1

SISTEM REPRODUKSI
dr. Simon Marpaung, M.Kes
Departemen Fisiologi
Fakultas Kedokteran
Universitas HKBP Nommensen
Medan



2
FISIOLOGI REPRODUKSI PRIA
Suhu di dalam skrotum rata-rata adalah
beberapa derajat Celcius lebih rendah
daripada suhu tubuh (inti) normal. Penurunan
testis ke lingkungan yang lebih dingin ini
sangat penting karena spermatogenesis
adalah proses yang peka suhu dan tidak
Letak testis di dalam skrotum
menghasilkan lingkungan yang lebih
dingin yang penting untuk
spermatogenesis.
3
dapat berlangsung pada suhu tubuh normal.
Dengan demikian, seorang kriptorkid tidak
dapat menghasilkan sperma hidup.
4
Sel Leydig testis mengeluarkan
testosteron yang menyebabkan
maskulinisasi.
Testis melaksanakan 2 fungsi, yaitu
menghasilkan sperma dan mengeluarkan
testosteron. Sekitar 80% massa testis terdiri
dari tubulus seminiferosa yang berkelak-
kelok, yang di dalamnya berlangsung
spermatogenesis. Sel-sel endokrin yang
mengeluarkan testosteron – sel Leydig atau
sel interstisium – terletak di jaringan ikat

5
(jaringan interstisium) antara tubulus-tubulus
seminiferosa.
Sel-sel Leydig mengandung enzim-enzim
dengan konsentrasi tinggi yang diperlukan
untuk mengarahkan kolesterol mengikuti jalur
yang menghasilkan testosteron. Setelah
dihasilkan, sebagian testosteron disekresikan
ke dalam darah untuk diangkut, terutama
dengan terikat ke protein plasma, ke jaringan
sasaran. Sebagian testosteron yang baru
diproduksi mengalir ke lumen tubulus
6
seminiferosa, tempat hormon ini memainkan
peranan penting dalam spermatogenesis.
Efek testosteron dapat dibagi menjadi 5
kelompok, yaitu :
1. Efek pada sistem reproduksi sebelum lahir.
2. Efek pada jaringan spesifik-seks setelah
lahir.
3. Efek lain yang terkait dengan reproduksi.
4. Efek pada karakteristik seks sekunder.
5. Efek yang tidak berkaitan dengan
reproduksi.

7
Spermatogenesis menghasilkan
sperma yang bergerak, sangat
spesifik, dan dalam jumlah besar.
Di dalam tubulus ini terdapat 2 jenis sel
penting yaitu :
1. Sel germinativum, yang sebagian besar
berada dalam berbagai tahap
perkembangan sperma.
2. Sel Sertoli, yang sangat penting dalam
menunjang spermatogenesis.
Spermatogenesis adalah suatu proses
kompleks berikut : sel germinativum
8
primordial yang relatif tidak berdiferensiasi,
spermatogonia (yang masing-masing
mengandung komplemen diploid 46
kromosom), berpoliferasi dan diubah menjadi
spermatozoa (sperma).
Spermatogenesis memerlukan waktu 64 hari.
Setiap hari beberapa ratus juta sperma
mencapai kematangan.
Spermatogenesis mencakup 3 tahapan utama,
yaitu proliferasi mitotik ; meiosis ; dan
pengemasan.
9
Spermatogonia yang terletak di lapisan paling
luar tubulus secara terus menerus membelah
dengan cara mitosis. Pada manusia, sel anak
yang menghasilkan sperma membelah diri
secara mitosis 2 kali untuk membentuk 4
spermatosit primer yang identik.
Proliferasi Mitotik
10
Selama meiosis, setiap spermatosit primer
(dengan 46 kromosom ganda) membentuk 2
spermatosit sekunder (masing-masing
dengan 23 kromosom ganda) selama
pembelahan meiosis pertama, yang akhirnya
menghasilkan 4 spermatid (masing-masing
dengan 23 kromosom tunggal) sebagai hasil
pembelahan meiosis kedua.
Meiosis
11
Pembentukan spermatozoa yang dapat
bergerak dan bersifat sangat spesifik dari
spermatid memerlukan remodeling ekstensif,
atau pengemasan (packing), unsur-unsur sel,
suatu proses yang dikenal sebagai
spermiogenesis. Spermatozoa memiliki 4
bagian, yaitu kepala, akrosom, bagian tengah,
dan ekor. Kepala terutama terdiri dari nukleus,
yang mengandung informasi genetik sperma.
Akrosom, suatu vesikel berisi enzim di ujung
Pengemasan
12
kepala, digunakan sebagai “bor enzimatik”
untuk menembus ovum. Pergerakan ekor,
yang terjadi akibat pergeseran relatif
mikrotubulus-mikrotubulus konstituennya,
dijalankan oleh energi yang dihasilkan oleh
mitokondria yang terkonsentrasi di bagian
tengah sperma.
