You are on page 1of 10

1

PENANGANAN KARIES TERSEMBUNYI PADA GIGI SULUNG
MENGGUNAKAN GLASS IONOMER CEMENT (GIC)
(TREATMENT OF HIDDEN CARIES IN PRIMARY TEETH USING GLASS
IONOMER CEMENT )
YENNI WINDASARI
120600039
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara
Jalan Alumni No.2 Kampus USU Medan 20155
Abstract
Dental caries is an infectious disease caused by demineralization of enamel and dentin are
closely associated with the consumption of cariogenic foods. The occurrence of dental caries due to
the role of caries-causing bacteria found in the mouth streptococci group collectively called
Streptococcus mutans.
For decades, pediatric dentist has admitted that there are some lesions in the proximal or
occlusal far premolars and molars, which have been missed because the clinical detection of
occlusal surface still looks largely intact until the tooth crown has been destroyed and radiographs
showed a radiolucent in the dentin .8 the term "occult caries" or "hidden caries" is used to describe
these lesions, which are not clinically diagnosed but only detected on radiographs. The prevalence
of occult caries has been reported to range from 2.2% to over 50% of permanent molars. In Spite of
its prevalence are relatively high, the etiology and pathogenesis of occult caries remain unclear. To
perform maintenance on this hidden caries should use the principle of minimum intervention, which
is just a waste and mempreparasi little affected tissue without wasting caries healthy tissue. the
restorative material is good enough to be selected in the treatment of hidden caries is Glass ionomer.
Glass ionomer has an indication for the treatment of small cavities

Key words : hidden, occult, fluoride syndrom, bitewing, GIC
PENDAHULUAN
Gigi merupakan bagian dari alat pengu-nyahan pada sistem pencernaan dalam tubuh
manusia.

Masalah utama kesehatan gigi dan mulut anak ialah karies gigi. Penyakit gigi
yang sering diderita oleh hampir semua penduduk Indonesia ialah karies gigi.
1
Karies gigi
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin yang
erat hubungannya dengan konsumsi makanan yang kariogenik. Terjadinya karies gigi
akibat peran dari bakteri penyebab karies yang terdapat pada golongan Streptokokus mulut
yang secara kolektif disebut Streptokokus mutans.
1

2

Umumnya anak-anak memasuki usia sekolah mempunyai resiko karies yang tinggi,
karena pada usia sekolah ini anak-anak biasanya suka jajan makanan dan minuman sesuai
keinginannya.
1
Gigi sulung memiliki peran yang sangat penting, baik dalam hal fungsi
mastikasi, fonetik serta estetik, sebelum gigi permanen erupsi . selain itu, yang kalah
pentingnya adalah memandu pertumbuhan dan perkembangan serta mempersiapkan ruang
yang cukup untuk erupsi gigi permanen. Maka dari itu sangatlah penting menjaga
kesehatan gigi sulung.
1
Masalah kesehatan gigi anak di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak orang
tua mengira bahwa gigi sulung tidak perlu dirawat, tidak lama ada dalam mulut dan pada
saatnya akan digantikan dengan gigi tetap yang lebih kuat dan lebih besar. Mereka tidak
tahu bahwa cukup banyak akibat yang dapat terjadi bila gigi sulung tidak dirawat dengan
baik.
1
Selama beberapa dekade, dokter gigi anak telah mengakui bahwa ada beberapa lesi
pada proksimal atau oklusal jauh di gigi premolar dan molar, yang telah melewatkan
deteksi klinis karena permukaan oklusal yang sebagian besar masih tampak utuh hingga
akhirnya mahkota gigi telah hancur dan radiografi menunjukkan radiolusen di dentin.
8

Istilah "occult caries" atau "karies tersembunyi" digunakan untuk menggambarkan lesi
tersebut, yang tidak didiagnosa secara klinis tetapi terdeteksi hanya pada radiografi.
Namun, sifat dari lesi ini, etiologinya, dan alasan mengapa karies tersembunyi ini dapat
terjadi dini, diagnosis klinis dan patogenesis masih tetap tidak jelas.
2,3

