You are on page 1of 14

Epidemiologi Penyakit Karies Pada Anak

Epidemiology Of Dental Caries I n Children


Oleh
Kelompok 5

1. Ahmad Burhanuddin 101211131024
2. Nurul Hidayanti 101211131036
3. Ni Panjawi L. 101211131194
4. Anindea Elma P. 101211132078
5. Ukik Agustina 101211132089
6. Nur Aini M. 101211133026
7. Nur Jelita A. 101211133073




IKM-C’12
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
2014

Epidemiologi Penyakit Karies Pada Anak
Epidemiology Of Dental Caries In Children

Ahmad Burhanuddin
1
Nurul Hidayanti
2
Ni Panjawi L.
3
Anindea Elma P
4
.Ukik Agustina
5

Nur Aini M.
6
Nur Jelita AD.
7


Abstrak

Indonesia merupakan Negara berkembang dengan prevalensi penyakit tidak menular yang cukup
tinggi, salah satunya adalah penyakit gigi dan mulut. Penyakit gigi yang sering diderita oleh hampir semua
penduduk Indonesia ialah karies gigi (Worotitjan, dkk.2013).

Prevalensi nasional masalah gigi dan mulut
menurut Riskesdas 2013 adalah 25,9 persen, sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan
mulut diatas angka nasional (Riskesdas, 2013). Kesehatan mulut dan gigi telah mengalami peningkatan pada
abad terakhir tetapi prevalensi terjadinya karies gigi pada anak tetap merupakan masalah klinik yang
signifikan. Suwelo melaporkan prevalensi karies anak prasekolah di DKI Jakarta 89,16% dengan def-t rata-
rata 7,02 ± 5,25 dan hasil survei di 10 provinsi (1984–1988) pada daerah kota, prevalensi karies anak umur 8
tahun 45,20% dengan DMF-T 0,94 serta menurut SKRT 1995, indeks DMF-T anak umur 12 tahun
menunjukkan rata-rata 2,21 dengan angka prevalensi sebesar 76,9%. Mekanisme terjadinya karies gigi akibat
peran dari bakteri penyebab karies golongan Streptokokus mulut yang secara kolektif disebut Streptokokus
mutans. Faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibagi menjadi dua yaitu risiko sedang dan risiko
tinggi. Pencegahan untuk terjadinya karies gigi pada anak terbagi menjadi tiga tingkatan seperti pencegahan
primer yaitu pendidikan kesehatan pada ibu dan anak mengenai kebersihan mulut, pencegahan sekunder yaitu
, melakukan penambalan pada lesi karies yang kecil dapat mencegah kehilangan struktur gigi yang luas.dan
pencegahan tersier yaitu pembuatan gigi tiruan.

Kata kunci: penyakit gigi dan mulut, karies gigi, anak, Streptokokus mutans, faktor risiko karies gigi

Abstract

Indonesia as a developing country has high prevalence of non-communicable diseases, one of them is
a dental and oral disease. The most Dental disease that often suffered by Indonesia's population is dental
caries ( Worotitjan , etc.2013 ) . National prevalence of oral and dental problems according Riskesdas 2013
were 25.9 percent, 14 provinces have prevalence of oral and dental problems more than the national average
(Riskesdas, 2013).Oral and dental health has improved in the last century but the prevalence of dental caries
in children remains a significant clinical problem . Suwelo reported prevalence of dental caries in preschool
children of Jakarta - def 89.16 % with an average t of 7.02 ± 5.25 and the results of a survey in 10 provinces (
1984-1988 ) in the city areas , the prevalence of caries in children aged 8 45 , 20 % with DMF - T 0.94 and
according to the 1995 Household Health Survey , DMF - T index 12 year olds showed an average of 2.21 with
a prevalence rate of 76.9 % . The mechanism of dental caries due to the role of caries -causing bacteria
streptococcus group collectively called oral mutans streptococci . Factors affecting the occurrence of
hypertension were divided into two medium risk and high risk . Prevention of dental caries in children are
divided into three levels , namely primary prevention such as health education on maternal and child
regarding oral hygiene , secondary prevention is to do fillings on carious lesions and tertiary prevention is
the manufacture of artificial teeth.

Keywords : dental and oral diseases , dental caries , children , Streptococcus mutans , dental caries risk
factors

1
101211131024 Student of Public Health, Airlangga University
2
101211131036 Student of Public Health, Airlangga University
3
101211131194 Student of Public Health, Airlangga University
4
101211132078 Student of Public Health, Airlangga University
5
101211132089 Student of Public Health, Airlangga University
6
101211133026 Student of Public Health, Airlangga University
7
101211133073 Student of Public Health, Airlangga University

PENDAHULUAN

Gaya hidup adalah cara hidup berdasarkan pola perilaku yang dipengaruhi oleh karakter individual, interaksi
sosial, sosial ekonomi dan kondisi lingkungan. Gaya hidup individu dengan karakteristik pola perilaku
tertentu dapat mempengaruhi kesehatan (1).

Gaya hidup sehat adalah segala upaya untuk menetapkan
kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindari kebiasaan buruk yang dapat
mengganggu kesehatan. Departemen Kesehatan menetapkan indikator gaya hidup yaitu kebiasaan
merokok/tidak, pola makan, dan aktivitas fisik (2).

Gaya hidup sehat dengan pola makan sehat dan aktivitas
fisik yang cukup dapat mencegah terjadinya kelebihan berat badan dan diabetes pada anak, selain juga baik
untuk perkembangan otot dan tulang, termasuk kesehatan gigi (3).

Di Indonesia, terutama di kota besar, dengan adanya perubahan gaya hidup yang menjurus ke Westernisasi
dan Sedentary, berakibat pada perubahan pola makanan masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi
kalori, lemak dan kolesterol, banyaknya waktu untuk menonton televisi & bermain games, dan kurangnya
aktivitas fisik (4). Hal tersebut merupakan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan, yang
menunjukkan gaya hidup tidak sehat. Anak-anak yang secara fisik tidak aktif dan menghabiskan waktunya
dengan menonton televisi dalam waktu yang lama lebih sering mengkonsumsi minuman manis dan makanan
kecil yang tinggi kadar gula, sehingga dapat meningkatkan resiko karies dan kegemukan (5,6).

Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang paling umum terjadi pada anak-anak. Karies dini yang
terjadi pada gigi sulung dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan kesehatan umum, serta kualitas hidup anak
(7). Sebuah penelitian mengatakan anak gemuk usia 2-5 tahun memiliki resiko yang lebih tinggi mengalami
karies pada gigi sulung dibandingkan dengan anak normal (8).

