You are on page 1of 17

1

MANAJEMEN HALAQAH EFEKTIF

Manajemen adalah upaya pengelolaan yang dilakukan oleh seseorang atau
beberapa orang untuk tujuan atau sasaran secara efektif.

Halaqah berasal dari bahasa Arab halaqah yang berarti kumpulan orang-
orang yang duduk melingkar. Jadi, halaqah adalah proses pembelajaran dimana
murid-murid mellingkari gurunya yang pada umumnya tidak lebih dari 10 orang
agar dapat menyentuh aspek ilmu, akhlak, dan amal.
Pada zaman Rasulullah, halaqah merupakan pendidikan informal yang
dilakukan di rumah-rumah para sahabat terutama rumah Al-Arqam bin Abil
Arqam pada awal dakwah Islam. Setelah masyarakat Islam terbentuk, halaqah
dilaksanakan di shuffah dan muttab atau maktab. Shuffah merupakan tempat yang
dipakai untuk pendidikan, terutama untuk mengajarkan membaca dan menghafal
Al-Qur’an dengan benar yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Kuttab atau
maktab merupakan tempat kegiatan tulis menulis, menghafal Al-Qur’an, dan
pelajaran agama tingkat dasar. Seiring perkembangan zaman, berkembang
Tahapan Manajemen
Rencana
(Planning)
Allahberfirman,"
Wahai orang-orang
yang beriman,
bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah
setiap kalian
memerhatikan apa
yang telah
diperbuatnya untuk
hari esol...."(Q.S. Al-
Hasyr :18)
Pengorganisasian
(Organizing)
Allah berfirman,"
Sesungguhnya Allah
mencintai orang-
orang yang berperang
di jalan-Nya dalam
barisan yang teratur,
seakan-akan seperti
bangunan yang
tersusun kokoh."
(Q.S. Ash-Shaf :4)
Tahapan dan Kinerja
(Processing and
Planning)
Allah berfirman,"Dan
katakanlah,"
Bekerjalah kalian
maka Allah dan
Rasul-Nya dan orang-
orang yang beriman
akan melihat
perkerjaanmu,...."
(Q.S. At-Taubah
:105)
2

menjadi madrasah. Jadi, bila kejayaan Islam ingin kembali bangkit, harus kembali
pada metode, tatanan, serta orientasi halaqah Rasulullah.
Tarbiyah islamiyah melalui halaqah-halaqah kecil bukanlah segala-
galanya, tetapi dari situlah dimulai segala-galanya. Membina adalah suatu
pekerjaan sangat penting dan mulia, karena membina adalah pekerjaan kekasih-
kekasih Allah. Berikut keutamaan-keutamaan membina:
1. Hidayah sejagad
Satu orang yang mendapatkan hidayah Allah melalui perantara kita,
maka pahalanya sungguh tak terkira, 1 kebaikan dilipatgandakan Allah
menjadi 700xlipat. Jika dalam 1 halaqah terdapat 1 orang yang mendapatkan
hidayah, rutin tilawah Al-Qur’a, rajin puasa sunnah, dan mengerjakan
amalan baik lainnya, maka berapa banyak tabungan pahala yang kita miliki.
2. Generasi baru (young generation)
Ada 3 peran pemuda:
 Agent of change-------------garda terdepan.
 Iron stock--------------------tumpuan agama dan bangsa.
 Agent of control-------------kontrol bgi bergulirnya kondisi dan sistem
pemerintahan.
Halaqah yang dibina Rasulullah menghasilkan pemuda-pemuda yang
tangguh seperti Bilal bin Rabbah, Mush’ab bin Umair, Khudzaifah, dll.
Generasi baru digambarkan oleh Allah dalam Q.S. Al-Kahfi :13.
3. Khairu Ummah (Umat Terbaik)
Ada beberapa langkah untuk mencapai kemuliaan sebagai khairu
ummah:
 Pengorbanan harta dan jiwa------------Q.S. At-Taubah :20
 Kesungguhan--------------Q.S. Al-‘Ankabut :69, Q.S. Ar-Ra’du :11, Q.S.
Al-Anfal :53
 Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari Aisyah
r.a.,” Sesungguhnya Allah mencintai seseorang di antara kalian
yang apabila melakukan pekerjaan, maka dia
menyempurnakannya.”
3

