You are on page 1of 21

RUANG SAMPEL PERCOBAAN DAN PELUANG

KEJADIAN DARI BERBAGAI SITUASI SERTA
PEMBELAJARANNYA

A. PENDAHULUAN
Apakah Kalian mengenal ilmuan berikut.

Abad 17: Pascal menentukan kemungkinan
untuk memenangkan suatu taruhan yang
didasarkan pada keluaran dari dua buah dadu
yang dilemparkan berulang-ulang.


Abad 18: Laplace mempelajari perjudian dan
mendefinisikan peluang suatu kejadian.






B. RUANG SAMPEL SUATU PERCOBAAN

Untuk memahami ruang sampel dari suatu percobaan perhatikanlah tabel di bawah
ini :



Percobaan Kemungkinan yang terjadi Jumlh
Melempar koin

Muncul sisi Angka atau Gambar

2
Melempar dadu

Muncul Angka 1/2/3/4/5/6

6
Pengambilan 1 bola acak


Terambil 1 bola biru atau 1 bola putih
atau 1 bola pink
3

Sehingga dapat kita simpulkan :





Sedangkan,





1. Kejadian ada 2 macam, yaitu kejadian elementer atau kejadian sederhana dan
kejadian majemuk.
a. Kejadian elementer atau kejadian sederhana adalah suatu kejadian yang
hanya mempunyai satu titik sampel.
b. Kejadian majemuk adalah suatu kejadian yang memiliki titik sampel lebih
dari satu.

Ruang sampel (sample space) adalah himpunan dari semua hasil yang
mungkin pada suatu percobaan (total possible out comes) yang
dilambangkan/ dinotasikan dengan S dan setiap anggota dari S disebut titik
sampel.
Kejadian atau peristiwa (event) merupakan himpunan bagian dari
ruang sampel atau bagian dari hasil percobaan yang diinginkan.

2. Menentukan banyaknya kemungkinan kejadian dari berbagai situasi.

Misalkan kita mengambil sebuah dadu maka sisi-sisi sebuah dadu akan
terlihat banyaknya titik ada 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Jadi ruang sampelnya adalah {1,
2, 3, 4, 5, 6}. Apabila kita melambungkan sebuah dadu sekali maka
kemungkinan angka yang muncul adalah 1, 2, 3, 4, 5, atau 6. Kita tidak dapat
memastikan bahwa angka 5 harus muncul atau angka 2 tidak muncul.

Jadi kemungkinan munculnya angka 1, 2, 3, 4, 5, atau 6 dalam suatu
kejadian adalah sama. Misalnya, pada percobaan pelambungan sebuah dadu
sekali. Jika A adalah kejadian muncul bilangan prima, maka A adalah 2, 3, dan 5
dan jika B kejadian muncul bilangan lebih besar dari 5 maka B adalah 6.

3. Menuliskan himpunan kejadian dari suatu percobaan.

Untuk menuliskan kejadian dari suatu percobaan diketahui dengan himpunan.
Misalnya dalam pelemparan sebuah mata uang sekali, maka ruang sampel S =
{A, G}. A merupakan sisi angka dan G merupakan sisi gambar.

Contoh soal :

1. Pada percobaan pelemparan sebuah dadu sekali, A adalah kejadian muncul
bilangan prima dan B adalah kejadian muncul bilangan lebih besar dari 3,
AC, dan BC masingmasing merupakan komplemen dari A dan B.
Nyatakanlah A, B, A
C
, dan B
C
dalam bentuk himpunan.

Penyelesaian :

S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} A
C
= {1, 4, 6}
A = {2, 3, 5} B
C
= {1, 2, 3}
B = {4, 5, 6}

2. Diketahui 3 buah mata uang logam mempunyai sisi angka (A) dan sisi
gambar (G), dilempar sekali. Jika P adalah kejadian muncul dua gambar dan

Q adalah kejadian muncul tiga angka, nyatakan P dan Q dalam bentuk
himpunan.

