Termokimia

I. Latar Belakang
Dalam makalah ini, kami mengambil tema mengenai Termokimia. Kami memilih
tema ini karena kami rasa materi ini sangat penting untuk dipelajari. Termokimia
merupakan salah satu materi dasar dalam kimia yang harus dikuasai.
Di dalam makalah ini kami membahas tentang konsep dasar dari termokimia
yang kami sajikan pada bagian awal dari isi makalah. Hal ini kami lakukan karena kami
menilai untuk memahami suatu materi, kita harus mengetahui konsep dasar terlebih
dahulu, kemudian dilanjutkan pada bagian inti materi.
Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia yang mempelajari
dinamika atau perubahan reaksi kimia dengan mengamati panas/termal nya saja. Salah
satu terapan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita
dimana produksi dari energi-energi yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk semua
tugas yang kita lakukan. Pembakaran dari bahan bakar seperti minyak dan batu bara
dipakai untuk pembangkit listrik. Bensin yang dibakar dalam mesin mobil akan
menghasilkan kekuatan yang menyebabkan mobil berjalan. Bila kita mempunyai
kompor gas berarti kita membakar gas metan (komponen utama dari gas alam) yang
menghasilkan panas untuk memasak. Dan melalui urutan reaksi yang disebut
metabolisme, makanan yang dimakan akan menghasilkan energi yang kita perlukan
untuk tubuh agar berfungsi.
karena termokimia ini merupakan salah satu materi dasar dalam kimia yang
harus dikuasai. Di dalam makalah ini kami membahas tentang konsep dasar dari
termokimia yang kami sajikan pada bagian awal dari isi makalah. Hal ini kami lakukan
karena kami menilai untuk memahami suatu materi, kita harus tahu konsep dasarnya
terlebih dahulu, setelah itu baru masuk ke inti materinya. Termokimia merupakan
materi yang harus dipahami dengan baik karena di dalamnya mencakup cukup banyak
materi lainnya, seperti termodinamika I, kalor reaksi, kerja, entalpi, kalorimeter, hukum
Hess, penentuan H reaksi, energi ikatan, dan jenis-jenis kalor. Maka dari itu, kami
berusaha untuk membuat materi termokimia dalam makalah ini menjadi ringkas dan
mudah dipahami.
Dasar Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas
dan energi kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai energi yang dikandung
setiap unsur atau senyawa. Energi kimia yang terkandung dalam suatu zat adalah
semacam energi potensial zat tersebut. Energi potensial kimia yang terkandung dalam
suatu zat disebut panas dalam atauentalpi dan dinyatakan dengan simbol H. Selisih
antara entalpi reaktan dan entalpi hasil pada suatu reaksi disebut perubahan entalpi
reaksi. Perubahan entalpi reaksi diberi simbol ΔH. Bagian dari ilmu kimia yang
mempelajari perubahan kalor atau panas suatu zat yang menyertai suatu reaksi atau
proses kimia dan fisika disebut termokimia. Secara operasional termokimia berkaitan
dengan pengukuran dan pernafsiran perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia,
perubahan keadaan, dan pembentukan larutan. Termokimia merupakan pengetahuan
dasar yang perlu diberikan atau yang dapat diperoleh dari reaksi-reaksi kimia, tetapi
juga perlu sebagai pengetahuan dasar untuk pengkajian teori ikatan kimia dan struktur
kimia. Fokus bahasan dalam termokimia adalah tentang jumlah kalor yang dapat
dihasilkan oleh sejumlah tertentu pereaksi serta cara pengukuran kalor reaksi.
Termokimia merupakan penerapan hukum pertama termodinamika terhadap peristiwa
kimia yang membahas tentang kalor yang menyertai reaksi kimia. II.2. Termodinamika
I Termodinamika kimia dapat didefenisikan sebagai cabang kimia yang menangani
hubungan kalor, kerja dan bentuk lain energy, dengan kesetimbangan dalam reaksi
kimia dan dalam perubahan keadaan. Termokimia erat kaitannya dengan
termodinamika, karena termokimia menangani pengukuran dan penafsiran perubahan
kalor yang menyertai reaksi kimia, perubahan keadaan dan pembentukan larutan.
Penerapan hukum termodinamika pertama dalam bidang kimia merupakan bahan
kajian dari termokimia.‖ Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat
diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, atau energi alam semesta adalah konstan.
II. Tujuan Penulisan
1. Untuk mempelajari konsep dasar termokimia
2. Untuk mempelajari materi-materi yang terkait dengan termokimia
3. Memahami tentang termokimia lebih mendalam
4. Memahami tentang termokimia dengan baik
5. Untuk mengetahui peristiwa – peristiwa termokimia dan aplikasinya dalam kehidupan
sehari – hari dalam berbagai bidang.

I. Konsep Dasar
Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan
energi kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai energi yang dikandung
setiap unsur atau senyawa. Energi kimia yang terkandung dalam suatu zat adalah
semacam energi potensial zat tersebut. Energi potensial kimia yang terkandung dalam
suatu zat disebut panas dalam atau entalpi dan dinyatakan dengan simbol H. Selisih
antara entalpi reaktan dan entalpi hasil pada suatu reaksi disebut perubahan entalpi
reaksi. Perubahan entalpi reaksi diberi simbol ΔH.
Bagian dari ilmu kimia yang mempelajari perubahan kalor atau panas suatu zat
yang menyertai suatu reaksi atau proses kimia dan fisika disebut termokimia. Secara
operasional termokimia berkaitan dengan pengukuran dan pernafsiran perubahan kalor
yang menyertai reaksi kimia, perubahan keadaan, dan pembentukan larutan.
Termokimia merupakan pengetahuan dasar yang perlu diberikan atau yang
dapat diperoleh dari reaksi-reaksi kimia, tetapi juga perlu sebagai pengetahuan dasar
untuk pengkajian teori ikatan kimia dan struktur kimia. Fokus bahasan dalam
termokimia adalah tentang jumlah kalor yang dapat dihasilkan oleh sejumlah tertentu
pereaksi serta cara pengukuran kalor reaksi. Termokimia merupakan penerapan hukum
pertama termodinamika terhadap peristiwa kimia yang membahas tentang kalor yang
menyertai reaksi kimia.
Termokimia membahas hubungan antara kalor sengan reaksi kimia atau proses-
proses yang berhubungan dengan reaksi kimia. Dalam praktiknya termokimia lebih
banyak berhubungan dengan pengukuran kalor yang menyertai kimia atau proses-
proses yang berhubungan dengan perubahan struktur zat, misalnya perubahan wujud
atau perubahan struktur kristal. Untuk mempelajari perubahan kalor dari suatu proses
perlu kiranya dikaji beberapa hal yang berhubungan dengan energi apa saja yang
dimiliki oleh suatu zat, bagaimana energi tersebut berubah, bagaimana mengukur
perubahan energi tersebut, serta bagaimana pula hubungannya dengan struktur zat.
II. Termodinamika I
Termodinamika kimia dapat didefenisikan sebagai cabang kimia yang menangani
hubungan kalor, kerja dan bentuk lain energi, dengan kesetimbangan dalam reaksi
kimia dan dalam perubahan keadaan. Termokimia erat kaitannya dengan
termodinamika, karena termokimia menangani pengukuran dan penafsiran perubahan
kalor yang menyertai reaksi kimia, perubahan keadaan dan pembentukan larutan.
Thermodinamika merupakan ilmu tentang energi, yang secara spesifik
membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti telah diketahui
bahwa energi di dalam alam dapat terwujud dalam berbagai bentuk, selain energi panas
dan kerja, yaitu energi kimia, energi listrik, energi nuklir, energi gelombang
elektromagnit, energi akibat gaya magnit, dan lain-lain. Energi dapat berubah dari satu
bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil rekayasa tehnologi. Selain itu
energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang
terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada
pengurangan atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai prinsip konservasi atau
kekekalan energi
Suatu sistem thermodinamika adalah suatu masa atau daerah yang dipilih untuk
dijadikan obyek analisis. Daerah sekitar sistem tersebut disebut sebagai lingkungan.
Batas antara sistem dengan lingkungannya disebut batas sistem (boundary), seperti
terlihat pada Gambar 1.1. Dalam aplikasinya batas sistem nerupakan bagian dari sistem
maupu lingkungannya, dan dapat tetap atau dapat berubah posisi atau bergerak.
Penerapan hukum termodinamika pertama dalam bidang kimia merupakan
bahan kajian dari termokimia.‖ Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan,
tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, atau energi alam semesta
adalah konstan.” hukum termodinamika 1
Perubahan kalor pada tekanan konstan:
DH = DE + PDV
W= PDV
DE = energi dalam
Pada proses siklis (keadaan akhir identik dengan kedaan awal) U1 =U2 è U2 - U1
= 0 , karena U adalah fungsi keadaan dan dalam keadaan sama nilai U juga sama. Pada
proses siklis dimungkinkan adanya panas yang keluar sistem. Sehingga panas netto yg
masuk ke dalam sistem seluruhnya dipakai untuk melakukan usaha
Hukum pertama termodinamika dapat dirumuskan sbg
∆U = Q – W
Dimana :
∆U = perubahan tenaga dakhil sistem
Q = panas yang masuk/keluar dari sistem
W = Usaha yang dilakukan thp system

