You are on page 1of 16

Area pada foramen magnum dihitung dengan

menelusuri sekeliling tulang.
Dengan memposisikan penanda disekitar
permukaan melingkar dari foramen magnum,
area yang tertutup dihitung secara otomatis
oleh perangkat lunak pencitraan.
Gambar-gambar MPR foramen magnum pada setiap sampel
individu ditransfer ke perangkat lunak Image-J.
Trinarisasi  deteksi sudut yang membedakan antara batas-
batas di gambar berdasarkan intensitas dari kecerahan yang
diukur pada piksel.
Setiap gambar dikalibrasi ke skala 50 mm didalam gambar
asli MPR. Area pada daerah terpilih dihitung secara otomatis
oleh perangkat lunak pencitraan dan direkam ke 2.d.p.
Fig. 2.
(a) A depiction of the
foramen magnum prior
to implementing
trinarisation, Image J
software.
(b)A depiction of the
foramen magnum
showing the effects of
trinarisation, Image J
software.
3.1 Analisa Statistik
Pengujian data secara signifikan
dilakukan melalui uji T-Independent.
Statistik deskriptif untuk 250 individu
yang diperiksa ditampilkan pada Tabel 3.

3.1 Analisa Statistik
• Analisa fungsi diskriminan univariat dan
multivariat dilakukan untuk menganalisa
perbedaan jenis kelamin pada sampel dan hasil
divalidasi-silang (Tabel 4).

3.1 Analisa Statistik
• Analisa regresi logistik biner. juga dilakukan karena
beberapa penelitian memperlihatkan analisa regresidapat
menghasilkan pengukuran yang berbeda untuk klasifikasi
jenis kelamin (Tabel 5).
• Analisa statistik dilakukan menggunakan statistik IBM
SPSS versi 20.0.

4. Hasil
Hasil  sampel laki-laki dan perempuan
memperlihatkan perbedaan yang
siginifikan secara statistik (p<0.00001 )
4. Hasil
Variabel tunggal yang paling baik untuk
memprediksi jenis kelamin  pengukuran
panjang dan lebar dari foramen magnum
(±ketepatan 63.6%)
Pengukuran area  predictor tunggal terakhir
yang dapat dipercaya (± ketepatan 62.8%)
4. Hasil
Uji multivariat  kemampuan diskriminan
tertinggi didapatkan dengan menggunakan
ketiga variabel (± ketepatan 67.2% ), laki-laki :
perempuan 66.0% : 68.9%.
Dengan validasi-silang  ± ketepatan 66% tapi
dapat membedakan pria dan wanita secara
seimbang (Tabel 4).
4.1 Analisa Morfologi
• Pemeriksaan secara visual dilakukan untuk
menganalisa morfologi foramen magnum.
• 250 sampel individu  tujuh morfologi dari
foramen magnum : lonjong seperti telur,
lonjong, bulat, tetragonal, pentagonal,
heksagonal, dan ireguler.
• Hasil klasifikasi tersebut ditampilkan pada
Tabel 6.

4.1 Analisa Morfologi
• Pada 4,8% populasi sampel, bentuk dari
foramen magnum yang tidak terklasifikasikan
dikarenakan ketidakteraturan bentuk: bentuk
asimetris ditemukan pada 10 kasus (4,0%),
dan pada 2 kasus (0,8%) terdapat kerumitan
dari ciri permukaannya.