You are on page 1of 53

Ol eh

:
Nur Al fi ani
G99122087
1
ANODONTIA
 Suatu kelainan kongenital
di mana semua benih gigi
tidak terbentuk sama sekali

 Klasifikasi :
1. Anodontia vera
2. Anodontia parsial
a. Hipodontia
b. Oligodontia


 Etiologi : kegagalan proliferasi sel basal gigi dari
lamina dental, yang disebabkan oleh:
 Faktor lingkungan (infeksi, trauma, obat2an)
 Genetik (mutasi gen msxl,pax9)
 Diagnosis : Radiografik panoramic
 Terapi: pembuatan dan pemasangan gigi
prostetik

 Menurut Londhe, gigi impaksi adalah keadaan dimana
terhambatnya erupsi gigi yang disebabkan karena
terhambatnya jalan erupsi gigi atau posisi ektopik dari
gigi tersebut
 Etiologi:
 Kausa lokal
 kausa umur
 Kausa prenatal
 Kausa postnatal
 Kelainan pertumbuhan

I MPACTED TEETH
 Klasifikasi
- Menurut Pell dan Gregory
- Menurut George Winter

 Terapi
Pencabutan gigi yang impaksi dengan
pembedahan disebut odontektomi.
 Diagnosis
o Intra oral : gigi tidak erupsi, parestesi,
perikoronitis, ruang antara gigi dengan
ramus, posisi gigi tetangga, warna
mukosa.
o Ekstra oral : pembengkakan, pembesaran
KGB, parestesi
o Radiographic panoramic : periapikal,
parallax film

MALOCCLUSSION
 Bentuk oklusi yang menyimpang
dari bentuk standar yang diterima
sebagai bentuk normal
 Klasifikasi
1. maloklusi tipe dental
2. maloklusi tipe skeletal
3. maloklusi fungsional
Edward Angle mengklasifikasikan
ke dalam 3 kelas :
1. Neutroklusi
2.Distoklusi
3. Mesioklusi
 Etiologi:
1. Faktor luar  herediter, kelainan kongenital, dsb
2. Faktor dalam  anomali jumlah gigi (gigi berlebihan/tidak adanya gigi),
anomali ukuran gigi, dsb
 Tanda yang dapat ditemukan pada pasien maloklusi yaitu: kelengkungan gigi
yang abnormal, tampilan wajah yang terlihat ganjil, kesulitan atau merasa tidak
nyaman ketika menggigit dan mengunyah makanan, susah berbicara/ pengucapan
yang ganjil, dan bernafas lewat mulut karena bibir yang sulit menutup.
 Terapi
- Menggunakan skor HMA
 Skor 0-4 : variasi oklusi ringan
 Skor 5-9 : maloklusi ringan, tidak memerlukan perawatan
 Skor 10-14 : maloklusi ringan, kasus tertentu memerlukan
perawatan
 Skor 15-19 : maloklusi berat memerlukan perawatan
 Skor ≥20 : sangat memerlukan perawatan


Terapi (cont…)
 Penggunaan brace
 Mencabut gigi
 Operasi
Band: cincin logam kecil yang ditempatkan di gigi untuk mencengkeram kawat gigi.
Buccal tube: logam kecil yang dilas pada facies bucal molar.
Buccal tube terdiri kawat melengkung (archwires), lip bumper, facebows,
dan alat-alat lain untuk menggerakkan gigi.
Bracket: dibuat dari logam atau porselen yang ditempelkan pada gigi untuk
mengencangkan kawat gigi (arch wires).
Ligating module: karet plastik kecil berbentuk lingkaran untuk mencengkeram
kawat di braket gigi.
Niti spring: kumparan pegas nitinol digunakan untuk mengoreksi masalah tulang
rahang pasien (untuk menambah panjang rahang pasien yang masih berusia muda).
Arch Wire: kawat logam yang menempel pada braket untuk menggerakkan gigi