Kelebihan berat badan atau kegemukan telah menjadi permasalahan pada kesehatan diseluruh dunia, bahkan
WHO menyatakan bahwa kegemukan merupakan suatu epidemi global, sehingga termasuk dalam masalah
kesehatan yang harus segera ditangani (4). Kegemukan pada masa anak-anak atau remaja dapat berlanjut
hingga dewasa dan lebih berbahaya dibandingkan yang terjadi pada usia menengah dan dewasa (4,9).
Prevalensi anak dengan kelebihan berat badan meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun
dinegara berkembang (10). Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), pada tahun 2000 di
Indonesia diperkirakan 76,7 juta penduduk (17,5%) mengalami kegemukan dan 9,8 juta penduduk (4,7%)
mengalami obesitas (4).

Karies gigi dan kegemukan memiliki dampak negatif pada kualitas hidup anak dan dapat menetap hingga
dewasa. Kedua masalah kesehatan ini berkaitan dengan faktor gaya hidup seperti pola makan tidak dan
kurangnya aktifitas fisik anak (6). Dengan mengetahui resiko kegemukan pada anak di awal kehidupannya,
maka kita dapat memberikan pelayanan kesehatan dan kesempatan kepada orang tua untuk mengintervasi
kegemukan dan karies. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan gaya hidup anak yaitu pola
makan dan aktivitas fisiknya dengan kejadian karies pada anak gemuk usia 3-5 tahun.

METODE

Karya tulis ini disusun dengan metode studi literatur melalui artikel ilmiah, data riskesdas online, buku dan
google book. Studi literatur tersebut diakses melalui internet maupun media cetak. Studi literatur yang
digunakan merupakan sumber yang relevan di atas tahun 2004 dan menimbang kesesuaian sumber dengan
masalah yang dibahas. Sumber penulisan yang digunakan dapat dipertanggungjawakan kebenarannya.

KONSEP EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan kesehatan dan penyakit suatu kelompok masyarakat
(populasi) (11). Epidemiologi penyakit karies gigi akan melihat prevalensi dan insidennya. Prevalensi adalah
bagian dari suatu keadaan pada kurun waktu tertentu (11). Sedangkan insidens adalah pengukuran
peningkatan atau penurunan jumlah kasus baru yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat pada suatu
kurun waktu tertentu. Pada suatu karies, pengukuran penyakit akan meliputi:
1.Jumlah gigi karies yang tidak diobati (D)

2.Jumlah gigi yang telah dicabut dan tidak ada (M)
3.Jumlah gigi yang ditambal

Pengukuran ini dinamakan indeks DMF dan merupakan indeks aritmetika penyebaran karies yang kumulatif
pada suatu kelompok masyarakat. DMF (T) digunakan untuk mengemukakan gigi karies, hilang, dan
ditambal; DMF (S) menyatakan gigi karies hilang dan permukaan gigi yang ditambal pada gigi permanen,
sehingga jumlah permukaan gigi yang terserang karies harus diperhitungkan. Indeks yang sama bagi gigi
sulung adalah def (t) dan def (s) dimana emenunjukkan jumlah gigi yang dicabut (bukan hilang karena tanggal
secara alamiah) dan f menunjukkan gigi atau permukaan gigi yang ditambal (11).

SITUASI EPIDEMIOLOGI DI INDONESIA

Penyakit gigi yang sering diderita oleh hampir semua penduduk Indonesia ialah karies gigi (Worotitjan,
dkk.2013).

Di Indonesia, berdasarkan Penelitian Rahardjo (2007), membuktikan dalam Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 2006 terdapat 76,2% anak Indonesia pada kelompok usia 12 tahun
mengalami gigi berlubang. Hal ini jelas menandakan adanya permasalahan yang cukup laten yaitu
minimnya kesadaran dan pengetahuan kesehatan gigi di masyarakat.Sedangkan hasil Penelitian Direktorat
Kesehatan Gigi tahun 2004 di Kalimantan Barat 99%, Kalimantan Selatan 96%, Jambi 92%, Sulawesi Selatan
87%, Maluku 77%. (1.) Penelitian di RUSD Dr. Pirngadi Medan tahun 2007 berdasarkan yang terbanyak
menderita karies pada karakteristik umur >14 tahun 87,6%, jenis kelamin perempuan 60,7%, Suku Jawa
53,8% agama Islam 62, 1%, pelajar atau mahasiswa 42,1%. Prevalensi nasional masalah gigi dan mulut
menurut Riskesdas 2013 adalah 25,9 persen, sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan
mulut diatas angka nasional (Riskesdas, 2013) (12).

Prevalensi rata-rata penduduk Indonesia bermasalah gigi dan mulut sebesar 23,4%. Prevalensi rata-rata karies
yang diukur dengan indeks DMF-T sebesar 4,85 yang berarti rata-rata penduduk Indonesia telah mengalami
kerusakan gigi sebanyak 5 gigi per orang. Selain itu, dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang tidak
menyikat gigi yaitu sebanyak 22,8% dan dari 77,2 % yang menyikat gigi tersebut cuma 8,1 % yang menyikat
gigi tepat pada waktunya. Fakta yang terjadi 72,1% penduduk Indonesia memiliki masalah karies dan 46,5%
diantaranya tidak melakukan perawatan terhadap karies yang dideritanya. Kesadaran orang dewasa untuk
datang ke dokter gigi kurang dari 7% dan pada anak-anak hanya sekitar 4% kunjungan ke dokter gigi (12).

SITUASI EPIDEMIOLOGI GLOBAL

Berdasarkan penelitian Al-Malik (2006) di Saudi Arabia, dari 300 sampel anak-anak dengan usia 6-7 tahun
terdapat 288 anak (96%) terkena karies gigi, dan hanya 12 orang (4%) yang tidak terkena karies gigi. Dari 288
sampel yang terkena karies tersebut terdapat 146(50,7%) laki-laki dan 142 (49,3%) perempuan. Penyakit gigi
dan mulut di mana karies gigi termasuk di dalamnya menempati peringkat ke empat penyakit termahal dalam
hal pengobatan (12). Pada data WHO masih belum ada pembaharuan data sehingga, kebanyakkan data yang
digunakan masih menggunakan data World Health Organization (WHO) tahun 2000, analisis data prevalensi
karies berdasarkan indeks DMF-T (D = decayed = gigi yang karies, M = missed = gigi yang hilang, F = filled
=gigi yang ditambal, T = teeth = gigi permanen) di beberapa negara adalah seperti Amerika 2,05%, Afrika
1,54%, Asia Tenggara 1,53%, Eropa 1,46% dan bagian Barat Pasifik 1,23%. (Anderson, 2004). Selain itu juga
ada data pada tahun 2003 yaitu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 menyatakan angka
kejadian karies pada anak masih sebesar 60-90% (13)