Tenaga dakhil adalah jumlah tenaga kinetik dan tenaga potensial molekul-
molekulnya (pada gas sempurna molekulnya tidak tarik-menarik). Perumusan di atas
tidak meninjau kemungkinan sistem yg bergerak nisbi terhadap
lingkungan Mekanika ∆Ek = W (tenaga kinetik benda = usaha yg dilakukan thp
sistem) Termodinamika, W-nya (-) à ∆Ek = -W
Pada suatu proses, tenaga kinetik maupun tenaga dakhil dapat berubah yg
disebabkan oleh arus panas ataupun usaha. Sehingga hukum pertama dapat ditulis :
∆U + ∆Ek = Q – Wt
Dimana :
Wt = Usaha total (usaha sistem sendiri, juga gaya-gaya yg lain).
Usaha tersebut karena gaya konservatif maupun nonkonservatif
Wt = Wk + Wnk
Dengan rumus hukum pertama termodinamika berubah. Menurut mekanika
besar usaha oleh gaya konservatif, misalnya gaya gravitasi Wk = -∆Ep, pada
termodinamika menjadi Wk = ∆Ep
∆U + ∆Ek + ∆EP = Q – Wnk

III. Kalor Reaksi
Perubahan energi dalam reaksi kimia selalu dapat dibuat sebagai panas, sebab itu
lebih tepat bila istilahnya disebut panas reaksi. Kebanyakan, reaksi kimia tidaklah
tertutup dari dunia luar. Bila temperatur dari campuran reaksi naik dan energi potensial
dari zat-zat kimia yang bersangkutan turun, maka disebut sebagai reaksi eksoterm.
Namun bila pada pada suatu reaksi temperatur dari campuran turun dan energi
potensial dari zat-zat yang ikut dalam reaksi naik, maka disebut sebagai reaksi
endoterm.
Ada beberapa macam jenis perubahan pada suatu sistem. Salah satunya adalah
sistim terbuka, yaitu ketika massa, panas, dan kerja, dapat berubah-ubah. Ada juga
sistim tertutup, dimana tidak ada perubahan massa, tetapi hanya panas dan kerja saja.
Sementara, perubahan adiabatis merupakan suatu keadaan dimana sistim diisolasi dari
lingkungan sehingga tidak ada panas yang dapat mengalir. Kemudian, ada pula
perubahan yang terjadi pada temperature tetap, yang dinamakan perubahan isotermik.
Pada perubahan suhu, ditandai dengan ∆t (t menunjukkan temperatur), dihitung
dengan cara mengurangi temperatur akhir dengan temperatur mula-mula.
∆t = takhir – tmula-mula
Demikian juga, perubahan energi potensial;
∆(E.P) = (E.P)akhir – (E.P)mula-mula
Dari definisi ini didapat suatu kesepakatan dalam tanda aljabar untuk perubahan
eksoterm dan endoterm. Dalam perubahan eksotermik, energi potensial dari hasil
reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi, berarti EPakhir lebih rendah dari
EPmula-mula. Sehingga harga ∆(E.P) mempunyai harga negatif. Pada reaksi endoterm,
terjadi kebalikannya sehingga harga ∆(E.P) adalah positif.
Pada suatu reaksi, reaksi pembentukannya didefinisikan sebagai reaksi yang
membentuk senyawa tunggal dari unsur-unsur penyusunnya (contoh: C + ½O2 + 2H2→
CH3OH). Sementara panas pembentukannya didasarkan pada 1 mol senyawa terbentuk.
Panas pembentukan standar yaitu 298.15 K (∆H°f298).


Panas standar adalah pada 25°C, seperti contoh reaksi
· 4HCl(g) → 2H2(g) + 2Cl2(g) ∆H°298 = (4)(92307)
· 2H2(g) + O2(g) → 2H2O(g) ∆H°298 = (2)(-241818)

Sementara, panas reaksi pada temperatur tidak standar
· DH
O
T = DH
0
298 + ò
T
298 D Cp dT

Dapat disimpulkan bahwa kalor reaksi (∆H) adalah kalor yang diserap
(diperlukan) atau dilepaskan (dihasilkan) dalam reaksi, disebut juga perubahan entalpi.
Pada beberapa reaksi kimia jumlah kalor reaksi dapat diukur melallui suatu percobaan
di dalam laboratorium. Pengukuran kalor reaksi tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan alat yang disebut kalorimeter. Kalorimeter merupakan alat yang
digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang diberikan atau diambil dalam suatu
proses tertentu. Sebuah termometer sederhana terdiri dari bejana terisolasi, alat
pengaduk, dan termometer.

IV. Kerja
Istilah kerja merupakan konsep yang telah didefinisikan oleh ilmu utama
mekanika. Dalam termodinamika, kerja secara umum didefinisikan sebagai gaya kali
jarak. Jika perpindahan jarak akibat gaya F adalah sebesar ds (ds=distance/jarak),
maka kerja yang dilakukan.
DW= F ds
Simbol DW digunakan untuk jumlah kecil dari kerja dan merupakan fungsi yang
tidak pasti karena kerja yang dilakukan tergantung pada jalannya reaksi. Terdapat
berbagai jenis kerja yang didefinisikan dengan persamaan:
Kerja mekanik DW = F ds
Kerja ekspansi DW = p dV
Kerja gravitasi DW = mgdh
Kerja permukaan DW = γ dA
Kerja listrik DW = e dq
Sejumlah kecil tidak terhingga dari kerja, dw, dapat dilakukan oleh sistem yang
bersangkutan pada lingkungannya, atau oleh lingkunganya pada sistem itu.
Rekomendasi I.U.P.A.C. 1970 adalah untuk mengambil dw positif dalam kasus yang
terakhir dan negatif dalam kasus sebelumnya, yakni kerja positif dilakukan pada sistem.
Asal perubahan yang terjadi itu lambat dan tanpa gesekan, kerja biasanya dapat
dinyatakan dalam bentuk
Dw = ydx,
atau sebagai jumlah suku-suku seperti
dw = ∑ yidxi
yi dan xi masing-masing adalah gaya dalam bentuk umum dan perpindahannya.
Misalnya, kerja yang dilakukan pada benda dengan kenaikan yang kecil tidak terhingga
dari volumenya, dV, terhadap tekanan yang melawannya, p, adalah . Denikian
pula kerja yang dilakukan pada fase homogeny bila ia meningkatkan luas
permukaannya dengan dA adalah +γ dA, γ adalah tegangan permukaan terhadap
lingkungan khusus itu. Bila suatu sistem seperti sel galvani mengakibatkan dQ coulomb
listrik mengalir ke dalam kondensor, yang antara pelat-pelatnya terdapat
tegangan E volt, kerja yang dilakukan pada sel galvani adalah –EdQ joule. (Bersamaan
dengan itu, atmosfer melakukan sejumlah kerja –pdV pada sel, dV adalah perubahan
volume sel selama proses kimia yang bersangkutan). Pernyataan-pernyataan serupa
dapat diperoleh bagi peregangan kawat, kerja magnetisasi, dan sebagainya.
Tanda yang akan digunakan selanjutnya adalah:
a. Kerja adalah positif jika sistem melakukan kerja terhadap sekeliling.
b. Kerja adalah negatif jika kerja dilakukan terhadap sistem oleh sekeliling.
Kerja total yang dilakukan sistem dapat diperoleh dengan mengintegrasikan
persamaan di atas. Sebagai contoh, kerja ekspansi diberikan sebagai

Dapat dicatat bahwa semua bentuk kerja dapat saling dipertukarkan dengan
menggunakan sarana mekanik sederhana seperti kerekan tanpa gesekan, motor listrik,
dan sebagainya. Bila istilah ‗kerja‘ dipakai dengan benar, bentuk apa pun kerja yang kita
bahas selalu dapat diubah (karena saling dipertukarkan) untuk mengangkat sebuah
beban. Dalam kebanyakan sistem kimia, selain sel galvani, kerja perubahan volume
adalah satu-satunya bentuk kerja yang sebagian besar dapat dirasakan. Tetapi,
kemungkinan bahwa bentuk lain menjadi penting, harus selalu diingat dalam
pendekatan masalah baru. Dalam hal itu mungkin perlu untuk memperkenalkan
variable keadaan tambahan, misalnya luas permukaan dari sistem atau kuat medan
magnetik.
Dalam penggunaan pernyataan dw = ydx biasanya perlu dirincikan bahwa proses
yang bersangkutan adalah lambat, jika tidak, ada kekaburan tentang nilai gaya y.
Misalnya, bila suatu gas mengembang atau mengempis dengan tiba-tiba, tekanan
dalamnya tidak sama dengan gaya luar per satuan luas, dan memang tekanannya
berubah dari satu daerah gas ke daerah lainnya. Di sini terjadi percepatan, dan kerja
dilakukan dalam menciptakan energi kinetik. Kesulitan ini hilang bilang perubahan-
perubahannya berlaku lambat sekali dan bila gesekan tidak ada karena gaya-gaya yang
sebaliknya mendekati kesetaraan.
Dalam termokimia ada dua hal yang perlu diperhatikan yang menyangkut
perpindahan energi, yaitu sistem dan lingkungan. Segala sesuatu yang menjadi pusat
perhatian dalam mempelajari perubahan energi disebut sistem, sedangkan hal-hal yang
membatasi sistem dan dapat mempengaruhi sistem disebut lingkungan.
Berdasarkan interaksinya dengan lingkungan, sistem dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu :
1. Sistem Terbuka
Sistem terbuka adalah suatu sistem yang memungkinkan terjadi perpindahan
energi dan zat (materi) antara lingkungan dengan sistem. Pertukaran materi artinya ada
hasil reaksi yang dapat meninggalkan sistem (wadah reaksi), misalnya gas, atau ada
sesuatu dari lingkungan yang dapat memasuki sistem.
2. Sistem Tertutup
Suatu sistem yang antara sistem dan lingkungan dapat terjadi perpindahan
energi, tetapi tidak dapat terjadi pertukaran materi disebut sistem tertutup.
3. Sistem Terisolasi
Sistem terisolasi merupakan sistem yang tidak memungkinkan terjadinya
perpindahan energi dan materi antara sistem dengan lingkungan.
Energi adalah kapasitas untuk melakukan kerja (w) atau menghasilkan panas
(kalor=q). Pertukaran energi antara sistem dan lingkungan dapat berupa kalor (q) atau
bentuk energi lainnya yang secara kolektif kita sebut kerja (w). Energi yang
dipindahkan dalam bentuk kerja atau dalam bentuk kalor yang memengaruhi jumlah
total energi yang terdapat dalam sistem disebut energi dalam (internal energy). Kerja
adalah suatu bentuk pertukaran energi antara sistem dan lingkungan di luar kalor.
Salah satu bentuk kerja yang sering menyertai reaksi kimia adalah kerja tekanan-volum,
yaitu kerja yang berkaitan dengan pertambahan atau pengurangan volum sistem.