13
Selama masa perkembangannya, sel
sperma berhubungan erat dengan
sel Sertoli.
Sel-sel Sertoli melaksanakan fungsi-fungsi
berikut yang esensial untuk spermatogenesis:
1. Taut erat antara sel-sel Sertoli yang
berdekatan membentuk sawar darah-testis.
Karena sawar ini mencegah bahan-bahan
yang terdapat di dalam darah masuk ke
dalam lumen tubulus. Sawar darah-testis
juga mencegah sel-sel penghasil antibodi
di cairan ekstrasel mencapai tubulus
14
penghasil sperma, sehingga mencegah
pembentukan antibodi terhadap
spermatozoa yang telah berdiferensiasi
lebih lanjut.
2. Karena sel-sel sperma yang sedang
berkembang tidak memiliki akses langsung
ke nutrien-nutrien di dalam darah, sel-sel
Sartolilah yang memberi makan sperma.
3. Sel-sel Sertoli memiliki fungsi fagositik
penting.
4. Sel-sel Sertoli mengeluarkan cairan tubulus
seminiferosa ke dalam lumen, yang
“menggelontor” sperma dari tubulus ke


15
dalam epididimis untuk disimpan dan
diolah lebih lanjut.
5. Suatu komponen penting sekresi Sertoli
adalah protein pengikat androgen
(androgen-binding protein). Protein ini
mengikat androgen (yaitu testosteron),
sehingga kadar hormon ini di dalam lumen
tubulus seminiferosa tetap tinggi.
Konsentrasi testosteron lokal yang tinggi
ini penting untuk mempertahankan
produksi sperma.
6. Sel-sel Sertoli adalah tempat kerja
testosteron dan follicle-stimulating
16
hormone (FSH) untuk mengontrol
spermatogenesis. Sel-sel Sertoli itu sendiri
mengeluarkan hormon lain, yakitu inhibin,
yang bekerja dengan mekanisme umpan-
balik negatif untuk mengatur sekresi FSH.
17
Testis dikontrol oleh 2 hormon gonadotropik
yang disekresikan oleh hipofisis anterior,
luteinizing hormone (LH) dan follicle-
stimulating hormone (FSH). Kedua hormon ini
bekerja pada komponen-komponen testis
yang berbeda. Luteinizing hormone bekerja
pada sel Leydig untuk mengatur sekresi


Kedua hormon gonadotropik
hipofisis anterior, LH dan FSH,
mengontrol sekresi testosteron dan
spermatogenesis.
18
testosteron. Follicle-stimulating hormone
bekerja pada tubulus seminiferosa, terutama
di sel Sertoli, untuk meningkatkan
spermatogenesis. Sinyal inhibitorik testis
yang secara spesifik ditujukan untuk
mengontrol sekresi FSH adalah hormon
peptida inhibin, yang disekresikan sel Sertoli.
Baik testosteron maupun FSH berperan
penting dalam mengontrol spermatogenesis,
yang masing-masing melaksanakan efeknya
dengan mempengaruhi sel Sertoli.
19
Kelenjar seks tambahan
menghasilkan sebagian besar cairan
semen.
Sekresi kelenjar seks tambahan sangat
membantu proses pembuahan.
Vesikula seminalis :
1. Menghasilkan fruktosa, yang berfungsi
sebagai sumber energi utama untuk
sperma yang dikeluarkan.
2. Mengeluarkan prostaglandin yang
diperkirakan merangsang kontraksi otot
polos di saluran reproduksi pria dan wanita
20
sehingga sperma lebih mudah dipindahkan
dari tempat penyimpanan di pria ke tempat
pembuahan di oviduktus wanita.
3. Membentuk lebih dari separuh semen.
4. Mengeluarkan fibrinogen, suatu prekursor
fibrin, yang membentuk jaringan bekuan.
 Kelenjar prostat :
1. Mengeluarkan cairan alkalis yang
menetralkan sekresi vagina yang asam,
suatu fungsi penting karena sperma lebih
dapat bertahan hidup dalam lingkungan
yang sedikit basa.

21
2. Menghasilkan enzim-enzim pembekuan dan
fibrinolisin.
 Selama perangsangan seksual, kelenjar
bulbouretra mengeluarkan zat mirip mukus
yang menghasilkan lubrikasi untuk
hubungan kelamin.
22
Prostaglandin adalah zat perantara
kimiawi yang banyak ditemukan dan
bekerja lokal.
Pembentukan dan kerja prostaglandin tidak
terbatas di sistem reproduksi. Prostaglandin
(dan turunan asam arakidonat lain yang
terkait erat yang untuk kemudahan sering
dimasukkan dalam kategori prostaglandin,
yaitu prostasiklin, tromboksan, dan
leukotrien) merupakan salah satu senyawa
yang paling aktif secara biologis.