Untuk tahun 2010, WHO (World Health Organization) telah menargetkan indeks DMFT (Decayed, Missing,
Filled-Tooth) adalah 1,0 sedangkan di Negara berkembang menetapkan indeks karies adalah 1,2. Berbagai
indikator telah ditentukan WHO, antara lain pada anak umur 5 tahun 90% harus bebas karies, anak umur 12
tahun mempunyai indeks DMF-T sebesar 1, penduduk umur 18 tahun tidak ada gigi yang dicabut (komponen
M=0), dan penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90% (14). Di dunia,
karies gigi merupakan salah satu masalah yang paling penting dan merupakan salah satu faktor yang
berkontribusi terhadap kesehatan manusia secara keseluruhan. Di seluruh dunia rata-rata 90% anak sekolah
dan orang dewasa memiliki pengalaman karies. Karies merupakan penyakit yang paling umum di negara-

negara Asia dan Amerika Latin. Di Amerika Serikat, karies gigi merupakan penyakit kronis yang paling
umum diderita anak, setidaknya lima kali lebih umum dari asma, dan merupakan penyebab patologis utama
kehilangan gigi pada anak.(15)

SEGITIGA EPIDEMIOLOGI














































Gambar 1. Segitiga epidemiologi karies gigi pada anak
Karies gigi pada anak tidak jarang ditemukan pada era seperti saat ini. Semakin tahun angka kejadian karies
gigi semakin meningkat. Menurut Sihotang (2010), beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan
glikosa, dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga pH plak akan menurun sampai
Pencegahan
• Sikat gigi secara teratur seblum
tidur dan sesudah makan dan
diterapkan sedini mungkin (ketika
gigi tumbuh)
• Rutin ke pelayanan kesehatan (poli
gigi)
Host
• Gigi
• Saliva
• Anak usia 6-12 tahun
1.Sosial-Ekonomi
• Anak dari keluarga dengan tingkat sosial
ekonomi rendah karies gigi > anak dengan
tingkat sosial ekonomi tinggi.
2.Pendidikan
• Kurangnya pengetahuan tentang karies gigi
3. Fisik (Letak geografis)
• Perbedaan lama dan intensitas cahaya
matahari, suhu, cuaca, air, keadaan tanah dan
jarak dari laut. Telah dibuktikan bahwa
kandungan fluor sekitar 1 ppm air akan
berpengaruh terhadap penurunan karies.

Pencegahan

1. Sosial ekonomi
Meningkatkan pendapatan
2. Pendidikan
Mengupayakan memperoleh pendidikan dan
pengetahuan
3. Fisik (Letak geografis)
Mengendalikan lingkungan sekitar untuk
mengurangi risiko karies gigi
Environment
1. Nutrisi
• Mengkonsumsi karbohidrat
terutama sukrosa cenderung
mengalami karies gigi daripada
lemak dan protein
2. Microorganisme
• Bateri: Streptococus mutan,
streptococus sanguis, Streptococus
mins, dan streptococus salivarius,
Lactobacillus dan bebrapa spesies
Actinomyces.


Pencegahan

1.Nutrisi
• Jangan terlalu sering dan banyak
mengkonsumsi makanan yang
mengandung glukosa tinggi
2. Mikroorganisme
• Teratur dalam menggosok gigi
sebelum tidur dan sesudah makan
• Rutin ke pelayanan kesehatan (poli
gigi)
Agent

dibawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunun pH berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan
demineralisasi permukan gigi yang rentan dan proses karies pun dimulai. Paduan keempat faktor penyebab
tersebut kadang-kadang digambarkan sebagai empat lingkaran yang bersitumpang. Karies baru bisa terjadi
hanya kalau keempat faktor tersebut di atas ada. Berikut gambar dan penjelasan mengenai 4 faktor
tersebut(13) :

1. Mikroorganisme, plak gigi merupakan lengketan yang berisi bakteri beserta produk- produknya, yang
terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan
terbentuk melalui serangkaian tahapan. Jika email yang bersih terpapar di rongga mulut maka akan ditutupi
oleh lapisan organik yang amorf yang disebut pelikel. Pelikel ini terutama terdiri atas glikoprotein yang
diendapkan dari saliva dan terbentuk segera setelah penyikatan gigi. Sifatnya sangat lengket dan mampu
membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi. Bakteri yang awalnya menghuni
pelikel terutama yang berbentuk kokus. Yang paling banyak adalah streptokokus. Streptokokus mutans dan
laktobasilus merupakan kuman yang kariogenik karena mampu segera membuat asam dari karbohidrat
yang dapat diragikan. Kuman-kuman tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat
menempel pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakharida ekstra sel yang sangat
lengket dari karbohidrat makanan. Akibatnya, bakteri-bakteri akan terbantu untuk melekat pada gigi serta
saling melekat satu sama lain. Dan karena plak makin tebal maka hal ini akan menghambat fungsi saliva
dalam menetralkan plak tersebut.
2. Substrat, dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk
membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat
untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstra sel. Walaupun demikian, tidak semua
karbohidrat sama derajat kariogeniknya. Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan
pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak akan tetap
bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal sekitar 7, dibutuhkan waktu 30-60
menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak
dibawah normal dan menyebabkan demineralisasi email. Sintesa polisakarida ekstra sel dari sukrosa lebih
cepat ketimbang glukosa, fluktosa dan laktosa. Oleh karena itu, sukrosa merupakan gula yang paling
kariogenik, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Dan karena sukrosa merupakan gula yang paling
banyak dikonsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama.
3. Host (gigi), kawasan gigi yang memudahkan perlekatan plak sangat mungkin diserang karies. Kawasan-
kawasan yang mudah diserang karies tersebut adalah pit dan fisure pada permukaan molar dan premolar,
pit bukal molar palatal insisif, permukaan halus di daerah aproksimal sedikit dibawah titik kontak.
4. Waktu, adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses
karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih
berganti (13).
RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

Gigi merupakan bagian dari alat pengunyahan pada sistem pencernaan dalam tubuh manusia.

Masalah utama
kesehatan gigi dan mulut anak ialah karies gigi. Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
demineralisasi email dan dentin yang erat hubungannya dengan konsumsi makanan yang kariogenik.
Terjadinya karies gigi akibat peran dari bakteri penyebab karies yang terdapat pada golongan Streptokokus
mulut yang secara kolektif disebut Streptokokus mutans. Umumnya anak-anak memasuki usia sekolah
mempunyai resiko karies yang tinggi. Pada usia 10 – 12 tahun, anak memasuki awal dari fase gigi geligi tetap.
Perawatan gigi pada anak usia ini penting karena frekuensi makan makanan kariogenik sangat besar. Hal ini
yang menyebabkan pentingnya untuk memilih makanan yang tepat untuk dikonsumsi oleh seorang anak (16).

