SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA CETAK

Kebutuhan manusia terus berkembang dan bertambah, itulah mengapa manusia terus mencari
cara pemenuhan kebutuhan tersebut, yang selalu disesuaikan dengan masa dan kehidupan yang
terus berkembang. Media cetak hadir dalam bentuk novel, buku-buku fiksi, yang hadir dengan
harga yang mahal. Untuk ribuan tahun, materi cetak hanya bisa dinikmati oleh sedikit warga
yang berpendidikan baik dalam masyarakat, untuk bangsa-bangsa Mandarin, Masir, China,
Islam, dan Roma. Kemudian pedagang Arab membawa teknologi cetak ini ke barat. Di Eropa,
media cetak dikembangkan melalui literatur-literatur yang menggunakan bahasa setempat
masyarakat masing-masing dengan diferensiasi yang tinggi. Kemudian Eropa mulai mencetak
kitab agama, dan lembaga pendidikan semakin banyak memproduksi penulis dan mencetak
beberapa buku penting. Kitab agama tahun 1455 membawa perubahan dalam teknologi mesin
cetak ini, bentuk baru yang memungkinkan percetakan dilakukan dalam jumlah besar. Di
Amerika media cetak pertama dimulai dengan percetakan banyak kitab agama, pada tahun 1640.
Benjamin Franklin merupakan salah satu pakar penemu inovasi media cetak tersebut, yang pada
tahun 1731 memulai kegiatan perpustakaan belangganan pertama, sehingga dimasa yang akan
datang warga Amerika telah mengenal baik kepustakaan, dan memberi kesempatan kepada
mereka yang tidak mampu untuk membaca dan meminjam buku-buku, Koran dan majalah.
Pada 1800-an masyarakat pembaca Amerika mulai terbentuk, dengan dukungan dari
perbaikan keadaan sosial, pendididkan, ekonomi, dan perkembangan masyarakat urban
menengah. Majalah dalam hal ini lahir pada 1700-an, dengan tema fiksi dan non-fiksi. Pada
1741, Philadelphia menjadi pusat pertama Majalah, dimana para penerbit mencoba untuk
memperkenalkan majalah jangka pendek untuk revolusi Amerika. Selama revolusi, pada 1775-
1789, kebanyakan buku dan majalah membawa nuansa politik. Kemudian pada 1790an nuansa
ekomoni mulai meledak. Kemudian pada 1920 majalah mulai bertarung dengan radio dan film,
dan telah mengenal dasar periklanan dan audiens yang lebih spesifik, berkembangan menjadi
banyak jenis, dengan berbagai metode dan majalah-majalah baru semakin merebak, dilengkapi
dengan visualisasi gambar foto.

Menurut sejarah, seorang ahli dari Jerman, Pemilik nama lengkap Johannes Gutenberg ini
menemukan mesin cetak yang akhirnya digunakan untuk mencetak bible (Kitab Suci). Ini terjadi
pada tahun 1453. Sebelumnya Gutenberg menulis secara manual, kitab-kitab suci tersebut.
Namun dengan bantuan mesin cetak, kitab suci yang dihasilkan jauh lebih banyak. Sebelum ada
revolusi Gutenberg, buku-buku di Eropa disalin dengan menggunakan Manu Script. Selain
memakan waktu yang lama, harga buku-buku tersebut tergolong mahal dan hanya bisa dibeli
oleh orang-orang yang mampu. Dengan ditemukannya mesin cetak, perkembangan ilmu dan
pengetahuan waktu itu semakin pesat, bahkan tidak hanya untuk bangsa Eropa saja tetapi juga
sampai ke Timur Tengah. Melalui buku-buku yang dicetak pada waktu itu, minat baca
masyarakat menjadi tinggi. Kitab Suci yang awalnya ditulis manual oleh Gutenberg saat itu juga
dicetak dengan bahasa lain, tidak hanya bahasa latin. Ini yang akhirnya membuat gerakan kaum
protestan.
