You are on page 1of 8

KEPALA BAYI PUTUS SAAT DILAHIRKAN

Putusnya Kepala Bayi dalam
proses persalinan di Rumah Sakit
Umum Patuh Patut Pacu Lombok
Barat kamis ( 10/2)
menurut pihak Rumah Sakit bukan karena
malpraktek , sebab telah dilakukan dengan
prosudur yang benar .
Kepala Bayi pasangan Nurhasanah ( 30 ) dan
Muhammad Sawab ( 35 ) itu putus ketika
ditangani sejumlah perawat dan dokter UGD di
RSUD itu Tanpa pengawasan Dokter Spesialis
Kandungan .
Pihak Rumah Sakit dalam pernyataan resmi
sabtu (12/2 ) yang disampaikan Dokter I Ketut
Sepidiarti SPOG spesialis kandungan di RSUD
itu menyatakan Proses persalinan sesuai
prosudur . " Tidak ada masalah secara medis ,
sebab penanganan sudah benar .
Bayi itu , kata dokter Sepidiarti , kondisinya
anomali yang mayor yang sifatnya Letal
anomaly . Kalaupun dilahirkan hidupnya sangat
singkat karena ada pembengkakan di perut
terutama pada limpa dan hati . Kata dokter
spesialis kandungan itu .
Pihak rumah sakit sudah memastikan bahwa
bayi itu telah meninggal sebelum dikeluarkan .
Pihak rumah Sakit menyatakan bidan yang
menangani bayi itu terlah terlatih dan mengikuti
cara mengeluarkan bayi yang telah meninggal.
Walaupun hanya dibandu dokter IGD secara
medis telah sesuai prosudur .
Dokter Spidiarti mengakui saat peristiwa
putusnya kepala bayi itu, ia tidak di rumah sakit
karena sudah jam pulang . " saya tidak mungkin
kembali ke RS karena sudah berada di rumah
dan butuh waktu istirahat " katanya . Namun
demikian operasi untuk mengeluarkan bayi di
RS Bhayangkara pasca putusnya kepala bayi itu
justru dilakukan oleh dokter Spidiarti .

Proses kelahiran bayi itu diawali dari bidan
praktek di Lembar , tetapi karena tidak mampu
ditangani , lalu dirujuk ke RSUD Patuh Patut
Pacu . Disanalah dilakukan proses mengeluarkan
bayi yang diduga sudah meninggal . Bidan dan
perawat dan seorang dokter IGD menangani
bayi itu , tetapi kepala bayi itu terputus saat
ditangani .
Orang tua korban tidak terima dan meminta
segera dirujuk ke RS Bhayangkara Ampenan
untuk menjalani operasi mengeluarkan tubuh
bayi itu dari rahim ibunya .
Keluarga yang tidak menerima kejadian
tersebut , melaporkan kasus itu ke Polres
Lombok Barat dengan dugaan malpraktek yang
menyebabkan kepala bayi itu terputus .
Menanggapi hal itu pihak RSUD Patuh Patut
Pacu siap menghadapi laporan tersebut
.Sedangkan Dinas Kesehatan sedang melakukan
analisa kasus putusnya kepala bayi saat proses
kelahiran , sebab ini adalah kejadian pertama di
NTB . Menurut Kepala Dinas Kesehatan NTB
dr. Muhammad Ismail , pihaknya tidak gegabah
menyatakan itu malpraktek . Tetapi jika terdapat
indikasi malpraktek , pihak RSUD Patuh Patut
Pacu harus bertanggung jawab
Polres Lombok Barat membenarkan adanya
laporan dugaan malpraktek yang menyebabkan
terputusnya kepala Bayi pasangan Nurhasanah
dan Muhammad Sawab . Kasus itu masih dalam
penyelidikan dan belum ada yang ditetapkan
sebagai tersangka . Polisi akan memanggil bidan
, perawat dan dokter yang menangani persalinan
bayi itu untuk diminta keterangan sebagai saksi .
( Ina).


Ilustrasi jarum suntik. ©2012 Shutterstock/Wallenrock
Kisah bayi prematur Evan, meninggal
setelah disuntik perawat
Jakarta - Kisah pilu
diceritakan oleh Hendri
(25), ayah dari bayi
bernama Evan. Bayinya
yang baru lahir satu malam
di Rumah Sakit Fatmawati,
Jakarta Selatan, mengalami
bercak kemerahan,
kemudian panas tinggi,
akhirnya meninggal dunia
setelah disuntik perawat.

Cerita bermula pada hari
Selasa (19/3) lalu, perut
Fitri (23), istri Evan,
mengalami kontraksi. Dia
ingin melahirkan. Padahal
saat itu usia kandungannya
baru menjalani delapan
bulan lebih beberapa hari.