DEFINISI
Karies tersembunyi (atau dapat dikenal juga dengan istilah occult caries) adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan lesi karies terlihat pada dentin melalui
bitewing radiografi yang secara klinis ditemukan enamel oklusal tampak sehat atau sedikit
mengalami demineralisasi.
2,3,4,5
Karies tersembunyi ini ditemukan dalam lubang atau celah
lesi yang berkembang melalui kerusakan enamel kecil, yang berlanjut ke bawah struktur
gigi dengan permukaan gigi masih tampak utuh.
2,3,4
Karies tersembunyi digunakan untuk
menggambarkan lesi karies yang tidak didiagnosa secara klinis dan pemeriksaan taktil
tetapi terdeteksi hanya pada pemeriksaan radiografi.
3,4,5

Karies tersembunyi/ occult caries juga dapat didefinisikan sebagai karies oklusal,
yang tidak dapat didiagnosis secara klinis karena menunjukkan permukaan oklusal hingga
3

dentin tampaknya seolah-olah utuh.
2,3
Karies tersembunyi ini dapat ditandai dengan adanya
perubahan warna menjadi abu-abu akibat menggaungnya email oleh karena karies dan ini
dapat terlihat dengan baik jika gigi dalam keadaan kering dan iluminasi baik.
Karies tersembunyi dikenal juga dengan istilah Karies Dentin Oklusal ataupun
‘fluoride syndrome’. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Millman pada tahun 1980-
an untuk menjelaskan karies pada oklusal yang luput dari pemeriksaan visual tetapi
dijumpai pada pemeriksaan radiografi ataupun biopsi fisur.
4
ETIOLOGI DAN PREDISPOSISI
Etiologi karies tersembunyi masih belum diketahui, meskipun demikian ada
beberapa penelitian yang menemukan faktor yang mendukung terjadinya karies
tersembunyi. Beberapa penulis mengatakan bahwa karies tersembunyi ini terkait dengan
penggunaan besar fluoride, yang bertindak dalam remineralisasi lesi email oklusal.
4,6
Menurut Hashizume et al . menentukan prevalensi klinis terdeteksinya karies dentin
oklusal (karies tersembunyi) pada kelompok 8-10 tahun anak-anak sebelum dan sesudah
penyediaan air secara umum dan penggunaan pasta gigi yang berfluoridasi dan hasilnya
menunjukkan bahwa fluoride tidak bertanggung jawab atas peningkatan tersembunyi karies
oklusal. Namun, berdasarkan penelitian Hashizume et al. tidak menutup kemungkinan
dengan pemberian fluoride pada minuman dan pasta gigi anak-anak dapat mengurangi dan
menurunkan prevalensikaries tersembunyi.Banyak praktisi gigi menemukan karies
tersembunyi ketika mereka mulai melakukan beberapa intervensi secara operatifhingga
mereka memperkirakan bahwa itu adalah lesi karies kecil, yang mengungkapkan lesi karies
ini meluas ke dentin.
4,6

Selain itu, faktor predisposisi terjadinya karies tersembunyi pada anak-anak adalah
morfologi gigi sulung.Penyebabnya adalah karena lesi terbentuk di dekat titik kontak gigi
sedikit kearah serviks dan pandangan terhalang oleh gigi tetangga. Ini karena pada gigi
molar sulung telah terbentuk daerah kontak yang lebar dan datar atau sering disebut daerah
kontak bidang.
2
Pasien yang berisiko untuk mengalami karies tersembunyi juga dapat
meningkat karena anatomi pit dan fisura , yang akhirnya mempunyai risiko terjadinya
karies oklusal.
2