Salah satu bentuk hasil dari media cetak adalah surat kabar. Surat kabar penerbitannya
ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas
koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Surat kabar awalnya berkembang di
Eropa, khususnya di Inggris dan Amerika Utara. Tahun 1702 muncul Daily Courant lalu Revue
pada tahun 1704. Sedangkan di Amerika, surat kabar baru terbit setelah beberapa tahun Amerika
mencapai kemerdekaannya (1776). Namun pada awalnya, surat kabar hanya diperuntukkan bagi
kaum elit dan terpelajar. Secara fisik, bentuk koran pada saat itu masih sangat sederhana dan
menggunakan biaya yang sangat murah, tetapi jangkauannya meluas. Pada tahun 1830, surat
kabar sudah mewabah di New York. Ini adalah saat kejayaan surat kabar yang akhirnya
mewabah ke seluruh pelosok dunia
Kegiatan percetakan semakin berkembang setelah perang dunia II, baik media
konvensional tradisional dan media internet yang secara lambat berkembang. Kemudian industri
ini semakin berkembang, beberapa diantaranya melakukan konsolidasi dan beberapa yang lain
semakin kuat dengan proliferasi dan persaingan mereka yang semakin tersegmentasi. Hal ini
selaras dengan perkembangan buku. Sejarah tersebut menyebutkan mengenai sebuah lingkaran
berkelanjutan dari inovasi teknologi, dalam bentuk apapun, mulai dari pemakaian teknologi
sederhana, sampai teknologi yang rumit. Diikuti oleh perkembangan berbagai bentuk media dan
pengunaan media baru, ada upaya juga untuk menambah permintaan konsumen, memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen dan mencari keuntungan, keinginan untuk mengembangkan
literature dan akhirnya mampu mengubah masyarakat menjadi labih baik.
Dalam perkembangan jurnalime, Koran manjadi media konvensional yang mengantarkan
perkembangan tersebut. Dimulai dari perkembangan newsletter, merupakan sebuah bentuk surat
berita yang disampaikan secara personal, kemudian sampai pada corantos yang merupakan
sebuah lembar laporan harian dan diurnos, yang lebih fokus pada kegiatan daerah, kemudian
berkembang lebih besar lagi pada Koran yang pada awalnya masih terbelenggu oleh batasan
pemerintah dalam membuat laporan, dan setelah masyarakat berkembang dan semakin terbuka,
mulai saat itulah Koran mulai memiliki kebebasan dalam menyampaikan berita dan mulai
terdapat kritisasi mengenai sensor laporan. Kebebasan Koran lahir mulai 1787. Kemudian mulai
lahir berbagai macam pandangan dan pendapat dari berbagai unsur masyarakat yang tidak dapat
terhindarkan, dan ini dijadikan sebagai pijakan esensial dari media koran sebagai representasi
fungsi media dalam masyarakat yang bebas. Koran mulai menjadi sebuah media penyampaian
pendapat yang merepresentasikan perbedaan suara, tidak terkecuali audiens yang juga
tersegmentasi. Kemudian iklan mulai berkembang, namun sirkulasinya lambat karena
perkembangan percetakan juga lambat dan referensi pembaca iklan sangat ter-literasi dan
umumnya orang ekonomi tinggi. Kemudian para penerbit mulai memperhatikan bentuk Koran
yang lebih baik, mampu mencakup masyarakat, dengan menggunakan jurnalis yang handal.
Inovasi ini membawa revolusi dalam bidang ini dan profesi jurnalis pun semakin dihargai.
Penerbit membentuk format yang terus menjaga perkembagan sosial masyarakat. Tahun 1980
dan 1920 merupakan tahun kejayaan Koran. Kemudian persaingan berita semakin ketat, materi
Koran semakin kompleks, termasuk mengenai program pemerintah, ekonomi, dan berbagai
laporan dari berbagai sudut pandang masyarakat diluar pemerintah yang disajikan dengan
metode investigasi mendalam. Kemudian beragam media menyajikan laporan dalam cerita yang
berlainan. Pada 1980, Koran mulai digunakan dalam videotext, yang kemudian berkembang
menjadi Koran on-line, yang pada awal perkembangannnya hanya berfungsi untuk
mengembangkan Koran pemerintah. Kemudian pendapat masyarakat mulai disampaikan melalui
blogs. Koran on-line ini membantu Koran konvensional dalam hal umur dan penyimpanan data
berita yang lebih panjang. Walau begitu diversitas dari Koran tersebut masih sangat tinggi.