Penyelesaian :

Jika S merupakan ruang sampel maka:
S = {AAA, AGA, GAA, GGA, GAG, AGG, AAG, GGG}
P adalah kejadian muncul dua gambar, maka:
P = {GGA, GAG, AGG}
Q adalah kejadian muncul tiga angka, maka:
Q = {AAA}

C. PELUANG SUATU KEJADIAN DAN PENAFSIRANNYA

1. Peluang suatu kejadian.
Perhatikan peristiwa berikut, misalkan pada suatu hari anda ingin
bertamu ke tetangga baru anda. Menurut informasi keluarga tersebut memiliki
dua anak. Anda mengetuk pintu rumah keluarga tadi dan seorang anak
perempuan membuka pintu. Berapakah peluang bahwa anak lainnya dalam
keluarga tersebut juga perempuan?
Tentu sangat menyenangkan bisa memperkirakan apa yang akan terjadi,
tentunya bukan dengan ilmu hitam atau ilmu sihir yang katanya bisa
menerawang, akan tetapi kita akan menggunakan salang satu cabang ilmu
matematika, yang tentu dapat diterima akal sehat dan dapat dibuktikan
kebenarannya, yaitu ilmu peluang . tertarik kan?
Suatu peluang didefinisikan,







Jika A adalah suatu kejadian yang terjadi pada suatu percobaan dengan
ruang sampel S, di mana setiap titik sampelnya mempunyai kemungkinan
sama untuk muncul, maka peluang dari suatu kejadian A ditulis sebagai
berikut.
P(A) =
Keterangan: P(A) = peluang kejadian A
n(A) = banyaknya anggota A


Coba kamu pelajari contoh berikut agar lebih memahami tentang peluang.

Contoh soal :

1. Pada pelemparan 3 buah uang sekaligus, tentukan peluang muncul:
a. ketiganya sisi gambar;
b. satu gambar dan dua angka.

Penyelesaian :

a. S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}
Maka n(S) = 8
Misal kejadian ketiganya sisi gambar adalah A.
A = {GGG}, maka n(A) = 1
P(A) =
8
1
) (
) (
=
S n
A n

b. Misal kejadian satu gambar dan dua angka adalah B.
B = {AAG, AGA, GAA}, maka n(B) = 3
P(A) =
8
3
) (
) (
=
S n
A n

2. Kisaran nilai peluang.

Dalam suatu percobaan terhadap suatu obyek tertentu ada kejadian yang pasti
terjadi dan yang tidak mungkin terjadi. Misalnya A adalah sebarang kejadian
pada ruang sampel S, maka 1 ) ( 0 s s A P .

P(A) = 0 dikatakan A adalah kejadian yang mustahil terjadi
P(A) = 1 dikatakan A adalah kejadian yang pasti terjadi

Kepastian adalah suatu jaminan bahwa dalam suatu percobaan yang dimaksud
pasti terjadi. Sedangkan kemustahilan adalah suatu jaminan bahwa dalam suatu
percobaan, peristiwa yang dimaksud tidak mungkin terjadi.


Contoh soal :

Tentukan peluang kejadian-kejadian berikut.
a. Setiap orang hidup pasti memerlukan makan.
b. Dalam pelemparan sebuah dadu, berapakah peluang munculnya angka-angka
di bawah 10?

Penyelesaian :

a. Karena setiap orang hidup pasti memerlukan makan, sebab kalau tidak
makan pasti meninggal.
P(A) = 1
) (
) (
=
S n
A n

S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}  n(S) = 6
A = munculnya angka-angka di bawah 10
= {1, 2, 3, 4, 5, 6}  n(A) = 6
P(A) = 1
6
6
) (
) (
= =
S n
A n


Jika kejadian A dalam ruang sampel S tidak pernah terjadi sehingga n(A) = 0,
maka peluang kejadian A adalah: P(A) = 0
) (
0
) (
) (
= =
S n S n
A n

Contoh soal :

Tentukan peluang kejadian-kejadian berikut.
a. Orang dapat terbang.
b. Muncul angka tujuh pada pelambungan sebuah dadu.

Penyelesaian :

a. Tidak ada orang dapat terbang, maka n(A) = 0
P(A) = 0
) (
0
) (
) (
= =
S n S n
A n

Jadi peluang orang dapat terbang adalah 0.

b. Dalam pelambungan sebuah dadu angka tujuh tidak ada, maka n(A) = 0
P(A) = 0
) (
0
) (
) (
= =
S n S n
A n

Jadi peluang muncul angka tujuh adalah 0.

