogliserin sublingual dalam hitungan detik sampai menit. Nyeri tidak terus menerus,
tapi hilang timbul dengan intensitas bertambah atau berkurang sampai terkontrol. Nyeri
yang terus menerus sepanjang hari bahkan berhari-hari biasanya bukan angina pectoris.
Klasifikasi Nyeri dada :
Klas I  Nyeri dada timbul saat aktivitas berat
Klas II  Aktivitas sehari-hari agak terbatas
Klas III  aktivitas sehari-hari nyata terbatas
Klas IV  AP bisa timbul saat istirahat sekalipun.
Pemeriksaan fisik seringkali normal pada kebanyakan pasien. Mungkin pemeriksaan fisik
pada saat serangan dapat ditemukan : aritmia, gallop bahkan murmur, split S2 paradoksal,
ronki basah basal yang menghilang saat serangan reda. Pemeriksaan Laboratorium yang
diperlukan adalah Hb, Ht, AT dan pemeriksaan faktor resiko koroner seperti gula darah,
profil lipid, dan penanda seperti enzim CK-MB, CRP dan Troponin. Tetapi untuk
menentukan adanya iskemia miokardium sebaiknya dilakukan pula pemeriksaan penunjang
lain dengan urutan pemeriksaan yaitu :
- EKG waktu istirahat  dikerjakan bila belum tahu nyeri dada kardiak atau non kardiak.
Depresi ST-T 1 mm atau lebih merupakan penanda iskemia spesifik.
- EKG latihan  Penting dilakukan pada pasien yang sangat dicurigai, tapi bila
kemungkinan iskemiknya rendah maka tidak perlu dilakukan. Kontra indikasi pada AMI
kurang dari 2 hari, aritmia berat dengan hemodinamik terganggu, gagal jantung, emboli
paru, perikarditis dan miokarditis akut.
- Ekokardiografi  Dapat untuk menentukan luasnya iskemia bila dilakukan waktu nyeri
dada sedang berlangsung.
- Foto thorax  tidak terlalu spesifik hanya dapat untuk melihat kemungkinan adanya
kalsifikasi yang menunjukkan kalsifikasi ataupun gangguan katup.
Pemeriksaan yang lebih baik dilakukan adalah pemeriksaan EKG saat istirahat, karena lebih
mudah dan aman. Bila dilakukan EKG latihan , takutnya malah memicu nyeri dada dan bisa
timbul AMI.
7. Seorang laki-laki usia 16 tahun datang dengan keluhan sesak napas saat beraktivitas yang
sudah dialaminya selama 3 bulan. Pada saat dilakukan auskultasi didapatkan bunyi jantung 2
mengeras dan terdengar opening snap saat diastolik dengan nada rendah pada apicalis, serta
hepar tidak membesar. Yang terjadi pada pasien ini adalah...
A. Stenosis mitral
B. Regurgitasi mitral
C. Prolaps katup mitral
D. Stenosis aorta
E. Stenosis pulmonal
Pembahasan :
Opening snap (suara jantung pada awal diastolik yang ber nada tinggi paling baik didengar
pada batas kiri sternum dan apeks) saat diastolik  khas pada stenosis mitralis
Stenosis mitralis adalah kondisi terjadinya kekakuan pada katup mitral, sehingga aliran darah
dari atrium kiri ke
ventrikel kiri terhambat (karena menyempit). Maka khasnya adalah akan terdengar bising
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