V. Entalpi
Entalpi (H) adalah jumlah total dari semua bentuk energi. Entalpi (H) suatu zat
ditentukan oleh jumlah energi dan semua bentuk energi yang dimiliki zat yang
jumlahnya tidak dapat diukur dan akan tetap konstan selama tidak ada energi yang
masuk atau keluar dari zat. Energi kinetik ditimbulkan karena atom – atom dan
molekul molekul dalam zat bergerak secara acak. Jumlah total dari semua bentuk energi
itu disebut entalpi (H) . Entalpi akan tetap konstan selama tidak ada energi yang
masuk atau keluar dari zat. Misalnya entalpi untuk air dapat ditulis H H20 (l) dan untuk
es ditulis H H20 (s).
Untuk menyatakan kalor reaksi pada tekanan tetap (qp ) digunakan besaran yang
disebut Entalpi ( H ).
H = E + ( P.V )
DH = DE + ( P. DV )
DH = (q + w ) + ( P. DV )
DH = q
p
– ( P. DV ) + ( P. DV )
DH = q
p

Untuk reaksi kimia :
DH = Hp – Hr
Hp = entalpi produk
Hr = entalpi reaktan

Reaksi pada tekanan tetap : q
p
= DH ( perubahan entalpi )
Reaksi pada volume tetap : q
v
= DE ( perubahan energi dalam )

Perubahan kalor atau entalpi yang terjadi selama proses penerimaan atau
pelepasan kalor dinyatakan dengan ” perubahan entalpi (ΔH) ” . Harga entalpi zat
sebenarnya tidak dapat ditentukan atau diukur. Tetapi ΔH dapat ditentukan dengan
cara mengukur jumlah kalor yang diserap sistem. Misalnya pada perubahan es menjadi
air, yaitu 89 kalori/gram. Pada perubahan es menjadi air, ΔH adalah positif, karena
entalpi hasil perubahan, entalpi air lebih besar dari pada entalpi es. Pada perubahan
kimia selalu terjadi perubahan entalpi. Besarnya perubahan entalpi adalah sama besar
dengan selisih antara entalpi hasil reaksi dan jumlah entalpi pereaksi.
Setiap sistem atau zat mempunyai energi yang tersimpan didalamnya. Energi
potensial berkaitan dengan wujud zat, volume, dan tekanan. Energi kinetik ditimbulkan
karena atom – atom dan molekul-molekul dalam zat bergerak secara acak. Jumlah total
dari semua bentuk energi itu disebut entalpi (H) . Entalpi akan tetap konstan selama
tidak ada energi yang masuk atau keluar dari zat. . Misalnya entalpi untuk air dapat
ditulis H H20 (l) dan untuk es ditulis H H20 (s).
Entalpi (H) suatu zat ditentukan oleh jumlah energi dan semua bentuk energi
yang dimiliki zat yang jumlahnya tidak dapat diukur. Perubahan kalor atau entalpi yang
terjadi selama proses penerimaan atau pelepasan kalor dinyatakan dengan ” perubahan
entalpi (ΔH) ” . Misalnya pada perubahan es menjadi air, maka dapat ditulis sebagai
berikut:
Δ H = H H20 (l) -H H20 (s)
Apabila kita amati reaksi pembakaran bensin di dalam mesin motor. Sebagian
energi kimia yang dikandung bensin, ketika bensin terbakar, diubah menjadi energi
panas dan energi mekanik untuk menggerakkan motor. Demikian juga pada mekanisme
kerja sel aki. Pada saat sel aki bekerja, energi kimia diubah menjadi energi listrik, energi
panas yang dipakai untuk membakar bensin dan reaksi pembakaran bensin
menghasilkan gas, menggerakkan piston sehingga menggerakkan roda motor.
Harga entalpi zat sebenarnya tidak dapat ditentukan atau diukur. Tetapi ΔH
dapat ditentukan dengan cara mengukur jumlah kalor yang diserap sistem. Misalnya
pada perubahan es menjadi air, yaitu 89 kalori/gram. Pada perubahan es menjadi air,
ΔH adalah positif, karena entalpi hasil perubahan, entalpi air lebih besar dari pada
entalpi es.
Termokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari perubahan
entalpi yang menyertai suatu reaksi. Pada perubahan kimia selalu terjadi perubahan
entalpi. Besarnya perubahan entalpi adalah sama besar dengan selisih antara entalpi
hasil reaksi dam jumlah entalpi pereaksi.
Pada reaksi endoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih besar, sehingga ΔH
positif. Sedangkan pada reaksi eksoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih kecil,
sehingga ΔH negatif. Perubahan entalpi pada suatu reaksi disebut kalor reaksi. Kalor
reaksi untuk reaksi-reaksi yang khas disebut dengan nama yang khas pula, misalnya
kalor pembentukan,kalor penguraian, kalor pembakaran, kalor pelarutan dan
sebagainya.
1. Entalpi Pembentukan Standar (ΔH

f)
Entalpi pembentukan standar suatu senyawa menyatakan jumlah kalor yang
diperlukan atau dibebaskan untuk proses pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-
unsurnya yang stabil pada keadaan standar (STP). Entalpi pembentukan standar diberi
simbol (ΔH

f), simbol f berasal dari kata formation yang berarti pembentukan. Contoh
unsur-unsur yang stabil pada keadaan standar, yaitu : H2,O2,C,N2,Ag,Cl2,Br2,S,Na,Ca,
dan Hg.
2. Entalpi Penguraian Standar (ΔH

d)
Entalpi penguraian standar suatu senyawa menyatakan jumlah kalor yang
diperlukan atau dibebaskan untuk proses penguraian 1 mol senyawa dari unsure-
unsurnya yang stabil pada keadaan standar (STP). Entalpi penguraian standar diberi
simbol (ΔH

d) simbol d berasal dari kata decomposition yang berarti penguraian.
Menurut Hukum Laplace, jumlah kalor yang dibebaskan pada pembentukan
senyawa dari unsur-unsurnya sama dengan jumlah kalor yang diperlukan pada
penguraian senyawa tersebut menjadi unsur-unsurnya. Jadi, entalpi penguraian
merupakan kebalikan dari entalpi pembentukan senyawa yang sama. Dengan demikian
jumlah kalornya sama tetapi tandanya berlawanan karena reaksinya berlawanan arah.
3. Entalpi Pembakaran Standar (ΔH

c)
Entalpi pembakaran standar suatu senyawa menyatakan jumlah kalor yang
diperlukan atau dibebaskan untuk proses pembakaran 1 mol senyawa dari unsur-
unsurnya yang stabil pada keadaan standar (STP). Entalpi penguraian standar diberi
simbol (ΔH

c) simbol d berasal dari kata combustion yang berarti
pembakaran.Pembakaran selalu membebaskan kalor sehingga nilai entalpipembakaran
selallu negatif (eksoterm)
4. Entalpi Pelarutan Standar (ΔH

s)
Entalpi pelarutan standar menyatakan jumlah kalor yang diperlukan atau
dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar (STP). Entalpi
penguraian standar diberi simbol (ΔH

s) simbol s berasal dari kata solvation yang
berarti pelarutan.
5. Entalpi Netralisasi Standar
Adalah entalpi yang terjadi pada penetralan 1 mol asam oleh basa atau 1 mol basa
oleh asam pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada keadaan
standar, maka dinotasikan dengan DHn. Satuannya = kJ / mol
6. Entalpi Penguapan Standar
Adalah entalpi yang terjadi pada penguapan 1 mol zat dalam fase cair menjadi
fase gas pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar,
maka dinotasikan dengan DHvap. Satuannya = kJ / mol.

7. Entalpi Peleburan Standar
Adalah entalpi yang terjadi pada pencairan / peleburan 1 mol zat dalam fase
padat menjadi zat dalam fase cair pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak
dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHfus. Satuannya = kJ /
mol.
8. Entalpi Sublimasi Standar
Adalah entalpi yang terjadi pada sublimasi 1 mol zat dalam fase padat menjadi
zat dalam fase gas pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada
keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHsub. Satuannya = kJ / mol.

