You are on page 1of 13

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat
serta karuniaNya penulis dapat menyelesaikan makalah penelitian yang berjudul “kultur
jaringan di Indonesia ” sesuai waktu yang telah ditentukan.
Terselesainya makalh ini tentu tak lepas dari bantuan semua pihak.Oleh karena itu
penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1.Tim Pulsit selaku dosen pembimbing kami
2.Teman- teman yang telah membantu penyelesaian makalah
Tak ada hal yang sempurna, tak ada gading yang tak retak. Begitu pula penyelesaian
makalah ini tentu belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca untuk perbaikan makalah yang selanjutnya.













2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………...1
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….….2

BAB I PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG……………………………………………………………....….3
I.2. RUMUSAN MASALAH………………………………………………………..….......4
I.3. TUJUAN PEMBAHASAN……………………………………………………………4
I.4. LANDASAN TEORI………………………………………………………………….4

BAB II PEMBAHASAN
II.1. PENGERTIAN KULTUR JARINGAN……………..…………….…………..…..5
II.2. SEJARAH DAN KULTUR JARINGAN DI INDONESIA …………..………......5
II.3. PRINSIP KULTUR JARINGAN……...……………………………...………...…7
II.4. TAHAPAN KULTUR JARINGAN……………………………………...…..……8
II.5. MACAM-MACAM KULTUR JARINGAN………………………………….......10
II.6. MANFAAT KULTUR JARINGAN……………………………………...…….....10
II.7. KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN KULTUR JARINGAN……...…..…..….11

BAB III KESIMPULAN………………………………………………….....12
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………...……13




3

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Salah satu dampak dalam peningkatan ekspor komoditi pertanian adalah kebutuhan bibit
yang semakin meningkat. Bibit dari suatu varietas unggul yang dihasilkan jumlahnya sangat
terbatas, sedangkan bibit tanaman yang dibutuhkan jumlahnya sangat banyak.
Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang. Salah satu teknologi harapan
yang banyak dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik
kultur jaringan.
Melalui kultur jaringan tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena
faktor perbanyakannya yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang jumlahnya sangat sedikit
dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Pada tanaman perbanyakan melalui kultur
jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan karena sifatnya akan sama dengan induknya
(seragam) dan dalam waktu yang singkat bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas
penyakit.
Kultur jaringan adalah metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ
atau bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali.
Tanaman bisa melakukan kultur jaringan jika memiliki sifat totipotensi, yaitu
kemampuan sel untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap kemba





4

I.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kultur jaringan?
2. Sejarah kultur jaringan dan perkembangannya di Indonesia
3. Apa prinsip dasar dalam kultur jaringan?
4. Apa saja tahapan kultur jaringan?
5. Ada berapa macamkah kultur jaringan?
6. Apa saja manfaat dari kultur jaringan?
7. Apa saja kelebihan dan kekurangan kultur jaringan?
I.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini diadakan adalah untuk mengetahui sejarah kultur jaringan dan
perkembangannya di Indonesia serta dapat lebih dalam menfetahui mengenai perkembangbiakan
vegetatif melalui kultur jaringan. Termasuk di dalamnya tahapan dan manfaat kultur jaringan itu
sendiri. Serta keterkaitan antara teori totipotensi dengan perbanyakan melalui kultur jaringan.
I.4. Landasan Teori
Teori yang melandasi kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel (Schwann dan
Schleiden) yang menyatakan bahwa sel memiliki sifat totipotensi, yaitu bahwa setiap sel
tanaman yang hidup dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap
untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh, jika kondisinya sesuai. Teori ini
mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembangbiak karena seluruh bagian
tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup.




5

BAB II
PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN
Menurut (suryowinoto, 1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue
culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah
sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur jaringan berarti
membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifst seperti
induknya. Pelaksanaan teknik kultur jaringan ini berdasarkan teori sel seperti yang ditemukan
oleh scheiden dan schwann, yaitu bahwa sel mempunyai kemampun autonom, bahkan
mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotesi adalah kemampuan setiap sel, dari mana saja sel
tersebut diambil, apabila diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi
tanaman yang sempurna. (Suryowinoto, 1991).

