1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang
perlu mendapat perhatian serius dari tenaga kesehatan, baik dokter maupun
perawat gigi. Hal ini dapat dilihat dari fakta yang ada bahwa penyakit gigi dan
mulut masih diderita oleh 90% penduduk Indonesia (Anitasari, 2005).
Masalah kesehatan gigi utama menurut laporan hasil survey oleh
Departemen Kesehatan tahun 1999-2003 salah satunya adalah prevalensi penyakit
periodontal dan karies gigi yang tinggi disebabkan oleh keadaan kesehatan gigi
dan mulut yang buruk (Sasmita, 2006).
Salah satu indikator kesehatan gigi dan mulut adalah tingkat kebersihan
rongga mulut. Hal tersebut dapat dilihat dari ada tidaknya deposit-deposit organik,
seperti pelikel, materi alba, sisa makanan, kalkulus, dan plak gigi. Pengendalian
plak adalah upaya membuang dan mencegah penumpukan plak pada permukaan
gigi. Upaya tersebut dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi.
Pembuangan secara mekanis merupakan metoda yang efektif dalam
mengendalikan plak dan inflamasi gingival. Pembuangan mekanis dapat meliputi
penyikatan gigi dan penggunaan benang gigi (Sasmita, 2006).
Sebelum melakukan upaya kuratif alangkah lebih baik jika kita bisa
melakukan aksi preventif yang salah satunya dapat dilakukan dengan mengetahui
apa saja penyakit yang bisa terjadi di gigidan mulut serta cara-cara untuk
menyembuhkannya apabila sudah terlanjur menderita. Untuk itulah pada makalah
ini akan dipaparkan berbagai jenis penyakit umum yang sangat sering terjadi dan
cara-cara untuk mengatasinya.

1.2. Tujuan
Mengetahui berbagai jenis penyakit gigi dan mulut beserta terapinya.

2

BAB II
PEMBAHASAN


II.1. Abses
Abses adalah suatu radang sufuratif di dalam tubuh yang berisi pus (nanah)
terjadi karena hancurnya jaringan, biasanya disebabkan oleh kuman-kuman
piogenik. Macam-macam abses yang ada di rongga mulut dan sekitarnya, antara
lain :
1. Abses alveolar yaitu abses yang meliputi tulang alveolar.
2. Abses periapekal yaitu abses yang terjadi di sekitar ujung akar gigi yang
saluran akarnya telah terinfeksi.
3. Abses periodontal yaitu abses yang terjadi karena timbulnya peradangan
ligament periodontium, biasanya diawali dengan adanya perodentitis.
4. Abses gingival yaitu abses yang terjadinya secara mendadak dan terbatas pada
margin gingival.
5. Abses vestibuler ialah abses yang terjdi pada vestibulum oris, warna
kemerahan, fluktuasi, rasa nyeri, gigi, penyebab jelas terdeteksi, kadang ada
pembengkakan extra oral.
6. Abses palatum adalah abses yang terjadi di tulang dan mukosa palatum, tanda
klinis terdapat pada gigi atas, ada bengkak palatum, rasa nyeri, mukosa
kemerahan, fluktuasi.
7. Abses submukosa ialah abses terdapat pada submukosa baik di vestibulum oris,
palatinal, lingual, ataupun gingival, rasa nyeri, warna merah, fluktuasi jelas,
sakit, terkadang mengalami trismus. Pada region molar maupun premolar.
8. Abses subkutan ialah abses yang terjadi pada sub kutan. Dapat bersifat akut
maupun sub akut kronis. Pembengkakan ekstra oral, kadang ada trismus, batas
pembengkakan jelas, dan keadaan umum kurang baik.
Terapi abses adalah dilakukan ncisi, dan drainase. Bila penyebabnya adalah
gigi drainase, bisa dilakukan dari gigi (trepanasi) atau dilakukan pencabutan gigi
penyebab. Setelah dilakukan drainase atau insisi maka pasien diberikan obat
3

antibiotic (aerob/anaerob). Pada insisi ekstraoral (di kulit) maka garis insisi
mengikuti garis langerhans.
(Bakar, 2012)

Sumber : http://dentosca.files.wordpress.com/2011/04/picture5.jpg

II.2. Kista Pada Rahang
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, semi-cairan ataupun sepert
gas dan tidak dibentuk oleh pengumpulan nanah, yang sering dibatasi oleh epitel,
tetapi tidak selalu.
II.2.1. Patogenesis
Suatu teori menyebutkan adanya degenerasi sel sentral di dalam
prolifersi sel epitel yang mengakibatkan suatu tekanan osmotik dan
menyebabkan pelepasan prostaglandin. Hal ini memunculkan terjadinya
akumulasi cairan. Teori lain menyebutkan terbentuknya kista disebabkan
oleh adanya degenerasi dari jaringan granulasi.
Tabel 31. Klasifikasi Kista
Kista Epitel
Odontogenik
Developmental Odontogenic keratocyst(kista 5-10 %
4

primordial)
Dentigorous (follicular) :
kista erupai, periodontal
lateral, dan gingival

10-15 %
Inflammtory Radicular :
apical,lateral,residual
paradental

60-70%
Non odontogenik
Nasopalatine,nasolabial, 5-10%
Kista non epitel
Kista ulang soliter
(hemoragi,idiopatik,traumatic)
Kista tulang aneurismal
Kista tulang stafine’s

