You are on page 1of 42

1

BAB I
Keadilan Sebagai Fairness

1. Peran Keadilan
Keadilan adalah kebijakan utama dalam institusi sosial, sebagaimana
kebenaran dalam sistem pemikiran. Keadilan tidak membiarkan pengorbanan
yang dipaksakan pada segelitir orang diperberat oleh sebagian besar
keuntuangn yang dinikmati banyak orang. Mereka yang meyakini konsep
keadilan yang berbeda bisa tetap sepakat bahwa instusi-instusi adalah adil
ketika tidak ada pembedaan sewenang-wenang antar orang dalam
memberikan hak dan kewajiban dan ketika aturan menetukan keseimbaangn
yang pas antara klaim-klaim yang saling berseraangn demi kemanfaatan
kehidupan sosial.peran konsepsi keadilan adalah menunjukan hak-hakdan
kewajiban dsar serta mentukan pemetaan yang layak, hal ini memeangruhi
problem-problem efesiensi, koordinasi, dan stabilisasi. Peran konsepsi
keadilan adalah menunjukkan hak-hak dan kewajiban dasar serta menentukan
pemetaan yang layak, hal ini mempeangruhi problem-problem efisiensi,
koordinasi, dan stabilitas. Secara umum kita tidak bisa menilai konsepsi
keadilan deangn peran distributifnya semata, betapapun bergunanya peran
tersebut dalam mengidentifikasikan konsep keadilan.

2. Subjek Keadilan
Subjek utama keadilan adalah struktur dasar masyarakat, atau lebih
tepatnya, cara lembaga-lembaga sosial utama mendistribusikan hak dan
kewajiban fundamental serta menetukan pembagian keuntuangn dari kerja
sama sosial. Struktur dasar adalah subjek utama keadilan sebab efek-efeknya
begitu besar dan tampak sejak awal. Keadilan merupakan kebajikan yang
saangt diharapkan dan diperhatikan. Konsepsi keadilan sosial harus
dipandang memberikan sebuah standar bagaimana aspek-aspek struktur dasar
masyarakat mesti diukur. Berbagai konsepsi tentang keadilan dilahirkan dari
berbagai pandangan tentang masyarakat berhadapan dengan pandangan-
2

pandangan yang bertentangan tentang kebutuhan alamiah serta peluang-
peluang kehidupan manusia. Untuk sepenuhnya memahami konsep keadilan
kita harus memperjelas konsep kerja sama sosial yang melahirkannya. Namun
dalam melakukan hal ini kita tidak boleh mengabaikan peran special prinsip-
prinsip keadilan pada subjek utama.

3. Gagasan Utama Teori Kedialan
Gagasan yang yang menandai teori keadilan adalah bahwa prinsip-
prinsip keadilan bagi struktus dasar masyarakat merupakan tujuan dari
kesepakatan. Hal-hal itu adalah prinsip yang akan diterima orang-orang yang
bebas dari rasional untuk mengejar kepentingan mereka dalam posisi asali
ketika mendefinisikan kerangka dsar asosiasi mereka. Prinsip-prinsip ini akan
mengatur semua persetujuan lebih lanjut, mereka menentukan jenis kerja
sama social yang bias dimasuki dan bentuk-bentuk pemerintah yang bias
didirikan. Cara pandang terhadap prisip ini yaitu keadilan sebagai fairness.
Dalam keadilan sebagai fairness, posisi kesetaraan asali berkaitan
dengan kondisi alam dalam teori tradisional kontrak sosial. Posisi asali ini
tentu tidak di anggap sebagai kondisi historis, apalagi sebagai kondisi
primitive kebudayaannya. Keadilan sebagai fairness dimulai dengan salah
satu pilihan yang paling umum yang bisa dibuat orang bersama-sama, yakni
dengan pilihan prinsip pertama dari konsepsi keadilan yang mengatur kritik
lebih lanjut serta reformasi instusi. Salah satu bentuk keadilan fairness adalah
memandang berbagai pihak dalam situasi awal sebagai rasional dan sama-
sama netral.
Dalam menyusun konsep keadilan sebagai fairness salah satu tugas
utamanya adalah menetukan prinsip keadilan mana yang akan dipilih dalam
posisi asali. Keadilan sebagai fairness seperti pandangan-pandangan kontrak
lainnya, terdiri dari dua bagian (1) intepertasi atas situasi awal dan atas
persoalan pilihan yang adan dan (2) seperangkat prinsip yang akan disepakati.
Keadilan sebagai fairness bukan merupakan teori kontrak yang lengkap.
Sebab telah jelas bahwa gagasan kontrak dapat diperluas hingga pilihan
3

seluruh sistem etis, yakni. Hingga sebuah sistem yang meliputi prinsip-
prinsip semua kebijakan dan tidak hanya keadilan.

4. Posisi Asali dan Justifikasi
Posisi asali adalah status quo awal yang menegaskan bahwa
kesepakatan fundamental yang dicapai adalah fair. Fakta ini melahirkan
istilah keadilan sebagai fairness. Satu konsep keadilan lebih masuk akal
disbanding yang lain, atau bias dibenarkan, jika orang-orang rasional dalam
situasi awal akan memilih prinsip-prinsipnya. Jika pandangan mengenai
problem justifikasi ini ingin berhasil, tentu kita harus menjelaskan secara
detail sifat persoalan pilihan ini. Persoalan keputusan rasional punya jawaban
pasti jika kita tahu berbagai kepercayaan dan kepentingan dari berbagi pihak,
hubungan mereka satu sama lain, alternatif-alternatif yang akan mereka pilih,
prosedur yang menyusun pikiran mereka, dan lain-lain. Setiap saat kita bias
memasukkan posisi asali dengan mengikuti prosedur tertentu, yakni dengan
membela prinsip-prinsip keadilan sesuai dengan batasan-batasan tertentu.

5. Utilitarianisme Klasik
Terdapat banyak bentuk ultilitariansime dan perkembangan teorinya
terus berlanjut di tahun-tahun belakangan ini. Keadilan sebagai fairness
dengan berbagai varian terkemuka dari intuisionisme, perfeksionisme, dan
utilitarianisme dalam rangka mengungkapkan perbedaan mendasar dengan
cara yang paling mudah. Denga tujuan seperti ini, jenis utilitarianisme yaitu
doktrin klasik yang barangkali paling jelas dan paling lengkap terdapat dalam
rumusan Sidgwick. Gagasan utamanya, masyarakat disebut tertata dengan
tepat, dan karenanya adil, ketika lembaga-lembaga utamanya diatur
sedemikian demi mencapai kleseimbangan kepuasan netto yang merupakan
hasil rata-rata dari kepuasan seluruh individu anggota masyarakat yang
bersangkutan. Gagasan ini menjadi semakin atraktif dengan pemikiran lebih
lanjut. Dua konsep etika utama adalah tentang hak dan manfaat, konsep
mengenai orang yang hebat.
4

Bentuk yang paling jelas dari pandangan utilitarian mengenai keadilan
adalah bahwa pandangan ini tidak mempersoalkan bagaimana pemuasan
tersebut didistribusikan pada individu-individu lebih daripada mempersoalkan
bagaimana orang mendistribusikan kepuasan sepanjang waktu. distribusi
yang tepat adalah yang memberikan pemenuhan maksimum. Maka, cara yang
paling alamiah dalam ultilitarisasi adalah mengadopsi prinsip pilihan rasional
satu orang bagi masyarakat secara keseluruhan. Ultilitarisasi tidak
menganggap serius perbedaan antar individu.

6. Sejumlah Kontras yang Terkait
Keadilan sebagai fairness berupaya memberikan keyakinan commons
sense mengenai prioritas keadilan tersebut dengan menunjukkan bahwa hal-
hal itu merupakan konsekuensi dari prinsi-prinsip yang akan dipilih dalam
posisi asali. Penilaian-penilaian ini mencerminkan pilihan-pilihan rasional
dan kesetaraan awal dari pihak-pihak yang melakukan kontrak. Meskipun
doktrin kontrak menerima keyakinan tentang prioritas keadilan,
utilitarianisme berupaya menilainya sebagai ilusi yang berguna secara social.
Kontras kedua adalah bahwa sembari memperluas kemasyarakat
prinsip pilihan bagi satu orang, keadilan sebagai fairness sebagai pandangan
kontraktual, mengasumsikan bahwa prinsip-prinsip keadilan, adalah objek
kesepakatan asali. Kontras terakhir adalah bahwa keadilan sebagai fairness
alah teori deontologist, teori yang tidak menunjukkan manfaat terpisah dari
hak, atau tidak menafsirkan hak sebagai pemaksimalan manfaat. Dalam
keadilan sebagai fairness , disis lain person-person menerima prinsip
kebebasan kebebasan setara dan mereka melakukian hal ini tanpa
pengetahuan tentang tujuan mereka yang lebih khusus. Yang tersirat dalam
kontras antara utilitarianisme klasik dan keadilan sebagai fairness adalah
perbedaan konsepsi tentang masyarakat.

7. Intuisionisme
Intuisionisme dengan cara yang lebih umum daripada yang biasayna,
yakni sebagai doktrin bahwa terdapat kelompok yang tidak dapat direduksi
5

dari prinsip pertama yang harus diutamakan atas yang lain dengan bertanya
pada diri sendiri keseimbangan mana yang paling adil. Ketika kita mencapai
level generalisasi tertentu, penganut intuisionis menyatakan bahwa terdapat
criteria konstruktif untuk menentukan penekanan yang tepat demi prinsip-
prinsip keadilan. Teori-teori intuisionisme punya dua penampilan , pertama
teori-teori tersebut terdiri dari pluralitas prinsip-prinsip pertama yang bisa
bertentangan dengan perintah-perintah dalam berbagai tipe kasus tertentu ,
kedua mereka tidak mengandung metode yang eksplisit tidak ada aturan
prioritas, untuk membandingkan prinsip-prinsip ini satu sama lain.
Bentuk yang jelas dari pandangan-pandangan intuisionistik bukanlah
teleologis dan deontologist mereka, namun ruang yang mereka berikan pada
kapasitas intuitif kita tidak dibimbing oleh criteria etis dan kontruktif.
Intuisionisme menyangkal adanya solusi berguna dan eksplisit pada prioritas
persoalan.