 Kelurusan Niat----------------Q.S. Al-An’am :162-163
 Imam Bukhari menangis sampai jatuh pingsan ketika
meriwayatkan bahwa ada 3 golongan yang pertama kali
dilemparkan ke neraka, salah satunya adalah seseorang yang
syahid, namun yang terbesit di dalam hatinya adalah pamor.
 Sabar-----------------Q.S. Al-‘Ankabut :58-59
 Bukan hanya hasil akhir, tetapi juga proses.
 Perjuangan dakwah ada mulanya dan tidak ada akhirnya.
4. Pengawal pribadi
Bagi seorang murabbi, penjagaan Allah justru melalui perantara
binaan-binaannya sendiri. Apa yang seorang murabbi nasihatkan akan
kembali dinasihatkan untuknya. Allah berfirman,” Hai orang-orang yang
beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad :7)
5. Terkenal
Murabbi dikenal karena dia adalah seorang da’I yang beriltizam
dengan nilai rabbani, tidak tergiur manisnya dunia, pangkat, dan tidak
runtuh iman karena wanita. Ketenaran sejatinya adalah di majelis yang
mulia, yaitu majelis malaikat, dimana Allah meyebutkan nama kita, istri,
dan anak kita, orang tua, dst sembari membanggakan kita di hadapan ribuan
malaikat.
6. Wajah nan penuh warna
Rasulullah ketka memprediksikan tentang kualitas ibadah seseorang,
maka ia melihat dari sinar wajahnya dan prediksi beliau tidak pernah
meleset. Dari setiap wajah mutarabbi akan terlihat wajah-wajah harapan
bangsa yang menampilkan Islam dengan tampilan paling indah.
7. Juru kunci
Saat kita membina, maka sesungguhnya kita telah menjadi juru kunci
bagi kemenangan dakwah ini. Siapa orang yang harus kita taati, patuhi,
takuti? Tentu Rasulullah.

4

8. Kegembiraan
Bagaikan orang yang berpuasa mendapat 2 kegembiraan, yaitu saat
berbuka dan saat berjumpa dengan Allah, maka seorang murabbi pun akan
mendapatkan 2 kegembiraan yaitu saat berjumpa dengan mutarabbi dan saat
berjumpa dengan Allah.
9. Penguat dan dikuatkan
Seorang murabbi perannya menguatkan mutarabbi dan Allah-lah yang
menguatkan dan meninggikan kedudukan murabbi. Tidaklah sama antara
orang-orang yang berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan orang yang
hanya berdiam diri saja seperti tercantum di Q.S. At-Taubah :20.
10. Investasi dunia akhirat
Saat kita membina dan menciptakan halaqah, sesungguhnya kita telah
menjadi investor dengan menyandang dana tebesar, karena kita telah
menginvestasikan potensi, waktu, harta, pemikiran, dan jiwa kita unuk Allah
dan agamayang diridhoi-Nya. Semakin banyak binaan, semakn banyak pula
saldo tabunan akhirat kita.

Kepribadian menawan yang harus dimiliki oleh seorang murabbi terdapat
dalam poin berikut :
A. Hidupnya Ruhiyah
Hidupnya kondisi ruhiyah adalah kunci dari keberhasilan membina,
karena hati tidak bisa disentuh dengan kata-kata. Hati hanya bisa disentuh
dengan hati. Hidupnya hati ditandai dengan manisnya iman yang ia rasakan.
Tanda-tanda orang yang sudah merasakan halawatul iman:
1. Selalu menantikan waktu untuk beribadah
Contoh: shalat sebelum tiba waktunya.
2. Bersegera melakukan ketaatan
Berlapis-lapis dan bertubi-tubi tipu muslihat setan. Saat ia tak
mampu menghalangi manusia berbuat kebaikan, maka ia akan
menjadikannya menunda-nunda suatu kebaikan. Saat tidak berhasil,
akan dijerumuskan pada perbuatan riya dan begitu seterusnya.
5