VI. Kalorimeter
Kalorimetri yaitu cara penentuan kalor reaksi dengan menggunakan
kalorimeter.Perubahan entalpi adalah perubahan kalor yang diukur pada tekanan
konstan, untuk menentukan perubahan entalpi dilakukan dengan cara yang sama
dengan penentuan perubahan kalor yang dilakukan pada tekanan konstan. Perubahan
kalor pada suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang terjadi
pada reaksi tersebut. Pengukuran perubahan kalor dapat dilakukan dengan alat yang
disebutkalorimeter.
Kalorimeter adalah suatu sistem terisolasi ( tidak ada perpindahan materi
maupun energi dengan lingkungan di luar kalorimeter ). Kalorimeter terbagi menjadi
dua, yaitu kalorimeter bom dan kalorimeter sederhana. Jika dua buah zat atau lebih
dicampur menjadi satu maka zat yang suhunya tinggi akan melepaskan kalor sedangkan
zat yang suhunya rendah akan menerima kalor, sampai tercapai kesetimbangan termal.
Menurut azas Black : Kalor yang dilepas = kalor yang diterima
Rumus yang digunakan adalah :


dengan :
q = jumlah kalor ( J )
m = massa zat ( g )
DT = perubahan suhu (
o
C atau K )
c = kalor jenis ( J / g.
o
C ) atau ( J / g. K )
C = kapasitas kalor ( J /
o
C ) atau ( J / K )

Oleh karena tidak ada kalor yang terbuang ke lingkungan, maka kalor reaksi = kalor
yang diserap / dibebaskan oleh larutan dan kalorimeter, tetapi tandanya
berbeda.
Beberapa jenis kalorimeter :
1. Kalorimeter bom
Kalorimeter bom adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor (nilai
kalori) yang dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O2 berlebih)
suatu senyawa, bahan makanan, bahan bakar atau khusus digunakan untuk
menentukan kalor dari reaksi-reaksi pembakaran. Kalorimeter ini terdiri dari sebuah
bom (tempat berlangsungnya reaksi pembakaran, terbuat dari bahan stainless steel dan
diisi dengan gas oksigen pada tekanan tinggi ) dan sejumlah air yang dibatasi dengan
wadah yang kedap panas. Sejumlah sampel ditempatkan pada tabung beroksigen yang
tercelup dalam medium penyerap kalor (kalorimeter), dan sampel akan terbakar oleh
api listrikdari kawat logam terpasang dalam tabung. Reaksi pembakaran yang terjadi di
dalam bom, akan menghasilkan kalor dan diserap oleh air dan bom. Oleh karena tidak
ada kalor yang terbuang ke lingkungan, maka :

Jumlah kalor yang diserap oleh air dapat dihitung dengan rumus :
qair = m x c x DT
dengan :
m = massa air dalam kalorimeter ( g )
c = kalor jenis air dalam kalorimeter (J / g.
o
C ) atau ( J / g. K )
DT = perubahan suhu (
o
C atau K )
Jumlah kalor yang diserap oleh bom dapat dihitung dengan rumus :
qbom = Cbom x DT
dengan :
Cbom = kapasitas kalor bom ( J /
o
C ) atau ( J / K )
DT = perubahan suhu (
o
C atau K )

Reaksi yang berlangsung pada kalorimeter bom berlangsung pada volume
tetap (DV = nol ). Oleh karena itu, perubahan kalor yang terjadi di dalam sistem =
perubahan energi dalamnya.
DE = q + w dimana w = - P. DV ( jika DV = nol maka w = nol )
maka DE = qv
Kalorimeter makanan adalah alat untuk menentukan
nilai kalor zat makanankarbohidrat, protein, atau lemak. Alat ini terdiri dari sebuah
tabung kaca yang tingginya kurang lebih 19 cm dan garis menengahnya kurang lebih 7,5
cm. Bagian dasarnya melengkung ke atas membentuk sebuah penyungkup. Penyungkup
ini disumbat dengan sebuah sumbat karet yang yang berlubang di bagian tengah.
Bagian atas tabung kaca ini ditutup dengan lempeng ebonit yang bundar. Di dalam
tabung kaca itu terdapat sebuah pengaduk, yang tangkainya menembus tutup ebonit,
juga terdapat sebuah pipa spiraldari tembaga. Ujung bawah pipa spiral itu menembus
lubang sumbat karet pada penyungkup dan ujung atasnya menembus tutup ebonit
bagian tengah. Pada tutup ebonit itu masih terdapat lagi sebuah lubang, tempat untuk
memasukkan sebuah termometer ke dalam tabung kaca. Tabung kaca itu diletakkan di
atas sebuah kepingasbes dan ditahan oleh 3 buah keping. Keping itu berbentuk bujur
sangkar yang sisinya kurang lebih 9,5 cm. Di bawah keping asbes itu terdapat
kabel listrik yang akan dihubungkan dengan sumber listrik bila digunakan. Di atas
keping asbes itu terdapat sebuah cawan aluminium. Di atas cawan itu tergantung
sebuah kawat nikelin yang berhubungan dengan kabel listrik di bawah keping asbes.
Kawat nikelin itulah yang akan menyalakan makanan dalam cawan bila berpijar oleh
arus listrik. Dekat cawan terdapat pipa logam untuk mengalirkan oksigen.
2. Kalorimeter Sederhana
Pengukuran kalor reaksi; selain kalor reaksi pembakaran dapat dilakukan
dengan menggunakan kalorimeter pada tekanan tetap yaitu dengan kalorimeter
sederhana yang dibuat dari gelas stirofoam. Kalorimeter ini biasanya dipakai untuk
mengukur kalor reaksi yang reaksinya berlangsung dalam fase larutan ( misalnya reaksi
netralisasi asam – basa / netralisasi, pelarutan dan pengendapan ).
Pada kalorimeter ini, kalor reaksi = jumlah kalor yang diserap / dilepaskan
larutan sedangkan kalor yang diserap oleh gelas dan lingkungan; diabaikan.
qreaksi = - (qlarutan + qkalorimeter )
qkalorimeter = Ckalorimeter x DT
dengan :
Ckalorimeter = kapasitas kalor kalorimeter ( J /
o
C ) atau ( J / K )
DT = perubahan suhu (
o
C atau K )

Jika harga kapasitas kalor kalorimeter sangat kecil; maka dapat diabaikan
sehingga perubahan kalor dapat dianggap hanya berakibat pada kenaikan suhu larutan
dalam kalorimeter.
qreaksi = - q
larutan



qlarutan = m x c x DT
dengan :
m = massa larutan dalam kalorimeter ( g )
c = kalor jenis larutan dalam kalorimeter (J / g.
o
C ) atau ( J / g. K )
DT = perubahan suhu (
o
C atau K )

Pada kalorimeter ini, reaksi berlangsung pada tekanan tetap (DP = nol ) sehingga
perubahan kalor yang terjadi dalam sistem = perubahan entalpinya.
DH = qp
Kalorimeter larutan adalah alat yang digunakan untuk mengukur
jumlah kaloryang terlibat pada reaksi kimia dalam sistem larutan. Pada dasarnya, kalor
yang dibebaskan/diserap menyebabkan perubahan suhu pada kalorimeter. Berdasarkan
perubahan suhu per kuantitas pereaksi kemudian dihitung kalor reaksi dari reaksi
sistem larutan tersebut. Kini kalorimeter larutan dengan ketelitian cukup tinggi dapat
diperoleh dipasaran.

Dalam menentukan entalpi berlaku persamaan
Qreaksi = - (Qlarutan + Q kalorimeter )
Q reaksi = - (m.c.∆T + c.∆T)
Jika kapasitas kalori dalam kalorimeter diabaikan, maka
Qreaksi = - (m.c.∆T)
Keterangan :
m = massa zat (kg)
c = kalor jenis (J/kg⁰C)
∆t = perubahan suhu (Celcius)

Sementara itu, persamaan reaksi yang mengikutsertakan perubahan entalpinya
disebutpersamaan termokimia.
H2 (g) + 1/2 O2 (g) ——> H2O (l) ΔH = -286 kJ
Pada reaksi endoterm, sistem menyerap energi. Oleh karena itu, entalpi sistem
akan bertambah. Artinya entalpi produk (Hp) lebih besar daripada entalpi pereaksi
(Hr). Akibatnya, perubahan entalpi, merupakan selisih antara entalpi produk dengan
entalpi pereaksi (Hp -Hr) bertanda positif. Sehingga perubahan entalpi untuk reaksi
endoterm dapat dinyatakan:
ΔH = Hp- Hr > 0
Reaksi eksoterm , sistem membebaskan energi, sehingga entalpi sistem akan
berkurang, artinya entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu
, perubahan entalpinya bertanda negatif. Sehingga p dapat dinyatakan sebagai berikut:
ΔH = Hp- Hr < 0