8. Persoalan Prioritas
Dalam menekankan persoalan prioritas, tugasnya adalah penekanan
pada pengurangan dan bukan penghapusan penyandaaran pada penilaian
intuitif secara menyeluruh. Tujuan praktisnya adalah untuk mencapai
kesepakatan penilaian yang bisa dipercaya dalam rangka memberikan
konsepsi bersama tentang keadilan. Jika penilaian prioritas intuitif orang-
orang adalah sama, tidak pentik jika mereka tidak bias merumuskan prinsip-
prinsip yang menjelaskan keyakinan-keyakinan tersebut. Jika suatu konsepsi
eksis, maka dari sudut pandang posisi asali akan ada alas an yang kuat untuk
menerimanya, sebab adalah rasional untuk memperkenalkan koherensi lebih
jauh pada keyakinan kita tentang keadilan. Tata leksikal tidak sangat tepat,
tapi bias mencerahkan dalam kondisi khusus tertentu. Dengan demikian, bias
menunjukkan struktur konsepsi yang lebih besar tentang keadilan dan
mengutarakan arah tempat diketemukannya kesesuaian yang lebih erat.



6

9. Sejumlah penilaian tentang Teori Moral
Teori moral lebih mendetail dengan konsep reflectivee aquilibrium.
Pandangan reflective aquilibrium menurut tujuan sementara filsafat moral,
orang bisa mengatakn bahwa keadilan sebagai fairness adalah hipotesis
bahwa prinsip-prinsip yang akan dipilih dalaam posisi asali adalah identik
dengan prinsip-prinsip tersebut menjelaskan rasa keadilan. Dari sudut
pandang filsafat moral, penilaian terbaik mengenai rasa keadilan seseorang
bukanlah penilaian yang sejalan dengan penilaian-penilaiannya sebelum ia
melakukakn pengamatan terhadap semua konsep ke adilan, namun lebih
merupakan penilaian yang sesuai dengan penilaiannya dalam reflective
aquilibrium
Pandangan reflective aquilibrium memperkenalkan sejumlah
komplikasi yang mengundang komentar. Pandangan khas dari studi tentang
prinsip-prinsip yang mengatur tindakan-tindakan yang dibentuk dari
pengamatan diri. Filsafat moralnya bersifat Socratik : Kita ingin mengubah
penilaian matang kita ketika telah ada prinsip-prinsip regulatifnya. Teori
keadilan adalah teori sentiment moral yang menunjukkan prinsip-prinsip yang
mengatur kekuatan moral, atau lebih khusus lagi.














7

BAB II
Prinsip-Prinsip Keadilan

Pada bab ini akan membahas dan menjelaskan tentang dua prinsip keadilan bagi
institusi dan beberapa bagi individu.
10. Instusi dan Keadilan formal
Subjek utama dari prinsip keadilan sosial adalah struktus dasar
masyarakat, tatanan instusi-instusi sosial utama dalam satu skema kerja sama.
Prinsip tersebut mengatur pemberian hak dan kewajiban dalam instusi-instusi
ini serta menetukan pembagian kenikmatan serta ebban kehidupan sosial.
Prinsip keadilan bagi instusi tidak boleh dikacaukan dengan prinsip-prinsip
yang diterapkan pada individu dan tindakan-tindakan mereka dalam situasi
tertentu.
Pembedaan antara aturan konstitutif dari instusi yang mengukuhkan
berbagai hak dna kewajiban dnegan strategi-strategi dan dalil-dalil tentang
bagaiman mengambil keuntungan dari instusi demi tujuan tertentu. Strategi-
strategi dan dali-dalil rasional tidak dengan sendirinya menjadi bagian dari
instusi. Namum adalah bagian dari teori tenttang instusi, misalnya teori
politik parlementer.
Sejumlah orang menyatakan bahwa keadilan formal dan keadilan
sbtansif cenderung sejalan karena itu lembaga-lembaga yang tidak adil tidak
pernah, atau kadang pada tingkatan apa pun, siatur secara netral dan
konsisten.

11. Dua prinsip keadilan
Pernyataan pertama dari dua prinsip keadilan berbunyi :
Pertama : setiap orang mempunyai hak yang sama atas kebebasan dasr
yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang .
Kedua : ketimpangan sosial dan ekonomi mesti diatur sedemikian
rupa sehingga (a) dapat diharapkan member keuntungan semua orang . (b)
semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang .
8

Prinsip pertama diterapkan ke yang satu ke yang kedua pada yan lain.
Mereka membagi antara aspek-aspek sistem sosial yang mengidentifikasikan
dan menjamin kebebasan wrganegara dan aspek-aspek sistem sosial yang
mendefinisikan dan menjamin kebebasan warganegara dan aspek-aspek yang
menunjukan dan mengukuhkan ketimpangan sosial-ekonomi .
Prinsip kedua berkenaan dengan distribusi pendapatan dan kekayaan
serta dengan desain organisasi yang menggunakan perbedaan dalam otoritas
dan tanggung jawab , atau rantai komando. Sementara distribusi kekayaan
dan pendapatan tidak perlu sama. Posisi-posisi otoritas dan jabatan komando
harus bisa diaskes oleh semua orang.

12. Interpretasi atas Prinsip Kedua
Interpretasi pertama ( dalam urutan manapun ) adalah sistem
kebebasan natural. Penggambaran bagian pertama dari prinsip kedua
dipahami sebagai prinsip efesiensi yang disesuaikan hingga bisa diterapkan
pada berbagai lembaga sosial atau pada struktur dasar masyarat , dan bagian
kedua dipahami sebagai sistem sosial terbuka dimana karir-karir terbuka bagi
orang-orang yang punya talenta.
Interprestasi liberal atas dua prinsip ini berusaha mengurangi
pengaruh peritiwa-peristiwa-peristiwa sosial dan keberuntungan alamiah yang
tak terduga pada pembagian distributif. Untuk mencapai tujuan ini perlu
untuk menekankan kondisi-kondisi structural dasar pada sistem sosial.

13. Kesamaan demokratis dan prinsif Diferen
Prinsip ini menggeser ketidakpastian dari prinsip efesiensi dengan
menunjukkan posisi tertentu dari mana ketimpangan ekonomi dan sosisal dari
struktur-struktur dsar dinilai. Dengan mengasumsikan kerangka instusi-
instusi yang dibutuhkan oleh kebebasan yang sama dan kesamaan kesempatan
yang fair, harapan yang lebih tinggi dari orang-orang yang punya situasilebih
baik adalah adil jika dan hanya jika mereka bekerja sebagai bagian dari
skema yang memperbaiki harapan anggota-anggota masyarakat yang paling
tidak beruntung.
9

Prinsip diferen adalah konsepsi yang sangat egalitiran dalam
pengertian bahwa kecuali terdapat distribusi yang membuat dua pihak
diuntungkan (pembatasan pada pada dua pihak adalah untuk
menyederhanakan ) , distribusi yang sama dipilih.
Prinsip diferen tidak tergantung pada pemuasan hubungan , namun
ketika konstribusi posisi-posisi yang lebih diuntungkan secara umum
menyebar ke seluruh masyarakat dan tidak terbatas pada sector-sektor
tertentu, tampaknya tidak mustahil jika orang-oranmg yang lemah mendapat
keuntungan demikian pula orang-orang lain yang berbeda di tengah.

14. Kesetaraan yang Fair atas Kesempatan dan keadilan Prosedural Murni
Keadilan prosedural murni berjalan ketika tidak ada kriteria
independen bagi hasil yang benar, justru terdapat prosedur fair yang tepat
sehingga hasilnya benar atau fair, menegaskan bahwa prosedurnya telah
diikuti dengan layak.
Pandangan keadilan prosedural murni pada pembagian distributive
perlu menciptakan dan mengatur secara netral sistem lembaga yang adil.
Hanya terhadap background struktur yang adil, termasuk konstitusi politik
yang adil serta tatanan yang adil atas lembaga-lembaga sosial dan ekonomi,
orang bisa mengatakan bahwa terdapat prosedur adil yang dibutuhkan.
Dalam keadilan procedural murni , distribusi keuntungan tidak dinilai
dalam kesempatan pertama dengan mengonfrontasikan jumlah keuntungan
yang ada terhadap harapan dan kebutuhan orang-orang yang dikenal. Proses
item-item yang diproduksi terjadi sejalan dengan sistem aturan public, dan
sistem ini menentukan apa yang diproduksi, dan seberapa banyak diprosuksi,
dengan cara apapun.

15. Nilai-nilai Sosial primer sebagai basis Harapan
Prinsip diferen menemui sejumlah kesulitan dalam membuat
pembandingan interpersonal. Prinsip deferen terlalu banyak mempersoalkan
penilaian tentang kesejahteraan, prinsip diferen juga mengabaikan berbagai
kesulitan dengan memperkenalkan simplifikasi bagi dsar perbandingan
10

interpersonal. Perbandingan ini diciptakan dalam kerangka harapan akan
nilai-nilai sosial primer.
Rencana-rencana rasional banyak orang mempunyai tujuan yang
berbeda. Bagaimanapun mereka memerlukan nilai-nilai primer tertentu,
natural dan sosial.

16. Posisi-posisi sosial yang releven
Prinsip diferen mewajibkan agar harapan yang lebih tinggi orang-
orang yang beruntung menyumbangkan pada prospek orang-orang lemah.
Ketimbangan sosial dan ekonomi harus menjadi perhatian orang-orang
representative dalam semua posisi sosial yang revelan.
Posisi revelan : posisi kewarganegaraan yang setara dan posisi yang
ditentukan pleh posisinya dalam distribusi pendapatan dan kekayaan. Karena
itu , orang representative serta mereka yang mendapatkan berbagai level
kesejahteraan.
Struktur dsar mesti dinilai dari posisi kewarganegaraan yang setara.
Posisi ini didefenisikan oleh hak dan kebebasan yang diharuskan oleh prinsip
kebebasan setara serta prinsip kesetaraan kesempatan yang fair. Ketika dua
posisi ini terpenuhi semua adalah kewarganegaraan yang setara , dan dengan
demikian semua orang mempunyai posisi sperti itu.
Posisi-posis sosial yang revelan menunjukkan sudut pandang umum
dari mana dua prinsip keadilan akan diterapkan pada struktur dasar. Dengan
demikian, kepentingan semua orang diperhatikan, sebab setiap orang
meerupakan wrga Negara yang setara dan semua orang punya tempat dalam
distribusi pendapatan dan kekayaan atau dalam ranah sifat alamiah yang
menjadi dasar perbedaan.

