You are on page 1of 5

Cukup satu teman saja

Hmmm… aku berpikir liburan tahun ini, terasa tak berarti bagiku, bagaimana mungkin hari yang
paling ditunggu tunggu oleh kebanyakan anak sekolah malah menjadi kekosongan untuk ku.
Betapa tidak kosong, teman temanku pada pulang kampung semua, loh aku tinggal sendirian di
kampung ini. Tapi tiba tiba
“usaar…” sahut seorang memanggil ku dari luar rumah.
“Iya..” kaget rupanya ada satu temanku yang tidak pulang kampung.
“oh apa ndar? amu gak pulkam?” tanya aku sambil menoleh keluar pintu.
“!ak punya kampung.” ja"abnya sambil terta"a.
“tunggu apa lagi diluar, mau aku anggap kamu pengemis?” aku meledeknya
“eet, jangan be#anda, nanti jadi kenyataan, aku terus datang terus ke rumah ini pasti untuk minta
minta” ujarnya balik meledek
“haha ya udah, masuk kalo gitu”
Ia namaku ausar biasa dipanggil $sar, aku kelas % &' dan sebentar lagi lulus, amin. (an
nama temanku nandar seorang anak aneh, yang tidak bisa diam.
“main #atur aja yuk)” pinta nandar.
“siapa takut” ja"abku per#aya diri.
ami berdua main selama tiga jam. *ermainan #atur memang #ukup lama dalam satu set nya,
namun disitulah letak kesabaran kita di uji.
+khirnya nandar pun menang empat kali, dan aku hanya dua kali, jadi ia meminta aku dihukum,
untuk men#ium lantai sebanyak ,- kali. Ini hukuman yang paling tidak kusuka, tapi berkat dia
hari ini menjadi seru. .andar pun pulang ke rumahnya.
u kira hari liburan yang kosong ini akan tetap menjadi kekosongan di hari pertama liburan
sekolahku, tapi tidak setelah seorang .andar datang ke rumahku. Terkadang hanya seorang
temanlah yang mengeluarkan kita dari neraka yang bernama /kesepian0.
1ang terlupakan
*2+ )) 3rang itu menamparku begitu aku mengulurkan gelas padanya, berharap dia
memberikanku sebagian ke#il dari uang yang dimilikinya. Tubuhku limbung dan mendarat di
atas tanah be#ek dengan telak. &eakan setiap tulang dalam tubuhku remuk, sudah tiada tenaga
upaya untukku duduk. 2emah menerpa aspal. Bagai tak kupunya lagi berat pada ragaku. Tak
puas, laki4laki yang mengendarai sepeda motor itu kembali membuatku seakan mau mati saat dia
melayangkan kakinya ke tubuhku dengan kuat. +ku terbatuk.
+ku menatapnya dengan nanar. 'erasakan betapa sakitnya tulang rusukku ditendang olehnya.
(ia mengumpat sesaat sebelum akhirnya dia menyalakan kembali mesin motornya dan melaju
tanpa menghiraukan tatapan ngeri dari pengendara sepeda motor lain. ebanyakan dari mereka
menatapku kasihan, tapi sebagian lagi menatapku tak a#uh atau bahkan setuju dengan perlakuan
laki4laki jahat tadi padaku.
+ku masih tergeletak di atas tanah be#ek ini dengan na5as terengah4engah. &akit. Haus. 2apar.
+ku mengerjapkan mata dengan lemas, berharap apa yang kurasakan segera hilang dari tubuhku.
+ku menghembuskan na5as untuk kesekian kalinya dan segera berdiri dengan tubuh letih dan
ringkih. &edangkan gelas plastik yang tergenggam di tanganku masih kosong tanpa uang
sesenpun.