D. FREKUENSI HARAPAN

Perhatikan ilustrasi berikut:
Apabila sekeping mata uang logam dilemparkan sebanyak 50 kali, maka
diharapkan munculnya sisi gambar sebanyak 25 kali dan munculnya sisi tulisan
juga sebanyak 25 kali. Bilangan 25 yang menyatakan harapan banyak kejadian
munculnya sisi gambar disebut frekuensi harapan kejadian munculnya sisi
gambar pada percobaan melempar sekeping mata uang logam sebanyak 50 kali.
Bilangan 25 yang menyatakan harapan banyak kejadian munculnya sisi tulisan
disebut frekuensi harapan kejadian munculnya sisi tulisan pada percobaan
melempar sekeping mata uang logam sebanyak 50 kali.

Dari ilustrasi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan:









Perhatikan contoh berikut untuk lebih memahami.

Contoh soal :

1. Pada percobaan pelemparan 3 mata uang logam sekaligus sebanyak 240 kali,
tentukan frekuensi harapan munculnya dua gambar dan satu angka.

Frekuensi harapan adalah banyak kejadian atau peristiwa yang
diharapkan dapat terjadi pada sebuah percobaan. Frekuensi harapan
kejadian A ditentukan dengan aturan :

Dengan : n = banyaknya percobaan yang dilakukuan
P (A) = Peluang kejadian A

Penyelesaian :
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}  n(S) = 8
A = {AGG, GAG, GGA}  n(A) = 3
F
h
= n × P(A) =
kali x
S n
A n
x n 90
8
3
240
) (
) (
= =

Jadi frekuensi harapan munculnya dua gambar dan satu angka adalah 90
kali.

2. Pada percobaan pelemparan 2 buah dadu sekaligus sebanyak 108 kali,
tentukan frekuensi harapan munculnya A = {(x, y) | x = 3}, x adalah dadu
pertama dan y adalah dadu kedua.

Penyelesaian :
S = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), ….., (6, 6)}  n(S) = 36
A = {(3, 1), (3, 2), (3, 3), (3, 4), (3, 5), (3, 6)}  n(A) = 6
F
h
= n × P(A) = kali x
S n
A n
x n 18
36
6
108
) (
) (
= =
Jadi frekuensi harapan munculnya A = {(x, y) | x = 3}, x adalah dadu pertama
dan y adalah dadu kedua adalah 18 kali.

E. PELUANG KOMPLEMEN SUATU KEJADIAN
• Ruang contoh untuk percobaan tersebut adalah S ={1,2,3,4.5,6}.
• Misalkan :
 E adalah kejadian munculnya mata dadu angka 1, maka E ={1}.
 E ‘ adalah kejadian munculnya mata dadu bukan angka 1,maka E ‘
={2,3,4,5,6}.
Kejadian E ‘ disebut komplemen kejadian E atau sebaliknya. Oleh karena E, E ‘,
dan S merupakan himpunan-himpunan, maka hubungan antara E, E ‘, dan S dapat
ditunjukan dengan diagram Venn gambar seperti pada gambar berikut


Untuk mempelajari peluang komplemen suatu kejadian, coba perhatikan contoh
berikut.

Contoh soal :

Pada pelemparan sebuah dadu sekali, berapakah peluang munculnya:
a. nomor dadu ganjil,
b. nomor dadu tidak ganjil?

Penyelesaian :

a. Untuk menjawab permasalahan peluang munculnya nomor dadu ganjil kita
lihat ruang sampel lebih dahulu yaitu S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, maka n(S) = 6.
A adalah jika keluar nomor ganjil yaitu A = {1, 3, 5}, maka n(A) = 3 sehingga
P(A) =
2
1
6
3
) (
) (
= =
S n
A n

b. Peluang munculnya nomor dadu tidak ganjil kita sebut A
C
(komplemen dari A),
maka A
C
= {2, 4, 6}  n(A
C
) = 3, sehingga P(A
c
) =
2
1
6
3
) (
) (
= =
S n
A n
c

Dari contoh tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
P(A) + P(A
c
) =
2
1
+
2
1
= 1
Kemudian, jika diilustrasikan contoh kejadian di atas dalam sebuah diagram
Venn adalah sebagai berikut :


- 3 - 2
- 6

S

- 5
- 1
E
- 4
E '











Jadi :











F. PELUANG KEJADIAN MAJEMUK
Operasi antarhimpunan
a. Operasi Gabungan (union), dilambangkan  dengan
b. Operasi Irisan (intersection), dilambangkan  dengan
Pada percobaan pelemparan dadu bersisi enam sebanyak satu kali, misalkan terjadi
kejadian-kejadian berikut.
 Kejadian A adalah kejadian munculnya mata dadu angka ganjil, ditulis A = {1, 3,
5}
 Kejadian B adalah kejadian munculnya mata dadu angka prima, ditulis B = {2,
3, 5}