17. Kecenderungan pada Kesetaraan
Prinsip ini menyetarakan bahwa untuk memperlakukan semua orang
dengan cara yang sama , untuk memberikan kesetaraan kesempatan yang
genuine, masyarakat harus memberikan perhatian yang lebih besar pada
mereka yang dilahirkan dalm posisi-posisi sosial yang tidak menguntungkan.
11

Gagasannya adalah mengganti bias kontingensi-kontingensi dalam arah
kesetaraan.
Sekarang prinsip gnati rugi tidak lagi menjadi satu-satunya kriteria
keadilan. Maka kendati prinsip-prinsip diferen berbeda dengan prinsip ganti
rugi. Ia mencapai sejumlah tujuan dari prinsip kompensasi. Ia
mentransformasikan tujuan-tujuan struktur dsar sehingga total skema institusi
tidk lagi menekankan efesiensi sosial dan nilai-nilai teknokratis.
Dalam memandang penilaian-penilaian ini kita bisa menolak pendapat
bahwa ketidak adilan institusi selalu tidak sempurna sebab distribusi talenta
alamiah dan kontingensi-kontingensi situasi sosial adalah tidak adil, dan
ketidakadilan ini tak pelak menjadi tanggung jawab tatanan manusia.
Penilaian tersebut cukup untuk membuat sketsa-sketsa konsepsi
keadilan sosial yang diekspresikan oleh dua prinsip tersebuit bagi institusi.

18. Prinsip-prinsip untuk Individu : prinsip Fairness
Kebutuhan yang didefinisikan oleh prinsip fairness adalah kewajiban.
Semua kewajiban muncul dengan cara ini. Namun penting untuk dicatat
bahwa prinsip fairness punya dua bgian, pertama yang bmenyatakan bahwa
institusi-institusi atau praktik-praktik harus adil, kedua adalah bagian yang
menggolongkan tindakan sukarela yang dibutuhkan. Bagian pertama
merumuskan situasi yang dibutuhkan jika tindakan-tindakan sukarela tersebut
ingin dimunculkan sebagai kewajiban. Melalui prinsip fairness, tidak
mungkin untuk diletakkan pada institusi-institusi yang tidak adil, atau
setidaknya pada lembaga-lembaga yang melampaui batas ketidakadilan yang
bisa dibiarkan.

19. Prinsip bagi Individu : kewajiban-kewajiban Alamiah
Semua kewajiban dijustifikasikan ol;eh prinsip fairness, ada banyak
kewajiban alamiah, positif dan negative.
Sekarang berkebalikan dengan kewajiban , adalah cirri keewajiban –
kewajiban alamiah jika kewajiban-kewajiban itu diterapkan pada kita tanpa
mengindahkan tindakan sukarela kita. Selain itu, kewajiban ini tidak punya
12

kaitan yang dibutuhkan dengan istitusi-institusi atau praktik-praktik sosial.
Kelayakan istilah alamiah adalah salah satu tujuan hukum nasional adalah
menjamin pengakuan kewajiban-kewajiban tersebut dalam perilaku Negara.
Dari sudut pandang keadilanj fairness, kewajiban alamiah
fundamental adalah kewajiban tentang keadilan . kewajiban ini mengharuskan
kita untuk mendukung dan menyesuaikan dengan institusi-institusi yang adil
dan bisa diterapkan pada kita.

























13

BAB III
Posisi Asali

20. Sifat Argumen Konsepsi-konsepsi Keadilan
Gagasan institutif dari keadilan sebagai fairness adalah menganggap
prinsip pertama keadilan sebagai objek dari kesepakatan asali dalam situasi
awal. Prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip-prinsip yang diterima dalam
posisi setara oleh orang-orang rasional yang perhatian pada kepentingan
mereka untuk menciptakan kerangka dsar asosiasi mereka.mka haruslah
ditunjukkan bahwa duya prinsip keadilan tersebut merupakan solusi atas
problem pilihan yang disajikan posisi asali.
Posisi asali merupakan situasi hipotesis murni. Tak ada hal serupa
yang pernah terjadi, kendati secara sadra bisa mengikuti batas-batas yang
diungkapkan refleksi berbagai pihak. Konsepsi posisi asali tidak dimaksudkan
menbjelaskan perilaku manusia kecuali ketika ia berupaya menjelaskan
penilaian moral kita dan membantu menerangkan rasa keadilan kita. Keadilan
sebagai fairness merupakan teori tentang perasaan moral kita sebagaimana
dimanifestasikan oleh penilaian kita dalam reflactive equilibrium.

21. Presentasi Alternatif-alternatif
Dua prinsip keadilan tampak lebih bisa dipilih ketikan semua sepakat
bahwa dua prinsip tersebut akan dipilih. Penilaian yang sama bisa dikenakan
pada semua bentuk posisi asali. Ada banyak variasi situasi asali dan
kemudian banyak teorema mengenai geometri moral. Hanya segelintiran
darinya yang merupakan keterkaitan filosofis , sebab kebanyakan tidak
relevan dari sudut pandang moral.

22. Kondisi keadilan
Ada kondisi-kondisi objektif yang menjadikan kerja sama manusia
mungkin dan perlu . banyak individu hidup bersama pada saat yang sama
alam teritori geografis yang pasti. Individu-individu ini sama dengan
14

kekuatan fisik mental . atau kapasitas-kapasitas mereka bisa dibandingkan
sehingga tak ada satupun yang mendominasi yang lain .
Posisi asali dimaksudkan untuk memasukkan kondisi-kondisi yang
dimiliki secara luas namun lemah. Suatu konsepsi keadilan tidak boleh
mengandaikan ikatan yang ekstensifn mengenai sentiment alamiah. Pada dsar
teori, orang berupaya berasumsi sedikit mungkin.

23. Batas-batas formal atas Konsep Hak
Ada sejumlah syarat formal yang tampaknya bisa diterapkan pada
konsepsi keadilan yang bisa masuk dalam daftar yang disajikan berbagai
pihak.
Kelayakan syarat-syarat formal bisa diturunkan dari tugas prinsip hak
dalam menyesuaikan klaim-klaim yang dibuat orang-orang pada institusi-
institusi merata. Jika prinsip-prinsip adilan ingin memainkan peranan, yakni
peranan untuk memberikan hak-hak dan kewajiban dsar serta menentukan
pembagian keuntungan, keharusan-keharusan tersebut cukup alamiah . syarat-
syarat dijustifikasin oleh definisi atau analis konsep adalah sebagai berikut.
Pertama prinsip-prinsip harus bersifat umum, yakni harus
dimungkinkan untuk merumuskannya tanpa menggunakan apa yang secara
instuitif diakui sebagai nama-nama yang layak, atau deskripsi yang pasti.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi universal dalam penerapan. Prinsip-
prinsip tersebut mesti bisa diterapkan pada semua orang karena telah menjadi
peson moral.
Selanjutnya, prinsip-prinsip tersebut menjadi universal dalam
penerapan. Prinsip-prinsip tersebut mesti bisa diterapkan pada semua orang
karena telah menjadi person moral.
Syarat ketiga adlaah mengenai publisitas , yang secara alamiah
muncul dari sudut pandang kontrak. Berbagai pihak yang ada mengasumsikan
bahwa mereka memilih prinsip bagi konsepsi public mengenai keadilan.
Syarat yang lebih jauh adalah bahwa konsep tentang hak harus
memaksakan urutan dalam klaim-klaim yang bertentangan. Keharusan ini
15

lahir langsung dari peran prinsip-prinsipnya dalam menyesuaikan tuntutan-
tuntutan yang saling bertentangan.
Syarat kelima adalah syarat finalitas, pihak-pihak yang ada menilai
sistem prinsip sebagai keputusan terakhir dalam penalaran praktis. Tidak ada
standar lebih tinggi lagi dimana argument-argumen yang mendukung
berbagai klaim dpat ditekankan penalaran dari prinsip-prinsip tersebut
bersifat konklusif.

24. Keadaan tanpa pengetahuan
Gagasan tentang posisi asali dimaksudkan untuk menciptakan
prosedur yang fair sedemikian rupa sehingga semua prinsip yang disepakati
akan adil . tjuannya adalah menggunakan pandangan tentang keadilan
procedural murni sebagai basis teori.
Penilaian yang menunjukkan bahwa posisi asali tidak di anggap
sebagai majelis umum yang yang menyertakan semua orang yang hidup pada
suatu masa, atau jauh lebih kurang, sebagai majelis semua orang yang dapat
hidup pada suatu masa. Batasan-batasan pada informasi khusus dalam posisi
asali merupakan arti penting yang fundamental. Tanpa batasan tersebut, kita
tidak akan bisa melahirkan teori keadilan sama sekali.

25. Rasionalitas Pihak-pihak yang Terlibat
dalam posisi asali semua orang adalah makhluk rasional. Ketika
memilih sesudah prinsip, masing-masing orang berusaha mengedepankan
kepentingannya sejauh mungkin. Tetapi saya juga berasumsi bahwa semua
pihak tidak memiliki konsepsi tentang kebaikan. Maksudnya, meski mereka
mafhum bahwa mereka memiliki rencana hidup yang rasional, mereka tidak
memiliki rincian rencananya, hasil pastinya, dan kpentingan yang hendak
dituju .

26. Pemikiran yang Menuntun pada Dua Prinsip keadilan
Penentuan pilihan rasional di antara kedua pilihan ini barangkali
merupakan persoalan utama dalam mengembangkan konsepsi tentang
16

keadilan sebagai fairness sebagai suatu alternative nyata terhadap tradisi
utilititarian.
Kedua prinsip ini merupakan konsepsi keadilan yang kredibel. Ada
analogi antara kedua prinsip ini dengan aturan maksimin untuk memilih
dalam kondisi ketidakpastian. Hal ini terlihat jelas dari fakta bahwa kedua
prinsip itu merupakanj prinsip yang akan dipilih seseorang untuk mendesain
masyarakat dimana musuhnya akan menugaskan ddirinya untuk menjalankan
fungsinya.

27. Pertimbangan yang Mengarah pada Prinsip Utilitas Rata-Rata
Salah satu manfaat teori kontrak adalah bahwa teori ini bisa
mengungkapkan prinsip kegunaan rata-rata dan prinsip klasik sebagai dua
prinsip ini yang sangat berbeda, meski dalam konsekuensi praktiknya prinsip-
prinsip tersebut bisa memiliki kesamaan.
Bila diterapkan pada struktur dasar, prinsip klasik ini mensyaratkan
bahwa institusi-institusi harus diatur untuk memaksimalkan jumlah absolut
ekspektasi kelompok masyarakat bersangkutan.

