You are on page 1of 57

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

(PBB)
LANDASAN HUKUM :
 UU No. 12 Tahun 1985 sebagaimana diubah
dalam UU No. 12 Tahun 1994 tentang PBB
(PBB Sektor P3)
 UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah
(PBB Sektor P2)

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ( PBB )

ADALAH
PAJAK KEBENDAAN ATAS
BUMI DAN/ATAU BANGUNAN
DIKENAKAN TERHADAP SUBJEK PAJAK
ORANG PRIBADI ATAU BADAN SECARA NYATA:
 MEMPUNYAI HAK DAN/ATAU MEMPEROLEH MANFAAT ATAS
BUMI, DAN/ATAU
 MEMILIKI, MENGUASAI, DAN/ATAU MEMPEROLEH MANFAAT
ATAS BANGUNAN
OBJEK PAJAK
BANGUNAN BUMI
ADALAH :
PERMUKAAN BUMI YG MELIPUTI
TANAH DAN PERAIRAN
PEDALAMAN SERTA LAUT
WILAYAH INDONESIA, DAN TUBUH
BUMI YANG ADA DIBAWAHNYA
ADALAH :
KONSTRUKSI TEHNIK YANG
DITANAM ATAU DILEKATKAN
SECARA TETAP PADA
TANAH DAN/ATAU
PERAIRAN
OBJEK PAJAK
BANGUNAN
TERMASUK DALAM PENGERTIAN BANGUNAN ADALAH :
Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti
hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu
kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut;
Jalan tol;
Kolam renang;
Pagar mewah;
Tempat olah raga;
Galangan kapal, dermaga;
Taman mewah;
Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak;
 Menara
Fasilitas lain yang memberikan manfaat.
FAKTOR YANG MENENTUKAN
KLASIFIKASI OBJEK PAJAK
BUMI/TANAH
Letak
Peruntukan
Pemanfaatan
Kondisi lingkungan
Dan lain-lain
BANGUNAN
Bahan bangunan
Rekayasa
Letak
Kondisi lingkungan
Dan lain-lain
OBJEK PAJAK
YANG TIDAK DIKENAKAN PBB
ADALAH OBJEK PAJAK YANG
 Digunakan oleh Pemerintah dan Daerah untuk penyelenggaraan pemerintahan
 Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah,
sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional, yang nyata-nyata tidak
dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan;
Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis dengan itu;
Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional,
tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum
dibebani suatu hak;
Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan
timbal balik;
Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan
oleh Menteri Keuangan.
SUBJEK PAJAK
ORANG ATAU BADAN
Memperoleh
Manfaat atas
bangunan
Memperoleh
Manfaat atas
bumi
Memiliki,
menguasai
bangunan
Mempunyai suatu
hak
atas bumi

SUBJEK
PAJAK
Dikenakan
kewajiban
membayar pajak

WAJIB
PAJAK
PENETAPAN
PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN
DASAR PENGENAAN
N J O P
(Nilai Jual Objek Pajak)
Adalah harga rata-rata yang diperoleh dari harga transaksi jual beli
yang terjadi secara wajar
Bilamana tidak terjadi transaksi jual beli, Nilai jual objek pajak
ditentukan melalui:
-Perbandingan harga dengan objek pajak lain yang sejenis; atau
-Nilai perolehan baru; atau
-Nilai jual objek pajak pengganti
NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri
Keuangan kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan
setiap tahun sesuai perkembangan daerahnya
NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK
( NJOPTKP )
Pasal 3 ayat (3)
NJOPTKP
Rp. 8.000.000,00
untuk setiap Wajib Pajak
Per Wajib Pajak;
Diberikan untuk bumi dan/atau bangunan;
Apabila seorang Wajib Pajak mempunyai beberapa
objek pajak, yang diberikan NJOPTKP hanya salah
satu objek pajak yang nilainya terbesar.
UU No. 12 tahun 1994
NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK
( NJOPTKP )
Pasal 77
NJOPTKP
Paling Rendah Rp. 10.000.000,00
untuk setiap Wajib Pajak
Per Wajib Pajak;
Diberikan untuk bumi dan/atau bangunan;
Apabila seorang Wajib Pajak mempunyai beberapa
objek pajak, yang diberikan NJOPTKP hanya salah
satu objek pajak yang nilainya terbesar.
UU No. 28 tahun 2009