Proses demineralisasi dan remineralisasi juga dapat menjadi faktor terjadinya karies
tersembunyi pada anak-anak. Anak-anak yang suka mengkonsumsi makanan tinggi
4

karbohidrat. Fermentasi karbohidrat meningkatkan sifat merusak sehingga biofilm lebih
asidogenik. Karbohidrat difermentasi kemudian dimulai pembentukan asam dan khususnya
demineralisasi struktur gigi terutama dengan tidak adanya fluoride. Bayi yang
menkonsumsi susu yang mengandung fermentasi karbohidrat juga akan mendukung
meningkatnya demineralisasi dan karies yang didukung oleh sikap orangtua yang kurang
memperhatikan kesehatan gigi dan mulut anak.
PREVALENSI
Dalam beberapa penelitian mempelajari karies tersembunyi, prevalensi ditentukan
dengan menghubungkan pemeriksaan klinis permukaan oklusal dengan pemeriksaan
radiografi bitewing pada gigi yang sama, dan pemeriksaan tersebut menunjukkan
permukaan oklusal utuh dan radiografi radiolusen di dentin yang dianggap karies
tersembunyi. Menggunakan kriteria ini, prevalensi karies tersembunyi telah dilaporkan
berkisar 2.2 % pada anak usia 6-12 tahun. Prevalensi karies tersembunyi dapat dilhat pada
(Tabel 1).
3,6
Peneliti /Tahun Usia rata-rata subjek
penelitian
Gigi Geligi Persentase
Karies
tersembunyi
Sawle dan Andlaw/ 1988 14-16 tahun (740 subjek,
1974)
Semua M1 dan M2 3,6
3,1
Creanor dkk/ 1990 14-15 tahun (2623 subjek) Mandibula M1 dan M2
Maksila M1 dan M2
Premolar
11.8
3,1
0,8
Kidd dkk/ 1992 Remaja (6110 gigi) Mand M1 dan M2
Maks M1 dan M2
12,9
6,3
Weerheijm dkk/ 1992 14 tahun (131 subjek)
17 tahun (123 subjek)
20 tahun

Semua M1 dan M2
26
38
50
Weerhijm dkk/ 1992 12,4 tahun (359 subjek) Semua M1 dan M2 15
Seow et al/ 1999 6-12 yrs (2926 subjects) Semua molar 2.2
Tabel 1. prevalensi karies tersembunyi
PATOGENESIS
Daerah kemunculan lesi tersembunyi bisa memberikan penjelasan akan tingkat
kesulitan pendeteksian. Secara umum, seperti yang dianggap bahwa lesi oklusal bisa
dimulai pada dua lokasi. Yang pertama merupakan area yang dangkal yang berada atau
dekat dengan mulut retakan, yang dimana substrate makanan tersedia. Kedua berada pada
dinding retakan dekat dengan dasar gigi, dan tersembunyi serta sulit untuk dilihat.
Walaupun demikian, substrat kariogenik ditempati bakteri pada lokasi-lokasi ini melalui
penetrasi rekahan/retakan oklusal, terdapat anggapan bahwa bakteri kariogenik
5

mendapatkan asupan makanan dari cairan jaringan pulpa yang ada di dalam tabung gigi.
Proses ini akan memungkinkan bakteri kariogenik untuk tetap berada di dalam, dan lesi
yang tersembunyi/ sulit terdeteksi akan memungkinkan proses kariesisasi akan terus
berlanjut. Weerheijm dkk (1990) pada penelitian tentang mikrobiologis melaporkan bahwa
jenis bakteri pada lesi yang tersembunyi adalah hasil mutasi dari streptococci dan
lactobasil, dan lesi seperti ini tidak ada hubungannya dengan mikroorganisme yang lain
daripada kedua bakteri diatas, yang dimana bakteri selain bakteri diatas sering ditemukan
pada jenis lesi lainnya. Lesi tersembunyi yang tidak terdiagnosa akan berkembang cepat
dan akan merusak gigi dan endodontik.
2,3,6
DIAGNOSA
Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, bahwa karies tersembunyi
(hidden/occult caries ) tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan konvensional (visual dan
hand instrument). Secara radiografi, karies tersembunyi yang biasanya sering terjadi pada
aproksimal dan oklusal gigi molar sulung tepatnya pada bagian pit dan fisur ataupun fosa
sentralis dapat dideteksi dengan metode Bitewing atau metode Periapikal. Bitewing
merupakan metode yang sangat baik terutama untuk mendeteksi adanya karies tersembunyi
(hidden caries).
2,3,6
(lihat gbr.01)

Gambar 01. radiografi karies tersembunyi.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari beberapa metode pendeteksian
karies dan perangkat telah dikembangkan. Beberapa metode pendeteksian karies baru dan
praktis yaitu

