You are on page 1of 14

1

KALIMAT

1. Pengertian
Kalimat ialah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang dapat
mengungkapkan pikiran secara utuh.
lisan > kalimat diucapkan dengan nada naik turun, keras lembut, panjang
pendek, jeda, dan intonasi akhir.
tulis > kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda
tanya, atau tanda seru.

2. Unsur Kalimat
2.1 Intonasi
Intonasi ialah pola perubahan nada yang dihasilkan pembicara pada saat
mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya.

Pak lurah anaknya lima.

anticipatory focus

2.2 Klausa
Klausa ialah satuan bahasa yang terdiri atas P (predikat) dan kadang disertai S
(subjek), O (objek), K (keterangan), atau Pel (pelengkap).
Dalam ragam resmi kalimat sekurang-kurangnya harus memiliki unsur S (subjek)
dan P (predikat). Pernyataan yang tidak memiliki unsur S dan P bukanlah kalimat.
Unsur lain yang boleh hadir ialah O (objek), K (keterangan), dan Pel (pelengkap).

Ruang itu memerlukan 120 kursi.

S P O > fungsi
nomina verba nomina > kategori
pelaku aktif penderita > peran

1. Kepala sekolah memimpin upacara.
2. Berdiri aku di senja senyap.
3. Mendirikan pabrik baja di Cilegon.
4. Karena sangat tidak manusiawi.

3. Perluasan Kalimat
3.1 Perluasan dengan Objek (P-KK Transitif)
1. Mereka memperkaya khazanah musik Indonesia.
2. Penyelidikan itu memerlukan tindak lanjut.
3. Anjuran ini mengimbau semua warga masyarakat.

3.2 Perluasan dengan Pelengkap (P-KK Intransitif)
1. Mereka sedang belajar matematika.

2
2. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila.
3. Orang tuanya berjualan bakmi.

3.3 Perluasan dengan Keterangan
1. Nilai rupiah menurun lagi pasca bom Bali.
2. Banyak kerusuhan terjadi di Indonesia.
3. Untuk menghilangkan rasa gerah ia mandi.



KALIMAT EFEKTIF

 menggunakan ejaan/pilihan kata baku
 menggunakan kata penghubung yang tepat
 tidak mengandung kontaminasi/ketaksaan kalimat
 tidak boros/mubazir
 struktur frasa/kalimat baku
 struktur aktif-pasif yang tepat
 struktur kalimat yang lengkap


Pemakaian Kata-Kata Mubazir
 agar supaya, lalu kemudian, sangat…sekali, hanya…saja, demi untuk, seperti
misalnya, contohnya seperti, merupakan contoh kata-kata yang boros.
 rincian yang sudah didahului dengan kata seperti, misalnya, contohnya,
umpamanya, dan antara lain, tidak perlu lagi diakhiri dengan ungkapan dan
lain-lain, dan sebagainya, atau dan seterusnya.
 banyak kaset-kaset, para, daftar, aneka, penduduk, hadirin


KATA PENGHUBUNG ANTARKALIMAT (selalu diikuti tanda koma)
 Walaupun demikian, meskipun demikian, jadi,oleh karena itu,namun demikian,
akan tetapi, selanjutnya,….
KATA PENGHUBUNG INTRAKALIMAT
 dan, sedangkan, tetapi, atau, maka, untuk, sehingga,padahal,….
 jika, karena  harus diikuti induk kalimat

PENGGUNAAN KATA DEPAN YANG TIDAK TEPAT
 Dari hasil penelitian di laboratorium membuktikan bahwa virus ini tidak
berbahaya. (Salah)
 Hasil penelitian di laboratorium membuktikan bahwa….
 Dari hasil penelitian di laboratorium terbukti bahwa….






3




PARAGRAF
POLA DAN CARA PENYUSUNANNYA
Identitas
• Paragraph / a linea (‘mulai baris baru’)
• bagian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat yang memenuhi
syarat paragraf, yaitu
 Memiliki 1 ide pokok,
 memiliki kalimat topik dan kalimat pe-ngembang,
 memiliki kesatuan (koherensi) dan kepaduan (kohesi) kalimat

Peran
• memudahkan pembaca mencermati dan memahami karangan secara baik.

Langkah Penyusunan
• Menentukan ide pokok sebagai pengendali,
• Membuat kalimat yang dapat menyatakan ide pokok itu,
• Mengembangkan kalimat topik dengan beberapa kalimat pengembang yang
relevan.