 Istilah untuk menyebut rahang yang lebih
kecil dari ukuran normal.
 Etiologi :
- Kongenital: kelainan kromosom, obat
teratogenik dan genetic syndrome
- - Didapat: disebabkan trauma atau infeksi
yang menimbulkan gangguan pada sendi
rahang
 Klasifikasi :
 micrognathia sejati
 micrognathia palsu
 Gambaran klinis : biasanya penderita
micrognatia mengalami masalah dengan
estetika, oklusi, pernapasan, dan
pemberian makan pada bayi
 Terapi :
operasi orthognathic untuk memperluas
maksila dan mandibula.
 Kondisi di mana ukuran rahang
lebih besar dari normal.
 Etiologi:
 gigantisme pituitari
 Paget’s disease pada tulang
 akromegali
 beberapa bentuk displasia
fibrosa.
 Gambaran Klinis
Sering tampak mandibula lebih
menonjol keluar karena adanya
perbedaan ukuran maksila dan
mandibula
 Terapi :
operasi orthognathic untuk
mengecilkan maksila dan
mandibula.
LABIAL AND PALATAL CLEFT
 Bibir sumbing (labial cleft) adalah
kelainan berupa celah pada bibir
atas yang didapatkan seseorang
sejak lahir. Bila celah berada pada
bagian langit-langit rongga mulut
(palate), maka kelainan ini disebut
cleft palate. Pada cleft palate,
celah akan menghubungkan langit-
langit rongga mulut dengan rongga
hidung.


 Celah bibir (Labiochisis)
a. Celah bibir satu sisi
1.) Celah bibir satu sisi tidak lengkap
2.) Celah bibir satu sisi lengkap
b. Celah bibir dua sisi
1.) Celah bibir dua sisi tidak lengkap
2.) Celah bibir dua sisi lengkap
 Celah langit-langit (palatochisis)
a. Celah langit-langit tidak lengkap
b. Celah langit-langit lengkap
 Labio-palatoschisis
a.Unilateral
b. Bilateral
c. Campuran
Klasifikasi

Etiologi
 Patogenesis
Saat usia kehamilan ibu mencapai 6 minggu, bibir atas
dan langit-langit rongga mulut bayi dalam kandungan
akan mulai terbentuk dari jaringan yang berada di
kedua sisi dari lidah dan akan bersatu di tengah-tengah.
Bila jaringan-jaringan ini gagal bersatu, maka akan
terbentuk celah pada bibir atas langit-langit rongga
mulut.

• Mutasi gen
• Kelainan kromosom
genetik
• Defisiensi suplemen gizi
• Zat teratogenik
lingkungan
 Diagnosis
- Sulit menghisap ASI
- Sulit berbicara
- Gangguan pendengaran
- Gigi berjejal


Terapi : operasi untuk menutup celah di
bibir dan langit-langit mulut

TEMUAN KASUS
Nama : An. Irham
Umur : 3 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Tanggal masuk : 16 April 2013
No. RM : 01125107
Ruang : Melati II
Anamnesis
Keluhan Utama: terdapat celah pada bibir dan langit-langit
RPS
Pasien merupakan rujukan dari poli bedah dengan keterangan
labiognatopalatoschizis unilateral komplit dextra..
RPD(-)
Diagnosis
labiognatopalatoschizis unilateral komplit dextra
Terapi
Labioplasty

 Materi lunak yang terdapat pada
gigi yang terdiri dari biofilm,
materi alba, dan sisa makanan.
 Klasifikasi :
 Food retention
 food impaction.
 Diagnosis
Debris index : Nilai 0-3
 Terapi :
menjaga kebersihan gigi (sikat
gigi, dental floss).
 Lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan
mikroorganisme yang berkembang biak
diatas suatu matriks yang terbentuk dan
melekat erat pada permukaan gigi yang tidak
dibersihkan

 Pembentukan plak :
 pembentukan pelikel
 kolonisasi awal pada permukaan gigi
 kolonisasi sekunder dan pematangan
plak

 Diagnosis :
 Menggunakan disclosing material
 Kategori skor plak Loe and Silness:
0 : sangat baik
0,1 - 0,9 : baik
1,0 - 1,9 : sedang
2,0 - 3,0 : buruk

Terapi
sikat gigi dengan pasta gigi yang
mengandung flouride dan mengatur pola
makan.
Debris plaque
Merupakan kumpulan dari materi
lunak yang terdiri dari sisa makanan
(food retension) dan makanan yang
terselip (food impaction)
merupakan kumpulan dari koloni
bakteri dan mikroorganisme lainnya
yang bercampur dengan produk-
produknya, sel-sel mati dan sisa
makanan
Terdiri dari biofilm, materi alba, dan
sisa makanan
Terdiri dari biofilm bakteri, sel epitel,
leukosit, makrofag, matriks
ekstraseluler serta komponen
anorganik
Terdapat debris pada sonde (debris
terangkat dengan penggesekan sonde)
Terasa tahanan pada penggesekan
dengan sonde tapi plaque tidak
terangkat dengan sonde
 Material keras dari garam inorganik
yang terdiri dari kalsium karbonat
dan fosfat yang bercampur dengan
debris, mikroorganisme, dan sel
epitel yang telah terdeskuamasi




