i

MAKALAH
MUSKULOSKELETAL II

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN OSTEOPOROSIS”










OLEH
KELOMPOK I
SEMESTER VII_B (Keperawatan)




SEKOLAH TINGGI KESEHATAN MATARAM
(STIKES MATARAM)
TAHUN 2013
2

NAMA ANGGOTA :
1. ANA RAUDATULLAH
2. ANDRY SUKMANA
3. ARIPIN
4. ASRI ADE KAYANTI
5. BQ LATIFA ZUHROH
6. DEWI FITRIANINNGSIH
7. DEWI JULIANA
8. DUANDARA PAINANDRI
9. EMA FEBRIANI
10. ERNAWATI
11. FITRI SUSILAWATI
12. FIRMANSYAH
13. HARIYANTO
14. HARY ANDITA
15. IKA MALA PUJI WARDANI
16. KADEK AYU MULIARTINI
17. L. YASIR ABDUL AZIZ
18. MUAYYANA ASTUTI
19. MUJIBATUL HIKMAH
20. NURFITRIANA HARIS
21. NI WAYAN SANTI
22. RITA NOVITA
23. SOFIANA RAHMANI
24. SRI WAHYUNINGSIH
25. SUCIYATI RAHMADANI
26. SUPAJO
27. TOTO ERIYANTO
28. TAUFIQURRAHMAN
29. YULIASNI RAUDLATHUL
ADAWIYAH
30. ZULKARNAEN
31. I KADEK LANGKIR
32. NANA IRAWATI
33. M RASI AKBAR
34. RODIAH ISTIQOMAH
35. ARIMAN JAYANTO
36. ARIF SETIAWAN








iii



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah swt , yang telah memberikan
rahmat,hidayah serta kesempatan kepada kelompok kami,sehingga kelompok kami dapat
menyelesaikan Makalah Muskuloskeletal“ Asuhan keperawatan pada klien
Osteoporosis ” ini tepat pada waktunya.
Tidak lupa pula kami menyampaikan banyak-banyak terimakasih kepada Dosen
pembimbing kami yaitu Bpk Dadang Priyhangono ,S.Kep.Ns , yang telah membimbing
serta mengajarkan kami,sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini tepat pada
waktunya.
Kami sadar tentu masih banyak kekurangan dari makalah yang kami susun
ini.Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT semata,maka dari pada itu,kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca beserta Dosen Pembimbing demi
penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami sampaikan,semoga Makalah ini dapat berguna dan membantu
proses pembelajaran bagi para Mahasiswa,terutama bagi kami sebagai penyusun.


Mataram, 15 September 2013

Penyusun



iv



DAFTAR ISI

JUDUL
NAMA ANGGOTA
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... . 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ . 1
B. Rumusan masalah ..................................................................................... . 2
C. Tujuan ...................................................................................................... . 2
D. Manfaat .................................................................................................... . 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... . 4
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................... . 9
A. Pengertian .................................................................................................. . 9
B. Klasifikasi .................................................................................................. 10
C. Etiologi ....................................................................................................... 11
D. Faktor Resiko ............................................................................................. 12
E. Tanda & Gejala .......................................................................................... 13
F. Patofisiologi ............................................................................................... 14
G. Pencegahan ................................................................................................ 16
H. Pemeriksaan penunjang ............................................................................. 18
I. Penatalaksanaan ......................................................................................... 19
J. Komplikasi ................................................................................................. 20
K. Asuhan keperawatan teoritis ...................................................................... 20

BAB IV PENUTUP ..................................................................................................... 28
A. Kesimpulan ............................................................................................. 28
B. Saran .......................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Dengan bertambahnya usia harapan hidup orang Indonesia, maka jumlah manusia
lanjut usia di Republik ini akan bertambah banyak pula. Sehingga masalah penyakit akibat
ketuaan akan semakin banyak kita hadapi. Salah satu penyakit yang harus diantisipasi adalah
semakin banyaknya penyakit osteoporosis dan patah tulang yang diakibatkannya (Bayu
Santoso, 2001).
Pada tahun 60 tahun ke depan akan terjadi perubahan demografik yang akan
meningkatkan populasi warga usia lanjut dan meningkatkan terjadinya patah tulang karena
osteoporosis. Jumlah penderita patah tulang akibat osteoporosis yang pada tahun 1990
mencapai 1,7 juta akan menjadi 6,3 juta pada tahun 2050, kecuali jika ada tindakan
pencegahan yang agresif (Joewono Soeroso, 2001).
Di Surabaya berdasarkan pengamatan Prof. Dr. Djoko Roeshadi pada penelitiannya
tahun 1997, 26% diantara wanita pasca menoupouse mengalami osteoporosis.
80% osteoporosis terjadi pada wanita terutama yang sudah mencapai usia
menoupouse. Osteopororis sebetulnnya adalah berkurangnya masa tulang yang kemudian
diikuti dengan kerusakan arsitektur tulang, sehingga tulang mudah mengalami patah tulang
(R. Prayitno Prabowo, 2001).
Osteoporosis didefinisikan sebagai kelainan skeletal yang ditandai dengan adanya
gangguan kekuatan tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lebih besar resikonya untuk
mengalami patah tulang. (Edi Mutamsir, 2001).
Osteoporosis dibagi menjadi tiga yaitu osteoporosis primer, osteoporosis sekunder dan
osteoporosis idiopatik. Dalam penelitian ini peneliti membatasi pada osteoporosis primer.
Menurut Albright JA tahun 1979. Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak
diketahui penyebabnya dan merupakan kelompok yang terbesar. Ada dua faktor resiko yang
menjadi penyebab utama terjadinya osteoporosis yaitu faktor yang dapat diubah dan faktor
yang tidak dapat diubah.
Dengan mengetahui faktor resiko osteoporosis, kita dapat memperkirakan penyebab
atau suatu hal yang dapat mempermudah terjadinya osteoporosis. Konsep ini sangat
bermanfaat dalam upaya mengurangi angka kecacatan.