CARA MENGHITUNG
UU No. 12 tahun 1994

PBB = TARIF x N J K P x NJOP

= 0,5% x 20% x NJOP (< 1 milyar)
= 0,5% x 40% x NJOP (≥ 1 milyar, P3)
NJOP = ( NJOP BUMI + NJOP BANGUNAN ) - NJOPTKP
UU No. 28 tahun 2009

PBB = TARIF x NJOP

= 0,3% (max) x NJOP
DASAR PERHITUNGAN
Pasal 6 ayat (3) dan (4)
NILAI JUAL KENA PAJAK
SERENDAH-RENDAHNYA 20%
DAN
SETINGGI-TINGGINYA 100%
PRESENTASE NJKP
DITETAPKAN DENGAN PERATURAN
PEMERINTAH

CONTOH :
Objek P3 (UU No. 12/1994)
 Sebuah objek pajak perkebunan memiliki NJOP Rp 5.000.000.000,00. Jika
NJOPTKP ditentukan Rp 8.000.000,00, maka PBB terutang :
PBB = 0,5% x 40% x (Rp 5.000.000.000,00 – Rp 8.000.000,00)
= 0,5% x 40% x Rp 4.992.000.000,00
= Rp 9.984.000,00

Objek P2 (UU No. 28/2009)
 Sebuah objek pajak terletak di kawasan pedesaan memiliki NJOP sebesar Rp
100.000.000,00. Jika NJOPTKP ditentukan Rp 12.000.000,00, maka PBB
terutang (misal tarif 0,1%):
PBB = 0,1% x (Rp 100.000.000,00 – Rp 12.000.000,00)
= 0,1% x Rp 88.000.000,00
= Rp 88.000,00
 Sebuah objek pajak terletak di kawasan pemukiman elit memiliki NJOP sebesar
Rp 3.000.000.000,00. Jika NJOPTKP ditentukan Rp 12.000.000,00, maka PBB
terutang (misal tarif 0,3%):
PBB = 0,3% x (Rp 3.000.000.000,00 – Rp 12.000.000,00)
= 0,3% x Rp 2.988.000.000,00
= Rp 8.860.000,00
TAHUN PAJAK, SAAT, DAN
TEMPAT YANG MENENTUKAN
PAJAK TERUTANG

Tahun Pajak
Adalah jangka waktu satu tahun takwim, yaitu
dari tanggal 1 Januari s/d 31 Desember
Saat yang menentukan pajak terutang
Adalah menurut keadaan objek pajak pada
tanggal 1 Januari
Tempat Pajak Terutang
Untuk daerah Jakarta, di wilayah DKI Jakarta;
Untuk daerah lainnya, di wilayah Kabupaten
atau Kotamadya yang meliputi objek pajak.
PENERBITAN KETETAPAN
SPOP
SPPT
SKP
tidak disampaikan
dalam waktu 30 hari
disampaikan dalam
waktu 30 hari
BERDASARKAN PEMERIKSAAN/ DATA
LAIN SPOP TIDAK BENAR
Setelah ditegor secara tertulis
PENDATAAN
DAN PENILAIAN
PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN
PENDATAAN