 Klasifikasi
- Calculus supragingival
- Calculus subginggival

plak mineralisasi calculus
 Diagnosis :
Calculus Index Simplified (0-3)
 Kriteria CI sebagai berikut :
0,0-0,6 = Baik
0,7-1,8 = Sedang
1,9-3,0 = Buruk
 Terapi :
Scalling dan root planning


suatu proses kronis
regresif
pembentukan asam
microbial dari substrat
keseimbangan antara
email dan sekelilingnya
terganggu
larutnya mineral email
destruksi komponen
komponen organik yang
akhirnya terjadi kavitas
 Klasifikasi
- Berdasarkan permukaan kunyah
- Berdasarkan lokasi : proksimal,
akar, celah
- Berdasarkan kedalamannya :
superfisial, media, profunda
 Etiologi:
 komponen gigi dan
saliva
 Mikroorganisme
 Makanan
 waktu.
Pencegahan karies gigi:
1. Menjaga kebersihan mulut dengan baik
2. Diet rendah karbohidrat
3. Fluoride melalui pasta gigi, mouthwash,
suplemen, air mineral, gel fluoride
4. Penggunaan pit and fissure sealant
Diagnosis :
 Warna
 Nyeri
 Sondasi
 Rontgen
 Terapi :
 Filling
 PSA
 Ekstrasi
 Peradangan pada pulpa gigi
yang menimbulkan rasa
nyeri.
 Etiologi :
 Kerusakan gigi yang telah
menembus melalui enamel
dan dentin gigi
 Trauma gigi
 Iritasi termal akibat prosedur
atau tindakan pada gigi
 Penumpatan carries gigi
 Infeksi bakteri yang telah
mengenai ruang pulpa
 Infeksi dari abses gigi


 Klasifikasi:
 Pulitis reversibel yaitu peradangan pulpa
awal sampai sedang akibat rangsangan.
 Pulpitis irreversibel yaitu radang pulpa
yang dicirikan oleh kepekaan
berkepajangan terhadap dingin / panas.
 Terapi :
1). Pulpitis reversibel : penambalan
2). Pulpitis ireversibel : menghilangkan rasa
sakit dan perawatan saluran akar.

 Peradangan atau infeksi pada
jaringan penyangga gigi (jaringan
periodontium).


 Diagnosis
1. gusi berdarah saat menggosok gigi,
2. gusi berwarna merah, bengkak dan
lunak,
3. terlihat adanya bagian gusi yang
turun dan menjauhi gigi,
4. terdapat nanah diantara gigi dan
gusi,
5. gigi goyang.


Plak Gingivitis Periodontitis
 Klasifikasi
- Periodontitis dewasa kronis : usia 35 tahun ke atas
- Early onset periodontitis
a. Periodontitis prapubertas
b. Periodontitis juvenill
c. Periodontitis yang terjadi mulai prapubertas hingga usia 35
tahun
- Periodontitis yang berkaitan dengan penyakit sistemik

Terapi

 Fase I : fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara
menghilangkan beberapa faktor etiologi yang mungkin
terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau
melakukan perawatan restoratif dan prostetik
 Fase II : fase terapi korektif, termasuk koreksi terhadap
deformitas anatomikal seperti poket periodontal,
kehilangan gigi dan disharmoni oklusi
 Fase III: fase terapi pemeliharaan, dilakukan untuk
mencegah terjadinya kekambuhan pada penyakit
periodontal.

 Peradangan pada gusi
(gingiva) yang terjadi pada
jaringan epitel mukosa di
sekitar cervical gigi dan
prosesus alveolar dentin.
 Etiologi
- Kebersihan mulut yang
buruk
- Penumpukan kalkulus

 Diagnosis:
 warna merah atau merah keunguan
 bagian tepinya bengkak
 ada eksudat
 mudah berdarah saat sikat gigi
 gusi bengkak
 konsistensinya empuk/ lunak
 kadang nyeri
 nafas bau
 tampak timbunan plak pada gigi.
 Terapi :
mengatasi kondisi yang
menyebabkan dan memperburuk
gingivitis plak dibersihkan
dan menjaga kebersihan mulut
DEFINISI
Penyakit pada
rongga mulut
berupa lesi merah
dan lesi putih yang
disebabkan oleh
jamur jenis Kandida
sp, dimana Kandida
albikan merupakan
jenis jamur yang
menjadi penyebab
utama.
Etiologi :
faktor lokal :
perubahan epitel
barier mukosa,
kondisi saliva,
penurunan sistem
fagosit, morfogenesis
mikroorganisme
faktor sistemik :
imunokompromised,
defisiensi imun
iatrogenik :
antibiotik,
kortikosteroid,
kemoterapi,
merokok
•Berupa lesi putih pada mukosa oral yang dapat
diangkat dengan kerokan halus dan meninggalkan
mukosa yg eritematous
•Sering pada gizi kurang dan immunocompromized
Candidiasis
pseudomembran akut
•Disebabkan karena penggunaan antibiotik spektrum
luas
•Lesi kemerahan di dorsum lidah dan palatum
•Nyeri terus menerus
Candidiasis
eritematous akut
•Lesi atrofik sering dikaitkan dengan keilitis angular
•Sering pada HIV atau AIDS
Candidiasis
eritematous kronis
•Lesi homogen atau putih nodular yang tidak hilang
dengan kerokan
•Berhubungan dengan perubahan ke arah keganasan
Candidiasis
hiperplastik kronis
(candidal leukoplakia)
KLASIFIKASI

