You are on page 1of 21

SUKU SAMBORI

Kelompok 8 : Dessi Wulandari


Rafika Putri Agata
Sma Negeri 1 Kuningan





SEJARAH SUKU SAMBORI.
Suku Sambori berada di Desa Lengge, Kec. Labitu, Kab. Bima, Pulau Sumbawa
Provinsi NTB. Komunitas Suku Sambori ini tinggal tepat di kaki Gunung Labitu, oleh karena
itu hampir setiap pagi dan sore hari Desa Lengge ini diselimuti oleh kabut, sehingga sangat
pantas sekali Suku Sambori di Desa Lengge ini diumpamakan bagaikan negeri di awan. Desa
Sambori adalah sebuah desa tradisional. Di Sambori ini didiami oleh orang/suku asli Bima
yang disebut Dou Donggo Ele (Orang Donggo yang tinggal di sebelah timur teluk Bima).
Secara historis orang bima atau dou mbojo dibagi dalam 2 (dua) kelompok masyarakat: Asli
dan Masyarakat Pendatang. Masyarakat donggo atau dou mbojo adalah masyarakat yang
paling lama mendiami Daerah Bima dibandingkan dengan suku lain mereka bermukim
didaerah pemukiman di daratan tinggi yang jauh dari pesisir, memiliki bahasa adat istiadat
yang berbeda dengan orang Bima atau Dou mbojo. Dou donggo mendiami lereng-lereng
gunung Lambitu yang di sebut Dou Donggo Ele sementara Dou Donggo yang mendiami
lereng gunung soromandi disebut Dou Donggo Ipa, mereka tinggal disuatu perkampungan
dengan rumah adat disebut Lengge di kelilingi pegunugan dan pembukitan serta panorama
alam yang indah dan menarik untuk di nikmati.
Falsafah hidup Dou Donggo Ele dan Dou Donggo Ipa senang hidup dalam kondisi
pegunungan dan daratan tinggi. Rumah dibangun sangat tinggi sekitar 6 sampai 7 meter
dengan ukuran kecil sekitar 34 meter dengan maksud untuk menyimpan panas, mata
pencahariannya dengan berladang dan beburu. Rasa kekeluargaan dan sukuisme serta sifat
gotong royong sangat erat.
Khusus untuk Uma Lengge Sambori berbeda dengan bentuk bangunan Uma Lengge
yang ada di tempat lain. Pintu masuknya terdiri dari 3 daun pintu yang berfungsi sebagai
bahasa komunikasi dan sandi untuk para tetangga dan tamu. Jika daun pintu lantai pertama
dan kedua di tutup, ini menunjukkan bahwa yang punya rumah sedang berpergian tapi tidak
jauh dari rumah. Tetapi jika ketiga pintu ditutup, berarti pemilik rumah sedang berpergian
jauh dalam tempo yang relatif lama. Ini merupakan sebuah kearifan lokal yang sudah
ditunjukan oleh para leluhur suku Bima. Tertutupnya pintu merupakan sebuah pesan yang
disampaikan secara tidak langsung oleh si empunya rumah bahwa dia sedang tidak ada di
rumah. Disamping itu, tamu atau tetangganya tidak perlu menunggu terlalu lama karena
sudah ada isyarat dari daun pintu tersebut. Salah satu alasan mengapa mereka umumnya
mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh pendatang-pendatang baru yang
menyebarkan budaya dan agama yang baru pula, seperti agama Islam, Kristen dan bahkan
Hindu/Budha
2. Orang Donggo
Orang Donggo dikenal sebagai penduduk asli yang telah menghuni tanah Bima sejak lama.
Mereka sebagian besar menempati wilayah pegunungan. Karena letaknya yang secara
geografis di atas ketinggian rata-rata tanah Bima, Dou Donggo (sebutan bagi Orang Donggo
dalam bahasa Bima), kehidupan mereka sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang dijalani
masyarakat Bima saat ini. Masyarakat Donggo mendiami sebagian besar wilayah Kecamatan
Donggo sekarang, yang dikenal dengan nama Dou Donggo Di, sebagian lagi mendiami
Kecamatan Wawo Tengah (Wawo pegunungan) seperti Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan
Kalodu Dou Donggo Ele.
Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunungan.
Salah satu alasan mengapa mereka umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena
terdesak oleh pendatang-pendatang baru yang menyebarkan budaya dan agama yang baru
pula, seperti agama Islam, Kristen dan bahkan Hindu/Budha. Hal ini dilakukan mengingat
masih kuatnya kepercayaan dan pengabdian mereka pada adat dan budaya asli yang mereka
anut jauh-jauh hari sebelum para pendatang tersebut datang.
LETAK GEOGRAFIS

1.SISTEM KEPERCAYAAN.
Kepercayaan asli nenek moyang mereka adalah kepercayaan terhadap Marafu
(animisme). Kepercayaan terhadap Marafu inilah yang telah mempengaruhi segala pola
kehidupan masyarakat, sehingga sangat sukar untuk ditinggalkan meskipun pada akhirnya
seiring dengan makin gencarnya para penyiar agama Islam dan masuknya para misionaris
Kristen menyebabkan mereka menerima agama-agama yang mereka anggap baru tersebut.
Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis
dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan
masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis
di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima, maka tak heran
agama pun cukup beragam meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam.
Untuk itu, dalam pembahasan berikut akan kita lihat bagaimana keragaman masyarakat Bima
tersebut, baik dilihat dari imigrasi secara etnis/budaya maupun secara agama/kepercayaan.
Kepercayaan ini merupakan kepercayaan asli penduduk Dou Mbojo. Sebagai media
penghubung manusia dengan alam lain dalam kepercayaan ini, diangkatlah seorang
pemimpin yang dikenal dengan nama Ncuhi Ro Naka. Mereka percaya bahwa ada kekuatan
yang mengatur segala kehidupan di alam ini, yang kemudian mereka sebut sebagai Marafu.
Sebagai penguasa alam, Marafu dipercaya menguasai dan menduduki semua tempat seperti
gunung, pohon rindang, batu besar, mata air, tempat-tempat-tempat dan barang-barang yang
dianggap gaib atau bahkan matahari. Karena itu, mereka sering meminta manfaat terhadap
benda-benda atau tempat-tempat tersebut. Selain itu, mereka juga percaya bahwa arwah para
leluhur yang telah meninggal terutama arwah orang-orang yang mereka hormati selama hidup
seperti Ncuhi, masih memiliki peran dan menguasai kehidupan dan keseharian mereka.
Mereka percaya, arwah-arwah tersebut tinggal bersama Marafu di tempat-tempat tertentu
yang dianggap gaib. Masyarakat asli juga memiliki tradisi melalui ritual untuk menghormati
arwah leluhur, dengan mengadakan upacara pemujaan pada saat-saat tertentu. Upacara
tersebut disertai persembahan sesajen dan korban hewan ternak yang dipimpin oleh Ncuhi.
Tempat-tempat pemujaan tersebut biasa dikenal dengan nama Parafu Ra Pamboro.
Masyarakat desa Sambori mayoritas memeluk agama Islam. Menurut mereka agama Islam
masuk ke dalam masyarakat Sambori, dibawah oleh seorang ulama dari Ternate yang
bernama Syekh Subuh. Karena ulama ini tiba di Sambori pada saat Subuh. Maka Syekh
inipun dikenal dengan nama Syekh Subuh. Makam Syekh Subuh berada di atas puncak
gunung Sambori, yang dianggap sebagai kuburan keramat

.2.SISTEM MATA PENCAHARIAN.
Sebagaimana umumnya mata pencaharian masyarakat yang masih tergolong tradisional, mata
pencaharian Dou Donggo pun terpaku pada berladang dan bertani. Sebelum mengenal cara
bercocok tanam, mereka biasanya melakukan perladangan berpindah-pindah, dan karena itu
tempat tinggal mereka pun selalu berpindah-pindah pula (nomaden).
Masyarakat Sambori rata-rata bekerja sebagai petani. Sehari-hari mereka sudah mengenal
bercocoktanam sejak zaman nenek moyang. Mereka memiliki ladang dan kebun yang
ditanami berbagai jenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Sambori merupakan salah satu dari lima desa di lereng gunung Lambitu di sebelah
tenggara kota