Bagaimana aku bisa membeli sesuap nasi hari ini apabila uang saja aku tak miliki? hanya gelas
kosong ini yang selalu menemaniku menjalani hari demi hari dalam kehidupan yang penuh
dengan kekejaman ini. +ku sekarang mulai menyesali kenapa dulu aku pindah ke Ibukota ini
dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan layak? dimana keadilan yang
selalu diumbar para pemimpin dan penguasa? tiada keadilan bagi orang miskin sepertiku. Tidak
pernah ada.
&eorang pengemis lain yang kukenal, berjalan pelan ke arahku. 'enatapku, tapi seperti tidak
padaku, ia berjalan terseok, tapi seperti tidak ke arahku. Ia tak ingin menangkap pandanganku,
ada rasa iba yang luar biasa dari sorot matanya. Tak ia hiraukan pula orang4orang yang
menghindarinya karena bau tubuhnya, ia berjalan menatap lurus entah kemana.
“Tak apa?” tanyanya sembari duduk di tepi trotoar. (i sampingku. Ia menggenggam erat gelas
a6ua4nya yang hampir terisi penuh, menaruhnya di sela4sela kedua pahanya dan mulai
mengambil satu persatu uang di dalamnya.
+ku tersenyum getir. 7ntah apakah senyumku terlihat seperti sebuah senyuman atau seringaian.
+ku bersandar pada batas trotoar jalan dengan na5as tertahan. “&eperti yang kau lihat..” aku
menghembuskan na5as berat setelah kurasakan punggungku menyentuh pinggiran trotoar. Ia
memasukkan uang4uang dari gelas plastiknya dalam saku #elana kumuhnya. “7ntah harus berapa
kali aku harus begini.. rupanya aku ini pelampiasan kesal orang4orang ini..” kutatap sekilas
orang4orang yang berlalu lalang di depan maupun di belakang kami. +ku terbatuk lagi.
“&udah tau begitu, ini 8akarta..” tuturnya, “..bukan Banyu"angi yang masih asri)” ia
mengosongkan lagi gelas plastiknya. Berharap akan ada lagi orang4orang yang akan mengisi
gelas itu kini. Tukang be#ak di samping kami mulai membuka mulutnya untuk menarik
penumpang, terjadi ta"ar4mena"ar antara mereka dan disepakatilah sebuah harga yang
menguntungkan keduanya. +tau bagi tukang be#ak itu /daripada tidak sama sekali0.
“au mau jadi tukang be#ak?” tanyanya mengikuti arus pandanganku. +ku memalingkan "ajah
dari tukang be#ak yang telah mengayuh pedalnya bersama seorang ibu dengan segala barang
belanjanya. +ku memperbaiki letak dudukku yang terasa kurang nyaman karena be#ek. Habis
sudah bajuku kini semakin terlihat kumuh dari sebelumnya, ber#ak tanah be#ek ini terlihat
seperti kotoran sapi.
+ku menghembuskan na5as lagi. Berat. “+pa yang bisa kukayuh dari tubuh ringkih ini?” aku
terbatuk mengatakannya. +ku tidak ingat sejak kapan tiap kali aku berna5as terdengar suara tipis
melengking dari dalam dadaku. “(uduk saja rasanya sudah seperti mau mati..” ia terta"a pelan.
“+pa yang bisa kita miliki? Tidak ada.. punya tubuh saja itu sudah untung, tapi mungkin bagimu
lebih baik mati daripada hidup begini..”
“au taulah apa yang ku mau, hidup seperti ini sudah seperti /hidup segan mati tak mau0, tapi
apa yang bisa kupertanggungja"abkan pada Tuhanku jika aku mati nanti?” terlintas dalam
benakku mengenai hal itu.
“Tuhan?” Ia lagi4lagi terta"a, kali ini lebih panjang dari yang tadi. “&ejak kapan kau punya
pikiran ini? 3rang miskin ma#am kita ini tak pantas mikirin Tuhan) &udah sudah, bisa kabur
orang yang mengasihaniku nanti jika aku terus terta"a begini)” ia menghentikan ta"anya,
berubah lagi mimiknya jadi murung dan kiranya pantas dikasihani. “8ika mau mati tinggal mati..
tak usah mikirin Tuhan segala ma#am) Tuhan saja gak pernah mikirin kita, ngapain kita mikirin
(ia?”