Untuk pertolongan
pertama, Hendri kemudian
memanggil bidan di dekat
tempat tinggal mereka di Jl
Prof Dr Hamka Gg Sadeli,
Kampung Gaga Masjid,
RT 05/01 Larangan
Selatan, Tangerang. Bidan
itu memprediksi bayi laki-
laki di perut Fitri akan
lahir prematur. Merasa
tidak punya alat merawat
bayi yang lahir prematur,
bidan itu meminta Hendri
membawa Fitri ke rumah
sakit terdekat.

Sekitar pukul 15.00 WIB,
atas saran bidan Hendri
membawa istrinya ke
rumah sakit Kartini di
kawasan Cipulir. Di rumah
sakit itu pun dokter lepas
tangan.

"Mereka bilang nggak
sanggup, takut kenapa-
kenapa. Mereka juga
nggak punya alat untuk
nanganin bayi prematur.
Lalu disarankan ke rumah
sakit yang punya alat,
mereka sarankan ke RS
Fatmawati," cerita Hendri
saat berbincang dengan
Jawa Pos, Kamis (21/3).

Sebenarnya Hendri tak
tega mengangkut istrinya
yang tengah kesakitan.
Tapi demi si buah hati dia
terus berjuang.

Sampai di rumah sakit,
rupanya bekal surat
rujukan dari rumah sakit
sebelumnya tak membuat
proses penanganan
menjadi lebih baik. Banyak
hal yang harus diisi,
banyak pertanyaan yang
ditanyakan. Total waktu
yang dia habiskan hampir
30 menit, sementara istri
menunggu di parkiran.

"Saya sampai marah-
marah ke dokter. Saat ini
mereka bilang harus tanda
tangan surat yang isinya
kalau ada apa-apa pihak
rumah sakit tak tanggung
jawab. Saya tanda tangani,
namanya saya bingung,
yang ada di pikiran saya
anak lahir, dan keduanya
selamat dan sehat,"
tambahnya.

Pada hari yang sama,
sekitar pukul 21.45 WIB,
akhirnya putra pertama
Hendri dan Fitri lahir
dengan berat 2,2 kg. Bayi
itu menangis dengan suara
kencang dan nyaring. Bayi
itu diberi nama Evan.
Meski beratnya kurang,
tim dokter dan perawat
yang membantu proses
kelahiran menyatakan
Evan sehat.

"Saya lihat anak saya
sehat, walaupun beratnya
kurang dan prematur. Dia
juga nggak ditaruh di
incubator," ungkap Hendri.

Karena Evan sehat, Fitri
dan bayinya diperbolehkan
pulang Rabu keesokan
harinya. Singkat cerita,
saat akan pulang pada
Rabu (20/3) sore sekitar
pukul 15.00 WIB, datang
seorang perawat menemui
Fitri. Perawat itu meminta
Fitri untuk keluar sebentar,
sedangkan Hendri sibuk
mengurus administrasi.

Setelah semua urusan
selesai, Hendri, Fitri dan
bidan kampung yang
mereka ajak hendak
membawa Evan pulang.
Saat itu perawat
mengatakan baru saja
memberikan Evan suntikan
imunisasi. Mendengar
ucapan perawat itu, Fitri,
Hendri dan bidan kaget.

"Si bidan sampai marah,
kok anak prematur
disuntik, ini kan juga bayi
baru lahir. Saya sendiri dan
istri juga nggak dimintai
persetujuan akan disuntik.
Setelah debat itu kami
langsung pulang," jelas
pria yang bekerja sebagai
pedagang musiman ini.

Sampai di rumah, Evan
masih baik-baik saja.
Masih minum susu dan tak
ada hal yang aneh. Kamis
dini hari tadi, bayi itu tiba-
tiba saja terus merengek
dan badannya panas. Di
bagian pahanya hingga ke
bokong tiba-tiba merah.
Hendri menduga merah itu
berasal dari bekas
suntikan.

"Akhirnya pagi tadi kami
bawa ke RS Sari Asih
Ciledug. Saat diperiksa
dokter jantungnya masih
gerak, setelah beberapa
saat diperiksa tak lama
anak kami dinyatakan
meninggal," kisahnya lirih.

Atas kejadian itu, Hendri
merasa kecewa. Dia akan
kembali mendatangi RS
Fatmawati untuk
memastikan soal suntikan
yang diberikan seorang
perawat ke anaknya.

"Saya sedih, istri protes,
tapi saya masih bingung,"
katanya.



Saat dikonfirmasi soal meninggalnya Evan,
Humas RS Fatmawati, Wini mengaku belum
mendengar soal meninggalnya bayi Evan.