3.ILMU PENGETAHUAN
Berhadapan dengan kian gencarnya arus modernisasi, seiring itu pula pemahaman
masyarakat akan kenyataan hidup berubah, terutama dalam hal pendidikan dan teknologi.
Saat ini, telah sekian banyak para sarjana asli Donggo, yang umumnya menimba ilmu di luar
daerah seperti Ujung Pandang, Mataram atau bahkan ke kota-kota di pulau Jawa seperti
Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan lain-lain. Demikian juga halnya dengan teknologi, yang
akhirnya merubah pola hidup mereka seperti halnya dalam penggarapan sawah, kendaraan
sampai alat-alat elektronik rumah tangga, karena hampir semua daerahnya telah dialiri listrik.
Bahkan tak jarang mereka menjadi para penyiar agama seperti Dai, karena telah begitu
banyaknya mereka naik haji.
4.PERALATAN DAN PERLENGKAPAN
a.rumah adat
Uma Lengge dan Jompa: Sejarah, Filosofi dan Arsitektur Masyarakat Bima


Sejarah dan Filosofi
Uma Lengge salah satu rumah adat tradisional peninggalan asli nenek moyang suku Bima
(Dou Mbojo) yang dulunya berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi. Lokasi kedua
peninggalan adat tersebut terletak di Desa Maria, Kecamatan Maria, dan Desa Sambori
Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa.

Pada masa lalu, padi disimpan di Uma Lengge atau Uma Jompa untuk kebutuhan satu tahun.
Penempatannya yang terpisah dengan rumah tinggal penduduk konon dimaksudkan untuk
mencegah efek domino yang merugikan apabila terjadi bencana kebakaran. Dengan
demikian, apabila rumah tempat tinggal penduduk terbakar, maka padi yang disimpan di
dalam Uma Lengge atau Uma Jompa tidak akan ikut terbakar, begitu pula sebaliknya. Oleh
karena itulah, kompleks Uma Lengge di Desa Maria dibangun agak jauh dari pemukiman
penduduk.

Ciri, struktur ruang dan Pola Permukiman Lengge merupakan salah satu rumah adat
tradisional Bima yang dibuat oleh nenek moyang suku Bima (Mbojo) sejak zaman purba.
Sejak dulu, bangunan ini tersebar di wilayah Sambori, Wawo dan Donggo. Khusus di
Donggo terutama di Padende dan Mbawa terdapat rumah yang disebut Uma Leme.
Dinamakan demikian karena rumah tersebut sangat runcing dan lebih runcing dari Lengge.
Atapnya mencapai hingga ke dinding rumah. Namun saat ini jumlah Lengge atau Uma
Lengge semakin sedikit. Di kecamatan Lambitu, Lengge dapat ditemukan di desa Sambori
yang berjarak sekitar 40 km sebelah tenggara kota Bima. Meskipun ada juga di desa lain
seperti di Kuta, Teta, Tarlawi dan Kaboro dalam wilayah kecamatan Lambitu.

Uma Lengge terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu dan
kegiatan upacara adat. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur.
Sedangkan lantai ketiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti padi, palawija
dan umbi-umbian.
Pintu masuknya terdiri dari tiga daun pintu yang berfungsi sebagai bahasa komunikasi dan
sandi untuk para tetangga dan tamu. Menurut warga Sambori, jika daun pintu lantai pertama
dan kedua ditutup, hal itu menunjukan bahwa yang punya rumah sedang berpergian tapi tidak
jauh dari rumah. Tapi jika ketiga pintu ditutup, berarti pemilik rumah sedang berpergian jauh
dalam tempo yang relatif lama.
Hal ini tentunya merupakan sebuah kearifan yang ditunjukkan oleh leluhur orang-orang
Bima. Ini tentunya memberikan sebuah pelajaran bahwa meninggalkan rumah meski
meninggalkan pesan meskipun dengan kebiasaan dan bahasa yang diberikan lewat
tertutupnya daun pintu itu. Disamping itu, tamu atau tetangga tidak perlu menunggu lama
karena sudah ada isyarat dari daun pintu tadi.

Seiring perubahan zaman, Uma Lengge sudah banyak yang dipermark disesuaikan dengan
kebutuhan masa kini. Atapnya sudah banyak yang terbuat dari seng. Fungsinya juga sudah
banyak yang menjadi lumbung. Lengge-lengge yang ada di wawo saat ini sudah banyak yang
difungsikan sebagai lumbung padi. Keberadaan lengge di kecamatan Wawo menjadi salah
satu obyek wisata budaya di kabupaten Bima. Banyak wisatawan manca negara yang
berkunjung ke Lengge Wawo untuk melihat dan meneliti tentang sejarah Uma Lengge.

Lengge Sambori juga merupakan salah satu aset dan obyek wisata desa adat yang telah
dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Bima. Sambori terletak di lembah gunung Lambitu
yang sejuk dan dingin tanpa polusi udara. Menurut penelian sejarah orang orang Sambori
atau yang dikenal dengan nama Dou Donggo Ele dan orang-orang Donggo Ipa atau di
kecamatan Donggo sekarang merupakan suku asli Bima.

Denah pemukiman uma lengge terletak berkumpul pada suatu tempat dengan rumah
berjejeran tanpa adanya pagar halaman karena letak uma lengge berdekatan dan berkelompok
dengan uma lengge lainnya.
Arsitektur Bangunan
Secara umum, struktur Uma Lengge berbentuk kerucut setinggi 5-7 cm, bertiang empat dari
bahan kayu, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga perempat bagian rumah
sebagai dinding dan memiliki pintu masuk di bagian bawah. Untuk bagian atap, terdiri atas
atap uma atau butu uma yang terbuat dari daun alang alang, langit-langit atau taja uma yang
terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau
kelapa. Pada bagian tiang uma juga digunakan kayu sebagai penyangga, yang fungsinya
sebagai penguat setiap tiang-tiang Uma Lengge. Uma Lengge terdiri dari tiga lantai. Lantai
pertama digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat. Lantai kedua berfungsi
sebagai tempat tidur sekaligus dapur. Sementara itu, lantai ketiga digunakan untuk
menyimpan bahan makanan, seperti padi.

Bentuk Lengge mirip bangunan rumah panggung yang dibangun menggunakan bahan kayu
dengan atap dari ilalang. Ukurannya sekitar 4 kali 4 meter, dengan tinggi hingga puncaknya
mencapai 7 meter. Lengge ditopang empat kaki kayu, setinggi 1 meter. Di atas kaki kayu itu,
ada semacam bale-bale tanpa dinding dengan 4 penyangga kayu setinggi 1,5 meter. Di atas
bale-bale, ada ruangan berdinding kayu, tempat penyimpanan persediaan pangan. Atapnya
dari ilalang yang berbentuk mengerucut ke atas.


Bagi masyarakat Sambori, Rumah atau Uma Nggee Kai merupakan kebutuhan paling
pokok dalam kehidupan keluarga. Dalam falsafah masyarakat Bima lama (Sambori dan
Donggo) bahwa orang yang baik itu yang berasal dari keturunan yang baik, mempunyai istri
yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda
tunggang yang lincah. Dari ungkapan di atas, jelaslah bahwa rumah merupakan kebutuhan
pokok yang tidak boleh diabaikan. Karena itu dalam membangun rumah harus memilih
PANGGITA atau arsitek yang memiliki Loa Ra Tingi (Kemampuan dan keahlian) yang
tinggi dan berakhlak mulia. Panggita juga harus memahami SASATO (Sifat atau pribadi)
pemilik rumah. Baku Ro Uku atau bentuk dan ukuran dalam arti tata ruang harus disesuaikan
dengan sifat dan kepribadian pemilik rumah.
Uma Lengge merupakan salah satu rumah adat tradisional yang dibuat oleh nenek
moyang suku Bima (Mbojo) sejak zaman purba. Sejak dulu, bangunan ini tersebar di wilayah
Sambori, Wawo dan Donggo. Khusus di Donggo terutama di Padende dan Mbawa terdapat
Uma Lengge yang disebut Uma Leme. Dinamakan demikian karena rumah tersebut sangat
runcing dan lebih runcing dari Lengge. Atapnya mencapai hingga ke dinding rumah. Di
kecamatan Lambitu, Uma Lengge dapat ditemukan di desa Sambori dan desa-desa lain di
sekitarnya seperti di Kuta, Teta, dan Kaboro.
Secara umum, struktur Uma Lengge berbentuk kerucut setinggi 5- 7 m, bertiang empat
dari bahan kayu-kayu pilihan, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga perempat
bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibawah.Uma Lengge terdiri dari 4
lantai, yaitu lantai dasar (kolong) atau Ground Floor yang berfungsi sebagai tempat
menyimpan ternak. Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara
adat. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur. Sedangkan lantai ketiga
digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti padi, palawija dan umbi-umbian.
Uma lengge memiliki bagian bagian yang terdiri atap uma (butu uma) yang terbuat dari
daun alang-alang, langit-langit atau taja uma terbuat dari kayu lontar serta lantai tempat
tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau kelapa. Pada bagian tiang Uma Lengge juga
digunakan kayu yang dijadikan sebagai penyangga, yang fungsinya sebagai penguat setiap
tiang tiang uma lengge. Pintu masuknya terdiri dari tiga daun pintu yang berfungsi sebagai
bahasa komunikasi dan sandi untuk para tetangga dan tamu.
Sudah menjadi konvensi turun temurun di kalangan masyarakat Sombori, jika daun pintu
lantai pertama dan kedua ditutup, hal itu menunjukan bahwa yang punya rumah sedang
berpergian tapi tidak jauh dari rumah. Tapi jika ketiga pintu ditutup, berarti pemilik rumah
sedang berpergian jauh dalam tempo yang relatif lama. Hal ini tentunya merupakan sebuah
kearifan yang ditunjukkan oleh leluhur orang-orang Sambori, bahwa meninggalkan rumah
meski meninggalkan pesan meskipun dengan kebiasaan dan bahasa yang diberikan lewat
tertutupnya daun pintu itu. Disamping itu, tamu atau tetangga tidak perlu menunggu lama
karena sudah ada isyarat dari daun pintu tadi.
Pintu rumah berada di bagian yang tersembunyi yaitu di pojok atau di sudut ruang atas.
Tangga rumah tidak selalu dalam keadaan terpasang. Dari posisi tangganya juga ada sandi
atau tanda yang diketahui oleh kerabatnya dari cara mereka menyimpan tangga. Apabila
tangganya dibiarkan terpasang, berarti penghuninya telah pergi ke ladang dan akan kembali
dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Apabila tangga disimpan agak jauh dari rumah,
hal itu berarti penghuninya telah pergi jauh dan akan kembali dalam waktu yang lama. Pada
masa pra Islam, apabila ada anggota keluarga yang meninggal, jenazahnya tidak boleh
diturunkan melalui pintu dan tangga. Tetapi diturunkan melalui atap rumah. Di halaman
rumah harus ada beberapa buah batu sebagai tempat tinggal roh leluhur yang sudah
meninggal. Dan pada waktu tertentu diadakan upacara pemujaan roh yang disebut Toho
Dore. Tapi seiring masuknya Islam, ritual ini telah ditinggalkan.
Antropolog Albert dalam kunjungannya di Bima pada tahun 1909 menamakan Uma
Lengge dengan A Frame (Kerangka Huruf A). Rumah seperti ini berfungsi sebagai
penyimpan panas yang baik, mengingat daerah Sambori adalah daerah pegunungan yang
berhawa dingin. Prototipe A Frame juga sangat tahan terhadap terjangan angin dan badai.
Disamping itu, tinggi Lengge yang mencapai 7 meter dengan tempat tidur dan penyimpanan
bahan makanan di lantai dua dan tinggi dimaksudkan juga agar aman dari bahaya banjir dan
binatang buas.
Proses pembangunan Uma Lengge dilakukan dalam kurun waktu sekitar 1 sampai 3
tahun dengan menggunakan kayu-kayu alam pilihan. Ada sekitar 14 jenis kayu yang
dibutuhkan untuk pembangunan sebuah Uma Lengge dan 3 jenis tali temali yang berasal dari
serat pohon yang ada di sekitar Sambori. Kayu-kayu tersebut adalah Kayu Gaharu, Wako,
Cuma, Rondu, Papare, Sarise, Kandaru, Nangka, Mpipi, Isu, Lobo, Sangari, Supa dan Pinang.
Sedangkan Tali yang digunakan adalah dari rotan, serat pohon kalimone dan Bulunao (Ijuk).
Proses pembangunan Lengge dilakukan secara gotong royong yang dikenal dengan Karawi
Kaboju. Agar Lengge bisa bertahan lama dan demi keselamatan para peghuninya dilakukan
semacam ritual Doa. . Di dalam suatu desa terdapat satu rumah adat Suku Sambori bernama
Rumah Lengge yang berusia 300 tahun dengan ukuran 3x3m dan merupakan tempat untuk
tidur dan memasak.


b. Rumah adat .
. Ditengah-tengah pemukiman komunitas Suku Sambori masih tersisa satu rumah adat yang
disebut Rumah Lengge yang berdiri diatas tanah keramat yang tidak boleh diinjak oleh
manusia, dikarenakan adanya penunggu yang bersih dan bersifat kasat mata, mereka
menyebutnya Parafomangguodo yaitu nenek moyang dari komunitas Suku Sambori. Jika
ada orang yang dengan atau tidak sengaja menginjak tanah keramat tersebut maka dapat
meyebabkan masuknya roh halus ke dalam tubuh
C,.Pakaian adat
Menurut adat Suku Sambori bagi wanita yang sudah bersuami mereka harus menggunakan
Rimpu yaitu cadar untuk menutupi bagian wajah mereka dan hanya menyisakan satu mata
saja yang boleh terlihat, namun jika wanita yang sudah berumur 65 tahun keatas boleh tidak
sampai menutupi wajah, karena itu sudah peraturan adat dan tradisi komunitas Suku Sambori.
Lain halnya para lelaki, diharuskan memakai Tebemuna yaitu sarung dan Samboloboki
yaitu ikat kepala bagi kaum lelaki. Pakaian adat masyarakat Sambori berbeda dengan pakaian
adat suku Bima-Dompu pada umumnya. Masyarakat Sambori tampil berbeda, yang terlihat
dalam pakaian sehari-hari. Laki-laki dewasa biasanya memakai Sambolo (ikat kapala) yang
terbuat dari kain kapas tenunan dengan hiasan kotak-kotak berwarna hitam atau putih.
Dipadu dengan baju Mbolo Wooatau, yaitu baju tanpa kerah yang terbuat dari kain katun
dberwarna hitam atau putih.

Orang Sambori memakai sarung yang disebut Tembe Mee (sarung hitam) khas Sambori
dipintal dan ditenun dari bahan kapas berwarna hitam. Dipakai dengan cara dililit pada
bagian perut. Kemudian mereka memakai aksesoris Weri atau Bala (kain ikat pinggang) yang
diselempangkan melingkar pada bagian perut sampai di atas paha, yang berrfungsi untuk
menguatkan lilitan sarung.Sedangkan para perempuan dewasa, memakai baju Poro Mee,
yang terbuat dari kain katun dengan bentuk menyerupai baju Poro pada pakaian adat
masyarakat Bima umumnya. Sarung memakai Tembe Mee, dibuat agak panjang karena cara
memakainya yaitu dengan cara dimasukkan secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian
dibiarkan lepas sampai ke betis, sekedar pelengkap mereka mengenakan Kababu,yang
diselempangkan pada bahu. Untuk rambut ditata dengan membuat semacam ikatan yang
dibentuk meninggi di atas kepala yang disebut Samuu Tuu.
d.perabotan


Kehidupan masyarakat Desa Sambori sangat sederhana, iu tampak dari bentuk dan perabotan
yang ada dirumah mereka, Masyarakat Desa Sambori bisa dibilang masih tergolong
terbelakang mengenai Tekhnologi maupun perkakas untuk keseharian mereka yang
berkembang disaat ini, hingga mereka banyak yang masih menggunakan peralatan dan
perkakas yang masih Tradisional, Panci untuk masak mereka masih menggunakan panci yang
terbuat dari tanah liat, dan yang lebih menarik lagi di Sambori bila hujan turun mereka tidak
menggunakan payung pada umumnya, akan tetapi mereka menggunakan sebuah kulit pohon
atau daun Pandan maupun Rotan yang di buat untuk menjadi payung, masyarakat setempat
menyebutnya WAKU dan orang Bima mengenalnya dengan nama LUPE.



5.BAHASA (INGE NDAI)
Sambori dan sekitarnya adalah wajah lama Bima yang memiliki keunikan tersendiri baik
dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah Bahasa yang
dituturkan warganya yang berbeda dengan bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Adalah sesuatu
yang unik dan klenik tentunya dimana dalam satu wilayah terdapat beberapa bahasa yang
digunakan dan pernah hidup bersama masyarakatnya.
Menurut sejarah perkembangannya Bahasa Bima dibagi dalam 2 kelompok yaitu :
1. Kelompok Bahasa Bima lama meliputi ;
Bahasa Donggo, dituturkan oleh masyarakat Donggo Ipa yang bermukim di
pegunungan sebelah barat teluk Bima meliputi desa OO, Kala, Mbawa, Palama,
Padende, Kananta dan Doridungga.
Bahasa INGE NDAI yang dituturkan oleh masyarakat Donggo Ele yang bermukim
di lereng Gunung Lambitu Wawo Tengah) meliputi desa Tarlawi, Kuta, Sambori,
Teta, Kaowa, dan Kaboro.
2. Kelompok Bahasa Bima baru, lazim disebut dengan Nggahi Mbojo, digunakan oleh
masyarakat umum di Bima dan berfungsi sebagai bahasa ibu. Khusus bagi masyarakat
Sambori dan pemakai bahasa Bima lama lainnya , Bahasa Bima baru berfungsi sebagai
pengantar komunikasi dengan orang lain di luar kalangan mereka. Sedangkan khusus untuk
di kalangan mereka, Bahasa Sambori dan Donggo tetap digunakan sebagai alat komunikasi.
(H. Abdullah Tayib, BA : Sejarah Bima Dana Mbojo Hal : 36)
Belum diketahui pasti, kapan Rumpun Bahasa INGE NDAI mencapai puncaknya dan
sejak kapan pula mulai pudar dalam penuturan warganya. Bahasa INGE NDAI menyebar di
sejumlah kampung dan desa yang ada di gugusan pegunungan Lambitu di tenggara Kota
Bima seperti di Desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Sambori, Kadi (Kaowa) dan Kuta. Desa-desa ini
masuk dalam wilayah kecamatan pemekaran Lambitu, kecuali Desa Tarlawi yang masuk
dalam wilayah kecamatan Wawo karena jaraknya sekitar 7 KM dari Wawo.
Jika dicermati dari beberapa kata memiliki kesamaan dengan bahasa Bugis, Flores,
Manggarai, Sumbawa, Melayu dan suku-suku lain di Indonesia. Misalnya Manasu dan Manu
yang berarti memasak, sama dengan bahasa Bugis. Asu yang berarti anjing, sama dengan
bahasa Manggarai dan Sumbawa. Mate yang berarti mati sama dengan Bahasa Sumbawa dan
Bugis. Kemiri, Nangka juga sama dengan bahasa Melayu. Dan masih banyak kosa kata
lainnya yang memiliki persamaan. Tapi pada sebagian besar kata-katanya memiliki kesamaan
dengan Nggahi Mbojo (Bahasa Bima).
Berikut deretan 100 Kata Rumpun INGE NDAI :

No Sambori Mbojo Indonesia
1. Manga Ngaha Makan
2. Nono Enu Minum
3. Pou Foo Mangga
4. Hadu Haju Kayu
5. Hudu Hidi Halaman Pekarangan
6. Manasu Mbako Memasak
7. Uta Moro Uta Mbeca Sayur
8. Uta Mbohi Uta Moti Ikan Laut
9. Kaliu Ncai Jalan
10. Asa Au Ncai Uma Pintu Rumah
Upacara penyambutan.
Komunitas Suku Sambori merupakan suku dengan penduduk yang ramah, hal ini dibuktikan
ketika kru Primitive Runaway menyambangi Desa Lengge tersebut. Upacara penyambutan
khas Suku Sambori terhadap para tamu yang datang yaitu dengan mempertunjukkan tradisi
kesenian adu betis yang dinamakan Paalanca. Tradisi adu betis ini hanya boleh dilakukan
oleh kaum laki-laki dan harus terdiri dari tiga orang.
Makanan suku sambori.
Bagi para tamu yang bermalam di rumah penduduk Suku Sambori harus megikuti jamuan
makan malam yang disajikan dan sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah. Biasanya
dalam menjamu para tamu yang menginap dirumah mereka, disajikan berupa nasi putih dan
makanan tradisional Suku Sambori yaitu Oimangge, terbuat dari campuran air mentah,
asam jawa dan terong. Ada kebiasaan unik Suku Sambori yaitu mengkonsumsi air mentah
sejak dahulu, karena jika mereka mengkonsumsi air masak maka mereka akan sakit perut.
Sistem beli.
Masyarakat Suku Sambori masih menerapkan sistem Ncempe yaitu barter ketika
berbelanja, dan mereka biasanya menukarkan dengan barang yang belum mereka miliki.
Kebiasaan suku sambori
Di dalam kesehariannya penduduk Suku Sambori mempunyai kebiasaan unik dalam merawat
rambutnya, yaitu dengan mengusapkan biji kemiri yang sudah dibakar dan ditumbuk, ke
rambut, dan dipercaya sebagai penyubur rambut.
Masyarakat Sambori memiliki kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan ini dikarenakan
suhu dan udara di desa sambori sangat dingin, sehingga untuk melawan udara dingin, mereka
mengunyah daun sirih yang dicampur dengan beberapa ramuan sehingga badan menjadi
hangat

Kerajina suku sambori
Pada umumnya Kerajinan tradisional adalah proses pembuatan atau pengadaan peralatan dan
perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat
produksi, alat-alat transportasi dan lain sebagainya. Proses pembuatannya harus berpedoman
pada nilai dan norma budaya, sebab semua perlengkapan hidup yang dibuat, merupakan salah
satu unsur budaya.
Ketrampilan yang dimiliki oleh para pengrajin, diperoleh dari warisan leluhur, tanpa melalui
pendidikan formal. Bermodalkan ketrampilan yanng dimiliki, mereka mampu membuat
berbagai jenis barang, walau dengan peralatan yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan,
mudah diperoleh disekitar lingkungannya, antara lain Tumbuh-tumbuhan, Logam, Batu-
batuan, tulang dan Kulit hewan dan sebagainya.
Kerajinan tradisional Mbojo kaya dengan jenis dan bentuknya. Bukan hanya tahan lama dan
kuat, tetapi juga mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Karena itu kerajinan tradisonal
Mbojo harus dilestarikan oleh Pemerintah dan Masyarakat. Kalau usaha pelestarian dan
pengembangan itu tidak segera dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka dikhawatirkan
dalam waktu yang tidak lama, kerajinan tradisional Mbojo, akan dilupakan oleh masyarakat
pemiliknya. Kekhawatiran itu cukup beralasan, melihat adanya kecenderungan masyarakat
yang menganggap bahwa hasil kerajinan tradisional Mbojo, selain tidak bermutu juga sudah
gersang dengan nilai seni.
Rumah adat
Dari kejauhan tampak sebuah gubuk yang meruncing segitiga yang terlihat banyak yang
atapnya terbuat dari jerami, itulah Rumah Lengge, rumah tradisional masyarakat Wawo yang
mempunyai gaya arsitek yang unik , dengan bahan bangunannya kayu dan bambu beratapkan
jerami. Dan Rumah Lengge merupakan rumah asli Pribumi suku Mbojo (Bima).

Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki
tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih
menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini
juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang
mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 84 meter.

Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat
masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang
berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk
kerumah Lengge.

Masyarakat di desa Wawo saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat
penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih
berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat
untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional
masyarakat setempat
Tradisi "Pamali Manggodo" di Desa Sambori


Setiap peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Sambori selalu diikuti
dengan serangkaian upacara adat. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan pertanian. Sebelum
membuka ladang, dilakukan upacara khusus dilahan yang akan dibuka untuk meminta agar
tanaman ladang mereka tidak diserang wabah, seperti ulat, tikus, burung, babi, dan
sebagainya. Mengawali musim tanam, penduduk biasanya melakukan kunjungan di parafu
untuk meminta ijin melakukan kegiatan di ladang. Pada saat panenpun mereka melakukan
upacara sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang mereka peroleh.
Upacara adat tersebut oleh masayarakat Sambori sendiri disebut Pamali Manggodo.
Dalam pelaksanaannya Upacara Pamali Manggodo dipimpin oleh seorang tokoh adat yang
disebut Panggawa. Upacara Pamali Manggodo juga diikuti oleh beberapa tokoh adat yang
memiliki tugas masing-masing untuk memimpin upacara tolak bala (ngaha ncore).
Diantaranya adalah Pamali Lawo Lanco yang memimpin tolak bala hama tikus dan Pamali
Karii memimpin tolak bala burung pipit.
Upacara Pamali Manggodo memiliki beberapa tahapan kegiatan seperti yang tersebut
dibawah ini :
1. Pelaksanaan upacara Pamali Manggodo, dimulai dengan pengambilan kesepakatan oleh
beberapa orang tokoh adat tentang rencana dan penetapan waktu upacara.
2. Upacara sore, yaitu upacara pembakaran ilalang dan semak-semak disebuah tempat yang
telah ditetapkan dengan perangkat sesajen. Pelaksanaan Upacara sore dipimpin oleh tokoh
adat yang disebut Panggita. Upacara sore diyakini dapat melihat curah hujan pada musim
tanam. Apabila ilalang dan semak yang terbakar banyak, mereka percaya pada musim tanam
tersebut curah hujan akan melimpah, dan begitu pula sebaliknya.
3. Prosesi Upacara Pamali Manggodo selanjutnya adalah kegiatan berburu yang dipimpin oleh
Pamali Lawo yang diikuti oleh anggota masyarakat. Mereka pergi ke hutan berburu rusa
selama tiga hari berturutturut. Mereka secara bersama-sama berburu dengan bekal ketupat.
Selama berburu mereka tidak diperbolehkan membuang bungkus ketupat. Bungkus-bungkus
ketupat akan dikumpulkan dalam jurang (keranjang) yang dibawa oleh Pamali Lawo.
4. Setelah upacara tolak bala usai, tibalah waktunya membagi-bagikan semua hasil buruan
kepada seluruh warga masyarakat di rumah Pamali Lawo. Penduduk datang ke rumah Pamali
Lawo dengan membawa sewa (tempurung kelapa) untuk meminta daging hewan buruan
untuk dibawa pulang. Untuk mengatur pembagian, setiap warga yang ingin mendapatkan
bagian menyerahkan potongan bambu kecil kepada Pamali Lawo.
5. Upacara tolak bala burung pipit. Upacara ini dipimpin oleh Pamali Karii dengan perangkat
sesajen yang bertujuan untuk mengusir hama burung pipit. Prasesi ini juga diikuti oleh
tembang-tembang asli Sambori, Beleleha. Tembang ini hanya dilantunkan kaum perempuan.
Dengan demikian tembang Belaleha merupakan lagu sakral. Tembang Belaleha juga
digunakan untuk upacara jika terjadi wabah penyakit di desa.
6. Sebagai penutup Upacara Pamali Manggodo, Pamali Lawo akan membuat ramuan obat
penangkal hama dari bungkus ketupat yang dikumpulkan selama melakukan perburuan.
Dengan disertai doa-doa, bungkus ketupat dibakar dan abunya dibagi-bagikan kepada semua
warga masyarakat sebagi obat tolak bala dengan cara menaburkan di sawah masing-masing
sekaligus untuk menandai dimulainya masa tanam.
Yang menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat Sambori selama Upacara Pamali
Manggodo tidak seorangpun diperbolehkan untuk malakukan kegiatan atau berada di sawah.
Jika warga masyarakat melanggar ketentuan akan didenda seekor ayam dan gabah satu ganta.
Dan upacara dianggap tidak syah serta harus diulang. Bersamaan dengan itu, warga
masyarakat juga dilarang membuat suara gaduh atau suara lain yang mengganggu riulitas





Salah satu peralatan dan perlengkapan hidup yang sangat diperhatikan oleh masyarakat
Sambori dan sekitarnya adalah Kani Ro Lombo (pakaian). Pengadaan pakaian harus
berpedoman pada adat shahih (adat yang baik). Cara berpakaian, warna, bentuk serta jenisnya
tidak boleh bertentangan dengan nilai dan hormat adat. Bagi Masyarakat Sambori, pakaian
merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat. Fungsi utamanya adalah
untuk menutup aurat, memilihara kesehatan, sebagai symbol status sosial dan untuk
menambah kewibawaan bagi si pemakai.
Tata cara berpakaian, bentuk serta warna dan seni aksesorisnya harus sesuai dengan
etika dan estetika masyarakat . Pakaian harus harus diperoleh dengan cara halal, bukan
dengan cara yang dilarang oleh agama atau yang haram. Pakaian yang memenuhi persyaratan
seperrti itulah yang dinilai kani ro lombo ma ntika raso (pakaian yang indah dan bersih)
oleh masyarakat.
Bentuk dan warna pakaian beserta kelengkapannya mengundang nilai luhur lagi
mulia, harus mampu disosialisasikan oleh si pemakaianya. Karena menurut norma adat antara
pakaian dan si pemakai harus sesuai dengan bunyi ungkapan Raso Ro Ntika Si Kani Ro
Lombomu, Karaso Ro Ntikapu Ade ro Itikamu, secara singkat makna dari ungkapan itu
adalah kalau anda memakai pakaian yang indah dan bersih, maka anda harus pula
membersihkan nurani dan itikadmu.
Pakaian adat masyarakat Sambori agak berbeda dengan pakaian adat suku Bima-
Dompu pada umumnya. Dengan kekhasanya, masyarakat Sambori ternyata mampu tampil
beda. Ada perbedaan yang jelas antara pakaian sehari hari dengan resmi, laki laki dan
wanita bahkan remaja dan orang tua.
Pakaian Sehari-Hari Kaum Lelaki
Untuk pakaian sehari hari laki laki dewasa dan tua biasanya memakai Sambolo (ikat
kapala) yang terbuat dari kain kapas tenunan sendiri dengan hiasan kotak kotak berwarna
hitam atau putih. Dipadu dengan baju mbolo woo atau baju tanpa kerah yang terbuat dari
kain katun dijahit sendiri dan biasanya berwarna hitam dan putih. Sarungnya bukan nggoli
melainkan tembe mee (sarung hitam) khas Sambori yang dipintal dan ditenun sendiri dari
bahan kapas dan diberi warna hitam dari ramuan nila dan taru. Cara pemakaiannya dengan
cara dililitkan pada bagian perut, dalam bahasa Bima disebut Katente. Untuk aksesoris
lazimnya mereka mengenakan weri atau bala (kain ikat pinggang) yang diselempangkan
melingkar pada bagian perut sampai di atas paha yang berrfungsi untuk menguatkan lilitan
sarung atau katente.
Pakaian Perempuan Tua Dan Dewasa
Lagi pula untuk perempuan tua dan dewasa, mereka umumnya mengenakan baju poro
mee yang terbuat dari kain katun yang dijahit sendiri dan bentuknya menyerupai baju poro
pada pakaian adat masyarakat Bima umumnya. Sarungnya yakni tembe mee, yang dipintal
dan tenun sendiri, dibuat agak panjang karena cara memakainya yaitu dengan cara dimasukan
secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian dibiarkan dilepas kembali sampai ke betis
atau diatasnya diikat satu kali pada bahu, sekedar pelengkap mereka mengenakan kababu
(Sejenis Selepang),yang diselempangkan pada bahu. Rambut pun tidak serampangan, mereka
sangat menyukai tata rambut dengan membuat semacam ikatan yang di bentuk meninggi di
atas kepala yang disebut samuu tuu.
Pakaian Untuk Remaja Pria
Untuk remaja pria, ada pakaian khasnya. Mereka biasanya mengenakan baju yang
dibuat dari benang katun yang berwarna putih atau warna lainnya biasanya berupa kemeja
lengan pendek. Sarungnya tembe mee yang ditenun sendiri. Ikat pinggang atau salepe, terbut
dari kain tenun sendiri. Biasanya berbentuk seperti selendang yang di buat memanjang
dengan lebar kurang dari ukuran selendang. Mereka pun mengenakan cincin yang terbuat dari
bahan besi putih, perak diberi batu akik.
Pakaian Untuk Remaja Puteri
Untuk remaja putri, lazimnya mengenakan baju poro mee yang dijahit sendiri yang
terbuat dari kain katun. Sarungnya adalah tembe mee biasanya bergaris putih yang terbuat
dari benang kapas yang di pintal dan ditenun sendiri. Supaya kelihatan anggun, remaja putri
seringkali mengenakan kababu yang terjuntai dari bahu ke bawah dengan cara
diselempangkan. Supaya tanpak manis, rambutnya di tata dengan mengikat di bagian
belakang kepala yang sisebut Samuu. Adapun untuk perhiasan, para remaja putrinya
mengenakan kondo (kalung) yang terbuat dari biji bijian berwarna merah dan hitam , jima
edi (gelang kaki), jima rima (gelang tangan) yang terbuat dari besi putih atau perak dan
menyerupai ular.
Pakaian Untuk Berpergian
Pakaian berpergian untuk laki-laki dewasa adalah Sambolo yang terbuat dari kapas yang
dipintal dan ditenun sendiri. Warnanya hitam dan kotak-kotak putih. Cara memakainya yaitu
menjalin masing-masing ujung sehingga melingkari kepala dalam keadaan tertutup. Cara
seperti ini disebut Sambolo Toho. Mereka biasanya memakai baju kemeja kerah pendek yang
terbuat dari benang katun atau kain tetoron. Sarungya yaitu tembe mee yang terbuat dari
benang kapas yang ditenun sendiri. Cara memakainya dililitkan pada bagian perut atau yang
dikenal dengan katente. Mereka melengkapi diri dengan senjata yang berupa parang yang
ujungnya bengkok yang disebut Cila Mboko bagi laki-laki tua dan parang yang bentuknya
lurus bagi laki-laki dewasa. Cara memakainya yaitu parang dan sarungnya telah disiapkan tali
khusus, kemudian tali tersebut diikatkan melingkar pada pinggang dan parangnya diletakkan
pada pinggang sebelah kiri.
Untuk perempuan tua dan dewasa, umumnya mengenakan baju poro mee yang
terbuat dari benang kapas hasil tenunan dan jahitan sendiri. Sarungnya yakni tembe
mee(Sarung Hitam) yang diikatkan pada bagian pinggang kemudian dibiarkan lurus sampai
mata kaki. Cara memakai seperti ini disebut Sanggentu. Mereka mengenakan penutup kepala
berupa todu(Kerudung) yang terbuat dari kain tipis biasanya berwarna putih dan disongket
benang perak. Selalu terselip Wonca(Bakul) yang terbuat dari anyaman bambu yang
dipergunakan sebagai bekal di jalan atau berisi rempah-rempah untuk diberikan pada
lembaga yang berada di desa lain. Biasanya mereka tidak memakai alas kaki.
Untuk remaja pria, mereka biasanya mengenakan baju kemeja lengan pendek yang
terbuat dari benang katun atau tetoron yang berwarna putih. Mereka memakai ikat pinggang
yang terbuat dari kain yang dibuat agak melebar sehingga memperkuat ikatan atau lilitan
sarung. Senjatanya berupa golok yang terbuat dari besi dan sarung dari kayu yang diselipkan
pada pinggang. Alas kaki adalah Sadopa yang terbuat dari kulit binatang atau karet.
Untuk remaja putri biasanya mengenakan tata rambut yang ditata sedemikan rupa
sehingga membentuk seperti undak di atas kepala yang disebut samuu Tuta. Umunya mereka
menggunakan baju poro mee (Baju lengan pendek hitam) yang terbuat dari kain tenun atau
dari kain blacu berwarna hitam yang diberi hiasan renda pada ujung bawah dan pada bagian
kerahnya. Sarungnya terbuat dari benang kapas yang dipintal dan ditenun sendiri. Supaya
tampak anggun, mereka mengenakan kababu yang diselempangkan pada bahu, yang terbuat
dari benang katun yang disongket dengan benang perak. Untuk perhiasan, remaja wanita
memakai karung manik-manik yang terjuntai dari leher ke dada. Mereka tidak memakai alas
kaki
kepercayaan

Pada masa lalu terutama pada zaman pra sejarah sudah lazim di belahan Bumi ini,
masyarakat menganut kepercayaan Anisme dan Dinamisme. Demikian pula halnya di
Sambori dan Bima pada umumnya. Kepercayaan akan roh-roh nenek moyang dan
penyembahan pohon-pohon besar yang diyakini memiliki kekuatan gaib juga menjadi
kepercayaan masyarakat Sambori. Ada pohon beringin besar di ujung Kampung Sambori
Lengge yang dulu dijadikan tempat pemujaan.
Tidak hanya itu saja, keyakinan masyarakat Sambori pada hal-hal mistik cukup beragam
misalnya pada bagian kiri halaman uma lengge yang sudah berusia lebih dari 300 tahun yang
ditumbuhi rerumputan dilarang atau pantang untuk diinjak atau dilewati baik untuk warga
sambori itu sendiri juga warga pendatang.
Sejarah Uma Lengge pun masih kental dengan nilai mistiknya, yaitu Uma Lengge yang
dihuni oleh ompu dan wa`i, yang konon pada uma lengge tersebut masih menyimpan benda
benda yang menyimpan nilai mistik, benda-benda tersebut antara lain buja yang memiliki
nama masing masing yaitu lalino, dan lajaro serta la aji, dalam uma lengge itu juga terdapat
seekor anjing hitam (Lako me`e) yang konon sering muncul sebagai penunggu di dalam uma
lengge tersebut.
Pada masa lalu, Upacara dan ritual merupakan bagian penting dalam kehidupan
masyarakat Sambori. Seluruh fase kehidupan manusia tidak terlepas dari Upacara dan prosesi
adat. Pada masa lalu, di kalangan warga Inge Ndai ini memiliki beberapa upacara dan ritual
antara lain Upacara Kelahiran, Suna Ro Ndoso (Khitanan), Nika Ro Neku (Pernikahan),
Kanggihi Kanggama (Pertanian), Ngaha Ncore (Tolak Bala), serta Upacara/Ritual Kematian.
Namun sejak Islam masuk di Bima dan menjadi agama resmi kerajaan pada tahun
1640 M, masyarakat Sambori yang sangat patuh pada raja dan Sultan akhirnya memeluk
Islam. Seluruh kepercayaan lama mereka tinggalkan. Hingga kini, 100 % warga Sambori dan
sekitarnya beragama Islam. Bahkan di sebelah selatan Sambori terdapat sebuah desa yang
menjadi tempat pengungsian Sultan Abdul Kahir I dan menjadi pusat penyebaran Islam di
tanah Bima. Desa ini bernama Kalodu yang dulunya bernama KAMINA. Di sinilah terdapat
masjid tertua dan masjid pertama yang berdiri di tanah Bima. Saat ini Masjid Kamina telah
direkonstruksi oleh Pemerintah Kabupaten Bima dan menjadi bangunan Cagar Budaya untuk
mengenang sejarah masuknya Islam di Tanah Bima.
Di atas desa Sambori yang berjarak sekitar 1 Km terdapat 4 buah kuburan kuno yang
diyakini sebagai kuburan orang-orang yang menyiarkan agama Islam yang sering melewati
lereng Sambori. Kuburan itu terletak di puncak gunung Tuki yang merupakan anak gunung
Lambitu di sebelah utara atas kampung Sambori.
Tradisi Tapa Gala

Cara penyambutan Tamu di Sambori cukup unik. Jika di daerah lain umumnya mereka
menabur beras kuning, tapi di Sambori memiliki tradisi Tapa Gala (Tapa berarti Tahan, Gala
berarti Bambu). Tapa Gala adalah menahan dengan bambu. Dalam tradisi ini, warga Sambori
menahan para tamu yang mengunjungi desanya dengan meletakan bambu muda sepanjang 3
meter atau selebar jalan yang akan dileawati. Kemudian, salah seorang tetua adat
memberikan sebuah parang kepada ketua rombongan tamu dan dipersilahkan untuk
memotong bambu muda tersebut. Setelah bambu terpotong, maka para tamu sudah bias
memasuki kampung ( Desa).
Tradisi Tapa Gala bagi masyarakat Sambori dimaksudkan sebagai sebuah penghormatan
kepada Tamu untuk memotong dan menebas segala halangan rintangan yang terjadi selama
berkunjung di Sambori. Tapa Gala juga sebagai symbol kebersamaan antara pendatang
dengan warga Sambori.
Dalam prosesi pernikahan juga Tapa Gala dilakukan ketika rombongan calon pengantin
pria memasuki Sambori. Tetua adat dan keluarga calon pengantin wanita menahan para Tamu
dengan membentangkan Bambu untuk dipotong. Sebelum pemotongan bambu, dua belah
pihak sambil melempar pantun yang memikat. Selanjutnya Bambu dipotong oleh ketua
rombongan untuk memasuki tempat Jambuta (Pesta).
SISTEM KEKERABATAN.
Suku Bima merupakan suku yang mendiami Kabupaten Bima dan Kota Bima
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukun ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Pemukiman orang Bima biasa disebut kampo atau Kampe yang dikepalai orang
seorang pemimpin yang disebut dengan Ncuhi. Jumlah Ncuhi yang terdapat di Suku
Bima adalah tujuh Ncuhi yang pemimpin di setiap daerah.
Ncuhi dibantu oleh golongan kerabat yang tua dan dihormati. Kepemimpinan
diwariskan turun temurun di antara keturunan nenek moyang pendiri desa. Setiap
daerah menamakan dirinya sebagai bagian dari Bima, meski pada kenyataannya
tidak ada pemimpin tunggal yang menguasai kepemerintahan tanah Bima.
PERNIKAHAN
Dalam Masyarakat Donggo dulu, upacara umumnya bernilai sakral. Misalnya upacara
persembahan kepada dewa. Mereka mengorbankan binatang seperti kerbau. Namun upacara
animis tersebut sudah ditinggalkan seiring dengan kian menguatnya pengaruh Islam dalam
kehidupan mereka.
Dalam tulisan ini, akan dikemukakan secara singkat beberapa upacara seperti pernikahan dan
khitanan, antara lain dikutip dan diadaptasi dari Buku Dou (Manusia) Dompu, edisi
perdana 2001.
Pernikahan
Pernikahan atau nika ra neku dalam tradisi Bima memiliki aturan baku. Aturan itu cukup
ketat sehingga satu kesalahan bisa membuat rencana pernikahan (nika) menjadi tertunda
bahkan batal. Dulu, seorang calon mempelai laki-laki tidak diperkenankan berpapasan
dengan calon mertua. Dia harus menghindari jalan berpapasan. Jika kebetulan berpapasan
makan calon dianggap tidak sopan. Untuk itu harus dihukum dengan menolaknya menjadi
menantu.
Aturan yang ketat itu tentu menjadi bermakna karena ditaati oleh segenap anggota
masyarakat. Kini, tentu saja aturan tersebut sudah ditinggalkan. Misalnya nggee nuru atau
tinggal bersama calon mertua untuk mengabdi di sana.
Panati
Dalam tradisi Bima, Panati menjadi pintu gerbang menuju ke jenjang pernikahan. Panati
adalah melamar atau meminang perempuan.
Panati diawali dengan datangnya utusan pihak laki-laki ke orang tua perempuan. Utusan
datang untuk menanyakan apakah sang gadis sudah memiliki kumbang atau calon suami. Bila
memperoleh jawaban bahwa sang perempuan berstatus bebas, kembali dilakukan pendekatan
untuk mengetahui apakah perempuan itu dapat dilamar. Jika lamaran itu diterima oleh pihak
perempuan, si pria melakukan apa yang disebut wii nggahi. Pada hari yang ditetapkan,
pertunangan diresmikan dalam Upacara Pita Nggahi.
Dou Sodi
Upacara melamar atau meminang dalam bahasa daerah disebut panati. Orang yang diutus
untuk melakukan pinangan disebut Ompu Panati. Bila pinangan itu diterima, resmilah kedua
remaja berada dalam ikatan pacaran. Satu dengan yang lain disebut dou sodi (dou artinya
orang, sodi artinya tanya, maksudnya orang yang sudah ditanya isi hatinya dan sepakat untuk
dinikahkan). Karena sudah saling diikat, yang seorang sudah menjadi dou sodi yang lain,
kedua remaja itu tak bebas lagi untuk mencari pacar lain (Khaerul Muslim, 2001).
Jika kedua remaja itu sudah mengikat janji, biasanya perempuan meminta sang pria agar
mengirim orang tuanya. Biasanya sodi angi tidak berlangsung lama melainkan langsung
diikuti dengan melamar sang gadis. Tujuannya, antara lain, untuk menghindari fitnah dan hal-
hal lain yang tidak terpuji.
Nggee Nuru
Nggee nuru maksudnya calon suami tinggal bersama di rumah calon mertua. Nggee artinya
tinggal, nuru artinya ikut. Pria sudah diterima lamarannya, bila kedua belah pihak
menghendaki, sang pria diperkenankan tinggal bersama calon mertua di rumah calon mertua.
Dia akan menanti bulan baik dan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.
Datangnya sang pria untuk tinggal di rumah calon mertua inilah yang disebut dengan Nggee
Nuru. Selama terjadinya nggee nuru, sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku
dan tutur kata yang baik kepada calon mertuanya. Bila selama nggee nuru ini sang pria
memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang tidak sopan, malas dan sebagainya,
atau tak pernah melakukan shalat, lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga
perempuan. Ini berarti ikatan sodi angi diantara dua remaja tadi putus.
Tujuan utama nggee nuru ini adalah proses adaptasi antara sang pria dengan kehidupan
calom mertua. Selama nggee nuru, pria tidak diperkenankan bergaul bebas dengan
perempuan calon istrinya.
Waa Coi
Waa coi maksudnya adalah upacara menghantar mahar atau mas kawin, dari keluarga pria
kepada keluarga sang gadis. Dengan adanya upacara ini, berarti beberapa hari lagi kedua
remaja tadi akan segera dinikahkan. Banyaknya barang dan besarnya nilai mahar, tergantung
hasil mufakat antara kedua orang tua remaja tersebut. Pada umumnya mahar berupa rumah,
perabotan rumah tangga, perlengkapan tidur dan sebagainya. Tapi semuanya itu harus
dijelaskan berapa nilai nominalnya.
Upacara mengantar mahar ini biasanya dihadiri dan disaksikan oleh seluruh anggota
masyarakat di sekitarnya. Digelar pula arak-arakan yang meriah dari rumah orang tua sang
pria menuju rumah orang tua perempuan. Semua perlengkapan mahar dan kebutuhan lain
untuk upacara pernikahan seperti beras, kayu api, hewan ternak, jajan dan sebagainya ikut
dibawa.
Mbolo Weki
Mbolo weki adalah upacara musyawarah dan mufakat seluruh keluarga maupun handai taulan
dalam masyarakat untuk merundingkan segala sesuatu yang berhubungan dengan
pelaksanaan hajatan/rencana perkawinan yang akan dilaksanakan. Dalam tradisi khitanan
juga demikian. Hal-hal yang dimufakatkan dalam acara mbolo weki meliputi penentuan hari
baik, bulan baik untuk melaksanakan hajatan tersebut serta pembagian tugas kepada keluarga
dan handai taulan. Bila ada hajatan pernikahan, masyarakat dengan sendirinya bergotong
royong membantu keluarga melaksanakan hajatan. Bantuan berupa uang, hewan ternak,
padi/beras dan lainnya.
Teka Ra Nee
Teka ra nee ke keluarga yang melaksanakan hajatan merupakan kebiasaan di kalangan
masyarakat Bima. Teka ra nee berupa pemberian bantuan pada keluarga yang mengawinkan
putra putrinya. Bila upacara teka ra nee dimulai, berduyun-duyunlah masyarakat (umumnya
kaum wanita) datang ke rumah keluarga tuan rumah membawa uang, bahan pakaian dan
sebagainya.
Selama acara pernikahan digelar keramaian seperti malam hadrah atau biola semalam suntuk.
Ada pula olahraga seperti Guntaw atau tarian seperti Buja Kadanda.
Jambuta
Ada sebuah acara yang menjadi bagian dari prosesi perkawinan yaitu jambuta. Semula acara
ini hanya berlaku di kalangan etnis Arab, namun akhirnya menjadi bagian dari tradisi Bima
maupun Orang Melayu. Jambuta hampir sama tujuannya dengan Teka ra nee namun
pelaksanaannya cukup satu hari. Sedang Teka ra nee berkisar antara dua hingga tiga hari.
Kapanca
Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum calon penganti wanita dinikahkan. Setiba di uma
ruka, calon pengantin wanita akan melaksanakan acar adat yang disebut kapanca, yaitu acara
penempelan kapanca (inai) di atas telapak tangan calon pengantin wanita. Dilakukan secara
bergiliran oleh ibu-ibu pemuka adat. Kapanca merupakan peringatan bagi si calon pengantin
wanita bahwa dalam waktu yang tak lama lagi akan melakukan tugas sebagai istri atau ibu
rumah tangga.
Seiring dengan kegiatan kapanca, akan disuguhkan juga sejenis kesenian rakyat yang
bernafaskan ajaran Islam yang disebut Ziki Kapanca yang dilakukan oleh para undangan.
Mereka akan membawakan syair bernuansa Islam yang liriknya berisi pujian dan sanjungan
pada Allah dan Rasul. Usai Ziki Kapanca dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian dan
musik Mbojo Bima semalam suntuk.
Akad Nikah
Akad nikah merupakan puncak acara. Sebelum akad berlangsung, malamnya dilakukan
upacara kapanca (memberi atau menghias daun pacar yang digiling halus pada jari-jari
tangan dan kaki pengantin). Acara ini disebut londo dende, dimana pengantin pria diantar
ramai-ramai oleh keluarga dan handai taulan dengan diiringi kesenian hadrah ke tempat
pengantin wanita. Pengantin pria mengenakan pakaian adat pengantin. Kadang-kadang kedua
pengantin diarak bersama-sama menuju tempat upacara. Seringkali pula hanya pengantin pria
yang diarak. Pengantin wanita cukup menunggu di tempat upacara.
Di tempat pengantin wanita dipersiapkan berpakaian adat pengantin dan duduk di atas
pelaminan yang dihias ornamen-ornamen tradisional. Duduknya di bawah (di atas kasur
berhias) dengan bersimpuh menurut adat (doho tuku tatuu). Ia didampingi seorang inang
pengasuh dan dua remaja putri dari keluarga dekat yang bertugas mengipas, selain itu duduk
pula dua orang laki-laki atau perempuan yang membawa alat penginang.
Di muka pelaminan duduk berbaris berhadap-hadapan putri-putri remaja yang membawa lilin
berhias. Di belakang dan di samping mereka duduk para tamu ibu-ibu dan bapak-bapak.
Orang tua pengantin wanita duduk di sebelah pelaminan. Ruangan tersebut dibatasi dengan
tirai adat yang disebut Dindi Ra-Lara berwarna-warni. Biasanya dipakai warna merah, hijau,
kuning dan putih.
Saat pengantin dan rombongan naik atau masuk ke ruangan, mereka berhenti di depan tirai.
Terjadilah semacam dialog pendek antara pengantar (bapak-bapak) pengantin pria dengan
penjaga tirai (bapak-bapak) pihak wanita. Setelah diserahkan uang pelumas dan sirih pinang,
barulah tirai dibuka oleh ibu-ibu dari pihak wanita dari dalam tirai dan disambung dengan
taburan beras kuning.
Masuklah pengantin pria dengan dikawal dua orang bapak atau ibu yang berhenti di depan
pelaminan. Pengantin pria melangkah naik ke pelaminan dan menancapkan setangkai
kembang ke atas gelung penganting wanita yang duduk membelakangi. Pengantin wanita
mencabut kembangnya dan membuangnya (ini dilakukan tiga kali). Acara ini disebut nenggu.
Setelah neggu, pengantin wanita berbalik dan sama-sama duduk berhadapan kemudian
pengantin wanita sujud atau salaman dengan pengantin pria. Selanjutnya mereka duduk
bersanding untuk disaksikan oleh undangan dan handai taulan.
Pada acara ini seluruh masyarakat, pemuka agama, laki prempuan diundang untuk
menyaksikan dan memberi doa restu. Pelaksanaan upacara ini bermacam-macam. Kadang-
kadang hanya dengan selamat biasa yang biasa disebut doa jama. Kadang-kadang dengan
pesta yang cukup meriah dengan diiringi orkes atau band. Dengan disaksikan oleh seluruh
tamu, dihadapan petugas agama, saksi khusus, pengantin pria duduk berhadapan dengan
calon mertuanya, berpegangan tangan dalam posisi dua ibu jari kanan mereka saling
dirapatkan. Dalam posisi demikian, diadakanlah akad nikah atau ijab kabul yang dalam
bahasa daerah disebut lafa. Akad nikah atau ijab kabul atau lafa harus didahului dengan
mengucapkan kalimat syahadat yang diucapkan oleh calon mertua atau wali dengan diikuti
oleh mempelai pria.
Selesai mengucapkan akad nikah, resmilah si pria menjadi suami si wanita. Proses
selanjutnya adalah mengantar pengantin laki-laki menuju tempat duduk pengantin wanita
dengan diantar oleh penghulu atau siapa saja yang ada di sekitar itu untuk melakukan upacara
caka (jengkal) yaitu ibu jari kanan pengantin pria diletakkan di atas ubun-ubun pengantin
wanita yang disusul dengan saling berjabat tangan antar kedua pengantin yang selanjutnya
mereka duduk bersanding. Caka dimaksudkan sebagai pertanda permulaan sang suami
menyentuh istrinya dan mulai saat itu mereka sudah halal untuk bergaul sebagai suami istri.
Boho Oi Ndeu
Boho oi ndeu adalah mandi sebagai pertanda ucapan selamat tinggal atas masa remaja. Boho
oi ndeu ini dilakukan sehari setelah akad nikah, dilangsungkan tapi sebelum pengantin
bergaul sebagai suami istri. Pada upacara ini kedua pengantin duduk bersama pada tempat
tertentu yang telah disediakan. Kemudian dari atas kepalanya oleh dukun dituangkan air yang
sudah disiapkan dalam periuk tanah yang baru (roa bou; roa artinya periuk; bou berarti baru).
Leher periuk dilingkari dengan segulung benang putih. Boho oi ndeu biasanya dilakukan pagi
hari yang disusul dengan doa selamatan pada sore harinya. Kedua pengantin duduk
berdampingan, menduduki suatu alat tenun yang disebut lira, sedangkan badan mereka dililit
dengan untaian benang tenun dari kapas putih sebagai lambang ikatan suci kemudian
dilakukan siraman dengan air wangi-wangian. Inilah akhir dari upacara nika ra neku.
Acara mandi untuk calon pengantin wanita dilakukan juga sebelum upacara perkawinan,
yakni pada pagi hari sebelum acara kapanca. Mandi ini disebut boho oi mbaru yang artinya
memandikan atau menghapus masa kegadisan bagi calon pengantin wanita. Setelah mandi
dilanjutkan dengan boru atau cukuran yaitu mencukur dahi calon mempelai wanita menurut
bentuk dandanan yang diperlukan.
Pada hari ketiga, pengantin wanita diboyong ke rumah pengantin pria dalam acara yang
disebut lao keka. Di tempat pengantin pria, diadakan acara pamaco, dimana kedua pengantin
diperkenalkan pada para undangan yang satu per satu menyampaikan sumbangan, entah uang
atau barang, bahkan secara simbolis menyerahkan seuntai tali apabila hadiahnya hanya
merupakan seekor kerbau.