You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Proses Menua (Ageing Proses)
1. Pengertian Proses Menua (Ageing Proses)
Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita (Nogroho, Wahyudi
2000).
Proses menua merupakan proses yang terus-menerus
secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umunya dialami
pada semua makhluk hidup. Pada setiap individu
memiliki kecepatan yang berbeda dalam proses menua.
Adakalanya orang yang belum tergolong lanjut usia
tetapi kekurangan-kekurangan yang menyolok (Nogroho,
Wahyudi 2000).

2. Teori-Teori Proses Menua
Teori Biologis
Teori biologis tentag penuaan dibagi menjadi teori
itrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan
yang berkaitan dengan usia timbul akibat penyebab di
dalam sel sendiri, sedag teori ekstrinsik menjelaskan
bahwa perubahan yang terjadi di akibatkan pengaruh
lingkungan. Teori biologis dibagi dalam (Wahit Iqbal
Mubarak, dkk 2006) :
a. Teori Genetic Clock
Teori ini mengatakan bahwa menua telah terprogram
secara genetic untuk spesies-spesies tertentu. Tiap
spesies mempunyai di dalam inti selnya suatu jam
genetic yang telah diputar menurut suatu replikasi
tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan
menghentikan replikasi tertentu. Jadi menurut teori
ini bila jam kita berhenti kita akan meninggal
dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan
lingkungan atau penyakit.
b. Teori Error Catastrophe (Teori Mutasi Somatik)
Menurut teori ini, meua disebabkan kesalahan
beruntun dalam jangka waktu yang lama dalam
transkipsi dan translasi. Kesalahan tersebut
menyebakan terbentuknya enzim yang salah dan
berakibat metabolisme yang salah sehingga megurangi
fungsional sel, walaupun dalam batas-batas tertentu
ksalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki,
namun kemampuan dalam memperbaiki diri terbatas
pada transkripsi yang tentu akan menyebabkan
kesalahan sintesis protein atau enzim yang dapat
menimbulkan metabolit berbahaya, begitu juga jika
kesalahan terjadi pada translasi maka kesalahan
juga akan semakin banyak.
c. Teori Auto Immune
Teori menjelaskan bahwa dalam proses metabolisme
tubuh, suatu saat diproduksi zat khusus. Ada
jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap
zat tersebut sehngga jaringan tubuh menjadi lemah
dan sakit.
d. Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak
stabilnya radikal bebas (kelompok atom)
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik
seperti seperti karbohidrat dan protein. Radikal
ini menyebabkan sel-sel tidak beregenerasi. Di
dalam tubuh bersiap merusak, dapat dinetralkan
dalam tubuh oleh enzim atau senyawa non enzim
contohnya vitamin C betakarotin, vitamin E.
e. Teori Pemakaian dan Rusak
Teori ini menjelaskan bahwa kelebihan usaha dan
stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak)
f. Teori ”immunology slow virus”
Sistem imun menjadi kurang efektif dengan
bertambahnya usia dam masuknya virus ke dalam tubuh
dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
g. Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yag biasa
digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat
mempertahankan kestabilan lingkungan internal,
kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh
lelah terpakai.
h. Teori Rantai Silang
Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya
menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan
kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurang elastis,
kekakuan dan hilangnya fungsi.


i. Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel
yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