23
FISIOLOGI REPRODUKSI WANITA
Ovarium, sebagai organ reproduksi primer
wanita, melakukan tugas ganda, yaitu
menghasilkan ovum (oogenesis) dan
mengeluarkan hormon-hormon seks wanita,
estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini
bekerja bersama untuk mendorong fertilisasi
ovum dan untuk mempersiapkan sistem
reproduksi wanita untuk kehamilan. Estrogen
Siklus kompleks menandai fisiologi
reproduksi wanita.
24
pada wanita bertanggung jawab untuk
berbagai fungsi yang serupa dengan yang
dilakukan oleh testosteron pada pria,
misalnya pematangan dan pemeliharaan
seluruh sistem reproduksi wanita serta
pembentukan karakteristik seks sekunder
wanita. Estrogen penting untuk pematangan
dan pengeluaran ovum, pembentukan
berbagai karakteristik fisik yang menarik
perhatian pria secara seksual, dan
mengangkut sperma dari vagina ke tempat
25
fertilisasi di oviduktus. Selain itu, estrogen
ikut berperan dalam perkembangan payudara
sebagai antisipasi laktasi. Steroid ovarium
lain, progesteron, penting untuk
mempersiapkan lingkungan yang sesuai
untuk merawat mudigah/janin yang sedang
tumbuh dan berperan dalam kemampuan
payudara menghasilkan susu.
Potensi reproduksi wanita berhenti pada usia
pertengahan saat tercapainya menopause.
26
Oogonium (setara dengan spermatogonium),
membelah diri secara mitosis untuk
menghasilkan sekitar 6 – 7 juta oogonia pada
bulan kelima masa gestasi, saat proliferasi
mitotik berhenti. Sel-sel yang terbentuk, yang
Pembelahan kromosom pada
oogenesis setara dengan pada
spermatogenesis, tetapi pada
gametogenesis terdapat perbedaan
seksual kuantitatif dan kualitatif
yang cukup bermakna.
27
dikenal sebagai oosit primer, mengandung 46
kromosom replikasi, yang berkumpul dalam
pasangan-pasangan homolog tetapi belum
memisah. Sebelum lahir, setiap oosit primer
dikelilingi oleh sebuah lapisan sel granulosa
untuk membentuk folikel primer. Oosit yang
tidak membentuk folikel akan berdegenerasi,
dan saat lahir hanya sekitar 2 juta folikel
primer yang tersisa, masing-masing berisi 1
oosit primer yang mampu menghasilkan
sebuah ovum. Dari folikel-folikel ini, hanya


28
sekitar 400 akan matang dan mengeluarkan
ovum. Dari pubertas sampai menopause,
sebagian dari kumpulan folikel mulai
berkembang menjadi folikel sekunder (atau
antrum) secara siklis. Sesaat sebelum ovulasi,
oosit primer yang nukleusnya berada dalam
henti meiosis selama bertahun-tahun,
menyelesaikan pembelahan meiosisnya yang
pertama. Pembelahan ini menghasilkan 2 sel
anak, masing-masing menerima 1 set yang
terdiri dari 23 kromosom ganda. Hampir

29
semua sitoplasma berada bersama salah satu
sel anak yang sekarang disebut sebagai oosit
sekunder dan ditakdirkan menjadi ovum.
Kromosom di sel anak lainnya dengan sedikit
bagian sitoplasma membentuk badan polar
pertama. Dengan cara ini, calon ovum
kehilangan separuh dari kromosomnya untuk
membentuk sebuah gamet haploid, tetapi
mempertahankan semua sitoplasmanya yang
kaya nutrien.
30
Selama pembelahan ini, separuh set
kromosom bersama sedikit sitoplasma
disingkirkan sebagai badan polar kedua.
Separuh set kromosom lainnya, yaitu 23
kromosom tanpa pasangan, tertinggal dalam
apa yang sekarang disebut sebagai ovum
matang. Keduapuluhtiga kromosom maternal
ini menyatu dengan 23 kromosom paternal
dari sperma yang masuk untuk
menyelesaikan fertilisasi.
31
Siklus ovarium terdiri dari fase
folikel dan luteal yang berselang-
seling.
Setelah awitan pubertas, ovarium secara terus
menerus berada dalam 2 fase secara
bergantian, yaitu :
1. Fase folikel, yang didominasi oleh adanya
folikel matang.
2. Fase luteal, yang ditandai oleh adanya
korpus luteum.
Siklus ovarium rata-rata berlangsung selama
28 hari. Folikel bekerja pada separuh
32
pertama siklus untuk menghasilkan sebuah
telur matang yang siap berovulasi di
pertengahan siklus. Korpus luteum
mengambil alih peran pada paruh kedua
siklus untuk mempersiapkan saluran
reproduksi wanita untuk kehamilan apabila
terjadi pembuahan terhadap telur yang
dikeluarkan.