“Tapi masih ingat aku, 8i.. dulu bapakku ba#akan hal4hal tentang itu, rasanya usiaku tak akan
berlanjut lagi habis ini..”
“1a kita proteslah pada tuh Tuhan, kenapa membuat kita jadi pengemis begini? +ku heran
banyak orang ke masjid atau ke gereja.. apa yang mereka lakukan di dalamnya? Berdo0a seperti
akan ada yang dengar saja) Tak adalah Tuhan ma#am itu)”
“(osa kau, 8i) .gomong seperti itu)”
“&udah, sudah) !ila rupanya kau sudah)” ia memotong u#apanku dengan ekspresi yang masih
belum berubah. 9upanya serius benar dia mempraktikkan "ajah melas ala pengemis.
Berpengalaman benar dia. “+ku ke sana, sudah ramai di pasar itu, kalau kau mau di sini, sinilah..
jaga jangan sampai rusak tubuhmu yang tinggal kulit itu)” ia menepuk dadaku, setelah
mengatakannya ia beranjak pergi dari tepi trotoar. 'elangkah terseok ke keramaian dan hilang
sebelum aku mendengar lagi suara melengking yang datang dari udara yang kuhirup.
“Ini..” sebuah tangan ke#il tiba4tiba terjulur ke arahku sedetik setelah aku berhasil duduk dengan
susah payah di tepi trotoar untuk menghindari be#ek yang sudah mulai mengering di bajuku. +ku
mendongak dan melihat seorang anak ke#il dengan malu4malu memasukkan uang :-.---4an ke
dalam gelas usangku. (ia tersenyum polos sambil memeluk kaki ibunya yang tersenyum melihat
tingkah putrinya. emudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan entah kemana. +nak ke#il
manis itu sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku dengan lu#u. +ku tersenyum sedih.
“Terimakasih..”, u#apku tanpa suara. 'enyedihkan memang terlihat tak berguna di depan
seorang anak ke#il yang belum mengetahui kejamnya dunia, tapi aku bersyukur karena aku
masih bisa makan hari ini. Ternyata, menjadi pengemis adalah hal yang menyusahkan dan hina.
'eskipun begitu, sudah kujalani ini selama ; tahun belakangan yang menyiksa. 'enunggu belas
kasihan orang, mendahkan tangan, dengan "ajah menekuk di sana sini.
'emang akan masih ada yang mengasihi, tapi banyak pula yang men#emooh diri atau seperti
orang tadi, menendangku yang hampir tanpa nya"a lagi ini. &emangat hidup sudah tak kumiliki,
mungkin nanti gadis ke#il itu akan mengerti, jangan sekali4kali men#oba menjadi seperti ini,
sungguh kini aku per#aya bah"a bekerja sekalipun itu pengais sampah jauhlah lebih
membanggakan diri ketimbang menjadi pengemis begini.
+ku sendiri merasakan, lebih baik memberi daripada meminta agar dikasihani. 8ika bisa, aku
ingin membuka usaha atau sejenisnya, tapi sudah tak bisa lagi. $siaku telah dimakan rayap renta,
tapi apalah yang kupunya. &eorang keluarga pun tidak tahu dimana, saling meninggalkan yang
lainnya karena malu pada kondisi keluarga yang tak punya apa4apa, tanpa apa4apa.
Tiba4tiba perutku terasa sangat nyeri. +ku mendekap erat perutku sambil meringis sakit. Tak
kusangka perutku akan menjadi seperih ini saat tak kuisi dengan apapun selama : hari. &engaja
kusisisakan sebagian uang yang kudapat berhari4hari agar aku bisa pulang ke Banyu"angi.