Teori Kejiwaan Sosial
a. Aktivitas atau Kegiatan (activity heori)
 Teori aktivitas, menurut Havighusrst dan Albrecht
1953 berpendapat bahwa sangat penting bagi
individu usia lanjut utuk tetap beraktivitas dan
mencapai kepuasan hidup.
 Ketentuan akan meingkatnya pada penurunan jumlah
kegiatan secara langsung. Teori ini meyatakan
bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yag
aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
 Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara
hidup dari lanju usia.
 Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan
individu agar tetap stabil dari dari usia
pertengahan ke lanjut usia.
b. Kepribadian berlanjut (continuity theori)
Dasar kehidupan atau tingkah laku tidak berubah
pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari
teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut
usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang
dimiliki.
c. Teori pembebasan (disengagement theori)
Tepri ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya
usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan
ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun,
baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga
sering terjadi kehilangan ganda (Tripple Loss),
yakni :
 Kehilangan peran (Loos of role),
 Hambatan kontak sosial (restraction of Contacts
and relation Ships),
 Berkurangnya komitmen (to Social Mores and
Values).
Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh
biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Teori
tugas perkembangan, menurut Hanghurst (1972) setiap
individu harus memperhatikan tugas perkembangan yang
spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan
memberikan perasaan bahagia dan sukses. Tugas
perkembangan yang spesifik ini tergantung pada
maturasi fisik, pengharapan kultural dan masyarakat
dan nilai serta aspirasi individu.

B. Konsep Penyakit
1. Definisi
Telinga adalah organ pendengaran dan ekuilibrium
terbagi dalam tiga bagian, yaitu telinga luar, tengah
dan dalam. Telingan berisi reseptor-reseptor yang
menghantarkan gelombang suara ke dalam impuls-impuls
saraf dan reseptor yang berespon pada gerakan kepala.
Perubahan pada telinga luar sehubungan dengan
proses penuaan adalah kulit telinga berkurang
elastisitasnya. Daerah lobus yang merupakan satu-satunya
bagian yang tidak disokong oleh kartilago mengalami
pengeriputan, aurikel tampak lebih besar dan tragus
sering ditutupi oleh rumbai-rumbai rambuit yang kasar.
Saluran auditorius menadi dangkal akibat lipatan ke
dalam, pada dinding silia menjadi lebih kaku dan kasar
juga produksi serumen agak berkurang dan cenderung
menjadi lebih kering.
Perubahan atrofi telinga tengah , khususnya
membrane timpani karena proses penuaan tidak mempunyai
pengaruh jelas pada pendengaran. Perubahan yang tampak
pada telinga dalam adalah koklea yang berisi organ corti
adalah unit fungsional pendengaran mengalami penurunan
sehingga mengakibatkan presbikusis. Gangguan pendengaran
mulai dari ringan sampai berat dapat di pantau dengan
mengguanakan audiometri.
Penggelompokan gangguan pendengaran pada lansia
antara lain
1. Presbikusis
Presbikusis merupakan akibat dari proses
degenerative pada satu atau beberapa bagian koklea (
striae vaskularis, sel rambut dan membrane basilaris)
maupun serabut saraf auditori. Presbikusis ini juga
merupakan hasil interaksi antara factor genetic
individu dengan faktor eksternal.
Presbikusis terbagi dua menjadi :
a. Prebiskus perifer : dimana para lansia hanya mampu
untuk mengidentifikasi kata.
b. Prebiskus sentral : dimana lansia mengalami gangguan
untuk mengidentifikasi kalimat, sehingga manfaat
alat bantu dengar sangat kurang.
2. Otitis eksterna (kelainan telinga luar)
Merupakan radang liang telinga akut maupun
krionis yang disebabkan bakteri, jamuralergi,virus.
Pada keadaan udara yang hangat dan lembab, kuman dan
jamur mudah tumbuh.
3. Otiti media akutn(Kelainan telinga tengah)
Merupakan radang telinga bagian tengah yang
terjagi karena factor pertahanan tubuh terganggu,dan
terjadi sumbatan eustacius karena kuman masuk ke dalam
telinga dan terjadi peradangan.
4. Kelainan telinga dalam
Gejala yang didapatkan : tuli saraf, telinga
mendengung( tinitus), rasa berputar ( vertigo ),
kadang-kadang disertai dengan mual dan muntah.

