You are on page 1of 13

PENARIKAN SIMPULAN

• Penyimpulan = kegiatan manusia di mana ia
bergerak menuju pengetahuan baru dari
pengetahuan yang telah dimilikinya dan
berdasarkan pengetahuan yang telah
dimilikinya itu.

kegiatan manusia = mencakup seluruh diri
manusia, terutama akal budi
Bergerak = perkembangan pikiran

Ke pengetahuan baru :
tujuan yang akan dicapai dalam pemikiran.
Pengetahuan baru disebut kesimpulan atau consequens
Kemajuan : pengetahuan abru sudah terkandung
dalam pengetahuan lama, tapi belum dimengerti
dengan jelas. Dalam pengetahuan baru dimengerti
dengan baik dan dasar sebab suatu kesimpulan ditarik.

 dari pengetahuan yang telah dimiliki : titik
pangkal serta dorongan untuk maju (=
antecedens/yang mendahului atau
praemissae/titik pangkal.

 berdasarkan pengetahuan yang dimiliki :
antara pengetahuan baru dan pengetahuan
lama ada hubungan yang bukan kebetulan.
Hubungan ini disebut konsekuensi
(consequentia) atau hubungan penyimpulan.
Term-term
Keputusan
Antesedens dan consequens
• Keputusan dan term merupakan materi
penyimpulan
• Hubungan penyimpulan (konsekuensi)
merupakan forma penyimpulan.

• Kesimpulan lurus : bila harus dan dapat ditarik
dari antecedensnya.
• Kesimpulan tidak lurus atau palsu: bila tidak
dapat atau tidak boleh ditarik dari
antecedensnya.
Penyimpulan berdasarkan terjadinya :
• Penyimpulan langsung (secara intuitif)
 tidak diperlukan pembuktian
Dapat langsung disimpulkan bahwa subjek (s) =
predikat (p)
• Penyimpulan tidak langsung
Diperoleh dengan menggunakan term antara (m).
Term antara memberikan alasan mengapa subjek
= predikat atau mengapa subjek ≠ predikat
Penyimpulan berdasarkan
isi dan bentuk
Kesimpulan benar bila :
• Premis benar dan tepat (sudut material
penyimpulan)
• Jalan pikiran lurus, yaitu hubungan antara
premis dan kesimpulan harus lurus (sudut
formal penyimpulan)
Hukum-hukum penyimpulan
• Jika premis-premis benar, maka kesimpulan
juga benar;
• Jika premis-premis salah, maka kesimpulan
bisa salah, tapi bisa juga –kebetulan- benar;
• Jika kesimpulan salah, maka premis-premis
juga salah;
• Jika kesimpulan benar, maka premis-premis
bisa benar, tapi bisa juga salah.
Jadi…
• Jika premis-premis benar, tetapi kesimpulan
salah, maka jalan pikiran (bentuknya) tidak
lurus;
• Jika jalan pikiran (bentuknya) lurus, tetapi
kesimpulan tidak benar, maka premis-premis
salah.

 Salahnya kesimpulan membuktikan salahnya
premis-premis.
Perlawanan subaltern
• Induksi
 Akal budi menyimpulkan pengetahuan yang
umum atau universal dari pengetahuan yang
khusus atau partikular
 Hal yang individual diangkat ke tingkat universal.
Pengertian umum dari sesuatu yang konkret dan
individual melalui abstraksi (melepaskan sifat
konkret, menentukan inti/hakekat)
• Deduksi
 akal budi menyimpulkan pengetahuan yang lebih
khusus dari pengetahuan yang lebih umum.
 yang lebih khusus telah termuat secara implisit
dalam pengetahuan yang lebih umum.


• Induksi dan deduksi selalu berdampingan
• Induksi tak dapat ada tanpa deduksi
• Deduksi selalu dijiwai oleh induksi
• Dalam memperoleh pengetahuan, induksi
mendahului deduksi.
• Dalam logika, deduksi dianggap lebih penting
untuk latihan dan perkembangan pikiran.