"Saya belum tahu, biasanya di report
morning pada saat selesai jaga malam.
Kalau nggak ada masalah tidak dilaporkan
dalam morning report. Tapi jangan bilang
kasus itu tidak ada, karena belum dilacak
karena saya nggak tahu," kata Wini saat
ditemui di RS Fatmawati.
Dia meminta hal itu dikonfirmasi pada
kepala rumah sakit. Dia merasa tak punya
wewenang menjelaskan soal kasus ini.[lia]


















Rumah Bersalin MS Diduga
Lakukan Mal Praktek

MEDAN (15/10)- Bayi laki-
laki Lenny Br Silitonga,35,
meninggal dunia ketika akan
dikeluarkan dari rahim
ibunya di Rumah Bersalin
MS, Jalan Tiung Raya,
Perumnas Mandala, Medan.
Sang ibu sangat menyesalkan
tindakan bidan NS yang
merupakan, anak sulung
bidan L Sinaga, pemilik
rumah bersalin tersebut.
Menurut warga Jalan Pelikan
7, Perumnas Mandala, Percut
Seituan ini, proses persalinan
yang dilakukan NS, di
Rumah Bersalin MS, tidak
profesional. Pada wartawan
Sabtu (13/10), Lenny
mengatakan, Selasa (25/9), di
usiakandungannya yang
sudah cukup 9 bulan lebih,
Lenny dibawa Namborunya,
M Br Sehite, 44 dan ibunya
Ida Tobing, 61, ke Rumah
Bersalin MS.
Sesampainya di rumah sakit
bersalin itu, Lenny disuruh
tidur dan dipasangkan infus.
Namun pada pukul 04.30
WIB saat itu, Lenny dipaksa
mengedan agar persalinan
segera dilakukan. Keluarga
saat itu heran, karena
perjanjian sebelumnya yang
menangani persalinan itu
langsung Bidan L Sinaga,
namun malah dipengang
anaknya NS.
Saat itu NS sudah tahu anak
di dalam perut Lenny, tidak
pada posisi normal
(Sunsang). Namun NS
memaksa persalinan itu,
tanpa merujuk ke rumah
sakit. Alhasil persalinan itu
kacau, Lenny pun cengap-
cengap. “Saya rasa saya
sudah mati saat itu. Sudah
dua anakku baru kali ini
kurasakan persalinan yang
sakit luar biasa. Dan tanpa
basa-basi kelima jarinya
masuk ke rahim saya. Saat itu
terasa rabaan yang kasar di
dalam, hingga sampai saya
tidak sanggup menahan sakit.
Saya juga menjadi heran,
karena saya dengar dari
pembicaraan perawat itu saya
dikasih infus cairan untuk
anak karena alasan stok infus
habis,” jelas Lenny pada
wartawan seraya meneteskan
air mata.
Saat rogohan pertama bidan
itu mengeluarkan tangannya
lagi dan mendapati cairan
kental kuning. Pas saya tanya
apa itu…? Bidan itu dengan
enaknya mengatakan itu
lemak. Jadi ngeri saya,” ujar
Sihite. Lanjut Sihite,
akhirnya rogohan itu diulang
kembali hingga keluarlah tali
pusat si anak dan saat ditanya
kembali bidan itu
mengatakan bokong bayinya
yang keluar dan tali pusatnya.
Saat itu tampaklah di wajah
raut ketakutan dan bidan NS
itu terlihat panik. Dia lalu
mencoba menelpon ibunya
Bidan L Sinaga yang katanya
saat itu keluar.
“Kepanikanlah yang
kelihatan pada NS, setelah
kejadian ini,” ucapnya.
Suasana rumah bersalin itu
kian menjadi ramai.
Kebingungan para bidan
yang masih sekolah pun
mewarnai kecemasan
keluarga Lenny. Hingga
akhirnya bidan L Sinaga
datang. Melihat
ketidakwajaran itu, langsung
memerintahkan pada anaknya
agar Lenny dirujuk segera ke
RS Bakti Jalan HM Jhoni.
Dengan mobil pribadi milik
Lisnur, Lenny dibawa ke RS
swasta itu. Di sana, saat itu dr
Hulman yang memegang
Lenny. Dan menurutnya
Lennny harus di operasi.
Operasi pun sukses. Namun
bayi laki-laki yang sudah
didambakan selama 14 tahun
oleh Lenny itu tidak bisa
diselamatkan, bayi itu sudah
meninggal ketika masih di
rumah bersalin.
Mirisnya, sudahlah bayi tidak
bisa diselamatkan Lenny
masih ditagih oleh NS biaya
persalinan Rp 300 ribu.
Ditambah uang operasi 3 juta
untuk RS Bakti. Bidan L
Sinaga saat dikonfirmasi pun
tidak dapat memberikan
alasan jelas terkait persalinan
yang dilakukan anaknya.
“Bukan urusan kalian itu
jangan ikut campur. Kalau
mau dinaikan ke koran
silahkan aja,” kata L Sinaga,
pemilik Rumah Bersalin MS,
pada wartawan.
Sementara dr Christofel
bidang obgyn saat
dikonfirmasi tentang
persalinan menjelaskan,
dalam proses persalinan yang
dilakukan seorang bidan, jika
saat diperiksa, ternyata
kondisi anak didalam
kandungan seorang ibu tidak
menunjukan baik atau tidak
normal, Seharusnya
dilakukan perujukan ke
dokter spesialis kandungan.
“Itu sudah diatur di Peraturan
Menteri kesehatan Republik
Indonesia No
1464/MENKES/PER/X/2010
. Bagi ibu yang sudah
mengalami gawat darurat
pada kandungannya dengan
arti, letak dan ukuran si bayi
tidak normal saat diperiksa,
seharusnya bidan yang
menangani harus segera
merujuk ke dokter tanpa
melakukan persalinan karena
itu sudah tidak wewenangnya
lagi.
Bidan hanya dapat
melakukan persalinan dengan
secara normal,” jelasnya.
Disinggung terkait legalitas
bidan, dr Christofel
menjelaskan. Apabila bidan
persalinan yang tidak
memiliki SIKB/SIPB bisa
dapat sanksi. “Bila terbukti
ada bidan yang tidak
memiliki SIKB/ SIPB bisa
dilaporkan ke Dinas
kesehatan,” pungkas dr
spesialis obgyn itu.(don)