S
A
c
 Nomor dadu tidak ganjil
A  Nomor dadu ganjil
Diagram Venn.
Suatu peristiwa pelemparan sebuah dadu sekali
Jika A adalah suatu kejadian dalam ruang sampel S, maka A
c
(
komplemen dari kejadian A) dengan semua elemenya terdiri dari
semua elemen S yang tidak terdapat pada A. Dengan demikian :

1. P(A
c
) = 1 – P(A)
2. 
3. A dan A
c
adalah dua kejadian yang saling lepas.

A
A
c


Dari kejadian-kejadian A dan B tersebut akan dibentuk kejadian-kejadian baru
sebagai berikut.
 Gabungan Dua Kejadian
Gabungan dua kejadian A dan kejadian B, ditulis
Kejadian dibaca sebagai :
“ Kejadian munculnya mata dadu angka ganjil atau mata dadu
angka prima “
 Irisan Dua Kejadian
Irisan dua kejadian A dan kejadian B,
ditulis
Kejadian dibaca sebagai :
“ Kejadian munculnya mata dadu angka ganjil dan mata dadu
angka prima “
Diagram Venn himpunan A  B diperlihatkan pada gambar (b)



1. Peluang Dua Kejadian Saling Asing.
- 3
- 5

- 1
A
- 2
B
S

B A ) a ( B A ) b (
} 5 , 3 , 2 , 1 { = B A
} 5 , 3 { = B A


a. Peluang gabungan dua kejadian (kejadian A atau kejadian B) dapat ditentukan
dengan rumus sebagai berikut.







Contoh soal :

Dalam melambungkan sebuah dadu, jika A adalah kejadian munculnya bilangan
ganjil dan B adalah kejadian munculnya bilangan prima. Tentukan peluang
kejadian munculnya bilangan ganjil atau prima!

Penyelesaian :

S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} maka n(S) = 6

A  Kejadian muncul bilangan ganjil : {1, 3, 5} maka n(A) = 3
P(A) =
2
1
6
3
) (
) (
= =
S n
A n

B  Kejadian muncul bilangan prima : { 2, 3, 5} maka n(B) = 3
P(B) =
2
1
6
3
) (
) (
= =
S n
B n

} 5 , 3 { ) ( = ·B A maka 2 ) ( = ·B A n
3
1
6
2
) (
) (
) ( = =
·
= ·
S n
B A n
B A P
Dengan demikian,
( ) ( ) ( ) ( ) B A P B P A P B A P · ÷ + =
( )
3
2
6
4
6
2
6
3
6
3
= = ÷ + = B A P

Misal A dan B adalah dua kejadian yang berbeda S, maka peluang
kejadian ditentukan dengan aturan:




Jadi peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau prima adalah
3
2
.

b. Peluang gabungan dua kejadian saling lepas (kejadian A atau B di mana A dan B
saling lepas)
Pada percobaan melempar dadu berisi enam sebanyak satu kali,
misalkan terjadi dua kejadian berikut.
 Kejadian A adalah kejadian munculnya mata dadu angka 3,
maka A = {1, 2}.
 Kejadian B adalah kejadian munculnya mata dadu angka 4,
maka B = {4, 5, 6}.
Dalam hal demikian,kejadian A
dan kejadian B disebut dua
kejadian yang saling lepas
atau saling asing
(mutually exclusive).


Hal yang perlu diperhatikan bahwa:





Jika A dan B merupakan dua kejadian yang saling lepas, maka peluang
gabungan dua kejadian yang saling lepas itu ditentukan dengan :
A dan B saling asing maka 0 ) ( = ·B A atau ( ) 0 = ·B A P sehingga :
( ) ( ) ( ) ( ) B A P B P A P B A P · ÷ + = = ( ) ( ) ( ) ( ) B P A P B P A P + = ÷ + 0
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :




Jika A dan B dua kejadian saling lepas, maka :



jika kejadian A dan kejadian B merupakan dua kejadian
yang saling lepas, maka kejadian A dan kejadian B itu tidak
dapat terjadi secara bersamaan.