ETIOLOGIS KARIES GIGI

Karies gigi merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh berbagai faktor. Lima faktor utama yang
paling berpengaruh terhadap pembentukan lesi karies adalah akumulasi dan retensi pla, frekuensi asupan
karbohidrat, frekuensi pajanan terhadap makanan asam, faktor pelindung alami seperti pelikel dan saliva, serta

fluoride dan elemen-elemen lain yang dapat menegontrol perkembangan karies (17). Plak adalah lapisan
polisakarida semi transparan yang melekat dengan kuat kepada permukaan gigi dan mengandung organisme
phatogen. Ekumuasi dan retensi plak akan mengakibatkan peningkatan fermentasi karbohidrat oleh bakteri
asidogenik, dimana metabolisme bakteri dalam keadaan maksimal dapat menyababkan Ph permukaan gigi
turun dengan cepat. Tingkat penurunan Ph Brgantung pada ketebalan plak, jumlah dan jenis bakteri dalam
plak, kemampuan buffer saliva dan faktor-faktor lain (17).

Penyebab lain karies adalah frekuensi asupan karbohidrat yang akan di metabolism oleh bakteri plak.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa banyaknya asupan karbohidrat dihitung berdasarkan seringnya
kebiasaan makan seseorang dan bukan jumlah karbohidrat sekali makan. Asam yang dihasilkan oleh
fermentasi karbohidrat sebenarnya adalah asam lemah dan hanya menyebabkan sedikit demineralisasi. Akan
tetapi, dengan konsumsi karbohidrat yang banyak dalam waktu yang lama disertai dengan menurunnya
kemampuan saliva tentunya akan menyebabkan perkembangan karies menjadi lebih pesat (17).

Pajanan asam terhadap gigi tidak tidak hanya berasal dari hasil fermentasi karbohidrat oleh bakteri, tetapi juga
dapat disebabkan oleh konsumsi makanan asam dan gastic fluxed acid. Sumber asam yang dikonsumsi bisa
berasal dari soft drink, sport drink dan jus buah. Frekuensi pajanan terhadap jenis-jenis makanan tersebut akan
menyebabkan demineralisasi dengan cepat, mengubah karies ringan menjadi berat bahkan dapat menyebabkan
karies rampan (17). Faktor pelindung gigi dari asam adalah saliva. Sebuah penelitian klinis menunjukkan
peningkatan kerusakan struktur gigi dnegan cepat yang diakibatkan oleh xerostomia. Saliva berperan penting
dalam melindungi struktur gigi karena memiliki kemampuan buffering, dapat membentuk pellicle,
kemampuan membersihkan rongga mulut secara alami, serta mengandung ion Ca
2+
, HPO
4
2-
dan fluoride (17).
Gambar 2. Interaksi faktor-faktor etiologi dalam rongga mulut. Dikutip dari Prevention and
restoration of tooth structure 2
nd
ed
3
(17).

PATOGENESIS KARIES GIGI
Komponen mineral enamel, dentin dan sementum adalah hidroksiapatit (HA) yang tersusun atas
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2.
Pertukaran ion mineral antara

permukaan gigi dengan biofilm oral senantiasa terjadi setiap
kali makan dan minum. Dalam keadaan normal, HA berada dalam kondisi seimbang dengan saliva yang
tersaturasi oleh ion Ca
2+
dan PO
4
3-
. HA akan reaktif terhadap ion-ion hidrogen pada atau dibawah Ph 5,5 yang
merupakan Ph kritis tersebut, ion H
+
akan bereaksi dengan ion PO
4
3-
dalam saliva. Proses ini akan merubah
PO
4
3-
menjadi HPO
4
2-
. HPO
4
2-
yang terbentuk kemudian akan mengganggu keseimbangan normal HA dengan
saliva, sehingga Kristal HA pada gigi akan larut. Proses ini disebut demineralisasi (17).







Gambar 3. Siklus demineralisasi dan remineralisasi. Dikutip dari Prevention and Restoraton of Tooth
Structure 2
nd
ed
3
(17).

Proses demineraisasi dapat berubah kembali, atau mengalami remineralisasi apabila Ph ternetralisir dan dalam
lingkungan tersebut terdapat ion Ca
2+
dan PO
4
3-
yang mencukupi. Ion-ion Ca
2+
dan PO
4
3-
yang terdapat di
dalam saliva dapat menghambat proses disolusi Kristal-kristal HA. Interaksi ini akan semakin meningkat
dengan adanya ion fluoride yang dapat membentuk fluorapatit (FA). FA memiliki Ph kritis 4,5 sehingga

bersifat lebih tahan terhadap asam (17).Mekanisme terjadinya karies berhubungan dengan proses
demineralisasi dan remineralisasi. Plak pada permukaan gigi terdiri dari bakteri yang memproduksi asam
sebagai hasil dari metabolismenya. Asam ini kemudian akan melarutkan mineral kalsium fosfat pada enamel
gigi atau dentin dalam proses yang disebut demineralisasi. Apabila proses ini tidak dihentikan atau dibalik
menjadi remineralisasi, maka akan terbentuk kavitas pada enamel, yaitu karies (17).

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plaque di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa
makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan
menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) dan akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi
karies gigi. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi
belum sampai kavitasi (pembentukan lubang) (18).

Kavitasi baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral
hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang
makrokopis dapat dilihat. Pada karies dentin yang baru mulai terlihat hanya lapisan keempat (lapisan
transparan, terdiri dari tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme
dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/tidak tembus penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak
yang mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblast). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri
akan menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat lapisan-lapisan tiga (lapisan
demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular diserang), lapisan empat dan lapisan lima (18).

Akumulasi plak pada permukaan gigi utuh dalam dua sampai tiga minggu menyebabkan terjadinya bercak
putih. Waktu terjadinya bercak putih menjadi kavitasi tergantung pada umur, pada anak-anak 1,5 tahun
dengan kisaran 6 bulan ke atas dan ke bawah, pada umur 15 tahun, 2 tahun dan pada umur 21-24 tahun,
hampir tiga tahun. Tentu saja terdapat perbedaan individual. Sekarang ini karena banyak pemakaian flourida,
kavitasi akan berjalan lebih lambat daripada dahulu (18).

Pada anak-anak, kerusakan berjalan lebih cepat dibanding orang tua, hal ini disebabkan:
1) Email gigi yang baru erupsi lebih mudah diserang selama belum selesai maturasi setelah erupsi
(meneruskan mineralisasi dan pengambilan flourida) yang berlangsung terutama 1 tahun setelah erupsi.
2) Remineralisasi yang tidak memadai pada anak-anak, bukan karena perbedaan fisiologis, tetapi sebagai
akibat pola makannya (sering makan makanan kecil)
3) Lebar tubuli pada anak-anak mungkin menyokong terjadinya sklerotisasi yang tidak memadai
4) Diet yang buruk dibandingkan dengan orang dewasa, pada anak-anak terdapat jumlah ludah dari kapasitas
buffer yang lebih kecil, diperkuat oleh aktivitas proteolitik yang lebih besar di dalam mulut (18).