Kemudian sekitar tahun 2000, media-media seperti TV, radio, dan internet ini melakukan
konslidasi dengan Koran, yang menyajikan laporan dengan bagian yang lebih lengkap termasuk
editorial, pemerintah, politik, ekonomi, sosial, gaya hidup, komentar dan pendapat, alam,
dsb. Sejarah Koran ini merupakan sebuah ide jurnalisme paling konvensional, yang selalu
kompleks pada evolusi kebebasan berpendapat dan masalah politik. Selama bertahun-tahun
editor dan penulis bertarung melawan upaya sensor pemerintah atas laporan yang ingin
ditayangkan, mereka (dan kita) harus dapat memahami apa sebenarnya fungsi esensial dari
keberadaan Koran tersebut. Revolusi bukan hanya dalam hal materi, namun juga dalam hal
metode, bentuk dan hasil cetakan, model dan tanggungjawab sosial. Perkembangan media
teknologi komunikasi ini tidak berhenti, mereka terus berkembang, mengejar pemenuhan
kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin kompleks, menjawab pertanyaan yang
sebelumnya belum terjawab, memenuhi keseimbangan manusia atas pemenuhan kebutuhan
informasi.
Jika kita kembali melihat ke proses komunikasi, menurut Miles Myers, manusia
memiliki empat tahapan literasi yang digunakan untuk saling tukar informasi, yaitu orality,
signature literacy, recitation literacy, decoding/analytic literacy, critical/translation literacy.
Sedangkan menurut McLuhan, fase perkembangan media massa terdiri dari beberapa tahap:
- Era pra-literasi (40.000 SM – 1500) : meliputi kebudayaan oral hingga media cetak awal
didominasi oleh mediasi ritual dan sosial serta dunia mistik yang penuh kekerasan dan
kebrutalan
- Era literasi (1500 – 1900) :meliputi tulisan dan media cetak, berkembang setelah galaksi
Gutenberg, khususnya periode abad tengah dan renaissance, dan terutama sekali saat
ditemukannya mesin cetak
-Era elektronik (1900-2000) : media elektronik, 2000- sekarang : media digital.
Epos utama sejarah komunikasi adalah:
 Pra modern ( media cetak awal)
 Modern (media cetak dan media elektronik)
 Post modern (media digital)

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa setiap tahapanproses komunikasi manusia
sangat berbeda dalam kurun waktu tertentu. Jika pada media cetak awal, manusia menggunaikan
media cetak untuk membuat alkitab. Dengan menggunakan alat bantu media cetak, mereka dapat
membuat alkitab sebanyak-banyaknya. Pada media elektronik manusia sudah beralih ke
modernisasi. Dimana teknologi media cetak yang dulu pernah ada telah dikembangkan menjadi
teknologi yang lebih modern dengan alat-alat yang semakin canggih. Tentu saja hal itu juga
berpengaruh pada kehidupan manusia di masa yang akan datang. Setelah itu munculah majalah,
Koran, tabloid, yang memudahkan manusia untuk memperoleh informasi secara luas dan
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi media cetak ini termasuk teknologi
komunikasi yang berkembang pesat di dunia, terutama di Negara Indonesia.
http://historyoftechnology-ikom.blogspot.com/2010/10/sejarah-perkembangan-media-cetak.html
Perkembangan teknologi percetakan yang cukup signifikan bagi dunia pers terjadi pada tahun
1846 dimana ditemukan rotary press yang memungkinkan untuk mencetak kertas pada kedua
sisi. Perkembangan selanjutnya dari penemuan ini adalah teknologi cetak yang dapat mencetak
kertas sampai ribuan lembar per jam. Proses percetakan pada dasarnya menggunakan metode
typesetting dimana huruf yang akan dicetak disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan
hasil cetakan yang baik seperti yang diperkenalkan pertama kali oleh Gutenberg.