44

diastolik di katup mitral.
Bunyi S1 mengeras oleh karena pengisian yang lama membuat tekanan ventrikel kiri
meningkat dan menutup
katup sebelum katup kembali ke posisinya. Di apeks bising diatolik ini dapat teraba sebagai
thrill. Biasanya terjadi
penjalaran bising ke kanan sehingga gambarannya seperti selendang dari kiri ke kanan.
Pada Regurgitasi mitral  terjadi bising sistolik di katup mitral/apeks, hal ini disebabkan
karena katup mitral yang
kendor membuat darah kembali ke atrium kiri dari ventrikel kiri saat sistolik. Bahkan bisa
terjadi bising
pansistolik/bising terdengar di semua katup saat sistolik. Penjalaran bising adalah ke axilla
kiri.
Prolaps katup mitral  sel-sel di katup mitral mati, sehingga terjadi gangguan. Biasa terjadi
pada penyakit jantung
rematik akibat post infeksi Streptokokus beta hemolitikus grup A. (tes ASTO +). Reaksi
autoimun.
Stenosis aorta  terdengar bising sistolik di katup aorta
Stenosis pulmonal  terdengar bising sistolik di katup pulmonal
Untuk mengingatkan :
Sistolik  saat darah dipompa dari ventrikel kiri ke seluruh tubuh atau dari ventrikel kanan
ke pulmo.
Diastolik  saat darah dipompa dari atrium ke ventrikel
8. Pria berusia 37 tahun datang ke IGD dengan keluhan lemes sejak 3 hari, jantung berdebar-
debar, kepala terasa ringan. Pada pemeriksaan didapatkan TD: 120/80, N: 124x/mnt,
irregular. Kebiasaan minum alkohol tetapi tidak narkoba. Apakah gambaran EKG yang
mungkin didapatkan?
a. Sinus takikardi
b. Kontraksi ventrikel premature
c. Atrial Fibrilasi
d. Kontraksi atrial prematur
e. Sinus aritmia
Pembahasan :
Pada kasus di atas terdapat keluhan lemas, jantung berdebar, pemeriksaan fisik didapat
takikardi dan irreguler. Maka kemungkinan gambaran EKG yang muncul adalah atrial
fibrilasi. Atrial fibrilasi merupakan aritmia yang sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari.
Penyakit yang berhubungan adalah PJK, kardiomiopati, penyakit katup jantung, perikarditis,
hipertensi sistemik, DM, hipertiroid, penyakit paru (PPOK, emboli paru), penyakit
neurogenik.
Evaluasi klinis pasien AF meliputi :
Anamnesis : tentukan gejala yang menyertai (berdebar-debar, lemah, sesak napas terutama
saat aktivitas, pusing, gejala yang menunjukkan adanya iskemia),dan harus diketahui juga
penyakit yang mendasarinya, misal penyakit jantung atau hipertiroid. Pada Pemeriksaan fisik
ditemukan irama jantung yang sama sekali tidak teratur dengan bunyi jantung yang
intensitasnya tidak sama. Seringkali didapat pulsus defisit (jumlah denyut nadi dan jantung
berbeda)
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

45

Terapi pada AF terutama adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan irama sinus
dengan pemberian obat antiaritmia c:/ beta bloker, digitalis, amiodaron, Ca antagonis. Selain
itu juga diberikan obat antitrombotik untuk mencegah komplikasi stroke emboli c:/ warfarin,
aspirin.

9. Seorang pria berusia 54 tahun datang kerumh sakit dengan keluhan sesak, dan nyeri dada,
pada pemeriksaan didapatkan gel LBBB, disertai ketidakteraturan irama jantung. Beberapa
saat kemudian pasien henti jantung. Menurut anda apa penyebab henti jantung tersebut?
a. Kebocoran aorta
b. Kegagalan hantaran listrik
c. Kebocoran otot jantung
d. Arterial fibrilasi
e. Heart block
Pembahasan :
Heart Block menunjukkan suatu keadaan dimana terjadi gangguan konduksi di nodus
AV. Berdasarkan pemeriksaan EKG blok AV dibagi 3 yaitu :
Blok AV derajat I  interval PR memanjang lebih dari 0,20 detik, biasanya tak
membutuhkan terapi apa-apa dan prognosisnya baik
Blok AV derajat II  kegagalan impuls dari atrium untuk mencapai ventrikel secara
intermitten, sehingga denyut ventrikel berkurang, kelainan dapat timbul sementara dan
kembali normal atau berkembang jadi komplit, biasanya dapat tejadi sinkop sehingga
sebaiknya dipasang pacu jantung
Blok AV derajat III  blok jantung komplit, sehingga impuls dari atrium sama sekali tak
dapat sampai ke ventrikel sehingga ventrikel berdenyut sendiri karena stimulasi impuls yang
berasal dari ventrikel sendiri. Biasanya sudah menimbulkan gangguan hemodinamik dan
menimbulkan keluhan lelah, sinkop, sesak dan angina pada usia lanjut, sehingga sebaiknya
dipasang pacu jantung.
Pada kasus di atas pasien mempunyai gambaran gel LBBB (Left Bundle Branch Block)
yang menunjukkan adanya gangguan konduksi di cabang kiri. Pada pemeriksaan EKG
biasanya muncul bentuk rsR atau R yang lebar di I, aVL, V5 dan V6. Gangguan konduksi
yang terjadi pada divisi anterior cabang kiri akan menyebabkan perubahan aksis menjadi
deviasi ke kiri yang ekstrim (left anterior hemiblock). Pasien dengan LBBB seringkali tak ada
keluhan dan tidak membutuhkan pacu jantung. Tapi bila ada sinkop atau timbul gangguan
konduksi lebih berat seperti AV blok II atau III maka perlu dipasang pacu jantung.
Karena pasien mempunyai gambaran LBBB, dan mengalami henti jantung tiba-tiba,
maka kemungkinan besar pasien mengalami heart block.
Sumber IPD Jilid III
Tambahan :
SUKSES UKDI 2005 Buletin II

46


Related Interests