GAMBARAN KLINIS

Karies sering dimulai pada pit dan fisur, interproksimal gigi, dan bagian servikal gigi. Karies dimulai dari
lapisan enamel atau sementum, dan menyebar ke dalam lapisan gigi. Perkembangan karies dimulai dengan
tanda-tanda dini seperti bercak putih (white spot), dan demineralisasi opak pada permukaan gigi. Hal ini
disebabkan karena terjadi pelepasan ion kalsium dan fosfat dari prisma enamel.Pada keadaan ini permukaan
gigi masih terlihat utuh, namun terlihat garis putih di bagian servikal vestibulum dan palatal gigi insisivus.
White spot ini ditemukan pada area yang mudah tertimbun plak seperti permukaan gigi incisivus maksila, area
pit dan fissur serta dibawah kontak point diantara gigi geligi. Pada tahapan ini, lesi yang terbentuk masih
bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan penjagaan oral hygiene yang baik, aplikasi fluor, dan perubahan
diet (19).

Tahapan seterusnya turut melibatkan lapisan dentin karena permukaan enamel telah mengalami destruksi.
Dentin tersingkap dan kelihatan kekuningan dan lunak apabila diekskavasi.23 Pada tahapan ini juga akan
menunjukkan molar maksila mengalami lesi permulaan pada bagian servikal, proksimal, dan oklusal
(19).Proses karies yang berkelanjutan akan menunjukkan karakteristik lesi yang besar, dalam dan berwarna
cokelat22 pada insisivus maksila, dan iritasi pulpa. Akhir dari proses karies ini akan menunjukkan fraktur
pada seluruh permukaan korona gigi geligi anterior maksila sebagai akibat daripada amelodentinal destruction
(19).







































Gambar 4. Gambaran Perjalanan Klinis Penyakit Karies Gigi pada Anak

PENGENALAN FAKTOR RISIKO

Faktor risiko tertinggi untuk karies adalah celah, lubang atau daerah interproksimal dimana plak
memungkinkan perkembangan dari inisiasi kavitasi. Faktor sosial dan perilaku seperti penyakit kronis tidak
menular, status sosial-ekonomi rendah, keluarga imigran, kurangnya pengetahuan kesehatan dan tingkat
pendidikan yang rendah pada orang tua, khususnya ibu juga merupakan faktor risiko untuk sejumlah penyakit
termasuk karies pada anak usia dini. Sebuah tinjauan literatur sistematis dari literatur internasional tahun1966-
2002 diidentifikasi publikasi sejumlah 260 buah tentang ini, kemudian dianalisis pentingnya faktor-faktor
risiko individu untuk karies pada gigi sulung. Sebanyak 106 faktor risiko kejadian karies diidentifikasi,
kombinasi yang paling signifikan adalah infeksi awal dengan S. mutans, pola diet yang tidak menguntungkan,
dan banyaknya asupan gula dengan kebersihan mulut yang kurang (20).
Awal Proses
Etiologis
Plak,karbo,
asam, saliva
Pencegahan
Primer
Awal Penyakit
Klinis
Akumulasi plak
=> bercak putih
Awal Proses
Patologis
Demineralisasi
dan
Remineralisasi
Pencegahan
Sekunder

Awal Akibat
Penyakit
Plak - Fraktur
Pencegahan
Tersier
Fase Susebtible
(Rentan)
-Saliva
-Flow
-PH
-Konsistensi
Akumulasi Plak
-PH
-Bakteri
-Diet

Fase
Subklinis
(asimtomatis)
Kehilangan
ion-ion
mineral



Masa laten
Akumulasi plak 2-3
minggu
Proses
induksi
Umur
dan
fluoridaa
Fase Klinis
bercak putih
(white spot
lesion) dan
melunaknya
akar gigi
Durasi
Usia 1,5 thn < 6
bln atau > 6 bln
15 thn= 2 thn
21-24 thn = 3 thn


Proses
Ekspres
i

Proses
promosi
Asimptomatis
 simtomatis
Fase
Penyembuhan

Gambar 5. Model Penjelasan karies anak usia dini: dampak terhadap anak yang sedang berkembang
(Pine et al, 2004. [21]).

Mereka menyimpulkan bahwa kemiskinan mempengaruhi perkembangan karies sekuat berbagai faktor etnis.
Kolaborasi ini selanjutnya menyimpulkan bahwa dampak dari perilaku yang berhubungan dengan kesehatan
pada penyakit dapat bergantung pada pengaturan dan pertimbangan pengaturan dapat mengaktifkan beberapa
pola perilaku untuk diprediksi (20).
Gambar 6. Hubungan antara sikap, perilaku dan penyakit (Pine et al, 2004. [21]).

Faktor di Dalam Mulut
1. Struktur gigi dan saliva, struktur gigi merupakan salah satu faktor yang bisa memicu terjadinya karies.
Semua makanan yang masuk ke dalam mulut harus dilumatkan dengan cara dikunyah. Proses pelumatan
oleh gigi dibantu saliva. Saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies yang berfungsi sebagai
pelicin, pelindung, penyangga, pembersih, anti pelarut dan anti bakteri (22,23).
2. Mikroorganisme, bakteri streptococcus mutans mengeluarkan racun yang tidak terlihat secara kasat mata.
Bakteri tersebut berperan dalam proses awal karies yang terlebih dulu masuk ke lapisan luar email.
Selanjutnya Lactobacillus acidophilus mangambil alih peranan yang lebih merusak gigi.
Mikroorganisme menempel di gigi bersama plak. Plak terdiri dari mikroorganisme (70%) dan bahan
antar sel (30%). Plak akan tumbuh bila ada karbohidrat, sedangkan karies akan terjadi bila ada plak dan
karbohidrat (22,23).
3. Substrat atau karbohidrat, substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang menempel di
permukaan gigi. Substrat berpengaruh terhadap karies secara lokal di dalam mulut. Substrat yang
menempel di permukaan gigi berbeda dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh untuk pertumbuhan
dan perkembangan gigi saat pembentukan matriks, email, dan kalsifikasi. Nutrisi tersebut adalah
karbohidrat, lemak dan protein. Konsumsi karbohidrat dalam waktu lama akan mempengaruhi
pembentukan matriks email yang nantinya akan menjadi karies. Frekuensi konsumsi gula sederhana yang
tinggi menentukan waktu terjadinya karies (22,23).
4. Waktu, adalah kecepatan terbentuknya karies atau lamanya substrat menempel di permukaan gigi.
Kecepatan kerusakan gigi akan jelas terlihat dengan timbulnya karies menyeluruh dalam waktu yang
singkat. Selain itu penyebab karies adalah lamanya substrat yang berada dalam rongga mulut yang tidak
langsung ditelan. Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang
berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk
berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6 ampai 48 bulan (22,23).