2

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi Tulang?
2. Apakah yang dimaksud Osteoporosis?
3. Apa sajakah klasifikasi, etiologi, factor resiko, manifestasi klinis penyakit
Osteoporosis?
4. Bagaimana patofisiologi dari penyakit Osteoporosis?
5. Bagaimana pencegahan dan penatalaksanaan medis dari penyakit Osteoporosis?
6. Bagaimana komplikasi penyakit Osteoporosis?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Osteoporosis?

C. Tujuan
1) Tujuan Umum
Peserta diskusi diharapkan dapat menerapkan proses keperawatan dalam
memenuhi kebutuhan klien dengan Osteoporosis.
2) Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah:
a) Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi tulang.
b) Untuk mengetahui yang dimaksud Osteoporosis.
c) Untuk mengetahui penyebaran penyakit Osteoporosis.
d) Untuk mengetahui klasifikasi, etiologi, factor resiko, manifestasi klinis
penyakit Osteoporosis?
e) Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit Osteoporosis?
f) Untuk mengetahui pencegahan dan penatalaksanaan medis dari penyakit
Osteoporosis?
g) Untuk mengetahui komplikasi penyakit Osteoporosis?
h) Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Osteoporosis?



3

D. Manfaat
1) Mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit Osteoporosis.
2) Meningkatkan pemahaman askep pada klien dengan Osteoporosis.
3) Mampu memberikan ASKEP professional pada klien dengan Osteoporosis.
4) Meningkatkan soft skill perawat dalam memenuhi kebutuhan dasar klien dengan
Osteoporosis



















4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan fisiologi Tulang
1. Anatomi & fisiologi Tulang
Tulang terdiri atas matriks organic
keras yang sangat diperkuat dengan
endapan garam kalsium dan garam
tulang. Matriks organik ini terdiri dari
serat-serat kolagen dan medium gelatin
homogen yang disebut substansi dasar.
Substansi dasar ini terdiri atas cairan
ekstraseluler ditambah proteoglikan,
khususnya kondroitin sulfat dan asam
hialuronat yang membantu mengatur
pengendapan kalsium. Garam-garam
tulang terutama terdiri dari kalsium dan
fosfat. Rumus garam utamanya dikenal
sebagai hidroksiapatit.
Tahap awal pembentukan tulang
adalah sekresi kolagen (kolagen
monomer) dan substansi dasar oleh
osteoblas. Kolagen monomer dengan cepat membentuk serat-serat kolagen dan jaringan akhir
yang terbentuk adalah osteoid, yang akan menjadi tempat di mana kalsium mengendap.
Sewaktu osteoid terbentuk, beberapa osteoblas terperangkap dalam osteoid dan selanjutnya
disebut osteosit. Osteoblas dapat dijumpai di permukaan luar tulang dan dalam rongga tulang.
Lawan dari osteoblas yang membentuk tulang adalah osteoklas yang menyerap tulang dan
mengikisnya.



5

Pertumbuhan & Pembentukan Tulang
Pada pertumbuhan tulang
normal, kecepatan pengendapan dan
absorpsi tulang sama satu dengan
lainnya, sehingga massa total dari
tulang tetap konstan. Biasanya,
osteoklas terdapat dalam massa
yang sedikit tetapi pekat, dan sekali
massa osteoklas mulai terbentuk,
maka osteoklas akan memakan
tulang dalam waktu 3 minggu dan
membentuk terowongan. Pada akhir
waktu ini, osteoklas akan menghilang dan terowongan itu akan ditempati osteoblas.
Selanjutnya, mulai dibentuk tulang baru.Pengendapan tulang ini kemudian terus
berlangsung selama beberapa bulan, dan tulang yang baru itu diletakkan pada lapisan
berikutnya dari lingkaran konsentris (lamella) pada permukaan dalam rongga tersebut sampai
pada akhirnya terowongan itu terisi semua. Pengendapan ini berhenti setelah ada pembuluh
darah yang mendarahi daerah tersebut. Kanal yang dilewati pembuluh darah ini disebut kanal
harvers. Setiap daerah tempat terjadinya tulang baru dengan cara seperti ini disebut osteon.
Apabila mendapat beban yang berat, tulang akan menebal. Selain itu, tulang akan
terus melakukan regenerasi kalau sudah mulai perlu diganti.Kemampuan tulang melakukan
regenerasi akibat adanya absorpsi-pengendapan tulang.Kecepatan absorpsi-pengendapan
tulang yang berlangsung cepat, misalnya pada anak-anak, cenderung membuat tulang rapuh
dibandingkan dengan absorpsi-pengendapan tulang yang lambat. Jadi, pada anak-anak akan
terjadi regenerasi yang cepat apabila ada kerusakan.
Tubuh manusia dewasa mengandung sekitar 1100gr kalsium, dan 99%nya berada
dalam kerangka tubuh. Kalsium dalam tulang terdiri Atas 2 tipe: cadangan yang dapat ditukar
dengan cepat, dan cadangan kalsium yang jauh lebih besar ddengan proses penukaran yang
lambat. Ada 2 sistem homeostatik yang independen: sistem yang mengatur Ca2+ plasma
yang tiap harinya bergerak keluar masuk dari cadangan yang mudah ditukar; dan sistem yang
berperan dalam remodelling tulang melalui resropsi dan deposisi tulang yang konstan.
6