Pertama, selapis sel-sel granulosa di folikel
primer berpoliferasi untuk membentuk
beberapa lapisan mengelilingi oosit. Sel-sel
33
granulosa ini mengeluarkan bahan kental
mirip gel yang membungkus oosit dan
memisahkannya dari sel-sel granulosa di
sekitarnya. Membran penghalang ini dikenal
sebagai zona pelusida. Pada saat yang sama,
sel-sel jaringan ikat khusus di ovarium di tepi
folikel yang sedang tumbuh berpoliferasi dan
berdiferensiasi untuk membentuk suatu
lapisan luar, yaitu sel-sel teka. Sel teka dan
granulosa, yang secara kolektif disebut sel
folikel berfungsi sebagai satu kesatuan untuk
34
mensekresikan estrogen. Dari 3 estrogen
yang penting secara fisiologis – estradiol,
estron, dan estriol – estradiol adalah estrogen
utama dari ovarium.
Stadium perkembangan folikel ini ditandai
oleh pembentukan antrum yang berisi cairan
di bagian tengah sel-sel granulosa.
Pertumbuhan folikel ini disebabkan oleh
proliferasi terus-menerus sel-sel granulosa
dan teka, tetapi sebagian besar disebabkan
oleh ekspansi antrum yang drastis. Salah satu
35
folikel biasanya tumbuh lebih cepat daripada
folikel-folikel lain, berkembang menjadi folikel
matang (praovulasi, tersier, atau de Graaf)
dalam waktu sekitar 14 hari setelah permulaan
perkembangan folikel. Folikel matang yang
sangat berkembang tersebut menonjol dari
permukaan ovarium, membentuk suatu
daerah tipis yang pecah untuk mengeluarkan
oosit pada saat ovulasi. Sel-sel folikel tua ini
kemudian mengalami transformasi struktural
drastis untuk membentuk korpus luteum,
36
dalam suatu proses yang disebut sebagai
luteinisasi. Perubahan-perubahan ini sesuai
dengan fungsi korpus luteum, yaitu
mengeluarkan progesteron dalam jumlah
besar bersama dengan estrogen dalam jumlah
yang lebih sedikit ke dalam darah. Jika ovum
yang dilepaskan tidak dibuahi dan tidak
tertanam, korpus luteum berdegenerasi dalam
14 hari setelah pembentukannya. Sel-sel
luteal berdegenerasi dan difagositosis,
pembuluh darah berkurang, dan jaringan ikat

37
dengan cepat terisi oleh massa jaringan
fibrosa yang dikenal sebagai korpus albikans
(“badan putih”).
Apabila terjadi pembuahan dan implantasi,
korpus luteum terus tumbuh serta
menghasilkan progesteron dan estrogen
dalam jumlah yang semakin meningkat.
Struktur ovarium yang sekarang disebut
korpus luteum kehamilan ini menetap sampai
akhir kehamilan.
38
Estrogen yang disekresikan, selain bekerja
pada jaringan spesifik seks, seperti uterus,
juga menghambat hipotalamus dan hipofisis
anterior melalui mekanisme umpan balik
negatif.
Siklus ovarium diatur oleh interaksi
kompleks berbagai hormon dari
hipotalamus, hipofisis anterior, dan
ovarium.
39
Fluktuasi kadar estrogen dan progesteron
dalam sirkulasi (plasma) yang terjadi selama
siklus ovarium menyebabkan perubahan-
perubahan mencolok di uterus. Hal ini
menyebabkan timbulnya daur haid atau siklus
uterus (siklus menstruasi). Namun, selama
siklus tersebut terjadi perubahan-perubahan
Perubahan di uterus yang terjadi
selama daur haid mencerminkan
perubahan hormon selama siklus
ovarium.
40
yang kurang nyata, ketika uterus dipersiapkan
untuk menerima implantasi ovum yang
dibuahi dan kemudian lapisannya dilepaskan
jika tidak terjadi pembuahan (haid). Uterus
terdiri dari 2 lapisan, yaitu :
1. Miometrium, lapisan otot polos di sebelah
luar.
2. Endometrium, lapisan bagian dalam yang
mengandung banyak pembuluh darah dan
kelenjar.
Estrogen merangsang pertumbuhan
miometrium dan endometrium. Hormon ini

41
juga meningkatkan sintesis reseptor
progesteron di endometrium. Di bawah
pengaruh progesteron, jaringan ikat
endometrium menjadi longgar dan edematosa
akibat penimbunan elektrolit dan air, yang
mempermudah implantasi ovum yang dibuahi.