II.2. SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA
Aplikasi kultur jaringan pada awalnya ialah untuk propagasi tanaman. Selanjutnya
penggunaan kultur jaringan lebih berkembang lagi yaitu untuk menghasilkan tanaman yang
bebas penyakit, koleksi plasma nutfah, memperbaiki sifat genetika tanaman, produksi dan
ekstaksi zat-zat kimia yang bermanfaat dari sel – sel yang dikulturkan.
Penggunaan teknik kultur jaringan dimulai oleh Gottlieb Haberlandt pada tahun 1902
dalam usahanya mengkulturkan sel-sel rambut dari jaringan mesofil daun tanaman monokotil.
Tetapi usahanya gagal karena sel-sel tersebut tidak mengalami pembelahan, diduga kegagalan itu
karena tidak digunakannya zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk pembelahan sel,
proliferasi dan induksi embrio. Pada tahun 1904, Hannig melakukan penanaman embrio yang
diisolasi dari beberapa tanaman crucifers. Tahun 1922, secara terpisah Knudson dan Robbin
masing-masing melakukan usaha penanaman benih anggrek dan kultur ujung akar. Setelah tahun
1920-an, penemuan dan perkembangan teknik kultur jaringan terus berlanjut.

6

Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah dimulainya pengetahuan kultur jaringan antara
lain adalah:
 Orang yang melakukan kultur jaringan adalah Gottlieb Haberlant pada tahun 1902.
 Tahun 1904 Hannig melakukan kultur embrio pada tanaman cruciferae.
 Knudson berhasil mengecambahkan anggrek secara in vitro di tahun 1922, pada
tahunyang sama Robbins mengkulturkan ujung akar secara in vitro.
 Gautheret, nobecourt dan White yang menemukan auxin dan telah
berhasilmembudidayakan kalus pada tahun 1939.
 Skoog dkk. telah menemukan sitokinin dan orang pertama yang sukses dalammelakukan
kultur jaringan pada tahun 1939.
 Tahun 1940 Gautheret melakukan ku.ltur jaringan kambim secara in vitro padatanaman
Ulmus untuk study pembentukan tunas adventif.
 Tahun 1941 Penggunaan air kelapa untuk campuran media dalam kultur Datura olehvan
Overbeek.
 Pembentukan tunas adventif pertama pada kultur tembakau secara in vitro oleh
Skoogpada tahun 1944.
 Baru pada tahun 1946, tanaman lengkap pertama dapat dihasilkan dari eksplan
kulturtunas ujung pada Lupinus dan Tropaeolum oleh Ball.
 Pada tahun 1950 Ball mencoba menanam jaringan kalus tanaman Sequoiasempervirens
dan dapat menghasilkan organ.
 Muir berhasil menumbuhkan tanaman lengkap dari kultur sel tunggal pada tahun 1954.
 Tahun 1955 Miller dkk. Menemukan kinetin yang dapat memacu pembelahan sel.
 Produksi tanaman haploid pertama dihasilkan oleh Guha pada tahun 1964.
 Laminar air flow digunakan pertamakali pada akhir tahun 60-an.
 Power mencoba melakukan penyatuan (fusi) protoplas pertama kali pada tahun 1970.
 Baru pada tahun 1971 tanaman lengkap dihasilkan dari eksplan protoplas oleh Takebe.
 Untuk mendapatkan tanaman yang tahan penyakit, Larkin pada tahun 1981mengadakan
penelitian variasi somaklonal yang pertama kali.
7

 Salah satu cara untuk mendapatkan kultuvar unggul adalah dengan
melakukantransformasi. Transformasi sel pertama dilakukan oleh Horch pada tahun
1984.
 Trasformasi tanaman pertama dilakukan oleh IPTC pada tahun 1986.
 Transformasi wheat oleh Vasil pada tahun 1992.
 Pada tahun 1996 pelepasan pertama tanaman hasil transformasi genetik.
Perkembangan kultur jaringan di Indonesia terasa sangat lambat, bahkan hampir
dikatakan jalan di tempat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidaklah heran jika
impor bibit anggrek dalam bentuk „flask‟ sempat membanjiri nursery-nursery anggrek di negara
kita. Selain kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga penelitian, publik dan pecinta
anggrek, salah satu penyebab teknologi ini menjadi sangat lambat perkembangannya adalah
karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi yang ‟sangat mahal‟ untuk membangun
sebuah lab kultur jaringan, dan hanya cocok atau „feasible‟ untuk perusahaan.
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, salah satunya adalah
anggrek, diperkirakan sekitar 5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah Indonesia.
Potensi ini sangat berharga bagi pengembang dan pecinta anggrek di Indonesia, khususnya
potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang memiliki nilai komersial tinggi.
Potensi tersebut akan menjadi tidak berarti manakala penebangan hutan dan eksploitasi besar-
besaran terjadi hutan kita, belum lagi pencurian terang-terangan ataupun “terselubung” dengan
dalih kerjasama dan sumbangan penelitian baik oleh masyarakat kita maupun orang asing.
Sementara itu hanya sebagian kecil pihak yang mampu melakukan pengembangan dan
pemanfaatan anggrek spesies, khususnya yang berkaitan dengan teknologi kultur jaringan. Tidak
dipungkiri bahwa metode terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan anggrek
adalah dengan kultur jaringan, karena melalui kuljar banyak hal yang bisa dilakukan
dibandingkan dengan metode konvensional.
II.3. Prinsip dasar kultur jaringan
 Menurut Thorpe (1981), ada 3 prinsip utama dalam kultur jaringan:
Isolasi bagian tanaman dari tanaman utuh (organ, akar, daun dll)
8