&etidaknya aku ingin mati di sana, tempat kelahiranku sendiri. uraba kembali perutku yang tak
mampu berkompromi lagi, na5asku sesak karena seakan seluruh organku ingin segera bebas dari
ketersiksaan ini.
epalaku mulai terasa pusing dan berkunang4kunang. Terasa berat sangat menegakkan kepaku
kembali. +ku tidak tau apa yang sedang terjadi. .a5asku perlahan memburu dan hampir tak bisa
lagi kuraup udara yang tak berbayar ini. Bahkan hal yang diberi #uma4#uma ini pun tak mampu
kubeli dengan raga yang ringkih. 1ang jelas seakan aku sudah tidak mampu duduk lagi.
&etiap persendianku seakan hilang terhapus sakit di perutku yang melilit. +ku menggigit bibir
saat tubuhku terlena ke tanah untuk kesekian kalinya. epalaku ikut terbentur aspal saat tubuhku
terbanting keras. 'ataku berkunang4kunang dan tubuhku seperti melayang. &edangkan sakit di
perutku ini membuatku semakin merasa telah hilang entah kemana. +ku menatap pandangan
aneh beberapa pejalan kaki dengan mata yang meredup pelan.
+ku mati? +pakah sudah "aktuku pergi? enapa sakit sekali? uremas dengan sisa tenaga,
gelas berisi uang :- ribu yang terkurung seorang diri. 8ika ini "aktuku kembali, aku pinta pada
Tuhanku untuk terakhir kali. Ba"a amal yang kupunya, tinggalkan amal yang sempat kutinggal
karena bekerja. &ebab kini aku melihat siksa diri menanti karena aku lalai diri.
&esaat kemudian, semuanya menjadi gelap dan tak kurasakan lagi sakit pada sekujur diri.
; *repare tools and materials 5or batik su#h as< #loth a##ording to the needs that ha=e been
diketel >the pro#ess o5 remo=ing star#h on 5abri# by diuleni in peanut oil solution? and #anting.
@igure : abo=e design #loth a##ording to the desired pattern. In terms o5 batik is o5ten #alled
.glengreng stage.
% Heat the "aA B 'alem abo=e the pan until melted per5e#tly. 'aAimum temperature o5 the "aA B
'alem around C- degrees Celsius. &o, should be #are5ul "hen using it.
D .ote the sitting position "hile batik. &it "ith the position o5 the 5urna#e B sto=e batik is on the
right >eA#ept le5t4handed, 5urna#e B sto=e is on the le5t? to 5a#ilitate taking up 'alem and
menggoreskannya #loth.
,. (ip #anting into a pan 5illed by 'alem 5or about % se#onds as the temperature pengesuaian
#anting.
E Begin s#raping #anting onto 5abri# that has been dilengreng >patterned? "ith menggoreskannya
5rom le5t to right as "ell as the 2atin "riting. This is intended to get a good and 5ine s#rat#hes.
F @ill in the blank pattern "ith ornaments su#h as shading lines and dots. @or eAample, in the
image o5 lea=es should ha=e a bone lea=es, the lea=es "ill be 5illed in line a##ording to the
re6uirement. This stage is #ommonly re5erred to as Isen, Isen.
&tage C nembok means to blo#k the 5abri# #olor does not "ant eAposed. Ho"e=er, this stage is
done "hen needed #olor initially.
&tage G #olor dyeing. $sually using napthol dyes and indigosol synthesis. take a 5e" times to
bring up the #olor dye.
;- (rain 5abri# that has been dyed and let stand so the #olor #an penetrate the 5abri# 5ibers "ith a
maAimum.
;;. Boil the #loth in boiling "ater ;-- degrees Celsius to turn do"n the "aA B 'alem atta#hed to
the #loth to bring up the moti5 that has been designed. This stage is #alled nglorod boil.
;:. Hash batik #loth "ith #lean "ater to remo=e the remnants o5 "aA B 'alem still atta#hed.
Then, jemurlah "ith "inds and a=oid dire#t sunlight eAposed to heat.