CONTOH
‘arti penting tanah’
Tanah memiliki arti yang penting bagi kehidupan manusia.
 Sebagai sumber daya alam yang mendasar, tanah menjadi pondasi
bagi segala kegiatan manusia di muka bumi.
 Tanah dapat menjadi media kegiatan bercocok tanam.
 Tanah dapat berfungsi sebagai tempat tinggal.
 Selain itu, tanah juga dapat dimanfaatkan sebagai media investasi.

Pola Pengembangan
• Model deduktif (umum > khusus)
• Model induktif (khusus > umum)
Tanah memiliki arti yang penting bagi kehidupan manusia. Sebagai sumber
daya alam yang mendasar, tanah menjadi pondasi bagi segala kegiatan manusia di
muka bumi. Tanah dapat menjadi media kegiatan ber-cocok tanam. Tanah dapat
berfungsi sebagai tem-pat tinggal. Selain itu, tanah juga dapat dimanfaatkan sebagai
media investasi.
Sebagai sumber daya alam yang mendasar, tanah menjadi pondasi bagi
segala kegiatan manusia di muka bumi. Tanah dapat menjadi media kegiatan ber-
cocok tanam. Tanah dapat berfungsi sebagai tempat tinggal. Selain itu, tanah juga
dapat dimanfaatkan se-bagai media investasi. Dengan demikian, tanah memiliki arti
yang penting bagi kehidupan manusia.




4
Cara Pembentukan Kepaduan
• Penunjukan
Sistem perkuliahan modern sangat diperlukan dalam upaya
mengembangkan SDM secara opti-mal. Hal itu semakin dirasa penting dalam
relevan-sinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian cepat.
Hal-hal berikut merupakan faktor penting dalam penilaian. Secara berturut-
turut persentase terbesar didapat dari nilai ujian akhir, diikuti dengan nilai ujian
sisipan, lalu tugas perkuliahan, dan pre-sensi kehadiran mahasiswa.
• Perangkaian
Boleh dikatakan bahwa semua aspek pendidikan dasar berada dalam
keadaan buruk. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan matang dan kerja sama
banyak pihak untuk memperbaikinya.
• Penggantian
Kaum pria tidak memiliki sesuatu yang luar biasa. Rambut mereka
dipotong pendek dengan model sisiran rambut yang umum. Mereka yang muda-
muda terkesan sangat memperhatikan penampilannya.
• Pengulangan
Pendidikan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Pendidikan dapat
dilihat sebagai upaya pewarisan dari generasi ke generasi. Pendidikan dapat
dipandang sebagai upaya pemindahan pengetahuan dan nilai-nilai kepada generasi
berikutnya. Dapat pula pendidikan diasumsikan sebagai usaha penanaman modal
sumber daya manusia untuk membentuk tenaga kerja dalam pembangunan bangsa.
• Penghilangan unsur terulang
Dewasa ini terlihat orang kembali mengenakan sarung dan kebaya. Ada 
yang mengenakan sarung dan kebaya demi alasan mode. Ada pula  yang
memakainya sebagai busana sehari-hari.


PRESENTASI EFEKTIF

Perencanaan
• Situation/waktu dan tempat
• Purpose/tujuan presentasi
• Audience/peserta presentasi
• Method/cara presentasi

TIPE PRESENTASI
• Informatif/memberi informasi baru
• Persuasif/mengubah perilaku
• Entertain/menghibur
Persiapan
• Memilih topik
• Membuat presentasi
 Bentuk materi
 Outline/kerangka materi
 Kuantitas dan kualitas materi
 Pola urutan materi
• Berlatih presentasi

5
 Olah vokal dan wajah
 Gesture
 Kecepatan dan kejelasan presentasi
 Penekanan bagian presentasi
 Fasilitas pendukung
 Penampilan diri
 Membagi perhatian kepada audiens



Pelaksanaan

• Utarakan tujuan presentasi
• Jiwai presentasi sesuai latihan
• Atur perilaku sebaik-baiknya
• Libatkan audiens dalam komunikasi
• Gunakan pointer seperlunya
• Tidak membaca catatan/tayangan kata demi kata

Kiat Presentasi
Penyaji perlu menghindari
• Menggumam
• Berbicara kepada papan tulis
• Banyak mohon maaf
• Berbicara dalam posisi duduk
• Berbicara secara monoton
• Berperilaku tidak baik
• Berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui/ dikuasai