Faktor di Luar Mulut
1. Umur, sejalan dengan pertambahan usia seseorang, jumlah karies pun bertambah. Hal ini jelas, karena
faktor risiko terjainya keries akan lebih lama berpengaruh terhadap gigi. Anak yang pengaruh faktor
risiko terjadinya karies kecil akan menunjukkan jumlah karies yang lebih besar dibanding yang kuat
pengaruhnya (22,23).

2. Jenis kelamin, prevalensi karies gigi tetap wanita lebih tinggi dibanding pria. Demikian pula pada anak-
anak, prevalensi karies gigi susu anak perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki karena
gigi perempuan lebih lama di dalam mulut. Akibatnya gigi perempuan akan lebih lama berhubungan
dengan faktor risiko terjadinya karies (22,23).
3. Ras, pengaruh terhadap terjadinya karies gigi amat sulit ditentukan. Tetapi keadaan tulang rahang suatu
ras mungkin berhubungan dengan prosentase karies yang semakin meningkat atau menurun. Misalnya
pada ras tertentu pada rahang yang sempit sehingga pada rahang-rahang sering tidak tumbuh teratur.
Keadaan gigi yang tidak teratur akan mempersulit pembersihan gigi dan akan mempertinggi prosentase
karies pada ras tertentu (23).
4. Keturunan, dari suatu penelitian terdapat 12 pasang orang tua dengan keadaan gigi yang baik, terlihat
bahwa anak-anak dari 11 pasang orang tua memiliki keadaan gigi yang cukup baik. Di samping itu, dari
46 pasang orang tua, hanya 1 pasang yang memiliki anak dengan gigi yang baik, 5 pasang dengan
prosentase karies sedang dan 40 pasang dengan prosentase karies sedang dan 40 pasang dengan
prosentase karies yang tinggi. Tapi dengan teknik pencegahan karies yang demikian maju pada akhir-
akhir ini, sebetulnya faktor keturunan dalam prosentase terjadinya karies tersebut telah dapat dikurangi
(23).
5. Faktor sosial penduduk. perilaku sosial dan kebiasaan akan menyebabkan perbedaan jumlah karies. Di
Selandia Baru, prevalensi karies anak dengan sosial ekonomi rendah di daerah yang air minumnya
difluoridasi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang air minumnya tidak difluoridasi. Selain itu,
perbedaan suku, budaya, lingkungan dan agama akan menyebabkan keadaan karies yang berbeda pula
(22).
6. Tingkat sosial ekonomi, latar belakang ini adalah masalah budaya dan pendapatan yang rendah dapat
memungkinkan tingginya angka kejadian karies gigi pada kelompok masyarakat tertentu. Hal ini
disebabkan karena kelompok masyarakat tersebut masih menggunakan cara tradisional dalam
membersihkan gigi yaitu dengan menggunakan tanha liat. Selain itu, masyarakat tersebut tidak dapat
melakukan pemeriksaan ke dokter gigi karena memiliki pendapatan yang rendah (22). Penelitian pada
SKRT (2001) menyebutkan bahwa 75% masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah pernah
mengalami karies gigi. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat yang berstatus
sosial ekonomi tinggi (23).
7. Tingkat pendidikan, dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang karena semakin tinggi pendidikan
seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat pengetahuan dan kesadaran untuk menjaga kesehatan
(22). Hasil penelitian Lukito (2003), menunjukkan bahwa angka karies tertinggi diderita pada anak yang
tingkat pendidikan orang tuanya rendah yaitu sebesar 63,25%. Selanjutnya, pada penelitian lain juga
disebutkan bahwa angka prevalensi karies pada penduduk yang tidak tamat sekolah dasar sebesar 78%
dan pada penduduk yang tamat sekolah dasar sebesar 67% (23).
8. Kebiasaan sikat gigi, penyakit karies gigi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
mikroorganisme yang ada dalam plak gigi. Cara yang dapat digunakan untuk mengontrol plak tersebut
adalah dengan menyikat gigi (22). Hasil penelitian menurut Evron (2003) dalam Romadhona (2009),
menyatakan bahwa prevalensi karies gigi pada anak yang memiliki sikap dan perilaku positif terhadap
kebiasaan yang baik untuk menyikat gigi sebesar 9%. Sedangkan pada SKRT (1995), menyatakan bahwa
proporsi penduduk yang tidak menyikat gigi sebesar 31,7% dan yang menderita karies gigi sebesar 63%
(23).
9. Kesadaran sikap dan perilaku individu terhadap kesehatan gigi, fase perkembangan anak umur di bawah
5 tahun masih sangat tergantung pada pemeliharaan, bantuan dan pengaruh dari ibu. Peranan ibu sangat
menentukan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam bidang kesehatan, peranan seorang ibu
sangat menetukan. Jadi, kesadaran, sikap, dan perilaku serta pendidikan ibu sangat mempengaruhi
kesehatan gigi dan mulut anak (22,23).
Penilaian tingkat risiko karies anak

Semua anak pada umumnya mempunyai risiko terkena karies dan perawatannya juga berbeda pada setiap
tingkatan. Tingkat risiko karies anak terbagi atas tiga kategori yaitu risiko karies tinggi, sedang dan rendah.
Pembagian risiko karies ini berdasarkan pengalaman karies terdahulu, penemuan di klinik, kebiasaan diet,
riwayat sosial, penggunaan fluor, kontrol plak, saliva dan riwayat kesehatan umum anak.4,5 Anak yang
berisiko karies tinggi harus mendapatkan perhatian khusus karena perawatan intensif dan ekstra harus segera

dilakukan untuk menghilangkan karies atau setidaknya mengurangi risiko karies tinggi menjadi rendah pada
tingkatan karies yang dapat diterima pada kelompok umur tertentu sehingga target pencapaian gigi sehat tahun
2010 menurut WHO dapat tercapai. Oleh sebab itu makalah ini akan membahas mengenai pencegahan primer
pada anak yang berisiko karies tinggi (24).