3. Melihat surga dan neraka seolah ada di pelupuk matanya
Orang mukmin adalah orang yang hatinya diterangi cahaya Allah.
Seolah melihat penghuni surga sedang merasakan nikmatnya surga dan
penghuni neraka yang sedang merasakan siksa.
4. Air matanya mudah mengalir ketika bermunajat kepada Allah
Berhati-hatilah bagi orang yang air matanya enggan mengalir saat
berkhalwat dengan Allah, karena itu pertanda ia jauh dari manisnya
iman.
5. Melaksanakan ibadah terasa ringan
Bagi rasul dan salafusaleh, shalat adalah rehat dari kepenatan.
Orang yang sudah merasakan manisnya iman akan merasa ringan
beribadah karena telah menjadi kebutuhan.
6. Adanya penyesalan ketika melewatkan waktu untuk beribadah dan jihad
Khalifah Umar bin Khattab pernah merasakan kebangkrutan besar
ketika melewatkan shalat Asar berjamaah di masjid yang ditebusnya
dengan menginfakkan kebun kurma kesayangannya.
B. Pemberian dan Penempatan Amanah yang Tepat
Beberapa alasan mendasar pemberian amanah baik dalam halaqah
maupun wajihah dakwah:
1. Setiap orang khususnya mutarabbi suka diberi kepercayaan.
2. Seorang mutarabbi sulit mengalami kematngan tanpa terlibat langsung
dengan agenda dakwah.
3. Sebagai pelengkap dari halaqah yang tidak dapat dilaksanakan pada saat
liqa’, menghafal Al-Qur’an, dll.
4. Sarana percepatan mencapai muwashafat kader.
5. Pembelajaran untuk menerima dan menjalankan amanah.
6. Agar tidak ada lagi pengangguran haraki.
Hal yang harus diperhatikan dalam memberikan amanah:
1. Tingkat kesanggupan mutarabbi.
2. Kuantitas amanah: ada kader yang mampu menerima banyak amanah dan
ada kader yang hanya mampu menerima 1 amanah.
6

3. Dilakukan secara berangsur sesuai kebutuhan.
4. Pemberian taujih tentang amanah dan motivasi untuk menjalankan
amanah.
5. Evaluasi amanah tersebut.
6. Menanyakan kesulitan-kesulitannya.
7. Pemberian apresiasi positif jika dapat menyelesaikan amanah dengan
baik.
8. Penjelasan detail tentang amanah mereka.
Penempatan amanah dikatakan tepat apabila sesuai kadar kemampuan,
keahlian, dan ketertarikan mutarabbi. Jadi, murabbi tidak boleh hanya
menggunakan ilmu kirologi (mengira-ngira) dan lebih baik didiskusikan
dengan sang mutarabbi.
C. Panggilan yang Baik
Tidak ada salahnya seorang murabbi memuliakan panggilan bagi
binaan-binaannya.
D. Berlaku Lemah Lembut
1. Kelembutan dalam bersikap-----------senyuman ikhlas.
2. Kerlembutan dalam bertutur kata------------masukan yang bisa
menyelesaikan masalah.
3. Kelembutan dalam menyuruh-------------kesan tidak memaksa.
E. Memerhatikan Tugas Sebagai Seorang Murabbi
Tugas seorang murabbi:
1. Pemimpin (Qiyaday) : penunjuk jalan dan pemberi motivasi kepada
mutarabbi.
2. Guru (Ustadz) : guru spiritual yang menjaga stabilitas hubungan
mutarabbi dengan Allah.
3. Orang tua (Wali) : memberikan perlindungan dan pengayoman.
4. Teman (Shahib) : tempat berbagi, curhat, dan bertukar pikiran.
F. Tak Pilih Kasih Tak Pandang Sayang
Ada beberapa hal yang menyebabkan murabbi tindakan pilih kasih:

7

1. Faktor usia
2. Faktor keaktivan
G. Buktikanlah Rasa Sayang Itu
1. Menanyakan kondisi mutarabbi yang hadir dan keluarganya.
2. Menanyakan kondisi mutarabbi yang tidak hadir.
3. Merasa gelisah ketika mutarabbinya tidak hadir liqo’ dan mencari tahu
penyebabnya.
4. Membantu kesulitan mutarabbinya, baik dalam pelajaran maupun
keuangan.
5. Membantu mutarabbi memecahkan masalah.
H. Egaliter
Seorang murabbi tidak seharusnya menganggap mutarabbi lebih
rendah. Dalam pengambilan keputusan atau kebijakan, mintalah usulan
kepada mutarabbi, sebagaimana Rasulullah meminta pendapat para sahabat
dalam memecahkan banyak persoalan.
I. Pendampingan
Mutarabbi membutuhkan pendampingan dalam sebuah agenda
dakwah agar lebih percaya diri. Paling tidak, mereka akan merasa bahwa
agenda itu benar-benar sangat peting hingga murabbinya hadir di barisan
depan.
J. Say No Kabura Maqtan
Taujih yang diberikan kepada mutarabbi sebetulnya juga untuk
murabbi. Seorang murabbi harus mampu memahami apa yang ia sampaikan.
Kalau mengetahui hanya sampai pada ilmu, tetapi memahami sudah berada
pada tingkatan mengamalkan.
K. Tabayun
Bertanya kepada binaan-binaan kita kenapa ia tidak hadir dan apa
masalahnya. Setelah masalah ditemukan, bantulah untuk menyelesaikannya.
L. Amal Jama’i
Merupakan kerja yang dilakukan bersama-sama. Dalam dakwah,
seorang murbbi menjadikan mutarabbi sebagai partner.
8

M. 3T
1. Standar ta’aruf
 Mengetahui biodata (nama lengkap, panggilan, tanggal lahir, alamat,
hobi, pekerjaan, riwayat organisasi).
 Mengnal keluarganya dan kondisi keluarganya.
2. Standar tafahum
 Paham kondisi ekonomi keluarganya dan tingkat pemahaman
keluarganya terhadap dakwah.
 Paham terhadap hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai.
3. Standar takaful
 Membantu menyelesaikan dakwahnya.
 Membantu menyelesaikan masalah keluarganya.
N. Hindari Isti’jal (Tergesa-Gesa)
Ada tahapan-tahpan yang harus dilalui mutarabbi hingga layak dan
diberdayakan di masyarakat umum. Tahapan itu antara lain pemahaman
Islam yang baik, matang dalam berorganisasi, dan punya kafa’ah (keahlian).
Beberapa metode pendekatan berdasarkan tipe kepribadian mutarabbi:
1. Tipe melankolis (lembut)
 Memberi kado.
 Memberi ucapan selamat pada saat-saat tertentu melalui surat atau
sms.
2. Tipe koleris (keras)
 Berkomitmen dengan janji dan tegas dalam menjalankan kesepakata
yang diambil.
3. Tipe ekstrover (terbuka)
 Meluangkan waktu khusus untuk mendengarkan curhat.
 Banyak berbagi pengalaman.
 Berusaha bersifat supel.


9

4. Tipe introvert (tertutup)
 Menjaga rahasia-rahasianya sehingga ia mau terbuka.
 Membuatnya seolah-olah mendapat perhatian khusus.

Mutarabbi itu :
No Ingin Butuh
1 Didengar Fisiologis
2 Diperhatikan (simpati dan
empati)
Rasa aman
3 Dihargai Cinta
4 Dipuji (memperbaiki
kekeliruan)
Penghargaan
5 Diakui Pengetahuan
6 Menjadi yang terbaik (yang
terbaik yaitu ketulusan,
keikhlasan, dan keseriusan
menjalankan amanah)
Kesuksesan dan keunggulan
7 Afiliasi (kontribusi bagi
dakwah)
8 Motivasi
9 Kebebasan (selama tidak
melanggar syariat)
10 Kontrol

Hal-hal yang sulit ditinggalkan mutarabbi:
A. Pacaran
Umumnya usia puber berkisar antara 13-23 tahun. Pada usia tersebut,
ada kecenderungan saling membutuhkan antara pria dengan wanita. Karena
bahaya yang ditimbulkan oleh lawan jenis, maka materi apapun dalam
halaqah harus menyinggung ini. Hendaklah dibahas tentang bagaimana
Islam berbicara tentang cinta, hukum pacaran dalam Islam, dst. Alangkah
baiknya apabila kecenderungan kepada lawan jenis diarahkan secara terus
menerus.
B. Merokok
Hampir setiap tempat tidak ada yang terbebas dari asap rokok. Setiap
kali menghirup asap rokok, lebih dari 4000 jenis racun masuk ke dalam
10

tubuh kita. Rokok membahayakan semua orang, baik perokok aktif, maupun
perokok pasif. WHO memberikan peringatan bahwa dalam dekade 2020-
2030, tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun dan 70 % terjadi di
negara berkembang, termasuk Indonesia.
1. Perokok sulit bertaubat?
 Karena ada pembenaran merokok.
 Ada banyak figur yang merokok seperti ustadz, guru, tokoh agama,
orang tua, dll.
2. Penyakit akibat merokok menurut BPOM RI
 Penyakit jantung dan stroke.
 Kanker paru-paru.
 Kanker mulut.
 Osteoporosis
 Katarak
 Psoriasis
 Kerontokan rambut.
 Gangguan kehamilan
 Impotensi
C. Kebebasan dan Euforia
Pemuda memiliki kecenderungan untuk bersenang-senang karena itu
adalah fitrah. Kesenangan akan membawa dampak baik apabila diarahkan
pada hal positif. Setan menjadikan dosa tampak indah dan menjadikan
kebahagian dunia dan akhirat tampak tidak menyenangkan. Jadi, dalam
setiap halaqah murabbi tidak membahas seputar hal-hal ukhrawi, tetapi juga
mengarahkan pada kebutuhan dan hobi mutarabbi agar sesuai pandangan
Islam dan pelaksanaan halaqah juga tidak mesti di masjid untuk
memberikan kesan yang berbeda dan nyaman.
D. Musik dan Nyanyian Jahiliyah
1. Nyanyian yang berisi kemusyrikan atau bid’ah.
2. Nyanyian atau syair yang berisi ratapan terhadap orang yang meninggal.
11

3. Nyanyian yang mengisahkan wanita-wanita cantik, pacaran, perzinaan,
khamer, dll.
4. Nyanyian-nyanyian yang mengikuti seni musik.
Sebagai catatan, nyanyian yang paling BAIK dan MERDU adalah
mendengarkan dan bertilawah Al-Qur’an.

Beberapa Alasan Ketidakhadiran Mutarabbi:
1. Tidak ada kendaraan dan jarak tempuh jauh
Kendaraan dan jarak tidak lagi menjadi alasan karena sampai di
daerah pelosok pun sudah ada alat transportasi.
2. Alasan sibuk
Petakan, arsipkan, komunikasikan, dan delegasikan. Perlu adanya
solusi, bukan kemaklum-makluman.
3. Jenuh
Faktor umum: aktivitas yang tidak variatif dan monoton.
4. Dinas ke luar kota
5. Sakit
Ini adalah alasan syar’i yang tidak pertentangan di antara madzab.

Biasanya mutarabbi tidak memberi izin saat tida hadir halaqah karena:
1. Faktor lupa
2. Sengaja tidak memberikan informasi
 Menganggap remeh arti pentingnya izin.
 Ada masalah probadi dengan murabbi.
 Kurang menghargai murabbi.
 Tidak ingin agenda pribadinya terganggu.
3. Segan untuk izin kepada murabbi
4. Tidak ada alat komunikasi atau habis pulsa.



12

Beberapa Alasan Ketidakhadiran Murabbi
1. Banyaknya amanah
Hal yang harus dilakukan adalah mengukur kapasitas kemampuannya.
2. Sering ke lua kota
Harus ada komitmen dan loyalitas yang tinggi untuk dapat membina.
Bila perlu, adanya asisten murabbi sebagai pengganti murabbi yang
berhalangan syar’i dengan catatan kapasitas membina yang memadai.

Penegakan Keadilan
1. Seperti mutarabbi, seorang murabbi juga harus izin dan memberi tahu
perihal ketidakhadirannya dalam halaqah.
2. Peraturan yang sudahdibuat disepakati bersama antara murabbi dan
mutarabbi, seperti hafalan surat dan adanya iqab atas keterlambatan.

Metode Penyampaian Materi
A. Apersepsi
Apersepsi adalah pengulangan materi yang telah disampaikan
sebelumnya yang dilakukan sebelum melanjutkan materi selanjutnya.
Durasi 5-10 menit. Keuntungan:
1. Menyegarkan kembali ingatan mutarabbi terhadap materi yang telah
disampaikan sebelumnya.
2. Murabbi dapat mengetahui tingakt penerimaan mutarabbinya.
3. Tolak ukur murabbi untuk melanjutkan atau mengulang materi
sebelumnya sampai tingkat pemahaman.
4. Memotivasi mutarabbi untuk mengulang dan mengingat materi
sebelumnya sebelum berangkat halaqah.
B. Metode Efektif Abad Ini
1. Active learning
Aktif adalah sebuah upaya merangsang motorik atau kerja fisik.
Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mengajarkan anak-anak
mereka naik kuda, memanah, dan berenang. Halaqah yang kita bina,
13

Outdoor
Out
Bond
Renang
Bela
Diri
seharusnya menghidupkan nuansa aktif baik di dalam maupun luar
ruangan.


2. Creative learning
Kreatif = modifikasi. Dalam active learning yang dituntut aktif
adalah mutarabbi, sedangkan pada creative learning yang dituntut aktif
adalah murabbi. Kreativitas dapat dilakukan oleh siapa saja, bukan
bersifat turunan, dan perlu keberanian untuk melakukan (take action).
Perilaku kreatif perlu dikembangkan agar insting kreatif dapat muncul
ketika di lapangan.
a. Ruang lingkup kreativitas
 Metode penyampaian materi
 Tempat halaqah
 Agenda halaqah
 Media pembelajaran
 Kemasan materi
b. Kondisi yang memerlukan kreativitas tinggi
 Berhadapan dengan pengetahuan mutarabbi yang di atas murabbi.
 Berhadapan dengan mutarabbi yang berpendidikan lebih tinggi.
 Behadapan dengan mutarabbi yang jarak usianya jauh berbeda
(lebih tua atau lebih muda).
 Berhadapan dengan tokoh agama atau tokoh masyarakat.
 Berhadapan dengan mutarabbi yang sebelumnya mengalami futur.
Indoor
Sharing
Bedah
Buku
Diskusi
14

c. Problem solving
 Lakukan pembinaan berbasis muwashafat.
 Murabbi memosisikan diri lebih pada pengorganisasian halaqah.
 Student oriented (stimulus kepada mutarabbi untuk aktif).
 Tempatkan mutarabbi sesuai statusnya.
 Memperbanyak sharing dan tidak malu bertanya.
 Mengasah ketajaman intuisi.
3. E-Learning
Pembelajaran dengan menggunakan Information and
Communication Technology (ICT). Jadi, setiap murabbi yang
menerapkan e-learning, akan mendapatkan:
 mengajak dirinya dan mutarabbi untuk melek teknologi.
 mengarahkan mutarabbinya untuk menggunakan teknologi guna
menambah pengetahuan.
 Menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat.
4. Cooperative learning
Merupakan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru kepada
muridnya untuk bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah yang
dalam dunia dakwah dikenal dengan amal jama’i atau kerja dakwah.
C. Metode Berbasis Muwashafat (Kompetensi)
Merupakan ,ateri yang disampaikan oleh murabbi berdasarkan
capaian-capaian yang hendak dicapai baik bersifat ilmu, akhlak, maupun
amal yang harus dimiliki mutarabbi, paling tidah sebagai pemula memiliki
muwashafat sebagai berikut:
1. Salimul aqidah (akidah yang lurus)
Terbebas dari semua bentuk kesyirikan. Baik syirik uluhiyah
(syirik dalam penyembahan beribadah, contoh: berdoa di tempat
keramat), maupun syirik rububiyah (syirik dalam penciptaan, contoh :
meyakini pencipta selain Allah).


15

2. Sahihul ibadah (ibadah yang benar dan diterima)
 ittiba’ur rasul (mengikuti sunnah rasul atau beribadah berdasarkan
ilmu).
 ikhlasun niyyat (niat ikhlas dan terhindar dari riya’, sum’ah, dan
kesombongan dalam beribadah).
 terhindar dari bid’ah
3. Matinul khuluk (memiliki akhlak yang baik)
D. Penyampaian Acak, Bolehkah?
Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, dakwah yang pertama kali
beliau serukan yaitu menauhidkan Allah, lalu penokohan akidah memakan
waktu 23 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan tarbiyah
tersutruktur dengan baik. Setelah tauhid, boleh disampaikan materi
mengenai akidah yang dapat dilakukan secara acak sesuai kebutuhan, tetapi
muwashafat yang dicapai terlebih dahulu harus jelas.
E. Frekuensi Penyampaian Materi
Idealnya, satu materi disampaikan dalam beberapa pertemuan. Akan
tetapi, murabbi sering kehabisan materi jika harus menyampaikan satu
materi dalam beberapa pertemuan.
Penyampaian materi yang baik seperti seorang guru yang mengajarkan
materi kepada muridnya. Terus diulangi untuk megetahui bagian yang
belum mencapi target dan masih kurang untuk mengarahkan sampai ke
tahap penerapan. Halaqah yang diimplemenasikan seperti cara pengajaran
seorang guru akan memperdalam materi sampai pada tahapan penerapan.

Manajemen Waktu yang Diinginkan oleh Mutarabbi Pemula
A. Durasi Waktu
Lamanya waktu tidak menjamin kualitas dari sebuah halaqah.
Hendaklah setiap murabbi lebih efisien dalam menggunakan waktu dan
hendaklah dengan durasi waktu 2-3 jam materi sudah tersampaikan dengan
baik dan semua program halaqah berjalan dengan baik. Dengan efisiensi
waktu, diharapkan efektivitas halaqah dapat tercipta.
16


B. Waktu Efektif untuk Liqa’
Idealnya, waktu efektif untuk liqa’ yaitu di pagi hari, antara waktu
dhuha sampai menjelang dzuhur. Di waktu pagi har, daya ingat bekerja
dengan sangat baik karena belum diisi dengan agenda dan aktivitas yang
menguras energi, melelahkan, bahkan membosankan. Akan tetapi, yang
menjadi masalah, mungkinkah liqa’ dilaksanakan pagi hari?

C. Indhibat
Seorang murabbi yang baik harus memerhatikan manajemen
waktunya agar, sehingga bisa hadir lebih dulu dari mutarabbinya. Bahkan
sebaiknya 30 menit sebelum halaqah dimulai. Hal ini dilakukan untuk
menghindari waktu pelaksanaan halaqah yang molor.
D. Pergantian Jadwal Halaqah
1. Pastikan informasi tersebut sampai ke mutarabbi.
2. Pastikan bahwa pergantian jadwal tidak berbenturan dengan agenda
mutarabbinya.
3. Komunikasikan dahulu, baru diputuskan.
4. Pastikan tidak berbenturan dengan agenda dakwa lainnya yang
melibatkan mutarabbi sebagai panitianya.
5. Jangan terlalu sering menganti jadwal jika tidak sangat mendesak.

Manajemen Iqab
A. Macam-Macam Iqab
Terbagi menjadi 2 yaitu hukuman fisik dan nonfisik. Rasulullah
pernah melakukan hukuman dalam bentuk nonfisik. Rasulullah tidak pernah
melakukan hukuman fisik kecuali pada musuh-musuh Islam. Pemberian
hukuman dalam halaqah diberlakukan bila ishah (perbaikan) yang
dilakukakn tidak memberi perubahan dan harus memerhatikan hal-hal
berikut:
1. Hukuman yan diberikan seimbang dengan kesalahan yang dilakukan.
17

2. Hukuman yang diberikan hendakmua menyemangai mutarabbi.
3. Tidak memberikan hukuman sebelum memberi penjelasan berdasar
hukum Islam.
4. Tidak memberikan hukuman yan dapat menurunkan harga diri
mutarabbi.
B. Metode Rasululah dalam Meluruskan Kesalahan
1. Teguran lansung
2. Sindiran
3. Pemutusan hubungan dengan jamaah
Rasulullah pernah melarang para sahabat mendekati dan berbicara
degan Ka’ab bin Malik selama 30 hari karena dia tdak ikut perang Tabuk.
Hukuman ini berhenti ketika Ka’ab bin Malik bertaubat.
C. Kapan Harus Menjatuhkan Iqab?
Iqab atau hukuman hanya boleh dilakukan apabila upaya perbaikan
dengan jalan teguran secara langsung dan sindiran tidak memberikan
perubahan kepada mutarabbi.
D. Iqab yang Efektif
1. Mampu menggugah hati mad’u.
2. Harus seimbang atau sebanding dengan tingkat pelanggaran mutarabbi.
3. Mementingkan aspek tujuan dan tidak memperturutkan nafsu amarah,
sehingga hukuman dapat dilakukan secara objektif.
4. Hendaklah dapat menambah suasana keakraban antara murabbi dengan
mutarabbi.
5. Hendaklah dapat menimbulkan sensitivitas terhadap hal-hal yang harus
ditingglkan oleh setiap mutarabbi dalam kerangka syariat Islam.
6. Menimbulkan rasa jera, sehingga tidak mengulangi pada kesalahan yang
sama.