II.2.2. Macam-macam Kista Pada Rahang
1. Kista primordial adalah kista yang timbul dari pemecahan retikulum
stelata organ enamel sebelum terbentuk jaringan yang dimineralisasi
sehingga timbul pada tempat gigi normal ataupun supernumerary.
Banyak diderita oleh lelaki, pada umur dasawarsa kedua dan
ketiga,dan banyak terdapat di mandibula dari pada maksila (75%
mandibula), dan sekitar 50% dari semua kasus di mandibula, berlokasi
di angulus mandibula, yang dapat meluas ke korpus atau ke ramus
ascendens mandibulae. Pasien merasa nyeri, ada pembengkakan dan
keluar sekret. Kadang mengalami parastesia. Beberapa pasien
mengalami fraktur mandibula patologis. Kista yang terdapat di
maksila lebih sering mengalami infeksi dan sepertiganya mengalami
expansi ke buccal. Pada gambaran radiologis sering terlihat sebagai
daerah radiolusensi yang besar ,bundar, atau ovoid. Kebanyakan
berbatas tegas dengan tepi sklerotik. Dapat monolokuler dan dapat
juga multilokuler. Lesi monolukuler dapat mempunyai tepi berbentuk
“scalloped” (melekuk-lekuk).
5


2. Kista Gingival pada bayi, sering dilihat pada neonatus, tetapi jarang
terlihat setelah bulan. Sebagian besar diantaranya mengalami involusi
dan hilang atau pecah melalui epitel permukaan bereksfolisi. Kista ini
sering ditemukan di puncak alveolar ridge pada maksilla dan
mandinula.

3. Kista Gingival pada orang dewasa, kista ini kira-kira hanya 0,3% dari
keseluruhan kista rahang yang ada, dan diderita oleh paling baynak
antara umur 40-59 tahun. Wanita lebih banyak menderita kista ini,
dengan pertandingan 2:1. Lebih sering terjadi pada mandibulla
daripada maksilla, tertama regio premolar atau caninus. Pada
gambaran klinis terlihat adanya pembengkakan pada gingiva, tumbuh
lambat dan tidak sakit. Berbatas tegas, kecil dengan diameter kurang
dari 1cm. Berlokasi pada attached gingiva atau papilla interdentalis
dan selalu pada sisi faisl. Permukaan licin seperti warna gingiva yang
normal ataupun kebiruan, konsistensi lunak, fluktuasi, dan gigi yang
berdekatan biasanya vital. Pada pembedahan terlihat adanya erosi
tulang tanpa perluasan ke periodontium.

4. Kista Periodontal Lateralis. Di temukan dalam jumlah yang sangat
sedikit, dan kira-kiranya hanya 1,5% selama 20 tahun. Diderita pada
umur rata-rata 50 tahun, dan ada kecendurungan banyak diderita oleh
laki-laki. Lokasi antara premolar dua kiri sampai pada premolar dua
kanan, lebih banyak terjadi di mandibula dari pada maksilla. Terlihat
pada pemeriksaan radiologis yang rutin (daerah radiolusensi ovoid
ataupun bundar yang berbatas tegas dengan tepi sklerotik), namun
kadang-kadang dapat membesar dan terjadi pembengkakan pada
gingiva pada sisi faisal, yang jelas gigi di sampingnya terlihat masih
vital.
5. Kista Dentigerous (folikuler) adalah kista yang tumbuh dari folikel
gigi dan menutupi mahkota gigi yang belum erupsi serta melekat pada
6

leher gigi. Gigi yang terlibat, berturut-turut adalah molar ketiga
mandibula, caninus maksilla, dan kemudian diikuti oleh premolar
mandibula dan molar ketiga maksilla. Kista dentigerous dapat tumbuh
besar sebelum terdiagnosis. Sebagian ditemukan pada pemeriksan
radiologis ketika tidak ada erupsi gigi, gigi hilang, miring atau keluar
lengkung gigi. Tumbuh perlahan-lahan dan terasa sakit bila
mengalami infeksi serta terjadi pembengkakan menyerupai abses.
Tetapi penderita mengeluh bahwa pembengkakan masih tetap ada
walaupun tidak sebesar bila mengalami infeksi. Bila tidak ada infeksi
maka kista ini tidak memberi sensasi sakit. Pada gambaran radiografis
terlihat gambaran radiolusensi unilokuler yang di dalamnya
mengandung mahkota gigi, dinding skerotik,dan berbatas tegas
kecuali bila telah terinfeksi. Kadang-kadang terlihat trabekulasi yang
dapat memberi kesan multilokularatis.

6. Kista Erupsi adalah kista dentigerous yang terjadi pada jaringan
lunak, kista ini berkembang dari folikel gigi yang sedang bererupsi.
Terlihat permukaan licin dengan warna gingiva normal atau pun
kebiruan, lunak dan berfluktuasi. Tidak merasa sakit kecuali
terinfeksi. Kadang dapat terlihat lebih dari 1 kista. Dalam 3-4 minggu
akan berdiameter kira-kira 1-1,5 cm.

7. Kista Apical atau kista radikuler adalah kista yang timbul dari sisa-
sisa epitel pada ligament periodontal sebagai akibat peradangan yang
mengikuti kematian pulpa gigi dan ditemukan di daerah apikal gigi.