 Memelihara bagian tanaman tadi dalam lingkungan yang sesuai dan kondisi kultur yang
tepat
 Pemeliharaan dalam kondisi aseptik
Teori Dasar Kultur Jaringan:
a. Sel dari suatu organisme multiseluler dimanapun letaknya sebenarnya sama dengan sel
zigot karena berasal dari satu sel tersebut (omne cellula ex cellula).
b. Teori Totipotensi Sel. Teori sel oleh Schwann dan Schleiden (1898) yang menyatakan
bahwa sel memiliki sifat totipotensi, yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup
dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh
dan berkembang menjadi tanaman utuh, jika kondisinya sesuai. Teori ini mempercayai
bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembangbiak karena seluruh bagian tanaman
terdiri atas jaringan-jaringan hidup.
II.4. Tahapan Kultur jaringan
a.Pemilihan dan Penyiapan Tanaman Induk Sumber Eksplan
Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus sehat dan bebas dari
hama dan penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut harus dikondisikan dan
dipersiapkan secara khusus di rumah kaca atau greenhouse agar eksplan yang akan dikulturkan
sehat dan dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara
in-vitro.
b. Inisiasi Kultur
Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan kultur dari eksplan
yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan baru (Wetherell, 1976). ini
mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme,
sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam tahap ini
juga diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru, sehingga
akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat,untuk
perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Wetherell, 1976).
9

c. Sentrilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat
yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga sterail. Sterilisasi juga
dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada
peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
d. Multiplikasi atau Perbanyakan Propagul
Tahap ini bertujuan untuk menggandakan propagul atau bahan tanaman yang diperbanyak
seperti tunas atau embrio, serta memeliharanya dalam keadaan tertentu sehingga sewaktu-waktu
bisa dilanjutkan untuk tahap berikutnya. Pada tahap ini, perbanyakan dapat dilakukan dengan
cara merangsang terjadinya pertumbuhan tunas cabang dan percabangan aksiler atau merangsang
terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik secara langsung maupun melalui induksi
kalus terlebih dahulu. Seperti halnya dalam kultur fase inisiasi, di dalam media harus terkandung
mineral, gula, vitamin, dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara tepat
(Wetherell, 1976). Hormon yang digunakan untuk merangsang pembentukan tunas tersebut
berasal dari golongan sitokinin seperti BAP, 2-iP, kinetin, atau thidiadzuron (TDZ).
e. Pemanjangan Tunas, Induksi, dan Perkembangan Akar
Tujuan dari tahap ini adalah untuk membentuk akar dan pucuk tanaman yang cukup kuat
untuk dapat bertahan hidup sampai saat dipindahkan dari lingkungan in-vitro ke lingkungan luar.
Dalam tahap ini, kultur tanaman akan memperoleh ketahanannya terhadap pengaruh lingkungan,
sehingga siap untuk diaklimatisasikan (Wetherell, 1976). Tunas-tunas yang dihasilkan pada
tahap multiplikasi di pindahkan ke media lain untuk pemanjangan tunas. Media untuk
pemanjangan tunas mengandung sitokinin sangat rendah atau tanpa sitokinin. Tunas tersebut
dapat dipindahkan secara individu atau berkelompok. Pemanjangan tunas secara berkelompok
lebih ekonomis daripada secara individu. Setelah tumbuh cukup panjang, tunas tersebut dapat
diakarkan. Pemanjangan tunas dan pengakarannya dapat dilakukan sekaligus atau secara
bertahap, yaitu setelah dipanjangkan baru diakarkan. Pengakaran tunas in-vitro dapat dilakukan
dengan memindahkan tunas ke media pengakaran yang umumnya memerlukan auksin seperti
NAA atau IBA. Keberhasilan tahap ini tergantung pada tingginya mutu tunas yang dihasilkan
pada tahap sebelumnya.
10