28. Sejumlah Kesulitan dengan Prinsip Utilitas Rata-rata
Sebelum memaparkan argument yang memperkuat dua prinsip
keadilan, beberapa kesulitan yang ada dalam prinsip kegunaaan rata-rata.
Kesulitan pertama dalam prinsip kegunaan rata-rata keetika mendiskusikan
aturan maksimin sebagai perangkat heuristic untuk menyusun argumentasi
yang mendukung dua prinsip keadilan. Kesulitan pertama ini berkaitan
dengan cara yang dipergunakan oleh seseorang individu yang rasionalnya
untuk memperkirakan probabilitas.
Jika kegunaan rata-rata hendakl diterima, maka semua pihak yang
terlibat harus berpikir dengan berdasarkan prinsip insufficient. Mereka harus
mengikuti aturan memilih dalm kondisi ketidak pastian, suatu aturan yang
oleh sebagian orang disebut dengan aturan laplace.


17

29. Landasan Utama Dua Prinsip keadilan
Pada bagian ini syarat publisitas dan finalitas untuk memberikan
sebagian dari argument pokok yang menguatkan dua prinsip keadilan.
Landasan utama penguat dua prinsip ini bisa dijelaskan sebagai beban
komitmen bahwa pihak-pihak yang terlibat memiliki kapasitas keadilan
dalam pengertian mereka percaya bahwa ikhtiar mereka tidak sia-sia. Dengan
mengasumsikan bahwa mereka telah memperhitungkan semuanya, termasuk
fakta-fakta umum tentang psikologi moral, diantara mereka trimbul
kepercayaan bahwa semua orang akan mentaati prinsip yang telah diadopsi.
Dalam hal ini, dua prinsip keadilan memiliki keuntungan pasti. Pihak-
pihak tersebut bukan hanya melindungi hak-hak dasar mereka. Tetapi mereka
juga memastikan diri mereka terhindar dari kemungkinan terburuk.

30. Utilitarianisme Klasik, netralitas, dan Kebaikan Hati
Semua pihak dalam posisi asali cenderung memilih prinsip yang
memaksimalkan kegunaan rata-rata daripada prinsip klasik. Karena mereka
memusatkan perhatian untuk mengedepankan kepentingan mereka sendiri,
mereka tidak berminat untuk memaksimalkan total (keseimbangan netto)
kepuasan.
Kontras antara bentuk pengamat simpatik dengan syarat-syarat yang
menentukan posisi asali. Elemen-elemen definisi pengamat simpatik,
kenetralan, kepemilikan pengetahun yang relevean, dan kekuatan identifikasi
imajinatif, adalah untuk menegaskan tanggapan yang akurat dan utuhb atas
simpati alamiah.





18

BAB IV
Kebebasan Yang Setara

31. Rangkaian Empat Tahap
Rangkaian Empat Tahap adalah sarana untuk menerapkan prinsip-
prinsip keadilan. Skema ini adalah bagian dari teori keadilan sebagai fairness,
dan bukannya sebuah pendapat tentang bagaimana konvensi-konvensi
konstitusional dan badan pembuat undang-undang sesungguhnya bekerja.
Skema ini menyodorkan serentetan sudut pandang dari mana berbagai
permasalahan keadilan yang berbeda-beda hendak diselesaikan, masing-
masing sudut pandang mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang di dapat
dari tahap-tahap sebelumnya. Jadi, sebuah konstitusi yang adil adalah apa
yang akan diambil oleh delgasi-delegasi rasional yang mendapat batasan dari
tahap kedua.

32. Konsep Kebebasan
Kebebasan dapat selalu dijelaskan dengan sebuah rujukan pada tiga
hal : para pelaku yang bebas, batasan-batasan atau pelanggaran yang
dibebaskan dari mereka, dan apa yang bebas atau tidak boleh mereka lakukan.
Nilai sebuah kebebasan normalnya tergantung pada spesifikasi dari
kebebasan-kebebasan yang lain, dan ini harus dipertimbangkan dalam
menyusun konstitusi dan dalam legislasi secara umum. Jika benar bahwa
kebebasan yang lebih besar adalah lebih baik, ini berlaku terutama bagi
sistem kebebasan secara keseluruhan, dan bukan untuk setiap kebebasan
khusus. Kebebasan yang setara dibatasi, batasan-batsan ini berasal dari
kriteria terteentu yang diungkapkan oleh makna kebebasan yang setara dan
urutan berturut-turut dari dua prinsip keadilan.

33. Kebebasan yang Setara dalam Berkeyakinan
Kebebsan yang setara dalam berkeyakinan telah mapan. Inilah salah
satu dari pokok-pokok yang pasti dari penilaian kita tentang keadilan. Tapi
sesungguhnya klarena fakta ini, ia menggambarkan hakekat argument bagi
19

prinsip kebebasan yang setara. Petrimbangan dalam persoalan ini dapat
digeneralisasi untuk diterapkan pada kebebasan yang lain, meskipun tidak
selalu dengan kekuatan yang sama.
Prinsip kebebasan yang setara adalah final. Seorang individuyang
mengakui kewajibna-kewajiban moral dan religius akan mengaggapnya
sebagai mengikat secara absolute dalam pengertian bahwa ia tidak bisa
mengubah pemenuhaan kewajiban-kewajiban sekedar demi maksud yang
lebih besar berupa mengejar kepentingan atau orang lain. Keuntungan
ekonomi atau sosial yang lebuih besar bukanlah alasan yang cukup untuk
menerima kekurangan dari kebebasan yang setara.
Prinsip kebebasan yang setara bahwa sekte-sekte keagamaan tidak
dapat mengakui prinsip apapun yang membatasi klaim mereka tentang
sesuatu. Kewajiban terhadap hukum tuhan dan keagamaan adalah absolute,
dari sudut pandang keagamaan, tidak diperboplehkan adanya kesepahaman di
antara orang-orang dari keyakinan yang berbeda.

34. Toleransi dan Kepentingan Umum
Kebebasan berkeyakinan dibatasi oleh kepentingan umum dalam
keteraturan dan perlindungan masyarakat. Pembatasan itu sendiri segera
bisa diambil dari sudut pandang kontrak. Pertama penerimkaan terhadap
pembatasan ini tidak membuktikan bahwa kepentingan public adalah lebih
unggul disbanding kepentingan religius moral. Tidak pula mengharuskan
bahwa pemerintah memandang persoalan-persaoalan religius merupakan
perkara-perkara yang biasa saja atau mengklaim hak unutuk menindas
keyakinan-keyakinan filosofis ketika semua itu dipandangn berbenturan
denganb urusan Negara. Pem,erintah tidak lagi mempunyai otoritas unrtuk
membuat asosiasi-asosiasi, baik sah maupun tidak, sebagaimana yang
dilakukannya pada seni dan ilmu pengetahuan
Membatasi kebebasan dengan merujuk pada kentingan umum dalam
keteraturan dan kesejahteraan public, pemerintah bertindak dengan sebuah
prinsip yang akan dipilih dalam posisi asali, karena dalam posisi ini masing-
masing mengakui bahwa dalam poisisi ini masing-masing mengakui bahwa
20

kacaunya kondisi-kondisi ini merupakan sebuah bahaya bagi kebebasan
semua.

35. Toleransi Terhadap Orang yang tidak Toleran
Sebuah sekte yang tidak toleran muncul dalam sebuah masyarakat
yang teratur, yang menerima dua prinsip keadilan. Bagaimana para warga
dalam masyaarakat ini bertindak menghadapinya , pastinya mereka tidak
boleh begitu saja menindas sekte itu hanya karena para anggota sekte yang
tidak toleran itu tidak bisa mengeluh ketika mereka melakukannya. Tapi,
karena ada sebuah konstitusi yang adil, seluruh wargha mempunyai
kewajiban alamikeadilan untuk menegakkannya.
Persoalan tentang menolerasi mereka yang tidak toleran secara
langsung berhubungan dengan stabilitas masyarakat yang teratur dengan baik,
yang diatur dua prinsip.
Ketika sebuah sekte yang tidak toleran tidak mempunyai hak untuk
mengeluhkan ketidaktoleran, kebebasannya harus dibatasi hanya pihak yang
toleran sungguh-sungguh dan mempunyai alasan untuk meyakini bahwa
keamanan mereka sendiri dan institus-institusi kebebasan sedang dalam
bahaya.

36. Keadilan politik dan Konstitusi
Keadilan politik mempunyai dua aspek yang muncul, dari fakta bahwa
sebuah konstituswo yang adil suatu keadilan yang procedural yang tidak
sempurna. Pertama, konstitusi hendak menjadi prosedur adil yang
memuaskan tntutan-tuntutan kebebasan yang setara. Kedua, ia hendak
menyusun sehingga semua susunan yang mungkinb lebih mempunyai
kemungkinan disbanding yang lain untuk menghasilkan sistem legislasi yang
adil dan efektif. Keadilan dari konstitusi hendak dinilai dari kedua tema dari
sudut pandang yang diijinkan keadaan, penilaian-penilaian ini dibuat dari
posisi konvensi konstitusional.


21

37. Batasan –batasan dalam Prinsip Partisipasi
Luasnya prinsip partisipasi didefinisikan sebagai derajatb prosedur
aturan mayoritas ( yang paling sederhana ) dibatasi dengan mekanisme
konstitualisme. Perangkat-perangkat ini berfungsi membatasi jangkauan
aturan mayoritas, jenis-jenis urusan dimana mayoritas mempunyai otoritas
final , dan seberapa cepat tujuan-tujuan mayoritas akan terlaksana.
Pembenaran bagi alat-alat konstitualisme adalah bahwa mereka
kemungkinan melindungi kebebasan- kebebasan yang lain. Susunan yang
gterbaik ditemukan dengan memperhatikan konsekuensi-konsekuensi bagi
sistem kebebasan yang lengkap. Disini gagasan intuitif bersifat terus terang.