8. Kista Residual, adalah kista yang berkembang dari sisa yang
tertinggal ketika gigi nekrosisnya diambil. Biasanya ditemukan setelah
dilakukan pencabutan.
9. Kista Dermoid, adalah kista congenital yang berisikan elemen-
elemen yang berasal dari jaringan ectodermal dan ditemukan dalam
kulit, dasar mulut, dan leher bagian atas.
7


10. Kista Ductus Nasopalatinus, disebut juga kista canalis incisivus.
Berdinding epitel yang berasal non-odontogenik, diduga berasal dari
sisa-sisa epitel embrionik dalam canalis nasopalatinus, dan epitel ini
termasuk dalam garis fusi prosessus fasialis embrionik. Gejala yang
lazim adalah pembengkakan, biasanya pada region anterior garis
tengah palatum. Juga dapat terjadi pada garis tengah bagian labial
“alveolar ridge”. Pada beberapa kasus dapat dijumpai fluktuasi. Dapat
terjadi kombinasi pembengkakan, secret, dan nyeri. Secret bias
mukoid, yang dirasakan pasien sedikit asin, bias purulent dan
mengeluh adanya bau busuk. Terlihat juga adanya pergeseran gigi.
Untuk menentukan diagnosis, maka perlu disingkirkan adanya
kemungkinan lesi periapikal dan mengetest vitalitas gigi incisivus.
Kista ini terjadi dalam canalis incisivus dan mungkin sulit
menentukan apakah kista atau canalis yang membesar. Karena itu
batas maksimal dari canalis normal adalah 6 mm. lebih dari itu sudah
bisa kita sebut kista. Kista ini ditemukan pada garis tengah palatum,
diatas atau pun di antara gigi incisivus pertama.

11. Kista Palatine Median, adalah kista perkembangan yang timbul di
fissure mediana palatum.

12. Kista Nasolabialis, kista ini terjadi di luar tulang pada lipatan
nasolabialis di bawah alae nasi. Sebenarnya merupakan kista jaringan
lunak.

13. Kista Globulomaksilaris, yaitu sebagai kista yang ditemukan dalam
tulang antara incisivus kedua dan caninus maksilla. Secara radiologis
merupakan lesi yang radiolucent dan berbatas tegas yang sering
menyebabkan akar gigi yang berdekatan divergen.
II.2.3. Perawatan yang Dilakukan pada Kista Rahang
1. Enukleasi dengan cara mengeluarkan seluruh batas sel dan isinya.
8

2. Marsupialisasi yaitu metode pembedahan untuk membuka rongga
kista dengan membuang satu dinding dan megubahnya menjadi suatu
kantung.
3. Orthograde root canal therapy : cara ini baik untuk kista radiculer
apical.
(Bakar, 2012)

II.3. Neoplasma
Neoplasma adalah masa jaringan abnormal hasil proses neoplasi yang
tumbuh aktif dan otonom tersusun oleh sel-sel yang berasal dari jaringan tubuh
sendiri yang dalam proses perkembangannya telah mengalami deferensiasi
abnormal. Ada 2 macam neoplasma yaitu neoplasma jinak (benign neoplasm) dan
neoplasma ganas (malign neoplasm) atau yang sering disebut sebagai kanker.
Ciri-ciri neoplasma jinak :
- Rasa sakit tidak ada
- Waktu berkembang lambat
- Ekspansif
- Bertangkai
- Batas tegas
- Berkapsul / stroma
Ciri-ciri neoplasma ganas :
 Terjadi rasa sakit
 Pertumbuhannya infiltrative
 Perkembangannya cepat
 Tidak bertangkai
 Tidak berbatas tegas / tidak berstroma
 Terjadi gangguan fungsi
II.3.1. Macam-macam neoplasma di rongga mulut dan jarinagn sekitar :
1. Lipoma : neoplasma jinak dari jaringan lemak lokasi jelas pada
tempat yang terdapat lemak tipis.
2. Polip : merupakan jaringan fibrovaskuler dilapisi epitel penutup
menonjol di permukaan mukosa, berbasis dan bertangkai.
9

3. Papilloma : suatu pertumbuhan yang papiler, pertumbuhan menonjol
merupakan jaringan fibrovaskuler di bawah epitel. Tumbuh ke
permukaan dan dilapisi epitel, bertangkai dan mudah digerakan.
4. Adenoma : neoplasma yang tersusun dari sel-sel yang identic dalam
struktur dan fungsi yang sama, dapat merupakan sel-sel apokrin atau
sel-sel epitel saluran kelenjar.
5. Ameloblastoma : tumor jinak dari epithelia yang progresif, dapat
recurrent dan berbuah ganas, banyak terdapat di rahang bawah (ramus
molar) di region posterior. Berasal dari epitel malaze dapat berasal
dari epitel email atau kista dentigerus, deformitas wajah wajar,
asimptomatik, gigi goyah dan maloklusi. Jarang terjadi pada anak-
anak, biasanya pada umur 30-45 tahun. Terjadi deformitas wajar, gigi
goyah dan asimtomatik. Terlihat proses osteolitik, multilokuler,
kadang unilokuler, gambaran tepi radiolusen jelas karena ada sklerotif,
terdapat resobsi akar gigi.
6. Calcifying Odontogenic Tumor : dikenal sebagai pinborg tumor,
terlihat seperti ameloblastama, terjadi deformitas wajah. Banyak pada
lelaki remaja usia sampai 40 tahun, banyak pada rahang bawah di
daerah molar. Biasanya ditemukan dengan gigi impaksi. Lesi
multilokuler (disebut sebagai honey cumb) atau unilokuler. Secara
keseluruhan radiolusen, bila ada gambaran radiopak disebabkan
adanya kalsifikasi.
(Bakar, 2012)