Gambaran klinis bentuk primer candidosis oral: candidosis
pseudomembranous akut (kiri atas), candidosis eritematous
kronik (kanan atas), candidosis eritematous akut (kiri bawah)
dan candidosis hiperplastik kronik (kanan bawah).


 Median rhomboid glossitis
 Kondisi kronik berupa lesi kristal di posterior midline
dorsum lidah
 Sering pada penggunaan steroid inhaler atau perokok

Keilitis angular
 Lesi timbul pada sudut mulut
 Sering terjadi pada pasien kandidiasis oral dimana
jumlah candida meningkat

median rhomboid glossitis kellitis angular
Anamnesa
• Keluhan pada rongga mulut : rasa
tidak nyaman, rasa terbakar, sakit,
pedih.
Pemeriksaan fisik
• Gambaran klinis lesi

Diagnosis
Terapi : antifungal

• Merupakan luka terbuka ( berupa
ulkus) pada mukosa atau epitel bibir
atau sekitar mulut.
• Ulkus adalah defek lokal atau
ekskavasasi permukaan jaringan atau
organ, yang lebih dalam dari jaringan
epitel.


Etiologi

Trauma
• Luka fisik
• Luka akibat zat kimia
• Smoking cessation
Infeksi
•Virus (herpes simplex)
•Bakteri
•Fungi
•Protozoa
Sistem imun
• Imunodefisiensi
(kemotherapi, HIV)
• Autoimun
• Alergi
Diet
• Defisiensi vitamin C

Klasifikasi :
 Ulkus akibat reaksi obat (stomatitis medikamentosa) :
Berbagai macam obat dapat menyebabkan timbulnya ulkus
di mukosa mulut
 Aphta : ulkus kecil berbentuk oval atau bulat, yang dilapisi
eksudat abu-abu dan dikelilingi halo berwarna merah,
yang merupakan karakteristik dari stomatitis aphtosa
rekuren.
 Minor aphta
 Mayor aphta
 Ulkus herpetiformis : multipel dengan ukuran pin point
yang nantinya membesar dengan bentuk irregular
 Sindroma brechet’s : ulkus berulang
 Eritema multiformis : Riwayat ulkus berulang pada bibir
yang diawali dengan makula eritematosa berisi cairan yang
saat pecah bentuknya ireguler, meluas, dan nyeri dengan
adanya cairan eksudat serosanguinosa yang nantinya
menjadi krusta


Stomatitis medikamentosa Aphta minor Aphta mayor
Ulkus herpetiformis Sindroma behcet’s Eritema multiformis
 Suatu peradangan pada lidah. Glossitis
bisa terjadi akut atau kronis.
 Etiologi:
 lokal
 sistemik.
 Pemeriksaan:
 lidah bengkak (atau patch
pembengkakan)
 Para nodul pada permukaan lidah
(papila) mungkin tidak ada
 Tes darah bisa mengkonfirmasi
sistemik penyebab gangguan tersebut.
 Terapi :
mengurangi peradangan dengan
kortikosteroid. Mengobati infeksi dengan
antibiotik, antivirus, antifungal,
antiparasit.

NON CANCEROUS GROWTH
Pertumbuhan non kanker (papiloma, lipoma, mukokel, torus
palatinus)
Etiologi :
HPV virus
Trauma
Kebiasaan
Iritasi
Terapi :
Analgetik topikal
Operasi

 Lesi putih keratosis berupa
bercak atau plak pada mukosa
mulut yang tidak dapat
diangkat dari mukosa mulut
secara usapan atau kikisan.
 Etiologi :
 Faktor lokal : tembakau,
alkohol, iritasi mekanis dan
kemis, reaksi
elektrogalvanik dan
kandidiasis.
 Faktor sistemik : defisiensi
vitamin A, vitamin B
kompleks, sifilis tertier dan
anemia siderofenik.

