Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi

fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan
itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun keseh
atan jiwa secara khusus pada lanjut usia. Masalah kesehatan jiwa lanjut usia ter
masuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan
Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajar
i segala aspek dan masalah lanjut usia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, s
ocial, cultural, ekonomi dan lain-lain.
Perkembangan kesehatan seorang lanjut usia antara yang satu dengan lainnya sanga
t bervariasi .Untuk itu penulis akan menyajikan suatu tulisan yang berhubungan d
engan perawatan kesehatan bagi usia lanjut .
Untuk masalah perawatan kesehatan bagi usia lanjut perlu mendapat perhatian khus
us karena bagi usia lanjut kesehatan sudah tidak dapat dihindarkan karena keada
an fisik dan psikologis yang sudah menurun. Menyikapi kondisi seperti tersebut d
iatas maka kita perlu mengetahui bagaimana perkembangan kesehatan usia lanjut da
n bagaimana cara perawatan kesehatan bagi usia lanjut.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN GERONTIK
Gerontik : gerontologi + geriatrik
Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas/menangani tentang proses penuaan/mas
alah yang timbul pada orang yang berusia lanjut.
PENGERTIAN
Ilmu + Keperawatan + Gerontik
Ilmu : pengetahuan dan sesuatu yang dapat dipelajari
Keperawatan : konsisten terhadap hasil lokakarya nasional keperawatan 1983
Gerontik : gerontologi + geriatrik
Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas/menangani tentang proses penuaan/mas
alah yang timbul pada orang yang berusia lanjut.
Geriatrik berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada orang yang b
erusia lanjut.
Keperawatan Gerontik : suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada il
mu dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan kultu
ral yang holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pad
a tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
LINGKUP PERAN DAN TANGGUNGJAWAB
Fenomena yang menjadi bdang garap keperawatan gerontik adalah tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia (KDM) lanjut usia sebagai akibat proses penuaan.
Lingkup askep gerontik meliputi:
1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan
2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan
3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan
Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai berik
ut:
1. Sebagai Care Giver /pemberi asuhan langsung
2. Sebagai Pendidik klien lansia
3. Sebagai Motivator
4. Sebagai Advokasi
5. Sebagai Konselor
Tanggung jawab Perawat Gerontik
1. Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal
2. Membantu klien lansia untuk memelihara kesehatannya
3. Membantu klien lansia menerima kondisinya
4. Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi sa
mpai dengan meninggal.
Sifat Pelayanan Gerontik
1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri)
2. Interdependent
3. Humanistik (secara manusiawi)
4. Holistik (secara keseluruhan)
Model Pemberian Keperawatan Profesional
1. Model Asuhan
2. Model Manajerial?berkaitan pada pengaturan/manajemen
Model asuhan yang sesuai masih dalam penelitian
Diterima sementara ini Ad an Adaptation Model of Nursing (Sister Calista Roy)
Gerontologi
adalah bidang studi yang mempelajari aspek sosial, psikologi dan biologi dari pr
oses penuaan. Hal ini berbeda dengan geriatri, yang merupakan cabang dari ilmu k
edokteran yang mempelajari penyakit pada lanjut usia (lansia). Istilah geriatri
ini berasal dari bahasa Yunani geron yang berarti orang tua dan iatros yang berart
i penyembuh alias dokter atau dukun
Meski ilmu ini sudah diperkenalkan sejak 1909, namun perkembangannya tidak sepes
at ilmu kedokeran yang lain. Katakanlah ilmu biologi molekuler, saat ini sebagia
n universitas terkenal di negeri ini demam dengan ilmu tersebut. Bisa jadi, pengha
rgaan kita terhadap generasi pendahulu kita perlu diperbaharui.
Konotasi jompo atau orang yang tidak berdaya, amat lekat pada lansia. Barangkali,
bila semakin banyak kelompok lansia yang cukup kaya untuk membiayai kesehatannya
, ilmu geriatri ini akan lebih berkembang
Di Amerika, ahli geriatri adalah dokter keluarga atau dokter penyakit dalam yang
memperoleh pelatihan sesuai kualifikasi ilmu geriatri. Pada pokoknya, dokter un
tuk lansia ini bekerja di level komunitas. Sedangkan di Inggris, sebagian besar
ahli geriatri adalah ahli geriatri yang bekerja di rumah sakit, meskipun memilik
i perhatian pula terhadap geriatri komunitas. Pelayanannya meliputi pelayanan or
thogeriatrics (fokus pada osteoporosis dan penanganan komplikasinya), psychogeri
atrics (fokus pada demensia dan depresi pada geriatri) dan rehabilitasi.
