You are on page 1of 14

ANALISI KUALITAS SPERMA IKAN

Oleh:
Nama : Reinhard S. Simbolon
NIM : B1J013150
Rombongan : II
Kelompok : 6
Asisten : Dhiyan Anitasari








LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN







KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan jantan masak kelamin setelah berumur kurang lebih 8 bulan. Berat
testis lebih ringan dibandingkan berat ovarium pada ikan yang sama umurnya,
tetapi panjangnya dapat dikatakan sama. Kedua testis dapat dihasilkan sekitar 1-
1.5 ml milt (dalam keadaan ejakulasi alami), tetapi pada striping paling banyak
diperoleh 1 ml milt. Testis ikan nilem berbentuk memanjang atau berlobi.
Spermatozoa dari testis lewat ductules efferentes masuk kedalam ductus
longitudinal testis. Ductus ini berkelok-kelok (konvoluntes) dan ujung anteriornya
sering ditetapkan sebagai epididimis (Jamieson, 1991).
Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas
membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa
berbeda dari telur yang merupakan sel terbesar dalam tubuh organisme adalah
gamet jantan yang sangat kecil ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa
secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu
menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program
perkembangan dalam sel telur (Sistina, 2000).
Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua
fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan
mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur. Spermatozoa dihasilkan
oleh testis, dan mengalami pematangan di epididimis dan mendapatkan nutrisi
seperti kolesterol, protein, dan sebagainya. Spermatozoa akan mengalami reaksi
akrosom di membran vitelin ovum untuk mengalami fertilisasi (Yoshida et al.,
2008). Secara struktur spermatozoa dicirikan sebagai sel yang sangat sedikit sekali
kandungan sitoplasmanya. Spermatozoa memiliki organel-organel yang sangat
sedikit dibandingkan sel lainnya. Spermatozoa tidak memiliki ribosom, retikulum
endoplasmik dan golgi. Sebaliknya spermatozoa memiliki banyak sekali
mitokondria yang letaknya sangat strategis untuk pengefisiensian energi yang
diperlukan (Sistina, 2000).
Secara struktur spermatozoa dicirikan sebagai sel yang terperas, sangat
sedikit sekali kandungan sitoplasmanya. Spermatozoa memiliki organel-organel
yang sangat sedikit dibandingkan sel lainnya. Spermatozoa tidak memiliki
ribosom, retikulum endoplasmik dan golgi. Sebaliknya spermatozoa memiliki
banyak sekali mitokondria yang letaknya sangat strategis untuk pengefisiensian
energi yang diperlukan. Secara struktur ada dua bagian yaitu kepala dan ekor
(Soeminto, 1993).
Pemeriksaan sperma dilakukan menggunakan sperma dari ikan nilem
(Osteochillus hasselti ) dikarenakan ukurannya yang relatif lebih kecil. Ikan
Nilem juga mudah diamati, mudah didapatkan dan harganya tidak terlalu mahal.
Teknik pemeriksaan sperma pada dasarnya sama yaitu mengamati kekentalan
sperma, warna, bau, jumlah sperma hidup, jumlah spermatozoa mati, motilitas dan
morpologi dari spermatozoa. Oleh karena itu, teknik pemeriksaan sperma pada
ikan nilem bisa juga diterapkan pada spesies lain.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum analisi sperma adalah agar praktikan dapat
melakukan analisis sperma, dan menentukan kualitas spermatozoa hewan uji.













II. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum analisis sperma adalah object
glass, cover glass, cavity slude, pipet tetes, mikroskop, kertas tissue, tusuk gigi,
pengukur waktu, haemositometer, mikrometer, spuit 1 mL, beaker glass 50 mL,
well plate, dan hand counter.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum analisis sperma adalah
milt ikan nilem, larutan NaCl fisiologis, atau larutan ringer, pewarna giesma atau
eaosin, serta akuades.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum ini adalah:
1. Ikan nilem jantan diangkat dari akuarium, bersihkan dinding abdomen
terutama disekitar genital pore menggunakan kertas tissue.
2. Dinding abdomen diurut secara halus mulai dari depan sirip abdomen menuju
genital pore, sehingga keluar cairan putih kental seperti santan.
3. Milt yang diperoleh ditampung dalam spuit tanpa jarum yang sekaligus
berfungsi sebagai alat pengukur volume milt. Ukurlah volume milt yang
diperoleh.
4. Satu tetes milt diletakan di atas object glass untuk pengukuran viskositas milt,
satu tetes di atas cavity slide untuk pengamatan motilitas spermatozoa dan
sisanya diencerkan secara bertingkat untuk perhitungan konsentrasi
soermatozoa dan evaluasi morfologi spermatozoa
5. Pengujian viskositas milt dilakukan dengan menguji kekentalan milt
menggunakan tusuk gigi, melalui gerakan seperti menyendok milt
menggunakan tusuk gigi; dicatat waktu saat kekentalan milt berubah.
6. Motilitas spermatozoa dilakukan dengan cara milt yang diletakan di atas cavity
slide, ditutup dengan cover glass dan diamati di bawah mikroskop sehingga
didapatkan fokus yang jelas, kemudian teteskan akuades di perbatasn antara
cover glass dengan cavity untuk mengaktivasi pergerakan spermatozoa.
7. Pola pergerakan spermatozoa diamati dan dicatat lama motilitas dan proporsi
spermatozoa yang motil.
8. Pengenceran milt dilakukan dalam well plate. Pada well plate pertama
dimasukan 1 bagian milt ditambah 9 bagian larutan NaCl difisiologis dan
dihomogenkan dengan memipetnya beberapa kali sehingga didapatkan
pengenceran 10x. Ambillah 1 bagian milt dari pengenceran pertama, masukan
ke dalam well plate ke dua, tambahkan 9 baagian larutan NaCl fisiologis dan
homogenkan sehingga didapatkan milt dengan pengenceran 100x.
Pengenceran dapat dilakukan hingga 1000 atau 10000x
9. Haemositometer disiapkan dan dibersihkan dari debu dan kotoran lain. Lalu
diletakan di bawah mikroskop dan difokuskan pada bilik hitung yang akan
digunankan kemudia ditutup dengan cover glass.
10. Milt encer diteteskan pada perbatasan antara haemositometer dengan cover
glass menggunakan pipet tetes. Milt akan menyebar ke bilik hitung melalui
gerakan kapiler.
11. Spermatozoa diamati di dalam bilik hitung dan difokuskan dengan baik,
apabila spermatozoa masih terlalu padat cucilah haemositometer beserta cover
glassnya dan ulangi langkah no 10 dengan tingkat pemgenceran yang lebih
tinggi.
12. Jumlah spermatozoa dihitung pada bilik hitung.
13. Morfologi spermatozoa dari preparat yang sudah disediakan dievaluasi di
bawah mikroskop, diamati bentuk kepala dan ekor spermatozoa dan dicatat.









III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
a. Parameter Makroskopis:
1. Volume : 0.5 mL
2. Viskositas : 6 menit 37 detik
Tabel 1. Akumulasi Data Pengamatan Viskositas Rombongan II
Kelompok Viskositas (menit)
1 4 menit 27 detik
2 5 menit 20 detik
3 1 menit 26 detik
4 4 menit 50 detik
5 6 menit 14 detik
6 6 menit 37 detik

3. Bau : Amis
4. Warna : Putih Susu
5. pH : 8
b. Parameter Mikroskopis
1. Motilitas :80%
Tabel 2. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan II
K1 K2 K3 K4 K5 K6 Rata-rata
Persentase sperma
motil (%)
90 80 90 70 70 80 80
Persentase sperma
non motil (%)
10 20 10 30 30 20 20

2. Jumlah total spermatozoa
Tabel 3. Akumulasi Data Pengamatan total Spermatozoa Rombongan II
K1 K2 K3 K4 K5 K6 Rata-rata
Total
Sperma
tozoa
(sel/ml)
17.5 x
10
9