:
3,6
1. Alternating current impedance spectroscopy technique (ACIST)
2. Computer-aided radiography (CAR)
6

3. Dental digital radiography (DDR)
4. Digital imaging fiber-optic transillumination (DIFOTI)
5. The DIAGNOdent
6. The Diagora image plate system (DIPS)
7. Diode laser fluorescence (DLF)
8. Electrical conductance fixed frequency (ECFF)
9. Endoscope filtered fluorescence (EFI)
10. Qualitative light-induced laser fluorescence (QLF)
11. Visualix high-definition imager, intra-oral sensor technology
PERAWATAN
Setiap opsi perawatan pasien tergantung pada beberapa kunci variabel pada pasien,
termasuk tingkat risiko, keinginan pasien dan harapan pengobatan, status oral hyegine,
pengaturan diet pasien, kemampuan untuk termotivasi terhadap kepatuhan kebutuhan
perawatan di rumah dan komitmen untuk mencegah penyakit.
3,4,6
Untuk perawatan karies tersembunyi tergantung pada hasil tingkat tingkat deteksi
lesi karies tersembunyiyaitu diagnosis dini dan akurat melalui pemeriksaan radiografi
bitewing. Setelah diagnosis dini karies tersembunyidilakukan, dokter gigi dapat
menentukan rencana perawatan selanjutnya. Perawatan dapatdilakukannya dengan
restoratif intervensi minimal.
4
GLASS IONOMER CEMENT (GIC)
Glass Ionomer Cement (GIC) merupakan salah satu jenis bahan yang biasanya
digunakan dalam kedokteran gigi sebagai bahan tumpatan dan semen perekat. Bahan ini
berdasarkan pada reaksi bubuk kaca silikat dan asam polialkenoat yang merupakan
tambahan dari golongan dental semen berbasis air dan terdiri dari silicate cement, zinc
phospate cement dan zinc polycarboxylate cement. Glass ionomer konvensional terdiri dari
fluoroaluminosilicate glass, biasanya dalam garam stronsium atau kalsium dan cairan asam
polialkenoat, sebagai contoh poliakrilik, maleat, itakonik dan asam trikarbalilik. Bahan
konvensional dibuat dengan reaksi unsur asam antara cairan asam dan bubuk dasar.
7
Beberapa kasus karies yang menggunakan bahan tumpatan glass ionomer cement yaitu:
karies yang menyerang permukaan serviks gigi yang disebabkan oleh abrasi (yang menurut
klasifikasi G.V. Black termasuk lesi kelas V), karies yang terdapat pada akar, karies yang
7

menyerang permukaan aproksimal gigi-gigi anterior (yang menurut klasifikasi G.V. Black
termasuk lesi kelas III) dan penutupan pit atau fisur (fissure sealant ).
Adapun keunggulan dari bahan restorasi GIC (glass ionomer cement) antara lain:
7
1. Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi.
2. Bersifat adhesi.
3. Tidak iritatif.
4. Mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies
lebih lanjut.
5. Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit.
6. Daya larut yang rendah.
7. Bersifat translusent atau tembus cahaya.
8. Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin dan email.
Disamping itu, glass ionomer cement juga bersifat biokompatibilitas, yaitu
menunjukkan efek biologis yang baik terhadap struktur jaringan gigi dan pulpa. Kelebihan
lain dari bahan ini yaitu glass ionomer cement mempunyai sifat anti bakteri.
7
PEMBAHASAN
Dalam pemeriksaan rongga mulut anak tidak jarang dijumpai adanya karies
tersembunyi. Untuk melakukan perawatan pada karies tersembunyi ini harus menggunakan
prinsip minimal intervensi, yaitu hanya membuang dan mempreparasi sedikit jaringan yang
terkena karies tanpa membuang jaringan yang masih sehat.
Restorasi terhadap kavitas pada gigi yang terdapat karies tersembunyi ini dapat
dilakukan dengan alloy silver amalgam, glass ionomer untuk gigi posterior ataupun resin-
modified glass ionomer cement. Namun, karena prinsip perawatan pada karies tersembunyi
yang termasuk kavitas kecil ini adalah minimal intervensi, maka penggunaan bahan
restorasi amalgam harus dipertimbangkan. Hal ini dikarenakan restorasi dengan amalgam
membutuhkan preparasi yang luas untuk membentuk suatu retensi mekanikal, dan juga
dengan membuat alur outline form yang menjaga agar restorasi tidak mudah hancur
ataupun terlepas, serta untuk penggunaan bahan restorasi yang dapat menghentikan proses
terjadinya karies perlu menjadi pertimbangan sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih
lanjut.
2,7

8

Dari pemaparan di atas maka bahan restorasi yang cukup baik untuk dipilih dalam
perawatan karies tersembunyi ini adalah Glass Ionomer. Glass Ionomer mempunyai
indikasi untuk perawatan kavitas yang kecil pada permukaan oklusal. Perlekatan Glass
Ionomer terhadap gigi secara kimia menjadi kelebihan dalam perawatan karies tersembunyi
ini yang berprinsip pada minimal intervensi, sehingga tidak perlu membuat preparasi yang
luas dan tidak membuang jaringan yang masih sehat. Glass Ionomer juga memiliki
kandungan fluor yang dapat mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut akibat karies pada
gigi anak.
2,7

Penggunaan Glass Ionomer dalam perawatan karies tersembunyi pada bagian pit
dan fisur ataupun fosa sentralis molar satu sulung juga mendukung pengurangan insiden
terjadinya karies sekunder oleh karena fluoride-releasing dari Glass Ionomer. Fluor pada
Glass Ionomer akan menggantikan ion kalsium yang hilang dari enamel ataupun dentin
pada gigi. Jadi, perawatan yang dilakukan dengan Glass Ionomer bukan hanya sekedar
sealant ataupun bahan tambalan, tetapi juga bahan yang merangsang terjadinya
remineralisasi pada gigi. Dan juga dalam mempertimbangkan usia dari anak, prosedur
restorasi dari Glass Ionomer tidak memakan waktu yang lama sehingga tidak membuat
anak bosan.
2
Adapun metode / prosedur dalam restorasi menggunakan Glass Ionomer pada
kavitas Klas II tersembunyi fosa sentralis gigi molar satu sulung adalah
2,7
:
1. Pemakaian anastesi lokal tidak selalu diperlukan , namun pengisolasian
menggunakan rubber dam harus menjadi prosedur pertama yang dilakukan.
Terdapat dua metode pengisolasian dengan rubber dam, yang pertama dengan
teknik tradisional, yang kedua dengan teknik split dam.
2. Outline Form pada kavitas tidak harus diperluas seperti pada Klas II biasa. Tidak
ada perluasan kavitas yang bertujuan untuk pencegahan terlepasnya bahan restorasi,
bahkan oklusal dovetail juga tidak diperlukan.
3. Pengeburan dimulai dengan bur bulat yang sangat kecil (ukuran ½) . Pembuangan
semua karies dengan menggunakan bur bulat berkecepatan lambat. Pengeburan
dilakukan dengan hati-hati karena kamar pulpa yang besar pada gigi desidui serta
tanduk pulpa yang lebih dekat ke arah koronal. Untuk karies tersembunyi pada
9