Menarik perhatian audiens
• Berhenti bicara/diam
• Bertanya kepada audiens
• Mengubah intonasi suara
• Memanfaatkan papan tulis
• Melakukan sesuatu yang tidak terduga














6

PERENCANAAN KARANGAN
Untuk dapat membuat suatu karangan (ilmiah) yang baik perlu perencanaan
yang saksama dan teliti. Hal -hal yang perlu dipertimbangkan dalam
perencanaan tersebut diuraikan dalam butir -butir
berikut ini.
1. Proses Penulisan
Penulisan suatu karangan (ilmiah) sebenarnya merupakan suatu proses.
Proses tersebut terbagi menjadi tiga tahapan, yakni:
1. tahap prapenulisan
Tahap ini merupakan tahap perencanaan atau persiapan menulis.
Langkah - langkah yang perlu diambil ialah:
a. menentukan topik
b. membatasi topik (menentukan tujuan penulisan)
c. menentukan bahan/semua informasi atau data yang digunakan untuk
mencapai tujuan penulisan
d. menyusun kerangka karangan (subtopik) dalam suatu kerangka topik atau ke
rangka kalimat secara logis, sistematik, dan konsisten.
2. tahap penulisan
Tahap ini berisi pembahasan semua/setiap butir yang ada di dalam
kerangka (karangan) yang telah disusun. Di dalam tahap ini gagasan
dikembangkan dengan didukung oleh keteram pilan/penguasaan bahasa penulisnya.
Penguasaan pemilihan kata dan istilah (diksi), perencanaan paragraf, pemakaian
kalimat, penggunaan ejaan, dan konsistensi peletakan tanda-tanda baca sangat
menentukan kekomuni katifan karangan. Selain itu, secara teknis, pemahaman
karangan tersebut di pengaruhi pula oleh cara penulisan judul, subjudul, kutipan,
catatan kaki, daftar pustaka, teknik pengetikan, format/tata letak ( lay out),
perwajahan, dan sebagainya.
3. tahap revisi
Tahap ini merupakan evaluasi dari tahap penulisan. Seringkali karangan yang
telah dibuat pada tahap penulisan memerlukan perbaikan, pengurangan, ataupun
pemerluasan. Aspek logika, sistematika penulisan, pemakaian ejaan, tanda baca,
pilihan kata, kalimat, paragraf, penulisan catatan kaki, daftar
pustaka, dan sebagainya dapat dikaji kembali secara menyeluruh pada tahap ini.

2. Penentuan Topik
Ada dua langkah yang perlu dilakukan terlebih dulu sebelum melakukan
penulisan. Langkah pertama adalah pemilihan topik/pokok pembicaraan. Dalam
hal ini topik merupakan pokok pembicaraan dalam keseluruhan karangan yang
akan digarap. Dalam memilih topik itu perlu dipertimbangkan hal-hal berikut.
1. Topik yang akan dipilih itu harus memiliki manfaat dan layak dibahas
(bermanfaat berarti dapat memberikan sumbangan atau dapat berguna
bagi pengembangan ilmu yang dimiliki; layak dibahas berarti topik itu memang
memerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni).
2. Topik itu cukup menarik bagi penulis.
3. Topik itu dikenal baik.
4. Bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai.
5. Topik itu tidak terlalu luas atau terlalu sempit.

7
Langkah kedua yang perlu ditempuh adalah pembatasan topik. Pembatasan
ini diperlukan agar topik yang akan dibahas tidak terlalu luas atau terlalu sempit.
Selain itu, pembatasan tersebut dimaksudkan agar apa-apa yang akan dibahas
dalam karangan menjadi terinci.

Berkaitan dengan itu, sekurang -kurangnya terdapat tiga teknik yang dapat
dipakai dalam memilih topik, yaitu teknik diagram jam, teknik diagram pohon, dan
teknik piramida terbalik.

3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan merupakan suatu gambaran penulis dalam kegiatan
menulis selanjutnya. Tujuan penulisan ini sangat penting dan harus ditentukan
terlebih dahulu karena merupakan titik tolak dari seluruh kegiatan menulis
tersebut.

4. Penentuan Judul
Setelah topik tulisan ditentukan, maka dalam pelaksanaannya topik yang
telah dipilih itu harus dinyatakan dalam suatu judul karangan. Dalam hal ini judul
merupakan nama, label, atau titel untuk suatu karangan. Judul ditentukan dengan
mempertimbangkan beberapa persyaratan berikut.

1. Judul harus sesuai dengan topik/isi karangan beserta jangkauannya.
2. Judul harus bersifat promotif, artinya dapat menimbulkan keingintahuan
pembaca terhadap isi karangan itu.
3. Judul harus dinyatakan secara jelas.
4. Judul karangan diusahakan sesingkat mungkin.
5. Kerangka Karangan
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang mengandung
ketentuan-ketentuan tentang cara penyusunan karangan.
Manfaat kerangka karangan:
1. membantu penulis untuk menyusun karangan secara teratur, tidak membahas satu
gagasan dua kali, dan mencegah penulis keluar dari sasaran yang telah
dirumuskan dalam topik/judul,
2. memperlihatkan bagian-bagian pokok karangan serta memberi kemungkinan
bagi perluasan bagian-bagian tersebut,
3. memperlihatkan kepada penulis bahan -bahan/materi apa yang diperlukan dalam
pembahasan yang akan ditulisnya nanti.
Berikut ini disajikan contoh suatu kerangka karangan

Topik: Kaitan antara anak jalanan dan tindak kriminalitas dalam masyarakat
Judul: Anak Jalanan dan Krimi nalitas
1. Pengertian anak jalanan
2. Eksistensi anak jalanan dalam masyarakat
3. Tindak kriminal dalam masyarakat
4. Anak jalanan dan pote nsinya sebagai pelaku tindak kriminal
5. Upaya pengentasan anak jalanan



8
6. Pola Organisasi
Organisasi karangan pada umumnya mengikuti pola ilustratif, analitis , dan
argumentatif. Pola ini disusun sesuai dengan arah pembicaraan dan detail
pembahasan tertentu. Yang dimaksud ilustratif ialah bahwa suatu karangan ilmiah
hendaknya dilengkapi dengan ilustrasi sebagai pendukung hipotesis/argumen.
Ilustrasi itu dapat berupa bagan, grafik, tabel, denah, foto, skema, dll. Yang
dimaksud analitis ialah bahw a karangan ilmiah tersebut ditulis melalui tahapan-
tahapan tertentu secara sistematis. Selain itu, dalam tulisan tersebut juga
disajikan pengujian hipotesis dengan metode -metode analisis yang mendukung.
Adapun yang dimaksud argumentatif ialah bahwa karangan ilmiah tersebut
sesungguhnya menyiratkan ketertarikan penulis terhadap sesuatu masalah.
Dalam pada itu, argumen/hipotesis yang diajukan haruslah disertai dengan pengujian
dan data pendukung yang mampu menguatkan argumen penulisnya sehingga
tulisan ilmiah itu dapat
dipertanggungjawabkan.

FORMAT PENULISAN KARANGAN ILMIAH
1. Format karangan ilmiah
a. 4 cm dari tepi kiri kertas, 3 cm dari tepi kanan, 4 cm dari tepi atas, dan 3 cm dari
tepi bawah
b. kertas ukuran kuarto (24,5 x 28 cm) dengan berat standar 70 gr
c. jarak antarbaris 2 spasi
d. penomoran di kanan atas halaman

2. Penulisan unsur -unsur kalimat sesuai dengan EYD

Unsur-unsur kalimat yang digunakan untuk menyusun suatu karangan
ilmiah haruslah disesuaikan dengan EYD. Unsur -unsur kalimat itu meliputi
penulisan tanda-tanda baca, penulisan huruf/ kata, pemutusan kata,
penulisan unsur serapan, dan sebagainya.

3. Pembuatan kutipan

Fungsi kutipan:
a. landasan teori
b. sebagai penjelasan
c. penguat pendapat yang dikemukakan penulis


4. Catatan kaki

Fungsi catatan kaki:

a. menunjukkan sumber informasi
b. sebagai keterangan tambahan
c. referensi silang



9
Penempatan:

a. pada bagian bawah halaman (14 ketukan dari garis tepi dan dua spasi dari
teks di atasnya)

b. pada akhir setiap bab

Contoh catatan kaki:
1Sutan Takdir Alisjahbana (edit.), The Modernization of Languages in Asia
(Kuala Lumpur: The Malaysian Society of Asian Studies, 1967), p. 17.
2Linus Simanjuntak, "Andaikan Kolam itu Bumi Kita", Suara Alam No. 9 (1980),
p. 17-18.



5. Penyusunan daftar bacaan/bibliography

1. daftar pustaka diletakkan pada bagian akhir tulisan
2. daftar pustaka tidak diberi nomor urut
3. nama penulis (tanpa gelar) diurutkan menurut abjad
4. nama akhir/keluarga diletakkan di bagian awal, kecuali untuk nama Cina, Korea,
dan Jepang.
5. masing-masing sumber bacaan diketik dengan jarak baris satu spasi.
6. baris pertama diketik dari tepi garis margin kiri dan baris selanjutnya dituliskan
dengan indensi empat ketukan dari margin kiri.
Pada umumnya formula penulisan data buku ialah

Nama pengarang. Tahun terbit. (“Judul artikel” dalam) Judul buku. (Editor).
(Edisi). (Cetakan). Kota tempat buku diterbitkan: Nama penerbit.



Berikut ini disajikan beberapa contoh penulisan data buku sebagai bibliografi.

Austin, J.L. 1980. How to Do Things with Words . Second Edition. Oxford:
Oxford University Press.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik . Edisi Ketiga. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Mukarto, Fransiscus Xaverius. 2000. “Perkembangan Penguasaan Kosakata
Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan Psikolinguistik” (Makalah) dalam Seminar
Linguistik Masyarakat Linguistik
Indonesia (MLI) Cabang Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Wahab, Abdul. 1995. “Pendekatan Psikolinguistik terhadap Metafora dan
Implikasinya dalam Pengajaran Sastra” dalam Isu Linguistik Pengajaran
Bahasa dan Sastra. Cetakan Kedua. Surabaya: Airlangga University Press.




10
Format standar halaman tulisan ilmiah

Kertas HVS kuarto (A4) 70 gr.
Tingkat kerapatan pengetikan naskah 2 spasi dan kutipan 1 spasi. Jarak
margin dari tepi kertas mengikuti pola 4-4-3-3 cm.



Penyusunan Surat Dinas

1. Pengertian, Fungsi, dan Syarat Surat Dinas yang Baik
Surat merupakan salah satu sarana komunikasi tertulis yang digunakan
orang/instansi untuk menyampaikan informasi kepada orang/instansi lain. Dengan
demikian, surat dinas dapat diartikan sebagai surat yang diterbitkan oleh
kantor/jawatan pemerintah dan berisi hal-hal yang berkaitan dengan masalah
kedinasan.
Surat dinas sekurang-kurangnya mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu (1) sebagai
bukti nyata hitam di atas putih, (2) sebagai pengingat/pedoman kerja, dan (3) sebagai
duta/wakil penulis untuk berhadapan dengan lawan bicaranya.
Adapun syarat surat dinas yang baik ialah bahwa bentuk surat itu menarik,
tujuan penulisan surat jelas, dan bahasa yang digunakan dalam surat itu sopan,
singkat, padat, dan jelas.
2. Format Surat
Yang dimaksud dengan format surat ialah tata letak atau posisi bagian-bagian
surat. Termasuk di dalamnya adalah penempatan tanggal, nomor, salam pembuka,
salam penutup, tembusan, dan lain-lain.
Ada beberapa macam bentuk surat yang dipakai untuk keperluan dinas
(macam-macam bentuk surat dapat dilihat dalam lampiran 1), tetapi dalam makalah
ini ditawarkan bentuk surat yang paling memadai, yaitu bentuk setengah lurus yang
dilazimkan pemakaiannya oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
3. Bagian-bagian Surat
Yang dimaksud dengan bagian-bagian surat ialah (lihat Lampiran 2)
1. Kepala/kop surat
2. Tanggal surat
3. nomor surat
4. lampiran surat
5. hal/perihal surat
6. alamat tujuan
7. salam pembuka
8. paragraf pembuka surat
9. paragraf isi surat
10. paragraf penutup surat
11. salam penutup
12. tanda tangan
13. nama terang penanda tangan
14. jabatan penanda tangan
15. tembusan
16. inisial
4. Penggunaan Bahasa dalam Surat
Agar pesan yang terkandung di dalam surat dapat dipahami oleh penerimanya,
surat, sebagai salah satu jenis karangan tertulis, hendaknya menggunakan bahasa
yang benar, sesuai dengan kaidah komposisi atau kaidah karang mengarang. Kaidah

11
komposisi yang bertalian dengan surat-menyurat, yang mencakup pemilihan kata,
pemakaian ejaan yang disempurnakan, dan penyusunan kalimat, dibicarakan
sebagai berikut.
4.1 Pemilihan Kata
Untuk surat-surat dinas/resmi perlu dipilihkan kata-kata yang baik/baku, lazim
dan cermat. Di samping itu, pemakaian ungkapan idiomatik, ungkapan penghubung,
atau ungkapan yang bersinonim harus dituliskan dengan benar. Beberapa contoh
yang relevan dapat disajikan sebagai berikut.


12
Kata yang baik/baku:
kata baku kata tidak baku
Februari Pebruari
Senin Senen
mengubah merubah
kuitansi kwitansi
tradisional tradisional
persen prosen
jadwal djadwal, jadual
Kata yang lazim:
kata yang lazim kata asing
masukan input
suku cadang spare part
lentur flexible
pendekatan approach
Kata yang cermat:
memohon
meminta
menugasi
memerintahkan
menganjurkan
menyarankan


13
Ungkapan idiomatik:
ungkapan baku ungkapan tidak baku
Terjadi/terbuat dari *terjadi karena
Terdiri atas *terdiri dari
Sesuai dengan *sesuai dari
Disebabkan oleh *disebabkan karena
Berbicara tentang *berbicara mengenai
Ungkapan penghubung
ungkapan baku ungkapan tidak baku
baik...maupun... *baik...atau/ataupun ...
antara ... dan ... *antara ... dengan ...
Ungkapan yang bersinonim :
ungkapan baku ungkapan tidak baku
sejak *sejak dari
dari
adalah *adalah merupakan
merupakan
agar *agar supaya
supaya

4.2 Penerapan Ejaan yang Disempurnakan
Penulis surat dinas sebaiknya menguasai kaidah-kaidah ejaan yang terdapat
dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Berikut ini
disajikan contoh penulisan yang benar dan yang salah.
benar salah
d.a. (dengan alamat) d/a
s.d. (sampai dengan) s/d
dkk. (dan kawan-kawan) d.k.k.
PT P.T.
CV C.V.
antardesa antar desa
subunit sub unit
tunawisma tuna wisma
berterima kasih berterimakasih
pertanggungjawaban pertanggung jawaban

4.3 Penyusunan Kalimat
Kalimat yang digunakan dalam surat dinas hendaknya berupa kalimat
efektif, yaitu kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, singkat, dan enak
dibaca. Sebagai penjelas berikut ini disajikan beberapa contoh kalimat yang sering
dijumpai dalam surat dinas, baik yang salah maupun yang benar (bandingkan
Lampiran 3 dan 4).
(1) *Menurut rencana, dalam pertemuan itu akan dihadiri Kepala Desa
beserta ..
(1a) Menurut rencana, pertemuan itu akan dihadiri Kepala Desa beserta ...
(2) *Membalas surat Bapak tanggal 11 Mei 1995, saya ingin
menanggapinya sebagai berikut
(2a) Sehubungan dengan surat Bapak tanggal 11 Mei 1995, saya ingin
menanggapinya sebagai berikut.
(2b) Surat Bapak tanggal 11 Mei 1995 saya tanggapi sebagai berikut.


14
(3) *Selanjutnya, semua karyawan diharap dapat mengikuti daripada pawai
pembangunan tersebut.
(3a) Selanjutnya, semua karyawan diharap dapat mengikuti pawai
pembangunan tersebut.
(4) *Bersama ini saya mengundang Sauadara untuk menghadiri rapat
pada....
(4a) Dengan ini saya mengundang Saudara untuk menghadiri rapat pada ...
(5) *Demikian pemberitahuan ini agar menjadikan periksa.
(5a) Demikian pemberitahuan kami, harap Saudara mengetahuinya.
(6) *Atas perhatiannya, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih.
(6a) Atas perhatian Saudara, saya ucapkan terima kasih.





Sumber Referensi
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2009. Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Ramlan, M. 1997. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar. Yogyakarta:
Andi Offset.
Wibowo, Ridha Mashudi. 2010. Cermat Menulis dalam Bahasa Indonesia.
Yogyakarta: Jurusan Sastra Indonesia FIB UGM dan Paradigma.
Wijana, I Dewa Putu. 2010. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Imiah. Yogyakarta:
Pustaka Araska.

Buku-buku sejenis yang terkait dengan materi.