38. Rule of the Law
Prinsip kedaulatan hukum ( rule of law ) menyatakan bahwa konsep
keadilan formal, administrasi secara teratur dan menyeluruh terhadap aturan-
aturan masyarakat, menjadi kedaulatan hukum ketika diterapkan pada sistem
hakim dan pihak-pihak lain yang berwenang untuk menerapkan aturan yang
tepat atau untuk menafsirkannya secara benar.
Sebuah sistem hukum adalah sebuah urutan aturan public yang
memaksa yang ditujukan pada orang0orang rasional dnegan tujuan mengatur
perilaku mereka dan memberikan kerangka kerja bagi kerja sam sosial.
Ketika aturan-aturan ini adil, mereka menegakkan sebuah dsar bagi harapan-
harapan yang sah. Mereka merupakan landasan tempat orang satu sama lain
bersandar dan berhak berkeberatan ketika harapan-harapan mereka tidak
terpenuhi.
Hubungan antara hukum dengan kebebasan cukup jelas. Kebebasan
adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang ditentukan oleh institusi-institusi.
Berbagai macam kebebasan menentukan hak-hak yang bisa kita pilih untuk
melakukannya, jika kita ingin dan ketika sifat dsar kebebasan menjadikannya
pantas, orang lain mempunyai kewajiban untuk tidak mengganggu.



22

39. Prioritas kebebsan yang Ditentukan
Aristoles menyatakan , kekhasan manusia adalah bahwa mereka
mempunyai rasa keadilan dan ketidakadilan, dan bahwa pemahaman bersama
tentang keadilan bisa membentuk sebuah polis (kota) sejalan dengan itu,
orang bisa mengatakan dalam kerangangka diskusi bahwa pemahaaman
bersama akan keadilan sebagai fairness bisa membuat demokrasi
constitutional.
Teori keadilan berdasar pada anggapan yang lemah dan disokong
secara luas, ia mungkin memperoleh penerimaan yang sangat umum.
Tentunya kebebasan kita paling kuat mengakar ketika mereka diasalkan fari
prinsip-prinsip yang dapat disetujui oleh orang-orang yang secara adil
diletakkan dengan penghormatan satu sama lain jika mereka dapat setuju
pada apapun.

40. Tafsir Kant atas keadilan sebagai Fairness
Sebuah tafsiran kant terhadap konsep keadilan yang dari sanalah
prinsip ini berasal. Tafsiran ini berdasar pada pendapat kant tentang otonomi.
Prinsip-prinsip ini menentukan hukum moral yang secara rasional
ingin dijadikan pedoman bagi manusia untuk menguasai perilaku mereka
dalam sebuah persemakmuran etika. Filsafat moral menjadi kajian tentang
konsepsi dan hasil dari keputusan rasional yang ditentukan dengan tepat.
Gagasan ini mempunyai konsekuensi segera. Karena ketika kita menganggap
prinsip-prinsip moral sebagai legalisasi rajaan tujuan-tujuan (kingdom of
ends) jelas bahwa prinsip-prinsip ini tidak hanya harus diterima oleh semua,
tapi juga masyarakat secara umum.







23

BAB V
Andil Distributif

41. Konsep Keadilan dalam Ekonomi Politik
Prinsip ini berfungsi sebagai sebuah konsepsi ekonomi politik, yaitu
sebagai standar untuk menilai kebijakan dan rencana-rencana ekonomi, dan
latar belakang institusi-institusiny.
Keadilan sebagai fairness diterapkan pada struktur dasar masyarakat.
Ini adalah konsepsi untuk memeringkat bentuk-bentuk sosial yang dipandang
sebagai sistem tertutup. Sejumlah keputusan yang berkait dengan susunan
latar belakang ini adalah sesuatu yang fundamental dan tidak bisa dihindari.
Ekonomi politik memusatkan perhatian pada sector public dan bentuk yang
tepat dari latarbelakang institusi-institusi yang mengatur aktivitas ekonomi,
dengan perpajakan dan hak-hak tanah, struktur pasar, dan sebagainya.

42. Beberapa pendapat tentang Sistem-sistem Ekonomi
Perbedaan antara ekonomi kepemilikan –pribadi dan sosialisme akan
sangat kabur. Aspek pertama berkaitan dengan kepemilikan alat-alat
produksi. Pembedaan klasik adalah bahwa ukuran sector public dibawah
sosialisme (yang diukur dengan pembagian hasil total yang dihasilkan oleh
perusahaan-perusahaan milik Negara dan dikelola entah oleh pegawai
pemerinta ataupun dewan pekerja ) jauh lebih besar. Dalam ekonomi
kepemilikan-pribadi jumlah perusahaan yang dimiliki Negara agaknya kecil,
dan terbatas pada kasus-kasus khusus seperti keperluan publik dan
transportasi. Kedua yang berbeda jauh dari sector publik adalah perbandingan
total sumber daya sosial yang disediakan untuk nilai-nilai publik.

43. Institusi-institusi Dasar bagi Keadilan Distributif
Persoalan utama berkenaan dengan keadilan distributive adalah
pemilihan sistem sosial. Prinsip-prinsip keadilan berlaku pada struktur-
struktur dasar dan mengatur bagaimana lembaga-lembaga utamanya
digabungkan menjadi satu skema.
24

Keadilan andil distributive tergantung pada institusi-institusi dasar dan
bagaimana mereka mengalokasikan pendapat total, gaji dan pemasukan-
pemasukan lain ditambah transfer. Ada alasan untuk merasa keberatan
terhadap penentuan kompetitif atas pendapatan total, karena ini mengabaikan
klaim kebutuhan dan sebuah standar kehidupan yang tepat.

44. Masalah Keadilan dalam Berbagai Generasi
Setiap teori etis telah melakukan beberapa pengujian yang sulit
bahkan hampir mustahil tehadapnya. Meski demekian gagasan tentang
keadilan sebagai fairness akan tidak lengkap tanpa pembahasan tentang
pesoalan penting ini.
Uraian tentang bagaimnana menentukan minimum sosial ini telah
membawa kita pada persoalan keadilan antar generasi. Menemukan sati
prinsip simpanan yang adil adalah satu aspek dari persoalan ini. Bagaimana
beban akumulasi modal dan meningkatnya standar peradaban dan
kebudayaan hendak di bagi antargenerasi, tampaknya tidak mengenal
jawaban yang pasti.

45. Prefensi Waktu
Dalam memilih prinsip menabung pada mulanya orang tidak punya
preferensi waktu murni. Kita perlu menelaah pertimbangan-pertimbangan
bagi praduga ini. Sehubungan dengan orang per orang penghindaran
preferensi waktu murni adalah cirri sikap rasional. Sebagaiman dekemukakak
sidgwick, rasionalitas menyiratkan concern netral bagi seluruh bagian hidup
kita. Karena dalam keadilan dalam sebagai fairness prinsip-prinsip keadilan
bukan merupakan perluasan dari prinsip-prinsip pilihan rasional untuk satu
orang, argument yang menetang preferensi waktu mestilah berasal dari
tempat lain.

46. Beberapa Kasus Lanjutan berkenaan dengan prioritas
Problem tabungan yang adil bisa digunakan untuk mengilustrasikan
kasus-kasus lebih jauh tentang prioritas keadilan. Salah satu cirri khas doktrin
25

kontrak adalah ia meletakkan batas tertinggi tentang berapa banyak sebuah
generasi bisa diminta menabung untuk kesejahteraan generasi mendatang.
Asas menabung yang dilakukan setiap zaman adalah memberikan porsi
masing-masing dalam mencapai kondisi yang dibutuhkan bagi terciptanya
institusi-institusi yang adil dan harga kebebasan yang pantas, tetapi lebih dari
itu tidak bisa diharapkan.

47. Acuan Keadilan
Konsepsi tentang keadilan distributif ini adalah ia mengandung suatu
unsur besar keadilan procedural yang murni. Tak ada upaya yang dilakukan
untuk mendefinisikan distribusi yang adil barang dan jasa berdsarkan
informasi tentang prefernsi dan klaim dari individu-individu tertentu.
Pengetahuan jenis ini dipandang tidak relevan dari sudut pandangan umum
yang sesuai dan bagaiman pun juga, ia menyodorkan kompleksitas yang tidak
bisa ditangani oleh prinsip-prinsip penyederhanaan yang cukup masuk akal
jika orang diharapkan bisa menyetujuinya.

48. Pengharapan yang Sah dan Kelayakan Moral
Ada kecenderungan bagi akal sehat untuk mengaggap bahwa
penghasilan dan kekayaan, dan hal-hal bermanfaat dalam kehidupan pada
umumnya, harus didistribusikan menurut kelayakan moral. Keadilan adalah
kebahagian sesuai kebajikan. Walaupun diakui bahwa ideal ini tidak akan
pernah bisa diwujudkan sepenuhnya, inilah konsepsi yang layak tentang
keadilan distributive, setidak-tidaknya sebagai prinsip prima facie, dan
masyarakat harus berusaha mewujudkan sejauh keadaan memungkinkan. Kini
keadilan sebagai fairness menolak konsepsi ini. Prinsip semacam itu tidak
akan dipilih dalam posisi asali. Agaknya tidak ada jalan untuk mendefinisikan
kriteria yang dipersyaratkan dalam situasi itu. Terlebih lagi , gagasan tentang
distribusi berdasarkan kebajikan gagal membedakan antara kelayakan moral
dan penghargaan yang sah. Sehingga benar-benar bahwa tatkala perorangan
dan kelompok ambil bagian dalam kesepakatan yang adil, mereka mendapat
hak untuk saling mengkalim berdsarkan ketentuan yang diakui publik.
26

49. Perbandingan dengan konsep-konsep Campuran
Konsepsi campuran menerima prinsip pertama, dan dengan demikian
mengakui kedudukan primer kebebasan-kebebasan yang setara. Tak satupun
dari pandangan-pandangan tersebut yang bersifat utilitarian, sebab sekalipun
jika prinsip utilitarian digantikan oleh prinsip kedua, atau untuk sebagiannya,
katakanlah prinsip yang berbeda, konsepsi utilitas tetap berkedudukan
subordinat. Sehingga sejauh salah satu tujuan utama keadilan sebagai fainess
adalah membangun sebuah alternative bagi doktrin utilitarian klasik, tujuan
ini tercapai bahkan jika kita akhirnyaa lebih menrima sebuah konsepsi
campuran ketimbang kedua prinsip keadilan itu.
Konsepsi campuran yang agak mendekati prinsip-prinsip keadilan
yakni pandangan yang muncul ketika prinsip utilitas rata-rata dibatasi oleh
suatu minimum sosial tertentu diganti oleh prinsip yang berbeda, yang
lainnya tetap tidak berubah.

