You are on page 1of 2

Kerusakan Hutan di Kalimantan

OPINI | 01 August 2011 | 10:08 1068 3 Nihil

Oleh : Atep Afia Hidayat - Kalimantan meliputi empat propinsi yakni Kalimantan Barat Kalbar), Kalimantan
Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Timur (Kaltim), secara keseluruhan meliputi
areal 587.013 km2. Pada tahun 1971 jumlah penduduknya hanya 5,2 juta jiwa, tahun 1980 menjadi 6,7 juta
jiwa, tahun 1990 menjadi 9,1 juta jiwa, kemudian tahun 2010 menjadi 13,8 juta jiwa.
Laju pertumbuhan penduduk (LPP) antara tahun 1971-1980 mencapai 3,04 persen per tahun, dan antara
1980-1990 menjadi 3,23 persen per tahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk antara 1990-2010
masih melampaui 2,5 persen. Angka tersebut melampaui rata-rata nasional. LPP yang tinggi terutama
disebabkan banyaknya pendatang terutama transmigrasi.
Dengan demikian angka kepadatan penduduk (densitas) pun terus meningkat, jika pad atahun 1971 hanya
10 jiwa per km2, tahun 1980 menjadi 12 jiwa per km2, tahun 1990 mencapai 17 jiwa per km2, dan tahun
2010 melampaui 23 jiwa per km2.
Sebagaimana di pulau-pulau lainnya, penyebaran penduduk di Kalimantan pun tidak merata, daerah yang
terpadat ialah Kota Banjarmasin mencapai 8.606 jiwa per km2. Sekitar 17,25 persen penduduk Kalsel
bermukim di Banjarmasin. Beberapa daerah padat lainnya ialah Kota Pontianak, Samarinda, Balikpapan,
Kabupaten Kotabaru dan Tanah Laut.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, maka tekanan terhadap lingkungan pun makin meningkat,
terutama terhadap hutan. Bisa dikatakan, makin tinggi LPP makin tinggi pula laju kerusakan hutan
(deforestasi).
Menurut Goeltenboth (1992), kerusakan hutan tropis awalnya bisa disebabkan banyak hal, misalnya
karena pertumbuhan penduduk, kemiskinan, masalah utang luar negeri dan kondisi perekonomian yang
buruk. Namun untuk sebagian besar penyebab utamanya karena perluasan lahan pertanian dan
perkebunan, pembangunan berbagai proyek swasta besar, serta eksploitasi berlebihan terhadap
sumberdaya kayu.
Sedangkan menyangkut penduduk asli disebutkan, bahwa selama berabad-abad, penduduk asli dalam
memanfaatkan hutan tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Bisa dikatakan bahwa penyebab utama
terjadinya kerusakan hutan ialah akibat sikap rakus sebagian pendatang dalam mengeksploitasi
lingkungan.
Diperkirakan penebangan hutan berlangsung dengan kecepatan sekitar 1 persen per tahun, atau sekitar
20-40 hektar hutan hilang tiap menit. Keberadaan hutan tropis, termasuk hutan di Kalimantan, terancam
oleh dua kegiatan, pertama adanya penebangan secara selektif, terutama untuk menyediakan bahan baku
industru kayu (Logs, sawn wood, palywood); kedua adanya penebangan seluruh areal, baik untuk kegiatan
pertanian tebar bakar (slash-and-burn agriculture) atau perladangan, membuka perkebunan, peternakan,
pertambangan atau industry kayu.
Menurut Wana Khatulistiwa (1992), dua penyebab utama kerusakan hutan tersebut, jika tidak segera
dikendalikan dan diperbaiki skenario antisipasinya, oleh banyak kalangan dikhawatirkan akan
memperparah laju deforestasi yang selama ini terjadi.
Dalam jangka panjang kerusakan hutan akan berdampak negatif terhadap kehidupan liar (wildlife),
perekonomian global dan lokal, mutu kehidupan masyarakat sekitar hutan dan iklim. Bagaimanapun laju
deforestasi harus dikendalikan, terlebih jika mengingat hutan Kalimantan secara ekologi dan ekonomi
merupakan salah satu yang terpenting di dunia.
Hutan Kalimantan mengandung ribuan spesies burung, reptil dan amfibi. Selain itu merupakan “bank
genetik” untuk keperluan pemuliaan tanaman (plant breeding), serta banyak terdapat tumbuhan obat-
obatan dan florikultur seperti anggrek. Selain kayu, hutan di Kalimantan juga menghasilkan tengkawang,
damar, bambu, minyak kayu putih, terpentin, gondorukem, rotan, sirap, arang, madu, dan sebagainya.
Fungsi ekologi hutan berkaitan dengan isu mengenai pemanasan global dan bocornya lapisan ozon.
Bagaimanapun hutan di Kalimantan memberikan kontribusi yang tak sedikit terhadap keseimbangan
ekosistem Kalimantan. Seperti melindungi daerah aliran sungai (DAS), menyeimbangkan berbagai siklus
unsur hara dan siklus hidrologi, sumber karbon, mengurangi pencemaran udara dan mempengaruhi iklim
mikro. Sudah selayaknya di kota-kota yang memiliki unit-unit industri seperti Bontang, Balikpapan,
Banjarmasin, dan sebagainya disediakan areal khusus untuk hutan kota.
Menurut laporan FAO tahun 1989, ternyata laju kerusakan hutan di Kalimantan mencapai lebih dari 600
ribu hektar per tahun, dan merupakan yang paling tinggi dibanding pulau-pulau lainnya di Indonesia. Hal
tersebut tentu saja patut digaris-bawahi, jangan sampai laju kerusakan tersebut makin tidak terkendali.
Sementara menurut Save Our Borneo (SOB), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli
lingkungan, sekitar Juni 2008 mengungkapkan sekitar 80 persen kerusakan hutan yang terjadi di
Kalimantan disebabkan ekspansi sawit oleh perusahaan besar. Sekitar 20 persen karena pertambangan
dan area transmigrasi. SOB juga mengungkapkan, berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas
Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan (deforestasi) telah mencapai 864 ribu
hektare per tahun atau 2,16%. Kerusakan paling luas terjadi di Kalimantan Tengah, yaitu mencapai 256
ribu hektar per tahun, atau sekitar 2,2 persen per tahun.