WAJIB PAJAK MENGISI SPOP
JELAS
BENAR
LENGKAP
DITANDATANGANI
PENENTUAN NJOP
PENILAIAN OBJEK PAJAK
PENDEKATAN PENILAIAN

 Pendekatan Data Pasar (Market Data
Approach)
 Pendekatan biaya (Cost Approach)
 Pendekatan Pendapatan (Incame Approach)
CARA PENILAIAN
Penilaian Massal
Penilaian Individual
PENDEKATAN PENILAIAN
Pendekatan Data Pasar (Market Approach)
- NJOP dihitung dengan cara membandingkan Objek Pajak yang sejenis dengan
Objek Pajak lain yang telah diketahui harga pasarnya.
- Pendekatan ini pada umumnya digunakan untuk menentukan NJOP tanah, namun
dapat juga dipakai untuk menentukan NJOP bangunan.
Pendekatan Biaya (Cost Approach)
- Pendekatan ini digunakan untuk menentukan nilai tanah atau bangunan terutama
untuk menentukan NJOP bangunan dengan menghitung seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk membuat bangunan baru yang sejenis untuk dikurangi dengan
penyusutan phisiknya.
Pendekatan Pendapatan (income Approach)
- Pendekatan ini digunakan untuk menentukan NJOP yang tidak dapat dilakukan
berdasarkan pendekatan data pasar atau pendekatan biaya, tetapi ditentukan
berdasakan hasil bersih objek pajak tersebut.
- Pendekatan ini terutama digunakan untuk menentukan NJOP galian tambang atau
objek perairan.
CARA PENILAIAN
 Penilaian Masal (Mass Appraissal)
- NJOP bumi dihitung berdasarkan Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) terdapat
pada setiap zona Nilai Tanah (ZNT).
- NJOP bangunan dihitung berdasarkan Daftar Biaya Komponen Bangunan
(DBKB) dikurangi penyusutan phisik.
- Perhitungan penilaian massal dilakukan dengan menggunakan program
komputer (Computer Assisted Valuation / CAV).
• Penilaian Individual (Individual Appraissal)
Diterapkan untuk Objek tertentu yang bernilai tinggi atau keberadaannya
mempunyai sifat khusus, antara lain :
- Jalan tol
- Pelabuhan laut/sungai/udara
- Lapangan golf
- Industri semen/pupuk
- PLTA, PLTU, PLTG
- Pertambangan
- Tempat rekreasi
- Dal lain-lain sejenisnya
- Objek pajak tertentu, seperti rumah mewah, pompa bensin, jalan tol, lap.
Golf, objek rekreasi, usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
22
Penentuan NJOP PBB
Nilai Rata
-rata
Tanah
Kosong
NJOP
bumi
NJOP
Bangunan
Total
NJOP
Nilai
Bangunan
K
L
A
S
I
F
K
A
S
I
Peraturan Kepala Daerah
tentang Klasifikasi NJOP
CARA MENGHITUNG PBB
• Formula = 0,3%
*)
x NJOP

• Contoh :
Udin memiliki tanah dengan luas 500 m2 dan bangunan seluas 150
m2. Nilai tanah sekitarnya Rp 100.000/m2 dan nilai bangunan
setelah disusutkan Rp 1.000.000/m2


CARA MENENTUKAN NJOP
NJOP :
Nilai tanah 100.000/m2 dikonversi ke NJOP Rp 103.000 (klas 079)



Nilai bangunan 1.000.000/m2 dikonversi ke Rp 968.000 (klas 022)
Sumber :
Peraturan Menteri Keuangan Nomor -150/PMK.03/2010
CARA MENGHITUNG PBB

- NJOP bumi : 500 x Rp 103.000 = Rp 51.500.000
- NJOP bangunan : 150 x Rp 968.000 = Rp 145.200.000
NJOP Sbg Dsr Pengenaan Rp 196.700.000
NJOPTKP Rp 10.000.000
NJOP untuk perhitungan PBB Rp 186.700.000
PBB = 0,3% x Rp 186.700.000 Rp 560.100
*)Diasumsikan tarif sesuai Perda ditetapkan sebesar 0,3%
Tampilan di SPPT PBB
PER M2 JUMLAH
BUMI 500 079 103.000 51.500.000
BANGUNAN 150 022 968.000 145.200.000
NJOP sebagai dasar pengenaan PBB 196.700.000
NJOPTKP (NJOP Tidak Kena Pajak) 10.000.000
NJOP untuk penghitungan PBB 186.700.000
Pajak Bumi dan Bangunan yang Terutang 0,3% x 186.700.000 560.100
Pajak Bumi dan Bangunan yang Harus Dibayar (Rp) 560.100
NJOP (Rp)
OBJEK PAJAK LUAS (M2) KELAS
PENERIMAAN
DAN PENAGIHAN
PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN
TATA CARA PEMBAYARAN
DAN PENAGIHAN
DASAR PENAGIHAN