Pada periode 1860an merupakan tahun ditemukannya litography yaitu proses percetakan dengan
cetakan bahan kimia dan menggantikan metode sebelumnya, yaitu engraving. Selain itu,
teknologi percetakan fotografi pun mengalami perkembangan dengan proses photoengraving
yaitu dengan mencetak suatu gambar secara kimia melalui lempengan besi dengan proses
fotografis. Setelah perang dunia 2, proses percetakan menggunakan offset printing dan
digunakan terus sampai sekarang karena kualitas, kecepatan dan lebih ekonomis.

• Publishing in the information age
Memasuki periode 1960an, media cetak mengalami perubahan besar dalam proses produksi.
Mesin ketik yang tadinya dipergunakan secara luas untuk menghasilkan tulisan, mulai digantikan
oleh komputer. Hal ini tentu saja disertai berbagai macam pertimbangan dan salah satunya lebih
ekonomis dan efisien. Melalui komputer, media cetak tidak hanya menghasilkan tulisan yang
dapat diubah tanpa membuang-buang kertas namun juga dapat mengubah suatu gambar atau
foto. Hasil kerja yang berbentuk softcopy tersebut, kemudian dicetak. Selain pengaruh dari
penggunaan komputer, teknologi fotokopi juga memberikan andil dimana kita dapat meng-copy
suatu tulisan dengan kecepatan tinggi dan tanpa minimum order sehingga kita dapat meng-copy
sesuai dengan kebutuhan.

Perkembangan lain dari teknologi ini adalah inovasi atas custom publishing dimana penerbitan
suatu tulisan atau buku dengan tujuan yang khusus dan hasil produksi akhirnya bukan bertujuan
untuk dipasarkan secara luas namun berubah menjadi produksi untuk tujuan pesanan dari
konsumen. Ketika suatu buku dicetak, tentunya terdapat kode seri produksi buku. Melalui
scanner elektronik, kode tersebut dikenali dan data penjualan langsung terkirim ke database
pusat sehingga terlihat berapa besar angka penjualan buku secara langsung.

• E-publishing
Internet telah memasuki kehidupan kita dengan sangat cepat dan menyentuh hampir semua aspek
kehidupan. Dampak dari internet bagi lembaga penerbitan adalah munculnya E-publishing atau
penerbitan elektronik. Contoh dari E-publishing dapat kita lihat pada situs amazon.com. Situs ini
menawarkan berbagai macam buku untuk dijual dan selayaknya sebuah toko, amazon.com juga
menampilkan buku dalam format digital. Situs ini juga berfungsi seperti pustakawan pribadi
dimana dapat memberikan rekomendasi buku yang sesuai dengan kebutuhan kita.Munculnya
layanan semacam ini pada awalnya dipelopori oleh google.com yang bekerjasama dengan
berbagai macam perpustakaan besar untuk melakukan konversi yaitu dengan melakukan
scanning pada berbagai macam koleksi buku perpustakaan sehingga dapat dibaca dalam format
digital. Namun, teknologi ini bukannya tanpa cacat, hal ini dikarenakan buku yang dibaca
melalui layar membuat mata cepat lelah dan menghabiskan listrik.Timbulnya buku elektronik
tentunya menimbulkan permasalahan dalam hal standardisasi penyajian. Salah satu solusinya
diperkenalkan oleh Adobe yaitu file dengan format PDF (portable document format) sehingga
memudahkan dalam men-download buku melalui internet.Penerbitan elektronik tidak hanya
mencakup buku saja, namun juga majalah dan surat kabar elektronik. Kita dapat mengakses
kompas.com dimana berita yang terdapat di website merupakan versi digital dari yang terbit hari
tersebut. Selain itu, dengan adanya teknologi seperti ini memungkinkan kita untuk menyimpan
dan melindungi buku teks yang sudah tidak terbit di pasaran sehingga generasi mendatang dapat
mempelajari ilmu pengetahuan dari berbagai macam sumber dan kurun waktu dalam waktu yang
relatif singkat namun tetap kaya dengan sumber informasi.

Newspaper production trends
• Newsgathering trends
Dalam mencari berita, seorang jurnalis mengumpulkan berbagai macam sumber berita melalui
berbagai macam alat komunikasi yang mungkin. Pada awalnya, jurnalis mendapat dan mengirim
berita dengan menggunakan pony express, kemudian ditemukan telegraf yang membuat berita
menjadi lebih cepat disajikan. Telegraf kemudian berkembang digunakan dan akhirnya
menghasilkan sistem pengumpulan berita dengan nama newswire dengan prinsip kerja seperti
berita online sekarang.Teknologi dalam pengumpulan berita terus berkembang sampai
ditemukannya telepon sehingga menurunkan ongkos produksi pengiriman berita. Telepon adalah
alat komunikasi yang sangat fleksibel karena dapat digunakan hampir dimana saja selama
terdapat akses. Sampai dengan saat ini, pengumpulan berita menggunakan hampir semua media
yang memungkinkan seperti radio, televisi, kabel, e-mail, dan internet dengan berbagai macam
fasilitas yaitu chat room, newsgroup sampai blog pribadi.

Dengan munculnya berbagai macam media dan teknologi yang mendukung pekerjaan seorang
jurnalis, muncullah bentuk baru dari jurnalisme yaitu backpack journalism. Backpack journalism
dikenal juga sebagai pelaporan multimedia (multimedia reporting). Seorang jurnalis dalam
membuat suatu liputan membawa mini DV, tape recorder dalam satu paket. Konsekuensi dari
tren ini adalah pembaca berita dapat mengetahui berita dengan lebih mendalam dan bahkan dapat
berinteraksi langsung dengan reporter dan menyebabkan peran editor yang makin berkurang
dalam menyunting suatu berita.

• Production trends
Dalam proses produksi berita media cetak, terjadi perubahan besar ketika digunakannya
typesetting pada tahun 1950an dalam mencetak kertas. Hasil dari typesetting yang berbentuk
paper tape ini kemudian dijadikan data master yang akan diperbanyak dengan mesin typesetting
dan hasilnya mendekati bentuk aslinya. Pada tahun 1960an akhir paper tape disimpan dalam
memori computer dan langsung dicetak setelah melalui proses editing. Perkembangan akhir-
akhir ini, paper tape tersebut semuanya tersimpan dalam komputer untuk proses editting dan lay-
out sehingga deari editting tersebut tinggal dicetak langsung oleh mesin cetak laser (printer laser)
dan kesalahan dalam proses produksi dapat deperkecil seminimal mungkin. Selain itu, proses
percetakan suatu berita sekarang ini tidaklah lagi dilakukan hanya di satu tempat. Contohnya
antara lain adalah surat kabar new york times dan usa today yang jangkauan distribusinya sangat
luas sehingga percetakan dilakukan di berbagai macam tempat terpisah namun isi berita tetap
dipegang oleh satu dewan redaksi.

• Online newspapers
Gagasan untuk menyediakan layanan surat kabar online sebenarnya sudah ada sejak tahun
1930an namun dengan format yang berbeda dengan format yang sekarang dimana surat kabar
dikirim ke pelanggan melalui mesin fax. Kemudian pada tahun 1980an muncul layanan videotext
dimana berita dikirim ke rumah melalui kabel telepon rumah. Kemudian sampai sekarang
banyaknya bermunculan surat kabar online lokal, regional, maupun internasional.Surat kabar
online merupakan pasar yang potensial bagi pengusaha media untuk berbisnis karena tingkat
penetrasi internet yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Kredibilitas dari surat kabar online
tercermin dari jumlah banyaknya pengunjung yang membuka surat kabar online mereka. Hal ini
tentu saja tidak terlepas dari kredibilitas mereka dalam surat kabar format cetakan.