Di Indonesia memiliki sejarah yang kurang lebih sama. Adalah Prof Supartondo, ah
li penyakit dalam yang merintis bidang ini. Guru besar FKUI ini, merekrut ahli p
enyakit dalam dari berbagai divisi seperti reumatologi (Prof Harry Isbagio), pul
monologi (dr Asril Bahar), kardiologi (Prof) dan ginjal hipertensi (Dr Suhardjon
o) untuk membangun divisi Geriatri. Saat ini sudah ada 2 orang ahli geriatri di
FKUI yang secara khusus mendalami bidang ini, Dr. Czeresna Heriawan dan Dr. Siti
Setiati
Perkembangan IPTEK memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan yang terliha
t dari angka harapan hidup (AHH) yaitu:
AHH di Indonesia
tahun 1971 : 46,6 tahun
tahun 1999 : 67,5 tahun
Populasi lansia akan meningkat juga yaitu:
Pada tahun 1990 jumlah penduduk 60 tahun ± 10 juta jiwa/5,5 % dari total populasi p
enduduk.
Pada tahun 2020 diperkirakan meningka 3X menjadi ± 29 juta jiwa/11,4 % dari total p
opulasi penduduk (Lembaga Demografi FE-UI-1993).
Selanjutnya :
Terdapat hasil yang mengejutkan, yaitu:
62,3% lansia di Indonesia masih berpenghasilan dai pekerjaannya sendiri
59,4% dari lansia masih berperan sebagai kepala keluarga
53 % lansia masih menanggung beban kehidupan keluarga
hanya 27,5 % lansia mendapat penghasilan dari anak/menantu
DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut:
1. kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS
2. kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM
3. kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM
Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun
2. Usia Tua : 75 - 89 tahun
3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun
PROSES PENUAAN
Proses Terjadinya Penuaan
1. Biologi
a. Teori Genetic Clock;
Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam geneti
k didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam
ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. H
al ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Ma
rtono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah
sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) ha
l penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyeb
ab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya
mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat
memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA s
el somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel terse
but.
b. Teori Error
Salah satu hipotesis yang yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah hipo
tesis Error Castastrophe (Darmojo dan Martono, 1999). Menurut teori tersebut menua
diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan sepanjang kehidupan manus
ia. Akibat kesalahan tersebut akan berakibat kesalahan metabolisme yang dapat me
ngakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel secara perlahan.
c. Teori Autoimun
Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat me
ngakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (
Self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada perm
ukaan sel, maka hal ini akan mengakibatkan sistem imun tubuh menganggap sel yang
mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya Goldstein(1
989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini dibuktikan dengan makin bertambahnya prev
alensi auto antibodi pada lansia (Brocklehurst,1987 dikutif dari Darmojo dan Mar
tono, 1999). Dipihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami
penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap antigen menjadi menurun, s
ehingga sel-sel patologis meningkat sesuai dengan menigkatnya umur (Suhana,1994
dikutif dari Nuryati, 1994)
d. Teori Free Radical
Penuaan dapat terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam tubuh m
anusia. Radikal bebas dapat berupa : superoksida (O2), Radikal Hidroksil (OH) da
n Peroksida Hidrogen (H2O2). Radikal bebas sangat merusak karena sangat reaktif
, sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, dan asam lemak tak jenuh. Menurut
Oen (1993) yang dikutif dari Darmojo dan Martono (1999) menyatakan bahwa makin
tua umur makin banyak terbentuk radikal bebas, sehingga poses pengrusakan terus
terjadi , kerusakan organel sel makin banyak akhirnya sel mati.
e. Wear &Tear Teori
Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak.
f. Teori kolagen
Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan kerusakan jaring
an dan melambatnya perbaikan sel jaringan.
2. Teori Sosiologi
a. Activity theory, ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara la
ngsung.
b. Teori kontinuitas, adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan adanya
suatu pola prilaku yang meningkatkan stress.
c. Disengagement Theory, putusnya hubungan dengan dunia luar seperti hubungan de
ngan masyarakat, hubungan dengan individu lain.
d. Teori Stratifikasi usia, karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan me
mpercepat proses penuaan.