SPPT

S K P

S T P
6 bulan
1 bulan
1 bulan
SEJAK

D
I
T
E
R
I
M
A


TEMPAT
PEMBAYARAN
Bank
Tempat lain yg
ditunjuk
MENTERI KEUANGAN DAPAT MELIMPAHKAN KEWENANGAN
PENAGIHAN PAJAK KEPADA:
•GUBERNUR DAN/ATAU
BUPATI/WALIKOTAMADYA
PENDAFTARAN, PENAGIHAN, DAN SANKSI
ADMINISTRASI

SPOP
SKP
+Denda 25%
Dari pokok
pajak

SPPT
Ternyata SPOP tdk
benar (ketetapan
kurang)
SKP
+ denda 25 %
dari selisih pajak
terutang
6 bulan
JATUH
TEMPO
1 bulan
STP
+ bunga 2 %
sebulan
(maks 24 bln)
TEGORAN

SURAT
PAKSA
2X24 JAM
SURAT PERINTAH
MELAKUKAN
PENYITAAN

KLN
DIKEM-
BALIKA
N

JATUH
TEMPO
PERMINTAAN
JADWAL & WAKTU
PELELANGAN
30 Hari TIDAK
YA
Paling
cepat
10 hari
1
bln
21
hr
KEBERATAN DAN PENGURANGAN
PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN
KEBERATAN DAN BANDING
 Keberatan diajukan atas:
Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
Surat Ketetapan Pajak (SKP)
 Jangka waktu pengajuan keberatan adalah 3 bulan setelah SPPT atau
SKP diterima oleh WP kecuali WP dalam keadaan diluar kekuasaannya.
 Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keputusan atas keberatan WP
paling lama 12 bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima.
 Atas Keberatan yang diajukan, Direktorat Jenderal Pajak dapat menerima
seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah jumlah pajak
terutang.
 Keberatan dapat diajukan dalam hal terjadi perbedaan persepsi antara
Wajib Pajak dengan Fiskus.
 Wajib Pajak dapat mengajukan banding atas keberatan terhadap
keputusan Direktorat Jenderal Pajak kepada Badan Penyelesaian
Sengketa Pajak.
 Ketentuan banding PBB mengikuti ketentuan pasal 27 UU No. 6 Tahun
1983 tentang KUP sebagaimana telah diubah dengan UU NO. 9 Tahun
1994.
 Pengajuan keberatan atau banding tidak menunda pembayaran pajak.
Diajukan se lambat2 nya 3 bulan sejak tgl diterimanya
SPPT/SKP
Permohonan tertulis (Formulir )
Dilapiri fotokopi SPPT/SKP Tahun ybs
Fotokopi STTS Tahun pajak yang lalu
F otokopi KTP atau KK
Fotokopi Sertifikat/IMB/Akta Jual Beli/Data
Pendukung lain
Mengisi SPOP/LSPOP

PENGURANGAN
Menteri Keuangan
Dalam hal :
Kondisi tertentu objek pajak
yang ada hubungannya dengan
subjek pajak/sebab-sebab
tertentu lainnya
Objek pajak terkena bencana
alam atau sebab lain yang luar
biasa