41.5 x
10
9

28.5 x
10
9

43.5 x
10
9

11.75
x 10
9

58.75
x 10
9

33.58 x 10
9


Perhitungan:
Kotak 1 = 200
Kotak 2 = 303
Kotak 3 = 245
Kotak 4 = 295
Kotak 5 = 232
Jumalah = 1175
Rata rata = 235













Z total = Rata-rata 5 kotak x 2,5 . 10
5
x Faktor pengenceran
= 235 x 2,5 . 10
5
x 10
3

= 43.5 x 10
9

= 4.35 x 10
10
cell/mL
Sq2
Gambar 1. Bilik Hitung Haemocytometer
9. Morfologi spermatozoa
Keterangan
Gambar:












10. Kesimpulan/ diagnosa:
Volume milt ikan yang dihasilka pada praktikum adalah 0.5 ml
2
ekor ikan.
Viskositas dari milt ikan terjadi setelah pengamatan selama 4 menit 50 detik. Milt
ikan memiliki bau amis, berwarna putih susu dan memiliki pH 8. Motilitas milt
ikan yang diperoleh adalah presentase sperma motil sebesar 70% dan presentase
sperma non motil sebesar 30%. Hal ini terjadi karena terlalu lama memperkirakan
sperma yang bergerak atau tidak.