Risiko karies adalah kemungkinan berkembangnya karies pada individu atau terjadinya perubahan status
kesehatan yang mendukung terjadinya karies pada suatu periode tertentu. Risiko karies bervariasi pada setiap
individu tergantung pada keseimbangan faktor pencetus dan penghambat terjadinya karies.6 Risiko karies
dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu risiko karies tinggi, sedang dan rendah. Agar dapat mengidentifikasi risiko
karies anak digunakan suatu penilaian risiko karies. Penilaian risiko karies ini merupakan suatu metode
evaluasi klinik di mana dokter gigi nantinya dapat menyesuaikan tindakan pencegahan dan perawatan pada
setiap anak. Penilaian risiko karies ini harus dilakukan pada setiap anak sebagai suatu pemeriksaan dasar rutin.
Menurut American Academy of Pediatric Dentistry, penilaian risiko karies pada anak berdasarkan atas tiga
bagian besar indikator karies yaitu: kondisi klinik, karakteristik lingkungan, dan kondisi kesehatan umum
(24).

PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit ini terbagi menjadi tiga yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Penjelasan
masing-masing adalah sebagai berikut : 1.) Tindakan pencegahan primer yaitu suatu bentuk prosedur
pencegahan yang dilakukan sebelum gejala klinik dari suatu penyakit timbul, dengan kata lain pencegahan
sebelum terjadinya penyakit. Tindakan pencegahan primer ini meliputi:(a)Modifikasi kebiasaan anak, yang
bertujuan untuk merubah kebiasaan anak yang salah mengenai kesehatan gigi dan mulutnya sehingga dapat
mendukung prosedur pemeliharaan dan pencegahan karies. (b)Pendidikan kesehatan gigi mengenai kebersihan
mulut, diet dan konsumsi gula dan kunjungan berkala ke dokter gigi lebih ditekankan pada anak yang berisiko
karies tinggi. Pemberian informasi ini sebaiknya bersifat individual dan dilakukan secara terus menerus
kepada ibu dan anak (25)

(c) Diet dan Konsumsi Gula, salah satu tindakan pencegahan pada karies tinggi. Hal ini dapat dilaksanakan
dengan cara nasehat diet dan bahan pengganti gula. Salah satu nasihat diet yang dianjurkan adalah memakan
makanan yang cukup jumlah protein dan fosfat yang dapat menambah sifat basa dari saliva. Xylitol dan
sorbitol merupakan bahan pengganti gula yang sering digunakan, berasal dari bahan alami serta mempunyai
kalori yang sama dengan glukosa dan sukrosa yang dapat dijumpai dalam bentuk tablet, pastiles, permen
karet, minuman ringan, farmasi dan lainlain. Menurut penelitian, xylitol lebih efektif karena xylitol tidak dapat
dimetabolisme oleh bakteri dalam pembentukan asam dan mempunyai efek anti bakteri.(d) Kebersihan mulut,
termasuk penyikatan gigi, flossing dan profesional propilaksis disadari sebagai komponen dasar dalam
menjaga kebersihan mulut. Keterampilan penyikatan gigi harus diajarkan dan ditekankan pada anak di segala
umur. Anak di bawah umur 5 tahun tidak dapat menjaga kebersihan mulutnya secara benar dan efektif maka
orang tua harus melakukan penyikatan gigi anak setidaknya sampai anak berumur 6 tahun kemudian
mengawasi prosedur ini secara terus menerus. (e)Silen, harus ditempatkan secara selektif pada pasien yang
berisiko karies tinggi. Prioritas tertinggi diberikan pada molar pertama permanen di antara usia 6–8 tahun,
molar kedua permanen di antara usia 11–12 tahun, prioritas juga dapat diberikan pada gigi premolar permanen
dan molar susu. Bahan silen yang digunakan dapat berupa resin maupun glass ionomer(25).

(f)Penggunaan fluor, yang telah digunakan secara luas untuk mencegah karies. Penggunaan fluor dapat
dilakukan dengan fluoridasi air minum, pasta gigi dan obat kumur mengandung fluor, pemberian tablet fluor,
topikal varnis. Fluoridasi air minum merupakan cara yang paling efektif untuk menurunkan masalah karies
pada masyarakat secara umum. Menurut penelitian Murray and Rugg-gun cit. Linanof bahwa fluoridasi air
minum dapat menurunkan karies 40–50% pada gigi susu. Bila air minum masyarakat tidak mengandung
jumlah fluor yang optimal, maka dapat dilakukan pemberian tablet fluor pada anak terutama yang mempunyai
risiko karies tinggi. Pemberian tablet fluor disarankan pada anak yang berisiko karies tinggi dengan air minum
yang tidak mempunyai konsentrasi fluor yang optimal (2,2 mg NaF, yang akan menghasilkan fluor sebesar 1
mg per hari). Jumlah fluor yang dianjurkan untuk anak di bawah umur 6 bulan–3 tahun adalah 0,25 mg, 3–6
tahun sebanyak 0,5 mg dan untuk anak umur 6 tahun ke atas diberikan dosis 0,5–1 mg. Penyikatan gigi dua
kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor terbukti dapat menurunkan karies. Obat
kumur yang mengandung fluor dapat menurunkan karies sebanyak 20–50%. Seminggu sekali berkumur

dengan 0,2% NaF dan setiap hari berkumur dengan 0,05% NaF dipertimbangkan menjadi ukuran kesehatan
masyarakat yang ideal. Penggunaan obat kumur disarankan untuk anak yang berisiko karies tinggi atau selama
terjadi kenaikan karies. Obat kumur ini tidak disarankan untuk anak berumur di bawah 6 tahun. Pemberian
varnis fluor dianjurkan bila penggunaan pasta gigi mengandung fluor, tablet fluor dan obat kumur tidak cukup
untuk mencegah atau menghambat perkembangan karies. Pemberian varnis fluor diberikan setiap empat atau
enam bulan sekali pada anak yang mempunyai risiko karies tinggi. Salah satu varnis fluor adalah Duraphat
(colgate oral care) merupakan larutan berkala, 3 atau 4 bulan sekali untuk melihat keberhasilan tindakan
pencegahan yang dilakukan serta penilaian tingkat risiko karies anak (25).

Berdasarkan kajian konsep pencegahan primer pada anak yang berisiko karies tinggi, maka dapat disimpulkan
bahwa anak yang berisiko karies tinggi harus mendapatkan perhatian khusus karena perawatan intensif dan
ekstra harus dilakukan untuk menghilangkan karies atau setidaknya mengurangi terjadinya karies tinggi
menjadi rendah. Tindakan pencegahan yang lebih baik dilakukan adalah pencegahan primer dengan cara
modifikasi kebiasaan anak dan perlindungan terhadap gigi (25).