Progesteron juga mempersiapkan
endometrium untuk menampung mudigah
yang baru berkembang dengan merangsang
kelenjar-kelenjar endometrium agar
mengeluarkan dan menyimpan glikogen

42
dalam jumlah besar dan dengan
menyebabkan pertumbuhan besar-besaran
pembuluh darah endometrium. Progesteron
juga menurunkan kontraktilitas uterus agar
lingkungan di uterus tenang dan kondusif
untuk implantasi dan pertumbuhan mudigah.
Daur haid terdiri dari tiga fase, yaitu :
1. Fase menstruasi (haid).
2. Fase proliferasi.
3. Fase sekresi atau progestasional.
43
Fase menstruasi adalah fase yang paling jelas
karena ditandai oleh pengeluaran darah dan
debris endometrium dari vagina. Penurunan
kadar hormon-hormon ovarium itu juga
merangsang pengeluaran prostaglandin
uterus yang menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh-pembuluh endometrium, sehingga
aliran darah ke endometrium terganggu.
Penurunan penyaluran O
2
yang terjadi
menyebabkan kematian endometrium,
termasuk pembuluh-pembuluh darahnya.
44
Perdarahan yang timbul melalui disintegrasi
pembuluh darah itu membilas jaringan
endometrium yang mati ke dalam lumen
uterus. Prostaglandin uterus juga
merangsang kontraksi ritmik ringan
miometrium. Kontraksi-kontraksi itu
membantu mengeluarkan darah dan debris
endometrium dari rongga uterus melalui
vagina sebagai darah haid. Kontraksi uterus
yang kuat akibat pembentukan prostaglandin
yang berlebihan merupakan penyebab kejang
45
haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian
wanita.
Setelah 5 – 7 hari di bawah pengaruh FSH dan
LH, folikel-folikel yang baru berkembang
mengeluarkan cukup banyak estrogen untuk
mendorong pemulihan dan pertumbuhan
endometrium.
Dengan demikian, haid berhenti dan fase
proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan
dengan bagian terakhir fase folikel ovarium
pada saat endometrium mulai memperbaiki
46
dirinya dan mengalami proliferasi di bawah
pengaruh estrogen yang berasal dari folikel-
folikel baru yang sedang tumbuh. Kadar
estrogen puncak memicu lonjakan LH yang
menyebabkan ovulasi.
Setelah ovulasi, pada saat sebuah korpus
luteum terbentuk, uterus memasuki fase
sekretorik atau progestasional, yang
bersamaan waktunya dengan fase luteal
ovarium. Korpus luteum mengeluarkan
sejumlah besar progesteron dan estrogen.
47
Progesteron bekerja pada endometrium tebal
yang sudah dipersiapkan oleh estrogen untuk
mengubahnya menjadi jaringan yang kaya
pembuluh dan glikogen. Periode ini disebut
fase sekretorik, karena kelenjar-kelenjar
endometrium secara aktif mengeluarkan
glikogen, atau fase progestasional (“sebelum
kehamilan”).
48
Penghentian daur haid seorang wanita pada
usia sekitar 45 – 55 tahun disebabkan oleh
terbatasnya pasokan folikel ovarium yang
terdapat saat lahir. Setelah reservoir ini habis,
siklus ovarium, dan tentu saja daur haid,
terhenti.
Menopause didahului oleh suatu periode
kegagalan ovarium progresif yang ditandai
oleh semakin seringnya daur yang tidak
teratur, penurunan kadar estrogen, serta
Perubahan Menopause
49
sejumlah perubahan fisik dan emosi.
Keseluruhan periode transisi dari kematangan
seksual sampai pada penghentian
kemampuan reproduksi dikenal sebagai
klimakterium. Tidak adanya estrogen ovarium
merupakan penyebab timbulnya perubahan-
perubahan pascamenopause, misalnya
kekeringan vagina, yang dapat menimbulkan
rasa tidak nyaman sewaktu berhubungan
kelamin, dan atrofi gradual organ-organ
Genitalia. Namun, wanita pascamenopause
50
tetap memiliki dorongan seks karena
androgen adrenal mereka. Masih tidak jelas
apakah gejala-gejala emosional yang
berkaitan dengan penurunan fungsi ovarium,
misalnya depresi dan iritabilitas, disebabkan
oleh penurunan estrogen atau merupakan
reaksi psikologis terhadap dampak
menopause.
51
Pembuahan, penyatuan gamet pria dan
wanita, dalam keadaan normal terjadi di
ampula, sepertiga atas oviduktus.
Oviduktus adalah temapt
pembuahan.
52
Ekor sperma digunakan untuk bermanuver
untuk penetrasi akhir ke ovum. Untuk
membuahi sebuah ovum, sebuah sperma
mula-mula harus melewati korona radiata dan
zona pelusida yang mengelilingi ovum
tersebut. Enzim-enzim akrosom, yang
terpajan saat membran akrosom rusak saat
sperma berkontak dengan korona radiata,
memungkinkan sperma membuat terowongan
menembus sawar-sawar protektif tersebut.