50. Prinsip Kesempurnaan
Persyaratan kesempurnaan menyingkirkan klaim-klaim kuat akan
kebebasan. Disisi lain kita bisa menggunakan kriteria tersebut sekedar untuk
membatasi redistribusi kekayaan dan pendapatan dibawah sebuah rezim
konstitusional. Dalam hal ini ia berfungsi sebagai imbangan bagi gagasan-
gagasan egalitirarian. Sehingga bisa dikatakan bahwa distribusi mestinya
akan lebih setara jika hal ini memang esensial bagi pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan pokok bagi mereka yang paling tidak beruntung dan hanya
mengurangi kenikmatan serta kesenangan mereka yang berkehidupan lebih
baik.







27

BAB VI
Tugas dan Kewajiban

51. Argumen-argumen bagi Prinsip-prinip Tugas asasi
Prinsip-prinsip ini adalah bagian mendasar dari sebuah konsepsi
tentang hak prinsip-prinsip tersebut mendefinisikan ikatan-ikatan instutisional
kita bagaimana kita bisa terikat satu sama lain. Konsepsi tentang keadilan
sebagai fairness bisa dikatakan sempurna sebelum prinsip-prinsip ini
diuraikan.
Tugas asasi yang paling penting adalah mendukung dan meningkatkan
lembaga-lembaga yang adil. Tugas ini terdiri atas dua bagian : pertama, kita
harus patuh dan melakukan andil kita dalan lembaga-lembaga yang adil
ketika lembaga-lembaga itu ada dan diterapkan pada kita . kedua, kita mesti
membantu pembentukan pengaturan-pengaturan yang adil ketika pengaturan
demikian tidak ada, setidak-tidaknya ketika ini bisa dilakukan dengan biaya
rendah bagi kita.

52. Argumen-argumen bagi Prinsip-prinsip Fairness
Prinsip ini menganggap bahwa seseorang berada dalam suatu
kewajiban melakukan bagiannya seperti yang ditetapkan oleh ketentuan-
ketentuan sebuah institusi ketika secara sukarela dia menerima maslahat
skema atau sudah memanfaatkan peluang-peluang yang ditawarkan untuk
mencapai kepentingannya, asalkan lembaga itu adil atau fair, yaitu memenuhi
tuntutan kedua prinsip keadilan.
Prinsip fairness mempunyai dua bagian, yang satu menyatakan
bagaiman kita memperoleh kewajiban, yakni dengan melakukan banyak hal
secara sukarela, dan stunya lagi meletakkan syarat-syarat bahwa lembaga
yang dimaksud adalah adil, jika bukan benar-benar adil, setidak-tidaknya
seadil yang mungkin diharapkan menurut keadaan.



28

53. Tugas untuk Mematuhi Undang-undang yang tidak Adil
Tidak ada kesulitan dalam menjelaskan mengapa kita harus
mematuhiu undang-undang tidak adil yang dibangun di atas konstitusi adil.
Dalam hal ini prinsip tugas asasi dan prinsip fairness menetapkan tugas dan
kewajiban yang diperlukan. Warga Negara pada umumnya terikat oleh tugas
keadilan dan mereka yang memperoleh jabatan atau kedudukan yang
diinginkan, atau yang memanfaatkann peluang-peluang tertentu untuk
memperluas kepentingan-kepentingan mereka, juga wajib melakukan bagian
mereka menurut prinsip fairness. Persoalan sesungguhnya adalah dalam
keadaan seperti apa dan sejauh mana kita wajib mematuhi pengaturan yang
tidak adil.

54. Status Kekuasaan Mayoritas
Prosedur-prosedur kekuasaan mayoritas, bagaimana ia didefinisikan
dan dibatasi, mempunyai kedudukan subordinat sebagai sebuah perangkat
procedural. Justifikasi bagi prosedur ini bertumpu langsung pada tujuan-
tujuanj politis yang pencapaiannya dirancang oleh konstitusi, dan dengan
begitu bersandar pada dua prinsip keadilan. Bentuk kekuasan mayoritas
dibenarkan sebagai cara terbaik yang ada dalam memastikan pembuaytan
peraturan perundang-undangan yang adil dan efektif. Ini sesuai dengan
kebebasan yang setara dan memiliki suatu kealamiahan tertentu sebab jika
kekuasan minoritas diperbolehkan, tidak bakal ada kriteria yang jelas untuk
memilih siapa yang harus memutuskan dan kesetaraan pun diterjang.

55. Definisi Pembangkangan Sipil
Teori konstitusional tentang pembangkangan sipil terdiri dari tiga
bagian. Pertama, ia mendefinisikan jenis penentangan ini dan memisahkannya
dari bentuk-bentuk oposisi lain terhadap otoritas demokratis. Bentuk-bentuk
oposisi ini merentang dari ddemostrasi legal dan pelanggaran hukum yang
dirancang untuk memunculkan uji kasus di pengadilan bagi aksi militant dan
perlawanan terorganisasi. Sebuah teori menguraikan secara terperinci tempat
pembangkangan sipil dalam spectrum posibilitas. Berikutnya, ia menyediakan
29

dsar-dsar pembangkangan sipil dan kondisi-kondisi dimana aksi demikian
dibenarkan dalam sebuah rezim demokratis yang adil. Dan yang terakhir,
sebuah teori konstitusional dan penjelasan bagi kepatuhan protes ini dalam
sebuah masyarakat bebas.
Pembangkangan sipil adalah tindakan poliyis bukan sekedar dalam
pengertian bahwa tindakan itu ditujukan kepada mayoritas yang memegang
kekuasaan politik, tetapi juga karena itu adalah tindakan yang dipandu dan
dibenarkan oleh prinsip-prinsip keadilan yang mengatur konstitusi dan
institusi-institusoi sosial pada umumnya.

56. Definisi Penolakan Berdasarkan Nurani
Penolakan dengan pertimbangan nurani tidak selaras dengan sebuah
perintah legal atas tatanan administrative yang kurang lebihnya langsung
penolakan berdasarkan nurani tidak mesti disandarkan pada prinsip-prinsip
politis, bisa juga dibangun di atas prinsip-prinsip keagamaan atau lainnya
berbeda dnegan tatanan konstitusional.

57. Justifikasi Pembangkangan Sipil
Poin pertama berkenaan dnegan jenis-jenis kesalahan yang layak
menjadi sasaran pembangkangan sipil. Apabila ada yang memandang
pembangkangan-pembangkangan semacam itu sebagai sebuah aksi politis
yang ditujukan pada rasa keadilan masyarakat, maka tampaknya masuk akal,
jika hal-hal lainnya sama, membatasinya pada kejadian-kejadian
ketidakadilan yang lain. Karena alasan ini terdapat praduga yang mendukung
pembatasan pembangkangan sipil bagi pelanggaran serius terhadap prinsip
keadilan pertama, prinsip kesetaraan kebebasan, dan pelanggaran terang-
terangan terhadap bagian kedua prinsip keadilan kedua, prinsip kesamaan
peluang yang fair.

58. Justifikasi Atas Penolakan dengan Pertimbangan Nurani
Penolakan ini didasarkan pada prinsip politis dan bukan prinsip
keagamaan atau prinsip lainnya. Artinya prinsip-prinsip kearah justifikasi
30

adalah prinsip-prinsip yangt berkenaan dengan konsepsi keadilan yang
mendasari konstitusi. Posisi asali ini fair antar berbagai Negara,
mengesampingkan kontingensti dan bias nasib historis. Keadilan antar Negara
diatur dengan prinsip-prinsip yang dipilih dalam posisi asali yang ditafsirkan
demikian. Prinsip-prinsip itu adalah prinsip politis, sebab mengatur kebijakan
public berkenaan dengan Negara-negara lain.

59. Peran Pembangkangan Sipil
Tujuan teori pembangkangan sipil adalah menjelaskan perannya
dalam sebuah sistem konstitusional dan menguraikan kaitanyya dalam sebuah
sistem demokratis.dalam pembangkangan sipil tentunya orang berniat
menyampaikan rasa keadilan mayoritas dan menjalankan perintah yang benar
yang menurut pendapat tulus dan berdasarkan nurani syarat-syarat kerja sama
bebas telah dilanggar.


















31

BAB VII
Kemanfaatan Sebagai Rasionalitas

60. Perlunya Tori tentang Manfaat
Konsep kemanfaatan hanya digunakan dalam pengertian yang agak
terbatas. Untuk mengukuhkan prinsip-prinsip ini perlu menyadarkan pada
sejumlah pandangan tentang kemanfaatan, sebab itu kita membutuhkan
asumsi-asumsi tentang motif berbagai pihak diposisi asali. Karena asumsi-
asumsi motif-mitif boleh membayangkan ruang konsep hak sebelumnya,
maka teori manfaat yang digunakan dalam mendukung prinsip keadilan
tebatas pada hal-hal yang dangkal. Pandangan kemanfaatan digunakan untuk
membela keadilan sebagai fairness terhadap berbagai keberatan. Misalnya
bisa dikatakan bahwa pribadi-pribadi di posisi asali hnaya sedikit tahu tentang
situasi mereka bahwa kesepakatan rasional mengenai prinsip keadilan adalah
tidak mungkin.

61. Definisi Manfaat Untuk Kasus-kasus yang Lebih sederhana
Netralitas moral dari definisi manfaat tepatnya adalah apa yang harus
kita harapkan. Konsep rasionalitas itu sendiri bukanlah sebuah dsar yang
memadai bagi konsep kebenaran, dan dalam teori kontrak yang terakhir
berasal dari cara yang lain.

62. Catatan Tentang Makna
Manfaat sebagai adalah sebuah teori deskriftif dalam pengertian ini.
Dalam cara yang mengharuskan , ia menjelaskan dua fakta umum yang diakui
setiap orang. Pengertian tetap dari istilah ‘’baik’’ dicirikan oleh definisi
dalam beberapa tahapnya. Jadi sesuatu menjadi baik adalah ketika ia
mempunyai sifat-sifat yang rasional untuk diinginkan dalam benda-benda
sejenisnya, ditambah perluasan lebih jauh tergantung pada kasusnya. Teori
desktiptif menyatakan bahwa ‘’baik’’ secara khas digunakan dengan daya
dari sebuah rekomendasio atau saran, dan sejenisnya, tepatnya karena
32

pengertian deskriptifnya seperti yang diberikan oleh definisi. Makna
deskriptif dari ‘’baik’’ tidak sekedar sekumpulan daftar cirri-ciri satu daftar
untuk setiap jenis benda menurut persetujuan atau pilihan.