Dirjen Pajak
atas permintaan
WAJIB PAJAK
Karena hal-hal tertentu
PAJAK
TERUTANG
DENDA
ADMINISTRASI
Pengurangan PBB diberikan kepada :
????
WP Pribadi/badan krn kondisi tertentu OP yg ada
hubungannya dengan subyek pajak dan atau
karena sebab2 tertentu lainnya
WP Pribadi, OP terkena bencana alam seperti gempa
bumi, banjir, tanah longsor, gunungmeletus atau sebab2
lain yg luar biasa : kebakaran, kekeringan, wabah
penyakit, serangan hama
WP adalah anggota veteran pejuang kemerdekaan &
veteran pembela kemerdekaan termasuk janda/duda
Janda/duda veteran kawin lagi paling tinggi 75 %
Syarat Pemberian Pengurangan
• Diberikan untuk satu OP dari beberapa OP dalam
satu kabupaten/kota
• OP banyak : Diberikan thd OP yang menjadi
domisili/tempat tinggal
• WP Badan dgn beberapa OP hanya diberikan
pengurangan untuk satu obyek pajak
Diajukan se lambat2 nya 3 bulan sejak tgl diterimanya SPPT
Atau sejak terjadinya bencana/sebab2 lain yg luar biasa
Permohonan tertulis, dilapiri fotokopi SPPT/SKP Tahun ybs
Fotokopi STTS Tahun pajak yang lalu
Fotokopi KTP atau KK
Fotokopi Tanda Anggota Veteran (bagi Veteran)
Fotokopi SK Pensiun (bagi pensiunan)
Surat pernyataan berpenghasilan rendah (bagi WP lainnya),
dilampiri FC KK, Rek. Listrik/air/telp

• Diajukan se lambat2 nya 3 bulan sejak tgl diterimanya
SPPT
• Atau sejak terjadinya bencana/sebab2 lain yg luar biasa
• Permohonan tertulis, dilapiri fotokopi SPPT/SKP th ybs
• Fotokopi STTS th pajak yang lalu
• Fotokopi KTP atau KK
• Fotokopi SPT PPh tahun pajak terakhir
• Fotokopi Laporan Keuangan Perusahaan atau Neraca
Rugi Laba Tahun Terakhir yang sudah diaudit oleh
akuntan publik (tidak termasuk kompensasi kerugian
tahun2 sebelumnya)



Pembetulan atas kesalahan yang bersifat
manusiawi yang tidak mengandung
persengketaan antara fiskus dan WP :
 Kesalahan tulis
 Kesalahan hitung
 Kekeliruan penerapan ketentuan perundangan


• MENGISI SPOP / LSPOP
• FOTOKOPI KTP / KK
• SPPT PBB TAHUN BERJALAN
• STTS TAHUN TREAKHIR
• FOTOKOPI SERTIFIKAT/AKTA JUAL BELI
• FOTOKOPI IMB (BILA BERKAITAN DG BANGUNAN)
• FOTOKOPI SSB

o FOTOKOPI SPPT PBB TAHUN SEBELUMNYA
oSTTS TAHUN SEBELUMNYA
oFOTOKOPI KTP / KK ATAU LAINNYA
oMENGISI FORMULIR
oFOTOKOPI SERTIFIKAT/AKTA JUALBELI
oFOTOKOPI SSB

o DIAJUKAN SECARA TERTULIS OLEH WP
o FOTOKOPI SPPT PBB TAHUN YBS
o FOTOKOPI KTP / KK/ IDENTITAS
LAINNYA
o FOTOKOPI STTS TAHUN SEBELUMNYA
PENENTUAN KEMBALI TANGGAL JATUH
TEMPO
• DIAJUKAN SECARA TERTULIS OLEH WAJIB
PAJAK/ KEPALA DESA/LURAH
• MELAMPIRKAN FOTOKOPI SPPT PBB DAN
BUKTI PENERIMAAN SPPT