 Klasifikasi:
 Homogenous
leukoplakia (leukoplakia
kompleks)
 Nodular leukoplakia
(bintik-bintik) : Dua
pertiga dari kasus
menunjukkan tanda-
tanda displasia epitel
atau karsinoma pada
pemeriksaan
histopatologik.
 Verrucous leukoplakia :
cenderung berubah
menjadi ganas
Diagnosis
Anamnesa
•Usia, jenis kelamin, kebiasaan sehari-
hari.

Pemeriksaan klinis
• Awalnya, lesi tidak teraba saat
perabaan, agak bening dan putih
keruh
• Plak meninggi, lesi warna putih kabur
• Lesi menjadi tebal, berwarna putih,
membentuk pengerasan.
 Terapi :
Pemberian beta karoten dapat memperlambat
perkembangan penyakit

ORAL SQUAMOUS CELL CARCINOMA
Kanker ganas pada rongga
mulut yang paling sering terjadi,
yakni sekitar 97%, disusul
dengan adenokarsinoma (2-3%)
dan melanoma maligna (1%).

Klasifikasi :
Sistem yang dipakai untuk klasifikasi karsinoma
sel skuam osa adalah klasifikasi TMN dari America
Joint Committe for Cancer and End Result Reporting
(AJCSS).


T
tumor primer

• Tls : karsinoma in
situ
• T1 : tumor <2 cm
• T2 : tumor >2
dan <4 cm
• T3 : tumor >4 cm
• T4 : tumor >4 cm
dengan invasi
jaringan
sekitarnya
N
metastasis kelenjar
•N0 : kelenjar positif tidak
ada
•N1 : secara klinis teraba
kelenjar limfe servikal
homolateral dan tidak
melekat, suspek terjadi
metastase
•N2 : secara klinis teraba
kelenjar limfe cervical
kontralateral atau
bilateral dan tidak
melekat, suspek terjadi
metastase
•N3 : secara klinis
limfonoid teraba dan
melekat, suspek terjadi
metastase
M
metastasis jarak jauh
•M0 : tidak ada metastasis
jauh
•M1 : adanya metastasis
jauh

Kelompok stadium keganasan
Stadium TNM Keterangan
I T1 N0 M0 Tumor <2 cm dan tidak ada metastasis kelenjar
maupun metastasis jarak jauh
II T2 N0 M0 Tumor >2 cm dan <4 cm dan tidak ada metastasis
kelenjar maupun mestasis jarak jauh
III T3 N0 M0
T1 N1, T2 N1, M0
tumor >4 cm dan tidak ada metastasis kelenjar
maupun metastasis jarak jauh
tumor <2cm, metastasis kelenjar dan tidak melekat,
tidak ada metastasis jauh
tumor >2 cm dan <4 cm, metastasis kelenjar dan
tidak melekat, tidak ada metastasis jarak jauh
IV T4 N0, N1, N2, N3, M0
Setiap M1
 tumor >4 cm dengan invasi jaringan sekitarnya,
tidak ada metastase kelenjar, tidak ada metastase
jarak jauh.
tumor >4 cm dengan invasi jaringan sekitarnya,
eraba kelenjar limfe servikal homolateral dan tidak
melekat, tidak ada metastase jarak jauh.
tumor >4 cm dengan invasi jaringan sekitarnya,
teraba kelenjar limfe cervical kontralateral atau
bilateral dan tidak melekat, tidak ada metastase
jarak jauh.
tumor >4 cm dengan invasi jaringan sekitarnya,
limfonoid teraba dan melekat, tidak ada metastase
jarak jauh.
Setiap ditemukan metastasis jarak jauh

SIGA – ORAL ASSOCIATED
LYMPHOID TISSUE
 Komponen sistem imun rongga mulut :
- Mebran Mukosa
- Saliva
- Celah gusi
 Sistem imunitas rongga mulut dipengaruhi oleh:
- membran mukosa
- nodus limfatik
- celah gingiva
- saliva

 Kondisi yang berhubungan dengan
penurunan penghasilan saliva dan
perubahan dalam komposisi saliva
seperti saliva menjadi kental.
 Etiologi:
 Obat-obatan
 Usia
 Terapi radiasi leher dan kepala
 Gangguan pada kelenjar saliva
 Keadaan fisiologis
 Diagnosis:
 Rasa tidak enak pada mulut
 Halitosis
 Sakit pada lidah
 Kering dan pecah-pecah pada
lidah dan bibir
 Terapi :
mengendalikan faktor penyebab
.

TERIMA KASIH