II.4. Karies Gigi
Nama latin dari email adalah Substansi adamatina. Dapat diterjemahkan
dengan “bahan abadi”. Sekarang dapat diketahui bahwa bila lingkungan pada
email tidak menguntungkan, memang menjadi tidak abadi. Email dapat hilang
10

oleh keausan fisiologis (atrisi) pada pengunyahan. Keausan yang benar-benar
merugikan (abrasi) dapat terjadi karena cara menggosok gigi yang salah. Hal
semacam keausan mekanis ini bukanlah merupakan karies gigi. Begitu juga erosi,
larutnya email pada suasana asam (makanan) bukan termasuk karies gigi. Karies
gigi adalah proses demineralisasi yang disebabkan oleh suatu interaksi antara
(produk-produk) mikroorganisme, ludah, bagian-bagian yang berasal dari
makanan dan email. Bagaimana proses tersebut terjadi sebagian telah diketahui
dan terdapat berbagai teori yang diletakkan diatasnya. Dikatakan bahwa setelah
demineralisasi sebagian bahan anorganik, kebanyakan diselingi oleh periode
remineralisasi, pada proses selanjutnya juga bahan organik email akan hilang dan
akhirnya terjadi suatu kavitas. Pada umumnya, sebelum terjadi kavitas pada email,
dentin sudah agak terserang. Fase proses karies yang terutama terbatas pada email
untuk pencegahan sangat penting karena masih dimungkinkan kesembuhan
seluruhnya atau sebagian. Oleh sebab itu perlu memberi perhatian utama pada
karies email.

II.4.1. Histopatologi Karies Email
Belum jelas bagian mana dari email yang terserang pertama,
apakah permukaan luar atau daerah yang letaknya lebih dalam. Hal yang
paling dini adalah permukaan email melakukan demineralisasi dengan
sendirinya, segera sesudahnya terlihat penyimpangan tepat di bawah
permukaan, sedang email yang terletak diluar memberi kesan tidak
terserang karena terjadi juga remineralisasi. Pada saat remineralisasi
permukaan yang rusak dapat menjadi baik begitu juga bagian yang lebih
dalam.

II.4.2. Aspek Klinis
Pada stadium klinis terlihat penyimpangan gambar pada gigi sehat,
lebih dari 10% pasien juga dapat melihat bahwa ada sesuatu yang tidak
normal. Yang tidak normal tersebut adalah suatu warna putih yang
disebabkan oleh pematahan sinar pada perubahan apatitemail dan ruang
mikro yang terisi dengan cairan, gas atau udara. Pada keadaan terakhir
11

lapisan permukaan juga mudah diserang. Sekali rontok atau rusak
perbaikan email berkaries tidak mungkin lagi.

II.4.3. Pemeriksaan Klinis
Tindakan preventif mempunyai efek terbesar segera setelah erupsi
email. Untuk permukaan proksimal dengan pertolongan fotografi rontgen
untuk itu ternyata berlaku juga bahwa karies tidak selalu menyebabkan
kavitas.

II.4.4. Pencegahan Karies
Setiap tempat ditimbun plak pada dasarnya mempunyai
kemungkinan lebih besar untuk diserang karies. Tindakan preventif yang
diperlukan ialah penempatan suatu restorasi. Untuk pencegahan perlu
dilakukan penghilangan faktor-faktor predisposisi seperti struktur dan
susunan email, lingkungan elemen gigi, faktor sosial dan perilaku serta
faktor genetik.
1) Struktur dan Susunan Email
Tindakan prevensi yang memungkinkan terbatas :
a) Makro morfologi elemen yaitu bentuk fisura yang tidak
menguntungkan menyebabkan karies.
b) Susunan kimiawi email sebetulnya hanya dipengaruhi positif oleh
penawaran fluorida.
2) Lingkungan Elemen Gigi
a) Ludah
b) Faktor bakterial
c) Faktor makanan yaitu substrat untuk bakteri
d) Pembersihan
3) Faktor Sosial dan Perilaku
Banyak faktor-faktor seperti yang sudah disebutkan sebelumya
ditentukan oleh tindakan pasien. Karies pada dasarnya penyakit
multikausal yang sebenarnya banyak cara untuk memberantas
kerusakan tersebut.
12

4) Faktor Genetik
Bentuk fisura dan besarnya elemen-elemen adalah contoh parameter
genetik tertentu yang tidak dapat diubah, tetapi suatu pengaruh negatif
karies dapat dihilangkan. Fisura dan cekungan dalam secara preventif
dapat diisi atau ditumpat (ditutup), sedangkan kekurangan ruang pada
rahang karena elemen-elemen besar atau rahang kecil dapat dirawat
dengan orthodonsia atau ekstraksi.

Sumber : http://klinikjoydental.com/wp-
content/uploads/2012/07/tumblr_lhdwpcDFMk1qctp9io1_400.gif


II.5. Trauma / Fraktur Gigi
Fraktur gigi adalah hilangnya kontinuitas struktur, garis fraktur pada gigi
dapat bersifat vertical, horizontal ataupun oblique. Klasifikasi fraktur ellis :
- Kelas 1 : fraktur mahkota dengan melibatkan email dan sedikit jaringan dentin.
- Kelas 2 : fraktur mahkota dengan melibatkan lebih banyak dentin dan pulpa
belum terbuka.
13

- Kelas 3 : fraktur mahkota dengan melibatkan lebih banyak dentin dan pulpa
terbuka.
- Kelas 4 : gigi menjadi non vital, dengan atau tanpa kehilangan jaringan gigi.
- Kelas 5 : gigi lepas karena trauma.
- Kelas 6 : fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota.
- Kelas 7 : gigi berpindah tempat, tanpa fraktur mahkota atau akar.
- Kelas 8 : fraktur mahkota komplit dan gigi berpindah tempat.
- Kelas 9 : fraktur pada gigi decidui.