2. ETIOLOGI
Etiologi di bagi menjadi 2 yaitu :
1. Internal
Degenerasi primer eferen dari koklea, degenerasi
primer organ corti penurunan vascularisasidari
reseptor neuro sensorik mungkin juga mengalami
gangguan.Sehingga baik jalur auditorik dan lobus
temporalis otak sering terganggu akibat lanjutnya
usia.
2. Eksternal
Terpapar bising yang berlebihan, penggunaan
otottoksik dan reaksi paska radang.
Gangguan pendengaran secara perlahan lahan akibat
proses penuaan yang dikenal dengan istilah presbicusis.
Penyebab terjadinya presbikusis yang tepat belum
diketahui hingga saat ini, namun secara umum diketahui
bahwa penyebabnya bersifat multifaktorial. Diduga
timbulnya presbikusis berhubungan dengan faktor bawaan,
pola makan, metabolisme, atheriosklerosis, diabetes
melitus, infeksi, bising, gaya hidup, obat-obatan, dll.
Presbikusis umumnya akan menyerang kedua telinga secara
perlahan-lahan sehingga orang tersebut tidak dapat
menyadari adanya gangguan pendengaran pada dirinya.
3. Tanda dan Gejala
a. Berkurangnya pendengaran secara perlahan dan progresif
perlahan pada kedua telinga dan tidak didasari oleh
penderita.
b. Suara-suara terdengar seperti bergumam, sehingga
mereka sulit untuk mengerti pembicaraan.
c. Sulit mendengar pembicaraan di sekitar, terutama jika
berada di tempat dengan latar belakang suara yang
ramai.
d. Suara berfrekuensi rendah, seperti suara laki-laki,
lebih mudah di dengar daripada suara
berfrekuensi tinggi.
e. Bila intensitas suara ditinggikan akan timbul rasa
nyeri di telinga. Telinga terdengar berdenging (
tinnitus).


4. Patofisiologi
Proses degenerasi menyebabkan perubahan struktur
koklea dan N.VII. Pada koklea perubahan yang mencolok
adalah atrofi dan degenarasi sel sel rambut penunjang
pada organ Corti. Proses atrofi disertai dengan
perubahan vaskuler juga terjadi pada stria vaskularis.
Selain itu terdapat pula perubahan, berupa berkurangnya
jumlah dan ukuran sel gaglion dan saraf.

5. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa pilihan terapi untuk
penderita presbikusis, diantaranya:
a. Kurangi paparan terhadap bising
b. Gunakan pelindung telinga (ear plegs atau ear muffs)
untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
c. Gunakan alat bantu dengar
d. Lakukan latihan untuk meningkatkan keterampilan
membaca gerak bibir dan latihan mendengar
e. Berbicaralah dengan penderita presbikus dengan nada
rendah dan jelas. Dengan memahami kondisi yang dialami
oleh para lansia dan memberikan terapi yang tepat
bagimereka, diharapkan kita dapat membatu mengatasi
masalah sosial yang mungkin mereka alami akibatadanya
keterbatasan fungsi pendengaran mereka.

6. Pemeriksaan pendengaran
Untuk memeriksa pendengaran dilakukan dengan :
1. Garputala
a. Uji rinne
b. Uji weber
c. Uji schwabach
2. Uji berbisik
3. Audiometri

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
 Keluhan utama
a. Pusing dirasakan terutama saat bergerak
b. Nyeri seperti ditusuk jarum, pada pasien vertigo
biasanya nyeri kepala seperti berputar-putar
 Pemeriksaan fisik
a. adanya dizziness terutama saat bergerak, nistagmus,
unstable.
b. Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya
kelainan fungsi di telinga bagian dalam atau saraf
 Aktivitas/istirahat
Letih, lemah,malaise, keterbatasan gerak
 Sirkulasi
Riwayat hipertensi, denyutan vaskuler, pucat wajah
tampak kemerahan
 Integritas Ego
Faktor-faktor strees / lingkungan tertentu
 Makanan dan cairan
Mual muntah anoreksia, penurunan berat badan
 Interaksi sosial
Perubahan tanggung jawab / peran interaksi yang
berhubungan dengan penyakit
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan proses
penyakit
b. Gangguan persepsi sensorik berhubungan dengan
kehilangan pendengaran
c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan informasi
mengenai penyakitnya.


3. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan proses
penyakit
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan 2×24 jam
nyeri berkurang dan hilang
Kriteria hasil : pasien tidah merasakan nyeri
Intervensi :
1) Pantau tanda-tanda vital skala nyeri
2) Anjurkan klien istirahat di tempat tidur
3) Atur pasien senyaman mungkin
4) Ajarkan tehnik relaksasi dan napas dalam
5) Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Rasional :
1) Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tiundakan
keperawatan
2) Pasien biasa merasa pausing dan berkurang ketika
tidur
3) Posisi yang tepat dan mencegah ketegangan otot serta
mengurangi nyeri
4) Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuart
perasaan lebih nyaman
5) Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga
menjadi lebih nyaman.
b. Gangguan persepsi sensorik berhubungan dengan
kehilangan pendengaran
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama
2×24 jam perbasikan pendengaran
Kriteria hasil : Pasien akan mengalami perbaikan
pendengaran implikasi hilang
Intervensi :
1) Kaji kapasitas fisiologik secara umum
2) Lakukan irigasi sesuai program
3) Dorong pasien untuk mengungkapkan emosi selama
kehilangan pendengaran
Rasional :
1) Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan
fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam
melakukan tindakan keperawatan.
2) Melakukan irigasi untuk melakukan pembersihan pada
telinga
3) Membuat pasien merasa dihargai dan berarti
c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan dengan keterbatasan informasi mengenai
penyakitnya.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan 2×24 jam
klien memahami penyakitnya
Kriteria hasil : mengutarakan pemahaman tentang
kondisi dan prosedur
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang
penyakit
2) Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit dan
kondisi sekarang
3) Diskusikan penyebab individual dariu sakit kepala
bila diketahui
4) Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang
materi yang telah diberikan.
5) Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak
tubuh yang normal
Rasional
1) Mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan
klien tentang penyakitnya.
2) Dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang,
klien dan akan merasa tenang dan mengurangi rasa
cemas.
3) Untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah
pengetahuan klien tentyang penyakitnya.
4) Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan
keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan
yang dilakukan
5) Agar klien mampu melakukan dan mengubah posisi letak
tubuh yang kurang baik
4. Pelaksanaan
a. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan proses
penyakit
1. Memantau tanda-tanda vital skala nyeri
2. Menganjurkan klien istirahat di tempat tidur
3. Mengatur pasien senyaman mungkin
4. Mengajarkan tehnik relaksasi dan napas dalam
5. Melakukan kolaborasi untuk pemberian analgetik
b. Gangguan persepsi sensorik berhubungan dengan
kehilangan pendengaran
1. Mengkaji kapasitas fisiologik secara umum
2. Melakukan irigasi sesuai program
3. Mendorong pasien untuk mengungkapkan emosi selama
kehilangan pendengaran
c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan dengan keterbatasan informasi mengenai
penyakitnya.
1. Mengkaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga
tentang penyakit
2. Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakit
dan kondisi sekarang
3. Mendiskusikan penyebab individual dariu sakit
kepala bila diketahui
4. Meminta klien dan keluarga mengulangi kembali
tentang materi yang telah diberikan.
5. Mendiskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak
tubuh yang normal
5. Evaluasi
a. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan proses
penyakit
 Tanda-tanda vital skala nyeri dalam batas normal
 Kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi
 Klien mampu melakukan tehnik relaksasi dan napas
dalam
b. Gangguan persepsi sensorik berhubungan dengan
kehilangan pendengaran
 Klien mampu mengungkapkan emosi selama kehilangan
pendengaran
c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan dengan keterbatasan informasi mengenai
penyakitnya.
 Klien dan keluarga mampu mengulangi kembali tentang
materi yang telah diberikan.