63. Definisi Baik bagi Rencana Hidup
Definisi-definisi baik bagi rencana hidup adalah pertama, rencana
hidup sesorang itu rasional jika dan hanya jika (1) itu adalah sslah satu dari
rencana-rencana yang konsisten dengan prinsip-prinsip pilihan rasional,
ketika semua ini diterapkan pada semua cirri, relevan dari keadaannya dan (2)
ini adalah rencana diantara rencana-rencana yang lain yang memenuhi
keadaan ini yang akan dipilih olehnya dengan penuh pertimbangan
rasionalitas, yaitu dengan kesadaran penuh akan fakta-fakta yang relevan dan
sesudah perimbangan hati-hati akan konsekuensi-konsekuensinya.

64. Pertimbangan Rasionalitas
Prinsip pilihan rasional (prinsip perhitungan) yang lebih sederhana
tidaklah memadai untuk mengatur rencana-rencana. Kadangkala mereka tidak
berlaku, karena mungkin katakanlah tidak ada rencana yang inklusif, atau
bisa saja sarana-sarananya tidak netral. Atau seringkali terjadi kita
ditinggalkan dengan kelompok yang maksimal. Prinsip rasional dapat
memusatkan penilaian kita dan membuat panduan untuk pemikiran, kita pada
akhirnya harus memilih untuk diri sendiri, dalam arti pilihan seringkali
tergantung pada pengetahuian langsung kita, bukan hanya benda-benda apa
yang kita inginkan tapi juga seberapa banyak kita inginkan tapi juga untuk
menghindari keharusan untuk menilai intensitas relative dan keinginan-
keinginan kita.

65. Prinsip Aristotelian
Prinsip Aristotelian berbunyi sebagai berikut : umat bmanusia
menikmati pelaksanaan kemampuan-kemampuan yang mereka sadari (baik
kemampuan berupa bakat atau karena latihan) dan kesenangan ini meningkat
ketika kemampuan itu semakin berwujud, atau semakin meningkat
33

kompleksitasnya. Gagasan instuitif disini adalah bahwa manusia mendapat
kesenangan lebih, dalam melakukan sesuatu ketika mereka menjadi lebih
cakap didalamnya, dan dari dua aktivitas yang mereka lakukan sama baiknya,
mereka lebih menyukai aktivitas yang meminta porsi lebih besar akan
ketelitian yang rumit dan subtil. Prinsip Aristotelian member cirri pada
manusia, sebagai digerakkan bukan hanya oleh tekanan kebutuhan-kebutuhan
ragawi, tapi juga oleh keinginan untuk melakukan hal-hal yang dinikmati
sekedar demi hal-hal itu sendiri, setidaknya ketika keinginan yang urgen dan
menekan telah dihapuskan.

66. Definisi tentang Baik yang Diterapkan pada Orang
Setelah menentukan manfaat seseorang sebagai pelaksanaan yang
sukses dari sebuah rencana kehidupan yang rasional, dan manfaat-manfaat
yang lebih rendah adalah bagian daripadanya. Bahwa kebebasan dan
kesempatan, pendapat dan kekayaan, dan diatas semuanya kehormatan diri,
adalah nilai-nilai primer, harus ebnar-benar dijelaskan oleh teori lemah.
Keterbatasan-keterbatasan prinsip keadilan tidak dapat digunakan untuk
menyusun nilai-nilai primer yang berfungsi sebagai bagian deskripsi situasi
awal.
67. Kehormatanm Diri, Keunggulan-keunggulan , dan Rasa Malu
Kehormatan diri mengisyaratkan sebuah keyakinan atas kemampuan
seseorang, sejauh itu didalam kekuasaannya, untuk memenuhi tujuan-tujuan
nya. Ketika kita merasa bahwa rencana kita kecil nilainya, kita tidak dapat
meneruskannya dengan kesenangan atau mendapatkan kesenangan dalam
melaksanakannya. Konsepsi manfaat sebagai rasionalitas membolehkan kita
untuk menggolongkan keadaan-keadaan yang mendukung aspek pertama dari
kehormatan diri, yaitu perasaan akan harga diri kita. Hal ini pada hakekatnya
ada dua (1) mempunyai sebuah rencana hidup yang rasional, dan khususnya
rencana yang memenuhi prinip aristitelian, (2) menemuan diri dan tindakan
kita dihargai dan diakui oleh orang lain yang demikian juga dihargai dan
dinikmati perkumpulan mereka. Keunggulan dari diri kita yang kita bawa
meunuju urusan kehidupan sosial, semua kebajikan bisa diusahakan, dan
34

ketiadaan keunggulan-keunggulan itu bisa membuat kita mudah terkena
malu. Tapi sejumlah kebajikan bergabung dengan malu dalam cara yang
khusus, karena mereka secara khusus menunjjukan kegagalan yang menyertai
berupa kekuatan, keberanian, dan pengendalian diri.

68. Sejumlah Perbedaan antara Kebenaran dan Kemanfaatan
Satu perebedaannya adalah, prinsip keadilan (dan prinsip kebenaran
secara umum ) adalah yang akan dipilih dalam posisi asali, sementara prinsip-
prinsip pilihan rasional dan kriteria pertimbangan rasionalitas tidak dipilih
sama seklai. Tugas pertama dalam teori keadilan adalah menentukan situasi
awal sedemikian rupa sehingga prinsip-prinsip yang dihasilkan
mengungkapkan konsepsi keadilan yang benar dari sudut pandang filosifis.
Ini berarti bahwa cirri-ciri khas dari situasi ini harus menunjukkan batasan-
batasan yang masuk akal terhadap argument untuk menerima prinsip-prinsip
dan bahwa prinsip-prinsip yang disepakati harus sesuai dengan keyakinan
keyakinan kita tentang keadilan dalam kesetimbangan pemikiran.
Perbedaan kedua antara kebenaran dan manfaat adalah bahwa , secara
umum, sebuah benda bagus yang harus dibedakan dalam cara-cara yang
signifikan oleh konsepsi individu tentang manfaat mereka, sedangkan ini
tidak terjadi pada konsep kebenaran. Dalam masyarakat yang teratur, para
warga memegang prinsip kebenaran yang sama dan mereka mencoba
mencapai penilaian yang sama dalam kasus khusus.










35


BAB VIII
Rasa Keadilan

69. Konsep Masyarakat Yang Tertata
Sebuah masyarakat yang tertata juga diatur oleh konsepsi public
mereka tentang keadilan. Fakti ini mengisyaratkan bahwa anggota-
anggotanya mempunyai keinginan yang kuat dan biasanya efektif untuk
bertindak seperti yang dituntut oleh prinsip-prinsip keadilan. Karena sebuah
masyarakat yang tertata terus bertahan dalam perjalanan waktu, konsepsi-
konsepsi keadilannya juga dianggap stabil : yaitu ketika institusi-institusi
adalah adil ( sebagaimana ditentukan oleh konsep ini ) mereka yang ambil
bagian dalam rencana-rencana ini memperoleh rasa keadilan yang
bersangkutan dan keinginan untuk mengerjakan bagian mereka dalam
mempertahankannya.

70. Moralitas Otoritas
Tahapan pertama dalam urutan perkembvangan moral sebagai
moralitas otoritas (morality of otority ). Ketika aspek-aspek tertentu dari
moralitas ini dipertahankan pada tahapan berikutnya untuk keperluan khusus,
kita dapat menganggap moralitas otoritas dalam bentuk primitifnya yaitu pada
masa kanak-kanak. Rasa keadilan didapatkan secara bertahap oleh anggota
masyarakat yang lebih muda ketika mereka tumbuh dewasa. Pergantian
generasi dari kebutuhan untuk mengajarkan sikap-sikap moral (betapapun
sederhana) kepada anak-anak adalah salah satu dari berbagai kebiasaan
kehidupan manusia.

71. Moralitas Perkumpulan
Tahapan kedua dari perkembangan moral adalah moralitas
perkumpulan ( monality of associantion). Tahap ini meliputi banyak ragam
kasus yang luas, tergantung pada perkumpulan dimaksud dan bahkan bisa
36

termasuk komunitas nasional secara keseluruhan. Jika moralitas seorang anak
sebagian besar teridiri dari kumpulan ajaran-ajaran, isi moralitas perkumpulan
diberikan oleh standar-standar moral yang sesuai dengan peran individu
dalam berbagai perkumpulan tempat ia bergabung. Moralitas perkumpulan
mengambil banyak bentuk, tergantung perkumpulan dan peran yang
dipertanyakan, dan bentuk-bentuk ini menggambarkan banyak tingkat
kompleksitas.

72. Moralitas Prinsip-Prinsip
Dalam menduga bagaimana pinsip-prinsip moralitas (morality of
principles ) ini bisa muncul (prinsip-prinsip disini berarti prinsip-prinsip
pertama seperti yang dipikirkan dalam posisi asali ) kita haru mencatat bahwa
moralitas perkumpulan sangat alami membawa pada sebuah pengetahuan
tentang standar-standar keadilan. Namun, dalam masyarakat yang tertata,
bukan hanya standar-standar tadi yang menentukan konsepsi keadilan, tapi
para warga yang mempunyai ketertarikan pada urusan-urusan politik, dan
mereka yang memegang jabatan legislative dan yudisial serta sejenis, terus
menerus dituntut untuk memakai dan menafsirkannya.

73. Bentuk-Bentuk Sentiment Moral
Bentuk sentiment moral paling tepat dijelaskan dengan
mempertimbangkan berbagai pertanyya yang muncul dalam mencoba
menggolongkan mereka dan berbagai perasaan tempat sentiment-sentimen
moral tersebut mewujud. Adalah snangat bermanfaat untuk mencari cara-cara
bagaiman sentiment-sentimen moral tersebut saling membedakan diri serta
membedakan dengan sikap-sikap dan perasan-perasaan alamiah yang
cenderung bisa membingungkan.