Pembuahan
53
Sperma hanya mampu menembus zona
pelusida setelah berikatan dengan reseptor
spesifik di permukaan lapisan ini. Sperma
pertama yang mencapai ovum itu sendiri
berfusi dengan membran plasma ovum
(sebenarnya suatu oosit sekunder), memicu
suatu perubahan kimiawi di membran yang
mengelilingi ovum sehingga lapisan ini tidak
lagi dapat ditembus oleh sperma lain.
Fenomena ini dikenal sebagai block to
polispermy (“banyak sperma”).
54
Kepala sperma yang berfusi secara bertahap
tertarik ke dalam sitoplasma ovum oleh suatu
kerucut tumbuh yang menelannya. Dalam
proses ini, ekor sperma sering lenyap, tetapi
kepala sperma yang membawa informasi
genetik yang krusial. Penetrasi sperma ke
dalam sitoplasma memicu pembelahan
meiosis akhir oosit sekunder. Dalam 1 jam,
nukleus sperma dan ovum menyatu. Selain
menyumbang separuh dari kromosom ke
ovum yang dibuahi, yang sekarang disebut
55
zigot, sperma pemenang ini juga
mengaktifkan enzim-enzim ovum yang
esensial untuk program pengembangan
embrionik dini.
56
Blastokista tertanam di endometrium
melalui kerja enzim-enzim
trofoblastiknya.
Selama 3 – 4 hari setelah pembuahan, zigot
tetap berada di dalam ampula. Zigot dengan
cepat mengalami sejumlah pembelahan sel
mitosis untuk membentuk bola padat sel-sel
yang disebut morula. Sementara itu, kadar
progesteron yang meningkat dari korpus
luteum yang baru terbentuk setelah ovulasi
merangsang pengeluaran glikogen dari
57
endometrium ke dalam lumen saluran
reproduksi untuk dipakai oleh mudigah dini
sebagai sumber energi. Sekitar 3 – 4 hari
setelah ovulasi, jumlah progesteron yang
dihasilkan sudah cukup untuk menyebabkan
oviduktus melemas, sehingga morula dapat
dengan cepat didorong ke dalam uterus oleh
kontraksi peristaltik dan gerakan silia
oviduktus.
Sewaktu turun ke uterus, morula terapung
bebas di dalam rongga uterus selama 3 – 4

58
hari. Morula tersebut hidup dari sekresi
endometrium dan terus membelah diri.
Selama 6 – 7 hari pertama setelah ovulasi,
sewaktu mudigah yang berkembang
berpindah dari oviduktus dan mengapung ke
dalam lumen uterus, endometrium secara
simultan dipersiapkan untuk implantasi di
bawah pengaruh progesteron fase luteal.
Selama waktu ini, uterus berada dalam fase
sekretorik atau progestasional, menimbun
glikogen dan mengandung banyak pembuluh
59
darah.
Dalam keadaan normal, pada saat
endometrium siap diimplantasikan (sekitar
seminggu setelah ovulasi), morula telah turun
ke uterus dan terus berproliferasi dan
berdiferensiasi menjadi blastokista yang
mampu melakukan implantasi. Blastokista
adalah 1 lapis sel-sel berbentuk bola (sferis)
yang mengelilingi suatu rongga berisi cairan
dengan massa padat sel-sel berkelompok di
satu sisi. Massa padat ini, yang disebut
60
massa sel dalam (inner cell mass), akan
menjadi janin itu sendiri. Lapisan tipis paling
luar, yaitu trofoblas, bertanggung jawab
menyelesaikan implantasi, dan setelah itu
berkembang menjadi bagian janin dari
plasenta. Rongga berisi cairan, blastokel,
akan menjadi kantung amnion, yang
mengelilingi dan menjadi bantalan bagi janin
selama kehamilan. Implantasi dimulai ketika
sel-sel trofoblastik yang melapisi massa sel
dalam mengeluarkan enzim-enzim proteolitik
61
sewaktu berkontak dengan endometrium.
Enzim-enzim ini mencerna jalan di antara sel-
sel endometrium, sehingga genjel-genjel sel-
sel trofoblas yang berbentuk seperti jari dapat
menembus ke kedalaman endometrium,
tempat sel-sel tersebut terus mencerna sel
uterus. Melalui efek kanibalnya, trofoblas
melaksanakan fungsi ganda, yaitu :
1. Menyelesaikan implantasi sewaktu
membuat lubang di endometrium untuk
blastokista.
62
2. Menyediakan bahan bakar metabolik serta
bahan-bahan dasar untuk mudigah yang
sedang berkembang karena sel-sel
trofoblastik menguraikan jaringan
endometrium yang kaya akan gizi.
Sebagai respons terhadap zat perantara
kimiawi yang dikeluarkan oleh blastokista,
sel-sel endometrium mengeluarkan
prostaglandin, yang bekerja secara lokal
untuk meningkatkan vaskularisasi,
menyebabkan edema, dan meningkatkan
simpanan zat gizi. Jaringan endometrium
63
yang mengalami modifikasi tersebut disebut
desidua. Ke dalam jaringan desidua yang
super kaya inilah blastokista tertanam.
64
Untuk mempertahankan mudigah/janin yang
sedang tumbuh selama hidup di uterus,
terbentuk plasenta suatu organ khusus untuk
pertukaran antara darah ibu dan janin.
Plasenta berasal dari jaringan trofoblastik dan
desidua. Pada hari ke-12, mudigah sudah
terbenam seluruhnya di desidua. Saat ini
lapisan trofoblastik sudah mencapai
ketebalan 2 lapisan dan disebut korion.

Plasenta adalah organ pertukaran
antara darah ibu dan janin.
65
Karena terus mengeluarkan enzim dan
meluas, korion membentuk suatu jaringan
rongga-rongga yang meluas di dalam
desidua. Dinding kapiler-kapiler desidua
mengalami erosi akibat ekspansi korion
sehingga rongga-rongga tersebut terisi oleh
darah ibu, yang tidak dapat membeku karena
adanya antikoagulan yang dihasilkan oleh
korion. Mudigah yang berkembang dengan
segera mengirim kapiler ke tonjolan-tonjolan
korion untuk membentuk vilus plasenta.
Perubahan selama akhir gestasi
sebagai persiapan untuk
persalinan
Persalinan (partus, pelahiran) memerlukan
1. Dilatasi kanalis servikalis (pembukaan)
2. Kontraksi miometrium uterus yang cukup
kuat
66
67
Selama dua trimester pertama gestasi, uterus
relatif tetap tenang, karena efek inhibitorik
progesteron kadar tinggi pada otot
miometrium. Selama trimester terakhir,
uterus menjadi semakin peka rangsang
sehingga kontraksi ringan (kontraksi
Braxton-Hicks) dapat dialami dengan
kekuatan dan frekuensi yang bertambah.
Kadang kontraksi ini menjadi cukup teratur
sehingga disangka sebagai awitan
persalinan, suatu fenomena yang dinamai
“persalinan palsu”
68
Seiring dengan mendekatnya persalinan,
serviks mulai melunak (matang) akibat
disosiasi serat jaringan ikatnya yang kuat
(kolagen). Perlunakan serviks ini terutama
disebabkan oleh relaksin, suatu hormon
peptida yang dihasilkan oleh korpus luteum
kehamilan dan plasenta. Relaksin juga
melemaskan jalan lahir dengan
melonggarkan jaringan ikat antara tulang
tulang panggul. Janin bergeser kebawah
dan dalam keadaan normal terorientasi
sedemikian sehingga kepala berkontak
dengan serviks sebagai persiapan untuk
keluar melalui jalan lahir
Peran Ekstrogen Kadar Tinggi
• Selama awal gestasi, kadar estrogen ibu
relatif rendah, tetapi seiring dengan
kemajuan kehamilan, sekresi estrogen
plasenta terus meningkat.
• Pada hari hari tepat menjelang persalinan,
terjadi lonjakan kadar estrogen yang
menyebabkan perubahan pada uterus dan
serviks untuk mempersiapkan kedua
struktur ini untuk persalinan dan pelahiran.
69
70
Pertama, estrogen kadar tinggi mendorong
sintesis konekson didalam sel sel otot polos
uterus sehingga mereka mampu
berkontraksi secara terkoordinasi. Secara
bersamaan, estrogen kadar tinggi secara
drastis dan progresif meningkatkan
konsentrasi reseptor oksitosin di
miometrium. Bersama sama, perubahan
perubahan miometrium ini menyebabkan
responsivitas uterus terhadap oksitosin
meningkat yang akhirnya memicu
persalinan.
71
Selain mempersiapkan uterus untuk
persalinan, estrogen kadar tinggi juga
mendorong pembentukan prostaglandin
lokal yang berperan dalam pematangan
serviks dengan merangsang enzim enzim
serviks yang secara lokal menguraikan serat
kolagen. Selain itu, berbagai prostaglandin
itu sendiri meningkatkan responsivitas
uterus terhadap oksitosin.
PERAN OKSITOSIN
• Oksitosin adalah suatu hormon peptida
yang diproduksi oleh hipotalamus,
disimpan di hipofisis posterior, dan
dibebaskan kedalam darah dari hipofisis
posterior pada stimulasi saraf oleh
hipotalamus.
• Oksitosin, suatu perangsang otot uterus
yang kuat, berperan kunci dalam
kemajuan persalinan.
72
73
Responsivitas uterus terhadap oksitosin pada
aterm adalah 100 kali dibandingkan wanita
yang tidak hamil (karena meningkatnya
konsentrasi reseptor oksitosin miometrium).
Persalinan dimulai ketika konsentrasi
reseptor oksitosin mencapai suatu ambang
kritis yang memungkinkan awitan kontraksi
kuat terkoordinasi sebagai respons
terhadap kadar oksitosin darah yang biasa.
Tahap Persalinan
Persalinan dibagi menjadi 3 tahap
1. Dilatasi serviks
2. Pelahiran bayi
3. Pelahiran plasenta
Pada permulaan persalinan atau suatu
waktu pada tahap pertama, membran
yang membungkus kantung
amnion/kantung air pecah. Cairan amnion
(air ketuban) yang keluar dari vagina
membantu melumasi jalan lahir.
74
Tahap pertama
• Selama tahap pertama, serviks dipaksa
melebar untuk mengakomodasi garis
tengah kepala bayi, biasanya hingga
maksimal 10 cm. Tahap ini adalah yang
paling lama, berlangsung dari beberapa
jam sampai 24 jam pada kehamilan
pertama.
75
Tahap kedua
• Tahap kedua persalinan, pengeluaran bayi
yang sebenarnya, dimulai setelah dilatasi
(pembukaan) serviks lengkap. Ketika bayi
mulai bergerak melewati serviks dan
vagina, reseptor reseptor regang divagina
mengaktifkan suatu refleks saraf yang
memicu kontraksi dinding abdomen
secara sinkron dengan kontraksi uterus.
76
77
Tahap 2 biasanya jauh lebih singkat daripada
tahap pertama dan berlangsung 30 sampai
90 menit. Bayi masih melekat ke plasenta
oleh tali pusat saat lahir. Tali pusat ini diikat
dan dipotong, dengan puntung akan
menciut dalam beberapa hari untuk
membentuk umbilikus (pusar).
Tahap ketiga
• Segera setalah bayi lahir, terjadi rangkaian
kontraksi uterus kedua yang memisahkan
plasenta dari miometrium dan
mengeluarkannya melalui vagina.
Pelahiran plasenta, atau afterbirth,
merupakan tahap ketiga persalinan,
biasanya merupakan tahap paling singkat
yaitu selesai dalam 15 sampai 30 menit
setelah bayi lahir.
78
Involusi Uterus
• Setelah pelahiran, uterus menciut ke
ukuran pragestasinya, suatu proses yang
dikenal sebagai involusi, yang
berlangsung empat sampai enam minggu.
79
80
Selama involusi, jaringan endometrium yang
tertinggal dan tidak dikeluarkan bersama
plasenta secara bertahap mengalami
disintegrasi dan terlepas, menghasilkan duh
vagina yang disebuh lokia dan terus keluar
selama 3-6 minggu setelah persalinan. Involusi
terutama disebabkan oleh penurunan tajam
estrogen dan progesteron darah saat plasenta
sebagai sumber steroid ini keluar ketika
persalinan.
Laktasi memerlukan masukan
sinyal berbagai hormon
• Sistem reproduksi wanita menunjang
kehidupan bayi sejak konsepsi, semasa
gestasi, hingga tahap awal kehidupan di
luar rahim.
• Selama gestasi kelenjar mamaria, atau
payudara dipersiapkan untuk laktasi
(pembentukan susu)
81
Persiapan Payudara Untuk
Laktasi
• Dibawah pengaruh lingkungan hormonal
yang terdapat selama kehamilan, kelenjar
mamaria mengembangkan struktur dan
fungsi kelenjar internal yang diperlukan
untuk menghasilkan susu.
• Payudara yang mampu menghasilkan
susu memiliki anyaman duktus yang
semakin kecil yang bercabang dari putting
payudara dan berakhir di lobulus.
82
83
• Setiap lobulus terdiri dari sekelompok kelenjar
mirip kantung yang dilapisi oleh epitel dan
menghasilkan susu serta dinamai alveolus.
• Susu dibentuk oleh sel epitel kemudian
disekresikan ke dalam lume alveolus, lalu
dialirkan oleh duktus pengumpul susu yang
membawa susu ke permukaan payudara.
• Selama kehamilan, estrogen kadar tinggi
mendorong perkembangan ekstensif duktus,
sementara progesteron kadar tinggi
merangsang pembentukan alveolus-lobulus.
84
• Peningkatan konsentrasi prolaktin (suatu
hormon hipofisis anterior yang dirangsang oleh
peningkatan kadar ekstrogen) dan human
chorionic somatomammotropin (suatu hormon
plasenta yang memiliki struktur serupa dengan
hormon pertumbuhan dan prolaktin) juga ikut
berperan dalam perkembangan kelenjar
mamaria dengan menginduksi sintesis enzim
enzim yang dibutuhkan untuk memproduksi
susu.