Contoh soal :

1. Dalam sebuah kantong terdapat 10 kartu, masing-masing diberi nomor yang
berurutan, sebuah kartu diambil dari dalam kantong secara acak, misal A
adalah kejadian bahwa yang terambil kartu bernomor genap dan B adalah
kejadian terambil kartu bernomor prima ganjil.
a. Selidiki apakah kejadian A dan B saling asing.
b. Tentukan peluan kejadian A atau B.

Penyelesaian :

A adalah kejadian bahwa yang terambil kartu bernomor genap.
B adalah kejadian terambil kartu bernomor prima ganjil.

S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10} maka n(S) = 10

a. ( ) { } = ·B A maka A dan B saling asing.
b. A = {2, 4, 6, 8, 10} maka n(A) = 5. sehingga :
P(A) =
2
1
10
5
) (
) (
= =
S n
A n

B = {3, 5, 7} maka n(B) = 3. sehingga :
P(B) =
10
3
) (
) (
=
S n
B n

Dengan demikian : ( ) ( ) ( ) B P A P B A P + = =
10
5
+
10
3
=
10
8
=
5
4

Jadi peluang kejadian A atau B adalah
5
4
.

2. Sebuah dadu bersisi enam dilempar satu kali. Berapa peluang kejadian
munculnya mata dadu angka < 3 atau mata dadu angka 4 ?
• J awab :
Misalkan,A adalah kejadian munculnya mata dadu
angka < 3, maka A = {1, 2}dan n(A)= 2
B adalah kejadian munnculnya mata dadu
angka 4, maka B = {4, 5, 6} dan n(B) = 3


Karena A= {1, 2} dan B = {4, 5, 6} tidak mempunyai
anggota yang sama, maka A dan B merupakan dua kejadian yang saling
lepas, sehingga

Jadi, peluang kejadian munculnya mata dadu angka < 3
atau mata dadu angka 4 adalah


2. Peluang Dua Kejadian Saling Bebas
a. Kejadian A adalah kejadian munculnya mata dadu pertama angka 2,
maka A = {(2, 1), (2, 2), (2, 3), (2, 4), (2, 5), (2, 6)}
b. Kejadian B adalah kejadian munculnya mata dadu kedua angka 5, maka
B = {(1, 5), (2, 5), (3, 5), (4, 5), (5, 5), (6, 5)}
Kejadian A dan kejadian B disebut dua kejadian yang saling bebas jika
kejadian A tidak terpengaruh oleh kejadian B atau sebaliknya kejadian B tidak
terpengaruh oleh kejadian A.
DADU KEDUA
D
A
D
U

P
E
R
T
A
M
A

1 2 3 4 5 6
1 (1, 1) (1, 2) (1, 3) (1, 4) (1, 5) (1, 6)
2 (2, 1) (2, 2) (2, 3) (2, 4) (2, 5) (2, 6)
3 (3, 1) (3, 2) (3, 3) (3, 4) (3, 5) (3, 6)
4 (4, 1) (4, 2) (4, 3) (4, 4) (4, 5) (4, 6)
5 (5, 1) (5, 2) (5, 3) (5, 4) (5, 5) (5, 6)
>
6
2
) (
) (
) ( = =
S n
A n
A P
6
3
) (
) (
) ( = =
S n
B n
B P
6
5
6
3
6
2
) ( ) ( ) ( = + = + = B P A P B A P 
>
>


Dari tabel di atas, (A·B) = (2,5)








Contoh soal:
1. Dua keping mata uang logam dilempar secara bersamaan sebanyak satu
kali. Kejadian A adalah kejadian munculnya sisi gambar pada mata uang
pertama, sedangkan kejadian B adalah kejadian munculnya sisi yang sama
untuk kedua mata uang logam itu. Periksalah apakah kejadian A dan
kejadian B merupakan dua kejadian yang saling bebas?
• J awab :
Ruang contoh pada percobaan ini adalah S = {(G, G), (G, T), (T, G),
(T, T)}, n(S) = 4.
Kejadian A = {(G, G), (G, T)}, n(A) = 2
Kejadian B = {(G, G), (T, T)}, n(B) = 2