PEMBEBASAN/PENGECUALIAN
PENGENAAN PBB
• OBYEK YANG DIKECUALIKAN ADALAH OBYEK YANG
– DIGUNAKAN SEMATA2 UNTUK KEPENTINGAN UMUM DI BID.
IBADAH, SOSIAL, PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL YG TDK
DIMAKSUDKAN MEMPEROLEH KEUNTUNGAN, SEPERTI MASJID,
GEREJA, RUMAH SAKIT PEMERINTAH, SEKOLAH, PANTI ASUHAN,
CANDI, DLL
– KUBURAN, PENINGGALAN PURBAKALA
– HUTAN LINDUNG, SUAKA ALAM,, HUTAN WISATA, TAMAN
NASIONAL, DLL
– DIMILIKI OLEH PERWAKILAN DIPLOMATIK BERDASARKAN AZAS
TIMBAL BALIK DAN ORGANISASI INTERNASIONAL YANG DITENTUKAN
OLEH MENTERI KEUANGAN
TATACARA PERMOHONAN
PEMBEBASAN/PENGECUALIAN
PENGENAAN PBB
DIAJUKAN SECARA TERTULIS

DILENGKAPI FOTO COPY DOKUMEN-DOKUMEN
YANG MENYATAKAN BAHWA OBYEK YANG
DIMAKSUD TERMASUK OBYEK YANG DIKECUALIKAN
PENGENAAN PBB-NYA

PERMOHONAN SURAT KETERANGAN
NJOP

 DIAJUKAN SECARA TERTULIS OLEH WAJIB PAJAK
ATAU KUASANYA
 MELAMPIRKAN FOTO COPY SPPT DAN STTS
TAHUN SEBELUMNYA
 MELAMPIRKAN FOTO COPY KTP/KARTU
IDENTITAS LAINNYA
MUTASI OBJEK PBB TERMASUK
(PEMECAHAN/PENGGABUNGAN
 DIAJUKAN PERORANGAN

 DIAJUKAN KOLEKTIF (OLEH KADES/LURAH)

– MENGISI SPOP DAN LAMPIRAN SPOP, DAFTAR
PERUBAHAN DATA OBJEK/SUBJEK PAJAK
– FOTO COPY KTP ATAU BUKTI IDENTITAS
LAINNYA
– SPPT PBB TAHUN BERJALAN
– FOTO COPY BUKTI PELUNASAN/STTS TAHUN
TERAKHIR
– FOTO COPY SERTIFIKAT/AKTA JUAL
BELI/SURAT PERJANJIAN SEWA
– FOTO COPY SSB
 MELAMPIRKAN DAFTAR NOMINATIF
MUTASI DATA OP/WP PBB YG HARUS
DITANDATANGANI KADES/LURAH
DILAMPIRI DATA PENDUKUNG :
SERTIFIKAT/AKTA JUAL BELI APABILA
MUTASI DIIKUTI PERUBAHAN LUAS
TANAH SERTA DASAR PERUBAHAN
MUTASI BARU (ANTARA THN 1998 S/D
2002) SERTA SSB
 MELAMPIRKAN SPPT ASLI TAHUN
BERJALAN
 MELAMPIRKAN SKET (GAMBAR)
PEMECAHANNYA
PENDAFTARAN
OBYEK BARU

– MENGISI SPOP DAN LAMPIRAN SPOP
– FOTO COPY BUKTI PENDUKUNG SEPERTI, SERTIFIKAT,
IMB, DAN NPWP (APABILA WP TELAH MEMILIKI
NPWP)
– FOTO COPY KTP ATAU BUKTI IDENTITAS LAINNYA
– FOTO COPY SPPT TETANGGA TERDEKAT DGN TANAH
YANG DIAJUKAN OB JIKA WP TIDAK MENGETAHUI
BLOK (LETAK) DIMANA TANAH BERADA
– FOTO COPY SURAT SETORAN BEA PEROLEHAN HAK
ATAS TANAH (SSB)
PENGENAAN PBB ATAS RUMAH SAKIT
SWASTA

RS Swasta IPSM :
 25% tempat tidur digunakan untuk pasien
tidak mampu
 SHU digunakan untuk pengembangan RS
Dikenakan PBB : 50%
PENGENAAN PBB ATAS PERGURUAN TINGGI SWASTA
PTS Swasta, diselenggarakan :
 Yayasan
 Perkumpulan sosial
 Badan Waqaf
Dikenakan PBB 50%
Memenuhi salah satu kriteria:
 SPP rata2 Rp 2.000.000,00/thn
 Luas bangunan ≥ 2.000 m
2
 Lantai ≥ 4
 Luas tanah ≥ 20.000 m
2
 Jumlah mahasiswa ≥ 3.000
KETENTUAN PIDANA
KARENA ALPA