3. Teori Psikologis
a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, orang yang bisa mencapai aktualisasi men
urut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang sempurna.
b. Teori Jung, terdapat tingkatan-tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam per
kembangan kehidupan.
c. Course of Human Life Theory, Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan ada t
ingkat maksimumnya.
d. Development Task Theory, Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas perkembangan
sesuai dengan usianya.
Penuaan Primer : perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti DNA/R
NA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA tidak lagi mampu
mengambil oksigen, sehingga membran sel menjadi kisut dan akibat kurang mampunya
membuat protein maka akan terjadi penurunan imunologi dan mudah terjadi infeksi
.
Penuaan Skunder : proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis dan
sosial .
Stress fisik, psikis, gaya hidup dan diit dapat mempercepat proses menjadi tua.
Contoh diet ; suka memakan oksidator, yaitu makanan yang hampir expired.
Gairah hidup yang dapat mempercepat proses menjadi tua dikaitkan dengan kepribad
ian seseorang, misal: pada kepribadian tipe A yang tidak pernah puas dengan apa
yang diperolehnya.
Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah:
1. Perubahan Mikro
Berkurangnya cairan dalam sel
Berkurangnya besarnya sel
Berkurangnya jumlah sel
2. Perubahan Makro
Mengecilnya mandibula
Menipisnya discus intervertebralis
Erosi permukaan sendi-sendi
Osteoporosis
Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak tetapi
kemampuannya menurun)
Emphysema Pulmonum
Presbyopi
Arterosklerosis
Manopause pada wanita
Demintia senilis
Kulit tidak elastis
Rambut memutih
Proses menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang tela
h melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua ( Nu
groho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Mem
asuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Kemundur
an fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendeng
aran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital
, sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah.
Meskipun harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Seha
t dalam hal ini diartikan :
1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial
2) Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat
(Rahardjo, 1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntu
t dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Apabila proses penyesuai
an diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hu
rlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994) menyebutkan mas
alah-masalah yang menyertai lansia yaitu :
1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain
2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupny
a
3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau p
indah
4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak
5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan pe
rubahan fisik, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalhan
perubahan gerak.
Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri ma
kin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat t
erhadap uang semakin meningkat, terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak ber
ubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada d
iri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik
. Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan te
ratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan y
ang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan ters
ebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukan ap
akah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan
terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan yang diminati oleh para lanj
ut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ek
onmi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992).
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri penyesuaia
n yang tidak baik dari lansia ( Hurlock, 1979) di kutip oleh Munandar (1994) ada
lah :
1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya
2) penarikan diri ke dalam dunia fantasi
3) Selalu mengingat kembali masa lalu
4) Selalu kwuatir karena pengangguran
5) Kurang ada motivasi
6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik
7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan
Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah : Mi
nat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati
kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki
kekuatiran minimal terhadap diri dan orang lain.
Faktor faktor yang mempengaruhi penuaan
1)Hereditas atau ketuaan genetik
2)Nutrisi atau makanan
3)Status kesehatan
4)Pengalaman hidup
5)Lingkungan
6)Stres
KARAKTERISTIK PENYAKIT PADA LANSIA
Saling berhubungan satu sama lain
Penyakit sering multiple
Penyakit bersifat degeneratif
Berkembang secara perlahan
Gejala sering tidak jelas
Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial
Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut
Sering terjadi penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan oleh konsumsi obat y
ang tidak sesuai dengan dosis)
Hasil penelitian Profil Penyakit Lansia di 4 kota (Padang, Bandung, Denpasar, Ma
kasar),
sebagai berikut:
Fungsi tubuh dirasakan menurun:
Penglihatan (76,24 %),
Daya ingat (69,39 %),
Sexual (58,04 %),
Kelenturan (53,23 %),
Gilut (51,12 %).
Masalah kesehatan yang sering muncul
Sakit tulang (69,39 %),
Sakit kepala (51,15 %),
Daya ingat menurun (38,51 %),
Selera makan menurun (30,08 %),
Mual/perut perih (26,66 %),
Sulit tidur (24,88 %) dan
sesak nafas (21,28 %).
Permasalahan umum
a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan
b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehinggan anggota keluaraga yang lanjut us
ia kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati.
c) Lahirnya kelompok masyarakat industri
d) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut us
ia
e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia
Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia
1. Perubahan Fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaran
ya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengatura
n tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integu
men.
a. Sistem pernafasan pada lansia.
1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi
berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensi
al terjadi penumpukan sekret.
3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara
pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang ten
ang kira kira 500 ml.
4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù
menyebabkan terganggunya prose difusi.
5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari
hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menuru
n yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari sa
luran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.
b. Sistem persyarafan.
1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
3) Mengecilnya syaraf panca indera.
4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium &
perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhad
ap dingin.
c. Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.
1) Penglihatan
a) Kornea lebih berbentuk skeris.
b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
d)Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih
lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
e) Hilangnya daya akomodasi.
F Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.
2) Pendengaran
a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :
Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bun
yi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit menge
rti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.
3) Pengecap dan penghidu.
a) Menurunnya kemampuan pengecap.
b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.
4) Peraba.
a) Kemunduran dalam merasakan sakit.
b) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.
b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.
1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun
. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posi
si dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menuru
n menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
(normal ± 170/95 mmHg ).
c. Sistem genito urinaria.
1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun s
ampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkuran
g akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun p
roteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal
terhadap glukosa meningkat.
2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menuru
n sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah
dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
4) Atropi vulva.
5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan m
enjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap p
erubahan warna.
6Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk
melakukan dan menikmati berjalan terus.
d. Sistem endokrin / metabolik pada lansia.
1) Produksi hampir semua hormon menurun.
2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
3) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembul
uh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat.
5) Menurunnya produksi aldosteron.
6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.
7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tula
ng serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).
e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.
1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi
setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan giz
i yang buruk.
2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atro
pi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah t
erutama rasa manis, asin, asam & pahit.
3) Esofagus melebar.
4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menur
un, waktu mengosongkan menurun.
5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
7) Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya
aliran darah.
f. Sistem muskuloskeletal.
1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.
2) resiko terjadi fraktur.
3) kyphosis.
4) persendian besar & menjadi kaku.
5) pada wanita lansia > resiko fraktur.
6) Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.
7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkur
ang ).
a. Gerakan volunter / gerakan berlawanan.
b. Gerakan reflektonik / Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsang
an pada lobus.
c. Gerakan involunter / Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap su
atu perangsangan terhadap lobus
d. Gerakan sekutu / Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifi
tas dan ketangkasan otot volunter.
g. Perubahan sistem kulit & karingan ikat.
1). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2). Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringa
n adiposa
3). Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak beg
itu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.
4). Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah
dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.
5). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka k
urang baik.
6). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
7). Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kel
abu.
8). Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.
9).Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.
10).Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak
rendahnya akitfitas otot.
11). Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.
1) Perubahan sistem reprduksi.
a) selaput lendir vagina menurun/kering.
b) menciutnya ovarium dan uterus.
c) atropi payudara.
d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur ber
angsur.
e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik
.
2) Kegiatan sexual.
Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhu
bungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini k
ita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan
berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses
reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia, de
ngan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola ya
ng baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu kea
daan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan da
lammenjalani sexualitas.
Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yan
g lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti un
tuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih
banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyat
aan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fun
gsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.
2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :
a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b. kesehatan umum
c. Ttingkat pendidikan
d. Keturunan (herediter)
e. Lingkungan
f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian
g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili
i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan
perubahan konsep diri
Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berup
a ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena fakt
or lain seperti penyakit-penyakit.
Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari
-hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau sek
etika (0-10 menit), kenangan buruk.
Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi p
erubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.
Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial.
1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran
orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fu
ngsi mereka.
2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak.
3. Gangguan halusinasi.
4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi.
5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.
3. Perubahan Spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lans
ia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan
bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970)
Konsep Model Florence Nightingle
Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam kontek lingkungan secar
a keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan psikologis dan lingkung
an sosial.
a. Lingkungan fisik (physical enviroment)
Merupakan lingkungan dasar/alami yan berhubungan dengan ventilasi dan udara. Fak
tor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu ak
an mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari deb
u, asap, bau-bauan.Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersi
h, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingg
a memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi
penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk be
raktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari kebi
singan dan bau limbah. Posisi pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa
supaya mendapat ventilasi.
b. Lingkungan psikologi (psychologi enviroment)
F. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan s
tress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekan
kan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makan
an yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua faktor untuk membant
u pasien dalam mempertahankan emosinya.
Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyelu
ruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. Komuni
kasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan di
lingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau j
auh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk,
menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Selain itu membicarkan k
ondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangka
n dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.
c. Lingkungan sosial (social environment)
Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik, kumpulan data
-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pe
ncegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan ob
servasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar dat
a-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya.
Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicar
akan dalam hubungnya individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh t
idak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga kes
eluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.
d. Hubungan teori Florence Nightingale dengan beberapa konsep
Hubungan teori Florence Nightingale dengan konsep keperawatan :
1) Individu / manusia
Memiliki kemampuan besar untuk perbaikan kondisinya dalam menghadapi penyakit.
2) Keperawatan
Bertujuan membawa / mengantar individu pada kondisi terbaik untuk dapat melakuka
n kegiatan melalui upaya dasar untuk mempengaruhi lingkungan.
3) Sehat / sakit
Fokus pada perbaikan untuk sehat.
4) Masyarakaat / lingkungan
Melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan indivi
du, fokus pada ventilasi, suhu, bau, suara dan cahaya.
e. Hubungan teori Florence Nightingale dengan proses keperawatan
1) Pengkajian / pengumpulan data
Data pengkajian Florence N lebih menitik beratkan pada kondisi lingkungan (lingk
ungan fisik, psikis dan sosial).
2Analisa data
Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik, sosial dan mental yang berkaita
n dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan keseluruhan.
3) Masalah
Difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan misalnya :
Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan??
Ventilasi??
Pembuangan sampah??
Pencemaran lingkungan??
Komunikasi sosial, dll??
4) Diagnosa keperawatan
Berrbagai masalah klien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain :
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan.??
Penyesuaian terhadap lingkungan.??
Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan.??
5) Implementasi
Upaya dasar merubah / mempengaruhi lingkungan yang memungkinkan terciptanya kond
isi lingkungan yang baik yang mempengaruhi kehidupan, perrtumbuhan dan perkemban
gan individu.
6) Evaluasi
Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan individu.
f. Hubungan teori Florence Nightingale dengan teori-teori lain :
1) Teori adaptasi
Adaptasi menunjukkan penyesuaian diri terhadap kekuatan yang melawannya. Kekuata
n dipandang dalam konteks lingkungan menyeluruh yang ada pada dirinya sendiri. B
errhasil tidaknya respon adapatsi seseorang dapat dilihat dengan tinjauan lingku
ngan yang dijelaskan Florence N.
Kemampuan diri sendiri yang alami dapat bertindak sebagai pengaruh dari lingkung
annya berperanpenting pada setiap individu dalam berespon adaptif atau mal adapt
if.
2) Teori kebutuhan
Menurut Maslow pada dasarnya mengakui pada penekanan teori Florence N, sebagai c
ontoh kebutuhan oksigen dapat dipandang sebagai udara segar, ventilasi dan kebut
uhan lingkungan yang aman berhubungan dengan saluran yang baik dan air yang bers
ih.
Teori kebutuhan menekankan bagaimana hubungan kebutuhan yang berhubungan dengan
kemampuan manusia dalam mempertahankan hidupnya.
3) Teori stress
Stress meliputi suatu ancaman atau suatu perubahan dalam lingkungan, yang harus
ditangani. Stress dapat positip atau negatip tergantung pada hasil akhir. Stress
dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan positip dalam mencapai keingi
nan atau kebutuhan.
Stress juga dapat menyebabkan kelelahan jika stress begitu kuat sehingga individ
u tidak dapat mengatasi. Florence N, menekankan penempatan pasien dalam lingkung
an yang optimum sehingga akan menimumkan efek stressor, misalnya tempat yang gad
uh, membangunkan pasien dengan tiba-tiba, ,semuanya itu dipandang sebagai suatu
stressor yang negatif. Jumlah dan lamanya stressor juga mempunyai pengaruh kuat
pada kemampuan koping individu.
5. Teori Kejiwaan sosial
a) Aktifitas atau kegiatan ( activity theory )
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah secara langsung. Teri ini meny
atakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam ban
yak kegiatan sosial
Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia
Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari
usia pertengahan ke lanjut usia
b) Kepribadian berlanjut ( continuity theory )
Dasar kepribadian aatau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini m
erupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan y
ang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe persona
lity yang dimiliki.
c) Teori Pembebasan ( Disengagement theory )
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara bengangsur
-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatka
n interksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas seh
ingga sering terjadi kehilangan ganda ( tripel loss ), yakni 1) kehilangan peran
2) hambatan kontak sosial 3) berkurangnya kontak komitmen
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaa
n dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Su
marwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.
Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan
Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.
Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI
Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyak
it: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter An
ugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Sudda
rt. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.
Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Salu
ran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.