Kejadian = {(G, G)},

6 (6, 1) (6, 2) (6, 3) (6, 4) (6, 5) (6, 6)
1. Jika kejadian A tidak mempengaruhi terjadinya kejadian B dan
sebaliknya atau terjadi tidaknya kejadian A tidak tergantung pada
terjadi atau tidaknya kejadian B. hal ini seperti digambarkan pada
pelemparan dua buah dadu sekaligus.
P(A B)=P(A) ×P(B)
2. Jika A dan B adalah dua kejadian yang saling bebas maka
komplemen A (ditulis A
c
) dan komplemen B (ditulis B
c
) juga
merupakan dua kejadian yang saling bebas.
2
1
4
2
) (
) (
) ( = = =
S n
A n
A P
2
1
4
2
) (
) (
) ( = = =
S n
B n
B P
) ( B A
1 ) ( = B A n 
4
1
) (
) (
) ( = =
S n
B A n
B A P



Dari hasil perhitungan di atas ternyata berlaku hubungan:

Oleh karena , maka kejadian A dan
kejadian B merupakan dua kejadian yang saling bebas.

2. Pada pelemparan sebuah dadu sekaligus A adalah kejadian keluarnya dadu
pertama angka 5 dan B adalah kejadian keluarnya dadu kedua angka 5.
berpakah peluang terjadinya A, B, dan AB.

Penyelesaian :
S= {(1,2),(1,1),(1,3),….,(6,6)}  n(S) =36
A={(3,1),(3,2),(,3,3),(3,4),(3,5),(3,6)}  n(A)=6
B={(1,5},(2,5),(3,5),(4,5),(5,5),(6,5)}  n(B)=6
P(A)=
6
1
36
6
) (
) (
= =
S P
A P


P(B)=
6
1
36
6
) (
) (
= =
B P
A P

P(A·B) = P(A) × P(B) =
36
1
6
1
6
1
= × Jadi, peluang terjadinya A, B, dan AB
adalah
36
1
.
G. PELUANG KEJADIAN BERSYARAT
Secara umum, kejadian A dengan syarat kejadian B terljadi lebih dulu ditulis
A|B. Sebaliknya, jika kejadian B dengan syarat kejadian A terjadi lebih dulu
ditulis B|A. Proses terbentuknya kejadian bersyarat A|B diperhatikan dengan
diagram Venn pada gambar berikut.
) ( x ) ( ) (
2
1
x
2
1
4
1
B P A P B A P =
=











Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut.
Contoh soal

1. Dua buah dadu berisi enam dilempar secara bersamaam sebanyak satu
kali. Hitunglah peluang kejadian munculnya angka 1 untuk dadu kedua
dengan syarat kejadian munculnya jumlah kedua dadu kurang dari 4 terjadi
lebih dulu.
J awab :
Ruang Contoh pada percobaan ini adalah S, dengan n(S) = 6 x 6 = 36
Misalkan: A adalah kejadian munculnya angka 1 untuk dadu kedua, maka A
= {(1,1), (2,1), (3,1), (4,1), (5,1), (6,1)}
B adalah kejadian munculnya jumlah kedua mata dadu kurang dari 4, maka B =
{(1,1), (1,2), (2,1)}




Kejadian munculnya angka 1 untuk dadu kedua (kejadian A) dengan syarat
kejadian munculnya jumlah kedua mata dadu kurang dari 4 (kejadian B) terjadi
lebih dulu, adalah kejadian bersyarat A|B.
Dua kejadian disebut kejadian bersyarat atau kejadian yang saling
bergantung apabila terjadi atau tidak terjadinya kejadian A akan
memengaruhi terjadi atau tidak terjadinya kejadian B. Peluang terjadinya
kejadian A dengan syarat kejadian B telah muncul adalah:
= , dengan syarat P(B) 0
Atau peluang terjadinya kejadian B dengan syarat kejadian A telah muncul
adalah:
= , dengan syarat P(A) 0


B
B

S
A
|
A
Ruang Contoh
semula
Ruang
contoh
yang baru
Kejadian
bersyarat
A|B
Proses terbentuknya kejadian
bersyarat A|B
6
1
36
6
) ( = = A P
12
1
36
3
) ( = = B P
18
1
36
2
) ( )} 1 , 2 )( 1 , 1 {( = = ¬ = B A P B A  
3
2
12
1
18
1
P(B)
B) P(A
B) | A ( = = =

P

Peluang kejadian bersyarat A|B adalah:

Jadi, peluang kejadian munculnya angka 1 pada dadu dengan syarat kejadian
munculnya jumlah kedua mata dadu kurang dari 4 terjadi lebih dulu adalah

2. Dalam sebuah kotak terdapat 6 bola merah dan 4 bola putih. Jika sebuah bola
diambil dalam kotak itu berturut-turut sebanyak dua kali tanpa pengembalian.
Tentukan peluang yang terambil kedua-duanya bola merah.
Penyelesaian
P(A) =
10
6
P(B/A) =
9
5