Gambar 2. Morfologi Spermatozoa
1. Kepala Sperma
2. Ekor Sperma
B. Pembahasan
Pemeriksaan makroskopis sperma meliputi volume, warna, pH, viskositas
dan bau sedangkan mikroskopis sperma meliputi motilitas, morfologi dan jumlah
total spermatozoa (Melati, 2011). Penentuan jumlah total spermatozoa
menggunakan haemositometer, dengan pengenceran 1 ml sperma menggunakan
NaCl fisiologis. Pemeriksaan motilitas menggunakan mikroskop perbesaran 400
kali dengan meneteskan sperma pada object glass dan ditambahkan aquadest.
Penilaian motilitas dilakukan dengan menduga persentase sperma yang
pergerakannya progresif ke depan dibandingkan dengan total sperma yang
diamati. Penentuan viabilitas dilakukan dengan pembuatan preparat ulas eosin
negrosin, kemudian membandingkan jumlah sperma hidup dengan total sperma
yang diamati dan dinyatakan dalam persen. Pemeriksaan morfologi menggunakan
mikroskop dan melihat bentuk-bentuk dari sperma (Meirnawati, 2011).
Hasil pengamatan milt berwarna putih susu. Bau semen yang khas tajam
dan amis. Bau itu berasal dari oksidasi sperma yang dihasilkan prostate. Jika tak
ada bau khas mani, prostate tak aktif atau ada gangguan. Mungkin gangguan itu
pada saluran atau kelenjar sendiri. Bau busuk oleh adanya infeksi (Yatim, 1984).
Hasil yang diperoleh kelompok kami dalam praktikum kali ini secara
makroskopis adalah sperma ikan nilem (milt) dengan volume 0.5 ml setelah kertas
pH dicelupkan pada sampel sperma memiliki derajat keasaman yaitu 8.Secara
mikroskopis kami memprakirakan sperma nilem mempunyai nilai motilitas 80%
dan 20% untuk non motil. Hal ini dikarenakan sampel yang kami amati cukup
lama berada di ruang terbuka sehingga kami perkirakan jumlah spermanon motil
sekitar 20 % sebab walau dilihat dari mikroskop sampel tidak bergerak tetapi
belum tentu sampel tersebut telah mati (Soeminto, 2002).
Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, viskositas yang
dihasilkan adalah 6 menit 37 detik. Menurut pustaka, bahwa durasi motilitas
terjadi dalam periode yang sangat pendek pada ikan air tawar, Pergerakan aktif
spermatozoa ikan sekitar 1-2 menit dan tak ada lagi pergerakan setelah 5 menit.
Semakin kental sperma tersebut semakin besar vikositasnya. Hal ini mungkin
disebabkan karena sperma terlalu banyak, cairannya sedikit, gangguan
liquedaction, perubahan komposisi plasma sperma, dan pengaruh obat-obatan
(Condro, 2012).
Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, bau yang
dihasilkan adalah bau amis, warna putih susu dan pH 8. Berdasarkan pustaka, bau
dan warna sudah sesuai. Namun ada perbedaan pada pH. Sperma yang normal
mempunyai pH antara 7,2-7,8. pH lebih dari 8 menunjukkan adanya radang akut
kelenjar kelamin atau epididymis. pH kurang dari 7,2 menunjukkan adanya
penyakit kronis pada kelenjar atau epididymis. pH rendah sekali menunjukkan
adanya gangguan atau aplasia pada vesicular seminalis atau ductus ejaculatorius.
pH dapat berubah satu jam sesudah ejakulasi (Meirnawati, 2011).
Penggunaan haemositometer untuk menentukan jumlah spermatozoa
dalamsemen menurut pendapat terbaru dianggap kurang praktis, karena
kecualimemerlukan sedikit keahlian dalam menghisab juga memerlukan waktu
dalammenghitung dengan mikroskop. Sperma yang diteteskan di atas kotak
haemositometer ditutup dan dihitung, hasilnya dicatat misalnya y. Y ini adalah
jumlah sel-sel spermatozoa yang mati dan yang terlihat tidak bergerak dalam
kotak-kotak. Spermatozoa yang tidak bergerak belum tentu mati (Partodiharjo,
1990).
Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, jumlah total
spermatozoa untuk kelompok 6 adalah 5.875 x 10
10
spermatozoa/ml. Sehingga
menurut Yatim (1982), konsentrasi spermatozoa tersebut termasuk dalam
golongan polyzoospermia karena jumlah spermanya lebih dari 250 juta/ml.
Jumlah spermatozoa normal (normozoospermia) berada pada rentang antara 40
sampai 200 juta/ml. Konsentrasi spermatozoa yang tinggi akan dapat menghambat
aktivitas spermatozoa, yang disebabkan berkurangnya daya gerak sehingga
spermatozoa sukar menemukan atau menembus mikrofil sel telur yang
mengakibatkan rendahnya fertilitas spermatozoa. Namun dalam kepentingan
pemijahan buatan konsentrasi spermatozoa tidak begitu dipentingkan, tetapi yang
sangat menentukan adalah motilitas spermatozoa dalam menuju sel telur (Putra,
2010).
Banyak macam bentuk spermatozoa yang abnormal yang mungkin dapat
dilihat. Abnormalitas spermaatozoa dibagi menjadi 2 kelompok yaitu
abnormalitas primer dan sekunder. Abnormalitas primer yaitu abnormalitas yang
terjadi selama proses spermatogenesis. Sedangkan abnormalitas sekunder adalah
abnormalitas yang terjadi karena pengaruh lingkungan. Keberadaan abnormalitas
spermatozoa dalam jumlah tertentu (di bawah 5%) merupakan kondisi yang
normal sebagai bentuk abnormalitas primer. Enam kelainan kepala (kepala besar,
kepala kecil, pyriform kepala, kepala runcing, kepala ganda dan kepala amorf),
dua kelainan dari bagian tengah (tetesan sitoplasma dan leher bengkok) dan empat
kelainan ekor (digulung ekor, ekor membungkuk, ekor patah dan ekor ganda)
dievaluasi dalam setiap kelompok laki-laki (Venkatesh, 2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas spermatozoa
yaitu:
1. Temperatur
Aktivitas metabolisme dan gerakan spermatozoa normal pada temperatur
tubuh dan akan meningkat kecepatannya di luar tubuh apabila temperaturnya di
atas normal. Harper (1997), menyatakan bahwa temperatur yang optimal untuk
metabolisme spermatozoa adalah pada temperatur tubuh bahkan temperatur lebih
rendah memberikan motilitas spermatozoa yang lebih panjang.
2. Kandungan zat makanan (karbohidrat)
Kandungan zat makanan (karbohidrat) misalnya fruktosa merupakan
substrat energi utama di dalam plasma semen yang diproduksi oleh kelenjar
vesikularis, untuk mendukung pergerakan dan ketahanan spermatozoa. Fruktosa
meningkatkan aktivitas protein yang terdapat pada ekor spermatozoa, sebab ekor
spermatozoa disusun oleh mikrotubulus yang mengandung substansi fiber yang
disusun oleh protein dinein. Protein dinein penting karena mempunyai aktivitas
ATP-ase untuk peningkatan motilitas spermatozoa (Hidayaturrahmah, 2007).
3. Penggunaan larutan fisiologis
Menurut Hidayaturrahmah (2007), fertilisasi dapat didukung oleh kualitas
spermatozoa yang baik. Larutan fisiologis dapat menambah daya viabilitas dan
motilitas spermatozoa. Penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan
urea dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit.




IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Volume sperma yang dihasilkan adalah 0.5 ml.
2. Viskositas sperma yang dihasilkan adalah 6 menit 37 detik
3. Bau sperma yang dihasilkan adalah bau amis yang menandakan spermanya
sehat
4. Warna sperma yang dihasilkan adalah putih susu
5. pH sperma 8 yang masih bisa dianggap normal karena memakai indikator pH
universal
6. Persentase sperma motil adalah 80 % dan sperma non motil adalah 20 %.
7. Jumlah total spermatozoa adalah 5.875 x 10
10
sel/ml.
8. Kualitas dan kuantitas spermatozoa sudah baik dilihat dari hasil praktikum
berdasarkan pemeriksaan makroskopis sudah mendekati dengan pustaka
B. Saran
Penghitungan jumlah sperma dengan bilik hitung sebaiknya dilakukan
dengan teliti dan sebelum melakukan penghitungan, dipahami juga prosedur
penghitungannya, agar didapat hasil yang akurat.













DAFTAR REFERENSI
Condro, Herdianto Sapto. 2012. Pengaruh Penambahan Madu Pada Media
Pengencer NaCl Fisiologis Dalam Proses Penyimpanan Sperma Terhadap
Kualitas Sperma Ikan Komet (Carassius auratus auratus). Fakultas
Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya.
Harper, M. A. 1977. Review of Phisiology Chemistry. Diterjemahkan oleh
Muliawan M. Universitas Indonesia, Jakarta.
Hidayaturrahmah. 2007. Waktu Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Ikan Mas
(Cyprinus carpio L) pada beberapa Konsentrasi Larutan Fruktosa.
Bioscientiae. 4: 9-18.
Jamieson, Barrie GM. 1991. Fish Evolution and Sistematics: Evidence from
Spermatozoa. Cambridge University Press, Cambridge.
Meirnawati, setyana, dkk. 2011. Daya Fertilisasi Sperma Beku Ikan Tawes
(Puntius javanicus) Setelah Disimpan Dengan Fruktosa Dan Tris
Aminomethan. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga.
Surabaya.
Melati. 2011. Penggunaan Larutan Elektrolit Pada Suhu Yang Berbeda Untuk
mempertahankan Motilitas dan viabiltas sperma Ikan Mas (Cyprinus
carpio). IPB. Bogor.
Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya,
Surabaya.
Putra, Ridwan Manda. 2010. Pengaruh Kombinasi Penyuntikan hCG Dan Ekstrak
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Volume Semen Dan Kualitas Serma
Ikan Pantau (Rasbora lateristriata Blkr). Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Riau. Riau.
Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.
Soeminto. 1993. Dasar dasar Embriologi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.
Soeminto, et al. 2002. Pembentukan Ikan Jantan Homogamet (XX) lewat
Ginosenis dan Pemberian Andriol pada Ikan Nilem (Osteocillus hasselti
CV). Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.
Venkatesh, S. Singh, G, Gupta N.P, Kumar. R, Deecaraman. M, Dada R. 2009.
Correlation of sperm morphology and oxidative stress in infertile men.
Iranian Journal of Reproductive Medicine. 7 (1): 29-34.
Yoshida, M, N. Kawano, dan K. Yoshida. 2008. Control of sperm motility and
fertility: Diverse factors and common mechanisms. Cellular and Molecular
Life Sciences. Vol: 65 (2008) : 3446 3457.
Yatim, Wildan. 1984. Embriologi untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran.
Tarsito Press, Bandung.