Kepala dan Tangan Bayi
Putus Saat Dilahirkan, Dua
Bidan Kena Sanksi Kode
Etik

KOMPAS/ Suddin Syamsuddin
Bayi ini tangan dan kepalanya terpisah dari tubuh sesaat setelah dilahirkan di Pinrang, Sulawesi
Selatan.


TRIBUN, PINRANG - Dua
bidan Puskesmas Bunging,
Kecamatan Duammpanua,
Kabupaten Pinrang, Sulawesi
Selatan masing-masing Bidan
Fitri, dan Bidan Berta, hanya
dikenakan hukuman sanksi kode
etik atas kasus kelahiran bayi di
Duammpanua Pinrang beberapa
waktu lalu.Diketahui kasus kelahiran bayi
di Duammpanua Pinrang, dengan kepala dan
tangan terpisah dari tubuh
janin, menggemparkan warga Pinrang.
Akibat kejadian tersebut, bidan Bertha dan Fitri,
selama beberapa hari menjalani pemeriksaan di
Satreskrim Polres Pinrang.
"Keduanya hanya dikenakan kode etik. Karena
keterangan saksi ahli, bayi yang ditanganinya,
sudah meninggal dalam rahim sebelum proses
lahiran," kata Kapolres Pinrang, AKBP Heri Tri
Maryadi, saat dikonfirmasi di ruang
kerjanya, Rabu (9/10/2013).
Sebelumnya, lima orang petugas puskesmas
Desa Bunging, Kabupaten Pinrang diperiksa
selama 5 jam oleh penyidik Reskrim Polres
Pinrang, Sulawesi Selatan, Senin (30/9/2013)
siang hingga sore.
Pemeriksaan tersebut, terkait kasus kelahiran
seorang bayi dengan kepala dan tangan bayi
terputus dari badan.
"Berdasarkan laporan keluarga korban soal
dugaan malpraktek yang dilakukan pihak
Puskesmas Desa Bungin, Kabupaten Pinrang,
karena mengakibatkan kepala dan tangan bayi
terlepas saat proses persalinan," jelas Kasat
Reskrim Polres
Pinrang Ajun Komisaris Abdul Karim, Senin.
Mereka yang diperiksa polisi antara lain Kepala
Puskesmas dr NS dan empat petugas, yakni
bidan FA, bidan M, bidan SN, dan perawat SM.
Kelimanya diperiksa secara bersamaan.
Abdul Karim menjelaskan, kelima petugas
puskesmas ini diinterogasi seputar kejadian
terlepasnya bagian tubuh bayi sebelum dirujuk
ke RSU Lasinrang.
"Menurut pengakuan perawat yang diperiksa,
kepala bayi memang terlepas saat persalinan di
Puskesmas Desa Bunging, namun sang bayi
sudah tidak bernyawa di dalam kandungan,"
jelas Karim.
Polisi masih mendalami kasus ini, apakah ada
unsur pidana atau tidak. Setelah diperiksa,
sejumlah petugas puskesmas tersebut enggan
disorot kamera wartawan televisi. Bahkan
kepala puskesmas enggan keluar dari
ruang penyidik karena takut terkena sorotan
kamera wartawan. (ali)