) ( B A P · = P(A) . P(B/A)
=
10
6
.
9
5

=
90
30

Jadi, peluang yang terambil kedua-duanya bola merah tanpa pengembalian
adalah
3
1


Peluang Pengambilan Contoh Dengan Pengembalian

Misalkan E
1
adalah kejadian terambilnya kartu As pada pengambilan pertama,
dan E
2
adalah kejadian terambilnya kartu King pada pengambilan kedua, maka


Perhatikan bahwa E1 dan E2 merupakan dua kejadian yang saling bebas, maka


Peluang Pengambilan Contoh Tanpa Pengembalian

Misalkan E
1
adalah kejadian terambilnya kartu As pada pengambilan pertama,
maka

3
2
B) | A ( = P
13
1
52
4
) (
1
= = E P
169
1
13
1
x
13
1
) ( x ) ( ) (
2 1 2 1
= = = E P E P E E P 
13
1
52
4
) (
1
= = E P
51
4
) | (
1 2
= E E P

Kartu yang telah diambil pada pengambilan pertama tidak dikembalikan,
sehingga jumlah kartu yang sekarang menjadi (52 – 1) = 51 lembar. Misalkan E
2

adalah kejadian terambilnya kartu King pada pengambilan kedua ( kejadian E
2

ditentukan oleh syarat kejadian E
1
), maka

Karena E
2
|E
1
merupakan kejadian bersyarat, maka


Contoh :
Sebuah kotak berisi 5 bola hitam dan 3 bola putih. Dari dalam kotak itu
diambil satu bola secara berurutan sebanyak dua kali. Setelah bola pertama
diambil, bola itu tidak dikembalikan, langsung diambil bola yang kedua.
Hitunglah peluang kejadian yang terambil itu :
a. bola hitam pada pengambilan pertama maupun pengambilan kedua,
b. bola hitam pada pengambilan pertama dan bola putih pada
pengambilan kedua.
J awab :
Misalkan ditetapkan kejadian-kejadian berikut.
E
1
adalah kejadian terambilnya bola hitam pada pengambilan
pertama,
E
2
adalah kejadian terambilnya bola hitam pada pengambilan kedua,
dan
E
3
adalah kejadian terambilnya bola putih pada pengambilan ketiga.

Dalam perhitungan berikut ini, perlu diingat bahwa bola yang telah
diambil pada pengambilan pertama tidak dikembalikan.
a. Peluang terambilnya bola hitam pada pengambilan pertama adalah

Peluang terambilnya bola hitam pada pengambilan kedua setelah bola
hitam diambil pada pengambilan pertama adalah

Karena E
2
|E
1
merupakan kejadian bersyarat, maka berlaku hubungan :

13
1
52
4
) (
2
= = E P
663
4
51
4
x
13
1
) | ( x ) ( ) (
1 2 1 2 1
= = = E E P E P E E P 
8
5
) (
1
= E P
7
4
) | (
1 2
= E E P
56
20
7
4
x
8
5
) | ( x ) ( ) (
1 2 1 2 1
= = = E E P E P E E P 

Jadi, peluang yang terambil itu bola hitam pada pengambilan pertama
dan bola putih maupun pengambilan kedua adalah
b. Peluang terambilnya bola hitam pada pengambilan pertama adalah

Peluang terambilnya bola hitam pada pengambilan kedua setelah bola
hitam diambil pada pengambilan pertama adalah

Karena E
3
|E
1
merupakan kejadian bersyarat, maka berlaku hubungan :

Jadi, peluang yang terambil itu bola hitam pada pengambilan pertama
dan bola putih pada pengambilan kedua adalah

DAFTAR PUSTAKA

Soedjadi, dkk. 1987. Kapita Selekta Matematika Sekolah. Universitas Terbuka
Tampomas, Husein. 1999. Matematika SMU kelas 2. Jakarta: Erlangga
Wirodikromo, Sartono. 2007. Matematika untuk SMA Kelas XI.
Jakarta:Erlangga

56
20
) (
2 1
= E E P 
8
5
) (
1
= E P
7
3
) | (
1 3
= E E P
56
15
7
3
x
8
5
) | ( x ) ( ) (
1 3 1 3 1
= = = E E P E P E E P 
56
15
) (
3 1
= E E P 