2,)Pencegahan sekunder merupakan tahap awal patogenesis dimana tindakan yang dilakukan untuk
menghambat atau mencegah penyakit agar tidak berkembang atau kambuh lagi. Kegiatannya ditujukan pada
diagnosa dini dan pengobatan yang tepat. Sebagai contoh, melakukan penambalan pada lesi karies yang kecil
dapat mencegah kehilangan struktur gigi yang luas. 3.)Pencegahan tersier yaitu penggunaan tindakan-tindakan
yang diperlukan untuk mengganti jaringan yang hilang dan untuk merehabilitasi pasien kesuatu keadaan
sehingga kemampuan fisik dan atau sikap mentalnya sedapat mungkin mendekati nol setelah gagalnya
pencegahan sekunder. Sebagai contoh adalah pembuatan g igi tiruan (25).

KESIMPULAN

1. Indonesia merupakan Negara berkembang dengan prevalensi penyakit tidak menular yang cukup tinggi,
salah satunya adalah penyakit gigi dan mulut. Penyakit tersebut adalah karies gigi dan ini terjadi pada
kelompok usia anak yaitu ±12 tahun. Pada Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2006 terdapat
76,2% anak Indonesia pada kelompok usia 12 tahun mengalami gigi berlubang.
2. Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak salah satunya adalah perilaku kontrol
gigi pada orang tua. Anak masih sangat tergantung pada orang dewasa dalam hal menjaga kebersihan dan
kesehatan gigi.
3. Anak usia antara 6-12 tahun atau anak usia sekolah masih kurang mengetahui dan mengerti memelihara
kebersihan gigi dan mulut, terbukti pada anak-anak hanya sekitar 4% kunjungan ke dokter gigi.

SARAN

Adanya sosialisasi dan penyadaran terhadap masyarakat khususnya orang tua dalam menjaga kebersihan dan
kesahatan gigi pada anak. Selain itu, dari pihak sekolah dapat bekerjasama dengan lintas sektor seperti tenaga
kesehatan untuk melakukan promotif dan preventif mengenai cara sikat gigi yang benar dan tepat waktu
kepada anak-anak khususnya pada kelompok berisiko yaitu umur ±12 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

1. The WHO Health Promotion Glossary 1998.
http//www.who.int/healthpromotion/about/HPR%20Glossary%201998.pdf. Accessed April 29,2012
2. Depkes. Perjalanan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.2002:12-20
3. Healthy Eating dan Active Living For Your 1-5 Year Old. Available at:
www.health.alberta.ca/documents/HEAL-Brochure-1-5.pdf. Accessed November 18,2011.
4. Hidayati S, Irawan R, Hidayat B. Obesitas pada Anak. Ilmu Kesehatan Anak FK Unair:1-11.
5. Cinar AB, Christensen LB, Hede B Clustering of Obesity and Dental Caries with Lifestyle Factors Among
Danish Adolescents. Oral Health Prev Dent. 2011:123-130.
6. Cinar B, Murtomaa H. Clustering of Obesity and Dental Health with Lifestyle Factors among Turkish and
Finnish Pre-Adolescents. Obesity Facts. 2008:196-202.

7. Hong L, dkk. Obesity and Dental Caries in Children Aged 2-6 Years in the United States: National Health
and Nutrition Examination Survey 1999-2002. American Assoc of Public Health Dent. 2008;68(4):227-
233.
8. Hilgers K, dkk. Clhildhood Obesity and Dental Development. Ped Dent. 2006;28(2):47-53.
9. Karels A, Cooper B. Obesity and Its Role in Oral Health. The Internet J of Allied Health Sci and Pract.
2007;5(1):1-5.
10. Yussac M, dkk. Prevalensi Obesitas pada Anak Usia 4-6 Tahun dan Hubungannya dengan Asupan Serta
Pola Makan. Maj Kedokt Indon. Februari 2007;57(2):47-53.
11. Istib, Istibsyaroh.2012. Epidemiologi Karies. http://www.scribd.com/doc/99003395/Epidemiologi-
Karies.[Diakses Tanggal : 25 Mei 2014]
12. Radiah, Mintjelungan, C. dan Mariati, Ni Wayan.2013.Gambaran Status Karies dan Pola Pemeliharaan
Kesehatan Gigi dan Mulut pada Mahasiswa Asal Ternate di
Manado.http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:6Ndb_IkbVI8J:ejournal.unsrat.ac.id/inde
x.php/egigi/article/download/1929/2168+&cd=3&hl=id&ct=clnk. [Diakses Tanggal : 25 Mei 2014]
13. http://dc613.4shared.com/doc/3WZx7Yza/preview.html
14. Riskesdas (2007). “Riset Kesehatan Dasar, Laporan Nasional 2007”,
http://www.k4health.org/system/files/laporanNasional%20Riskesdas%202007.pdf
15. M.H. Hobdell, E,R, Oliveira, R. Bautista, N.G.Mayburgh, R.Lalloo, S.Narendran and N.W. Johnson.
“Oral Diseases and socio-economic status (SES)”: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12577077.
16. Prasetya, Rendra Chriested.2008.Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri Saliva Pada Anak-Anak Karies
Dan Non Karies Setelah Mengkonsumsi Minuman Berkarbonasi. Jakarta: Indonesian Journal of Dentistry
2008;15 (1 ): 65-70 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.http//www.fkg.ui.edu diakses tanggal
20 Mei 2014
17. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.2013. Karies pada Perawatan Ortodonti Cekat.
lontar.ui.ac.id diakses tanggal 21 Mei 2014
18. Universitas Udayana. 2013.Karies Gigi. http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-395-
758510795-bab%20ii.docx%20new%20prop.pdf diakses tanggal 21 Mei 2014
19. Universitas Sumatera Utara.2011.Karies Gigi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24756/3/Chapter%20II.pdf diakses tanggal 22 Mei 2014
20. Borutta, Annerosa; Wagner, Maig; Kneist, Susanne. 2010. Early Childhood Caries: A Multi-Factorial
Disease. Germany : OHDMBSC
21. Pine CM, Adair PM, Petersen PE, Douglass Ch,Burnside G, Nicoll A, et al. Developing explanatory
models ofhealth inequalities in childhood dental caries. Community Dental Health 2004; 21: 86-95.
22. 1.Suwelo IS. Karies gigi sulung dan urutan besar peranan faktor resiko terjadinya karies. Tesis.
Yogyakarta: Universitas Gajah Mada; 1988. h. 6–30
23. Kusumawati, Rina. 2010. Hubungan Tingkat Keparahan Karies Gigi dengan Status Gizi Siswa Kelas Dua
SDN 01 Ciangsana Desa Ciangsana Kabupaten Bogor tahun 2010. Jakarta : Universitas Islam Negeri
Syarief Hidayatullah
24. Angela, Ami. 2005. Pencegahan Primer Pada Anak yang Berisiko Karies Gigi. Universitas Sumatra Utara:
Medan
25. Sriyono, Niken Widyati. 2009. Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut Guna Meningkatkan Kualitas Hidup.
Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta