You are on page 1of 27

i

PERAWATAN LUKA OPERASI SECTIO CAESAREA
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keterampilan Dasar
Kebidanan II







Disusun oleh :
PUPUT PUSPITA SARI
P2.06.24.5.13.022






KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
JURUSAN KEBIDANAN TASIKMALAYA
PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN
2014
ii

KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Yang Maha Pemurah
atas limpahan nikmat hidup dan ilmu yang dianugrahkan kepada kami sehingga kata
demi kata mampu kami goreskan dalam makalah ini.
Makalah yang berjudul Perawatan Luka Operasi Caesar ini ditujukan untuk
memenuhi salah satu mata Kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan. Terima kasih
kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah
ini dari awal hingga akhir. Semoga amal kebaikan yang telah diberikan mendapat
balasan yang setimpal dari Allah swt. Amin.
Makalah ini jauh dari kata sempurna, namun sangat besar harapan kami bahwa
makalah ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya juga menjadi bahan
pembelajaran bagi penulis sendiri.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bemanfaat khususnya bagi kami,
umumnya bagi semua.

Tasikmalaya, 3 Agustus 2014

Penulis














iii

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ........................................................................................ 1
Rumusan Masalah ................................................................................... 1
Tujuan ...................................................................................................... 2
Ruang Lingkup ........................................................................................ 2
Metode Penulisan .................................................................................... 2
Sistematika Penulisan ............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Operasi Caesar..................................................................... 3
Definisi Luka ........................................................................................... 3
Etiologi ..................................................................................................... 10
Jenis Operasi ........................................................................................... 12
Hal Yang Diperhatikan Dalam Melakukan Operasi Caesar .............. 13
Resiko Melakukan Operasi Caesar ....................................................... 14
Perawatan Operasi Caesar ..................................................................... 16
Memulangkan Pasien .............................................................................. 17
Prinsip Perawatan ................................................................................... 18
Perawatan Luka Di Rumah ................................................................... 20
BAB III PENUTUPAN
Kesimpulan .............................................................................................. 22
Saran ........................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA






1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seksio cesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau suatu
histerektomia untuk janin dari dalam rahim yang bertujuan untuk menyelamatkan
kehidupan baik pada ibu maupun pada bayi (Mochtar R 1998). Ditemukannya bedah
sesar memang dapat mempermudah proses persalinan sehingga banyak ibu hamil
yang lebih senang memilih jalan ini walaupun sebenarnya mereka biasa melahirkan
secara normal. Namun faktanya menurut Bensons dan Pernolls, angka kematian pada
operasi sesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukan
resiko 25x lebih besar dibandingkan dengan persalinan melalui pervagina. Bahkan
untuk satu kasus karena infeksi mempunyai angka 80x lebih tinggi dibandingkan
dengan persalinan pervagina.
Seksio sesaria menempati urutan kedua setelah ekstraksi vakum dengan
frekuensi yang dilaporkan 6% sampai 15% (Gerhard Martius 1997). Sedangkan
menurut statistic tentang 3.509 kasus seksio sesaria yang disusun oleh pell dan
chamberlain, indikasi untuk resiko sesaria adalah diproporsi janin panggul 21%,
gawat janin 14%, plasenta previa 11% pernah seksio sesaria 11%, kelainan letak
janin 10%, pre-eklamasi dan hipertensi 7% dengan angka kematian pada ibu sebelum
dikoreksi 17% dan sesudah dikoreksi 0,5% sedangkan kematian janin 14,5%
(Winkjosastro,2005).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah dari penelitian ini
adalah bagaimana prilaku ibu post Sectio Caesarea terhadap perawatan luka Sectio
Caesarea.





2

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami lebih dalam lagi yang
dimaksud dengan asuhan keperawatan dengan post sc.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui dan memahami,pengertian,etiologi,patofisiologi,
manifestasi, komplikasi,pemeriksaan penunjang,penatalaksanaan, asuhan
keperawatan post sc.
b. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan asuhan keperawatan.
2


2. Ruang Lingkup
Makalah ini hanya membahas mengenai pengertian dari sc itu sendiri, beserta
patofisiologi yang diantaranya menjelaskan mengenai etiologi, manifestasi klinik,
komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis, dan asuhan
keperawatan dengan post sc tersebut.

