You are on page 1of 5

~ 1 ~

1. WOC Hemofilia

























Faktor Kongiental: Genetik Faktor Lainnya : Defisiensi Vit. K
Faktor Genetik
Penurunan sintesis
faktor VIII dan IX
Faktor X tdk teraktivasi
Pemanjangan APTT
Trombin lama terbentuk
Defisiensi Vit. K
Luka tidak tertutup
G3 pembentukan faktor VIII , IX
G3 proses koagulasi
perdarahan
Stabilitas fibrin tdk memadai
Darah sukar membeku
Perdarahan
HEMOFILIA
Kehilangan
banyak darah
Hb menurun
Aliran darah dan O2
ke paru menurun
Hipoksia
Dispneu
G3 pola nafas
Kumpulan
trombosit
menurun
Sirkulasi darah ke
jantung menurun
Iskemik miokard
Pengisian VS menurun
CO menurun
G3 perfusi jaringan
Vasokonstriksi pembuluh
darah otak
Defisit faktor
pembekuan darah
Nekrosis jaringan otak
Defisit fungsi neurologis
letargi
Resiko cedera
Absorpsi usus
menurun
Sari makanan
tdk dpt diserap
Perub. Nutrisi
kurang dr
kebutuhan
tubuh
~ 2 ~

2. Penjelasan WOC Hemofilia
Hemofilia disebabkan oleh dua faktor yakni :
a. Faktor Kongiental, meliputi faktor genetik,
Faktor genetik tadi menyebabkan penurunan sintesis faktor
pembekuan darah VIII dan IX, dan karena penurunan faktor pembekuan
darah tadi menyebabkan fator X tidak teraktivasi sehingga terjadi
pemanjangan APTT (Activated Patrial Thromboplastin Time) dan
menyebabkan proses pembentukan trombin menjadi lama sehingga
stabilitas fibrin pun menjadi tidak memadai sehingga terjadi pendarah
dan menyebabkan darah sukar membeku.
b. Faktor lain, meliputi defisiensi Vitamin K
Defisiensi vitamin K menyebabkan gangguan faktor VIII dan IX
sehingga menjadikan proses koagulasi terganggu dan luka pun menjadi
tidak tertutup dan menyebabkan perdarahan.
Dari kedua hal tersebut menyebabkan terjadinya hemofilia, lantaran
hemofilia tersebut menyebabkan beberapa hal :
Yang pertama, karena perdarahan dari hemofilia dalam pernafasan
tersebut menyebabkan banyaknya kehilangan darah sehingga
menyebabkan Hb turun dan mengakibatkan aliran darah ke paru pun
menurun dan menyebabkan hipoksia sehingga terjadi dispneu dan lataran
hal ini terjadi gangguan pola nafas.
Yang kedua, karena perdarahan tersebut pada darah menyebabkan
kumpulan trombositpun menurun sehingga sirkulasi darah ke jantungpun
terganggu dan terjadi iskemik miokard karena iskemik miokard tersebut
pengisian darah ke ventrikel kiripun menurun dan menyebabkan cardic
out pun menurun karena hal tersebut terjadilah intoleransi aktivitas.
Yang ketiga, karena pendarahan tersebut pada otak menyebabkan
vasokonstriksi pada pembuluh darah otak sehingga terjadi defisit faktor
pembekuan darah dan menyebabkan nekrosis pada jaringan otak
sehingga otak mengalami defisit fungsi neurologisnya dan menyebabkan
letargi, lantaran hal ini maka menyebabkan terjadinya resiko cedera.
~ 3 ~

Yang keempat, karena perdarahan tersebut pada GI menyebabkan
absorpsi ususpun menurun sehingga sari makanan pun tidak dapat
diserap sehingga menyebabkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.

3. Diagnosa Keperawatan
a. G3 pola nafas b/dg aliran darah dan o2 ke paru menurun
b. Gangguan perfusi jaringan b/dg cardic output menurun
c. Resiko cedera b/dg defisit fungsi neurologis
d. Perub. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/dg absorbsi usus menurun

4. Intervensi Keperawatan
a. G3 pola nafas b/dg aliran darah dan o2 ke paru menurun
Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3x24 jam pola nafas px dapat efektif
kembali.
Kriteria hasil : - RR (16-20x/menit)
- Saturasi O2 dalam batas normal
- Klien tidak sesak lagi
Intervensi :
 Kaji bunyi napas tidak normal
Rasional : mengetahui apakah ada suara tambahan atau tidak.
 Memperbaiki kenyamanan fisik dengan memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien, pastikan bahwa istirahat sudah cukup
Rasional : mempercepat proses penyembuhan px
 Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi.
Rasional : mempercepat penyembuhan px.

b. Gangguan perfusi jaringan b/dg cardic output menurun.
Tujuan : setelah dilakukan perawatan 2x24 jam keadaan px membaik.
Kriteria hasil : - Klien berpartisipasi pada aktifitas yang
diinginkan,memenuhi kebutuhan perawatan diri
sendiri.
~ 4 ~

- Mencapai peningkatan toleransi aktifitas yang
dapat diukur, dibuktikan oleh menurunnya
kelemahan dan kelelahan dan TTV dalam balas
mormal selama aktifitas.
Intervensi :
 Periksa tanda-tanda vital sebelum dan segera setelah aktifitas.
Rasional : hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktifitas karena efek
beberapa obat.
 Catat respon kardiopulmonal terhadap aktifitas, catat takikardia,
disritmia, dispnoe, berkeringat dan pucat.
Rasional : penurunan / ketidakmampuan miokardium untuk
meningkatkan volume secukupnya selama aktifitas, dapat menyebabkan
peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen, juga
peningkatan kelelahan dan kelemahan.
 Evaluasi peningkatan dan penyebabkan kelemahan.
Rasional : dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung dari
kelebihan aktifitas.
 Berikan bantuan dalam beraktifitas perawatan diri sesuai indikasi.
Selingi periode aktifitas dengan periode istirahat.
Rasional : pemenuhan kebutuahan perawatan diri klien tanpa
mempengaruhi stres miokard/ kebutuhan oksigen berlebihan.

c. Resiko cedera b/dg defisit fungsi neurologis
Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3x24 jam resiko cedera pada px
menurun.
Kriteria hasil : - tidak ada defisit neurologis permanen
- Mobilitas sendi normal
Intervensi :
 Untuk cedera kepala pantau status neurologis 1-2 jam sekali
Rasional : cedera kepala mempredisposisikan hemoragi intrakranial.
~ 5 ~

 Untuk hemartrosis pantau status neuromuskular dari ekstermitas yang
sakit.
Rasional: degenerasi pada sendi dapat nmenyebabkan perdarahan
menetap.
 Hindari mengurkur suhu rectal, pemberian obat secara injeksi tempat
dirotasi
Rasional : untuk menurunkan resiko perdarahan.

d. Perub. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/dg absorbsi usus menurun
Tujuan : px toleran diet yang sesuai.
Kriteria hasil : - BB dalam batas normal
- Nafsu px bisa meningkat
Intervensi :
 Timbang BB tiap hari
Rasional : mengevaluasi keefektifan dalam pemberian nutrisi.
 Pembatasan aktifitas selama fase sakit akut
Rasional : mengurangi reyurtasi.
 Jaga kebersihan mulut pasien
Rasional : mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan.
 Monitor intake dan output
Rasional : observasi kebutuhan nutrisi.