TIDAK MENGEMBALIKAN SPOP
KEPADA DITJEN
PAJAK
SPOP TIDAK BENAR/
TIDAK LENGKAP
DAN/ATAU MELAMPIRKAN
KETERANGAN YANG TIDAK BENAR

MENIMBULKAN KERUGIAN PADA NEGARA
PIDANA KURUNGAN SELAM-LAMANYA 6 (ENAM) BULAN, ATAU
DENDA SETINGGI-TINGGINYA 2 (DUA) KALI PAJAK TERUTANG
KETENTUAN PIDANA
D E N G A N S E N G A J A
TIDAK
MENGEM-
BALIKAN/
MENYAM
PAIKAN
SPOP
KEPADA
DITJEN
PAJAK
SPOP TDK
BENAR/
TDK LENG-
KAP DAN /
ATAU
MELAMPIR
KAN KETE-
RANGAN
YG TDK
BENAR
MEMPER
LIHAT
KAN
SURAT/
DOKU-
MEN
PALSU
ATAU
DIPALSU
KAN
TIDAK
MEMPERL
LIHATKAN,
MEMIN
JAMKAN
SURAT/
DOKUMEN
LAINNYA
TIDAK
MENUN
JUKKAN/
MENYAM
PAIKAN
DATA/
KETERA
NGAN
YANG
DIPERLU
KAN
MENIMBULKAN KERUGIAN PADA NEGARA
 PIDANA PENJARA SELAMA-LAMANYA 2 (DUA) TAHUN, ATAU
 DENDA SETINGGI-TINGGINYA 5 (LIMA) KALI PAJAK
TERUTANG
KETENTUAN PIDANA
 Terhadap bukan wajib pajak yang bersangkutan, yang
dengan sengaja melakukan tindakan :
 Tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan surat atau dokumen
lainnya;
 Tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan yang
diperlukan;
Dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 tahun
atau denda setinggi-tingginya Rp. 2.000.000,00 (dua juta
rupiah).

 Ancama pidana dilipatkan dua, apabila seorang melakukan
lagi tindak pidana dibidang perpajakan sebelum lewat 1
(satu) tahun terhitung sejak selesai menjalani pidana
penjara/sejak dibayarnya denda.

 Tindak pidana tidak dapat dituntut setelah lampu waktu 10
(sepuluh) tahun sejak berakhirnya tahun pajak yang
bersangkutan.
KEWAJIBAN PEJABAT YANG DALAM JABATAN/TUGAS PEKERJAANNYA
BERKAITAN LANGSUNG DENGAN OBJEK PAJAK
• MENYAMPAIKAN LAPORAN BULANAN MENGENAI SEMUA MUTASI DAN
PERUBAHAN OBJEK PAJAK KEPADA DJP
• MEMBERIKAN KETERANGAN YANG DIPERLUKAN ATAS PERMINTAAN DJP
KEWAJIBAN TERSEBUT BERLAKU
JUGA BAGI PEJABAT LAIN YANG ADA
HUBUNGANNYA DENGAN OBJEK PAJAK
KEWAJIBAN UNTUK MERAHASIAKAN DITIADAKAN SEPANJANG
MENYANGKUT
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PBB
TIDAK MEMENUHI KEWAJIBAN DIKENAKAN
SANKSI MENURUT PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG YANG BERLAKU
HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR SECARA
KHUSUS DALAM UU PBB
Pasal 23
TIDAK DIATUR DALAM
UU PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

BERLAKU KETENTUAN :
 UU KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA
PERPAJAKAN
 PERUNDANG-UNDANGAN LAINNYA
Matur nuwun……
….Matur nuwun….