3. Metode Penulisan
Makalah yang kami buat menggunakan metode penulisan deskriptif ,yang
menggambarkan asuhan keperwatan dengan post sc.

4. Sistematika Penulisan
Pada BAB I Pendahuluan berisikan Latar belakang, Tujuan yang terdiri dari
tujuan khusus dan tujuan umum, Ruang lingkup, Metode penulisan, dan Sistematika
penulisan.
Pada BAB II Tinjauan Teoritis yang berisikan Pengertian dan Patofisiologi yang
menjeleskan mengenai etiologi, manifestasi klinik, komplikasi, pemeriksaan
penunjang, pencegahan, penatalaksanaan medis, dan asuhan keperawatannya itu
sendiri.
Dan pada BAB III Penutup berisikan kesimpulan dan saran.
Dan yang berada pada BAB IV adalah daftar pustaka.












3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Operasi Caesar
Operasi Caesar atau sering disebut dengan seksio sesarea adalah melahirkan
janin melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus).Seksio
sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi
pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta
bera janin diatas 500gram. ( Wiknjosastro,2005).Seksio sesaria adalah suatu tidakan
untuk melahirkan bayi dengan berat badan diatas 500gram , melalui sayatan pada
dinding uterus yang masih utuh. (siaksoft.net).
Jenis–jenis seksio sesare :
1. Seksio sesarea klasik (korporal)
Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang 10 cm.
2. Seksio sesarea ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10
cm.

B. Definisi Luka
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik
terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel

1. Mekanisme terjadinya luka :
a. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang
tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik)
biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka
diikat (Ligasi)
4

b. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu
tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak,
perdarahan dan bengkak.
c. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan
benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
d. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti
peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
e. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti
oleh kaca atau oleh kawat.
f. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ
tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi
pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
g. Luka Bakar (Combustio)

2. Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka :
a. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana
tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem
pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih
biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan
drainase tertutup (misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya
infeksi luka sekitar 1% – 5%.
b. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan
luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau
perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi,
kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%.
c. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka,
fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan
teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga
termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka
10% – 17%.
d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.

5

3. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :
a. Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka
yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b. Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit
pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka
superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang
dangkal.
c. Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas
sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya.
Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak
mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang
dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d. Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot,
tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

4. Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi :
a. Luka akut yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
b. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses
penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.

5. Proses Penyembuhan Luka
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan “proses
peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak
(swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan
fungsi (impaired function).
Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase :
1. Fase I nflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi
akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak
dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari
benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya
6

proses penyembuhan. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan
menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai hemostasis. Platelet
akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan
“substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler
vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup
pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan
terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory
nerve endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator
(histamin, bradikinin, serotonin dan sitokin). Histamin juga menyebabkan
peningkatan permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari
pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema
jaringan dan keadaan lingkungan tersebut menjadi asidosis.
Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada
kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-
4.

2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki
dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas
sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan
menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses
reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel
fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan
penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan
sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi)
serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid,
fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun
(rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah
membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan
dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa
makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit
7

dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang
tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen
telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai
growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.

3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir
sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ;
menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan
yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan
granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh
mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk
memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai
puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan
antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang
berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar,
sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan
parut dan luka akan selalu terbuka.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan
kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan
aktifitas normal. Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap
penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada
kondisi biologis masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita
muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan
kurang gizi, diserta penyakit sistemik (diabetes mielitus).

6. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
a. Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan
penyembuhan jaringan
b. Infeksi
8

Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat
juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan
menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman
luka.
c. Hipovolemia
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan
menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
d. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara
bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika
terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat
diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
e. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan
terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini
timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah),
yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah
(“Pus”).
f. Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah
pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat
terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi
akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu
sendiri.
g. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula
darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga
akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
h. Pengobatan
- Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh
terhadap cedera
- Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
9

- Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk
bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah
luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi
intravaskular.
-
7. Nursing Management
a. Dressing/Pembalutan
Tujuan :
1. Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2. Absorbsi drainase
3. Menekan dan imobilisasi luka
4. Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5. Mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6. Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7. Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien
b. Alat Dan Bahan Balutan Untuk Luka
Bahan untuk Membersihkan Luka :
- Alkohol 70%
- Aqueous and tincture of chlorhexidine gluconate (Hibitane)
- Aqueous and tincture of benzalkonium chloride (Zephiran Cloride)
- Hydrogen Peroxide
- Natrium Cloride 0.9%
Bahan untuk Menutup Luka :
- Verband dengan berbagai ukuran
Bahan untuk mempertahankan balutan :
- Adhesive tapes
- Bandages and binders
-
8. Komplikasi Dari Luka
a. Hematoma (Hemorrhage)
Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada pasien, sehingga balutan
dapat diinspeksi terhadap perdarahan dalam interval 24 jam pertama
setelah pembedahan.
10

b. Infeksi (Wounds Sepsis)
Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi nosokomial
di rumah sakit. Proses peradangan biasanya muncul dalam 36 – 48
jam, denyut nadi dan temperatur tubuh pasien biasanya meningkat, sel
darah putih meningkat, luka biasanya menjadi bengkak, hangat dan
nyeri.
Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :
- Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan
- Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh :
terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, Sel Darah Putih).
- Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang
menuju ke sistem limphatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan
antibiotik.
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence adalah rusaknya luka bedah
Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam luka
d. Keloid
Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan. Keloid ini
biasanya muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.

C. Etiologi
1. Indikasi yang berasal dari ibu ( etiologi ).
Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai
kelainan letak ada, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin / panggul) ada,
sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, Plasenta
previa terutama pada primigravida, solutsio plasenta tingkat I – II, komplikasi
kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang disertai
penyakit ( jantung, DM ), gangguan perjalanan persalinan ( kista ovarium, mioma
uteri dan sebagainya ).
2. Indikasi yang berasal dari janin.
Fetal distress / gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin,
prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau
forseps ekstraksi
11

3. Patofisiologi
Terjadi kelainan Pada Ibu dan Kelainan Pada Janin menyebabkan Persalinan
Normal Tidak Memungkinkan akhirnya harus dilakukan SC.

4 Manifestasi
a. Preeklamsia ringan
Preeklamsia ringan diikuti oleh beberapa gejala klinis antara
lain:hipertensi antara 140/90 atau kenaikan systole dan diastole 30
mmHg/15 mmHg.oedema kaki tangan atau muka atau kenaikan berat
badan I kg/mgg.proteinuria 0.3 gr/24 jamatau plus 1-0,oliguria.
b. Preeklamsia berat
Preeklamsia berat ditandai dengan gejala klinis;hipertensi 160/110
mmHg, proteinuria 5gr/24 jam atau plus 4-5 oliguria 400cc/24
jam.oedema paru dapat disertai sianosis.serta disertai keluhan
subjektif:nyeri kepala frontal,gangguan penglihatan,nyeri epigastrium.
c. Eklampsia
Eklampsia ditandai dengan gejala-gejala preeclampsia xan disertai
koma ataupun konvulsi.

5. Komplikasi
a. Infeksipuerpera
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis
dan lain sebagainya.
b. Perdarahanan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-
cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
c. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme
paru-paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya
parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan
sesudah seksio sesarea klasik.
12

6. Anjuran Operasi
a. Dianjurkan jangan hamil lebih kurang satu tahun dengan munggunakan
alat kontrasepsi.
b. Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengam antenatal yang baik.
c. Yang dianut adalah “Once a cesarean not always a cesarean” kecuali
pada panggul sempit atau disporposi segala pelvik.

D. Jenis – jenis operasi sectio caesaria :
1. Section caesaria corporal dengan insisi memanjang pada korpus uleri kira –
kira sepanjang 10 cm.
 Kelebihan
a. Mengeluarkan janin lebih cepat
b. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik.
c. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
 Kekurangan
a. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada
reperitarialis yang baik.
b. Untuk persalinan berikutnya lebih sering pada rupture uteri
spontan.
2. Section caesaria ismika / propunda
 Kelebihan
a. Penjahitan luka lebih rendah
b. Penutupan luka yang baik
c. Perdarahan kurang
d. Rupture uteri kurang / lebih kecil
 Kekurangan
a. Luka dapat melebar kekiri, kanan dan bawah menyebabkan arteri
uterine putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak.
b. Keluhan pada kandung kemih post op tinggi.
3. Section caesaria ekstra peritoneal
Dilakukan tanpa membuka peritoneum perietalis dank arum abdominalis.
a. Section vaginalis
Arah sayatan pada rahim
13

1. Sayatan memanjang (longitudinal).
2. Sayatan melintang ( tranversal ).
3. Sayatan huruf T ( T- inasian ).

E. Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan section caesaria:
1. SC efektif : SC yang telah direncanakan untuk kehamilan ibu.
 Keuntungan : waktu pembedahan dapat dilakukan oleh dokter segala
persiapan dilakukan dengan baik
 Kerugian : segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga
menyulitkan pembedahan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan
perdarahan karena uterus belum mulai dengan kontraksinya
2. Anastesi
 Anastesi umum : mempunyai pengaruh pada pusat pernafasan janin
 Anastesi Spiral : baik buat janin tapi tekanan darah pasien dapat
menurun
 Anastesi local : cara yang paling aman
3. Transfusi darah
Diperlukan persendian darah karena perdarahan SC lebih banyak di
persalinan per vagina karena disebabkan oleh insisi uterus dan yang terjadi
otonia uteri post partum
a. Pemberian antibiotik
b. Komplikasi
1) Pada ibu
- Infeksi Poerporal (nifas)
 Ringan : kenaikan suhu beberapa hari
 Sedang : kenaikan suhu lebih tinggi, dehdrasi, perut sedikit
kembung.
 Berat : Peritonitis, sepsis, ileus paralitik sering terjadi pada
partus terlantar dimana sebelumnya terjadi infeksi intopartal
karena ketuban yang pecah terlalu lama .
Penanganannya : pemberian cairan , elektrolit, antibiotic,
yang kuat dan tepat.

14

- Perdarahan disebabkan oleh :
1. Banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka.
2. Atonia uteri
3. Perdarahan pada placenta
4. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung
kemih bila reperi tonialisasi terlalu tinggi
5. Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan
mendatang.

F. Resiko dari Operasi Sesar
Adapun Resiko dari Operasi Sesar banyak yang menyepelekan hal tersebut,
karena wanita lebih banyak memilih sesar untuk kemudahan saat melahirkan.
Baiklah, lihat saja apa-apa saja Resiko dari Operasi Sesar berikut ini:
1. Resiko Operasi Sesar bagi Ibu
Operasi caesar yang gagal dapat mengakibatkan berisiko kematian
pada ibu. Di AS, tingkat kematian pada caesar atas kemauan sendiri adalah
5,9 per 100.000 kelahiran, dibandingkan 2,1 pada persalinan normal. Masa
pemulihan yang lebih lama, bisa sampai 6 minggu atau lebih. Risiko infeksi
pasca pembedahan yang berkisar antara 2-15%. Infeksi terutama pada
saluran kencing dan lebih sering terjadi pada ibu yang kegemukan.
Frekuensi peredarahan yang lebih tinggi. Mengalami masalah pada plasenta,
ruptur kandungan dan pertumbuhan janin di luar rahim (ectopic) pada
kehamilan berikutnya. Penundaan pemberian ASI dan jalinan hubungan
emosi ibu-anak karena adanya luka operasi dan pengaruh obat bius. Bayi
hasil operasi caesar biasanya langsung ditempatkan di ruang observasi.
Terlepas dari banyaknya permintaan untuk persalinan caesar,
sebenarnya prosedur ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Persalinan caesar
memiliki risiko kematian ibu 3 kali lebih besar dibandingkan persalinan
normal. Angka kematian langsung akibat persalinan caesar adalah 5,8 dari
setiap seratus ribu persalinan.
Selain itu, anggapan bahwa melahirkan normal jauh lebih sakit
dibandingkan melahirkan caesar juga tidak sepenuhnya benar. Persalinan
dengan bedah caesar memiliki angka kesakitan sekitar 27,3 persen lebih
15

tinggi dibandingkan persalinan normal. Peningkatan risiko akibat persalinan
caesar adalah:
 Kemungkinan 5 kali lebih besar untuk mengalami henti jantung.
 Kemungkinan 3 kali lebih besar untuk dilakukan pengangkatan rahim atau
histerektomi karena terjadi pendarahan sebagai komplikasi persalinan caesar.
 Kemungkinan 3 kali lebih besar untuk mengalami infeksi masa nifas.
 Kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mengalami sumbatan pembuluh darah.

2. Resiko Operasi Sesar bagi Bayi
Persalinan caesar ternyata tidak hanya memengaruhi kondisi ibu, tapi
juga bayi yang dilahirkan. Risiko kematian bayi, risiko gangguan pernafasan
bayi, risiko gangguan otak bayi dan risiko trauma bayi menjadi 3,5 kali lebih
besar dibandingkan persalinan normal.
Bahkan ketika bayi Anda yang dilahirkan caesar tidak mengalami
masalah di atas, persalinan caesar memiliki dampak cukup besar terhadap
daya tahan tubuh anak. Prof. Patricia Lynne Conway, Adjunct Associate
Professor, School of Biotechnology and Biomolecular Science di The
University of New South Wales mengatakan bahwa berbagai penelitian yang
dilakukan menunjukkan adanya perbedaan komposisi mikrobiota saluran
cerna pada bayi yang dilahirkan secara caesar dibandingkan dengan bayi
yang dilahirkan normal. Padahal mikrobiota memiliki peranan penting dalam
pematangan sistem daya tahan tubuh bayi, khususnya dalam membentuk
toleransi oral (mulut) dan mengurangi risiko alergi. Ini bisa memengaruhi
daya tahan tubuh bayi karena meski sistem imunitas usus telah matang pada
bayi yang lahir cukup bulan, namun fungsi perlindungan ususnya
memerlukan rangsangan kolonisasi bakteri pada awal kehidupan bayi.
Bayi lahir caesar membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk
mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi yang lahir normal.
“Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang lahir caesar
memiliki waktu pembentukan mikrobiota saluran cerna yang tertunda serta
memiliki risiko lebih tinggi akan berbagai jenis penyakit,” ujar Prof.
Conway.
16

Bayi hasil caesar berpeluang lebih tinggi mengalami gangguan
pernafasan (neonatal respiratory distress). Risiko mengidap asma juga lebih
besar pada bayi hasil caesar. Risiko bayi terkena pisau bedah. Risiko
kelahiran prematur. Seringkali, sulit untuk menghitung umur bayi yang
sebenarnya. Bila bayi ternyata masih berumur di bawah 36 bulan maka akan
ada risiko karena kelahiran prematur, seperti masalah pernafasan, suhu tubuh
dan pencernaan.


G. Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea
1. Analgesia
Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin
(intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa
sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.
a. Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan
adalah 50 mg.
b. Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg
Meperidin.
c. Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan
bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik.

2. Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan
darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus
harus diperiksa.

3. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah
cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun
demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera
di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.


17

4. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada
keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar
pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih
lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.

5. Ambulasi
Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan
perawatan dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurang 2 kali
pada hari kedua pasien dapat berjalan dengan pertolongan.

6. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang
alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal
jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan.
Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa
membahayakan luka insisi.

7. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit
tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang
tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.

8. Perawatan Payudara.
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu
memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang
mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya
mengurangi rasa nyeri.

H. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit.
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan
pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi, aktivitas ibu
18

seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang
lain.

I. Prinsip Perawatan Luka
Tujuan dari peraawatan luka adalah untuk menghentikan perdarahan, mencegah
infeksi, menilai kerusakan yang terjadi pada struktur yang terkena dan untuk
menyembuhkan luka.
1. Menghentikan perdarahan
a. Tekanan langsung pada luka akan menghentikan perdarahan (lihat
gambar di bawah).
b. Perdarahan pada anggota badan dapat diatasi dalam waktu yang
singkat (< 10 menit) dengan menggunakan manset sfigmomanometer
yang dipasang pada bagian proksimal pembuluh arteri.
c. Penggunaan torniket yang terlalu lama bisa merusak ekstremitas.

2. Mencegah infeksi
a. Membersihkan luka merupakan faktor yang paling penting dalam
pencegahan infeksi luka. Sebagian besar luka terkontaminasi saat
pertama datang. Luka tersebut dapat mengandung darah beku,
kotoran, jaringan mati atau rusak dan mungkin benda asing.
b. Bersihkan kulit sekitar luka secara menyeluruh dengan sabun dan air
atau larutan antiseptik. Air dan larutan antiseptik harus dituangkan ke
dalam luka.
c. Setelah memberikan anestesi lokal, periksa hati-hati apakah ada
benda asing dan bersihkan jaringan yang mati. Pastikan kerusakan apa
yang terjadi. Luka besar memerlukan anestesi umum.
d. Antibiotik biasanya tidak diperlukan jika luka dibersihkan dengan
hati-hati. Namun demikian, beberapa luka tetap harus diobati dengan
antibiotik, yaitu:
 Luka yang lebih dari 12 jam (luka ini biasanya telah
terinfeksi).
 Luka tembus ke dalam jaringan (vulnus pungtum), harus
disayat/dilebarkan untuk membunuh bakteri anaerob.
19

3. Profilaksis tetanus
a. Jika belum divaksinasi tetanus, beri ATS dan TT. Pemberian ATS
efektif bila diberikan sebelum 24 jam luka
b. Jika telah mendapatkan vaksinasi tetanus, beri ulangan TT jika sudah
waktunya.
4. Menutup luka
a. Jika luka terjadi kurang dari sehari dan telah dibersihkan dengan
seksama, luka dapat benar-benar ditutup/dijahit (penutupan luka
primer).
b. Luka tidak boleh ditutup bila: telah lebih dari 24 jam, luka sangat
kotor atau terdapat benda asing, atau luka akibat gigitan binatang.
c. Luka bernanah tidak boleh dijahit, tutup ringan luka tersebut dengan
menggunakan kasa lembap.
d. Luka yang tidak ditutup dengan penutupan primer, harus tetap ditutup
ringan dengan kasa lembap. Jika luka bersih dalam waktu 48 jam
berikutnya, luka dapat benar-benar ditutup (penutupan luka primer
yang tertunda).
e. Jika luka terinfeksi, tutup ringan luka dan biarkan sembuh dengan
sendirinya.
5. Infeksi luka
a. Tanda klinis: nyeri, bengkak, berwarna kemerahan, terasa panas dan
mengeluarkan nanah.
b. Tatalaksana
 Buka luka jika dicurigai terdapat nanah
 Bersihkan luka dengan cairan desinfektan
 Tutup ringan luka dengan kasa lembap. Ganti balutan setiap
hari, lebih sering bila perlu
 Berikan antibiotik sampai selulitis sekitar luka sembuh
(biasanya dalam waktu 5 hari).
 Berikan kloksasilin oral (25–50 mg/kgBB/dosis 4 kali
sehari) karena sebagian besar luka biasanya
mengandung Staphylococus.
20

 Berikan ampisilin oral (25–50 mg/kgBB/dosis 4 kali
sehari), gentamisin (7.5 mg/kgBB IV/IM sekali sehari)
dan metronidazol (7.5 mg/kgBB/dosis 3 kali sehari)
jika dicurigai terjadi pertumbuhan bakteri saluran
cerna.

J. Perawatan Luka di Rumah
Sekarang ini banyak sekali wanita yang lebih memilih untuk melakukan
persalinan secara operasi caesar jika dibandingkan dengan melakukan persalinan
secara normal, namun yang perlu anda ketahui terdapat bahaya besar yang dapat
mengancam anda jika anda tidak mengetahui cara yang baik dan benar untuk
merawat luka bekas proses operasi caesar. Meskipun melakukan persalinan dengan
cara operasi caesar ini lebih cepat namun tidak dengan rasa sakit yang dirasakan
ketika melahirkan secara normal.
Proses penyembuhan pasca melakukan operasi caesar ini sangat lama
dibandingkan persalinan normal. Waktu normal untuk menyembuhkan luka bekas
operasi caesar ini kurang lebih 3 minggu sampai 4 minggu, namun hal ini masih bisa
saja lebih. Yang perlu anda pikirkan ialah bagaimana cara yang baik dan juga benar
ketika merawat luka bekas operasi ini, karena jika tidak hal ini dapat mengakibatkan
infeksi yang dapat memperpanjang masa penyembuhan.
Beberapa tips serta cara untuk merawat luka bekas operasi yang dapat anda
lakukan di rumah sebagai berikut :
1. Menjaga Kebersihan Luka
Jagalah kebersihan pada luka bekas operasi. Luka bekas operasi caesar ini pada
dasarnya tidak berbeda dengan luka bekas operasi yang lainnya. Yang paling penting
pada proses penyembukan luka bekas operasi yang cepat ialah tetap menjaga luka
tersebut dari bakteri yang dapat menyebabkan infeksi. Menjaga kebersihan pada luka
bekas operasi ini merupakan cara yang sangat penting. Seperti ketika selesai mandi
anda dapat membersihkan luka bekas operasi tersebut menggunakan cairan
antiseptik serta antibiotic yang telah dianjurkan oleh dokter. Ketika anda
membersihkan luka bekas operasi tersebut, sebaiknya anda menggunakan cotton bud
atau kapas. Sebelumnya pastikan juga kedua tangan anda tetap bersih. Sebaiknya
21

tidak membungkus luka bekas operasi dengan terlalu ketat, sebab hal ini dapat
menyebabkan iritasi.
2. Penggunaan Pakaian
Gunakan pakaian yang longgar dan juga nyaman. Seperti yang telah dikatakan
sebelumnya, anda diharuskan menggunakan perban yang tidak terlalu ketat supaya
luka bekas operasi tersebut tidak terkena iritasi. Hal ini juga sangat berlaku ketika
anda memilih pakaian. Jika anda telah terbiasa menggunakan pakaian yang ketat,
sebaiknya anda menggantinya dengan pakaian yang sedikit longgar untuk beberapa
waktu. Jenis pakaian yang sedikit longgar yang harus anda gunakan diantaranya
ialah pakaian dalam, kaos, piyama, celana ataupun rok. Baby doll dan juga daster
merupakan pakaian yang cukup longgar yang paling di sarankan.
3. Melakukan Olahraga
Lakukan kegiatan olah raga yang ringan. Olah raga yang ringan seperti
halnya jalan santai dapat membantu dalam proses penyembuhan. Olah raga yang
ringan juga dapat mencegah konstipasi serta penggumpalan darah. Selain dari itu, hal
ini juga dapat membuat sirkulasi darah pada tubuh meningkat. Olah raga juga bisa
membuat sistem imun menjadi meningkat dan membantu untuk mencegah terjadinya
pneumonia atau terjadinya gangguan pada kesehatan umun yang di akibatkan operasi
caesar. Biasakan untuk berjalan santai mengelilingi kompleks pada pagi hari selama
kurang lebih 15 menit.
4. Pola Makan
Perawatan rutin dari dalam menggunakan makanan. Selain melakukan
perawatan luka dari luar sebaiknya anda juga memperhatikan perawatan luka bekas
operasi langsung dari dalam sengan mengkonsumsi makanan sehat yang
mengandung banyak gizi serta nutrisi yang seimbang. Konsumsilah makanan dengan
kandungan vitamin A, vitamin C serta gandum utuh yang ada pada sereal maupun
roti gandum bagi sarapan pagi. Untuk menu makan siang anda dapat mengkonsumsi
makanan yang mengandung banyak protein serta beta karoten. Selain itu makanan
wajib untuk dikonsumsi oleh wanita yang menjalani penyembuhan ialah protein,
mineral, zinc, dan juga vitamin.



22

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui dinding depan perut.atau vagina atau suatu
histerektomia untuk janin dari dalam rahim yang bertujuan untuk menyelamatkan
kehidupan baik pada ibu maupun pada bayi. Seksio sesaria adalah suatu tidakan
untuk melahirkan bayi dengan berat badan diatas 500gram , melalui sayatan pada
dinding uterus yang masih utuh.

B. Saran
Dalam menangani kasus seperti ini diharapkan mahasiswa/i dapat
mengetahui Asuhan Keperawatan dari penyakit tersebut.




















23

DAFTAR PUSTAKA

Adrriaansz G., Saiffudin AB, Wiknjosastro GH, Waspodo D. Pengantar Dalam :
Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi
Pertama. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta 2000

Wibowo B, Parathon H. Antibiotika Profilaksis untuk Pembedahan. Materi Pelatihan
Antibiotika Profilaksis. Bagian/SMF Kebidanan dan Penyakit Kandungan
FK.UNDIP/RS. Kariadi Semarang, 2003

http://www.fkep.unpad.ac.id/2007/07/perawatan-luka/ diakses pada tanggal 3
Agustus 2014

http://kesehatan96.blogspot.com/2013/03/resiko-dari-operasi-
sesar.html#ixzz39OFw1ONW diakses pada tanggal 3 Agustus 2014