Ada 2 tipe kalsium: plasma dan bebas. Kalsium plasma ada yang terikat pada protein
(albumin dan globulin) dan ada juga yang berdifusi (berionisasi dan berkompleks dengan
HCO3-, sitrat, dst). Kalsium bebas yang terionisasi dalam cairan tubuh adalah perantara
kedua dan diperlukan untuk pembekuan darah, kontraksi otot, dan fungsi saraf. Penurunan
kadar Ca2+ dapat menyebabkan tetani hipokalsemik yang ditandai dengan sejumlah besar
spasme otot rangka, seperti yang terjadi pada laringospasme dimana jalan napas akan
tersumbat dan menimbulkan asfiksia fatal.
Metabolisme kalsium pada manusia dewasa yang mengonsumsi 1000mg (25mmol)
kalsium per hari. Terdapat 3 hormon yang mengatur metabolisme kalsium, yaitu: (1) 1,25-
dihidroksikolikalsiferol yang merupakan hormon steroid yang dibentuk dari vitamin D.
Reseptor 1,25-dihidrokolekalsiferol ditemukan di banyak jaringan selain usus, ginjal, dan
tulang. Jaringan tersebut di antaranya adalah kulit, limfosit, monosit, otot rangka dan jantung,
payudara, dan kelenjar hipofisis anterior. Zat ini dapat mempermudah penyerapan Ca2+ dari
usus, mempermudah reasorbsi Ca2+ di ginjal, meningkatkan aktivitas sintetik osteoblas, dan
diperlukan untuk klasifikasi normal matriks.
(2) Hormon paratiroid (PTH) yang memobilisasi kalsium dari usus. PTH bekerja
langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang, ekskresi fosfat dalam urine dan
memobilisasi Ca2+. (3) Kalsitonin yang menurunkan kadar kalsium dengan cara menghambat
resorpsi tulang, dan menghambat aktivitas osteoklas secara in vitro.
Ketiga hormon ini bekerja secara terpadu untuk mempetahankan kadar Ca2+ yang
konstan dalam cairan tubuh.
Mineralisasi tulang merupakan proses penempatan kalsium ke dalam jaringan tulang.
Sedangkan demineralisasi merupakan proses yang antagonis dengan mineralisasi yaitu proses
pengambilan kalsium dari jaringan tulang.
Selama hidup, tulang secara terus-menerus diresobsi dan dibentuk tulang baru.
Kalsium dalam tulang mengalami pergantian dengan kecepatan 100% per tahun pada bayi dan
18% per tahun pada orang dewasa. Remodeling tulang ini, sebagian bessar adalah proses local
yang berlangsung di daerah yang terbatas oleh populasi sel yang disebut unit remodeling
tulang.
Tulang mempertahankan bentuk eksternalnya selama masa pertumbuhan akibat proses
remodeling konstan, disertai proses pengerasan tulang oleh osteoblas (mineralisasi) dan pada
7

proses resoprsi oleh osteoklas (demineralisasi) yang terjadi pada permukaan dan di dalam
tulang. Osteoklas membuat terowongan ke dalam tulang korteks yang diikuti oleh osteoblas,
sedangkan remodeling tulang trabekular terjadi di permukaan trabekular. Pada kerangka
manusia, setiap saat sekitar 5% tulang mengalami remodeling oleh sekitar 2 juta unit
remodeling tulang. Kecepatan pembaruan untuk tulang adalah sekitar 4% per tahun untuk
tulang kompak dan 20% per tahun untuk tulang trabekular.


















8

Kelainan-kelainan pada Tulang
Terdapat beberapa kelainan
yang dapat terjadi pada tulang, antara
lain: Osteopetrosis, osteoporosis, dan
osteomalasia. Osteopetrosis merupakan
penyakit tulang yang jarang sekali
dijumpai dan sering kali parah. Hal ini
dimana osteoklas mengalami gangguan
dan tidak mampu menyerap tulang
secara wajar sehingga osteoblas
bekerja tanpa ada yang menyeimbagi. Akibatnya adalah pemadatan tulang, gangguan
neurologik akibat penyempitan dan distorsi forame tempat lewatnya berbagai saraf, dan
kelainan hematologik akibat dipenuhinya rongga sumsum.
Osteoporosis merupakan kelainan pada tulang yang disebabkan oleh kelebihan relatif
fungsi osteoklas. Matriks tulang pada penyakit ini berkurang dan insidens fraktura meningkat.
Artinya, keadaan tulang osteoporosis ini sangat rapuh karena osteoklas tidak diimbangi oleh
osteoblas. Osteoporosis ini sering terjadi pada wanita dewasa terutama yang telah mnegalami
menopaose karena tingkat estrogen sangat berpengaruh dalam pembetukan tulang atau
osteoblas.
Osteomalasia merupakan kelainan pada tulang yang terjadi karena gagalnya osteoid
pada tulang untuk mengeras karena kekurangan vitamin D dan Estrogen, selain itu juga
penurunannya tingkat kalsium dan fosfat serta demineralisasi seperti yang telah dijelaskan di
atas. Hal ini juga terjadi karena meningkatnya hormon paratiroid dalam tubuh. Osteomalasia
ini sering disebut softbone atau tulang lunak.





9

BAB III
PEMBAHASAN
OSTEOPOROSIS
A. Pengertian.









Osteoporosis adalah kondisi dimana terjadi peningkatan porositas dari tulang. Atau
dengan kata lain adalah sugresif dari masa tulang, sehingga memudahkan terjadinya patah
tulang (Albright JA, 1979).
Osteoporosis adalah penyakit metabolik tulang yang memiliki penurunan matrix dan
proses mineralisasi yang normal tetapi massa atau densitas tulang berkurang (Gallagher,
1999)
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa
tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang
yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang.(Wikipedia.co.id)

Osteoporosis merupakan penyakit skeletal sistemik yang ditandai dengan massa tulang
yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang, yang mengakibatkan
meningkatnya fragilitas tulang sehingga tulang cenderung untuk mengalami fraktur spontan
atau akibat trauma minimal. (Consensus Development Conference, 1993).