74. Hubungan Antara Sikap Alamiah Dengan Moral
Hubungan antara sikap-sikap alami perasaan-perasaan moral bisa
diungkapkan sebagai berikut : persaan-perasaan dan sikap-sikap ini keduanya
mengatur kelompok watak khas, dan pihak-pihak yang ada ini saling
37

melengkapi dalam sebuah cara sehingga ketiadaan perasaan-perasaan moral
tertentu akan menjadi bukti ketiadaan ikatan alami tertentu. Atau sebaliknya,
kehadiran kasih sayang alami tertentu akan menimbulkan kecenderungan
pada perasaan moral tertentu ketika perkembangan moral yang diperlukan
telah terjadi.

75. Prinsip psikologi Moral
Prinsip-prinsip psikologi moral mempunyai satu tempat bagi konsepsi
keadilan dan rumusan yang berbedea dari prinsip-prinsip ini akan terjadi
ketika digunakan konsepsi yang berbeda. Jadi suatu pandangan keadilan
maasuk menuju penjelasan perkembangan perasaan yang berhubungan,
berbagai hipotesis tentang proses psikologi ini menggabungkan gagasan-
gagasan moral bahkan jia semua ini dipahami hanya sebagai bagian dari teori
psikologi. Ini tempaknya cukup jelas, dan dnegan menganggap bahwa
gagasan-gagasan etis bisa dinyatakan secara jelas, tidak ada kesulitan dalam
melihat bagaimana bisa ada hukum-hukum semacam ini. Uraian di depan
tentang perkembangan moral menunjukkan bagaimana persoalan-persoalan
ini dapat dipecahkan.

76. Persoalan Stabilitas Relatif
Sebuah masyarakat yang diatur oleh rasa keadilan public adalah sudah
menjadi pembawaannya untuk stabil karena kekuatan-kekuatan yang
membuat stabilitas meningkat ( hingga suatu batas tertentu ) dengan
berjalannya waktu. Stabilitas bawaan ini adalah sebuah konsekuensi dari
hubungan timbale balik antara tiga hukum psikologi. Semakin efektifnya
pelaksanaan suatu hukum akan memperkuat dua hukum yang lain.

77. Landasan Kesetaraan
Kesetaraan pada hakekatnya adalah keadilan sebagai keteraturan. Ia
mengisyaratkan penerapan secara seimbang dan tafsiran yang konsisten
terhadap aturan-aturan sesuai dengan ajaran-ajaran adil dan untuk
memperlakukan kasus yang sama secara sama (seperti ditentukan oleh
38

undang-undang dan teladan ) dan seterusnya. Kesetaraan pada taraf ini adalah
unsur yang paling tidak kontorversial kedua yang jauh lebih sulit adalah pada
struktur mendasar dari institusi-institusi.





























39

BAB IX
Manfaat Keadilan

78. Otonomi dan Objektivitas
Suatu konsekuensi dari mencoba menjadi objektif, dari berusaha
membatasi konsepsi dan penilaian moral kita dari sudut pandang bersama,
adalah bahwa kita lebih cenderung untuk mencapai kesepakatan. Bahkan
deskripsi yang dipilih dari situasi awal adalah yang memajukan
keanekaragaman pendapat yang terbesar. Sebagian karena alasan inilah kita
dipengaruhi oleh kebetulan-kebetulan dari keadaan kita yang berbeda-beda.

79. Gagasan tentang Kesatuan sosial
Gagasan utamanya adalah sekedar bahwa sebuah masyarakat yang
teratur (berhubungan dengan keadilan sebagai fairness) dengan sendirinya
adalah sebuah bentuk kesatuan sosial. Jadi , ia adalah sebuah kesatuan sosial
dari kesatuan sosial. Kedua cirri khasnya ada : keberhasilan dalam
pelaksanaan institusi-institusi yang adil adalah tujuan akhir bersama dari
semua anggota masyarakat, dan bentuk-bentuk institusional ini di junjung
tinggi karena mengandung kebaikan.

80. Persoalan Kecemburuan
Keceemburuan bukanlah sebuah perasaan moral. Tidak ada prinsip
moral yang perlu dikutip dalam penjelasan-penjelasan. Cukuplah dikatakan
bahwa keadaan orang lain lebih baik bisa menarik perhatian kita. Kita
merassa susah atas nasib baik mereka dan tidak lagi menilai tinggi terhadap
apa yang kita miliki, dan perasaan terluka dan kalah ini membangkitkan
dendam dan permusuhan kita. Jadi, orang harus berhati-hati untuk tidak
mencampur-aduk antara kecemburuan dan dendam . karena dendam adalah
perasaan moral.


40

81. Kecemburuan dan Kesetaraan
Ada tiga kondisi yang mendorong pecahnya sikap permusuhan dari
kecemburuan . pertama, adalah kondisi psikologis orang- orang tidak
mempunyai keyakinan pasti terhadap nilai mereka sendiri dan terhadap
kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu yang berguna. Kedua, banyak
peristiwa yang mucul ketika kondisi psikologis ini dialami sebagai
menyakitkan dan menghinakan. Ketimpangan antara dirinya dan orang lain
menjadi tampak oleh struktur sosial dan gaya hidup masyarakatnya. Ketiga,.
Mereka melihat posisi sosial mereka tidak memungkinkan alternative
konstruktif untuk melawan keadan-keadaan bagus dari mereka yang lebih
beruntung.

82. Landasan bagi Prioritas kebebasan
Prioritas kebebasan garis besarnya adalah : ketika berbagai kondisi
peradaban meningkat, signifikansi marjinal untuk kesanggupan kita akan
keuntungan ekonomi dan sosial lebih jauh, relative mengurangi pada
kepentingan-kepentingan keadilan, yang menjadi semakin kuat ketika
kondisi-kondisi untuk melaksanakan kebebasan yang setara bisa lebih
diwujudkan sepenuhnya.

83. Kebahagiaan dan Tujuan-Tujuan Dominan
Kebahagiaan mempunyai dua aspek : satu adalah keberhasilan
pelaksanaaan rencana rasional ( jadwal aktivitas dan tujuan) yang berusaha
diwujudkan oleh setiap orang, dan kedua adalah keadaan pikirannya,
keyakinannya yang pasti didukung oleh alasan-alasan bagus bahwa
keberhasilannya akan tetap bertahan . menjadi bahagia meliputi baik capaian
tertentu dalam tindakan dan juga jaminan yang rasional tentang hasilnya.
Definisi kebahagiaan ini objektif rencan-rencana akan disesuaikan dengan
berbagai kondisi kehidupan kita, dan kepercayaan kita harus bersandar pada
keyakinan-keyakinan yang masuk akal.


41

84. Hendonisme Sebagai Metode Pilihan
Hendonisme ditafsirkan dengan salah satu dari dua baik sebagai
anggapan bahwa satu-satunya kebaikan hakiki adalah perasaan yang
menyenangkan, atau sebagai tesis psikologis bahwa satu-satunya yang
diperjuangkan oleh individu-individu adalah kesenangan.
Kaum hendonisme berpikir sebagai berikut. Pertama ia berpikir
bahwaa, jika kehidupan manusia hendak dipandu oleh akal, maka harus ada
sebuah tujuan dominan. Tidak ada cara rasional untuk menyeimbangi tujuan-
tujuan kita yang saling bertentangan satu sama lain kecuali sebagai sarana
menuju suatu tujuan yang lebih tinggi. Kedua , ia menafsirkanm kesenangan
secara sempit sebagai perasaan dan sensasi, dianggap menjadi satu-satunya
calon yang masuk akal peran tujuan dominan dan karenannya dialah satu-
satunya hal yang baik dalam dirinya sendiri.

85. Kesatuan Diri
Kepribadian moral dicirikan oleh dua kemampuan : satu, untuk
mengkonsepsi kebaikan, dan kedua adalah untuk rasa keadilan . kita
diwujudkan yang pertama diungkapkan oleh sebuah rencana kehidupan yang
rasional, yang kedua oleh sebuiah keinginan yang mengatur untuk bertindak
dengan prinsip-prinsip kebenaran tertentu.
Cirri khusus sebuah konsepsi tujuan dominan adalah bagaiman ia
menganggap keutuhan diri telah dicapai. Jadi dalam hendionisme diri menjadi
satu dengan mencoba memaksimalkan jumlah pengalaman yang
menyenangkan dalam batas-batas psikisnya. Sebuah diri yang rasional harus
meneggakkan keutuhannya dengan cara ini.

86. Kebaikan dan Rasa Keadilan.
Rasa keadilan adalah sebuah keinginan yang efektif untuk berlaku dan
bertindak dengan prinsip-prinsip keadilan dan karenannya dari sudut pandang
keadilan. Jadi , apa yang hendak ditegakkanadalah, bahwa rasional ( seperti
ditentukan oleh teori kebaikan yang lemah ) bagi mereka yang berada dalam
masyarakat yang teratur untuk menegaskan rasa keadilan mereka sebagai
42

bersifat mengatur pada rencana hidup meereka. Tetap perlu ditunjukkan
bahawa kecenderungan ini terjadi dan dipandu oleh sudut pandang keadilan
sesuai dnegan kebaikaan individu.

87. Menyimpulkan Gagasan-Gagasan Tentang Justifikasi
Keadilan sebagai fairness dengan konsepsi-kosnepsi ini, daftar yang
digunakan tidak sekedar untuk kepentingan khusus, ia memasukkan teori-
teori yang representative dari tradisi filsafat moral yang berisi consensus
historis tentang apa yang sejauh ini tampak sebagai konsepsi-konsepsi moral
yang lebih rasional dan bisa dipraktikan. Dengan berjalannya waktu
kemungkinana-kemungkinanan lebih jauh akan bisa dilaksanakan, dengan
cara demikian memberikan dsar yang lebih meyakinkan untuk justifikasi
ketika konsepsi yang diajukan menghadapai ujian yang lebih berat.
Sejumlah keberatan terlepas dari metode justifikasi, dan malahan-
memperhatikan cirri-ciri tertentu dari teori keadilan itu sendiri. Salah satunya
adalah kritikan bahwa pandangan kontrak adalah sebuah doktrin
individualistic yang sempit. Atas kesulitan ini, pandangan-pandangan di
depan bisa memeberikan jawaban. Karena ketikan poin asumsi
ketidakberpihakan bersama dipahami, keberatan itu tampaknya salah tempat.
Dalam kerangka keadilan sebagai fairness kita dapat menyusun kembali dan
meneguhkan tema-tema Kantian deangn menggunakan konsepsi umum yang
cocok dari pilihan rasional.