http://ptkom.blogspot.com/2010/07/perkembangan-media-cetak.html
Sejarah perkembangan media cetak
SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA CETAK DARI AWALNYA DITEMUKAN SAMPAI
SEKARANG PERKEMBANGANNYA

Penemu pertama Media Cetak adalah Johannes Gutenberg pada tahun 1455 terutama di Negara
Eropa. Perkembangan awal terlihat dari penggunaan daun atau tanah liat sebagai medium bentuk
media sampai percetakan. Gutenberg mulai mencetak Bible melalui teknologi cetak yang telah
ditemukannya. Teknologi mesin cetak Gutenberg mendorong juga peningkatan produksi buku
menjadi hitungan yang tidak sedikit. Teknologi percetakan sendiri menciptakan momentum yang
justru menjadikan teknologi ini semakin mendorong dirinya untuk berkembang lebih jauh.
Lanjutan dari perkembangan awal media cetak adalah dimana perkembangan teknologi yang
belum berkembang, yaitu media cetak dibuat memakai mesin tik untuk membuat suatu iklan
produk sedangkan gambar-gambar atau animasi yang memperbagus iklan produk itu dibuat
secara manual dengan menggunakan pena. Media cetak awal lebih banyak memperlihatkan
perkembangan bentuk penerbitan ketimbang isi media itu sendiri. Novel adalah bentuk yang
lazim karena bisa dicetak secara massal tapi tetap murah.
Tanda-tanda perkembangan media cetak adalah melek huruf (kemampuan untuk baca-tulis).
Memang melek huruf adalah kondisi yang dipunyai oleh kaum elite. Bahasa yang berkembang
pun hanya beberapa bahasa pokok, bahasa latin – misalnya. Perkembangan pendidikan pada abad
14 juga mendorong perkembangan orang yang melek huruf. Perkembangan sosial pun
mendorong kemampuan baca tulis orang kebanyakan, sehingga perkembangan dramatis media
cetak pun semakin luas.
Perkembangan media cetak sekarang yaitu didukungnya perkembangan teknologi yang sudah
berkembang, sehingga dapat memudahkan orang untuk membuat suatu iklan yang lebih kreatif
dan atraktif. Dapat dijelaskan bahwa perubahan perkembangan awal media cetak dan
perkembangan sekarang media cetak adalah didukung perkembangan teknologi yang semakin
canggih. Sehingga membawa perubahan pada bagian bentuk, format, struktur, tekstur dan model
dari iklan tersebut, akan tetapi perkembangan teknologi tidak mempengaruhi atau mengubah isi
dari suatu iklan yang muncul di media. Pembuatan media cetak sekarang dengan teknologi yang
canggih adalah dengan menggunakan computer untuk mendesain iklan suatu produk dengan
menggunakan grafis dan dicetak dengan printer.
Perkembangan media cetak sekarang terutama dalam pembuatan buku-buku, pembuatan lebih
mudah dan murah serta tidak menyita banyak waktu si pembuat untuk membuata buku yang
dicetak melalui computer. Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin baik,
karena orang-orang dengan mudah mendapatkan materi atau buku catatan yang telah dicetak.
Buku catatan lebih muda didapatkan masyarakat dan dunia pendidikan semakin maju.
Perkembangan media cetak juga melalui penyebarannya pada pembuatan buku-buku agama dan
kitab-kitab agama, sehingga perkembangan agama pun dipengaruhi. Selain itu, perputaran atau
sirkulasi informasi dalam bidang sosial, bidang ekonomi dan politik juga semakin berkembang
seiring dengan perkembangan teknologi informasi.
Perkembangan teknologi media cetak yang bertkaitan dengan perkembangan media cetak itu
sendiri seperti munculnya majalah, Koran, surat-surat kabar yang isinya tentang artikel yang
bertemakan politik, kesenian, kebudayaan, kesustraan, opini-opini public dan informasi tentang
kesehatan dapat mewarnai kehidupan masyarakat. Misalnya dalam artikel yang bertemakan
politik, bahwa politik yang semakin menjamu dalam Negara. Kemudian peristiwa-peristiwa
penting yang mempengaruhi sejarah kehidupan masyarakat.