VII. Hukum Hess
Pengukuran perubahan entalpi suatu reaksi kadangkala tidak dapat ditentukan
langsung dengan kalorimeter, misalnya penentuan perubahan entalpi pembentukan
standar (DHf
o
)CO. Reaksi pembakaran karbon tidak mungkin hanya menghasilkan gas
CO saja tanpa disertai terbentuknya gas CO2. Jadi, bila dilakukan pengukuran
perubahan entalpi dari reaksi tersebut; yang terukur tidak hanya reaksi pembentukan
gas CO saja tetapi juga perubahan entalpi dari reaksi pembentukan gas CO2.
Untuk mengatasi hal tersebut, Henry Hess melakukan serangkaian percobaan
dan menyimpulkan bahwa perubahan entalpi suatu reaksi merupakan fungsi keadaan.
Artinya : ― perubahan entalpi suatu reaksi hanya tergantung pada keadaan awal (
zat-zat pereaksi ) dan keadaan akhir ( zat-zat hasil reaksi ) dari suatu reaksi dan
tidak tergantung pada jalannya reaksi.” Pernyataan ini disebut Hukum Hess, rumus
yang dapat dipakai yaitu :
ΔHreaksi = ΔH1 + ΔH2 +…
Menurut hukum Hess, karena entalpi adalah fungsi keadaan, perubahan entalpi
dari suatu reaksi kimia adalah sama, walaupun langkah-langkah yang digunakan untuk
memperoleh produk berbeda. Dengan kata lain, hanya keadaan awal dan akhir yang
berpengaruh terhadap perubahan entalpi, bukan langkah-langkah yang dilakukan
untuk mencapainya.
Hal ini menyebabkan perubahan entalpi suatu reaksi dapat dihitung sekalipun
tidak dapat diukur secara langsung. Caranya adalah dengan melakukan operasi
aritmatika pada beberapa persamaan reaksi yang perubahan entalpinya diketahui.
Persamaan-persamaan reaksi tersebut diatur sedemikian rupa sehingga penjumlahan
semua persamaan akan menghasilkan reaksi yang kita inginkan. Jika suatu persamaan
reaksi dikalikan (atau dibagi) dengan suatu angka, perubahan entalpinya juga harus
dikali (dibagi). Jika persamaan itu dibalik, maka tanda perubahan entalpi harus dibalik
pula (yaitu menjadi -ΔH). Berdasarkan Hukum Hess, penentuan DH dapat dilakukan
melalui 3 cara yaitu :
1) Perubahan entalpi ( DH ) suatu reaksi dihitung melalui penjumlahan dari perubahan
entalpi beberapa reaksi yang berhubungan.
2) Perubahan entalpi ( DH ) suatu reaksi dihitung berdasarkan selisih entalpi
pembentukan ( DHf
o
) antara produk dan reaktan.
3) Perubahan entalpi ( DH ) suatu reaksi dihitung berdasarkan data energi ikatan.
Selain itu, dengan menggunakan hukum Hess, nilai ΔH juga dapat diketahui dengan
pengurangan entalpi pembentukan produk-produk dikurangi entalpi pembentukan
reaktan. Secara matematis untuk reaksi-reaksi lainnya secara umum.
Dengan mengetahui ΔHf (perubahan entalpi pembentukan) dari reaktan dan
produknya, dapat diramalkan perubahan entalpi reaksi apapun, dengan rumus
ΔH=ΔHfP-ΔH fR
Perubahan entalpi suatu reaksi juga dapat diramalkan dari perubahan entalpi
pembakaran reaktan dan produk, dengan rumus
ΔH=-ΔHcP+ΔHcR
Konsep dari hukum Hess juga dapat diperluas untuk menghitung perubahan
fungsi keadaan lainnya, seperti entropi dan energi bebas. Kedua aplikasi ini amat
berguna karena besaran-besaran tersebut sulit atau tidak bisa diukur secara langsung,
sehingga perhitungan dengan hukum Hess digunakan sebagai salah satu cara
menentukannya.
Untuk perubahan entropi:
· ΔS
o
= Σ(ΔSf
o
produk) - Σ(ΔSf
o
reaktan)
· ΔS = Σ(ΔS
o
produk) - Σ(ΔS
o
reaktan).

Untuk perubahan energi bebas:
· ΔG
o
= Σ(ΔGf
o
produk) - Σ(ΔGf
o
reaktan)
· ΔG = Σ(ΔG
o
produk) - Σ(ΔG
o
reaktan)
VIII. Penentuan ΔH Reaksi
Hukum Hess menyatakan bahwa perubahan entalpi tidak tergantung pada
berapa banyak tahapan reaksi, tetapi tergantung pada keadaan awal dan akhir. Dengan
kata lain, untuk suatu reaksi keseluruhan tertentu, perubahan entalpi selalu sama, tak
peduli apakah reaksi itu dilaksanakan secara langsung ataukah secara tak langsung dan
lewat tahap-tahap yang berlainan.
1. Penentuan ∆H Reaksi berdasarkan Eksperimen (Kalorimeter)

Penentuan kalor reaksi secara kalorimetris merupakan penentuan yang didasarkan atau
diukur dari perubahan suhu larutan dan kalorimeter dengan prinsip perpindahan kalor,
yaitu jumlah kalor yang diberikan sama dengan jumlah kalor yang diserap. Kalorimeter
adalah suatu sistem terisolasi (tidak ada pertukaran materi maupun energi dengan
lingkungan di luar kalorimeter). Dengan demikian, semua kalor yang dibebaskan oleh
reaksi yang terjadi dalam kalorimeter, kita dapat menentukan jumlah kalor yang
diserap oleh air serta perangkat kalorimeter berdasarkan rumus:
q.larutan = m c ∆T
q.kalorimeter = C ∆T
dimana :
q = jumlah kalor
m = massa air (larutan) di dalam calorimeter
c = kalor jenis air (larutan) di dalam calorimeter
C = kapasitas kalor dari calorimeter
∆T = kenaikan suhu larutan (kalorimeter)

Oleh karena tidak ada kalor yang terbuang ke lingkungan, maka kalor reaksi
sama dengan kalor yang diserap oleh larutan dan kalorimeter, tetapi tandanya berbeda :
Kalorimeter yang sering digunakan adalah kalorimeter bom. Kalorimeter bom
terdiri dari sebuah bom (wadah tempatberlangsungnya reaksi pembakaran, biasanya
terbuat dari berlangsungnya reaksi pembakaran, biasanya terbuat dari bahan stainless
steel) dan sejumlah air yang dibatasi dengan wadah kedap panas. Jadi kalor reaksi sama
dengan kalor yang diserap atau dilepaskan larutan, sedangkan kalor yang diserap atau
dilepaskan larutan, sedangkan kalor yang diserap oleh gelas dan lingkungan diabaikan.
2. Penentuan ∆H Reaksi dengan Hukum Hess
Hukum Hess : ” Kalor reaksi yang dilepas atau diserap hanya bergantung pada keadaan awal dan
keadaan akhir”. Untuk mengubah zat A menjadi zat B (produk) diperlukan kalor reaksi sebesar ∆H. Atau
cara lain yaitu mengubah zat A menjadi zat B dengan kalor reaksi ∆H1, zat B diubah menjadi zat C
dengan kalor reaksi ∆H2 dan zat C diubah menjadi zat D dengan kalor reaksi ∆H3 . Sehingga harga
perubahan entalpi adalah :

∆Hreaksi = ∆H1 + ∆H2 + ∆H3 .

Hal tersebut dapat dibuat siklus dan diagram tingkat energinya sebagai
berikut :
· Siklus energi pembentukan zat D dari zat A
· Diagram tingkat energi pembentukan zat D dari zat A

Contoh Soal :
Diketahui data entalpi reaksi sebagai berikut :
Ca(s) + ½ O2(g) → CaO(s) ∆H = - 635,5 kJ
C(s) + O2(g) → CO2(g) ∆H = - 393,5 kJ
Ca(s) + C(s) + ½ O2(g) → CaCO3(g) ∆H = - 1207,1 kJ
Hitunglah perubahan entalpi reaksi : CaO(s) + CO2(g) → CaCO3(s) !

Penyelesaian :
CaO(s) .............................→ Ca(s) + ½ O2(g) ....∆H = + 635,5 kJ
CO2(g)............................ → C(s) + O2(g) ............∆H = + 393,5 kJ
Ca(s) + C(s) + ½ O2(g) → CaCO3(s)................. ∆H = - 1207,1 kJ
_________________________________________ _
CaO(s) + CO2(g) ...........→ CaCO3(s).................. ∆H = - 178,1 kJ

3. Penentuan ∆H Reaksi Berdasarkan Data Perubahan Entalpi
Pembentukan Standar ( ∆H
o
f )
Cara lain perhitungan entalpi reaksi yaitu berdasarkan entalpi pembentukan
standar( ∆Hof ) zat-zat yang ada pada reaksi tersebut.
∆Hreaksi = ∑∆H
o
f produk - ∑∆H
o
f reaktan
TABEL ENTALPI PEMBENTUKAN BEBERAPA ZAT
Zat DH
o
f ( kJ/mol ) Zat DH
o
f ( kJ/mol )
H
2(g)
0 C
2
H
4(g)
+ 52,5
O
2(g)
0 CCl
4(g)
- 96,0
C
(s)
0 NH
3(g)
- 45,9
H
2
O
(g)
- 241,8 NO
2(g)
+ 33,2
H
2
O
(l)
- 285,8 SO
2(g)
- 296,8
CO
2(g)
- 393,5 HCl
(g)
- 92,3
CO
(g)
-110,5 NO
(g)
+ 90,3

Contoh Soal :
Dari tabel entalpi pembentukan diatas, tentukan :
a. ∆H reaksi pembakaran C2H4 !
b. Tentukan jumlah kalor yang dibebaskan pada pembakaran 56 g gas C2H4
c. Reaksi pembakaran C2H4

a. C2H4(g) + 3 O2(g)→2CO2(g) + 2H2O(l)
b. ∆H reaksi = ∆Hof hasil reaksi - ∆Hof pereaksi
= ( 2. ∆Hof CO2 + 2. .∆Hof H2O ) – ( 1. ∆HofC2H4 + 3. ∆Hof O2)
= ( 2 . -393,5 + 2. -285,8 ) – ( 1. 52,5 + 3. 0 )
= -787 – 571,6 + 52,5
= - 1306,1 kJ/mol
c. Mr C2H4 = (2x12) + (4x1) = 28
Mol C2H4 = 56/28 = 2 mol
∆H pembakaran 2 mol C2H4 = 2 mol x ( -1306,1 kJ/mol )
= -2612,2 kJ
Jadi pada pembakaran 56 gram gas C2H4 dibebaskan kalor sebesar = 2612,2 Kj