10

Definisi Osteoporosis lain yaitu menurut WHO adalah suatu penyakit yang ditandai
dengan berkurangnya massa tulang dan kelainan mikroarsitektur jaringan tulang, dengan
akibat meningkatnya kerapuhan tulang dan resiko terjadinya fraktur tulang. Atas dasar definisi
dari WHO ini maka osteoporosis diukur densitas massa tulang dengan ditemukan nilai t-score
yang kurang dari – 2,5. Sedangkan dikatakan normal nilai T-score > [-]1 dan Osteopenia
apabila T-score antara [-]1 - [-] 2,5. Dan dikatakan osteoporosis apabila nilai Z-score < 2.

Bagian tulang yang umumnya diserang adalah (Djoko Roeshadi, 2001):
1. Pada tulang radius distal
2. Pada tulang vertebrae
3. Pada tulang kollum femur / pelvis

B. Klasifikasi
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer sering menyerang wanita paska menopause dan juga pada pria
usia lanjut dengan penyebab yang belum diketahui.
2. Osteoporosis sekunder
Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan
dengan:
 Cushing's disease
 Hyperthyroidism
 Hyperparathyroidism
 Hypogonadism
 Kelainan hepar
 Kegagalan ginjal kronis
 Kurang gerak
 Kebiasaan minum alkohol
 Pemakai obat-obatan/corticosteroid
 Kelebihan kafein
 Merokok
3. Osteoporosis anak
Osteoporosis pada anak disebut juvenile idiopathic osteoporosis.
11

C. Etiologi.
a) Osteoporosis postmenopausal (Primer) terjadi karena kekurangan estrogen
(hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke
dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di
antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.
Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis
postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita
penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
b) Osteoporosis senilis (sekunder) terjadi karena kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya
tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini
hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70
tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita
osteoporosis senilis dan postmenopausal.Kurang dari 5% penderita osteoporosis
juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis
lainnya atau oleh obat-obatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis
dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan
(misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang
berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk
keadaan ini.
c) Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya
tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki
kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak
memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

12

D. Faktor Resiko
 Faktor resiko yang tidak dapat diubah :
a) Usia, lebih sering terjadi pada lansia.
b) Jenis kelamin, tiga kali lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh factor hormonal dan rangka tulang
yang lebih kecil.
c) Ras, kulit putih mempunyai risiko paling tinggi.
d) Riwayat keluarga/keturunan, pada keluarga yang mempunyai riwayat
osteoporosis, anak-anak yang dilahirkan juga cenderung mempunyai penyakit
yang sama.
e) Bentuk tubuh, adanya kerangka tubuh yang lemah dan scoliosis
vertebramenyebabkan penyakit ini. Keadaan ini terutam trejadi pada wanita
antara usia 50-60tahundengan densitas tulang yang rendah dan diatas usia
70tahun dengan BMI yang rendah.
 Factor risiko yang dapat diubah :
a) Merokok.
b) Defisisensi vitamin dan gizi (antara lain protein), kandungan garam pada
makanan, peminum alcohol dan kopi yang berat. Nikotin dalam rokok
menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsiumdari darah ke tulang
sehingga pembentukan tulang oleh osteoblast menjadi melemah.
Mengkonsumsi kopi lebih dari 3 cangkir perhari menyebabkan tubuh selalu
ingin berkemih. Keadaan tersebut menyebabkan banyak kalsium terbuang
bersama air kencing.
c) Gaya hidup, aktivitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan
penyangga berat badan merupakan stimulus penting bagi resorspi tulang.
Beban fisik yang terintegrasi merupakan penentu dari puncak massa tulang.
d) Gangguan makan (anoreksia nervosa)
e) Menopause dini, menurunnya kadar estrogen menyebabkan resorpsi tulang
menjadi lebih cepat sehingga akan terjadi penurunan massa tulang yang
banyak.
f) Penggunaan obat-obatan tertentu seperti diuretic, glukokortikoid,
antikonvulsan, hormone tiroid berlebihan, dan kortikosteroid.

13

E. Manifestasi klinis.







a) Nyeri tulang akut.
 Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan atau tanpa
fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak.
 Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur.
 Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan
aktivitas.
b) Deformitas tulang.
 Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis
angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi
paraparesis.
 Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya
datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah menopause
sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien biasanya datang
dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit
pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh.
 Kecenderungan penurunan tinggi badan
 Postur tubuh kelihatan memendek