Surat kabar atau yang biasa disebut Koran adalah salah satu media cetak jurnalisme dimana
isinya memuat artikel-artikel tentang seputar informasi-informasi atau berita tentang seputar
kehidupan manusia, mulai dari yang bertemakan politik, kesehatan, hukum, sosial, ekonomi
sampai periklanan. Baik itu isinya tentang kritik terhadap pejabat, baik-buruknya kehidupan
masyarakat dalam Negara, pengertian dan penatalaksanaan tentang penyakit-penyakit yang ada
dalam masyarakat sehingga masyarakat dapat mencegah suatu penyakit itu. Dan kritik-kritik
itulah yang dapat menggugah hati masyarakat dalam baik-buruknya suatu tindakan dalam
pemerintahan. Pemilihan para pemimpin Negara dan apa-apa saja program kerja para pemimpin
Negara untuk masyarakatnya, itu didapatkan dalam media cetak surat kabar.
Adapun majalah yang terbit zaman dulu, dan masih tetap sama isinya dengan majalah sekarang,
itu karena kepercayaan masyarakat terhadap media cetak tersebut. Biasanya dari artikel-artikel
yang termuat di media cetak tersebut yang memuat kritikan yang dapat membuka mata
masyarakat sehingga terjadi revolusi. Selain kritikan, surat kabar juga memuat tulisan-tulisan dan
dokumen-dokumen penting yang merupakan kinerja pemerintah yang dapat menjadi skandal dan
korupsi pemerintah.
Jurnalisme media cetak mencapai kesuksesan kerjanya ketika berbagai majalah dan surat kabar
menambahnkan fotografi yang sangat diminati masyarakat untuk menguatkan isi dari berita.
Dengan begitu masyarakat sebagai audience yang menjadi sasarn jurnalisme semakin meluas,
sampai pada selanjutnya muncullah teknologi computer yang memunculkan media siar sehingga
dapat menggeser posisi media cetak.
Saat ini, perkembangan media masaa yang semakin menjamu di masyarakat, mempunyai
peningkatan dimana media cetak yang modern, sekarang majalah lebih focus pada audience yang
telah tersegmentasi atau terbagi menurut kepentingan. Dan setiap penemuan teknologi dapat
membatu siapa saja mendapatkan informasi. Kelebihan dari perkembangan teknologi media
cetak, surat kabar khususnya, yaitu dapat meningkatkan pendidikan masyarakat, menurunkan
jumlah buta huruf, pendapatan dan kualitas hidup pun meningkat. Selain itu, kemudahan akan
mendapat informasi ini menjadikan tingkat pengeluaran lebih rendah. Serta masyarakat lebih
mudah mengetahui tentang masalah-masalah kesehatan serta penanganannya. Teknologi
percetakan media cetak dapat memudahkan siapa saja untuk mengkopi terutama pada artikel
yang isinya memiliki nilai jual tinggi yang menjadi incaran siapa saja. Maka dari itu dibutuhkan
suatu hak cipta agar hasil karya orang tertentu dapat menjaga tulisannya agar tidak dikopi, tidak
dicuri dan tidak disalahgunakan.
Pada tahun 1890-1920 dimana tahun Jurnalisme media cetak seperti surat kabar mencapai
puncak masa kejayaannya. Tetapi pada tahun 1927 media cetak mulai bergeser di masyarakat
ketika munculnya teknologi penyiaran radio sebagai sumber informasi melalui indera
pendengaran. Dan ketika tahun 1950an, televisi turut menghangatkan persaingat teknologi
antarmedia cetak dan media massa.
Dimulai, Media Online di Indonesia lahir pada saat jatuh-nya pemerintahan Suharto di tahun
1998, dimana alternatif media dan breaking news menjadi komoditi yang di cari banyak
pembaca.Dari situlah kemudian tercetus keinginan membentuk media online pertama yaitu
detik.com yang update-nya tidak menggunakan karakteristik media cetak yang harian, mingguan,
bulanan. Dan dengan bertumpu pada tampilan apa adanya detik.com melesat sebagai situs
informasi digital paling populer di kalangan pengguna internet Indonesia hingga saat ini. Setelah
detik.com banyak media online yang mulia bermunculan seperti contohya situs-situs yang
berhubungan dengan pertelevisian, radio maupun surat kabar.