4. Penentuan ∆H Reaksi Dari Energi Ikatan
Reaksi kimia antarmolekul dapat dianggap berlangsung dalam 2 tahap yaitu :
I. Pemutusan ikatan pada pereaksi
II. Pembentukan ikatan pada produk
Misalnya, pada reaksi antara gas klorin dengan gas hidrogen membentuk gas hidrogen
klorida dapat digambarkan sebagai berikut :
Sesuai dengan hukum Hess, ∆H reaksi total adalah ∆H tahap-I + ∆H tahap-II.
∆H tahap-I = ∑ Energi ikatan pada pereaksi (yang putus)
∆H tahap-II = -∑ Energi ikatan pada produk (yang terbentuk).
∆H reaksi = ∑ Energi ikatan pereaksi yang putus - ∑ Energi ikatan produk yang
terbentuk
∆H reaksi = ∑ Eruas kiri - ∑ Eruas kanan

TABEL ENERGI IKATAN
Ikatan E (kJ/mol) Ikatan E (kJ/mol)
H-H 436 O=O 498
H-C 415 C≡N 891
H-N 390 F-F 160
C-C 345 Cl-Cl 243
C≡C 837 H-Cl 432
C-O 350 C=C 611
C=O 741 I-I 150
C-Cl 330 N=N 418
O-H 450 C-F 485

Penyelesaian :
H – C – O-H +1 ½ O=O → O=C=O +2H-O-H
∆H reaksi = ∑Epemutusan -∑Epembentukan
= { (3.Ec-H)+( 1.EO-H) +(1.EC-O)+ (1 ½ EO=O)} – {(2.EC=O) + (4.EO-H)}
= {(3.415)+(1.460)+(1.350)+1 ½.498)} –{(2.741)+(4.460)}
= 2802-3322
= -520 kJ/mol

IX. Energi Ikatan
Energi ikatan didefinisikan sebagai panas reaksi yang dihubungkan dengan
pemecahan ikatan kimia dari molekul gas menjadi bagian-bagian gas. Terkadang
disebut juga entalpi ikatan, nama yang sesungguhnya lebih tepat.
Energi disosiasi ikatan (B,E) dapat digunakan untuk menghitung panas reaksi
yang dihubungkan dengan

ΔH
0
= - ∑ ni BEi + ∑ njBEj
dimana BE adalah energi ikatan per mol ikatan, nj dan ni adalah jumlah mol ikatan
yang pecah atau terbentuk dalam hal reaktan dan produk.
Dalam hal yang sama, data panas reaksi dapat juga digunakan untuk menghitung
energi disosiasi ikatan dari setiap ikatan tertentu, asal saja data lain dalam persamaan
diketahui. Satu hal yang harus diingat bahwa lingkungan sekeliling atom sangat
mempengaruhi energy ikatan dari ikatan tertentu; oleh karena itu harga yang diperoleh
dari persamaan adalah harga rata-rata atau harga kira-kira.
Walaupun energi ikatan adalah untuk molekul dalam fase gas, tetapi harga kira-
kira panas reaksi dapat dihitung dari fase terkondensasi dapat dikoreksi jika panas
penguapan, panas sublimasi dan lain-lain dapat diikutsertakan.
Suatu reaksi yang DH–nya ditentukan dengan menggunakan energi ikatan, maka
atom-atom yang terlibat dalam reaksi harus berwujud gas.
Berdasarkan jenis dan letak atom terhadap atom-atom lain dalam molekulnya, dikenal
3 jenis energi ikatan yaitu :
a. Energi Atomisasi.
Adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan semua ikatan 1 mol molekul
menjadi atom-atom bebas dalam keadaan gas.
Energi atomisasi = jumlah seluruh ikatan atom-atom dalam 1 mol senyawa.
b. Energi Disosiasi Ikatan.
Adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan salah 1 ikatan yang terdapat
pada suatu molekul atau senyawa dalam keadaan gas.
c. Energi Ikatan Rata-Rata.
Adalah energi rerata yang diperlukan untuk memutuskan ikatan atom-atom pada
suatu senyawa ( notasinya = D ). Energi ikatan suatu molekul yang berwujud gas dapat
ditentukan dari data entalpi pembentukan standar (DHf ) dan energi ikat unsur-
unsurnya. Prosesnya melalui 2 tahap yaitu :
o Penguraian senyawa menjadi unsur-unsurnya.
o Pengubahan unsur menjadi atom gas.
Reaksi kimia pada dasarnya terdiri dari 2 proses :
o Pemutusan ikatan pada pereaksi.
o Pembentukan ikatan pada produk reaksi.
Pada proses pemutusan ikatan = memerlukan energi.
Pada proses pembentukan ikatan = membebaskan energi

1. Jenis-Jenis Kalor
Setiap sistem atau zat mempunyai energi yang tersimpan didalamnya. Energi
potensial berkaitan dengan wujud zat, volume, dan tekanan. Energi kinetik ditimbulkan
karena atom–atom dan molekul-molekul dalam zat bergerak secara acak. Jumlah total
dari semua bentuk energi itu disebut entalpi (H). Sedangkan kalor adalah bentuk energi
yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah. Jika suatu benda menerima /
melepaskan kalor maka suhu benda itu akan naik/turun atau wujud benda berubah.
2. Kalor Pembentukan Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi pada pembentukan 1 mol senyawa
dariunsur-unsurnya pada suhu dan tekanan standar ( 25
o
C, 1 atm ). Entalpinya
bisadilepaskan maupun diserap. Satuannya adalah kJ / mol. Bentuk standar dari suatu
unsur adalah bentuk yang paling stabil dari unsur itu pada keadaan standar ( 298 K, 1
atm ). Jika perubahan entalpi pembentukan tidak diukur pada keadaan standar maka
dinotasikan dengan DHf.

Catatan :
o DHf unsur bebas = nol
o Dalam entalpi pembentukan, jumlah zat yang dihasilkan adalah 1 mol.
o Dibentuk dari unsur-unsurnya dalam bentuk standar.

3. Kalor Penguraian Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi pada penguraian 1 mol senyawa
menjadi unsur-unsur penyusunnya pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak
dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHd. Satuannya = kJ / mol.
Perubahan entalpi penguraian standar merupakan kebalikan dari perubahan entalpi
pembentukan standar, maka nilainya pun akan berlawanan tanda.
Menurut Marquis de Laplace, ― jumlah kalor yang dilepaskan pada pembentukan
senyawa dari unsur-unsur penyusunnya = jumlah kalor yang diperlukan pada
penguraian senyawa tersebut menjadi unsur-unsur penyusunnya. ― Pernyataan ini
disebut Hukum Laplace.


4. Kalor Pembakaran Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi pada pembakaran 1 mol suatu zat
secara sempurna pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada keadaan
standar, maka dinotasikan dengan DHc. Satuannya = kJ / mol.
5. Kalor Netralisasi Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi pada penetralan 1 mol asam oleh basa
atau 1 mol basa oleh asam pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada
keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHn. Satuannya = kJ / mol.
6. Kalor Penguapan Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi pada penguapan 1 mol zat dalam fase
cair menjadi fase gas pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada
keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHvap. Satuannya = kJ / mol.
7. Kalor Peleburan Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi pada pencairan / peleburan 1 mol zat
dalam fase padat menjadi zat dalam fase cair pada keadaan standar. Jika pengukuran
tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHfus. Satuannya =
kJ / mol.
8. Kalor Sublimasi Standar
Adalah entalpi yang terjadi pada sublimasi 1 mol zat dalam fase padat menjadi
zat dalam fase gas pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada
keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHsub. Satuannya = kJ / mol.
9. Pelarutan Standar
Adalah nama lain dari entalpi yang terjadi ketika 1 mol zat melarut dalam suatu
pelarut ( umumnya air ) pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada
keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHsol. Satuannya = kJ / mol.
BAB III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Singkatnya, materi pembelajaran pada termokimia ini merupakan materi dasar
yang wajib untuk dipelajari dan dipahami secara mendalam. Materi yang secara umum
mencakup termodinamika I, kalor reaksi, kerja, entalpi, kalorimeter, hukum Hess,
penentuan DH reaksi, energi ikatan, dan jenis-jenis kalor merupakan materi-materi
dasar dalam pelajaran kimia yang berguna untuk mempelajari materi selanjutnya yang
tentu saja lebih rumit. Dalam makalah ini materi duraikan secara singkat agar para
pembaca lebih mudah memahaminya.
Berdasarkan pembahasan yang tinjauan pustaka yang kami susun dalam
makalah ini, maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Setiap sistem atau zat mempunyai energi yang tersimpan didalamnya. Energi
potensial berkaitan dengan wujud zat, volume, dan tekanan.
2. Berdasarkan perubahan entalpinya, reaksi kimia dibedakan menjadi dua yaitu,
a. Reaksi Eksoterm dan,
b. Reaksi Endoterm
3. Sistem merupakan Pusat fokus perhatian yang diamati dalam
suatu percobaan.Lingkungan merupakan hal-hal diluar sistem yang membatasi sistem
dan dapat mempengaruhi sistem. Berdasarkan interaksinya dengan lingkungan, Sistem
dibedakan menjadi 3 macam:
2. Sistem Terbuka
3. Sistem Tertutup
3. Sistem terisolasi
4. Dalam persamaan termokimia, nilai DH yang dituliskan di persamaan termokimia,
disesuaikan dengan stoikiometri reaksinya, artinya = jumlah mol zat yang terlibat dalam
reaksi kimia = koefisien reaksinya; ( fase reaktan maupun produk
reaksinya harus dituliskan).