14

F. Patofisiologi.
Di samping penuaan dan menopause, penipisan tulang diakibatkan oleh pemberian
steroid sehingga mengakibatkan penurunan pembentukan tulang (bone formation) dan
peningkatan resorpsi tulang (bone resorption). Steroid menghambat sintesis kolagen tulang
oleh osteoblast yang telah ada, dan mencegah transformasi sel-sel prekursor menjadi
osteoblast yang dapat berfungsi dengan baik. Di samping itu, steroid juga sangat mereduksi
sintesis protein. Gambaran histomorfometrik menunjukkan penurunan tingkat aposisi mineral,
dan penipisan dinding tulang, yang diduga karena umur osteoblast yang semakin pendek. Efek
steroid terhadap osteoblast juga melalui gangguan atas respons osteoblast terhadap hormon
paratiroid, prostaglandin, sitokin, faktor pertumbuhan, dan 1,25-dihydrozy vitamin D. Sintesis
dan aktivitas faktor-faktor parakrin lokal mungkin juga terganggu. Dibandingkan proses
penuaan, penipisan tulang dalam osteoporosis akibat steroid lebih luas, karena permukaan-
permukaan yang mengalami resorpsi dan hambatan formasi tulang juga lebih luas.
Berbeda dengan efek steroid atas pembentukan tulang, penelitian mengenai gangguan
resorpsi tulang masih terbatas. Diduga, pengaruh steroid terhadap resorpsi tulang berlangsung
melalui hormon paratiroid. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa setelah
pengangkatan kelenjar paratiroid, respons osteoklastik terhadap steroid sepenuhnya hilang,
sehingga disimpulkan bahwa resorpsi tulang terutama dikendalikan oleh hormon paratiroid.
Namun, kebanyakan penelitian pada manusia tidak menemukan peningkatan kadar hormon
paratiroid setelah pemberian terapi steroid. Penelitian lain menemukan peningkatan fragmen-
fragmen hormon paratiroid, tetapi kadar hormon yang utuh tidak terpengaruh.
Efek steroid terhadap absorpsi kalsium dalam usus tidak sama di setiap segmen-
segmen usus tidak sama. Absorpsi di duodenum lebih kecil, tetapi absorpsi di kolon
meningkat. Di samping penurunan absorpsi kalsium, steroid dapat meningkatkan ekskresi
kalsium dalam urine. Pada pasien dengan pemberian steroid jangka panjang, hiperkalsiuria
kemungkinan besar akibat mobilisasi kalsium di tulang-tulang dan penurunan reabsorpsi
kalsium di tubuli renal. Steroid mungkin mengganggu metabolisme vitamin D, walaupun
dugaan ini belum didasari bukti kuat. Kadar 1,25 dihydroxyvitamin D dalam serum menurun
akibat pemberian steroid, tetapi perubahan dari 25-hydroxyvitamin D menjadi 1,25
dihydroxyvitamin D tidak mengalami perubahan.
15

Steroid eksogen akan menghambat sekresi gonadotropin dari hipofisis, sehingga
fungsi gonad terganggu. Akibatnya, produksi estrogen dan testosteron menurun. Steroid
menghambat sekresi LH, dan menurunkan produksi estrogen yang difasilitasi oleh FSH. Efek
steroid yang lain adalah menurunkan sekresi hormon seks adrenal. Defisiensi estrogen dan
pemakaian steroid saling memperkuat efek terhadap laju penipisan tulang. Ketika bone
thinning terjadi, bagian trabekular lebih dulu terpengaruh dibandingkan bagian kortikal.
Dengan demikian fraktur lebih sering terjadi di tulang-tulang pipih.
Hiperkalsiuria dan bone thinning terjaadi dalam 6 bulan sampai 12 bulan seterlah
pemakaian steroid eksogen. Setelah itu, laju penipisan tulang melambat hingga 2 sampai 3
kali dibandingkan keadaan normal. Risiko osteoporosis akibat steroid juga meningkat ketika
dosis yang diberikan lebih tinggi. Belum jelas, apakah risiko timbul akibat pemberian dosis
steroid yang lebih tinggi (prednison > 7,5 mg/d) dalam jangka waktu pendek (< 6 bulan), atau
dosis yang rendah (prednison < 7,5 mg/d) tetapi dalam waktu lebih lama (> 6 bulan). Yang
jelas, risiko osteoporosis meningkat dengan dosis kumulatif steroid lebih tinggi. Secara
umum, dosis yang rendah lebih aman dibandingkan dosis tinggi, namun tidak jelas berapa
dosis yang benar-benar aman. Laju penipisan tulang bisa meningkat hanya dengan pemberian
5-10 mg prednison setiap hari dan juga dengan steroid melalui inhalasi. Pemberian steroid
dalam dosis berapapun perlu disertai dengan penilaian risiko osteoporosis dan pemantauan
secara terus-menerus untuk mencegah fraktur.
Secara skematis, patofisiologi osteoporosis akibat pemberian steroid dapat digambarkan
sebagai 2 proses utama. Proses yang pertama adalah penurunan pembentukan tulang dan
kenaikan resorpsi tulang (Gambar 1). Terapi steroid secara kronik menurunkan umur
osteoblast dan meningkatkan apoptosis. Pemberian steroid juga meningkatkan maturasi dan
kegiatan osteoclast dan mengakibatkan antiapoptotik secara langsung. Dengan menurunkan
absorpsi kalsium dari usus dan meningkatkan ekskresi kalsium urine, steroid mengakibatkan
resoprsi tulang dan hiperparatiroidisme sekunder. Steroid menghambat produksi hormon
steroid seksual dan sekresi dari adrenal, ovarium dan testis yang juga mengakibatkan resorpsi
tulang.



16










Gambar 3. Patofisiologi osteoporosis akibat steroid

G. Pencegahan
Pencegahan osteoporosi meliputi:
a) Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengonsumsi
kalsium yang cukup.
Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama
sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Minum 2
gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan
tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup
kalsium. Akan tetapi tablet kalsium dan susu yang dikonsumsi setiap hari akhir -
akhir ini menjadi perdebatan sebagai pemicu terjadi osteoporosis, berhubungan
dengan teori osteoblast.
b) Melakukan olah raga dengan beban.
Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan
kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.
c) Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).
Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering
diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif
dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6
tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan
17

mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen
yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah
kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk
mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan
sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

18

H. Pemeriksaan Penunjang.
a) Laboratorium (Bone marker)
Pemeriksaan ini untuk menilai kecepatan bone turnover.
Penilaian bone turnover rate dilakukan dengan membandingkan aktivitas formasi
tulang dengan aktivitas resorpsi tulang. Apabila aktivitas pembentukan/formasi
tulang lebih kecil dibandingkan dengan aktivitas resorpsi tulang maka pasien ini
memiliki risiko tinggi terhadap osteoporosis. Evaluasi biokimia ini dilakukan
melalui pemeriksaan darah dan urine pagi hari.
 Petanda untuk menilai aktivitas pembentukan tulang (bone formation)
- Osteocalcin yaitu protein yang dihasilkan oleh osteoblas yang berfungsi
membantu proses mineralisasi tulang.
- Alkali fosfatase tulang yaitu enzim yang dihasilkan osteoblas yang
berfungsi sebagai katalisator proses mineralisasi tulang.
 Petanda untuk menilai aktivitas resorpsi tulang (bone resorption)
- Deoxypyridinolin/ β-Crosslink yaitu protein penguat mekanik tulang yang
dilepaskan ke dalam peredaran darah dan dikeluarkan melalui urin jika
terjadi proses resorpsi/ penyerapan tulang.
- CTx (C-Telopeptide) yaitu hasil pemecahan protein kolagen tipe 1 yang
spesifik untuk tulang. Selain itu, pemeriksaan kadar CTx dan
deoxypyridinolin dapat digunakan untuk menilai/pemantauan keberhasilan
terapi (sebelum pemeriksaan densitas mineral tulang berikutnya).
b) Radiologi.
Pemeriksaan radiologi vertebra torakalis dan lumbalis AP dan lateral dilakukan
untuk mencari adanya fraktur. Nilai diagnostik pemeriksaan radiologi biasa untuk
mendeteksi osteoporosis secara dini kurang memuaskan karena pemeriksaan ini
baru dapat mendeteksi osteoporosis setelah terjadi penurunan densitas massa
tulang lebih dari 30%.
c) Pemeriksaan bone densitometri (DEXA)
Pemeriksaan densitometri tulang dilakukan menggunakan alat DEXA. Biasanya
digunakan untuk mengukur densitas massa tulang pada daerah lumbal, femur
proksimal, lengan bawah distal dan seluruh tubuh. Secara rutin, untuk diagnosis
osteoporosis cukup diperiksa densitometri pada vertebra lumbal dan pangkal paha
(femur proksimal). Bila terdapat keterbatasan biaya, dapat dipertimbangkan
pemeriksaan hanya pada 1 daerah, yaitu pada daerah lumbal untuk wanita yang
19

berumur kurang dari 60 tahun, atau daerah pangkal paha (femur proksimal) pada
wanita yang berumur lebih dari 60 tahun dan pada pria.





Gambar 4. Alat pemeriksaan Densitometri
Untuk mendiagnosis osteoporosis, digunakan T-score. T score yang kurang dari 1 SD
dibawah nilai rata-rata BMD normal memiliki risiko fraktur dua kali lipat. Untuk osteoporosis
sekunder, nilai Z-score < [-] 2 sangat penting dalam penegakkan diagnosis.
I. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita, terutama
yang menderita osteoporosis, harus mengonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang
mencukupi.
Wanita pasca menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen
(biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau
menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis.
Alendronat berfungsi:
a) mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause
b) meningkatakan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul
c) mengurangi angka kejadian patah tulang.
Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada
pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain.
Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah
meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak
boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan
dan lambung tertentu.
Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang
belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot
20

hidung.Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang. Tetapi tulang bisa mengalami
kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan.
Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan
vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap
kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan
testosteron.
Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya di atasi
dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki
dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat,
diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.


J. Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah
patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi
vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter,
dan fraktur colles pada pergelangan tangan.

K. Asuhan keperawatan Teoritis

1. Pengkajian
a. Anamnesis
 Riwayat kesehatan.
Anamnesis memegang peranan penting pada evaluasi klien osteoporosis. Kadang
keluhan utama (missal fraktur kolum femoris pada osteoporosis). Factor lain yang perlu
diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma minimal,
imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar
matahari, kurang asupan kalasium, fosfat dan vitamin D. obat-obatan yang diminum
dalam jangka panjang, alkohol dan merokok merupakan factor risiko osteoporosis.
Penyakit lain yang juga harus ditanyakan adalah ppenyakit ginjal, saluran cerna, hati,
endokrin dan insufisiensi pancreas. Riwayat haid , usia menarke dan menopause,
penggunaan obat kontrasepsi, serta riwayat keluarga yang menderita osteoporosis juga
perlu dipertanyakan.
21

 Pengkajian psikososial.
Perlu mengkaji konsep diri pasien terutama citra diri khususnya pada klien dengan
kifosis berat. Klien mungkin membatasi interaksi social karena perubahan yang tampak
atau keterbatasan fisik, misalnya tidak mampu duduk dikursi dan lain-lain. Perubahan
seksual dapat terjadi karena harga diri rendah atau tidak nyaman selama posisi
interkoitus. Osteoporosis menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat perlu mengkaji
perasaan cemas dan takut pada pasien.
 Pola aktivitas sehari-hari.
Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu
luang dan rekreasi, berpakaian, mandi, makan dan toilet. Beberapa perubahan yang terjadi
sehubungan dengan dengan menurunnya gerak dan persendian adalah agility, stamina
menurun, koordinasi menurun, dan dexterity (kemampuan memanipulasi ketrampilan
motorik halus) menurun.
Adapun data subyektif dan obyektif yang bisa didapatkan dari klien dengan
osteoporosis adalah :
a) Data subyektif :
- Klien mengeluh nyeri tulang belakang
- Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
- Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang tampak
dan keterbatasan gerak
- Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
- Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
- Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
- Klien mengatakan buang air besar susah dan keras
b) Data obyektif ;
- tulang belakang bungkuk
- terdapat penurunan tinggi badan
- klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
- terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
- klien tampak gelisah
- klien tampak meringis
b. Pemeriksaan fisik
 B1 (breathing )
22

- Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang
- Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
- Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru
- Auskultasi : pada usia lanjut biasanya didapatkan suara ronki
 B2 (blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik sering terjadi keringat dingin dan pusing,
adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema
yang berkaitan dengan efek obat
 B3 (brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis, pada kasus yang lebih parah klien dapat
mengeluh pusing dan gelisah
 B4 (Bladder)
Produksi urine dalam batas normal dan tidak ada keluhan padasistem perkemihan
 B5 (bowel)
Untuk kasus osteoporosis tidak ada gangguan eleminasi namun perlu dikaji juga
frekuensi, konsistensi, warna serta bau feses
 B6 (Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering
menunjukkan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan.
Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri
spinal. Lokasi fraktur yang terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.

2. Diagnosa Keperawatan.
Masalah yang biasa terjadi pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :
a) Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai
dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan
tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis
b) Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat
perubahan skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien
mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas,
stamina menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan
c) Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat
menurun, tulang belakang terlihat bungkuk
23

d) Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak
ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang, kemampuan gerak cepat
menurun, klien mengatakan badan terasa lemas dan stamina menurun serta terdapat
fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
e) Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik
serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi ditandai dengan klien
mengatakan membatasi pergaulan dan tampak menggunakan penyangga tulang
belakang (spinal brace)
f) Gangguan eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf pencernaan ileus
paralitik ditandai dengan klien mengatakan buang air besar susah dan keras.
g) Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang
berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien
mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah.

3. Rencana Intervensi Keperawatan
a) Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai
dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan
tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis.
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan
criteria hasil klien dapat mengekspresikan perasaan nyerinya, klien dapat tenang dan
istirahat, klien dapat mandiri dalam penanganan dan perawatannya secara sederhana.
Intervensi:
1) Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik
termasuk intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan
pada tanda vital dan emosi/prilaku)
R/ Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi.
2) Ajarkan klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa
nyerinya.
R/ alternative lain untuk mengatasi nyeri misalnya kompres hangat, mengatur
posisi untuk mencegah kesalahan posisi pada tulang/jaringan yang cedera.
3) Dorong menggunakan teknik manajemen stress contoh relaksasi progresif, latihan
nafasa dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan teraupetik.
24

R/ Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa control dan dapat
meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri yang mungkin menetap
untuk periode lebih lama.
4) Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
R/ diberikan untuk menurunkan nyeri.
b) Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat
perubahan skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien
mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas,
stamina menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan
mobilitas fisik dengan criteria hasil klien dapat meningkatkan mobilitas fisik,
berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan, klien mampu melakukan
aktivitas hidup sehari-hari secara mandiri.
1) Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada.
R/ sebagai dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai
dengan kemampuannya.
2) Rencanakan tentang pemberian program latihan, ajarkan klien tentang aktivitas
hidup sehari-hari yang dapat dikerjakan.
R/ latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah.
3) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas /perawatan diri secara bertahap jika
dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
R/ kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba,
memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian
dalam melakukan aktivitas.
c) Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat
menurun, tulang belakang terlihat bungkuk.
Tujuan : cedera tidak terjadi dengan criteria hasil klien tidak jatuh dan tidak
mengalami fraktur, klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur.
1) Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya missal : tempatkan klien pada tempat
tidur rendah, berikan penerangan yang cukup, tempatkan klien pada ruangan yang
mudah untuk diobservasi.
R/ menciptakan lingkungan yang aman mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.
25

2) Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan,tidak naik tangga dan
mengangkat beban berat.
R/ pergerakan yang cepat akan memudahkan terjadinya fraktur kompresi vertebra
pada klien osteoporosis.
3) Observasi efek samping obat-obatan yang digunakan.
R/ obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, mengantuk
dan lemah yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh.
d) Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak
ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang, kemampuan gerak cepat
menurun, klien mengatakan badan terasa lemas dan stamina menurun serta terdapat
fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular.
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan perawatan diri klien
terpenuhi dengan criteria hasil klien mampu mengungkapkan perasaan nyaman dan
puas tentang kebersihan diri, mampu mendemonstrasikan kebersihan optimal dalam
perawatan yang diberikan.
1) Kaji kemampuan untuk berpartisipasi dalam setiap aktifitas perawatan.
R/ untuk mengetahui sampai sejauh mana klien mampu melakukan perawatan diri
secara mandiri.
2) Beri perlengkapan adaptif jika dibutuhkan misalnya kursi dibawah pancuran,
tempat pegangan pada dinding kamar mandi, alas kaki atau keset yang tidak licin,
alat pencukur, semprotan pancuran dengan tangkai pemegang.
R/ peralatan adaptif ini berfungsi untuk membantu klien sehingga dapat melakukan
perawatan diri secara mandiri dan optimal sesuai kemampuannya.
3) Rencanakan individu untuk belajar dan mendemonstrasikan satu bagian aktivitas
sebelum beralih ke tingkatan lebih lanjut.
R/ bagi klien lansia, satu bagian aktivitas bisa sangat melelahkan sehingga perlu
waktu yang cukup untuk mendemonstrasikan satu bagian dari perawatan diri.
e) Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik
serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi ditandai dengan klien
mengatakan membatasi pergaulan dan tampak menggunakan penyangga tulang
belakang (spinal brace).
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat
menunjukkan adaptasi dan menyatakan penerimaan pada situasi diri dengan criteria
hasil klien mengenali dan menyatu dengan perubahan dalam konsep diri yang akurat
26

tanpa harga diri negative, mengungkapkan dan mendemonstrasikan peningkatan
perasaan positif.
1) Dorong klien mengekspresikan perasaannya khususnya mengenai bagaimana klien
merasakan, memikirkan dan memandang dirinya.
R/ ekspresi emosi membantu klien mulai meneerima kenyataan.
2) Hindari kritik negative.
R/ kritik negative akan membuat klien merasa semakin rendah diri.
3) Kaji derajat dukungan yang ada untuk klien.
R/ dukungan yang cukup dari orang terdekat dan teman dapat membantu proses
adaptasi.
f) Gangguan eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf pencernaan ileus
paralitik ditandai dengan klien mengatakan buang air besar susah dan keras.
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan eleminasi klien tidak
terganggu dengan criteria hasil klien mampu menyebutkan teknik eleminasi feses,
klien dapat mengeluarkan feses lunak dan berbentuk setiap hari atau 3 hari.
1) Auskultasi bising usus.
R/ hilangnya bising usus menandakan adanya paralitik ileus.
2) Observasi adanya distensi abdomen jika bising usus tidak ada atau berkurang.
R/ Hilangnya peristaltic(karena gangguan saraf) melumpuhkan usus, membuat
distensi ileus dan usus.
3) Catat frekuensi, karakteristik dan jumlah feses.
R/ mengidentifikasi derajat gangguan/disfungsi dan kemungkinan bantuan yang
diperlukan.
4) Lakukan latihan defekasi secara teratur.
R/ program ini diperlukan untuk mengeluarkan feses secara rutin.
5) Anjurrkan klien untuk mengkonsumsi makanan berserat dan pemasukan cairan
yang lebih banyak termasuk jus/sari buah.
R/meningkatkan konsistensi feses untuk dapat melewati usus dengan mudah.
g) Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang
berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien
mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah.
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien memahami
tentang penyakit osteoporosis dan program terapi dengan criteria hasil klien mampu
27

menjelaskan tentang penyakitnya, mampu menyebutkan program terapi yang
diberikan, klien tampak tenang.
1) Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan dating.
R/ memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan
berdasarkan informasi.
2) Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
osteoporosis.
R/ Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang
penyakitnya.
3) Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat.
R/ suplemen kalsium ssering mengakibatkan nyeri lambung dan distensi abdomen
maka klien sebaiknya mengkonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi
terjadinya efek samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai
untuk menurunkan resiko pembentukan batu ginjal.




















28

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Osteoporosis merupakan penyakit skeletal sistemik yang ditandai dengan massa tulang
yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang, yang mengakibatkan
meningkatnya fragilitas tulang sehingga tulang cenderung untuk mengalami fraktur spontan
atau akibat trauma minimal. (Consensus Development Conference, 1993).
Osteoporosis postmenopausal (Primer) terjadi karena kekurangan estrogen (hormon
utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada
wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa
mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang
sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih
mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

B. Saran.
Guna Penyempurnaan Makalah yang kami buat ini, kami kelompok 2 sangat
mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari Pembimbing serta rekan-rekan
teman sekalian.



29

DAFTAR PUSTAKA

1. Devogelaer JP. 2006. Glucocorticoid-induced osteoporosis: mechanisms and therapeutic
approach, Rheumatic Disease Clinics of North America 32:733-757.
2. Silverman SL, Maricic M, 2007. Recent developments in bisfosfonat therapy, Seminars in
Arthritis and Rheumatism 37:1-12.
3. Liu RH dan Werth VP. 2006. What is new the treatment of steroid-induced osteoporosis,
Seminars in Cutaneous Medicine and Surgery 25:72-78.
4. Adachi JD, Olszynski WP, Hanley DA, Hodsman AB, Kendler DL, Siminoski KG, Brown
J, Cowden EA, Goltzman D, Ioanidis G, Josse RG, Ste-Marie LG, Tenenhouse AM,
Davison KS, Blocka KLN, Pollock AP, Sibley J. 2000. Management of corticosteroid-
induced osteoporosis, Seminars in Arthritis and Rheumatism 29:228-251.
6. American College of Rheumatoology Ad Hoc Committee on Glucocorticoid-Induced
Osteoporosis 2001. Recommendations for the prevention and treatment of glucocorticoid-
induced osteoporosis, Arthritis & Rheumatism 44:1496-1503.
7. Permana H. Patomekanisme osteoporosis sekunder akibat steroid dan kondisi lainnya.
Kapita Selekta Reumatologi Klinik, Bandung, 2008:29-36.
8. Sudarsono D. Tata Laksana Osteoporosis akibat pemakaian steroid. Kapita Selekta
Reumatologi Klinik, Bandung, 2008:37-44.
9. Francis RM. Osteoporosis: Pathogenesis and management, Kluwer Academic press,
Boston, 1990.
10. Saag KG, Emkey R, Schnitzer TJ, et al. Alendronate for the prevention and treatment of
glucocorticoid induced osteoporosis. N Engl J Med 1998; 339 : 292-9.
11. Cohen S,Levy ML, Keller M, Boling E, Emkey RD,Greenwald M. Risedronate therapy
prevents corticosteroid-induced bone loss. Arhritis & Rheumatism 1999; 42:2309-18.
12. Yood RA, Harrold LR, Fish L. Prevention of glucorticoid induced osteoporosis .
Experience in managed care setting. Arch Intern Med.2001; 161,1322-7.
13. Canalis E, Giustina A. Glucocorticoid-induced osteoporosis: Summary of a workshop. J
Clin Endocrinol Metab.2001; 86(12):5681-5.
14. Glucocorticoid-induced osteoporosis. Arthritis & Rheumatism 2001;44:1496-503.