Perkembangan teknologi yang mengalami peningkatan, yaitu munculnya teknologi internet yang
memnjadikan media cetak seperti surat kabar, Koran atau majalah dapat didapatkan seklaigus
dengan mengakses diweb atau media internet. Internet adalah teknologi media yang sangat cepat
dan dengan mudah didapatkan dan diterima oleh masyarakat. Selain itu, internet juga lebih
membuka peluang kerja sama antara perusahaan media cetak dengan perusahaan.
Internet telah tumbuh dan berkembang menjadi media yang mampu menyebarkan berita lebih
cepat dan real time. Dengan banyaknya sumber daya di internet yang tersedia dengan gratis,
orang-orang pun dapat dengan mudah mendapatkan informasi dengan hanya menggunakan
mesin pencari (search engine) untuk menjelajah melalui Internet.
Peningkatan Perkembangan media online sampai pada E-publising.yang mengembangkan sistem
penerbitan elektronik dari soal distribusi on-line sampai teknologi buku elektronik yang semakin
dipermudah dengan beberapa software komputer yang ada. Situs internet juga menyediakan
tempat untuk membuat buku sekaligus memasarkannya. Portable Document Format merupakan
bentuk buku elektronik yang dikembangkan. Beberapa situs internet menjadi perpustakaan
elektronik yang bisa diakses oleh siapa saja, termasuk Google.com yang mengembangkan apa
yang disebut dengan search engine. Ketika buku dielektronikkan maka buku atau majalah tidak
lagi tergantung dengan kertas tapi dibentuk dalam keping CD yang bisa diperoleh secara mudah
dan murah.
Dan pada masa sekarang, seseorang tidak perlu lagi membeli buku di tempat-tempat yang jauh
dari tempat tinggalnya, tidak repot untuk membeli buku baik buku dengan harga yang murah
sampai buku dengan harga yang mahal, karena internet sekarang telah menyediakan E-Book
yang menyerupai Buku cetak, tetapi isinya menggunanakn bahasa Inggris. Oleh karena itu,
semakin meningkatatnya perkembangan teknologi dan media cetak, pemakai-pemakai internet
juga harus pandai dalam berbahasa Inggris, karena di internet kebanyakan menggunakan Bahasa
Inggris.


DAFTAR PUSTAKA
1. Khazali, R. (1992). Manajemen Periklanan, Konsep, dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: PT
Pustaka Utama Grafiti.
2. M. Rogers, E. (1986). Communication Technology: The New Media in Society. New York:
Free Press.
3. Rogers, F. (2003). Mediamorfosis: Memahami Media Baru. Yogyakarta: Bentang Budaya.
4. Syafrina, Shafa. Sejarah Perkembangan Media Cetak. [Online]. 2003 (Acces On Februari 7th
2011). Available from: www.home.unpar.ac.id/shafa/sejarah-perkembangan-media-cetak.doc
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬.
5. Elisabetyas. Sejarah dan Perkembangan Perwajahan Media Cetak. [Online]. 2010 (Acces On
Februari 7th 2011). Available from: www.kuliahkomunikasi.com
6. Kentzkentry. Perkembangan Media [Online]. 2009 (Acces On Februari 7th 2011). Available
from : www.wonosari.com/4234-perkembangan-media.com
7. Kentzkentry. Pengaruh Media Online terhadap Perkembangan Media Cetak [Online]. 2009
(Acces On Februari 7th 2011). Available from : www.alveroinstitute.co.cc./pengaruh-media-
online-terhadap-perkembangan-media-cetak.com
8. Al-Rasid, Fauzan. Perubahan Media Cetak dalam Mengimbangai Perkembangan Media
Online.[Online]. 2009 (Acces On Februari 7th 2011). Available from :
www.fisip.undip.perubahan-media-cetak-dalam-mengimbangi-perkembangan–media-online.com
http://iyharclassic.blogspot.com/2011/04/sejarah-perkembangan-media-cetak.html