5. Ada beberapa jenis dalam menentukan Harga Perubahan Entalpi ∆H , yaitu :
a. Penentuan ∆H Reaksi Berdasarkan Data Perubahan Entalpi
b. Penentuan ∆H Reaksi dengan Hukum Hess
c. Penentuan kalor reaksi secara kalorimetris


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan
energi kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai energi yang dikandung setiap
unsur atau senyawa. Energi kimia yang terkandung dalam suatu zat adalah semacam
energi potensial zat tersebut. Energi potensial kimia yang terkandung dalam suatu zat
disebut panas dalam atau entalpi dan dinyatakan dengan simbol H. Selisih antara entalpi
reaktan dan entalpi hasil pada suatu reaksi disebut perubahan entalpi reaksi. Perubahan
entalpi reaksi diberi simbol ΔH.
Bagian dari ilmu kimia yang mempelajari perubahan kalor atau panas suatu zat
yang menyertai suatu reaksi atau proses kimia dan fisika disebut termokimia. Secara
operasional termokimia berkaitan dengan pengukuran dan pernafsiran perubahan kalor
yang menyertai reaksi kimia, perubahan keadaan, dan pembentukan larutan.
Termokimia merupakan pengetahuan dasar yang perlu diberikan atau yang dapat
diperoleh dari reaksi-reaksi kimia, tetapi juga perlu sebagai pengetahuan dasar untuk
pengkajian teori ikatan kimia dan struktur kimia. Fokus bahasan dalam termokimia adalah
tentang jumlah kalor yang dapat dihasilkan oleh sejumlah tertentu pereaksi serta cara
pengukuran kalor reaksi.
Termokimia merupakan penerapan hukum pertama termodinamika terhadap peristiwa
kimia yang membahas tentang kalor yang menyertai reaksi kimia.
Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia yang mempelajari
dinamika atau perubahan reaksi kimia dengan mengamati panas/termalnya saja. Salah
satu terapan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita
dimana produksi dari energi-energi yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk semua tugas
yang kita lakukan. Pembakaran dari bahan bakar seperti minyak dan batu bara dipakai
untuk pembangkit listrik. Bensin yang dibakar dalam mesin mobil akan menghasilkan
kekuatan yang menyebabkan mobil berjalan. Bila kita mempunyai kompor gas berarti kita
membakar gas metan (komponen utama dari gas alam) yang menghasilkan panas untuk
memasak. Dan melalui urutan reaksi yang disebut metabolisme, makanan yang dimakan
akan menghasilkan energi yang kita perlukan untuk tubuh agar berfungsi. Hampir semua
reaksi kimia selalu ada energi yang diambil atau dikeluarkan.
Dengan kajian-kajian yang dilakukan mengenai pengaplikasian termokimia dalam
kehidupan sehari-hari. Dan untuk menguraikan permasalahan tersebut lebih detail lagi,
penulis mencoba membuat makalah yang isinya membahas tentang “Aplikasi Termokimia
Dalam Kehidupan Sehari-hari”.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibiatkannya makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Dapat menjelaskan manfaat termokimia.
2) Mengetahui proses termokimia dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari
3) Memahami materi-materi yang terkait dengan termokimia
4) Memahami tentang termokimia lebih mendalam
C. Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut.
1) Manfaat Umum
Makalah hasil pengkajian penulis ini dapat menunjang materi pembelajaran
dan dapat dijadikan bahan baku referensi pembelajaran.
2) Manfaat Khusus
Penulis dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta dapat
melatih penulis untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan lebih telaten dalam
mencari dan mengumpulkan sumber dan informasi selama melakukan pengkajian.
3) Manfaat untuk penulis yang akan dating
Makalah hasil pengkajian sebelumnya dapat dijadikan bahan referensi
sumber untuk pembuatan makalah selanjutnya dan dapat memberi gambaran
dalam pengkajian yang akan dilakukannya.

BAB II
ISI

A. Manfaat Termokimia
Manfaat positif dari termokimia, yaitu:
a) Dapat mempelajari suatu bentuk energi yang dibutuhkan oleh manusia untuk
bergerak dalam bentuk energi kinetik dan tambahan-tambahan dalam melakukan
proses fotosintesis yang membutuhkan eergi dari sinar matahari.
b) Dapat mempelajari suatu sistem atau bagian alam semasta yang menjadi objek
penelitian serta lingkungan atau bagian alam semesta yang berinteraksi dengan satu
sistem.

B. Aplikasi Termokimia Dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Gas Elpiji
Penggunaan elpiji pada kompor gas. Utamanya adalah butana bereaksi dengan udara.
C4H10 + Udara –> CO2 + H20 + N2
Untuk mempermudah udara sepenuhnya bergantung dari oksigen.
C4H10 + (13/2)O2 –> 4CO2 + 5H2O
Untuk reaksi sempurna dengan udara,
C4H10 + (O2 + 3,76 N2) –> CO2 + H20 + 3,76N2
Penyetaraan,
C4H10 + 13/2(O2 + 3,76 N2) –> 4CO2 + 5H2O + (13/2)*3,76N2
Reaksi juga bisa melibatkan bentuk tidak sempurna, misal memerlukan 200% udara.
C4H10 + 13(O2 + 3,76 N2) –> 4CO2 + 5H2O + (13/2)O2 + (13/2)*3,76N2
Pembakaran ini pun bisa melibatkan beberapa fraksi, karena elpiji biasanya tidak
murni hanya bahan bakar butana.
2. Thermometer
Termometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur suhu.
Cara kerja thermometer:
Ketika temperature naik, cairan dibola tabung mengembang lebih banyak daripada
gelas yang menutupinya. Hasilnya, benang cairan yang tipis dipaksa ke atas secara
kapiler. Sebaliknya, ketika temperature turun, cairan mengerut dan cairan yang tipis
ditabung bergerak kembali turun. Gerakan ujung cairan tipis yang dinamakan
meniscus dibaca terhadap skala yang menunjukkan temperature.
Zat untuk thermometer haruslah zat cair dengan sifat termometrik artinya,
mengalami perubahan fisis pada saat dipanaskan atau didinginkan, misalnya raksa
dan alkohol. Zat cai tersebut memiliki dua titik tetap (fixed points), yaitu titik
tertinggi dan titik terendah. Misalnya, titik didih air dan titik lebur es untuk suhu
yang tidak terlalu tinggi. Setelah itu, pembagian dilakukan diantara kedua titik tetap
menjadi bagian-bagian yang sama besar, misalnya thermometer skala celcius dengan
100 bagian yang setiap bagiannya sebesar 1C.
3. Pembakaran Batu Bara
Batubara banyak dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar, baik dirumah tangga
maupun industri. PLTU menggunakan batubara untuk menggerakkan turbin sebagai
sumber energi arus listrik. Selain itu, batubara juga dimanfaatkan untuk pembuatan
kosmetik dan compac disk (CD). Kelemahan dari pembakaran batubara adalah
dihasilkannya gas SO2. Untuk menghilangkan gas SO2 dapat diterapkan proses
desulfurisasi. Proses ini menggunakan serbuk kapur (CaCO3) atau spray air kapur
[Ca(OH)2] dalam alat scrubers. Reaksi yang terjadi:
CaCO3(s) + SO2(g) → CaSO3(s) + CO2(g)
Ca(OH)2(aq) + SO2(g) → CaSO3(s) + H2O( )
Namun, biaya operasional desulfurisasi dan pembuangan deposit padatan kembali
menjadi masalah baru. Untuk meningkatkan nilai dari batubara dan menghilangkan
pencemar SO2, dilakukan rekayasa batubara, seperti gasifikasi dan reaksi karbon-
uap. Pada gasifikasi, molekul-molekul besar dalam batubara dipecah melalui
pemanasan pada suhu tinggi (600°C – 800°C) sehingga dihasilkan bahan bakar
berupa gas. Reaksinya adalah sebagai berikut.
Batubara(s)  batubara cair (mudah menguap)  CH4(g) + C(s)
Arang yang terbentuk direaksikan dengan uap air menghasilkan campuran gas CO
dan H2, yang disebut gas sintetik. Reaksinya:
C(s) + H2O() CO(g) + H2(g) ΔH = 175 kJ mol–1
Untuk meningkatkan nilai gas sintetik, gas CO diubah menjadi bahan bakar lain.
Misalnya, gas CO direaksikan dengan uap air menjadi CO2 dan H2. Reaksinya:
CO(g) + H2O(g)  CO2(g) + H2(g) ΔH = –41 kJ mol–1
Gas CO2 yang dihasilkan selanjutnya dipisahkan. Campuran gas CO
dan H2 yang telah diperkaya akan bereaksi membentuk metana dan uap
air. Reaksinya:
CO(g) + 3H2(g)  CH4(g) + H2O(g) ΔH = –206 kJ mol–1
Setelah H2O diuapkan, akan diperoleh CH4 yang disebut gas alam sintetik. Dengan
demikian, batubara dapat diubah menjadi metana melalui proses pemisahan
batubara cair
C. Reaksi Eksoterm dan Reaksi Endoterm
Berdasarkan perpindahan energinya atau perubahan entalpinya ada dua jenis reaksi:
1) Reaksi eksoterm yaitu reaksi yang membebaskan kalor, kalor mengalir dari sistem
ke lingkungan (terjadi penurunan entalpi), entalpi produk lebih kecil daripada
entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda negatif. Pada
reaksi eksoterm umumnya suhu sistem menjadi naik, adanya kenaikan suhu inilah
yang menyebabkan sistem melepas kalor ke lingkungan.
Reaksi eksoterm: DH = HP - HR < 0 atau DH = (-)
2) Reaksi Endoterm yaitu reaksi yang memerlukan kalor, kalor mengalir dari
lingkungan ke sistem (terjadi kenaikan entalpi), entalpi produk lebih besar daripada
entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda positif. Pada
reaksi endoterm umumnya suhu sistem terjadi penurunan, adanya penurunan suhu
inilah yang menyebabkan sistem menyerap kalor dari lingkungan.
Reaksi endoterm: DH = HP - HR > 0 atau DH = (+)
D. Hukum Dalam Termokimia
Dalam mempelajari reaksi kimia dan energi kita perlu memahami hukum-
hukum yang mendasari tentang perubahan dan energi.
a. Hukum kekekalan energy
Dalam perubahan kimia atau fisika energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan,
energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentu lainnya. Hukum ini merupakan
hukum termodinamika pertama dan menjadi dasar pengembangan hukum tentang
energi selanjutnya, seperti konversi energi.
b. Hukum Laplace
Hukum ini diajukan oleh Marquis de Laplace dan dia menyatakan bahwa jumlah
kalor yang dilepaskan dalam pembentukan sebuah senyawa dari unsur-unsurnya
sama dengan jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa tersebut
menjadi unsur-unsurnya.
Panjabaran dari hukum ini untuk entalphi reaksi ΔH dan kalor reaksi;
C + O2 → CO2 ΔH = -94 Kkal
CO2 → C + O2 ΔH = +94 Kkal
Sedangkan untuk kalor reaksi,
C + O2 → CO2 -94 Kkal
CO2 → C + O2 +94 Kkal
Untuk reaksi pertama, unsur C bereaksi dengan gas oksigen menghasilkan
karbondioksida dan kalor sebesar 94 Kkal. Sedangkan reaksi kedua karbondioksida
terurai menjadi unsur C dan gas oksigen dengan membutuhkan kalor sebesar 94
Kkal.
Dari sisi tanda, tampak jelas perbedaan antara entalphi reaksi dengan kalor reaksi,
jika entalphi bernilai positif maka kalor reaksi bernilai negatif, demikian pula
sebaliknya jika entalphi negatif maka kalor reaksi positif.
c. Hukum Hess
Hukum ini diajukan oleh Germain Hess, dia menyatakan bahwa entalphi reaksi (ΔH)
hanya tergantung pada keadaan awal reaksi dan hasil reaksi dan tidak bergantung
pada jalannya reaksi.
Jika suatu reaksi merupakan penjumlahan aljabar dari dua atau lebih reaksi,
maka perubahan entalphi (ΔH) atau kalor reaksinya juga merupakan penjumlahan
aljabar dari (ΔH) yang menyertai reaksi. Untuk lebih mudah memahaminya kita
perhatikan Bagan 10.17.
Berdasarkan persamaan reaksi gas karbon dioksida dapat terbentuk melalui dua
tahap, yang pertama pembentukan karbonmonoksida dari unsur-unsurnya dan
dilanjutkan dengan oksidasi dari karbonmonoksida menjadi karbondioksida.
Penjumlahan aljabar ΔHreaksi dari setiap tahap reaksi juga dilakukan sesuai
dengan tahap reaksi, maka ΔHreaksi dari pembentukan gas Karbon dioksida juga dapat
dilakukan.
Berdasarkan berbagai jenis reaksi, maka kita juga dapat mengembangkan jenis kalor
reaksi atau ΔH yang disesuaikan dengan jenis reaksinya, ada empat jenis kalor reaksi
yaitu kalor reaksi pembentukan, penguraian, pembakaran dan pelarutan. Keempat
klasifikasi tersebut disederhanakan dalam bagan pada Bagan 10.18.