bagian mesial gigi, dapat dilakukan pengeburan sedikit jaringan sehat pada bagian
mesio-oklusal hingga mencapai jaringa karies.
4. Pemasangan seluloid strip, agar kontur proximal tetap terjaga.
5. Mengoleskan dentin conditioner 10% asam poliakrilat selama 10 detik. Setelah itu
kavitas disiram dengan air menggunakan spuit dan keringkan dengan kapas agar
tidak terlalu kering.
6. Pencampuran powder dan liquid Glass Ionomer dilakukan di atas glass plate
menggunakan spatula semen dengan gerakan sirkular. Jika menggunakan Glass
Ionomer berkapsul, maka sebelum pencampuran di amalgamator, kapsul dikompres
selama 3 detik agar nanti terbentuk campuran yang adekuat.
7. Jika sudah dicampurkan dan terbentuk seperti pasta, Glass Ionomer diletakkan di
kavitas. Kemudian dikondensasikan menggunakan ball burnisher sampai seluruh
kavitas karies tersembunyi tertutupi oleh bahan restorasi.
8. Kavitas yang sudah direstorasi dengan Glass Ionomer harus dioleskan surface
protector seperti cocoa butter agar tidak langsung berkontak dengan saliva yang ada
pada rongga mulut.
9. Oklusi setelah restorasi harus di cek kembali agar tidak ada terjadi gangguan oklusi
pada anak.
Dengan mengikuti prosedur restorasi di atas, maka perawatan Karies tersembunyi
menggunakan Glass Ionomer dapat menjadi perawatan yang adekuat.
2,
KESIMPULAN
Kesimpulannya, karies tersembunyi mengacu pada lesi yang tidak bisa terdiagnosa
oleh metode yang konvensional, dimana lesi ini bisa terdiagnosa melalui radiografi. Ketika
metode pencitraan radiografi merupakan metode yang dianggap paling efektif, maka
metode ini penting dilakukan untuk melakukan pendeteksian awal. Bitewing merupakan
metode yang sangat baik terutama untuk mendeteksi adanya karies tersembunyi (hidden
caries).
2,3,6
Etiologi karies tersembunyi masih belum diketahui, meskipun demikian ada
beberapa penelitian yang menemukan faktor yang mendukung terjadinya karies
tersembunyi. Beberapa penulis mengatakan bahwa karies tersembunyi ini terkait dengan
penggunaan besar fluoride, yang bertindak dalam remineralisasi lesi email oklusal.
Prevalensi karies tersembunyi telah dilaporkan berkisar 2.2 % pada anak usia 6-12 tahun
3,6
.
10

Untuk perawatan karies tersembunyi tergantung pada hasil tingkat tingkat deteksi
lesi karies tersembunyiyaitu diagnosis dini dan akurat melalui pemeriksaan radiografi
bitewing. Setelah diagnosis dini karies tersembunyidilakukan, dokter gigi dapat
menentukan rencana perawatan selanjutnya. Perawatan dapatdilakukannya dengan
restoratif intervensi minimal.
4

Bahan restorasi yang cukup baik untuk dipilih dalam perawatan karies tersembunyi
ini adalah Glass Ionomer. Glass Ionomer mempunyai indikasi untuk perawatan kavitas
yang kecil pada permukaan oklusal. Perlekatan Glass Ionomer terhadap gigi secara kimia
menjadi kelebihan dalam perawatan karies tersembunyi ini yang berprinsip pada minimal
intervensi, sehingga tidak perlu membuat preparasi yang luas dan tidak membuang jaringan
yang masih sehat. Glass Ionomer juga memiliki kandungan fluor yang dapat mencegah
terjadinya kerusakan lebih lanjut akibat karies pada gigi anak.
2,7


KEPUSTAKAAN
1. Worotitjan I, Mintjelungan C, Gunawan P. Pengalaman karies gigi serta pola makan
dan minum pada anak sekolah dasar di desa kiawa kecamatan kawangkoan utara. J
e-Gigi. 2013;1(1): 59-68.
2. Bertoli FMP, Silvia BM, Dalledone M, Losso EM. Hidden caries’ challenge
diagnosis: case report. RSBO. 2012; 1-5.
3. Seow WK. Pre-eruptive intracoronal resorption as an entity of occult caries.
American Academy of Pediatric Dentistry. 22:5. 2000 Feb; 370-376.
4. Newman B, Seow WK, Kazoulis S. Clinical detection of caries in the primary
dentition with and without bitewing radiography. Australian Dental J. 2009; 54(8):
23-30.
5. Srivastava VK. Modern pediatric dentistry. New Delhi: Jaypee, 2011: 145.
6. Satish V, Prabhadevi CM, Hedge KV. Occult caries: The hidden truth. International
Journal of Clinical Pediatric Dentistry. 2010;3(3):225-229.
7. Pradopo S, Saskianti T. Mengatasi kegagalan restorasi klas II pada gigi sulung.
Dentika Dent. J. 2007;12(1): 75-80.