f. Aklimatisasi
Dalam proses perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, tahap aklimatisasi planlet
merupakan salah satu tahap kritis yang sering menjadi kendala dalam produksi bibit secara
masal. Pada tahap ini, planlet atau tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol seperti
rumah kaca , rumah plastik, atau screen house (rumah kaca kedap serangga). Proses ini disebut
aklimatisasi. Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran
dilakukan secara ex-vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol, dengan media tanah,
atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi bibit yang siap ditanam di
lapangan. Prosedur pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil jika planlet
dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengankeberhasilan yang tinggi.

II.5. Macam-Macam Kultur Jaringan
a. Kultur meristem, menggunakan jaringan (akar, batang, daun) yang muda atau meristematik
b. Kultur anter, menggunakan kepala sari sebagai eksplan
c. Kultur embrio, menggunakan embrio. Misalnya pada embrio kelapa kopyor yang sulit
dikembangbiakan secara alamiah
d. Kultur protoplas, menggunakan sel jaringan hidup sehingga eksplan tanpa dinding
e. Kultur kloroplas, menggunakan kloroplas. Kultur ini biasanya untuk memperbaiki atau
membuat varietas baru
f. Kultur polen, menggunakan serbuk sari sebagai eksplannya.

II.6. Manfaat kultur jaringan
Manfaat utama dari perbanyakan tanaman secara kultur jaringan adalah untuk mendapatkan
tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat serta mempunyai sifat
fisiologis dan morfologi sama dengan tanaman induknya. Dari teknik kultur jaringan ini
diharapkan pula dapat memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul. Teknik kultur jaringan
sangat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, terutama di bidang fisiologi tanaman dan untuk
pengembangan bioteknologi. Melalui kultur jaringan ternyata juga berpengaruh terhadap devisa
negara. Misalnya, terlaksananya ekspor tanaman ke negara lain, maka akan menaikkan devisa
negara di sektor pertanian.
11

II.7. Keuntungan dan kelemahan kultur jaringan
Keuntungan :
 Pengadaan bibit tidak tergantung musim
 Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari
satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000
planlet/bibit)
 Bibit yang dihasilkan seragam
 Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu).
 Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah.
 Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan
lainnya.
 Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki.
 Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa.

Kelemahan :
 Diperlukan biaya awal yang relatif tinggi
 Hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu, karena memerlukan keahlian khusus
 Bibit hasil kultur jaringan memerlukan proses aklimatisasi, karena terbiasa dalam kondisi
lembap dan aseptik.









12


BAB III
KESIMPULAN

Pada dasarnya, kultur jaringan merupakan suatu tehnik membiakan sel atau jaringan ke
dalam media kultur, sehingga tumbuh, membelah, dan menghasilkan tumbuhan baru dengan
cepat dan memiliki sifat yang sama dengan induknya.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian
tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media
buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi
tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan
menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat
steril.
Dalam kultur jaringan digunakan eksplan, yaitu sel atau irisan jaringan tanaman yang
akan menjadi benih tanaman yang baru nanti setelah di kultur jaringan. Faktor eksplan yang
perlu diperhatikan adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks
(jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan adalah pucuk muda,
batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.






13


DAFTAR PUSTAKA
 Anonymus. 2010. Sejarah kultur jaringan.
http://p4ndhit.files.wordpress.com/2010/03/sejarah-kultur-jaringan-tumbuhan1.pdf
2013/02/20. 13:12
 Anonymus. 2012. Pengertian Kultur jaringan.
http://layartekno.blogspot.com/2012/10/pengertian-manfaat-tahapan-dan-macam.html
2013/02/20. 12:30
 Gati, W. Tanpa tahun. Peranan kultur jaringan.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/32880/E07ade.pdf?sequence=1).
2013/02/20. 14:01
 Anonymus. 2012. Pengertian kultur jaringan pada tanaman.
http://galihsamson.blogspot.com/2012/03/pengertian-kultur-jaringan-pada-tanaman.html
2013/02/20.12:46