Penanganan pada kasus fraktur gigi tergantung pada keterlibatkan pulpa dan
periapeks. Bila tidak ada pulpa dan periapeks yang terlibat maka bisa langsung
dilakukan restorasi. Sedangkan bila pulpa ataupun periapeks terlibat maka
indikasinya pada masing-masing perawatan pulpa, atau dilakukan pencabutan.

Trauma jaringan periodontal :
1. Concusiaon, yaitu trauma yang mengenai jaringan pendukung gigi yang
menyebabkan gigi lebih sensitive terhadap tekanan dan perkusi tanpa adanya
kegoyangan atau perubahan posisi gigi.
2. Subluxation, yaitu kegoyangan gigi tanpa disertai perubahan posisi gigi
akibat trauma pada jaringan pendukung gigi. Lakukan splinting dan pasien
diminta untuk memakan makanan lunak selama 1-2 minggu. Agar plak tidak
meningkat maka pasien diintruksikan untuk berkumur menggunakan
klorheksidin.
3. Luksasi Ekstrusi (partial displacement), yaitu pelepasan sebagian gigi
keluar dari soketnya. Ekstrusi menyebabkan mahkota gigi terlihat lebih
panjang. Perawatan yang diberikan adalah reposisi segera dan fiksasi.
4. Luksasi, merupakan perubahan letak gigi yang terjadi karena pergerakan gigi
kea rah labial, palatal maupun lateral. Hal ini menyebabkan kerusakan atau
fraktur pada soket alveolar gigi tersebut. Trauma gigi yang menyebabkan
luksasi lateral menyebabkan mahkota bergerak ke arah palatal.
14

5. Luksasi intrusi, yaitu pergerakan gigi ke dalam tulang alveolar, dimana
dapat menyebabkan kerusakan atau fraktur soket alveolar. Luksasi intrusi
menyebabkan mahkota gigi terlihat lebih pendek.
6. Laserasi (hilang atau ekstrartikulasi), yaitu pergerakan seluruh gigi keluar
dari soketnya.
(Bakar, 2012)



II.6. Infeksi Rongga Mulut

Infeksi adalah masuk dan berkembang biaknya mikroorganisme dalam
tubuh sampai timbulnya gejala penyakit.
Infeksi di rongga mulut dapat terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Infeksi odontogenik : sumber infeksi berasal dari gigi.
2. Infeksi non odontogenik
Penyebaran infeksi odontogenik dapat tergambarkan sebagai berikut.
15



II.6.1. Kondisi Akut
a. Acute psedomembranous candidiasis (Thrush)
Kandidiasis jenis ini bercirikan bercak-bercak kuning krem yang
lunak mengenai daerah mukosa mulut yang luas. Plak ini tidak
melekat dan mudah dikelupas untuk memperlihatkan mukosa
eritematus di bawahnya. Terjadi pada 5 % bayi baru lahir dan 10 %
lansia yang lemah. Penatalaksanaannya dengan terapi pliene secara
topical harus membawa kesembuhan dalam 7-10 hari. Pengobatan
harus dilanjutkan selama 2 minggu setelah penyembuhan (berarti
aplikasi selama 4 minggu).
b. Acute atrophic candidiasis (antibiotic sore mouth)
Kandidiasis yang bersifat eritematous (paling sering di palatum
dan permukaan dorsal lidah pada penderita dengan pengobatan
steroid), sering kali menimbulkan rasa sakit, faktor predisposisi lain
yang mengakibatkannya adalah pengobatan antibiotic, pengobatan
dengan steroid serta infeksi HIV. Penatalaksanaanya dengan terapi
poliene secara topical harus diberikan selama 4 minggu, terapi
kronis
lesi Periapilkal
granuloma peripikal abses periapikal
akut
darah :
bakterimia
penentrasi :
sinus mukosa,
sinus kulit
rahang : osteomyelitis, periostis
kronis : abses kronis, abses osteomyelitis
jaringan lunak : abses, selulitis kista radikuler
16

antibiotic dihindari, penderita dengan terapi steroid secara inhalasi
harus dianjurkan untuk berkumur-kumur dengan air sesudah inhalasi
untuk mengurangi jumlah steroid di dalam rongga mulut.

II.6.2. Kondisi Kronis
a. Chronic Atrophic Candidiasis (denture sore mouth)
Paling sering dijumpai dan menyerang - ⅔ penderita yang
memakai gigi palsu. Penyakit ini juga sering timbul pada mukosa
yang tertutup alat orthodonsi. Penatalaksanaannya dengan terapi
poliene secara topical harus diberikan setiap 6 jam selama 4 minggu.
Para penderita dianjurkan untuk merendam gigi palsunya dalam
larutan hipoklorit semalaman, untuk menghindari pertumbuhan jamur.
Gigi tiruan dari chrom cobalt dalam larutan clorhexidin 0,2 %.
b. Angular Cheilitis
Penyebabnya biasanya adalah Candida albicans,
Staphylococcus aureus. Tanda klinisnya berupa fisur eritematosis
simetris pada kulit commissural. Sering dijumpai terutama pada
pasien lanjut usia dan tidak lagi bergigi.
c. Median Rhomboid Glossitis
d. Chronic Hyperplastic Candidiasis
Perubahan hiperplastik dari epitel yang secra klinis berupa
bercak-bercak putih. Dapat terjadi dimana saja secara karakteristik
terjadi secara bilateral pada aderah komisura mukosa bukal. Terapinya
anti jamur jangka panjang (selama 3 bulan yaitu pemberian poliene
secra topical). Tetapi setiap defisiensi zat besi serta penyakit yang
mendasarinya harus disembuhkan (Bakar, 2012).

17

BAB III
Terapi Penyakit Gigi dan Mulut
I. Antibiotok
Antibiotik adalah golongan senyawa, baik lamai maupun sintetik, yang
mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam
organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotik
khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam
bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap
mutan atau transforman. Antibiotik bekerja seperti pestisida dengan menekan atau
memutus satu mata rantai metabolism, hanya saja targetnya adalah bakteri.
Antibiotik berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desinfektan
membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman
untuk hidup.
Ada 6 kelompok antibiotik yang digunakan dalam kedokteran gigi berdasarkan
sasaran kerjanya:
1. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencangkup golongan penisilin,
polypeptide dan Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G.
2. Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencangkup golongna Quinolone, misalnya
rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid.
3. Inhibitor sintesis protein, mencangkup banyak jenis antibiotic, terutama dari
golongan Macrilide, Aminoglycoside, dan Tetracyline, misalnya gentamycin,
chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline;
4. Inhibitor fungsi membran sel, misalnya inomycin, vilinomycin; inhibitor fungsi
sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya oligomycin,
tunicamycin;
5. Anitemetabolit, misalnya azaserine.



18

Ada 2 macam bakteri berdasarkan spektrumnya:
1. Spectrum luas : ampicilin, amoxycillin, hetacilin, tetracylin, cloramphenicol,
gentamycin
2. Sectrum sempit, dibagi menjadi 2:
a. Gram positif bacteria: bnezilpenicillins, cloxacillins, cephalosporin,
bacitracin, erythromycin, spiramycin.
b. Gram negatif becteria: polymycin B, collistin.
Tabel pemakaian antibiotik dalam penatalaksanaan penyakit gigi dan mulut
Antibotik Dosis deawsa Indikasi Kontraindikasi
Ampisiin
250-500 mg.2-4
kali sehari
Pengobatan paska
bedah baik minor
maupun mayor,
pengobatan
infeksi gram
positif dan gram
negatif
Hipoersensitif,
hati-hati pada
kehamilan,
menyusui
Amoksisilin
250-500 mg, 3
kali sahari
Pengobatan paska
bedah baik minor
maupun mayor,
pengobatan
infeksi gram
positif dan gram
negatif, infeksi
kulit, luka selulitis
Hipersensitifitas,
jika ada kegagalan
ginjal dosis
dewasa, 500
mg/12 jam
Tetrasiklin
250-500 mg, 4
kali sehari
(diminum 1 jam
Pengobatan paska
bedah baik minor
maupun mayor,
Hipersensitifitas,
penderita
gangguan ginjal,
19

sebelum makan
atau 2 jam
sesudah makan
pengobtan infeksi
gram positif dan
gram negatif
wanita hamil,
menyusui, anak
dibawah 8
tahuaaaaaaan
Eritromisin
250-500 mg, 2-
4 kali sehari,
infeksi berat 4
gram per hari
Pengobatan paska
bedah baik minor
maupun mayor,
pengobatan
infeksi
streptokokus
(faringitis,
erycipelas),
pengganti
penilisin (pada
pasien yang alergi
penisilin)
Hipoersensitif,
hati-hati pada
pasien dengan
gangguan hepas
Metronidazol
250-500 mg 3-4
kali seharfi
Pengobatan paska
bedah baik minor
maupun mayor
untuk kuman
anaerob
Trsemester
pertama
kehamilan,
hipersensitifitas
Klindamisin
150-300 mg 3-4
kali sehari
Infeksi yang
disebabkan oleh
bakteri anaerob,
infeksi yang
idsebabkan oleh
strain,
streptococci,
pneumococcin,
staphylococci
Hipersensitifitas
20

Kloramfenikol
125-250 mg, 4
kali sehari
Pengobatan paska
bedah baik minor
maupun mayor,
infeksi parah,
spetikemi,
bakteremia
Hipersensitifitas,
gangguan hati,
ginjal

II. Analgesik
Analgesik adalah golongan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri
seperti kepala, gigi, dan sendi. Obat golongan analgesik umumnya
jugamempunyai efek antipiretik, yakni mampu menurunkan suhu tubuh, sehingga
biasa disebugt obat golongan analgesik-antiperitik, seperti aspirin, parasetamol,
dan antalgin.

Tabel beberapa analgesik yang digunakan dalam kedokteran gigi :
Agen analgesic Dosis dewasa Kontraindikasi
Non steroidal anti-inflammatory drugs (NSAI DS)
Ibuprofen 400 mg, 2-4 kali sehari Asma,tukak lambung,
tendensi
perdarahan,hepatitis,
kehamilan atau menyusui,
hipersensitifitas aspirin
Asan mefenamat 250-500 mg, 3 kali sehari
Celecoxib 100 mg, 2 kali sehari
Non-NSAIDS
Paracetamol
(acetaminophen)
500-1000 mg, mkas 4 kali
sehari
Penyakit ginjal atau hati
Nefopam 30-6- mg, maks 3 kali Kelainan kejang,
21

sehari kehamilan, penyakit ginjal
atau hati

III. Obat Anti Jamur
Sebagian besar infeksi jamur yang ada di ringga mulut disebabkan oleh
spesies candida, yang paling sering adalah candida albicans. Maka diperlukan
panatalaksanaan pasien untuk menjaga kebersihan mulutnya.
Tabel Obat-obat Anti Jamur
Obat Sediaan Dosis Indikasi
Nystatin
Pastilles sirup
salep atau krim
100.000 unit, 4 kali
sehari
100.000 unit/ml, 4
kali sehari
100.000 unit/mg, 4
kali sehari
(durasi: 2-4
minggu)
Infeksi candida
albicans, perawatan
yang lebih lama
untuk kasus
kandidiasis kronis
atau pada pasien
immunocompromise
d
Amphotericin Lozenges sirup
10 mg, 4 kalio
sehari
100 mg/ml, 4 kali
sehari
(durasi 2-4 minggu)
Miconazole
(efektif terhadap
bakteri gram
positif)
Gel, krim, salep
25 mg/ml,
diaplikasikan pada
fitting surface gii
tiruan
2%, 2-3 kali sehari
pada sudut mulut
Denture stomatitis
(kandidiasis
eritmatur kronik)
Angular cheilitis
Angular chilitis
22

2 %, pada sudut
mulut
Fluconazol Kapsul sirup
50 mg
50 mg/5 ml, tiap
hari, durasi 1-2
minggu
Infesi jamur

IV. Obat Anti Virus
Infeksi virus terdapat pada intraseluler dan obat anti virus menjegah
terjadinya kerusakan sel hospes. Salah satu obat anti virus yang sering digunakan
adalah acyclovir, obat ini bereaksi pada enzim seluler dengan membentuk
guanosine triphospate yang merusak sintesis DNA virus.
Tabel Obat anti virus :
Penyakit Dosis Frekuensi Durasi
Herpes simpleks
primer
200 mg (tablet,
pada orang
dewasa), pada anak,
2 tahun ½ dosis
dewasa
5 kali sehari 5 hari
Herpes simpleks
sekunder
5% krim 5 kali sehari
Pada fase
prodomal
Herpes zoster
(shingles)
800 mg (tablet) 5 kali sehari 7 hari


23


V. Obat Kumur (Antiseptic)
Antiseptic adalah zat-zat kimia yang mamapu membunuh atau
menghentikan aktivitas bekteri hanya dalam bentuk vegetatif. Pemakaian
antiseptik sebagai obat kumur mempunyai peran ganda yaitu sebagai pencegah
langsung pertumbuhan plak gigi supragingiva dan sebagai terapi langsung
terhadap plak gigi subgingiva.
Macam-macam obat kumur:
1. Clorhexidine
Kumur-kumur dua kali sehari dengan mengunakan 0,2 % larutan
chlorhexine akan mengurangi jumlah mikroorganisme dalam saliva sebanyak
80% dan apabila pemakaian obat kumur dihentikan bakteri akan kembali
seperti semila dalam waktu 24 jam chlorhexine diserap oleh hydroxiapatit
permukaan gigi dan mucin dari saliva, kemudian dilepas perlahan-halan dalam
bentuk yang aktif. Keadaan ini merupakan dasar aktivitas chlorhexidine untuk
menghambat pembentukan plak (anti-plak). Chlorhexidine dapat membantu
penyembuhan ulkus (sariawan), mungkikn disebabkan karena berkurangnya
kolonisasi bekteri yang berkontaminasi dengan lulka dan mengurangi
terjadinya infeksi sekunder.
2. Listerin
Listerin merupakan antiseptic yang efektif sebagai anti plak. Uji coba
klinis antara 760 hari menunjukan adanya hambatan pembentukan plak dan
radang gingiva bila digunakan untuk membantu kontrol plak secara mekanis.
3. Hexetidine
Hexetidine sebagai obat kumur yang dipasarkan dengan merek dagang
Bactidol® termasuk golongan antisektik dan merupakan derivat pirimidi.
Mempunyai sifat antibakteri, bermanfaat untuk bakteri gram positif dan gram
negatif dan dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya keradangan.
Hexetidine merupakan antibakteri dengn spektrum luas dengankonsentrasi
rendah bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mulut.
24



4. Povidon iodine
Povidon iodine 1% sebagai obat kumur yang dipasarkan dengan merek
dagang Betadine® (untuk sekanjutnyab kami sebut betadine) sebagai antiseptik
mempunyai sifat antibakteri. Obat kumur ini dapat dipakai untuk mengurangi
bakteremia setelah pencabutan gigi atau setelah perawatan bedah.

VI. Obat-obat Antianxietas (Anti cemas)
a. Diasepam
Diasepam memudahkan aktivitas gamma amono butyric acid (GABA)
pada sistem syaraf pusat, mempunyai efek sedasi, dosis awal diasepam
4mg/hari. Dosis maksimal 60mg/hari.
b. Baclofen
Efek sedasi lebih sedikit, dosis 2x15 mg/hari, dapat ditingkatkan hingga
100 mg/hari.

Perawatan Penyakit Gigi dan Mulut
Karies
Biasanya perawatan yang diberikan adalah pembersihan jaringan gigi yang
terkena karies dan penambalan (restorasi). Bahan tambal yang digunakan dapat
bermacam-macam, misalnya resin komposit (penambalan dengan sinar dan bahannya
sewarna gigi), glass ionomer cement, kompomer, atau amalgam (sudah mulai jarang
digunakan). Pada lubang gigi yang besar dibutuhkan restorasi yang lebih kuat, biasanya
digunakan inlay atau onlay, bahkan mungkin mahkota tiruan. Pada karies yang sudah
mengenai jaringan pulpa, perlu dilakukan perawatan saluran syaraf. Bila kerusakan
sudah terlalu luas dan gigi tidak dapat diperbaiki lagi, maka harus dilakukan
pencabutan.
Infeksi rongga mulut
25

Perawatan infeksi memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, pengendalian
bakteri dan toxinnya merupakan hal yang paling penting dengan memberikan antibiotic
yang tepat sesuai dengan jenis bakteri. Menjaga agar jalan nafas tidak terhalang, karena
pembengkakan pada mulut dapat menyebabkan obstruksi pernafasan. Selain itu menjaga
agar intake makanan dan cairan dapat masuk dengan baik. Tindakan selanjutnya berupa
drainage atau pengeluaran pus, yang terjadi pada tempat pembengkakan agar tidak
menekan dan menyebar dalam pembuluh darah, yang akan mengakibatkan septic syok.
Selain itu pencabutan gigi penyebab atau karang gigi sangat penting untuk mencegah
infeksi berulang.
Abses
Satu-satunya cara untuk menyembuhkan abses gingiva adalah mengikuti
perawatan gigi. Dokter gigi akan mengobati abses dengan menggunakan prosedur
perawatan abses gigi dalam beberapa kasus, pembedahan, atau kedua-duanya.
Fraktur Gigi
Perawatan fraktur klas II pada gigi permanen :
* Perlindungan pulpa
* Restorasi
* Kontrol vitalitas 6-8 minggu

Pulp Capping adalah suatu perlindungan terhadap pulpa sehat yang hampir tereksponasi
atau tereksponasi kecil dengan obat-obatan antiseptik atau sedatif agar pulpa sembuh
kembali serta mendapatkan vitalitas dan fungsi yang normal.





26

BAB IV
KESIMPULAN

Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal, maka harus
dilakukanperawatan secara berkala. Perawatan dapat dimulai dari
memperhatikan diet makanan,angan terlalu banyak makanan yang
mengandung gula dan makanan yang lengket.

Pembersihan plaks dan sisa makanan yang tersisa dengan
menyikat gigi, teknik danc a r a n ya j a nga n s a mpa i me r us a k
t e r ha da p s t r ukt ur gi gi d a n gus i . Pe mb e r s i ha n ka r a ng gigi
dan penambalan gigi yang berlubang oleh dokter gigi, serta
pencabutan gigi yangs uda h t i da k bi s a di pe r t a ha nka n l a gi
da n me r upa ka n f oka l i nf e ks i . Kun j unga n be r k a l a ke
dokter gigi setiap enam bulan sekali balk ada keluhan ataupun
tidak ada keluhan. Dengan memperhatikan hal -hal tersebut, maka
akan dicapai suatu kesehatan gigidan mulut yang optimal.

Dengan demikian akan meningkatkan kesehatan tubuh
secarakeseluruhan dan akan meningkatkan etos kerja yang lebih baik lagi sehingga
kesehatanasmani dan rohani seperti yang diharapkan akan tercapai.







27

DAFTAR PUSTAKA

Anitasari, Silvia. Hubungan Frekuensi Menyikat Gigi. Maj. Ked. Gigi. (Dent. J.), Vol.
38. No. 2 April–Juni 2005: 88–90.
Bakar, Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta : Quantum Sinergis Media.
Bala. 2008. Mucocele. Cerita Kita. http://bala2.wordpress.com/2008/03/27/mucocele/.
(diakses pada tanggal 8 April 2013)
Besford, J. 1996. Mengenal Gigi Anda Petunjuk Bagi Orang Tua. Jakarta : Arcan.
Depkes. 1995. Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Ibu Hamil, Ibu
Menyusui, Balita dan Anak Prasekolah Secara Terpadu di RS dan Puskesmas.
Jakarta.
Ehow. 2012. Cara Mengatasi Mulut Kering. http://menghilangkanbaumulut .blogspot.
com/2012/07/cara-mengatasi-mulut-kering.html (diakses pada tanggal 8 April
2013)
Forrest, J.O. 1991. Pencegahan Penyakit Mulut. Jakarta : Hipokrates.
Houwink, B., Dirks, O.B., Cramwincklel A.B., Crielaers, P.J.A., Dermaut, L.R.,
Eijkman, M.A.J., Huis In’t Veld, J.H.J., Konig, K.G., Moltzer, G., Helderman
V.H., Pilot, T., Roukema, P.A., Schautteet, H., Tan, H.H., Velden-Veldkamp,
M.I.V.D., Woltgens, J.H.M, 1993, Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan,
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ihinsolihin. 2012. Bagaimana Menyingkirkan Sebuah Mucocele. http://ihinsolihin.
com/kesehatan/bagaimana-menyingkirkan-sebuah-mucocele/ (diakses pada
tanggal 8 April 2013)
Ircham, Ediati S, Sidarto S. 1993. Penyakit-penyakit Gigi dan Mulut Pencegahan dan
Perawatannya. Yogyakarta : Liberty.
Nio, Bhe. K. 1987. Preventif Dentistry. Bandung : Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia.
Roeslan, B.O. 2002. Imunologi Oral Kelainan di dalam Rongga Mulut. FKUI : Jakarta.
Sasmita, Inne Suherna. 2006. Gambaran Efek Pasta Gigi yang Mengandung Herbal
terhadap Penurunan Indeks Plak. Bagian Kedokteran Gigi Anak Fakultas
Kedokteran Gigi Unpad. Bandung.
Smith, Joan Liebman. 2008. Body Sign Sinyal-sinyal tubuh Anda dari Ujung Rambut
hingga Ujung Kaki. Jakarta : Ufuk Press.
Srigupta, Aziz Ahmad. 2004. Perawatan Gigi dan Mulut. Jakarta : Prestasi Pustaka.
Sriyono, N.W. 2005. Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Jogjakarta : Medica
Fakultas Kedokteran UGM.
Uripi, Vera. 2002. Menu untuk Penderita Kanker. Jakarta : Puspa Swara.