E. Energi Ikatan
Pada dasarnya reaksi kimia terdiri dari dua proses, yaitu pemutusan ikatan
antar atom-atom dari senyawa yang bereaksi (proses yang memerlukan energi) dan
penggabungan ikatan kembali dari atom-atom yang terlibat reaksi sehingga
membentuk susunan baru (proses yang membebaskan energi).
Perubahan entalpi reaksi dapat dihitung dengan menggunakan data energi
ikatan. Energi ikatan adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan oleh
satu molekul gas menjadi atom-atom dalam keadaan gas. Harga energi ikatan selalu
positif, dengan satuan kJ atau kkal, serta diukur pada kondisi zat-zat berwujud gas.
Entalpi reaksi yang dihitung berdasarkan harga energi ikatan rata-rata sering
berbeda dari entalpi reaksi yang dihitung berdasarkan harga entalpi pembentukan
standar. Perbedaan ini terjadi karena energi ikatan yang terdapat dalam suatu tabel
adalah energi ikatan rata-rata. Energi ikatan C – H dalam contoh di atas bukan ikatan C
– H dalam CH4, melainkan energi ikatan rata-rata C – H.
CH4(g) CH3(g) + H(g) H = +424 kJ/mol
CH3(g) CH2(g) + H(g) H = +480 kJ/mol
CH2(g) CH(g) + H(g) H = +425 kJ/mol
CH(g) C(g) + H(g) H = +335 kJ/mol
Jadi, energi ikatan rata-rata dari ikatan C – H adalah 416 kJ/mol. Sedangkan energi
ikatan C – H yang dipakai di atas adalah +413 kJ/mol.
Bahan Bakar dan Perubahan Entalpi Reaksi pembakaran adalah reaksi suatu zat
dengan oksigen. Biasanya reaksi semacam ini digunakan untuk menghasilkan energi.
Bahan bakar adalah merupakan suatu senyawa yang bila dilakukan pembakaran
terhadapnya dihasilkan kalor yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Jenis bahan bakar yang banyak kita kenal adalah bahan bakar fosil. Bahan bakar
fosil berasal dari pelapukan sisa organisme, baik tumbuhan maupun hewan yang
memerlukan waktu ribuan sampai jutaan tahun, contohnya minyak bumi dan batu
bara.
Namun selain bahan bakar fosil dewasa ini telah dikembangkan pula bahan
bakar jenis lain, misalnya alkohol dan hidrogen. Hidrogen cair dengan oksigen cair
bersama-sama telah digunakan pada pesawat ulang-alik sebagai bahan bakar roket
pendorongnya. Pembakaran hidrogen tidak memberi dampak negatif pada lingkungan
karena hasil pembakarannya adalah air.
Matahari adalah umber energi terbesar di bumi, tetapi penggunaan energi surya
belum komersial. Dewasa ini penggunaan energi surya yang komersial adalah untuk
pemanas air rumah tangga (solar water heater). Nilai kalor dari bahan bakar umumnya
dinyatakan dalam satuan kJ/gram, yang menyatakan berapa kJ kalor yang dapat
dihasilkan dari pembakaran 1 gram bahan bakar tersebut.
Contoh : nilai kalor bahan bakar bensin adalah 48 kJ/g, artinya setiap pembakaran
sempurna 1 gram bensin akan dihasilkan kalor sebesar 48 kJ. Pembakaran bahan bakar
dalam mesin kendaraan atau dalam industri umumnya tidak terbakar sempurna.
Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon (bahan bakar fosil) membentuk karbon
dioksida dan uap air.
Sedangkan pembakaran tidak sempurnanya menghasilkan karbon monoksida
dan uap air. Pembakaran tak sempurna mengurangi efisiensi bahan bakar, kalor yang
dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan apabila zat itu terbakar sempurna. Kerugian
lainnya adalah dihasilkannya gas karbon monoksida (CO) yang bersifat racun.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Singkatnya, materi pembelajaran pada termokimia ini merupakan materi dasar yang
wajib untuk dipelajari dan dipahami secara mendalam. Materi yang secara umum
mencakup Reaksi endoterm, Hukum dalam termokimia, Energi ikatan, dan arah proses
merupakan materi-materi dasar dalam pelajaran kimia yang berguna untuk mempelajari
materi selanjutnya yang tentu saja lebih rumit. Dalam makalah ini materi duraikan secara
singkat agar para pembaca lebih mudah memahaminya.
Didalam termokimia ada istilah sistem dan lingkungan. Sistem yang dimaksud
adalah bagian dari alam yang dipelajari atau yang manjadi pokok perhatian dalam
termokimia yang dipelajari, yaitu perubahan energinya. Sedangkan lingkungan yang
dimaksud adalah segala sesuatu di luar sistem, dengan apa sistem melakukan dan
mengadakan pertukaran energi.
Energi adalah kapasitas atau kemampuan untuk melakukan kerja atau usaha. Energi
hanya dapat diubah bentuknya dari bentuk yang satu dengan yang lainnya. Misalnya pada
pembangkit tenaga uap, perubahan energi dimulai dari energi panas yang terbentuk di
boiler berubah menjadi energi mekanik pada turbin, dan energi mekanik diubah menjadi
energi listrik pada generator.

TUGAS PENDAHULUAN (TERMOKIMIA)
1. Apa yang dimaksud dengan kalor, kalorimeter, dan kalorimetri ?
2. Sebutkan dan Jelaskan fungsi setiap alat dan bahan dalam percobaan termokimia !
3. Gambarkan rangkaian alat kalorimeter smenarik mungkin dan berikan keterangan !
4. Tuliskan hukum termodinamika dan jelaskan hubungannya antara rekasi eksoterm dan reaksi
endoterm !
5. Perhitungkan secara teoritis (data setiap parameter yang anda cari direferensi) kalor reaksi
penetralan HCl dan NaOH !
6.

Nb : Margin 4, 3, 3, 3
Sampul Pink, Tulis Tangan
Siapkan MSDS dan Bagan Kerja (Print)