You are on page 1of 24

EUTHANASIA

BLOK BHP
EUTHANASIA
Masalah klasik dalam bidang kedokteran yaitu
tentang ABORTUS PROVOKATUS dan
EUTHANASIA
Disatu pihak tindakan abortus provokatus dan
euthanasia pada beberapa kasus dan keadaan
memang diperlukan, sementara dipihak lain
tindakan ini tidak dapat diterima,
bertentangan dengan hukum, moral dan
agama.
…………………………………………………..……………EUTHANASIA
Mengenai masalah euthanasia bila ditarik
kebelakang boleh dikatakan masalahnya sudah
ada sejak kalangan kesehatan menghadapi
penyakit yang tak tersembuhkan, sementara
pasien sudah dalam keadaan merana dan sekarat.
Namun demikian, pada kasus-kasus tertentu
tetap saja muncul persoalan dasar kembali lagi
yaitu dilema meneruskan atau tidak tindakan
medik yang memperpanjang kehidupan.
…………………………………………………..……………EUTHANASIA
Apa yang harus dilakukan dokter menghadapi
korban yang telah mati otak (jaringan otak
sudah irreversibel), kanker stadium akhir yang
belum ada obatnya, pasien gangguan ginjal
yang tidak punya biaya cuci darah.
Dibeberapa negara hak untuk menentukan
nasib sendiri (self determination) diakui oleh
pemerintah karena diatur dalam undang-
undang.
…………………………………………………..……………EUTHANASIA
Perkembangan terakhir mengenai masalah
euthanasia. 2 kasus di Australia yang
mengakhiri hidup atas permintaan sendiri
dengan menekan “enter” pada laptop yang
diprogram untuk usaha euthanasia.
PENGERTIAN
Euthanasia berasal dari kata yunani
euthanathos.
Eu : baik, tanpa penderitaan.
Tanathos : mati.
Euthanasia : mati dengan baik tanpa
penderitaan. Atau mati cepat tanpa derita.
…………………………………………………………………PENGERTIAN
Euthanasia Study Group dari KNMG(Ikatan
Dokter Belanda)
Euthanasia adalah dengan sengaja tidak
melakukan sesuatu untuk memperpanjang
hidup seorang pasien atau sengaja melakukan
sesuatu untuk memperpendek hidup atau
mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini
dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri.
KONSEP TENTANG MATI
Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari
perkembangan konsep tentang kematian.
Usaha manusia untuk memperpanjang
kehidupan dan menghindari kematian dengan
kemajuan iptek kedokteran telah membawa
masalah baru dalam euthanasia, terutama
berkenaan dg kapan seseorang dinyatakan
telah mati.
……………………………………....KONSEP TENTANG KEMATIAN
Beberapa konsep tentang mati :
1. Mati sebagai berhentinya darah mengalir.
2. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari
tubuh.
3. Hilangnya kemampuan tubuh secara
permanen.
4. Hilangnya manusia secara permanen untuk
kembali sadar dan melakukan interaksi sosial.
……………………………………....KONSEP TENTANG KEMATIAN
Konsep mati dari berhentinya darah mengalir
seperti dianut selama ini dan juga diatur
dalam PP. 18 Tahun 1981 menyatakan bahwa
mati adalah berhentinya fungsi jantung dan
paru-paru. Tidak bisa digunakan lagi karena
teknologi resusitasi telah memungkinkan
jantung dan paru-paru yang semua berhenti,
kini dapat dipacu untuk berdenyut kembali
dan paru-paru dapat dipompa kembali.
……………………………………....KONSEP TENTANG KEMATIAN
Pusat pengendali ini terletak dalam batang
otak. Oleh karena itu jika batang otak telah
mati (Brain Stem Death) dapat diyakini bahwa
manusia itu secara fisik dan sosial telah mati.
Dalam keadaan demikian kalangan medis
sering menempuh pilihan tidak meneruskan
resusitasi (DNR, Do Not Resucitation).
……………………………………....KONSEP TENTANG KEMATIAN
World Medical Asembly tahun 1968 yang
dikenal dengan Deklarasi Sydney.
Disini dinyatakan penentuan saat kematian di
kebanyakan negara merupakan tanggung
jawab sah dokter. Dokter dapat menentukan
seseorang sudah mati dengan menggunakan
kriteria yang lazim tanpa bantuan alat khusus,
yang telah diketahui oleh semua dokter.
……………………………………....KONSEP TENTANG KEMATIAN
Yang penting dalam penentuan saat mati
disini adalah proses kematian tersebut sudah
tidak dapat dibalikkan lagi (Irreversibel),
meski menggunakan teknik penghidupan
kembali apapun.
Alat elektroensefalograf dapat digunakan.
……………………………………....KONSEP TENTANG KEMATIAN
Jika berhubungan dengan kepentingan
transplantasi organ, maka keputusan saat mati
harus dilakukan oleh 2 orang dokter atau lebih
dan dokter yang menentukan saat mati itu
tidak boleh ada kaitannya langsung dengan
pelaksanaan transplantasi tersebut.
JENIS EUTHANASIA
Dilihat dari CARA DILAKSANAKAN, uethanasia dapat
dibedakan atas :
1. Euthanasia pasif : perbuatan menghentikan atau
mencabut segala tindakan atau pengobatan yang
perlu untuk mempertahankan hidup manusia.
2. Euthanasia aktif : perbuatan yang dilakukan secara
medik melalui intervensi aktif oleh seorang dokter
dengan tujuan untuk mengakhiri hidup manusia.


……………………………………………………….JENIS EUTHANASIA
Euthanasia aktif dibedakan atas :
1. Euthanasia aktif langsung (direct), dilakukannya
tindakan medik secara terarah yang diperhitungkan
akan mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek
hidup pasien. Dikenal sebagai Mercy Kill-ing.
2. Euthanasia aktif tidak langsung (indirect), dimana
dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan
medik untuk meringankan penderitaan pasien,
namun mengetahui adanya resiko tersebut dapat
memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.
……………………………………………………....JENIS EUTHANASIA
Ditinjau dari PERMINTAAN, euthanasia dibedakan
atas :
1. Euthanasia voluntir atau euthanasia sukarela (atas
permintaan pasien), euthanasia yang dilakukan atas
permintaan pasien secara sadar dan diminta
berulang-ulang.
2. Euthanasia involuntir (tidak atas permintaan
pasien), euthanasia yang dilakukan pada pasien
yang sudah tidak sadar, dan biasanya keluarga
pasien yang meminta.
……………………………………………………....JENIS EUTHANASIA
Kedua jenis euthanasia dapat digabung
misalnya euthanasia pasif voluntir, euthanasia
aktif involuntir, euthanasia aktif langsung
involuntir dan sebagainya.
……………………………………………………....JENIS EUTHANASIA
Ada yang melihat pelaksanaan euthanasia dari sudut
lain dan membaginya atas 4 kategori :
1. Tidak ada bantuan dalam proses kematian tanpa
maksud memperpendek hidup pasien.
2. Ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud
memperpendek hidup pasien.
3. Tidak ada bantuan dalam proses kematian dengan
tujuan memperpendek hidup pasien.
4. Ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan
memperpendek hidup pasien.
EUTHANASIA dan HUKUM
Kitab Undang-undang Hukum Pidana
mengatur seseorang dapat dipidana atau
dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang
lain dengan sengaja ataupun karena kurang
hati-hati. Ketentuan pelanggaran pidana yang
berkaitan langsung dengan euthanasia aktif
terdapat pada pasal 344 KUHP.
……………………………………………EUTHANASIA dan HUKUM
Pasal 344 KUHP : Barang siapa menghilangkan
jiwa orang lain atas permintaan orang itu
sendiri, yang disebutnya dengan nyata dan
dengan sungguh-sungguh dihukum penjara
selama-lamanya dua belas tahun.
……………………………………………EUTHANASIA dan HUKUM
Untuk jenis euthanasia aktif maupun pasif
tanpa permintaan, beberapa pasal dibawah ini
perlu diketahui oleh dokter.
Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja
menghilangkan jiwa orang lain, dihubungkan
karena makar mati, dengan penjara selama-
lamanya lima belas tahun.
……………………………………………EUTHANASIA dan HUKUM
Pasal 340 KUHP : Barang siapa dengan sengaja dan
direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang
lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan
(moord) dengan hukuman mati atau penjara selama-
lamanya seumur hidup atau penjara sementara
selama-lamanya dua puluh tahun.
Pasal 359 KUHP : Barang siapa karena salahnya
menyebabkan matinya orang dihukum penjara
selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-
lamanya satu tahun.
……………………………………………EUTHANASIA dan HUKUM
Pasal 345 KUHP : Barang siapa dengan sengaja
menghasut orang lain untuk membunuh diri,
menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan
daya upaya itu jadi buduh diri, dihukum penjara
selama-lamanya empat tahun.
Pasal ini mengingatkan dokter, jangankan melakukan
euthanasia, menolong atau memberi harapan ke
arah perbuatan itu sajapun sudah mendapat
ancaman pidana.
THE END